Anda di halaman 1dari 18

ANTIGEN

KELOMPOK 6
WELLY SITOHANG
WILLY NOVITA SARI
ETA SARI
KHAIRUL ANWAR
PENGERTIAN ANTIGEN
• Antigen adalah bahan yang asing untuk badan,
yang di dalam manusia atau organisme
multiseluler lain dapat menimbulkan
pembentukan antibodi terhadapnya dan dengan
antibodi itu antigen dapat bereaksi secara khas.
• Antigen yang berhasil masuk ke dalam tubuh
akan mengaktfikan berbagai respon imun spesifik
maupun non-spesifik. Jika antigen ini tidak
ditangani dengan baik oleh tubuh, antigen
tersebut dapat menimbulkan penyakit sesuai
dengan jenis penyakit yang dibawanya.
Secara fungsional antigen terbagi menjadi 2, yaitu :

1. Imunogen, yaitu molekul besar (disebut molekul pembawa).


Bagian dari antigen molekul besar yang dikenali oleh sebuah antibodi (oleh
reseptor sel-T) atau bagian antigen yang dapat membuat kontak fisik dengan
reseptor antibodi, menginduksi pembentukan antibodi yang dapat diikat dengan
spesifik oleh bagian dari antibodi atau oleh reseptor antibodi, bisa juga disebut
determinan antigen atau epitop.

2. Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil.


Bahan kimia ukuran kecil seperti dinitrifenol dapat diikat antibodi, tetapi bahan
sendiri tersebut tidak dapat mengaktifkan sel B (tidak imunogenik). Untuk
mengacu respon antibodi, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh molekul besar.
Hapten merupakan sejumlah molekul kecil yang dapat bereaksi dengan antibodi
namun tidak dapat menginduksi produksi antibodi.
1. Berdasarkan asal
• Antigen Eksogen, antigen non-diri yang masuk ke dalam tubuh dari
luar, baik melalui ingesti, inhalasi atau injeksi. antigen eksogen terjadi
di ruang ekstraseluler dan cairan tubuh termasuk darah dan getah
bening, tetapi tidak di dalam sel.
• Antigen Endogen, adalah antigen yang dihasilkan sebagai hasil dari
metabolisme sel. Mereka bisa berupa antigen diri atau non-diri. Di
sini, produk sampingan dari metabolisme sel biasa adalah self-
antigen sementara antigen yang berhubungan dengan patogen yang
diproduksi oleh sel yang terinfeksi adalah antigen non-self.
2. Berdasarkan Determinan
• Unideterminan univalent, hanya memiliki satu jenis
determinan dan jumlahnya satu.
• Unideterminan multivalent, hanya memiliki satu jenis
determinan namun berjumlah lebih dari satu pada satu
molekul.
• Multideterminan univalent, memiliki dua atau lebih jenis
determinan namun hanya berjumlah satu pada setiap
detrminannya.
• Multideterminan multivalent, memiliki dua atau lebih
jenis determinan dan setiap jenisnya berjumlah lebih dari
satu.
3. Berdasarkan Spesifitas
• Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
• Xenoantigen, yang hanya dimiliki oleh banyak spesies
tertentu
• Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam
satu spesies
• Antigen organ spesifik, yang hanya dimilki organ tertentu
• Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri

4. Berdasarkan ketergantungan terhadap sel T


• T dependen, yang memerlukan pengenalan sel T
terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respon
antibodi.
• T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa
bantuan sel T untuk membentuk antibodi.
5. Berdasarkan bahan kimianya
• Hidrat arang (polisakarida)

• Lipid

• Asam Nukleat

• Protein
Karakteristik dan Sifat-sifat Antigen

A. Karakteristik antigen
1. Ukuran antigen lengkap (imunogen) biasanya mempunyai berat molekul
yang besar.
2. Bentuk - bentuk determinan sangat penting sebagai komponen utama
3. Rigiditas, gelatin yang mempunyai berat molekul yang sangat besar,
hampir semuanya non imunogenik.
4. Lokasi determinan, bagian protein yang terdenaturasi.
5. Struktur tersier, struktur tersier dari protein penting dalam
mendeterminasi kespesifikasn dari respon suatu antibodi.
B. Sifat- Sifat Antigen
1. Keasingan, syarat sebagai imunogen adalah bahwa zat tersebut secara
genetik asing terhadap hospes.
2. Sifat-sifat fisika, mempunyai ukuran minimum tertentu, yaitu mempunyai
berat molekul >40.000 dalton, alergen bersifat stabil (tahan bila
dipanaskan, sukar dipecahkan), mampu merangsang terbentuknya AB
serta antigen poten alamiahnya berupa makromolekul dan kompleks.
3. Kompleksitas, faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen
meliputi sifat fisik dan kimia molekul.
4. Bentuk-bentuk (Conformation), tidak adanya bentuk dari molekul
tertentu yang imunogen.
5. Muatan (Charge), imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu.
6. Kemampuan Masuk, kemampuan masuk suatu kelompok determinan
pada sistem pengenalan akan menentukan hasil respon imun.
Mekanisme Masuknya Antigen Ke Dalam Tubuh

Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul


kecil yang bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa
menjadi antigen bila dia melekat pada protein tubuh kita. Substansi kecil
yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal dengan istilah hapten.
Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik
(eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan
berikatan dengan sel limfosit B yang akan mensintesis pembentukan
antibodi.
Metode pemeriksaan antibodi
dan antigen

1.Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)


• Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) merupakan teknik yang
paling luas digunakan dari kelompok enzyme immuno assay (EIA).
Terdapat dua cara ELISA yaitu ELISA secara langsung untuk mendeteksi
antigen dan secara tidak langsung untuk mendeteksi antibodi.
• Prinsip Immunoassay ini adalah mendeteksi keberadaan antigen atau
antibodi yang terimobilisasi dalam sumur menggunakan antigen atau
antibodi spesifik yang terkonjugasi dengan enzim.
• ELISA dapat digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti
menghitung tingkat antibodi, mendeteksi virus, mendeteksi perubahan
hormon, dan mendeteksi sirkulasi penanda inflamasi.
2.Imunoflouresensi assay (IFA)
• Imunofluoresensi merupakan metode pemeriksaan menggunakan
antibodi yang telah terkonjugasi dengan molekul fluoresens dan dilihat
di bawah mikroskop ultraviolet (UV).
• Pemeriksaan imunofluoresen digunakan untuk deteksi auto antibodi
penyakit autoimun
• Pemerik saan imunofluoresen dibagi menjadi direct (DIF) dan
indirect(IIF).
• Pemeriksaan direct bertujuan untuk deteksi antibodi yang melekat di
jaringan secara in vivo, sedangkan indirect untuk deteksi antibodi dalam
serum. Antibodi yang digu nakan adalah antibodi anti terhadap IgG,IgM,
IgA, C3, atau fibrinogen.
• Imunofluoresensi juga dapat digunakan untuk mendeteksi dan
membedakan serotipe virus dengue.
3.Western blot (WB)
• merupakan suatu teknik untuk menandai suatu Protein pada membran
nitroselulosa, nilon, atau membran transfer lain setelah protein tersebut
terpisahkan melalui elektroforesis. Protein tersebut kemudian dapat
dideteksi melalui metode autoradiograf, pelabelan dengan senyawa-
senyawa fluoresen, pelabelan dengan antbodi terikat protein, lektin atau
gen pengikat spesifik lainnya.
• Western Blot yang pada umumnya dipakai untuk mendiagnosa infeksi HIV
hanya bisa mendeteksi interaksi antara protein dan antibodi yang
diperkirakan berhubungan dengan HIV.
• Metode dari westren blot.
a) Penyiapan sample dan pemberian antibodi antiprotein
b) Elektrophoresis menggunakan gel
c) Transfer ke membran filter
d) Pewarnaan dengan antibodi pewarna dan siap untuk dibaca
4. Enzyme Linked Fluorescence Assay (ELFA)
• ELFA merupakan hasil perkembangan ELISA. Prinsip ELFA sama
dengan ELISA yaitu mendeteksi keberadaan antigen atau antibodi
menggunakan antigen atau antibodi yang terkonjugasi dengan
enzim,perbedaannya adalah terletak pada jenis substrat yang
digunakan. ELFA menggunakan substrat berupa senyawa fluorogenik.
• Pada kasus infeksi bakteri H.pylori digunakan pemeriksaan antibodi
dengan metode ini.
• prinsip metode ini ialah ikatan antara antigen dan antibodi yang
kemudian hasil ikatan ini akanmemberikan reaksi sebagai parameter
hasil pemeriksaan.
• Menurut beberapa jurnal ilmiah, pemeriksaan ELFA memiliki angka
sensitifitas dan spesifitas yang cukup tinggi yaitu masing-masing 85%
dan 79% dalam kemampuannya mendeteksi IgG Helicobacter pylori
• Hasil positif jika ditemukan warna berpendar.
• Untuk standar nilai hasil ELFA berbeda. standar hasil diagnosis untuk
IgG Helicobacter pylori dikatakan reaktif apabila hasil menunjukkan
≥1, equivokal bila hasil 0,75-1,00 dan non-reaktifbilahasil <0,75.
5.Uji widal
• Widal atau uji Widal adalah prosedur uji serologi untuk mendeteksi
bakteri Salmonella enterica yang mengakibatkan penyakit Thipoid. Uji ini
akan memperlihatkan reaksi antibodi Salmonella terhadap antigen O-
somatik dan H-flagellar di dalam darah.
• Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum
penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa.
• Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen
dan antibodi (agglutinin).
Aplikasi Pengetahuan mengenai Antigen dalam Bidang Kesehatan

1. Vaksin Bakteri 2. Vaksin virus


a. Diphteria, Pertussis dan Tetanus a. Rubella
(DPT) DPT merupakan vaksin polivalen Vaksin rubella mengandung
yang mengandung toksoid dari virus hidup yang telah
Corynebacterium diphteriae dan dilemahkan yang dibiakkan
Closteridium tetani dengan dibubuhi dalam jaringan hewan atau sel-
bakteri Bordetella pertussis (penyebab sel diploid manusia.
batuk rejang) yang telah dimatikan.
Toksoid adalah toksin yang telah b. Virus influenza
dihilangkan toksisitasnya, tetapi masih Mengandung virus influenza tipe
bersifat sebagai imunogen. A dan B secara utuh yang
dibiakkan dalam embrio ayam
dan dinonaktifkan dengan
formalin.
Kesimpulan

Dari pembahasan yang dijabarkan diatas, diperoleh kesimpulan sebagai


berikut:
1. Antigen adalah bahan yang asing untuk badan, yang di dalam manusia
atau organisme multiseluler lain dapat menimbulkan pembentukan
antibodi terhadapnya dan dengan antibodi itu antigen dapat bereaksi
secara khas.
2. Antigen dapat diklasifikasikan berdasarkan asal, determinan, spesifitas,
ketergantungan terhadap sel T, dan bahan kimianya.
3. Sifat- sifat antigen adalah keasingan, sifat-sifat fisik, komoleksitas,
bentuk-bentuk, muatan dan kemampuan masuknya.
4. Antigen dapat di uji menggunakan teknik uji ELISA, IFA, Western blot,
ELFA dan uji Widal.
5. Pengetahuan mempelajari antigen dapat dimanfaatkan dalam
pembuatan vaksin, bakteri dan virus.