Anda di halaman 1dari 18

S E M I N A R PROPOSAL

H U B U N G A N A N TA R A
K E H A M I L A N D I USIA D I N I
D A N P E M B E R I A N ASI
EKSLUSIF DENGAN
K E J A D I A N S T U N T I N G PADA
B A D U TA 6-24 B U L A N D I
W I L AYA H K E R J A
PUSKESMAS X K A B U PAT E N
X

P E M I N AT A N G I Z I
P R O G R A M S T U D I I L M U K E S E H ATA N D I SUS U N O L E H
M A S YA R A K AT F A K U LT A S N A M A : K U M A L A SA R I J A B A N
N I M : 20160711014154
K E S E H AT A N M A S YA R A K AT
U N I V E R S I T A S C E N D E R A WA S I H
LATAR BELAKANG
Kejadian kehamilan dan persalinan pada masa remaja merupakan masalah yang serius. Kehamilan pada
remaja merupakan kehamilan yang berisiko. Kehamilan pada usia tersebut lebih berisiko mengalami
kematian pada ibu dan anak yang dilahirkan kemungkinan untuk bertahan hidupnya rendah. Persalinan pada
ibu yang berusia kurang dari 20 tahun memiliki kontribusi dalam tingginya angka kematian neonatal, bayi,
dan balita, yang angkanya lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang berusia 20-39 tahun. Salah satu
penyebab kejadian kehamilan dan persalinan pada usia muda dapat terjadi karena sudah melakukan
pernikahan pada usia dini. Pernikahan dini dapat berdampak buruk terhadap kesehatan ibu dan balita. Salah
satu dampaknya adalah terganggunya organ reproduksi pada ibu dan apabila terjadi kehamilan, merupakan
kehamilan yang berisiko. Selain itu dapat juga berakibat pada anak yang dilahirkannya. Anak yang lahir dari
ibu yang menikah dini memiliki kesempatan hidup yang rendah dan lebih besar memiliki masalah gizi pada
anaknya seperti pendek, kurus, dan gizi buruk. Hal tersebut kemungkinan bisa terjadi karena ibu balita yang
umurnya kurang dari 18 tahun biasanya memiliki pola asuh terhadap anaknya kurang baik, pola asuh yang
kurang baik tersebut dapat berdampak pada status gizi anaknya.
Masa baduta (bawah dua tahun) merupakan “ Window of opportunity . Pada masa ini, seorang

anak memerlukan asupan zat gizi yang seimbang baik dari segi jumlah maupun proporsinya untuk
mencapai berat dan tinggi badan yang optimal (Soeparmanto dalam Putri, 2008). Status gizi
memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas
di masa yang akan datang. Status gizi berhubungan dengan kecerdasan anak (Depkes RI, 2002).
Status gizi yang baik dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak
untukmencapai kematangan yang optimal. Gizi yang cukup juga dapat memperbaiki ketahanan
tubuh sehingga diharapkan tubuh akan bebas dari penyakit. Status gizi merupakan indikator ketiga
dalam menentukan derajat kesehatan anak. Indikator lainnya yaitu angka kematian bayi, angka
kesakitan bayi dan angka harapan hidup waktu lahir. Derajat kesehatan anak mencerminkan
derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan yang
dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa (Hidayat, 2008). Masalah anak
pendek (stunting) merupakan salah satu permasalahan gizi yang dihadapi di dunia, khususnya di
negara-negara miskin dan berkembang (Unicef, 2013). Stunting menjadi permasalahan
karenaberhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian,
perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya
pertumbuhan mental (Lewit, 1997; Kusharisupeni, 2002; Unicef (2013).
dari hasil data tsb,alasan peneliti
mengambil penelitian tentang
stunting adalah peneliti ingin melihat
apakah ada hubungan antara usia
kehamilan Ibu dan pemberian ASI
Ekslusif dengan kejadian stunting
PERUMUSAN M A S A L A H D A N TU J UAN
PENELITIAN

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dibahas dalam proposal ini adalah
mengetahui apakah ada hubungan antara usia pernikahan dini dan pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian
stunting pada baduta.

TUJUAN PENELITIAN

1) Tujuan umum
Mengetahui faktor resiko kehamilan usia dini dan pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian stunting di wilayah
kerja puskesmas X.
2) Tujuan Khusus
Untuk mengetahui apakah ada hubungan kehamilan usia dini dan riwayat pemberian ASI Ekslusif pada bayi di
usia dua tahun dengan kejadian stunting.
M A N F A A T PE N E L I T I A N

1) Bagi Masyarakat
Penelitian ini di harapkan untuk digunakan sebagai bahan informasi upaya pencegahan
kejadian stunting pada balita.
2) Bagi peneliti
Menambah wawasan dan pengalaman serta sebagai salah satu cara penerapan ilmu yang
telah di dapat selama masa perkuliahan.
3) Bagi responden
Memberikan informasi kepada ibu muda atau yang akan
menikah yang berguna untuk menambah wawasan,meningkatkan pengetahuan,dan
kesadaran bahwa menikah diusia muda dapat memberikan efek pada sang bayi dan
sangat penting untuk memberikan ASI Ekslusif kepada bayi.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Baduta
Baduta adalah sebutan yang ditujukan untuk anak usia bawah dua tahun atau sekitar 0-24 bulan
(Depkes RI, 2006). Masa ini menjadi begitu penting karena di masa inilah upaya menciptakan sumber
daya manusia yang baik dan berkualitas. Apalagi 6 bulan terakhir kehamilan dan dua tahun pertama
setelah melahirkan, biasanya disebut dengan masa masa keemasan dimana sel otak dalam
perkembangan dan pertumbuhan yang optimal. Kekurangan gizi pada masa ini dapat menyebabkan
gagal tumbuh dan berakibat buruk dimasa yang akan datang (Hadi, 2005).
2. stunting pada Baduta
Status gizi pada anak adalah salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui status kesehatan
masyarakat (Blum,1992 dalam Khaldun,2008). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat
konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier,2004). M enurut laporan The Lancet s ’

Series on Maternal and child Undernutrition Executive Summary, gizi harus menjadi prioritas di
semua tingkat, baik sub-nasional, nasional, maupun global karena merupakan komponen utama bagi
manusia, sosial, dan pembangunan ekonomi. Gizi merupakan faktor kunci dalam perkembangan
anak,kesehatan ibu, dan produktivitas.
Pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang di dasarkan pada Indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau tinggi
badan menurut umur (TB/U) yang merupakan istilah lain untuk stunted dan severely stunded (Kemenkes,2011). Stunting di
definisikan sebagai indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi(-2 SD) atau dibawah
rata-rata standar yang ada dan severe stunting di definisikan kurang dari -3 SD (ACC/SCN,200). Stunting pada anak
merupakan hasil jangka panjang kosumsi kronis diet berkualitas rendah yang dikondisikan dengan morbiditas,penyakit
infeksi,dan masalah lingkungan (Semba, et al., 2008). Di Negara berpendapatan menengah kebawah, stunting merupakan
Menurut framework WHO yang diterbitkan pada tahun 2013 menyebutkan bahwa terdapat beberapa penyebab terjadinya
stunting. Penyebab yang pertama adalah faktor ibu dan lingkungan sekitar rumah. Faktor ibu (maternal factor) meliputi gizi
yang buruk saat pra – konsepsi, kehamilan dini, kesehatan mental ibu, kelahiran premature, IUGR (Intra Uterine Growt
Restriction), jarak kelahiran yang pendek dan hipertensi. Faktor yang kedua adalah pemberian ASI yang kemudian dijabarkan
menjadi inisiasi menyusui dini yang terlambat, ASI non eksklusif, dan penyapihan yang terlalu cepat. masalah kesehatan

masyarakat yang utama (The Lancet, 2008).


K ERANGK A T EORI
K ONT EK S

SU M B E R : W H O C O N C E PT UA L FRAM EW O R K , 2013
kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori diatas dapat dirumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut : Variabel dependen
dalam penelitian ini adalah stunting pada anak baduta , sedangkan variabel independen dari penelitian ini adalah
pemberian ASI Ekslusif , Pemberian ASI Ekslusif sampai dengan usia 2 tahun dan usia kehamilan Ibu yang
mempengaruhi kejadian stunting pada anak baduta. Kerangka konsep dari peneliti adalah sebagai berikut :
METODE PENELITIAN

JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang
bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang
mempengaruhi kejadian stunting pada baduta
WAKTU DAN LOKASI
di wilayah kerja puskesmas X Kabupaten X PENELITIAN
Tahun 2019.
penelitian ini telah dilakukan
pada bulan X tanggal X-X 2019
dan berlokasi di wilayah kerja
Puskesmas X Kabupaten X.
populasi dan sampel

populasi

Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang


diperlukan dalam suatu penelitian. Sumber data atau subjek sampel
peenlitian mempunyai karakteristik tertentu, berbeda-beda
Sebagian dari populasi yang mewakili populasi disebut
sesuai dengan tujuan peenlitian (Saryoni, 2013). Populasi
sebagai sampel (Saryono, 2013). Hipotesis Penelitian.
dalam penelitian ini adalah semua baduta di wilayah kerja
Puskesmas X kabupaten X sebanyak x..
Sampel harus representatif yaitu sampel yang dapat
mewakili populasi yang ada. Semakin banyak sampel maka
hasil penilitian akan semakin representatif dan mendekati
jumlah populasi (Nursalam, 2017).
hipotesis dan variabel
H ipotesis
H1 :
1. ada hubungan antara umur kehamilan Ibu ketika hamil dengan kejadian
stunting berdasarkan teori Wiknjosastro (2007).
2.Ada hubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian stunting
berdasarkan penelitian penelitian Lestari (2014).
variabel penelitian
a. Variabel Indapenden
Variabel Indapenden adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain ( Nursalam,
2017). Variabel Indapenden dalam penelitian adalah pemberian ASI Ekslusif,
pemberian ASI Ekslusis s.d 2 tahun, dan usia kehamilan Ibu.
b. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel lain
(Nursalam, 2017). Variabel dependen pada penelitian ini adalah baduta stunting.
Definisi Operasional
alat dan cara penelitian
1. Infantometer dan meteran kain untuk mengukur tinggi badan balita
dibawah umur 2 tahun.

teknik pengolahan
a. Pengolahan Data Antropometri
Pengolahan data antropometri berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan diolah untuk
menentukan nilai z-score anak. Nilai Z-score pada indeks antropometri tinggi badan
menurut umur (TB/U) akan menunjukkan status gizi anak dalam keadaan stunting atau
tidak. Nilai Z-Score dihitung dengan menggunakan standar.
b. Pengolahan Data Kuesioner ASI Ekslusif
Pemberian ASI Ekslusif pada baduta diperoleh dengan Kuisioner , namun penelitian
juga mengoreksi ulang untuk variabel ini dengan melihat pertanyaan pengembangan
ASI Ekslusif pada Kuisioner.
c. tahapan pengolahan data
Editing
coding
scoring
entry data
analisis data

1.Analisis univariat
Analisis ini digunakan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi tiap variabel
yang diteliti, baik variabel dependen (Kejadian stunting) maupun variabel
Indapenden (Pemberian ASI Ekslusif dan Usia kehamilan Ibu saat mengandung).
Data yang dihasilkan berupa kategorik sesuai dengan hasil ukur yang terdapat
dalam Definisi operasional.
2. Analisia Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi antara dua
variabel, variabel independen dan dependen. Variabel independen dalam penelitian
ini pemberian ASI Eksklusif, pemberian ASI sampai dengan usia 2 tahun, dan usia
kehamilan Ibu. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian
stunting pada anak.
Thank you!