Anda di halaman 1dari 49

PERAN SpPK DALAM

MENDUKUNG ELIMINASI
MALARIA
DR Dr Sotianingsih SpPK
PDSPATKLIN CABANG JAMBI
RSUD Raden Mattaher Jambi
085382856766
STANDAR TATALAKSANA
MALARIA
STANDAR DIAGNOSIS
Setiap individu yang tinggal di daerah endemik malaria yang menderita demam
1 atau memiliki riwayat demam dalam 48 jam terakhir atau tampak anemi; wajib
diduga malaria tanpa mengesampingkan penyebab demam yang lain.

Setiap individu yang tinggal di daerah non endemik malaria yang menderita
demam atau riwayat demam dalam 7 hari terakhir dan memiliki risiko tertular
2 malaria; wajib diduga malaria. Risiko tertular malaria termasuk : riwayat bepergian
ke daerah endemik malaria atau adanya kunjungan individu dari daerah endemik
malaria di lingkungan tempat tinggal penderita.

Setiap penderita yang diduga malaria harus diperiksa darah malaria dengan
3 mikroskop atau RDT.

Untuk mendapatkan pengobatan yang cepat maka hasil diagnosis malaria harus di
4 dapatkan dalam waktu kurang dari 1 hari terhitung sejak pasien memeriksakan diri.
STANDAR PENGOBATAN
ACT hanya diberikan pada
Harus mengikuti kebijakan nasional penderita dengan hasil
pengendalian malaria di Indonesia pemeriksaan darah malaria (+)

Tenaga kesehatan harus memastikan Penderita malaria tanpa komplikasi


kepatuhan pasien meminum obat sampai
habis melalui konseling agar tidak terjadi
harus diobati dengan terapi kombinasi
resistensi berbasis ACT + primakuin

Penderita malaria berat harus diobati Jika penderita malaria berat


dengan Artesunate i.m atau i.v, akan dirujuk, harus diberi dosis
dilanjutkan ACT oral + primakuin awal Artesunate i.m atau i.v
STANDAR PEMANTAUAN
PENGOBATAN
Evaluasi pengobatan dilakukan dengan pemeriksaan
01
klinis dan mikroskopis.

Evaluasi pengobatan pada penderita rawat jalan dilakukan


02 setelah pengobatan selesai (hari ke-3), hari ke-7, 14, 21,
dan 28.

Evaluasi pengobatan pada penderita rawat inap dilakukan setiap


03 hari hingga tidak ditemukan parasit dalam sediaan darah selama
3 hari berturut-turut, setelahnya evaluasi seperti rawat jalan.
PEMERIKSAAN PARASIT
MALARIA
SIKLUS HIDUP PARASIT MALARIA
SIKLUS HIDUP PARASIT MALARIA
PENGGUNAAN MIKROSKOP
UNTUK PEMERIKSAAN
PARASIT MALARIA
CARA KERJA
PENGAMBILAN SEDIAAN DARAH MALARIA
 Untuk bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah dari ujung
jari
 Bila menggunakan darah vena, sebaiknya darah yang digunakan
adalah darah yang belum tercampur dengan anti koagulan (darah
yang masih ada dalam spuit). Sediaan darah harus segera
dibuat sebelum darah membeku.
 Bila menggunakan darah dengan anti koagulan harus segera
dibuat sediaan darah malaria, karena bila sudah lebih dari 1 jam,
jumlah parasit berkurang dan morfologi dapat berubah.
 Untuk darah yang dimasukkan ke dalam tabung yang berisi anti
koagulan, tabung tersebut harus diisi sampai batas yang sudah di
tentukan.
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
a. Jenis Sediaan Darah
Sediaan darah tebal
Terdiri dari sejumlah besar sel darah merah yang terhemolisis.
Parasit yang ada terkonsentrasi pada area yang lebih kecil sehingga
akan lebih cepat terlihat di bawah mikroskop.
Sediaan darah tipis
Terdiri dari satu lapisan sel darah merah yang tersebar dan
digunakan untuk membantu identifikasi parasit malaria setelah
ditemukan dalam SD tebal.
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
b. Pembuatan Sediaan Darah
1. Pegang tangan kiri pasien dengan posisi telapak tangan
menghadap ke atas.
2. Pilih jari tengah atau jari manis (pada bayi usia 6-12 bulan darah
diambil dari ujung ibu jari kaki dan bayi <6 bulan darah diambil
dari tumit).
3. Bersihkan jari dengan kapas alkohol untuk menghilangkan
kotoran dan minyak yang menempel pada jari tersebut.
4. Setelah kering, jari ditekan agar darah banyak terkumpul di ujung
jari.
5. Tusuk bagian ujung jari (agak di pinggir, dekat kuku) secara
cepat dengan menggunakan lancet.
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
b. Pembuatan Sediaan Darah
6. Tetes darah pertama yang keluar dibersihkan dengan kapas
kering, untuk menghilangkan bekuan darah dan sisa alkohol.
7. Tekan kembali ujung jari sampai darah keluar, ambil object glass
bersih (pegang object glass di bagian tepinya). Posisi object
glass berada di bawah jari tersebut.
8. Teteskan 1 tetes kecil darah (+ 2μl) di bagian tengah object glass
untuk SD tipis. Selanjutnya 2-3 tetes kecil darah (+ 6μl) di bagian
ujung untuk SD tebal.
9. Bersihkan sisa darah di ujung jari dengan kapas.
10. Letakkan object glass yang berisi tetesan darah diatas meja atau
permukaan yang rata.
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
b. Pembuatan Sediaan Darah
11. Untuk membuat SD tipis, ambil object glass baru (object glass ke
dua) tetapi bukan cover glass. Tempelkan ujungnya pada tetes
darah kecil sampai darah tersebut menyebar sepanjang object
glass.
12. Dengan sudut 45o geser object glass tersebut dengan cepat ke
arah yang berlawanan dengan tetes darah tebal, sehingga
didapatkan sediaan hapus (seperti bentuk lidah).
13. Untuk SD tebal, ujung object glass kedua ditempelkan pada ke
tiga tetes darah tebal. Darah dibuat homogen dengan cara
memutar ujung object glass searah jarum jam, sehingga
terbentuk bulatan dengan diameter 1 cm.
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
b. Pembuatan Sediaan Darah
14. Pemberian label/etiket pada bagian ujung object glass dekat
sediaan darah tebal, bisa menggunakan kertas label atau object
glass frosted. Pada label dituliskan KODE KABUPATEN/KOTA/
KODE FASYANKES/ NOMER REGISTER/BULAN/TAHUN
15. Proses pengeringan SD harus dilakukan secara perlahan-lahan
di tempat yang datar. Tidak dianjurkan menggunakan lampu
(termasuk lampu mikroskop), hair dryer. Hal ini dapat
menyebabkan SD menjadi retak-retak sehingga mempengaruhi
hasil pemeriksaan. Kipas angin dapat digunakan untuk
mengeringkan SD.
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
b. Pembuatan Sediaan Darah
16. Selama proses pengeringan, SD harus dihindarkan dari
gangguan serangga (semut, lalat, kecoa dll), debu, panas,
kelembaban yang tinggi dan getaran.
17. Setelah kering, darah tersebut harus segera diwarnai. Pada
keadaan tidak memungkinkan selambat-lambatnya dalam waktu
24 jam SD harus sudah diwarnai.
Kesalahan pada pembuatan sediaan darah

Jumlah darah yang digunakan terlalu banyak, sehingga warna SD


tebal menjadi gelap/terlalu biru. Parasit malaria pada SD tebal sulit
dilihat karena banyaknya sel darah putih.Demikian juga pada SD tipis,
bertumpuknya sel darah merah menyebabkan parasit sulit dilihat.
Kesalahan pada pembuatan sediaan darah

Jumlah darah yang digunakan terlalu sedikit, tidak memenuhi syarat


yang diperlukan untuk menyatakan bahwa SD tersebut negatif.
Kesalahan pada pembuatan sediaan darah

SD yang berlemak atau kotor dapat menyulitkan pemeriksaan dan


pada proses pewarnaan, sebagian SD tebal dapat terlepas.
Kesalahan pada pembuatan sediaan darah

Ujung object glass kedua yang bergerigi atau terlalu tajam akan
menyebabkan penyebaran SD tipis tidak rata dan ujungnya tidak
berbentuk lidah.
Kesalahan pada pembuatan sediaan darah

SD tebal yang terletak di ujung object glass, dapat menyulitkan


pemeriksaan karena posisi meja sediaan sudah maksimal (tidak dapat
digeser).
CARA KERJA
PEMBUATAN SEDIAAN DARAH MALARIA
c. Pewarnaan Sediaan Darah
1. SD tipis yang sudah kering difiksasi dengan methanol. Jangan
sampai terkena SD tebal.
2. Letakkan pada rak pewarna dengan posisi darah berada di atas.
3. Siapkan 3% larutan Giemsa dengan mencampur 3 bagian
giemsa stock dan 97 bagian larutan buffer.
4. Tuang larutan Giemsa 3% dari tepi hingga menutupi seluruh
permukaan object glass. Biarkan selama 45-60 menit.
5. Tuangkan air bersih secara perlahan-lahan dari tepi object glass
sampai larutan Giemsa yang terbuang menjadi jernih. Angkat
dan keringkan SD. Setelah kering, SD siap diperiksa.
Kunci untuk Mengidentifikasi Stadium Parasit Malaria
pada SD Tipis
Kunci untuk Mengidentifikasi Stadium Parasit Malaria
pada SD Tipis
Kunci untuk Mengidentifikasi Stadium Parasit Malaria
pada SD Tipis
Kunci untuk Mengidentifikasi Stadium Parasit Malaria
pada SD Tipis
Kunci untuk Mengidentifikasi Stadium Parasit Malaria
pada SD Tipis
Kunci untuk Mengidentifikasi Stadium Parasit Malaria
pada SD Tipis
Plasmodium falciparum
Plasmodium falciparum
Plasmodium ovale
Plasmodium ovale
Plasmodium malarie
Plasmodium malarie
Plasmodium vivax
Plasmodium vivax
RAPID DIAGNOSTIC TEST (RDT)
Ada 3 jenis antigen yang dipakai sebagai target, yaitu :

• HRP-2 (Histidine Rich Protein-2), adalah antigen yang disekresi


ke sirkulasi darah penderita oleh stadium trofozoit dan gametosit
muda P.falciparum.
• pLDH (pan Lactate Dehydrogenase)
Stadium seksual dan aseksual parasit malaria dari ke-4 spesies
plasmodium yang menginfeksi manusia menghasilkan enzim
pLDH. Isomer enzim ini dapat membedakan spesies P.falciparum
dan P.vivax.
• Pan Aldolase, adalah enzim yang dihasilkan ke-4 spesies
Plasmodium yang menginfeksi manusia.
Kelebihan RDT dibanding Pemeriksaan Mikroskopik
• Lebih sederhana dan mudah diinterpretasikan, tidak memerlukan listrik,
tidak memerlukan pelatihan khusus seperti pada pemeriksaan
mikroskopik.
• Variasi dari interpretasinya adalah kecil antara pembaca yang satu
dengan yang lainnya.
• Walaupun dapat disimpan pada temperatur kamar (suhu dibawah 30oC),
RDT dianjurkan disimpan dalam lemari es pada suhu 4oC (usahakan
tidak terkena cahaya matahari langsung).
• Rapid Test dapat mendeteksi P.falciparum pada waktu parasit
bersekuestrasi pada kapiler darah (hal ini tidak terdeteksi dengan pada
pemeriksaan secara mikroskopik biasa). Hal ini dapat ditemukan juga
pada placenta ibu hamil dengan infeksi P.falciparum.
Kekurangan RDT dibanding Pemeriksaan Mikroskopik
• Rapid Test yang menggunakan HRP-2 hanya dapat digunakan untuk
mendeteksi P.falciparum.
• Rapid Test dengan HRP-2 dapat memberikan hasil positif sampai 2
minggu setelah pengobatan, walaupun secara mikroskopik tidak
ditemukan parasit. Hal ini dapat membuat rancu kita dalam menilai hasil
pengobatan.
• Harga RDT lebih mahal dari pada pemeriksaan mikroskopik.
• Rapid Test bukan pemeriksaan yang bersifat kuantitatif sehingga tidak
dapat digunakan untuk menilai jumlah parasit.
• Kit yang ada tidak dapat membedakan infeksi antara P.vivax, P.ovale,
P.malariae.
Selain itu tidak dapat membedakan antara Mixed P.falciparum dengan
infeksi tunggal P.falciparum saja.
Jenis RDT

• Single  hanya mendiagnosis infeksi P.falciparum (contoh : Paracheck Pf)


• Combo / Pan specific  dapat mendiagnosis infeksi P.falciparum dan non
P.falciparum (contoh : Parascreen combo)
Kebijakan penggunaan / aplikasi RDT di Indonesia
PCR
PCR