Anda di halaman 1dari 35

TENTANG OBAT

OBATAN

Disusun Oleh : Agus Setiawan


GOLONGAN ANTIPIRETIK

• Pengertian
Antipiretik sering disamakan dengan analgetik.
Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang sangat
jauh. Antipiretik berfungsi khusus pada penurunan
panas, sedangkan analgetik lebih berfungsi sebagai
obat-obatan yang berguna untuk mengurangi rasa sakit
dan nyeri tanpa mengambil alih kesadaran seseorang.
ANTIPIRETIK
• Nama Obat
 Paracetamol, fenasetin => Para-aminofenol
 Ibuprofen, naproxen, dan ketoprofen => Obat antiinflamasi
nonsteroid
 Aspirin, salisilamid => Salisilat

• Khasiat/indikasi
Penggunaan obat antipiretik pada umumnya harus menunggu
demam. Pasien baru boleh diberikan obat antipiretik bila tubuhnya
mengalami demam atau memiliki suhu tubuh lebih dari 37,5 derajat
Celcius.
Ada juga yang menyebutkan bahwa antipiretik baru boleh
dipakai jika suhu tubuh mencapai lebih dari 38,5 derajat Celcius.
Apabila suhu tubuh kurang dari suhu tersebut, maka sebaiknya
jangan cepat-cepat diberikan antipiretik.
Antipiretik

• Efek Samping
Penggunaan obat-obatan antipiretik tak luput dari beberapa
efek samping. Efek samping antipiretik yang sering terjadi adalah
tekanan darah rendah dan adanya gangguan pada fungsi hati dan
ginjal.
Efek samping antipiretik yang juga sering terjadi adalah
oliguria dan retensi garam dan air. Di samping itu, penggunaan obat
antipiretik juga bisa menimbulkan efek samping berupa gangguan
saluran cerna.
Orang-orang yang memiliki riwayat alergi terhadap kandungan
bahan aktif dari obat-obatan antipiretik bisa mengalami reaksi
alergi. Adapun beberapa tanda reaksi alergi yang bisa muncul
seperti gatal-gatal, ruam, pusing, mual muntah, sesak napas, dan
nyeri ulu hati.
ANTIPIRETIK

• Kontra Indikasi
Obat-obatan antipiretik memiliki kontraindikasi yang berbeda-
beda tergantung pada jenis obat antipiretik yang digunakan.
Anda bisa melihat kontraindikasi dari beberapa contoh obat
antipiretik di bawah ini:
1. Parasetamol
Obat antipiretik yang mengandung parasetamol tidak boleh
digunakan oleh pasien yang menderita gangguan fungsi hati
berat. Pasien juga tidak bisa menggunakan parasetamol bila
memiliki riwayat alergi terhadap obat yang mengandung
parasetamol.
2. Ibuprofen
Ibuprofen adalah kandungan obat yang juga memiliki
sifat antipiretik.
Penderita hipersensitivitas dan ibu hamil trimester akhir
tidak bisa menggunakan ibuprofen untuk meredakan
demam. Selain itu, orang-orang yang menderita asma,
alergi, urtikaria, dan ulkus peptikum juga tidak bisa
menggunakan ibuprofen.
3. Asetosal (asam asetilsalisilat)
Anak dan remaja yang berusia di bawah 16 tahun tidak
bisa menggunakan obat antipiretik yang mengandung
asetosal. Obat antipiretik yang mengandung asetosal juga
tidak boleh digunakan pada ibu menyusui, penderita
hemofilia. penderita asma, dan sindrom Reye.
GOLONGAN ANTIBIOTIK

• Pengertian
Antibiotik adalah zat-zat yang dihasilkan dari fungi atau
bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat
pertumbuhan mikroba lain, sedangkan toksisitasnya bagi
manusia relatif kecil. Turunan zat tersebut, yang dibuat secara
semisintetis dan sintesis dengan khasiat antimikroba lazimnya
juga disebut antibiotik (Tjay & Rahardja, 2002).
Penggolongan Antibiotik
Berdasarkan Spektrum atau Kisaran
Kerja
• Berspektrum sempit (narrow spectrum), hanya
mampu menghambat segolongan jenis bakteri
saja, contohnya hanya mampu menghambat
atau membunuh bakteri Gram positif atau
Gram negatif saja.
• Berspektrum luas (broad spectrum), dapat
menghambat atau membunuh bakteri dari
golongan Gram positif maupun Gram negatif
(Pratiwi, 2008).
Penggolongan Antibiotik
Berdasarkan Mekanisme Kerjanya

• Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel:


Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah
penisilin, sefalosporin, basitrasin dan vankomisin.
• Antibiotik yang merusak membran plasma: Antibiotik
yang termasuk kelompok ini ialah polimiksin,
nistatin, dan amfoterisin B.
• Antibiotik yang menghambat sintesis protein:
Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah
golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol,
linkomisin dan tetrasiklin.
• Antibiotik yang menghambat sintesis asam
nukleat (DNA/RNA): Antibiotik yang termasuk
kelompok ini ialah rifampisin dan golongan
kuinolon.
• Antibiotik yang menghambat sintesis metabolit
esensial: Antibiotik yang termasuk kelompok ini
ialah sulfonamida, kotrimoksazol dan asam p-
amino salisilat (PAS) (Pratiwi, 2008)
Penggolongan Antibiotik
Berdasarkan Daya Kerjanya

• Zat bakterisid, yaitu antibiotik yang memiliki


kemampuan untuk membunuh bakteri.
• Zat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang meiliki
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan
bakteri (Dzen, 2003).
Penggolongan Antibiotik
Berdasarkan Gugus Kimianya

• Senyawa Beta-laktam: Mekanisme aksi penisilin


dan antibiotika yang mempunyai struktur mirip
dengan B-laktam adalah menghambat
pertumbuhan bakteri melalui pengaruhnya
terhadap sintesis dinding sel. Dinding sel ini tidak
ditemukan pada sel-sel tubuh manusia dan hewan,
antara lain: golongan penisilin, sefalosporin dan
sefamisin serta beta-laktam lainnya.
• Kloramfenikol, Tetrasiklin, Makrolida, Clindamisin
dan Streptogramin: Golongan agen ini berperan
dalam penghambatan sintesis protein bakteri dengan
cara mengikat dan mengganggu ribosom, antara lain:
kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida, klindamisin,
streptogramin, oksazolidinon.
• Aminoglikosida: Golongan Aminoglikosida, antara
lain: streptomisin, neomisin, kanamisin, amikasin,
gentamisin, tobramisin, sisomicin, etilmicin, dan lain-
lain.
• Sulfonamida, Trimethoprim, dan Quinolones: Sulfonamida, aktivitas
antibiotika secara kompetitif menghambat sintesis dihidropteroat.
Antibiotika golongan Sulfonamida, antara lain Sulfasitin,
sulfisoksazole, sulfamethizole, sulfadiazine, sulfamethoksazole,
sulfapiridin, sulfadoxine dan golongan pirimidin adalah
trimethoprim.
• Trimethoprim dan kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol
menghambat bakteri melalui jalur asam dihidrofolat reduktase dan
menghambat aktivitas reduktase asam dihidrofolik protozoa,
sehingga menghasilkan efek sinergis. Fluoroquinolon adalah
quinolones yang mempunyai mekanisme menghambat sintesis DNA
bakteri pada topoisomerase II (DNA girase) dan topoisomerase IV.
Golongan obat ini adalah asam nalidiksat, asam oksolinat,
sinoksasin, siprofloksasin, levofloksasin, slinafloksasin, enoksasin,
gatifloksasin, lomefloksasin, moxifloksasin, norfloksasin,
NAMA OBAT
 Pensilin
Amoxicillin, Ampicillin, Oxacillin, Penicillin G.
 Sefalosporin
Cefadroxil, Cefuroxime, Cefotaxim, Cefotiam, Cefepime,
Ceftarolin.
 Aminoglikosida
Paromomycin, Tobramycin, Gentamicin, Amikacin,
Kanamycin, Neomycin.
 Tetrasiklin
Doxycycline, Minocycline, Tetracycline, Oxytetracycline,
Tigecycline.
 Makrolid
Erythromycin, Azithromycin, Clarithromycin.
 Quinolone
Ciprofloxacin, Levofloxacin, Moxifloxacin,
Norfloxacin.
 Sulfonamida dan Trimetoprim
Sulfametoksazol dan trimetoprim dalam bentuk
kombinasi Ko-Trimoksazol.
AMOXICILLIN
*INDIKASI*
Infeksi saluran nafas, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit &
jaringan lunak yang disebabkan oleh bakteri Gram positif & Gram negatif.
*EFEK SAMPING*
Gangguan pencernaan, reaksi alergi, anafilaksis, kelainan darah, superinfeksi
*KONTRA INDIKASI*
Hipersensitif terhadap Penisilin. Mononukleosis infeksiosa
Ampicillin trihydrate
*INDIKASI*
Infeksi Gram positif & Gram negatif pada saluran pernafasan, saluran empedu,
saluran pencernaan, dan meninges. Infeksi saluran kemih.
*EFEK SAMPING*
Gangguan saluran pencernaan. Kemerahan pada kulit, gatal-gatal,
biduran/kaligata, demam, anafilaksis, kelainan darah, superinfeksi.
*KONTRA INDIKASI*
Hipersensitif terhadap Penisilin. Mononukleosis infeksiosa.
Cefadroxil
*INDIKASI*
Infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit & jaringan lunak, infeksi
saluran kemih & kelamin.
*EFEK SAMPING*
Mual, muntah, diare, reaksi alergi, kolitis pseudomembranosa
*KONTRA INDIKASI*
Hipersensitivitas terhadap Sefalosporin.
Gentamicin / Gentamisin sulfat
*INDIKASI*
Infeksi bakterial yang disebabkan oleh bakteri patogen yang rentan terhadap
Gentamisin Sulfat, terutama patogen Gram negatif & Staphylococcus.
*KONTRA INDIKASI*
Hipersensitivitas.
*EFEK SAMPING*
Ototoksisitas & nefrotoksisitas.

Neomycin / Neomisin Sulfat


*INDIKASI*
Infeksi saluran pencernaan, diare, sterilisasi usus besar.
*KONTRA INDIKASI*
Hipersensitivitas. Penyumbatan usus.
*EFEK SAMPING*
Gangguan absorpsi usus, superinfeksi, ototoksisitas, & nefrotoksisitas
Doxycycline / Doksisiklin HCl
*INDIKASI*
Infeksi saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kandung empedu,
saluran kemih & kelamin, kulit & jaringan lunak.
*KONTRA INDIKASI*
Riwayat hipersensitifitas, fotodermatosis, kerusakan hati, kehamilan,
menyusui.
*EFEK SAMPING*
Gangguan saluran pencernaan, kerusakan hati, diskrasia darah, fotositisasi &
pertumbuhan berlebihan organisme yang resisten terhadap Doksisiklin,
peningkatan tekanan intrakranial yang berisfat reversibel (akan berhenti bila
obat tidak lagi diberikan) pada anak-anak (sangat jarang).
Azithromycin / Azitromisina
*INDIKASI*
Infeksi saluran pernafasan bagian atas & bawah, infeksi kulit ringan dan
sedang, uretritis (radang uretra/aliran kandung kemih) non komplikasi &
servisitis (radang leher rahim) non gonoreal yang disebabkan oleh Chlamydia
trachomatis.
*KONTRA INDIKASI*
Hipersensitivitas terhadap antibiotik makrolida.
*EFEK SAMPING*
Diare, mual, muntah, kembung, nyeri lambung, dispepsia, sakit kuning
kolestatik. Kemerahan pada kulit, gangguan saluran kemih & kelamin, sakit
kepala, vertigo, somnolen (ketagihan tidur/mengantuk terus), kelemahan.
Ciprofloxacin / Siprofloksasin HCl.
*INDIKASI*
Infeksi saluran kemih, saluran pernapasan, kulit dan jaringan lunak,
tulang dan sendi, saluran pencernaan, osteomielitis (radang sumsum
tulang) akut.
*KONTRA INDIKASI*
Wanita hamil dan penyusui. Anak-anak dan remaja yang masih dalam
masa pertumbuhan.
*EFEK SAMPING*
Gangguan saluran pencernaan, pusing, sakit kepala, insomnia (sulit
tidur), halusinasi, gemetar, perasaan lelah, gangguan penglihatan, reaksi
kulit, meningkatkan jumlah enzim hati untuk sementara waktu
Co-trimoxazole: Trimethoprim 80 mg, sulfamethoxazole 400
mg.
*INDIKASI*
Infeksi saluran pencernaan, saluran pernapasan, kulit dan infeksi lain yang
disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan terhadap Kotrimoksazol.
*KONTRA INDIKASI*
• Gangguan berat fungsi ginjal atau hati.
• Hipersensitif terhadap sulfonamida, diskrasia darah.
• Wanita hamil dan menyusui.
• Bayi berusia kurang dari 2 bulan.
• Porfiria.
*EFEK SAMPING*
Gangguan saluran pencernaan, sindroma Stevens-Johnson & Lyell.Jarang :
hepatitis, kelainan darah, kolitis pseudomembranosa.
GOLONGAN ANTIHIPERTENSI

• Pengertian
Golongan obat-obatan yang digunakan untuk
menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Hipertensi merupakan kondisi yang sering diderita
sebagian orang, ditandai dengan tekanan darah yang
berada di atas level normal (lebih tinggi dari 130/80
milimeter merkuri (mmHg). Tekanan darah yang
melebihi batas normal dapat menekan dinding arteri.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengakibatkan
penyakit yang lebih berbahaya seperti stroke, serangan
jantung, gagal jantung, hingga penyakit ginjal.
NAMA DAN JENIS OBATNYA

• ACEinhibitor
Berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan
menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiotensin I
menjadi angiotensin II. Hal ini menurunkan tekanan darah baik secara
langsung menurunkan resisitensi perifer. Dan angiotensin II diperlukan
untuk sintesis aldosteron, maupun dengan meningkatkan pengeluaran
netrium melalui urine sehingga volume plasma dan curah jantung
menurun. Berikut Contoh Obatnya :
o Captopril
o Enalapril
o Lisinopril
o Perindopril
o Ramipril
o Trandolapril.
• Alpha-2 receptor agonist
Contoh obat alpha-2 receptor agonist adalah metildopa
dan clonidine. Obat ini bekerja dengan menekan aktvitas jaringan
yang memproduksi hormon adrenalin, sehingga tekanan darah
turun. Metildopa biasanya diberikan kepada ibu hamil yang
menderita hipertensi, karena obat ini dinilai tidak terlalu
membahayakan bagi ibu hamil dan janin.
Contoh Obat :
o Metildopa
o Clonidine
• Antagonis kalsium (calcium channel blocker)
Antagonis kalsium digunakan untuk menangani hipertensi,
gangguan jantung, dan gangguan pembuluh darah. Obat ini
bekerja dengan menghambat jalan masuk kalsium ke dalam otot
jantung dan dinding pembuluh darah, sehingga menyebabkan
denyut jantung melambat dan pembuluh darah melebar. Nama-
nama obat yang masuk ke kelompok antagonis kalsium adalah:
o Amlodipine
o Diltiazem
o Nicardipine
o Nifedipine
o Nimodipine
o Verapamil.
• Angiotensin II receptor blocker (ARB)
ARB bekerja dengan cara menghambat kerja
angiotensin atau senyawa yang membuat pembuluh darah
menyempit. Hambatan pada kerja angiotensin menyebabkan
pembuluh darah tetap terbuka lebar dan tekanan darah
mampu diturunkan. Jenis-jenis obat ARB adalah:
o Candesartan
o Eprosartan
o Irbesartan
o Losartan
o Olmesartan
o Telmisartan
o Valsartan.
• Diuretik
Diuretik merupakan obat yang cukup sering digunakan
untuk menangani hipertensi. Obat ini bekerja dengan
membuang kelebihan garam (natrium) dan cairan di
dalam tubuh untuk menormalkan tekanan darah. Jenis-
jenis obat diuretik adalah:
 Diuretik loop, seperti furosemide.
 Diuretik hemat kalium (potassium-sparing), seperti
amiloride dan spironolactone.
 Diuretik thiazide, seperti hydrochlorothiazide dan
indapamide.
• Alpha blocker
Menghambat efek adrenalin dan noradrenalin pada
pembuluh darah, santai dan dilatasi mereka. Contoh obatnya yaitu
:
Prazosin, doksazosin, terazosin HCl, doksazosin.
• Beta Blocker
Menghalangi tindakan hormon yang membuat jantung
memompa lebih keras.
Contoh obatnya yaitu :
Propanolol, atenolol, nadolol, pindolol dan labetolol.
• Vasodilator
Mengendurkan otot polos arteri, menyebabkan mereka
untuk membesar dan dengan demikian mengurangi resistensi
terhadap aliran darah.
Contoh obatnya yaitu :
• Kaptopril
INDIKASI : hipertensi, gagal jantung.
KONTRAINDIKASI : hipersensivitas, hati pada penderita
dengan riwayat angioedema dan wanita menyusui.
EFEK SAMPING : batuk, kulit kemerahan, konstipasi,
hipotensi, dyspepsia, pandangan kabur, myalgia.
• Lisinopril
INDIKASI : hipertensi
KONTRAINDIKASI : penderita dengan riwayat
angioedema, wanita hamil, hipersensivitas.
EFEK SAMPING : batuk, pusing, rasa lelah, nyeri sendi,
bingung, insomnia, pusing.
• Klonidin
INDIKASI : hipertensi, migren
KONTRAINDIKASI : wanita hamil, penderita yang tidak patuh.
EFEK SAMPING : mulut kering, pusing mual, muntah,
konstipasi.
• Diltiazem
INDIKASI : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler
perifer.
KONTRAINDIKASI : wanita hamil dan menyusui, gagal
jantung. EFEK SAMPING : bradikardia, pusing, lelah, edema
kaki, gangguan saluran cerna.
• Nifedipin
INDIKASI : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme
coroner, gagal jantung refrakter.
KONTRAINDIKASI : gagal jantung berat, stenosis berat, wanita
hamil dan menyusui.
EFEK SAMPING : sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema
kaki.

• Furosemide
INDIKASI : Edema paru akut, edema yang disebabkan penyakit
jantung kongesti, sirosis hepatis, nefrotik sindrom, hipertensi.
KONTRAINDIKASI : wanita hamil dan menyusui.
EFEK SAMPING : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi, mual,
diare.
• Hidralazin
INDIKASI : Hipertensi, gagal jantung.
KONTRAINDIKASI : Gagal ginjal, penyakit reumatik jantung.
EFEK SAMPING : Sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna,
muka merah, kulit kemerahan.

• Ramipril
INDIKASI : Hipertensi
KONTRAINDIKASI : Penderita dengan riwayat angioedema,
hipersensivitas. Hati - hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui.
EFEK SAMPING : Batuk, pusing, sakit kepala, rasa letih, nyeri
perut, bingung, susah tidur.