Anda di halaman 1dari 29

Emulsi Injeksi

Pengertian
 Sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih
dahulu sebelum digunakan secara perenteral, suntikan
dengan cara menembus, atau merobek jaringan kedalam
atau melalui kulit atau selaput lendir.
 Emulsi adalah campuran partikel yang saling tak campur
dimana terdapat fase terdispersi dan pendispersi.
Pembagian Kelas Steril
 Pembagian kelas steril khusus emulsi menurut CPOB tahun 2018 unt
uk PEMBUATAN dan PENGISIAN salep, krim, suspensi, emulsi umum
nya harus dilakukan di ruangan kelas A sebelum disterilisasi akhir
Hal-hal yang harus diperhatikan
1. Harus stabil pada autoklaf, karena suhu meningkat dapat
menyebabkan pecahnya emulsi sehingga harus memilih emulgator
yang stabil contohnya gelatin, dekstran, metilselulosa dan lesitin

2. Ketidakstabilan emulsi sering terjadi dalam fase dalam/terdispersi pada


saat pendiaman cenderung akan membentuk agregat daripada
membentuk droplet kemudian agregat naik ke permukaan atau turun
ke dasar emulsi sehingga membentuk lapisan yang berbeda pada
permukaan dasar

3. Kesulitan dalam sterilisasi pemanasan dapat menyebabkan pecahnya


emulsi dan bergabungnya bahan aktif dengan fase luar
5. Ukuran partikel emulsi dapat berubah sehingga menyebabkan pecahnya
emulsi sehingga menyebabkan emboli
6. Dekstrosa tidak disarankan karena dapat berinteraksi dengan fosfolipid
menghasilkan warna coklat pada proses sterilisasi menggunakan autoklaf
dan selama penyimpanan
7. Ukuran partikel tidak boleh lebih dari ukuran eritrosit (12 µm)
8. Tidak ada penambahan pengawet karena diberikan pada dosis tunggal
9. Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan emulsi injeksi:
inkompaktibilitas, pH (pH optimum untuk emulsi akhir umumnya berkisar
pada pH 9,5 dengan kuantitas kecil dari sodium hidroksida), viskositas
(derivat gelatin dan selulosa), emulgator (fosfolipid dan polisorbat),
stabilisator dan antioksidan
Tipe emusi berdasarkan fasa
terdispersinya
 Menurut Martin,1971
 o/w dan w/o
 Menurut Aulton, 2013
 Duos emulsion: sistem emulsi yang terdiri dari 2 fase. Yaitu o/w or w/o
 Multiple emulsion atau emulsi ganda: sistem emulsi yang terdiri dari 3 fase
yaitu o/w/o or w/o/w
Sediaan emulsi dapat terbentuk jika :
1.Terdapat 2 zat yang tidak saling melarutkan
2.Terjadi proses pengadukan (agitosi)
3.Terdapat emulgator

Sediaan emulsi yang baik adalah sediaan emulsi yang stabil,


dikatakan stabil apabila sediaan emulsi tersebut dapat
mempertahankan distribusi yang teratur dari fase terdispersi dalam
jangka waktu yang lama. (R. Voight hal 434)
Komponen injectable emulsion
 Lipid (fase minyak)

Fase minyak yang paling banyak digunakan adalah minyak ikan, minyak kacang,
minyak zaitun, minyak kapas dan minyak kedelai

 Emulsifiers

Natural lecithin, PEG-PE

Sediaan memerlukan emulgator spesifik yang tidak boleh toksik

- Lesitin

- Polisorbat 80

- Serum albumin

ex: vitamin K  Lesitin (emulgator)

Lebih sering digunakan untuk lepas lambat zat aktif


 Fase air
Sorbitol atau xylitol
Penyesuaian Ph

 Antioksidan
α tokoferol, asam askorbat

 Antimikroba
Natrium benzoat dan benzil alkohol

 Modifikasi tonisitas (280 – 300 mOsm kg-1)


Gliserol, sorbitol, xylitol
 Emulgator merupakan film penutup dari minyak
berfungsi untuk menaikkan absorbsi lemak melalui
dinding usus obat. Selain itu berfungsi untuk menutupi
rasa yang tidak enak. Contoh: gelatin, lecitin, polisorbat
80, metilsesulosa dan serum albumin.
 Flavour ditambahkan pada fase ekstern agar rasanya
lebih enak
Emulsi Parenteral
 Emulsi parenteral pertama kali dikenal untuk sumber IV asam lemak esensial dan kalori. Ini telah
berkembang menjadi penggunaan ekstensif dan rutin produk seperti Intralipid, Lipofundin, dan
Liposyn total nutrisi parenteral.

 Semua formulasi emulsi parenteral minyak dalam air , dengan minyak sebagai fase internal
terdispersi sebagai tetesan halus dalam fase air.

 Emulsifier, biasanya telur atau lesitin kedelai, diperlukan untuk menurunkan tegangan antar muka
dan mencegah flokulasi dan percampuran dari fase minyak terdispersi.

 Energi mekanik dalam bentuk homogenisasi, diperlukan untuk memcampur fase minyak ke tetesan
dari ukuran yang cocok. Untuk administrasi IV, ukuran tetesan harus di bawah 1 mm untuk
menghindari potensi pembentukan emboli.
Penggunaan Emulsi
Emulsi untuk injeksi intravena
 Emulsi parenteral telah diselidiki untuk penggunaan makanan
dan minyak obat untuk hewan dan manusia. Penggunaan emulsi
parenteral meminta perhatian khusus selama produksi seperti
pemilihan emulgator ukuran dan kesamaan butiran tetes pada
penggunaan intravena.
 Penggunaan emulsi untuk parenteral dibutuhkan perhatian khusus
dalam produksi seperti pemilihan emulgator, ukuran kesamaan
butir tetes untuk injeksi intravena.
Keuntungan sediaan
 Terhindar dari perusakan obat atau inaktivasi dalam saluran
gastrointestinal
 Dapat digunakan bila obat sedikit diabsorbsi dalam saluran
gastrointestinal sehingga obat tidak cukup untuk menimbulkan
respon
 Bila dikehendaki, dapat menghasilkan efek obat yang cepat
(pada keadaan gawat)
 Kadar obat yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan
karena tidak ada atau sedikit sekali dosis obat yang berkurang
 Dapat diberikan kepada penderita yang kesulitan menelan,
misalnya muntah atau koma
Kerugian Sediaan
 Efek toksik nya sulit dinetralkan bila terjadi
kesalahan pemberian obat
 Harga obatnya mahal daripada sediaan oral karena
harus dibuat steril
Permasalahan dalam sediaan

 Sangat sulit untuk membuat droplet dengan


ukuran kurang dari 1 µm, untuk mencegah emboli
pada pembuluh darah
 Pemilihan stabilisator dan emulgator yang terbatas
Contoh Formula
Pembuatan Emulsi Injeksi

Dimasukkan Di tampung
Membuat
dalam dalam botol
emulsi kasar
homogenizer steril

Diperiksa Disterilkan
sterilitas serta dalam autoklaf
ukutan butir
Evaluasi
1. Sama dengan emulsi non steril
2. Uji sterilitas
Evaluasi Emulsi
Evaluasi dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang
etiket dan dikemas

1. Evaluasi Fisika
a.Penetapan pH . (FI ed. IV, hal 1039-1040)
b.Bahan Partikulat dalam Injeksi <751> ( FI> ed IV, hal. 981-984)
c.Penetapan Volume Injeksi Dlam Wadah <1131> (FI ed. IV Hal. 1044)
d.Uji Keseragaman Bobot dan Keseragaman Volume (FI ed III hal. 19)
e.Uji Kejernihan Larutan (FI ED. IV, hal 998)
f.Uji Kebocoran (Dry Bath Test dan Double Vacuum Pull)
2. Evaluasi Biologi
a.Uji Sterilitas <71> (FI ed. IV, HAL 855-863)

3.Evaluasi Kimia
a.Uji Identifikasi (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing)
b.Penetapan Kadar (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing)
Uji Sterilitas
 Sterilisasi dalam formulasi dapat dilakukan dengan Terminal
Heat Sterilization atau dengan Aseptic Filtration. Terminal
Heat Sterilization umumnya menghasilkan sterilitas lebih besar
pada produk akhir. Jika komponen emulsi tidak tahan panas
maka digunakan Aseptic Filtration. Sterilisasi dengan filtrasi
dapat dilakukan untuk emulsi dengan ukuran droplet dibawah
200 nm
 Uji sterilitas juga dapat dilakukan menggunakan otoklaf pada
suhu 115°C selama 30 menit
Pengemasan
 Emulsi parenteral dikemas dengan volume 100
sampai 1000 mL dalam botol kaca
 Botol silikon dengan permukaan dalam hidrofobik
dapat digunakan
 Penutup karet banyak digunakan
 Penutup harus tidak permeable dengan oksigen
karena dapat terjadi kontak dengan emulsi fase minyak
Contoh Sediaan
emulsi nutrien/TPN (Total Parenteral
Nutrition)
 terapi pemberian nutrisi secara intravena kepada pasie
n yang tidak dapat makan melalui mulut.
 Komposisi : air, protein, karbohidrat, lemak, elektrolit, tra
ce elements, dan vitamin.
Formula Omegaven 5mg/50mL
 minyak ikan 5g
 telur fosfolipid 0,6g
 Gliserin 1,25g
 dl-alfa-tokoferol 7,5-15mg
 natrium oleat 0,015g
 air untuk injeksi
 NaoH untuk penyesuaian pH (pH 6 sampai 9)

 dikemas dalam botol kaca dosis tunggal 50 mL yang di


tutup dengan sumbat karet. Kandungan fosfat dari prod
uk obat adalah 0,75 mmol.
Daftar Pustaka
 Aulton. 2009. Pharmaceutics Preformulation and Formulation. Informa Healthcare.
USA
 Dartford and Gravesham NHS Trust. Guidelines for Parenteral Nutrition for Adults.
July 2006.
 Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta
 Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta
 Ketan. Hippalgaonkar: Injectable Emulsion-Advancement, Opportunities and
Challenges.
 Paskalia, Dewi. 2011. Pengaruh Sterilisasi dengan Otoklaf Suhu 115°C Selama 30
Menit terhadap Stabilitas Emulsi Parenteral Minyak Zaitu (Oleum Olivarum)
dengan Emulgator Lesitin 5%.
 Syamsuni. 2005. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC
 Voight Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press. Yogyakarta