Anda di halaman 1dari 65

ALTERNATOR

( GENERATOR AC )
Alternator
Fungsi --> mengubah energi mekanik menjadi
energi listrik (AC)
Komponen utama :
• Casing (frame atau rangka)
• Stator (inti dan kumparan)
• Rotor
• Exciter
Casing
Casing
• Terbuat dari baja ringan yang dirancang untuk
menopang inti stator dan kumparan-
kumparannya
• Untuk generator berpendingin hydrogen (H2)
harus dirancang mampu menahan tekanan dan
ledakan hydrogen yang mungkin terjadi
Stator
Stator
Stator
Stator
• Terdiri dari inti stator dan kumparan
• Inti terbentuk dari susunan plat-plat baja silikon yang
mempunyai sifat kemagnetan yang baik dikompres dengan
rapat sekali, tetapi diisolasi satu sama lain dengan pernis atau
kertas berisolasi (impregnated paper)
• Susunan plat baja silikon yang membentuk inti ini biasanya
disebut laminasi. Laminasi- laminasi ini membentuk saluran
yang baik sekali bagi flux magnit yang dihasilkan oleh rotor
• Isolasi pada laminasi mengurangi besarnya arus pusar
(Eddy current), sehingga mengurangi kerugian panas yang
timbul
• Inti ini dibuat membentuk alur-alur untuk menempatkan
kumparan dan lubang-lubang untuk saluran pendingin yang
akan bersirkulasi untuk menyerap panas
Rotor
Rotor
Rotor
Rotor
• Dibuat dari metal tempa berbentuk silinder
sepanjang generator
• Kedua ujung rotor yang merupakan poros dibuat
berdiameter lebih kecil untuk dipasang bantalan
journal. Pada salah satu sisi poros ini dilengkapi
dengan slipring atau terminal untuk
menyalurkan arus aksitasi (penguat)
• Sepanjang keliling bagian luar rotor di buat alur-
alur aksial untuk menempatkan kumparan
Rotor
• Pada mesin berkutub 2, alur-alur ini membawa
kumparan-kumparan (coil) rotor separuh searah
jarum dan separuh lainnya berlawanan jarum
jam
• Dengan cara ini, bila arus dialirkan ke kumparan-
kumparan rotor, maka dihasilkan medan magnit
yang mempunyai kutub utara dan selatan pada
sisi yang berlawanan
Retaining Ring
• Untuk menahan bagian yang menggantung dari
kumparan rotor dan menjepit dengan blok-blok
terisolasi
• Selain berfungsi untuk menahan kumparan rotor
yang berada diluar alurnya terhadap gaya
sentrifugal, juga mencegah kenaikan kebocoran
flux dan stray load yang sebanding dengan
besarnya arus
Slip Ring
• Kedua ujung kumparan rotor dihubungkan pada
slip ring -slip ring yang dipasang pada poros dan
terisolasi terhadap poros tersebut, atau
dihubungkan pada terminal penyearah berputar
untuk jenis eksitasi tanpa sikat. Sikat karbon
yang dipasang pegas ditahan disekeliling slip
ring-slip ring untuk menyalurkan arus ke rotor
• Frekuensi =
kecepatan putaran rpm x jumlah pasang kutub
60
n.p
• f = (Hz)
60
Alternator 3 phasa
Prinsip kerja :
• Menerapkan prinsip pembangkitan listrik berdasarkan
induksi . Menurut hukum Faraday, apabila kumparan
berputar didalam medan magnet atau sebaliknya medan
magnet berputar didalam kumparan, maka pada
ujung-ujung kumparan tersebut akan timbul gaya gerak
listrik (tegangan)
Unsur utama :
• Medan magnit
• Penghantar (kumparan)
• Kecepatan relatif
Alternator 3 phasa
Besarnya tegangan yang diinduksikan pada kumparan tergantung
pada:
• Kuat medan magnit
• Panjang penghantar dalam kumparan
• Kecepatan putar (gerakan)

Karena formula dari pembangkitan tegangan secara induksi adalah :



E = -N
dt
dimana :
N = banyaknya lilitan

= perubahan medan magnit dalam web/det
dt
• Tanda ( - ) minus menunjukan bahwa tegangan yang dibangkitkan
berlawanan arah dengan yang membangkitkan
Pembangkitan GGL
Bentuk Tegangan AC 1 Phasa
Sistem 3 Phasa
Untuk memperoleh daya listrik yang besar alternator
dibuat sistem tiga fasa yang mempunyai tiga kumparan yang
sama pada statornya dan penempatan dari tiap kumparan
berjarak 120° satu sama lain
Sistem Sambungan Alternator
• Sambungan segi tiga (delta) ∆
Apabila tiap ujung kumparan dihubungkan ke pangkal kumparan
yang lain, sehingga terbentuk suatu segi tiga. Kawat keluarannya
diambil dari tiap titik sambungan. Jumlah kawat keluaran ada tiga.
Metode penyambungan cara ini biasanya digunakan dalam trafo
atau motor.
• Sambungan bintang (star) Y
Apabila semua pangkal kumparan dihubungkan menjadi satu
membentuk titik umum disebut sebagai titik bintang atau titik
netral. Sementara ketiga ujung kumparan merupakan sambungan
keluar. Sambungan cara ini dapat disederhanakan karena pada titik
bintang ternyata arusnya sama dengan nol. Oleh karena itu titik
ini biasanya dihubungkan ke tanah, kadang kala dengan
melewati suatu tahanan atau trafo.
Sambungan Star (Y)
Sambungan Delta (∆)
Eksitasi
• Eksitasi atau penguat adalah sistem pasok arus searah ke
rotor alternator sebagai penguat medan magnit
• Harus mampu memberikan penguatan dalam kondisi operasi
normal dengan keluaran daya sekitar 0,5 % dari rating
generator dan dalam kondisi gangguan dengan keluaran daya
sekitar 1%
• Alat atau mesin untuk menghasilkan arus eksitasi disebut
eksiter
Jenis Eksitasi
• Dinamik ( Rotating )
Arus eksitasi dihasilkan dari alternator arus searah (dengan
komutator) atau alternator arus bolak-balik yang keluarannya
disearahkan dengan rangkain penyearah yang statis
• Statik
Terdiri dari trafo eksitasi yang dihubungkan dan dipasok dari
keluaran alternator. Tegangan keluaran trafo eksitasi kemudian
disearahkan menggunakan thyristor dan dialirkan ke rangkaian
pengatur tegangan. Dari rangkaian pengatur tegangan, arus ini
selanjutnya diumpankan ke rotor alternator melalui slip-ring dan
sikat arang
Eksitasi Dinamik
Eksitasi Statik
AVR (Automatic Voltage
Regulator)
• Disebut juga pengatur tegangan otomatis
• Berfungsi untuk menjaga tegangan terminal generator
selalu tetap harganya/selalu steady (stabil)
• Prinsip kerja : tegangan terminal alternator
dibandingkan dengan tegangan referensi
Pembebanan Alternator

• Alternator berdiri sendiri (island load)


• Alternator sinkron dengan sistem jaringan
Sinkronisasi
• Syarat : tegangan, frekuensi dan perbedaan fasa antara
alternator dengan sistem harus sama
• Indikator tegangan dan frekuensi jelas terpasang dengan
menggunakan fasa jarum atau digital
• Fasa ditunjukan pada synchroscope dan biasanya ditambah
dengan lampu. Perbedaan fasa harus mendekati nol atau nol,
dan hal ini ditunjukkan oleh synchroscope yaitu ketika jarum
synchroscope menunjuk diangka 0 atau garis vertical diposisi
atas (tengah harus garis mendatar)
Macam-macam Beban

• Resistif (tahanan = R)
• Induktif (kumparan = L)
• Kapasitif (kapasitor = C)
Beban Resistif (R)

E
P = I . E , karena I = R

maka P = atau P = I² . R
R
Dimana :
• P : daya (watt)
• I : arus (ampere)
• E : tegangan (volt)
• R : beban resistif (ohm)
Beban Resistif (R)
• Pengaruh beban resistif pada alternator akan menimbulkan
reaksi jangkar pada stator sehingga timbul medan magnit yang
arahnya melawan medan magnit rotor, akibatnya putaran
rotor turun. Karena putaran turun, maka frekwensi dan
tegangan juga akan turun. Untuk memulihkannya ke kondisi
normal, maka putaran (aliran uap) harus di tambah
Beban Induktif (L)

Reaktansi induktif : XL = 2 π f L (ohm)


Dimana :
• π = 3,14
• f = frekuensi (Hz)
• L = induktansi (Wb/A atau H)
Beban Induktif (L)
• Pengaruh beban induktif terhadap alternator adalah
pemanasan pada kumparan rotor
• Beban induktif menyebabkan tegangan turun dan faktor daya
rendah, sementara arus generator naik akibat reaksi jangkar di
stator
• Akibat selanjutnya tegangan cenderung turun sehingga untuk
mengembalikan ke harga normal arus eksitasi harus
ditambah. Penambahan arus eksitasi ini akan menyebabkan
pemanasan pada rotor.
Beban Kapasitif (C)

1
Reaktasi kapasitif : XC = 2 π f C

Dimana :
• C = kapasitansi (Farad)
Beban Kapasitif (C)
• Pengaruh beban kapasitif terhadap alternator adalah
meningkatnya suhu stator, karena adanya penguatan
medan magnet dari luar (sistem)
• Beban kapasitif menyebabkan tegangan cenderung naik
karena adanya penambahan eksitasi dari luar, akibatnya
kumparan stator menjadi lebih panas sedang arus eksitasi ke
rotor menjadi kecil sehingga alternator cenderung beroperasi
ke daerah tidak stabil.
Sistem Pendingin Alternator
• Mengapa alternator memerlukan pendinginan ?
• Alternator yang beroperasi selain memproduksi energi listrik
juga menghasilkan panas didalam alternator. Sistem
pendingin alternator diperlukan untuk menyerap panas
yang timbul didalam alternator sehingga mencegah
terjadinya panas lebih yang dapat merusak isolasi.
Rugi-rugi Alternator
Panas didalam alternator merupakan kerugian yang
menurunkan efisiensi alternator.
Kerugian didalam alternator meliputi :
• Kerugian tembaga listrik
• Kerugian besi magnetis
• Kerugian gesekan dan angin (windage).
Kerugian Tembaga Listrik
• Konduktor stator dan rotor yang dilalui arus listrik
mempunyai nilai tahanan tertentu.
• Besarnya nilai tahanan ini tergantung pada panjang, luas
penampang dan jenis materialnya (biasanya tembaga).
• Aliran arus listrik (I) yang mengalir melalui konduktor yang
mempunyai tahanan (R) menimbulkan panas. Besarnya
panas ditentukan oleh rumus :
Panas = I2 . R ( watt)
Kerugian Besi Magnetis
• Kumparan rotor alternator dialiri arus searah yang dipasok dari
eksiter sehingga menjadi magnet. Rotor yang berputar
menyebabkan medan magnetnya memotong kumparan stator
dan membangkitkan listrik. Tetapi tegangan juga dihasilkan didalam
inti statornya sendiri (ingat ggl lawan) sehingga meningkatkan arus
Eddy (arus pusar).
• Begitu arus mengalir melalui kumparan, arus Eddy juga timbul di
dalam inti dan mengakibatkan panas.
• Untuk mengurangi besarnya arus Eddy yang menimbulkan panas,
maka inti stator dibuat dari lembaran-lembaran plat tipis yang
disebut laminasi.
• Medan magnet yang berubah-ubah secara tetap di dalam inti
stator memyebabkan terjadinya lop histeris. Histerisis medan
magnet ini juga menimbulkan panas. Sebagaimana arus Eddy
histerisis juga dapat dikurangi dengan membuat inti stator dengan
laminasi.
Kerugian Gesekan dan Angin
• Selama rotor berputar pada kecepatan nominalnya (3000
rpm), maka terjadi peningkatan panas karena pengaruh
gesekan dan angin terhadap media yang mengelilinginya. Oleh
karena itu sistem pendingin harus mampu mencegah kenaikan
temperatur melebihi batas operasinya.
Macam-macam Pendingin
Media pendingin alternator :
• Udara
Biasanya digunakan pada alternator dengan kapasitas yang rendah
• Hidrogen
Biasanya digunakan pada alternator dengan kapasitas yang besar.
Pendinginan alternator dengan hidrogen ada dua macam, yaitu
pendingin tak langsung (covensional hydrogen cooled machine) dan
pendingin langsung (inner cooled machine).
• Air
Hanya dapat dilakukan terhadap statornya, sementara
sebagai pendinginan pada rotornya biasanya menggunakan gas
hidrogen
Media Pendingin Udara
Keuntungan :
• Udara mudah diperoleh dimana saja
• Murah
• Tidak perlu perapat poros
Kerugian :
• Kerapatannya cukup besar
• Daya hantar panas rendah
• Koefisien perpindahan panas rendah
• Kebersihannya kurang
Media Pendingin Hydrogen
Keuntungan :
• Kerapatannya rendah (¼ nya udara )
• Daya hantar panas tinggi ( 7 kali udara )
• Koefisien perpindahan panasnya tinggi
• Tidak menimbulkan korosi asam
• Resiko kebakaran rendah
• Biaya pemeliharaan alternator rendah
Kerugian :
• Resiko terjadinya ledakan tinggi ( 5% s/d 75% hidrogen di udara )
• Memerlukan sistem perapat poros
• Memerlukan gas antara ( CO2 atau N2 )
• Memerlukan pasok hidrogen
• Memerlukan casing yang kuat untuk menahan tekanan ledak
Media Pendingin Air
Keuntungan :
• Kerapatannya tinggi ( 4545 lebih besar dari H2 )
• Daya hantar panasnya tinggi ( 3,139 )
• Koefisien perpindahan panas tinggi ( 13,7 )
Kerugian :
• Rumit konstruksi dan operasinya
• Kondisi kimia air harus terkontrol
• Memungkinkan air merembes ke sisi gas
Sirkulasi Pendingin Udara
Sirkulasi Pendingin Hydrogen

CONVENTIONAL HYDROGEN COOLED


Sirkulasi Pendingin Hydrogen

HYDROGEN INNER COOLING


Perapat Poros
• Untuk mencegah gas hidrogen keluar ke atmosfir, karena
tekanan gas hidrogen didalam alternator lebih tinggi dari
tekanan udara luar.
• Juga sebagai media perapat digunakan minyak pelumas.
Jenis-jenis Perapat
Ada dua tipe perapat yang umum digunakan, yaitu :
• Perapat radial atau perapat berpermukaan aksial
Pada umumnya alternator menggunakan perapat tipe ini, karena
konstruksinya sederhana dan pemeliharaannya mudah.
Ada dua jenis perapat radial, yaitu :
- Single flow
- Double flow
Jenis single flow mempunyai tingkat kebocoran yang lebih besar dibanding
jenis double flow, sehingga diperlukan pasok gas yang lebih banyak saat
beroperasi. Pada perapat tipe radial jenis double flow diperlukan dua pasok
minyak perapat, yaitu sisi gas hidrogen dan sisi udara.
• Perapat aksial atau perapat berpermukaan radial
Perapat aksial terdiri dari thrust bearing yang ditahan oleh pegas atau tekanan
minyak terhadap Collar pada poros rotor. Minyak dialirkan ketengah
perapat dalam arah aksial dan terbelah menjadi dua aliran dengan arah yang
berlawanan. Minyak akan mengalir ke sisi udara dan sisi hidrogen. Karena
sebagian minyak masuk ke sisi hidrogen dan mencemari sehingga tingkat
kemurnian hidrogen akan terpengaruh. Tetapi jumlah minyak yang masuk ke sisi
hidrogen lebih banyak bila dibanding menggunakan perapat radial.
Perapat Radial
Perapat Aksial
Sistem Perapat
• Sistem pasok minyak Perapat ada dua cara, pertama dari
pompa yang digerakkan oleh motor AC dengan cadangan (
back up ) pompa yang digunakan motor DC. Cara lain
adalah minyak dipasok dari pompa yang digerakan oleh poos
turbin dan cadangan ( back up ) dengan pompa yang digerakan
motor AC dan motor DC. Cara ini dilakukan pada saat turbin
sudah beroperasi, pada saat turbin masih stop, start atau shut
down, minyak perapat dipasok dari pompa AC.
Pengisian dan Pengosongan H2
Peralatan yang diperlukan :
• Gas analizer
• Gas CO2 atau N2
• Purity meter

PENTING!!!
Dalam pengisian dan pengeluaran gas hidrogen ke dan dari
alternator hidrogen tidak boleh bertemu langsung dengan
udara.
Pengisian dan Pengeluaran H2
Urutan pengisian adalah sebagai berikut :
• Mengeluarkan udara dari alternator dengan CO2
• Mengosongkan CO2 dengan Hidrogen
• Menaikan tekanan hidrogen.
Urutan pengeluaran H2 dari alternator adalah :
• Mengeluarkan hidrogen dengan CO2
• Mengeluarkan CO2 dengan udara kering.
Prosedur Pengisian dan
Pengeluaran H2
Ada dua cara, yaitu :
• Cara langsung
H2 dikeluarkan dengan cara dihisap sehingga casing generator
menjadi Vacum. Kemudian gas H2 atau udara diisikan kedalam
generator yang telah vacum tersebut.
• Cara tidak langsung
H2 dikeluarkan dengan cara memasukkan gas inert CO2. Gas ini
berfungsi sebagai media perantara untuk membilas udara atau
gas H2, sehingga mencegah terjadinya percampuran antara udara
dan gas H2 didalam generator.
Cara Langsung
Keuntungan :
• Uap air ( moisture ) maupun debu ( kotoran ) yang terdapat dalam
generator ikut terbawa keluar.
• Jumlah gas H2 yang diisikan lebih sedikit, karena tidak perlu
pembilasan ( purging)
• Waktu pengisian lebih singkat dan segera mencapai kemurnian yang
tinggi
• Tidak memerlukan gas inert CO2 sebagai media perantara.
Kerugian :
• Konstruksi generator harus kokoh agar dapat menahan vacum dan
tekanan H2
• Memerlukan sistem perapat khusus yang dapat menahan vacum dan
bertekanan
• Memerlukan pompa vacum.
Cara Tidak Langsung
Langkah-langkah yang harus dilakukan :
• Mengeluarkan udara dengan CO2 .
- CO2 dimasukan kedalam casing alternator melaui manifold bawah, sedang udara di vent ke atmosfir
melalui manifold atas
- Pemasukan CO2 berlangsung hingga tercapai persentasi 75% CO2 in Air, kemudian distop.
• Mengosongkan CO2 dengan hidrogen
- Hidrogen dialirkan kedalam alternator melalui manifold atas, sedang CO2 di vent ke atmosfir melalui
manifold bawah
- Penaikan hidrogen berlangsung hingga tercapai tingkat pemurnian 95 % H2 in CO2, kemudian vent
diatur ( diperkecil )
• Menaikkan tekanan hidrogen.
Setelah vent dikurangi aliran hidrogen ditambah, sehingga tekanan hidrogen di dalam alternator
naik, sedang tekanan minyak perapat menyesuaikan. Penaikan tekanan hidrogen berlangsung hingga
sedikit dibawah tekanan kerja normal. tujuannya agar pada saat alternator dibebani dan
temperaturnya naik, maka tekanan hidrogen akan naik hingga mencapai tekanan kerjanya.
• Menggeluarkan Hidrogen dengan CO2
Gas CO2 dialirkan ke alternator melalui manifold bawah dan hidrogen di vent ke atmosfir melalui
manifold atas. Penggeluaran ini berlangsung hingga mencapai konsentrasi 90% CO2 in H2.
• Mengeluarkan CO2 dengan dengan udara
Setelah konsentrasi CO2 in H2 mencapai 90% pengisian CO2 ke alternator distop. Apabila alternator
akan stop lama akan dilakukan pemeliharaan, maka CO2 didalam alternator harus dikeluarkan,
caranya dengan mengalirkan udara kering ke alternator melalui manifod atas dan membuang CO2
ke atmosfir melalui manifold bawah.
Sistem Kendali H2
Peralatan yang digunakan :
• Pengukur temperatur
Temperatur hidrogen di pantau dengan memasang termocouple pada sisi gas
keluar pendingin.
• Mengukur tekanan dan perbedaan tekanan
Tekanan hidrogen di dalam alternator harus dijaga konstan agar mampu
menyerap panas sesuai dengan rancangan. Apabila tekanannya rendah,
maka kemampuan menyerap panas menjadai berkurang, sementara kalau
tekanannya lebih tinggi akan menyebabkan rugi gesekan dan windage nya
meningkat.
Perbedaan tekanan yang dimaksud di sini adalah antara minyak perapat dan
hidrogen. Tekanan minyak perapat harus lebih tinggi ( sekitar 0,5 bar ) dari
tekanan hidrogen
• Kemurnian hidrogen
Kemurnian hidrogen harus dijaga setinggi mungkin. Penurunan kemurnian
(purity ) yang melewati batas dapat membahayakan , yaitu terbentuknya
campuran yang explosif (dapat meledak ).
Kemurnian biasanya dijaga di atas 95%, pada kemurnian 90% akan memberi
alarm. Dan pada kemurnian sekitar 87% alternator trip dan proses
pengeluaran (purging) hidrogen dengan CO2 terjadi.
Keselamatan Kerja Pada H2
Campuran hidrogen dan udara pada konsentrasi 5 ~ 75 % H2 in
Air, merupakan campuran yang dapat meledak.
Untuk mencegah resiko meledaknya campuran hidrogen dengan
udara, maka :
• Kemurnian ( purity ) hidrogen harus dijaga diatas 90 %
• Bila dibawah harga ini harus ada peringatan berupa alarm
• Gas CO2 harus selalu tersedia ( stand by ) untuk setiap
saat mengeluarkan hidrogen dari alternator
• Tekanan minyak perapat harus dijaga lebih tinggi dari tekanan
hidrogen dalam alternator
• Faktor yang mendukung terjadinya ledakan harus
dijauhkan dari hidrogen, misalnya : api, bunga api, rokok dan
sebagainya.
TERIMA KASIH