Anda di halaman 1dari 21

REKONSILIASI

FISKAL

HANDOUT OLEH :
SISKA PURWANTI
KELAS A/ 19052554010022
BAGAN PAJAK PERUSAHAAN

Dipotong PPh
atas Memotong PPH
penghasilan Pasal 21 atas Gaji
jasa

Penghitungan Pajak Perusahaan PBB Bea Materai PPN atas penyerahan


Penghasilan XXX BPHTB Pajak Daerah barang/jasa
Beban yang dapat dikurangkan (XXX)
Penghasilan Kena Pajak XXX
Dikalikan tarif pajak
Pajak terutang setahun fiskal XXX Lapor KPP
Kredit pajak (XXX)
•Dipotong pihak lain (PPh 22, 23)
•Pajak luar negeri (PPh 24)
•Angsuran pajak (PPh 25)
Pajak kurang/ lebih bayar (PPh XXX
29/28)
Setor ke Kas Negara
HAKIKAT REKONSILIASI

Pelaksanaan Perbedaan timbul


pembukuan terkait pengakuan
berdasar kebijakan pendapatan dan Penyesuaian diperlukan
akuntansi beban di laporan untuk menghitung
perusahaan laba rugi atau penghasilan kena pajak dari
berbeda dari perbedaan konsep laba akuntansi yang telah
ketentuan penghasilan dilaporkan perusahaan
perpajakan.
TEKNIK REKONSILIASI
Rekonsiliasi dilakukan Koreksi dilakukan dengan
dengan membuat laporan menambahkan atau
laba rugi fiskal dari laporan mengurangkan nilai
laba rugi komersial koreksi dari laba sebelum
pajak.
REKONSILIASI

LR Komersial disesuaikan
dengan koreksinya untuk Teknik koreksi ini
mendapatkan nilai disajikan dalam catatan

KOREKSI
pendapatan/beban seusi atas laporan keuangan
fiskal

Cara ini tetat untuk tujuan


pajak

Dalam dunia praktik, teknik rekonsilasi yang lebih


banyak digunakan untuk tujuan pengisian SPT, namun
penyajian dalam CALK menggunakan teknik koreksi (+)
dan (-) atas laba sebelum pajak
TRADE OFF AKUNTANSI - PERPAJAKAN
Di sisi akuntansi bersifat menguntungkan,
sebab akan menarik minat pemegang saham
potensial.

Perusahaan terbuka akan mempriorotaskan


kepentingan ini

Tingginya Laba

Di sisi perpajakan bersifat tidak


menguntungkan, sebab meningkatkan beban
pajak yang harus dibayar
KERANGKA PERBEDAAN AKUTANSI DAN PAJAK

Undang-
PSAK
Undang

Akuntansi Pajak

Perbedaan

Permanen Temporer

Penelitian:
Pajak Tangguhan:
Book Tax Gap
 Aktiva/ Utang
Effective Tax Rate
 Beban/ Pendapatan
MACAM-MACAM PERBEDAAN

Berdasarkan Sifat
 Positif, bersifat meningkatkan Penghasilan Kena Pajak
(PKP)
 Negatif, bersifat mengurangi PKP.

Berdasarkan Jangka Waktu

 Temporer, merupakan akibat berbedanya waktu pengakuan, namun


akan berujung pada hasil akhir serupa.
 Permanen, merupakan perbedaan yang tidak akan terserupakan
seiring waktu.
TAHAPAN PENYESUAIAN PERBEDAAN

Ditambah Dikurangi
Ditambah
Laba penghasilan penghasilan
biaya non
akuntansi yang belum yang bukan
deductible.
diakui. objek pajak.

Dikurangi
Ditambah Dikurangi
Penghasilan biaya
biaya 3M penghasilan
Kena Pajak deductible
penghasilan dikenai PPh
(PKP) yang belum
final. final.
dibebankan.

Menghitung beban pajak kini. Mencatat pajak tangguhan.


PAJAK DITANGGUHKAN
Memunculkan Beban Pajak
Tangguhan di Laporan Laba
Rugi

Bersifat Kena Pajak

Memunculkan liabilitas
Pajak Tangguhan di Laporan
Posisi Keuangan

Perbedaan Temporer

Memunculkan Manfaat Pajak


Tangguhan di Laporan Laba
Rugi
Bersifat Dapat
Dikurangkan
Memunculkan Aset Pajak
Tangguhan di Laporan Posisi
Keuangan
KESALAHAN PEMBEBANAN

Perbedaan akibat
kesalahan ini
bersifat temporer,
Seharusnya, sebab seiring
pengeluaran atas
perolehan aset berjalannya
dikapitalisasi dan waktu aset yang
tidak dibebankan. dikapitalisasi akan
Kesalahan dibebankan
pencatatan dapat secara bertahap
berupa melalui beban
pembebanan biaya penyusutan.
perolehan aset.
Laporan Keuangan dan Laporan Fiskal
• Dipergunakan sebagai acuan
pembuatan laporan fiskal ,
Laporan setelah dilakukan
Keuangan rekonsiliasi atau koreksi.

• Disampaikan sebagai catatan


dalam laporan keuangan,
Laporan sekaligus menjadi dasar
Fiskal pengungkapan komponen
tertentu.
RINCIAN ITEM
REKONSILIASI
PENGHASILAN BUKAN OBYEK PAJAK
Pasal 4 Ayat (3) UU PPh

a. Bantuan atau sumbangan kegamaan bersifat wajib.


b. Hibah diterima keluarga, badan keagamaan, pendidikan, sosial.
c. Warisan.
d. Harta sebagai pengganti penyertaan modal.
e. Natura.
f. Klaim asuransi diterima WP OP.
g. Dividen dari laba ditahan atas kepemilikan > 25%.
h. Iuran diterima Dana Pensiun.
i. Penghasilan investasi oleh Dana Pensiun.
j. Bagian laba diterima anggota persekutuan.
k. Bagian laba diterima perusahaan modal ventura.
l. Beasiswa.
m. Sisa lebih diterima badan pendidikan/ litbang nirlaba yang ditanamkan
kembali.
n. Bantuan dibayarkan BPJS
NON DEDUCTIBLE EXPENSE
PASAL 9 Ayat (1) UU PPh

a. Pembagian laba.
b. Biaya untuk kepentingan pribadi.
c. Pembentukan dana cadangan, kecuali usaha tertentu.
d. Premi asuransi dibayar WP OP.
e. Natura, kecuali akibat tuntutan kerja atau makanan
bagi semua karyawan.
f. Jumlah melebihi kewajaran atas hubungan istimewa.
g. Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan
selain yang dikecualikan.
h. Pajak penghasilan.
i. Gaji anggota persekutuan.
j. Sanksi administrasi dan pidana pajak.
NON DEDUCTIBLE EXPENSE LAINYA

NON DEDUCTIBLR Deductible


 Pengobatan secara cuma-  Penggantian biaya
cuma bagi pegawai pengobatan
 Makan siang bagi sebagaian  Makan siang bagi seluruh
pegawai pegawai
 PPh 21 yang ditanggung  Tunjagan PPh 21
perusahaan  Biaya jamuan dilengkapi
 Biaya jamuan tanpa daftar daftar nominatif
nominatif
Penghasilan Dikenai PPh Final
Pasal 4 Ayat (2) UU PPh

Bunga deposito,
Bunga simpanan
tabungan, obligasi
koperasi diterima Hadiah undian;
dan surat utang
WP OP.
negara.

Penghasilan dari
transaksi saham, Penghasilan Penghasilan usaha
sekuritas, dan pengalihan tanah jasa konstruksi dan
penyertaan modal dan/ atau bangunan real estate.
lain.

Penghasilan sewa
Penghasilan tertentu
tanah dan/atau
lainnya diatur PP.
bangunan.
KASUS
&
ILUSTRASI
PT. MICHELIN Tbk (Terbuka)
Laporan Perhitungan Laba-rugi
per 31 Desember 2011
(dalam rupiah)

Penjualan 765.300.000
HPP (450.000.000)
Laba Kotor 315.000.000
Total Biaya Usaha 212.900.000
Laba Sebelum Pajak 102.400.000
Pajak Penghasilan (13.220.000)
Laba Setelah Pajak 89.180.000
 Koreksi Fiskal :
2. Hasil stock opname ditemukan nilai persediaan akhir
Total Biaya Usaha tersebut terdiri dari :
lebih tinggi Rp 50.000.000,00 dari nilai yang
(1) Beban Gaji Karyawan Rp. 120.000.000,00
dilaporkan dalam laporan laba/rugi.
(2) Beban Penyusutan Mesin Rp. 10.000.000,00
3. Harga perolehan mesin adalah Rp. 50.000.000,00 dan
(3) Beban Penyusutan Gedung Rp. 25.000.000,00
disusutkan setahun 20% (metode saldo menurun),
(4) Beban Penyusutan Tanah Rp. 2.000.000,00
mesin tersebut memiliki masa manfaat 4 tahun.
(5) Biaya pengeluaran saham Rp. 500.000,00
4. Gedung dengan harga perolehan Rp. 250.000.000,00
(6) Premi asuransi kebakaran Rp. 200.000,00
disusutkan sebesar 10% setahun (metode garis lurus) .
(7) Sumbangan korban Merapi Rp. 100.000,00
5. Tanah disusutkan 2% setahun (metode garis lurus).
(8) Piutang ragu- ragu Rp. 500.000,00
6. Piutang ragu-ragu dihapuskan karena yang
(9) Cadangan umum Rp. 20.000.000,00
bersangkutan ternyata telah meninggalkan Indonesia
(10)Deviden yang dibayar Rp. 30.000.000,00
untuk selamanya tanpa diketahui alamatnya.
(11)PPh Pasal 25 yang dibayar Rp. 4.600.000,00
7. Cadangan umum adalah penyisihan laba untuk tujuan
(12)Total Biaya Usaha Rp. 212.900.000,00
umum (merupakan pembentukan cadangan).
Diminta : Buatlah laporan rekonsiliasi fiskal, dan
 Informasi Tambahan:
hitunglah PPh yang masih harus dibayar.
1. Dalam jumlah gaji karyawan sebesar Rp. 120.000.000,00
(a) Buatlah kertas kerja koreksi untuk menghitung laba-
termasuk juga pengeluaran pribadi direktur utama sebesar
rugi fiskal PT. MICHELIN Tbk per 31 Desember 2009!
Rp. 150.000,00 sebulan untuk biaya sopir dan iuran asuransi
(b) Tentukan besarnya PPh yang terutang dan PPh yang
kecelakaan dan kematian karyawan Rp. 10.000.000,00 dan
masih harus dibayar oleh PT MICHELIN Tbk untuk
beras yang dibagikan kepada karyawan Rp. 2.000.000,00.
masa pajak 2009!
JAWABAN
KERTAS KERJA REKONSILIASI FISKAL
PT. MICHELIN
Koreksi Positif
No. Keterangan Lk. Komersial Lk. Fiskal
Positif Negatif
1. Penghasilan usaha
2. Penjualan 765.300.000,00 765.300.000,00
3. HPP (450.000.000) 50.000.000,00 (400.000.000,00)
4. Laba Kotor 315.300.000,00 50.000.000,00 365.300.000,00
5. Pengeluaran usaha
6. Beban Gaji karyawan (120.000.000,00) 13.800.000,00 (106.200.000,00)
7. Beban Peny. Mesin (10.000.000,00) (15.000.000,00) (25.000.000,00)
8. Beban Peny. Gedung (25.000.000,00) 12.500.000,00 (12.500.000,00)
9 Beban Peny. Tanah (2.000.000,00) 2.000.000,00 -
10. Beban penerbitan saham (500.000,00) (500.000,00)
11. Premi Ass. Kebakaran (200.000,00) (200.000,00)
12. Sumbangan (100.000,00) 100.000,00 -
13. Piutang ragu-ragu (500.000,00) (500.000,00)
14. Cadangan umum (20.000.000,00) 20.000.000,00 -
15. Deviden yang dibayar (30.000.000,00) 30.000.000,00 -
16. PPh Pasal 25 yang dibayar (4.600.000,00) 4.600.000,00 -
17. Total P. usaha (212.900.000,00) 83.000.000,00 (15.000.000,00) (144.900.000,00)
18. Laba Sebelum Pajak (102.400.000,00) 133.000.000,00 (15.000.000,00) 220.400.000,00
PENJELASAN
1. Pengeluaran pribadi dikoreksi fiskal (+) karena non 5. Tanah oleh perusahaan disusutkan 2%
deductible expense : (150.000 x 12) 1.800.000. Demikian metode garis lurus. Menurut fiskal tanah tidak
pula iuran asuransi kecelakaan kerja dan kematian yang
perlu disusutkan untuk perusahaan ini.
dibayar karyawab (non decutible expense 10.000.000.
Koreksi fiskal (+) = 13.800.000 karena meningkatkan
Sehingga pembebanan penyusutan tanah harus
laba. dihilangkan menjadi koreksi fiskal + .
2. Nilai persediaan akhir pada saar stock opname lebih 6. Piutang ragu-ragu dihapuskan karena yang
tinggi Rp50.000.000 mengakibatkan turunya HPP dan bersangkutan ternyata telah meinggalkan
meningkatkan laba (koreksi fiskal +) Indoensia untuk selama-lamanya tanpa
3. Penyusutan aset tetap (lihat tabel penyusutan aktiva diketahui alamatnya. Maka harus dikoreksi
tetap fiskal). HP mesin = Rp50.000.000 oleh perusahaan fiskal +.
disusutan 20% metode saldo menurun, masa manfaat 4
7. Cadangan umum adalah penyisihan laba
tahun. Menurut fiskal mesin dalam kasuss ini adalah
kelompok 1 dan dikenakan tarif 50% x 50.000.000 =
untuk tujuan umum merupakan pembentukan
25.000.000 per tahun. Perusahaan kurang dalam cadangan, segala macam dan jenis
melakukan pembebanan penyusutan sehingga harus pembentukan cadagngan tidak diperkenan
menambah beban penyusutan senilai Rp15.000.000 dalam perpajakan. Maka hal ini akan dikoreksi
(koreksi fiskal negatif karena peningkatan beban fiskal +.
menurunkan laba) 8. Sumbangan korban merapi. Segala macam
4. Gedung oleh perusahaan disusukan senilai 10% x dan jenis sumbangan tidak diperkenankan
250.000.000 = 25.000.000. Menurut fiskal 5% x
dalam perpajakan kecuali sumbangan yang
Rp250.000.000 = 12.500.000. perusahaan membebankan
penyusutan gedung terlalu tinggi, maka harus dikoreksi
diatur secara resmi oleh Pemerintah.
fiskal + karena menurunkan beban meningkatkan laba. Sumbangan ini harus dikoreksi fiskal +.