Anda di halaman 1dari 60

MEMBANGUN BUDAYA

ORGANISASI BERDASAR
ETIK DAN HUKUM

Abdul Mubarok, S.H., M.H., MARS.

1
Arti kata 'membangun' di Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah v 1 bangkit; berdiri (dari duduk, tidur, dan
sebagainya)

Kata ’budaya’ dalam Kamus Besar Bahasa


Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-
istiadat.

Judul Kurang lebih berarti :

Membangkitkan Prilaku Tertentu Menjadi Kebiasaan


(habit) Dan Kemudian Menjadi Budaya Organisasi Agar
Organisasi/Rumah Sakit selamat/bebas dari
Pelanggaran Etika dan Hukum
Dalam upaya Membangkitkan Prilaku Tertentu Menjadi
Kebiasaan (habit) Dan Kemudian Menjadi Budaya
Organisasi Agar Organisasi/Rumah Sakit selamat/bebas
dari Pelanggaran Etika dan Hukum, terdapat Budaya Kerja
yaitu konsep yang mengatur perilaku serta mewakili nilai
kolektif, keyakinan, dan prinsip dari anggota organisasi.

Disini Rumah Sakit harus menentukan Nilai Dasar (core


value) apa yang akan dibangun (Management Stategic) dan
dibiasakan sehingga menjadi kebiasaan berprilaku (habit)
terus menerus untuk menjadi BUDAYA ORGANISASI.

Core Value itu tercantum dalam RENSTRA RUMAH SAKIT


UNSUR STRATEGI (RENSTRA)
 Visi;
 Misi;
 Nilai Dasar; Dilengkapi dengan:
 Posisi Organisasi;  Strategic Map (Peta
 Strategi; Strategi); dan
 Tujuan Strategis;  Strategic Action Plan
 Sasaran Strategis; (SAP).
 Kebijakan Dasar.

1. Janji Penataan Perilaku dalam Organisasi;


2. Ditata terus menerus menjadi Budaya Organisasi;
3. Menjadi parameter Performance Appraisal.
Core Value RSIA
5K
Komitmen
Kebersamaan
Keterbukaan
Kejujuran
Kepedulian

Pertanyaannya :
NILAI diatas, cukupkah untuk membebaskan
RSIA dari pelanggaran Etika dan Hukum anggotanya ?
NORMA ETIK, DISIPLIN DAN
HUKUM DALAM PRAKTIK
KEDOKTERAN

6
NORMA
DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN

ATURAN
PENERAPAN
KEILMUAN
KEDOKTERAN

DISIPLIN

ATURAN
PENERAPAN ATURAN
ETIKA
KEDOKTERA ETIKA HUKUM HUKUM
KEDOKTERAN
N(KODEKI)
ETIK, DISIPLIN DAN HUKUM

ETIK DISIPLIN HUKUM


1. Dibuat dan disepakati oleh 1. Organisasi Profesi. 1. Dibuat oleh Pemerintah dan
organisasi profesi (IDI) 2. Standar Profesi Dewan Perwakilan Rakyat
2. Kode Etik 3. Diatur, Norma Prilaku 2. UU, PP, Keppres, dsb
3. Diatur, norma prilaku pelaksana profesi 3. Diatur, norma prilaku manusia
pelaksanaan profesi 4. Sanksi moral psikologis pada umumnya
4. Sanksi, yaitu moral psikologis dan teguran / pencabutan 4. Sanksi pidana: denda,
5. Yang mengadili : Ikatan/ 5. Yang mengadili : Badan kurungan/penjara, mati.
organisasi profesi terkait; yang dibentuk:Majelis Perdata: ganti rugi (put
Majelis Kehormatan Etik Kehormatan Disiplin pengadilan).
Kedokteran (MKEK), Panitia Kedokteran Provinsi dan Adm : teguran / pencabutan
Pertimbangan dan Majelis Kehormatan 5. Pengadilan :
Pembinaan Etik Kedokteran Disiplin Kedokteran Pusat Perdata : gugatan ke PN
(P3EK) Pidana : Laporan Pol/tuntutan
JPU/Put Pengadilan
Adm : gugatan ke PTUN
ETIKA KEDOKTERAN Dan KODEKI
(Pedoman Organisasi Dan Tatalaksana Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia 2018)
Pasal 1 Angka :

1. Etika Kedokteran adalah sekumpulan nilai-nilai


dan moralitas profesi kedokteran yang
tercantum dalam Kode Etik Kedokteran
Indonesia (KODEKI), fatwa-fatwa etik, pedoman
dan kesepakatan etik lainnya dari IDI sebagai
organisasi profesi.

2. Kode Etik Kedokteran Indonesia adalah aturan


internal profesi yang disusun dalam bentuk
buku oleh MKEK berupa pasal-pasal beserta
penjelasannya dan disahkan oleh Muktamar IDI.
FATWA-FATWA ETIK
Kewenangan pembuatan fatwa etik kedokteran
hendaknya dilakukan satu pintu melalui MKEK Pusat
yang dimandatkan ke divisi Fatwa Etik Kedokteran Fatwa
yang hendak dibuat sedapat mungkin sebelumnya
melalui proses kajian etik ilmiah sebagai bagian dari
akuntabilitas kepada publik.
Sidang fatwa etik kedokteran sapat mengundang para
penulis kaji etik ilmiah, organisasi profesi yang
berkepentingan, dan minimal tiga orang tokoh
masyarakat, karena masyarakat adalah pihak yang paling
berkepentingan dengan adanya suatu fatwa etik
kedokteran.
Fatwa yang dibuat bersifat mengikat, dapat menjadi
materi dan pertimbangan sidang pembinaan dan
kemahkamahan MKEK, namun tidak bersifat sakral dan
sangat terbuka dengan perubahan.
Pelanggaran Etik

Pasal 1 Angka 3 :
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK)
adalah salah satu unsur Pimpinan dalam struktur
kepengurusan IDI di setiap tingkatan, bersifat
otonom dan berperan serta bertanggung jawab
dalam pembinaan, pelaksanaan, pengawasan
dan penilaian dalam pelaksanaan etika
kedokteran termasuk perbuatan anggota yang
melanggar kehormatan dan tradisi luhur
kedokteran.
Pasal 2 Tujuan
Pedoman ini merupakan aturan yang
harus diikuti sebagai tata laksana
pembinaan penerapan etik kedokteran
dalam pengabdian profesi dan penyelesaian
dugaan pelanggaran etik kedokteran oleh
dokter di Indonesia oleh MKEK di Indonesia
dalam rangka penyempurnaan berkelanjutan
praktik kedokteran yang peduli terhadap
pasien/publik, serta menjadi pedoman dalam
menerbitkan fatwa etik kedokteran.
PEDOMAN ORGANISASI DAN TATALAKSANA
MAJELIS KEHORMATAN ETIK KEDOKTERAN
IKATAN DOKTER INDONESIA 2018

Pasal 28 Putusan Majelis Pemeriksa MKEK :


1. .........
21. Salinan putusan MKEK tidak boleh diberikan
kepada pihak penyidik atas alasan apa pun.
22. Resume singkat putusan MKEK dapat diberikan
kepada penyidik atas izin tertulis dari Ketua
MKEK Pusat.
1. KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK
KEKELIRUAN FORMULASI SP RUMAH SAKIT

14
BERKACA PADA KASUS DI ATAS, Cukupkah
NILAI DASAR 5 K untuk menyelamatkan
RSIA dari pelanggaran Etik Profesi ?

15
RUANG LINGKUP DISIPLIN
DALAM KEGIATAN ASUHAN MEDIS MELIPUTI :

 ATURAN MATERIIL
MENYANGKUT PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN, STANDAR
PROSEDUR OPERASIONAL, KOMPETENSI DAN SIKAP/ PERILAKU
DALAM TINDAKAN ASUHAN MEDIS (Keperawatan ?)

 ATURAN FORMIL
ATURAN-ATURAN DALAM PENYELENGGARAAN PRAKTIK
KEDOKTERAN (Keperawatan ?)

16
Pelanggaran Disiplin
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 20 Tahun
2014 Tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan
Pelanggaran Disiplin Dokter Dan Dokter Gigi

Pasal 1
Dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini yang
dimaksud dengan:
1. Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi adalah
pelanggaran aturan-aturan dan/atau ketentuan-
ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan
Praktik Kedokteran yang harus diikuti oleh Dokter dan
Dokter Gigi.

17
NORMA DISIPLIN
Norma Disiplin Kedokteran Adalah Aturan-aturan Tentang
Penerapan Keilmuan Kedokteran/Kedokteran Gigi Yang
Mencakup :
- UU NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN (PASAL 37, 40,
41, 45-49, DAN 51)
- PERATURAN PEMERINTAH, PERATURAN MENTERI KESEHATAN, PERATURAN
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
- KETENTUAN DAN PEDOMAN ORGANISASI KEDOKTERAN/KEDOKTERAN GIGI,
KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA, KODE ETIK KEDOKTERAN GIGI
INDONESIA
- KEBIASAAN UMUM (COMMON PRACTICE) DI BIDANG KEDOKTERAN DAN
KEDOKTERAN GIGI

18
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2011

Bentuk-bentuk Pelanggaran Disiplin Kedokteran


Dijabarkan Dalam 28 Butir Bentuk Pelanggaran

1. Tidak Kompeten/Tidak Cakap


2. Tidak Merujuk Ke Dr/Drg Dng Kompetensi Sesuai
3. Mendelegasikan Kepada Nakes Yg Tidak Kompeten
4. Dr/Drg Pengganti Tidak Kompeten Dan Tanpa Pemberitahuan
Kepada Pasien
5. Tidak Laik Praktik (Kesehatan Fisik & Mental)
6. Kelalaian Dalam Penatalaksanaan Pasien
7. Pemeriksaan Dan Pengobatan Berlebihan
8. Tidak Berikan Informasi Jujur, Etis Dan Adekuat
9. Tidak Melaksanakan Informed Consent
10. Sengaja Tidak Membuat/Simpan Rekam Medik
11. Penghentian Kehamilan Tanpa Indikasi Medik
12. Euthanasia
13. Penerapan Pelayanan Yg Belum Diterima Kedokteran
14. Penelitian Klinik Tanpa Ethical Clearance
15. Tidak Memberi Pertolongan Darurat
16. Menolak/Menghentikan Pengobatan Tanpa Alasan Sah
17. Membuka Rahasia Kedokteran Tidak Sesuai Peraturan
18. Membuat Keterangan Medik Tanpa Dasar Yg Benar
19. Ikut Serta Tindakan Penyiksaan (Torture), Hukuman Mati
20. Peresepan Tak Sesuai Aturan Dan Etika
21. Pelecehan Seksual, Intimidasi, Kekerasan
22. Gunakan Gelar Akademik/Sebutan Profesi Yg Bukan
Hak
23. Terima Imbalan Dr Rujukan/Peresepan Di Luar
Ketentuan Etika
24. Pengiklanan Yg Menyesatkan
25. Ketergantungan Pada Napza
26. Gunakan STR, SIP, Sertifikat Kompetensi Tidak Sah
27. Imbal Jasa Tidak Sesuai Tindakan
28. Tidak Berikan Data/Informasi Atas Permintaan MKDKI

21
Sanksi Pelanggaran
Disiplin
Teguran/Peringatan Tertulis
Pencabutan surat tanda registrasi dan
pencabutan surat izin praktik baik sementara atau
permanen
Reedukasi
(Pasal 69 ayat (3) UU No. 29 Thn 2004 ttg Praktik
Kedokteran)
2. KASUS HOTMAN PARIS SHOW
Hotman Paris Cecar Kepala RSUD Kudungga
Sangatta, dr. Anik Terus Berkelit Part 4A
https://www.youtube.com/watch?v=X8jfa7R6kts

23
HUKUM
Pokok Bahasan :
Tanggung jawab hukum pengelolaan RS

Sub Pokok Bahasan :


Hubungan hukum
1. RS – Nakes
2. RS – Pasien
3. Nakes - Pasien

24
HUBUNGAN HUKUM
(rechtsverhouding/rechtsbetrekking)
Hubungan hukum adalah hubungan yang diatur oleh hukum
 memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya
(Ps 32 Huruf k UU 44/2009 RS)

Hubungan yang tidak diatur oleh hukum bukan merupakan hubungan


hukum
 Pertunangan dan Lamaran misalnya bukan merupakan hubungan hukum
karena tidak diatur oleh hukum (Indonesia)

Hubungan hukum dapat terjadi diantara sesama subyek hukum dan antara
subyek hukum dengan barang.
Hubungan antara sesama subyek hukum dapat terjadi :
1) antara orang Vs orang lainnya,
2) antara orang dengan suatu badan hukum, dan
3) antara suatu badan hukum dengan badan hukum lainnya

25
Sedangkan hubungan antara subyek hukum dengan barang berupa hak
apa yang dikuasai oleh subyek hukum itu atas barang tersebut baik
barang berwujud dan barang bergerak atau tidak bergerak [1]

Dalam hubungan hukum melekat hak dan kewajiban kepada para pihak
di dalamnya.
 Suami Istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah
tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat (Ps 30 UU
1/1974)
 Hak dan Kewajiban RS dan Pasien (Ps 29-30-31-32 UU 44/2009 Ttg RS)

Dilihat dari sifat hubungannya, hubungan hukum dapat dibedakan


antara hubungan hukum yang bersifat privat dan hubungan hukum
yang bersifat publik
Dalam menetapkan hubungan hukum apakah bersifat publik atau privat
yang menjadi indikator bukanlah subyek hukum yang melakukan
hubungan hukum itu, melainkan hakikat hubungan itu atau hakikat
transaksi yang terjadi (the nature transaction)[2]
[1] [2] Marzuki, Mahmud, Peter, Pengantar Ilmu Hukum, hlm 254
26
Apabila hakikat hubungan itu bersifat privat, hubungan itu
dikuasai oleh hukum privat.
Apabila dalam hubungan itu timbul sengketa, siapapun yang
menjadi pihak dalam sengketa itu, sengketa itu berada dalam
kompetensi PERADILAN PERDATA (Pengadilan Negeri) kecuali
sengketanya bersifat khusus seperti kepailitan, yang
berkompeten yang mengadili adalah pengadilan khusus juga,
kalau memang undang-undang negara itu menentukan
demikian.

Dan apabila hakikat hubungan itu bersifat publik, yang


menguasai adalah hukum publik.
Yang mempunyai kompetensi untuk menangani sengketa
demikian adalah pengadilan dalam ruang lingkup hukum publik,
apakah PENGADILAN ADMINISTRASI (PTUN), PERADILAN
PIDANA (Pengadilan Negeri), dan lain-lain.[3]
[3] Marzuki, Mahmud, Peter, Pengantar Ilmu Hukum, hlm 254

27
HUBUNGAN HUKUM RS-NAKES-PASIEN/KELUARGANYA

Pelayanan di Rumah Sakit terdapat hubungan hukum :


1) Rumah Sakit – Nakes (dan non Nakes)
2) Rumah Sakit – Pasien/Keluarganya
3) Nakes – Pasien/Keluarganya

(1) Hubungan hukum yang terjadi di rumah sakit, pada umumnya


didahului oleh suatu transaksi (perdata) yaitu KESEPAKATAN
sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata

Pasal 1320 KUHPerdata :


Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat;
1. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. suatu pokok persoalan tertentu;
4. suatu sebab yang tidak terlarang.

28
HUBUNGAN HUKUM RS-NAKES-PASIEN/KELUARGANYA

Pasal 1329 KUHPerdata


Tiap orang berwenang untuk membuat perikatan, kecuali jika ia
dinyatakan tidak cakap untuk hal itu

Pasal 1330
Yang tak cakap untuk membuat persetujuan adalah;
1. anak yang belum dewasa;
2. orang yang ditaruh di bawah pengampuan;
3. perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-
undang dan pada umumnya semua orang yang oleh undang-undang
dilarang untuk membuat persetujuan tertentu.

29
Kebelumdewasaan (Pasal 330 KUHPerdata/BW)

Yang BELUM DEWASA adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua
puluh satu tahun dan tidak kawin sebelumnya. Bila perkawinan dibubarkan
sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun, maka mereka tidak kembali
berstatus belum dewasa.
Mereka yang belum dewasa dan tidak di bawah kekuasaan orang tua, berada di
bawah perwalian atas dasar dan dengan cara seperti yang diatur dalam Bagian
3, 4, 5 dan 6 dalam bab ini.
Penentuan tentang arti istilah "belum dewasa" yang dipergunakan dalam
beberapa peraturan undang-undang terhadap penduduk Indonesia. Untuk
menghilangkan keraguan-raguan yang disebabkan oleh adanya Ordonansi
tanggal 21 Desember 1971 dalam S.1917-738, maka Ordonansi ini dicabut
kembali, dan ditentukan sebagai berikut:
1. Bila peraturan-peraturan menggunakan istilah "belum dewasa", maka sejauh
mengenai penduduk Indonesia, dengan istilah ini dimaksudkan semua orang
yang belum genap 21 tahun dan yang sebelumnya tidak pernah kawin.
2. Bila perkawinan itu dibubarkan sebelum mereka berumur 21 tahun, maka
mereka tidak kembali berstatus belum dewasa.
3. Dalam pengertian perkawinan tidak termasuk perkawinan anak-anak.

30
Pasal 29 ayat (1) : Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban :
a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit
kepada masyarakat MENAWARKAN JASA

Pasal 30 Ayat (1) : Setiap Rumah Sakit mempunyai hak : b. menerima


imbalan jasa pelayanan serta ... sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan MENERIMA IMBALAN JASA

Artinya ada TRANSAKSI dan PERSEPAKATAN

Pasal 1338 KUHPdt/BW


Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu
tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah
pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang.
Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.

Pasal 1340
Persetujuan hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Persetujuan
tidak dapat merugikan pihak ketiga; persetujuan tidak dapat memberi keuntungan
kepada pihak ketiga selain dalam hal yang ditentukan dalam pasal 1317.

31
(2) Hubungan hukum juga bisa terjadi bukan karena kesepakatan,
tetapi karena pelanggaran hukum baik perdata (Perbuatan
Melanggar Hukum/Onrechtsmatige Daad), maupun hukum public
(Tindak Pidana/Strafbaar Feit)
PMH/OD :
Pasal 1365 KUHPerdata
Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang
lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya
untuk menggantikan kerugian tersebut.

TP/SF :
Pasal 347 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun

32
Kapan hubungan hukum antara NAKES-NON
NAKES dengan RUMAH SAKIT mulai terjadi ?

Pasal 1 UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan :


1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja
pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri
maupun untuk masyarakat.
3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau
imbalan dalam bentuk lain.
4. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau
badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar
upah atau imbalan dalam bentuk lain.
15. Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh
berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan
perintah.

33
SEDANGKAN…
Pasal 1 Angka 6 UU No. 36-2009 Tentang KESEHATAN :
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
Pasal 11 UU 36-2014 Tentang TENAGA KESEHATAN :
Tenaga Kesehatan dikelompokkan ke dalam :
a. tenaga medis; h. tenaga gizi;
b. tenaga psikologi klinis; i. tenaga keterapian fisik;
c. tenaga keperawatan; j. tenaga keteknisian medis;
d. tenaga kebidanan; k. tenaga teknik biomedika;
e. tenaga kefarmasian; l. tenaga kesehatan tradisional;
f. tenaga kesehatan masyarakat; dan
g. tenaga kesehatan lingkungan; m. tenaga kesehatan lain.

34
DENGAN DEMIKIAN HUBUNGAN HUKUM ANTARA RS
DENGAN NAKES TERJADI…

SAAT RUMAH SAKIT MENGANGKAT SEBAGAI PEGAWAI


RUMAH SAKIT, BAIK PEGAWAI KONTRAK ATAUPUN
PEGAWAI TETAP

35
RS SWASTA
LINGKUP PRIVAT
1. Hubungan RS dengan Nakes (Nakes tetap atau
kontrak) tunduk pada UU 13/2003 tentang
Ketenagakerjaan [misal : Perjanjian Kerja Bersama
(ps 53), Pemutusan Hubungan Kerja Ps 156 (1) (2)],
dan hubungan kontraktual (Buku III BW ttg Perikatan)
2. Hubungan Px/Kel dengan Nakes adalah hub antara
Px/Kel dengan RS. Tanggung tugat ada pada RS (Psl
46 UU 44/2009; 1367 BW)
3. Hub Px/Kel dengan Nakes/RS tunduk pd Buku III BW
tentang Perikatan

LINGKUP PUBLIK
RS
Pertanggungjawaban pidana melekat pada pribadi Nakes

Px/Kel Nakes

36
Kapan hubungan hukum antara RS dengan Px/Keluarganya
mulai terjadi ?

Pasal 29 ayat (1) : Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban :


a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit
kepada masyarakat MENAWARKAN JASA

Pasal 30 Ayat (1) : Setiap Rumah Sakit mempunyai hak : b. menerima


imbalan jasa pelayanan serta ... sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan MENERIMA IMBALAN JASA

Artinya ada TRANSAKSI dan PERSEPAKATAN

UU NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRADOK


Pasal 1 angka 1 :
Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter
dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan.

Pengertian Praktek Kedokteran tersebut di atas sangat luas, maka areal


hubungan hukumnya juga sangat luas

37
Kapan hubungan hukum antara RS dengan Px/Keluarganya
mulai terjadi ?

SAAT PX SEPAKAT MEMILIH LAYANAN YANG


DITAWARKAN RUMAH SAKIT dan RUMAH SAKIT
SEPAKAT MENERIMA PX SEBAGAI PX RUMAH SAKIT,
SAAT MENDAFTAR SEBAGAI PX RS
MEMILIH LAYANAN YANG DITAWARKAN RUMAH SAKIT :
RUMAH SAKIT HARUS MENAWARKAN KEPADA PUBLIK
TENTANG PELAYANAN APA YANG DILAYANI DI RS
TERSEBUT
RUMAH SAKIT SEPAKAT MENERIMA PX SEBAGAI PX
RUMAH SAKIT : RS MENCATAT IDENTITAS DAN HASIL
DIAGNOSA DALAM REKAM MEDIS

38
Kapan hubungan hukum antara NAKES dengan
Px/Keluarganya mulai terjadi ?

Pasal 4 UU RS
Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.

Pasal 5 UU RS
Untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Rumah Sakit mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar
pelayanan rumah sakit;

Pasal 32 UU RS
Setiap pasien mempunyai hak:
a. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di
Rumah Sakit

Pasal 1 UU PRADOK
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan :
1. Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi
terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan

SAAT PX MEMBERIKAN PERSETUJUAN UNTUK DILAKUKAN


UPAYA KESEHATAN OLEH NAKES/ atau SEBALIKNYA

39
SAAT NAKES MELAKUKAN
HUBUNGAN HUKUM DENGAN
PASIEN, MAKA RS MEMPUNYAI
HUBUNGAN HUKUM DENGAN
PASIEN

40
TANGGUNG JAWAB PERDATA
TIDAK ADA TANGGUNG JAWAB HUKUM TANPA HUBUNGAN HUKUM

Pasal 29 ayat (1) : Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban :


a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit
kepada masyarakat MENAWARKAN JASA

Pasal 30 Ayat (1) : Setiap Rumah Sakit mempunyai hak : b. menerima


imbalan jasa pelayanan serta ... sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan MENERIMA IMBALAN JASA

Artinya ada TRANSAKSI dan PERSEPAKATAN

Karena TERJADI KESEPAKATAN TENTANG PELAYANAN, terjadi


HUBUNGAN HUKUM

Karena terjadi HUBUNGAN HUKUM, maka ADA HAK DAN KEWAJIBAN


antara mereka yang bersepakat (RS denagn Px/Kel)

41
Contoh hak dan kewajiban
Pasal 29 jo 38 ayat (1) UU 44/2009 Tentang RUMAH SAKIT

Pasal 29 (1)
Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban :
a. …
h. menyelenggarakan rekam medis;
Pasal 1 angka 1 PMK 269 Tahun 2008 Tentang Rekam Medis :
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :
1. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

42
Contoh hak dan kewajiban
Pasal 29 jo 38 ayat (1) UU 44/2009 Ttg RUMAH SAKIT
Pasal 38
(1) Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran.
(2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dibuka untuk :
kepentingan kesehatan pasien,
untuk pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka
penegakan hukum,
atas persetujuan pasien sendiri, atau
berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan
Peraturan Menteri.
Penjelasan Pasal 38 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “rahasia kedokteran” adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan hal yang ditemukan oleh dokter dan dokter gigi
dalam rangka pengobatan dan dicatat dalam rekam medis yang dimiliki
pasien dan bersifat rahasia.

43
3. KASUS NEGARA ASING MINTA
COPY RM TANPA
SEPENGETAHUAN PSIEN

44
SANKSI PERDATA

PASAL 46 UU RUMAH SAKIT NOMOR 44 TAHUN


2009 :
Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum
terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas
kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di
Rumah Sakit

45
SANKSI PERDATA

Pasal 1365-1366 KUHPdt.

Pasal 1365
Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian
kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian
itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.

Pasal 1366
Setiap orang bertanggung jawab, bukan hanya atas kerugian yang
disebabkan perbuatan-perbuatan, melainkan juga atas kerugian
yang disebabkan kelalaian atau kesembronoannya.

46
SANKSI PERDATA

Pasal 1367 KUHPdt.


Pasal 1367
Seseorang tidak hanya bertanggung jawab, atas kerugian yang disebabkan
perbuatannya sendiri, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan perbuatan-
perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan barang-
barang yang berada di bawah pengawasannya.
Orangtua dan wali bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh anak-anak
yang belum dewasa, yang tinggal pada mereka dan terhadap siapa mereka melakukan
kekuasaan orangtua atau wali. Majikan dan orang yang mengangkat orang lain untuk
mewakili urusan-urusan mereka, bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan
oleh pelayan atau bawahan mereka dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan
kepada orang-orang itu.
Guru sekolah atau kepala tukang bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh
murid-muridnya atau tukang-tukangnya selama waktu orang-orang itu berada di bawah
pengawasannya.
Tanggung jawab yang disebutkan di atas berakhir, jika orangtua, guru sekolah atau kepala
tukang itu membuktikan bahwa mereka masing-masing tidak dapat mencegah perbuatan
itu atas mana meneka seharusnya bertanggung jawab.

47
4. KASUS TOLAKAN PEMBUKAAN RM
PASIEN OLEH RUMAH SAKIT YANG
MENGOPERASI
PN Palembang No. 18/Pdt.G/2006/PN.PLG tanggal 4 Juli 2006
PT Palembang No. 62/ PDT/2006/PT.PLG tanggal 13 April 2007
Kasasi MA RI No. 1752 K/Pdt/2007 tanggal 20 Februari 2008
PK MA No. 352 PK/Pdt /2010, tanggal 1 November 2010

48
“Rahasia Kedokteran” adalah rahasia medis
pasien, bukanlah rahasia dokternya

49
SANKSI DISIPLIN
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 4
TAHUN 2011 TENTANG DISIPLIN PROFESIONAL DOKTER
DAN DOKTER GIGI
BABII
BENTUK PELANGGARAN DISIPLIN PROFESIONAL DOKTER DAN
DOKTER GIGI
17. Membuka rahasia kedokteran
Penjelasan
a) Dokter dan Dokter Gigi wajib menjaga rahasia pasiennya. Bila
dipandang perlu untuk menyampaikan informasi tanpa
persetujuan pasien atau keluarga, maka Dokter dan Dokter
Gigi tersebut harus mempunyai alasan pembenar.
b) Alasan pembenar yang dimaksud adalah:
1) permintaan MKDKI/MKDKI-P;
2) permintaan majelis hakim sidang pengadilan; dan/atau
3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

50
UU 29 TAHUN 2004 TENTANG
PRAKTEK KEDOKTERAN
Pasal 69
(1) Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia mengikat dokter, dokter gigi, dan Konsil
Kedokteran Indonesia.
(2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ) dapat
berupa dinyatakan tidak bersalah atau pemberian sanksi
disiplin.
(3) Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
berupa :
a. pemberian peringatan tertulis;
b. rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau
surat izin praktik; dan/atau
c. kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.

51
Tanggung Jawab Pidana
Pasal 84 UU 36/2014

(1) Setiap Tenaga Kesehatan yang melakukan


kelalaian berat yang mengakibatkan Penerima
Pelayanan Kesehatan luka berat dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun.

(2) Jika kelalaian berat sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) mengakibatkan kematian, setiap Tenaga
Kesehatan dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun.

52
Tanggung Jawab Pidana
Pasal 1 Angka 18

Penerima Pelayanan Kesehatan adalah setiap orang


yang melakukan konsultasi tentang kesehatan
untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan, baik secara langsung maupun tidak
langsung kepada tenaga kesehatan

53
5. KASUS KASA TERTINGGAL
DALAM OPERASI CAESAR
PN Banda Aceh, No. 109/Pid.B/2009/ PN.BNA., tanggal 10 Agustus 2009
PT Banda Aceh, No. 181/PID/2009/ PT. BNA., tanggal 07 Desember 2009
Kasasi Mahkamah Agung RI No. 455 K/Pid/2010 tanggal 07 April 2011
PK Mahkamah Agung RI No. : 113 PK/Pid/2012 tanggal 13 Juni 2013

54
6. KASUS SUNTIK KCL
PN Banda Aceh, No. 109/Pid.B/2009/ PN.BNA., tanggal 10 Agustus 2009
PT Banda Aceh, No. 181/PID/2009/ PT. BNA., tanggal 07 Desember 2009
Kasasi Mahkamah Agung RI No. 455 K/Pid/2010 tanggal 07 April 2011
PK Mahkamah Agung RI No. : 113 PK/Pid/2012 tanggal 13 Juni 2013

55
ANALISA KASUS

Penyelidikan (Kepolisian) : mencari dan


menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai
tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya
dilakukan penyidikan menurut yang diatur dalam
Undang- undang ini.

Penyidikan (Kepolisian) : mencari serta


mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi
dan guna menemukan tersangkanya

56
Proses HUKUM PIDANA menurut KUHAP (Kitab Undang
Undang Hukum Acara Pidana) melalui tahapan berikut :
1. Penyelidikan (Kepolisian)
1) Dicari bukti; dan
2) Diperiksa saksi;

2. Penyidikan (Kepolisian)
1) Dicari bukti material/barang : RM (ditulis oleh yang
berwenang/tidak), SPO (dipatuhi/tidak), Kartu
Pendaftaran/resume medis (mengetahui hubungan
hukum), dll.
2) saksi-saksi auditu (mengetahui sendiri, mengalami
sendiri)
3) Saksi Ahli (hubungi KOLEGIUM terlebih dahulu
sebelum Penyelidikan/Penyidikan)

57
3. Penuntutan (Kejaksaan) : Jaksa Penuntut Umum
menyiapkan DAKWAAN dan TUNTUTAN PIDANA

4. Pengadilan
1) Pengadilan Negeri
2) Pengadilan Tinggi
3) Pengadilan Kasasi (Mahkamah Agung)
4) Pengadilan Peninjauan Kembali (Mahkamah
Agung)

58
Sebelum Penyelidikan tentu ada :
1. Proses pelayanan a.l :
1) Pendaftaran (ada Standar Prosedur Operasional atau SPO),
Pembuatan Rekam Medis (ada Standar Prosedur Operasional
atau SPO),
2) Pemeriksaan oleh dokter dan laboratorium (ada Standar
Prosedur Operasional atau SPO),
3) Proses informed consent (ada Standar Prosedur Operasional
atau SPO),
4) Proses tindakan kedokteran (ada Standar Prosedur
Operasional atau SPO),
2. Proses complain,
Proses penanganan complain dan negosiasi (ada Standar
Prosedur Operasional atau SPO).

Dalam proses pelayanan Kita perlu cermati sebab sebab kasus ini
menyeruak di Kopilisian.

59
60