Anda di halaman 1dari 36

Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

EDWIN PRASETYA

Pembimbing:
dr. William S. Tjeng, Sp.A
Demam tifoid endemis di negara berkembang khususnya
Asia Tenggara. Insidens demam tifoid pada anak tertinggi
ditemukan pada kelompok usia 5-15 tahun. Indonesia
merupakan salah satu negara dengan insidens demam
tifoid, pada kelompok umur 5-15 tahun dilaporkan 180,3 per
100,000 penduduk.
 Menambah ilmu dan pengetahuan mengenai penyakit yang dilaporkan.
 Membandingkan informasi yang terdapat pada literatur dengan kenyataan yang
terdapat langsung pada kasus.
 Mendiagnosa dengan cepat dan menyusun rencana tatalaksana yang tepat kepada
pasien.
 Nama : An. MZNS
 Usia : 7 Tahun 9 Bulan
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Berat Badan : 22 Kg
 Tinggi Badan : 131 cm
 Anak ke : Kedua dari dua bersaudara
 Agama : Islam
 Alamat : Jl. Abdul Muthalib, Samarinda
 MRS tanggal 27 April 2019
 Nama Ayah : Tn. A • Nama Ibu : Ny. D
 Usia : 35 Tahun • Usia : 26 tahun
 Pekerjaan : Swasta • Pekerjaan : IRT
 Alamat : Jl. Abdul • Alamat : Jl. Abdul
Muthalib, Samarinda Muthalib, Samarinda
 Pendidikan terakhir: SMA • Pendidikan terakhir : SMA
 Pernikahan ke : pertama • Pernikahan ke: pertama
Keluhan Utama
 Demam

Riwayat Penyakit Sekarang


 Demam sejak 7 hari yang lalu, timbul mendadak, dan naik turun
 Demam sempat turun pada hari kedua dan ketiga lalu naik lagi
 Demam cenderung timbul pada saat menjelang malam hari
 OT Sempat memberikan obat penurun panas namun keluhan demam hanya turun
sebentar, lalu naik lagi
 Kejang (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut (-)
 Keluhan nyeri tenggorokan disertai batuk pilek 3 hari. Nafsu makan menurun
 Gejala perdarahan spontan e.i mimisan (-), gusi berdarah (-), muntah darah (-),
BAB darah/hitam (-)
Riwayat Penyakit Dahulu
 Tidak ada

Riwayat Alergi
 Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


 Tidak ada
 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
 Berat badan lahir : 2950 gram
 Tengkurap : 3 bln
 Panjang badan lahir : 49 cm
 Duduk : OT lupa
 Berat badan sekarang : 22 kg
 Merangkak : 11 bln
 Tinggi badan sekarang : 131 cm
 Berdiri : 1 th
 Gigi keluar : 1 th 6 bln
 Berjalan : 1 th 1 bln
 Tersenyum : OT lupa
 Berbicara : 1 th 1 bln
 Miring : OT lupa
Makan dan Minum Anak Pemeriksaan Prenatal
 ASI : ASI ekslusif hingga usia 1 • Periksa di : Bidan praktik mandiri
tahun 6 bulan • Penyakit kehamilan : Tidak ada
 Susu sapi : sejak usia 1 tahun 6 bulan • Obat-obat yang sering diminum :
Tidak ada
 Makanan lunak: Mulai usia 9 bulan
 Makan padat dan lauknya: 1 tahun
Riwayat Kelahiran • Keluarga Berencana
 Lahir di : Rumah sakit • Keluarga Berencana : tidak
 Ditolong oleh : Bidan ada

 Usia dalam kandungan: Aterm


 Jenis partus : Spontan • Jadwal Imunisasi
pervaginam • OT mengatakan anak divaksin
rutin sesuai jadwal imunisasi
• Kepala/leher
 Keadaan Umum: Sakit sedang
• Kepala/Rambut : Normocephali, rambut hitam,
 Kesadaran : Composmentis tebal
 Berat Badan : 22 Kg • Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-
 Panjang Badan: 131 cm /-), pupil isokor (3mm/3mm), reflex cahaya (+/+),
edema palpebra (-/-)
 Tanda Vital :
• Hidung : Sekret hidung (-), pernafasan cuping
 Tekanan Darah 90/60 mmHg hidung (-)
 Nadi 91 x/menit • Mulut : Mukosa bibir tampak basah, sianosis (-
), perdarahan (-), faring hiperemis (+)
 Pernafasan 22 x/menit
• Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
 Temperatur axila 37,9o C
Thorax
Paru: Jantung:
 Inspeksi:Tampak simetris, pergerakan • Inspeksi : Ictus cordis tampak pada
simetris, retraksi supra sternum (-), retraksi
ICS 5 midclavicularis sinistra
supraclavicula (-),
 Palpasi: Pelebaran ICS (-), fremitus raba D=S
• Palpasi : Ictus cordis teraba pada
ICS 5 midclavicularis sinistra
 Perkusi: Sonor
• Perkusi : Normal pada batas jantung
 Auskultasi: Vesikuler, Stridor (-), Ronki (-/-),
wheezing (-/-) • Auskultasi : S1S2 tunggal reguler
 Abdomen
• Ekstremitas
 Inspeksi : Flat, distended (-)
• Ekstremitas superior : Akral hangat,
 Palpasi : Soefl, nyeri tekan (+),
organomegali (-), turgor kembali cepat pucat (-/-), edem (-/-)

 Perkusi : Timpani, acites (-) • Ekstremitas inferior : Akral hangat,


pucat (-/-), edem (-/-)
 Auskultasi : Bising usus (+) kesan
normal
•Laboratorium 27 April 2019
Diagnosis Penatalaksanaan
Demam Tifoid • IVFD RL 4 cc/kgBB/jam
• Paracetamol syr 4 x cth II
• Inj. Ceftriaxone 2x800mg IV
TINJAUAN PUSTAKA
• Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan
oleh bakteri Salmonella Typhi
 Bakteri Salmonella Typhi berbentuk batang, Gram negatif, tidak berspora, motil,
berflagel, berkapsul, tumbuh dengan baik pada suhu optimal 370C, bersifat fakultatif
anaerob dan hidup subur pada media yang mengandung empedu
 Bakteri Salmonella Typhi memiliki beberapa komponen antigen antara lain:
 Antigen dinding sel (O) yang merupakan lipopolisakarida dan bersifat spesifik
grup
 Antigen flagella (H) yang merupakan komponen protein berada dalam flagella
dan bersifat spesifik spesies
 Antigen virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di kapsul yang
melindungi seluruh permukaan sel
 Antibodi O, H dan Vi akan membentuk antibodi agglutinin di dalam tubuh. Sedangkan,
Outer Membran Protein (OMP) pada Salmonella Typhi merupakan bagian terluar yang
terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel
dengan lingkungan sekitarnya.
Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses:
 penempelan bakteri ke lumen usus
 bakteri bermultiplikasi di makrofag Peyer’s patch, nodus limfatikus
mesenterikus, dan organ-organ sistem retikuloendotelial
 bertahan hidup di aliran darah
 menghasilkan enterotoksin yang menigkatkan kadar cAMP dalam
kripta usus  menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke lumen
intestinal.
S. Typhi masuk bersama makanan/minuman

saat melewati lambung dengan suasana asam (pH <2), banyak bakteri yang mati, bakteri yang
hidup akan mencapai usus halus

bakteri melekat pada sel-sel mukosa kemudian menginvasi mukosa

sel-sel M (sel khusus yang melapisi peyer’s patch) merupakan tempat internalisasi S. typhi

Bakteri mencapai folikel limfe usus halus, menuju kelenjar limfe mesenterika

S. typhi bermultiplikasi dalam sel fagosit mononuclear dalam folikel limfe, kelenjar limfe
mesenterika dan hati

setelah periode tertentu, S. typhi akan keluar dan melalui ductus thorasikus masuk ke sirkulasi
sistemik
 Masa inkubasi demam tifoid berkisar antara 7-14 hari, namun dapat mencapai 3-30 hari.
 Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak
badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat
 Demam berlangsung 3 minggu bersifat febris, remiten dan suhu tidak terlalu
tinggi.Pada awalnya suhu meningkat secara bertahap menyerupai anak tangga selama 2-
7 hari, lebih tinggi pada sore dan malam hari,tetapi demam bisa pula mendadak tinggi
 Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan nyeri, perut kembung, konstipasi dan diare
 Selain gejala – gejala yang disebutkan diatas, bisa juga ditemukan gejala yang lainnya
seperti sakit kepala, batuk, lemah dan tidak nafsu makan.
 Tanda klinis yang didapatkan pada anak dengan demam tifoid antara lain adalah
pembesaran organ yang disertai dengan nyeri perabaan, antara lain hepatomegali dan
splenomegali
 Anamnesis:
 Demam naik secara bertahap tiap hari, mencapai suhu tertinggi pada akhir
minggu pertama, minggu kedua demam terus menerus tinggi
 Anak sering mengigau (delirium), malaise, letargi, anoreksia, nyeri kepala, nyeri
perut, diare atau konstipasi, muntah, perut kembung
 Pada demam tifoid berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang, dan ikterus
 Anamnesis:
 Demam naik secara bertahap tiap hari, mencapai suhu tertinggi pada akhir
minggu pertama, minggu kedua demam terus menerus tinggi
 Anak sering mengigau (delirium), malaise, letargi, anoreksia, nyeri kepala, nyeri
perut, diare atau konstipasi, muntah, perut kembung
 Pada demam tifoid berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang, dan ikterus
 Pemeriksaan fisis
 Gejala klinis bervariasi dari yang ringan sampai berat dengan komplikasi.
 Kesadaran menurun
 Delirium
 Sebagian besar anak mempunyai lidah tifoid yaitu di bagian tengah kotor dan
bagian pinggir hiperemis
 Meteorismus
 Hepatomegali lebih sering dijumpai daripada splenomegaly
 Kadang-kadang terdengar ronki pada pemeriksaan paru.
Darah tepi perifer:
 Anemia, pada umumnya terjadi karena karena supresi sumsum tulang, defisiensi Fe,
atau perdarahan usus
 Leukopenia, namun jarang kurang dari 3000/ul
 Limfositosis relatif
 Trombositopenia, terutama pada demam tifoid berat

Pemeriksaan serologi:
 Serologi Widal: kenaikan titer S. typhi titer O 1:200 atau kenaikan 4 kali titer fase akut ke
fase konvalesens
 Kadar IgM dan IgG (Typhi-dot)
Pemeriksaan biakan Salmonela:
 Biakan darah terutama pada minggu 1-2 dari perjalanan penyakit
 Biakan sumsum tulang masih positif sampai minggu ke-4

Pemeriksaan radiologik:
 Foto abdomen, apabila diduga terjadi komplikasi intraintestinal seperti perforasi usus
atau perdarahan saluran cerna.
 Pada perforasi usus tampak:
 distribusi udara tak merata
 airfluid level
 bayangan radiolusen di daerah hepar
 udara bebas pada abdomen
Antibiotik
 Kloramfenikol (drug of choice) 50-100 mg/kgbb/hari, oral atau IV, dibagi dalam 4 dosis
selama 10-14 hari
 Amoksisilin 100 mg/kgbb/hari, oral atau intravena, selama 10 hari
 Kotrimoksasol 6 mg/kgbb/hari, oral, selama 10 hari
 Seftriakson 80 mg/kgbb/hari, intravena atau intramuskular, sekali sehari, selama 5 hari
 Sefiksim 10 mg/kgbb/hari, oral, dibagi dalam 2 dosis, selama 10 hari
Kortikosteroid diberikan pada kasus berat dengan gangguan kesadaran
Deksametason1-3mg/kgbb/hari intravena, dibagi 3 dosis hingga kesadaran
membaik
Bedah
 Tindakan bedah diperlukan pada penyulit perforasi usus

Suportif
 Demam tifoid ringan dapat dirawat di rumah
 Tirah baring
 Isolasi memadai
 Kebutuhan cairan dan kalori dicukupi
Diet
 Makanan tidak berserat dan mudah dicerna
 Setelah demam reda, dapat segera diberikan makanan yang lebih padat dengan kalori
cukup
 Evaluasi demam dengan memonitor suhu.Apabila pada hari ke-4-5 setelah
pengobatan demam tidak reda, maka harus segera kembali dievaluasi adakah
komplikasi, sumber infeksi lain, resistensi S.typhi terhadap antibiotik, atau
kemungkinan salah menegakkan diagnosis.
 Pasien dapat dipulangkan apabila tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik,
nafsu makan membaik, klinis perbaikan, dan tidak dijumpai komplikasi.
Pengobatan dapat dilanjutkan di rumah.
TERIMA KASIH