Anda di halaman 1dari 27

FORMULASI SEDIAAN DEODORAN ROLL ON

DENGAN MINYAK SIRIH (Piper betle Linn.)

Mila Rosa 15330072


Titi Setia Murni 16330064
Dina Lestari Putri 16330093
Veronica Adriana D 16330106
Eva Nurul Kusuma Dewi 16330135
Anatomi Ketiak

Ketiak atau dalam bahasa


Latin disebut axilla adalah daerah lipatan tubuh
manusia yang menghubungkan lengan atas
dengan bahu. Secara anatomis, ketiak diikat pada
bagian anterior oleh otot pectoralis major dan otot
pectoralis minor, dan bagian posterior oleh otot
subscapularis dan tulang belikat. Kemudian di
bagian medialnya oleh otot serratus anterior serta
bagian lateral oleh otot coracobrachialis dan
bagian caput brevis dari otot biceps brachii. Para
ilmuwan menemukan bahwa kulit di bagian ketiak
manusia merupakan tempat terfavorit bagi bakteri.
Dalam penampang kulit seluas satu inci persegi, di
ketiak bisa terdapat 516.000 bakteri.
pH kulit ketiak pada umumnya 3,9-4,2. Kulit ketiak
memiliki pH yang cenderung lebih asam .
Pengertian

Deodoran adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk


menyerap keringat, menutupi bau badan dan mengurangi bau
badan (Rahayu, dkk., 2009).

Deodoran dapat juga diaplikasikan pada ketiak, kaki, tangan dan


seluruh tubuh biasanya dalam bentuk spray (Egbuobi, dkk., 2013).
Bahan aktif yang digunakan dalam deodoran dapat berupa:
(Wasitaatmadja, 1997, Butler, 2000).

Eliminasi bau (odor


Pewangi Pembunuh Mikroba
eliminator)

Antiseptik

Antibiotik Topikal

Antienzim
Jenis-Jenis Deodorant

Aerosol Bedak
Bentuk cair, dikemas
Bentuknya bubuk
dalam kaleng
aluminium. Wangi
berwarna putih.
kuat. Biasanya Lebih banyak
disebut juga dikemas dalam
Deodorant Perfume bentuk sachet.
Spray.
Roll-on
Bentuk cair, biasanya
berwarna putih.
Dikemas dalam
kemasan botol plastik
ataupun kaca. Wanginya
kuat. Bola roll-on
sebagai media pengoles.
Stick
Bentuk padat
transparan berwarna.
Wangi kuat, terasa
dingin saat
digunakan dikulit.
Dikemas dalam
botol plastik. Stick Powder
Isi padat berwarna
putih. Wangi
lembut. Dikemas
dalam botol
plastik.
Persyaratan Pembuatan Deodoran

Dapat menghilangkan bau badan walaupun sifatnya sementara

Tidak merangsang kulit atau tidak iritasi pada kulit

Dapat membunuh atau mengurangi aktivitas bakteri yang tidak menguntungkan

Tidak beracun
Bahan aktif yang digunakan dalam deodorant dapat berupa Pewangi atau parfum

Pembunuh mikroba : berupa antiseptic seperti heksaklofofen, triklosan, sirih atau


berupa antibiotic topical seperti neomisin

Eliminasi bau: senyawa yang dapat mengikat, menyerap atau merusak struktur bahan
kimia bau menjadi struktur yang tidak bau, misalnya risinole
FORMULASI SEDIAAN
DEODORANT ROLL ON
DENGAN MINYAK SIRIH
(Piper betle Linn.)
Jurnal Farmagazine
Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang
Vol. V No. 1 – Februari 2018

Pembuatan sediaan deodoran roll on dengan minyak sirih


Dibuat sebanyak 4 formula dengan komposisi seperti tabel di
bawah ini:

Tabel 2. Formula Sediaan Deodoran Roll on Bahan


Formula % (b/v)
1 2 3 4
Minyak sirih - 0,5 1,0 1,5
Aluminium sulfat 2 2 2 2
Karbomer 940 1,5 1,5 1,5 1,5
BHT - 0,1 0,1 0,1
Etanol 96% 25 25 25 25
Air suling ad 100 100 100 100
Praformulasi

Minyak sirih 1,5%


Allumunium sulfat 2%
Karbomer 940 1,5%
Etanol 96% 25%
Air suling ad 100
Minyak Sirih

Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak


terbang (betlephenol, seskuiterpen, pati, diatase,
gula, zat samak dan kavikol yang memiliki daya
mematikan kuman, antioksidasi, fungisida dan anti
jamur.
Allumunium sulfat

Tawas berupa kristal atau pecahan-pecahan kristal,


tidak berwarna, atau dapat juga berupa serbuk.
Tawas tidak berbau, rasa sedikit manis, dan
mempunyai sifat adstringen yang cukup kuat.
Tawas adalah semacam batu putih agak bening
yang bisa digunakan untuk membeningkan air dan
dapat digunakan untuk menghilangkan bau badan
khususnya di daerah ketiak (American
Pharmaceutical Association, 1970).
Carbopol 940

Nama lain carbopol adalah acritamer, acrylic acid


polymer, carbomer. Dengan rumus molekul
(C3H4O)n. Untuk jenis carbopol 940 mempunyai
berat molekul monomer sekitar 72 gr/mol dan
carbopol ini terdiri dari 1450 monomer
(Avinash,2006). Carbopol merupakan salah satu
jenis gelling agent digunakan sebagian besar di
dalam cairan atau sediaan formulasi semisolid
berkenaan dengan farmasi sebagai agent
pensuspensi atau agent penambah kekentalan.
BHT (Butil hidroksi
toluen)

BHT berbentuk padat atau serbuk kuning-putih atau


pucat dengan karakteristik bau fenolik yang samar.
BHT digunakkan sebagai antioksidan dalam
kosmetik, makanan, dan obat-obatan. Hal digunakkan
terutama untuk menunda atau mencegah ketengikan
oksidatif lemak dan minyak serta untuk mencegah
hilangnya aktivitas vitamin yang larut dalam minyak.
BHT memiliki titik didih 2650C dan titik lebur 700C.
Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilenglikol,
larutan hidroksida alkali, dan larutan encer asam
mineral. Terlarut bebas dalam aseton, benzena, etanol
(95%), eter, tolulena, minyak tetap, metanol dan
minyak mineral. Untuk sediaan topikal, konsenntrasi
yang biasa digunakan sekitar 0,0075-0,1%. (Rowe,
2009)
Aqua destilata

Aquadest merupakan cairan jernih, tidak berbau,


tidak berwarna, tidak berasa dan dapat bercampur
dengan pelarut polar lainnya. Memiliki titik beku
00C dan titik didih 1000C. Biasanya digunakan
sebagai pelarut.

Etanol 96%

Deodorant mengandung anti perspirant yang


mencegah keluarnya keringat, adapun etanol
berperan membunuh bakterinya sehingga dapat
mencegah bau tidak sedap
Perhitungan Formulasi

Minyak sirih 1,5% x 100 = 1,5 ml


Allumunium sulfat 2% X 100 = 2g
Karbomer 940 1,5% x 100 = 1,5 g
Etanol 96% 25% x 100 = 25 ml
Air suling ad 100 ml
Pembuatan Minyak Sirih

1. Daun sirih segar diisolasi minyak atsirinya dengan cara


penyulingan uap air menggunakan alat suling.
2. Destilat yang diperoleh dimasukkan dalam corong pisah, lalu
didiamkan sampai memisah dan tampung minyaknya.
3. Destilat disimpan dalam botol yang berwarna gelap.
Cara Pembuatan

1. Siapkan alat dan bahan.


2. Timbang bahan-bahan yang diperlukan.
3. Dikembangkan karbomer 940 dalam air dan didiamkan selama 24 jam
4. Dimasukkan aluminium sulfat ke dalam beker, dilarutkan dalam air secukupnya,
aduk hingga larut.
5. Dicampurkan minyak sirih dengan etanol 96% dalam beaker, aduk hingga
homogen.
6. Karbomer 940 yang telah terbentuk ditambahkan alumunium sulfat yang telah
dilarutkan, dicampur homogen.
7. Tambahkan campuran minyak sirih yang telah dilarutkan etanol, dihomogenkan
dengan homogenizer dengan kecepatan dan waktu yang optimum.
8. Dimasukkan ke dalam wadah.
9. Lakukan evaluasi terhadap sediaan deodoran roll on.
Evaluasi Sediaan
Evaluasi dilakukan setelah sediaan terbentuk (bulan ke-0). Sediaan deodoran roll
on disimpan pada suhu kamar (28-300C).

b. Pemeriksaan
a. Homogenitas
organoleptis

1) Warna
Pengamatan mata dilakukan
Pengamatan dilakukan dengan secara visual dengan mata
melihat apakah terjadi biasa terhadap sediaan.
pemisahan antar komponen 1) Bau
pada sediaan. Bau diuji dengan cara
mencium bau dari sediaan
yang dihasilkan.
d. Uji viskositas dan
c. Uji pH
sifat alir

Pengukuran pH dilakukan dengan cara


sebagai berikut: Penentuan viskositas bertujuan untuk
1) Kalibrasi pH meter menggunakan mengetahui adanya perubahan
larutan dengan pH 7 (dapar fosfat kekentalan pada tiap formula deodoran
ekimolal) dan pH 4 (dapar kalium roll on. Penentuan viskositas dilakukan
biftalat). dengan mengamati angka pada skala
2) Siapkan sediaan yang akan diuji viskometer brookfield tipe LV dengan
pada suhu kamar. kecepatan tertentu. Sediaan deodoran
3) Celupkan elektroda pH meter yang roll on yang berupa larutan diletakkan
telah dicuci dan dibilas dengan air pada wadah berupa tabung silinder
suling sedemikian rupa sehingga kaca atau (gelas piala) lalu diputar
ujung elektroda tercelup dan semua dengan kecepatan tertentu sampai
angka digital menjadi stabil (ada jarum viskometer menunjukkan pada
tanda ready) siap untuk dibaca. skala yang konstan.
4) Catat pH yang didapat
e. Uji iritasi

Uji ini dilakukan terhadap dua puluh


orang sukarelawan secara uji sampel
terbuka (patch test). Uji sampel terbuka
dilakukan dengan cara mengoleskan
sediaan deodoran pada kulit ketiak,
didiamkan selama kurang lebih 10
menit dan diamati kemungkinan
terjadinya iritasi. Bila tidak timbul
reaksi diberi tanda (-), bila kulit
memerah diberi tanda (+), bila kulit
memerah dan gatal diberi tanda (++),
dan bila kulit membengkak diberi tanda
(+++). Sebagai pembandingnya uji
sampel dilakukan juga terhadap
deodoran tanpa minyak sirih.
Uji daya antiseptik

1) Pembuatan media Mueller Hinton Lima gram agar Mueller-Hinton dilarutkan


dalam 125 ml air suling kemudian dipanaskan dan diaduk sampai larut.Media
agar disterilkan di autoklaf selama 15 menit pada suhu 1200C.Media agar
didinginkan kemudian di masukan ke dalam cawan petri masing-masing
sebanyak 20 ml dan dibiarkan memadat pada suhu kamar.
2) Cara uji daya antiseptik sediaan deodorant roll on Bakteri Staphylococcus
epidermidis dibuat menjadi 25%T pada panjang gelombang 580 nm dengan
menggunakan spektrofotometer uv-vis. Kemudian pipet 0,1 ml bakteri
tersebut dan masukan ke dalam petri, tambahkan 20 ml Mueller-Hinton,
biarkan hingga memadat.Kertas cakram steril direndam dengan sediaan
minyak sirih yang telah dilarutkan dengan DMSO 1% lalu letakkan pada
permukaan Media Mueller Hinton yang sebelumnya telah ditambahkan
bakteri Staphylococcus epidermidis. Inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam.
Daerah disekitar cakram menunjukkan adanya zona hambat bakteri.
Uji Stabilitas

Uji stabilitas sediaan deodoran roll on Sediaan


deodoran roll on disimpan pada suhu kamar (28-320C),
kemudian dievaluasi setiap bulan selama 3 bulan yang
meliputi : Homogenitas, pemeriksaan organoleptik, pH,
viskositas dan sifat alir.
Pengemasan

Pengemasan sediaan deodoran roll on Dalam wadah dari


botol dengan bola yang dimasukkan ke dalam leher botol
(±1 cm dari permukaan atas botol) yang dapat mengeluarkan
cairan
Kesimpulan

• Deodoran adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menyerap


keringat, menutupi bau badan dan mengurangi bau badan
• Antiperspiran adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menekan
produksi keringat, baik ekrin maupun apokrin
• Evaluasi yang dilakukan pada sediaan ini adalah pemeriksaan mutu fisik
yang meliputi pemeriksaan pH sediaan, homogenitas, organoleptis, uji Ph,
uji viskositas dan sifat air, uji iritasi kulit, uji daya antispetik, uji stabilitas
• Semakin besar konsentrasi minyak sirih maka semakin besar kemampuan
menghambat bakteri (Staphylococcus epidermidis).
• Konsentrasi minyak sirih yang terbaik pada sediaan deodoran roll on adalah
formula IV dengan konsentrasi 1,5% dengan daya hambat paling besar
0,80-1,00 cm, menghasilkan homogenitas yang baik, berwarna putih susu
dan bau khas sirih. Viskositas sediaan yang dihasilkan berkisar 230-300
cPs, memiliki sifat alir tiksotropik, memiliki pH antara 3,97-3,98, serta
tidak mengiritasi kulit.