Anda di halaman 1dari 15

Asuhan Keperawatan BPH (benign prostatic hyperplasia)

Dosen Pembimbing: Dodik Hartono S.Kep.,Ns.MTr.Kep

Disusun Oleh
Kelompok 1:
Ahmad Nurul Fahrusi
Anil Ahila
Dwi Ifandi Alfiansah
Geta Rizqi Maugfiroh
Hozaimatul Hilalia
Mustofa
Ike Fitria
Miftahul Janah
Tutik Hidayati
Wuladari Suciwati
PENGERTIAN

BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah


suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor
penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urin dengan cara menutupi
orifisium uretra. Prostatektomy merupakan
tindakan pembedahan bagian prostate
(sebagian/seluruh) yang memotong uretra,
bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan
menghilangkan retensi urinaria akut.
ETIOLOGI
• Adanya perubahan keseimbangan antara
hormon testosteron dan estrogen pada usia
lanjut;
• Peranan dari growth factor (faktor
pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan
stroma kelenjar prostat;
• Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat
karena berkurangnya sel yang mati;
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
• Derajat berat BPH :
Stadium I
• Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu
mengeluarkan urine sampai habis.
Stadium II
• Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan
urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150
cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.
Stadium III
• Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
Stadium IV
• Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan,
urine menetes secara periodik (over flow inkontinen).
KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien
BPH antara lain: sering dengan semakin
beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran
kemih, karena urin tidak mampu melewati
prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi
saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat
mengakibatkan gagal ginjal.
PENATALAKSANAAN MEDIS
• Stadium I
• Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah,
diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat
adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin.
• Stadium II
• Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan
biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)
• Stadium III
• Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila
diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan
selesai dalam 1 jam.
• Stadium IV
• Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan
penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau
sistotomi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Laboratorium
Analisis urine dilakukan untuk mengetahui adanya silinder, kristal-kristal, sel darah
pada hipertropi prostat yang disertai infeksi maka pada urine ditemukan adanya
leukosit dan adanya bakteri.
Radiologis
• Pemeriksaan Blass Nier Overzicht (BNO)
Tujuannya untuk melihat ada tidak komplikasi dari BPH yang berupa batu dalam
kandung kemih.
• USG Ginjal dan Vesika Urinaria
USG ginjal bertujuan untuk melihat adanya komplikasi penyerta dari BPH, misalnya
hidronephrosis.
• PEMERIKSAAN CYSTOSCOPY/PANENDOSCOPY
Cystoscopy adalah pemeriksaan langsung pada kandung kemih dengan
menggunakan alat yang disebut cystoskop.
• UROFLOWMETRI
Dengan menggunakan alat pengukur, maka akan terukur pancaran urine. Pada
obstruksi dini seringkali pancaran melemah bahkan meningkat
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI BPH
PENGKAJIAN
• Identitas
• Keluhan Utama : Pada pasien BPH keluhan yang
dirasakan sebelum operasi diantaranya nyeri pada saat
BAK, urine keluar dengan menetes, pancaran urine
lemah dan sulit saat memulai BAK. Sedangkan keluhan
yang mungkin dirasakan setelah operasi diantaranya
nyeri pada luka operasi.
• Riwayat Kesehatan Sekarang : Merupakan
pengembangan dari keluhan utama yang dirasakan
klien melalui metode PQRST dalam bentuk narasi
• Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat Kesehatan Keluarga
POLA FUNGSIONAL GORDON
Pola Eliminasi
• Buang air besar (BAB)
Frekuensi BAB, warna, bau, konsistensi feses dan
keluhan klien yang berkaitan dengan BAB. Pada klien
BPH biasanya terjadi konstipasi akibat protrusi prostat
kedalam rektum (Pada klien BPH dengan pre operasi
dapat terjadi konstipasi dan kebiasaan mengedan saat
BAK akan menyebabkan hernia dan hemoroid
• Buang air kecil (BAK)
Pada klien BPH terjadi peningkatan BAK, nokturia,
hematuria, nyeri saat BAK, urine keluar dengan
menetes, sulit saat BAK dan terjadi retensi urine,
terdapat nyeri tekan pada area CVA serta terjadi
pembesaran ginjal jika sudah terdapat kerusakan ginjal
PEMERIKSAAN FISIK

• Adanya distensi kandung kemih.

• Kandung kemih :
Inspeksi : penonjolan pada daerah supra pubik : retensi urine
Palpasi : terasa adanya ballotment dan ini akan membuat pasien
akan merasa ingin buang air kecil.
Perkusi : redup (residual urine)

• Pemeriksaan penis, uretra dan skrotum tidak ditemukan adanya


kelainan, kecuali adanya penyakit penyerta seperti stenosis meatus,
striktur uretralis, urethralithiasis, Ca Penis, maupun epididymis.

• Pemeriksaan rectal toucher (colok dubur) adalah pemeriksaan


sederhana yang paling mudah untuk menegakan BPH. Syaratnya
buli-buli kosong/dikosongkan, tujuannya untuk menentukan
konsistensi persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Preoperasi
 Retensi urine berhubungan dengan tekanan uretral tinggi karena kelemahan
detrusor (dekompensasi otot detrusor).
 Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera ( iritasi kandung kemih, spame,
sesuai dengan prosedur bedah atau tekanan dari balon kandung kemih).
 Resiko infeksi berhubungan dengan peningkaran paparan lingkungan terhadap
patogen (pemasangan kateter).
 Cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi.
 Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi mengenai
pengobatan.
• Pascaoperasi
 Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruksi
dengan diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi
secara kronis.
 Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi ( terputusnya kontinuitas
jaringan akibat pembedahan).
 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler
(nyeri).
 Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.
 Resiko infeksi berhubungan dengan peningkaran paparan lingkungan terhadap
patogen (adanya media masuknya kuman akibat prosedur invasif).
INTERVENSI
• 1. DX I :Retensi urine berhubungan dengan tekanan uretral tinggi
karena kelemahan detrusor (dekompensasi otot detrusor).
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
pengeluaran urine lancar.
• Manajemen Eliminasi Urin
Observasi :
• Identivikasi tanda dan gejala retensi urine
• Monitor eliminasi urin ( mis. Frekuensi, konsistensi, aroma, volume dan
warna )
Terapeutik :
• Catat waktu waktu dan haluran berkemih
Edukasi :
• Anjurkan meningkatkan aktifitas fisik, sesuai toleransi
Kolaborasi :
• Kolaborasi pemberian obat supositoria, jika perlu
Pascaoperasi
DX II: gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (nyeri).
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
pasien dapat meningkatkan mobilisasi pada tingkat yang paling
tinggi
• Dukungan Mobilisasi
Observasi :
– Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainya
– Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
Terapeutik :
– Fasilitasi aktifitas mobilisasi dengan aat bantu (ms. Pagar tempat tidur)
– Livatkan keuarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan
pergerkan.
Edukasi :
– Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
– Anjurkan mobilisasi dini
TERIMAKASIH
WASSALAMUALAIKUM WR.WB