Anda di halaman 1dari 185

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat – obatan dan Kosmetika

Majelis Ulama Indonesia ( LPPOM MUI ) Provinsi Bali

Assessment Institute for Foods, Drugs, and Cosmetics,


the Indonesian Council of Ulama of Bali Province
SELAMAT SIANG

1
LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017
BIODATA
BIODATA
• Nama : drh. Mas Djoko Rudyanto, MS
• Lahir : Surabaya, 4 Januari 1957
• Pendidikan : S-1 dan S-2 di UGM Yogyakarta
• Pekerjaan :
– Auditor Halal Nasional LPPOM MUI
– Auditor HACCP
– Auditor NKV
– Konsultan NKV PT CIP
– Wartawan Majalah Keswan INFOVET
– Instruktur Kompetensi Juleha
– Dosen FKH Universitas Udayana
• Alamat: Jl. Patih Nambi VII/6 Denpasar
• Telp.: 0361-428463 ; 087861142843 ; 08176428463
• Nama keluarga : Sri Redjeki , SS (istri)
Adityo Nugrahanto Widodo, ST + Dendry Umbiyar, SE
2
Amelia Rizky Salzhabina, S.Psy + M. Ath Thoriq Al Fatah, S.Komp
• Motto: Urip iku urup – Hidup itu hendaknya memberikan manfaat dan bermakna
• bagi sesama umat
STATUS ??????
STATUS ??????
HALALANTHOYYIBAN

LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017 BOLEH BAIK/ SE3HAT


TIDAK MELIHAT WARNA KULIT

7
SEMUA AGAMA

8
Beberapa Definisi :

Halal: Sesuatu yang dibolehkan menurut


ketentuan Syariat Islam.
Syubhat: Sesuatu yang meragukan menurut
ketentuan Syariat Islam AUDIT HALAL
Haram: Sesuatu yang tidak diperbolehkan
menurut ketentuan Syariat Islam.
Thayib: Sesuatu yang baik, suci/bersih,
lezat.
Najis: Sesuatu yang kotor menurut ketentuan
Syariat Islam.
Najis :
“Suatu kotoran yang dapat menyebabkan tidak sahnya
ibadah”
• Mutanajis : benda yang terkena najis
• Setiap benda yang najis/mutanajis Haram dimakan.
Jenis Najis Contoh Cara Mensucikan
1. Berat Jilatan (air liur) Anjing, Babi Dibasuh 7x dengan air yg
dan turunannya salah satunya dicampur
tanah/bahan kimia.
2. Sedang Air kencing, kotoran Dicuci hingga hilang
manusia/hewan, dll warna, bau dan rasa
najisnya.
3. Ringan Air kencing bayi laki2 yg Diperciki air atau dengan
hanya minum ASI lap basah.
Produk Olahan Teknologi adalah Syubhat
PENGERTIAN PRODUK HALAL
1. HALAL BERDASARKAN DZATNYA
(LIDZAATIHI)
*Al-Qur’an: babi dan turunannya,
darah, bangkai, khamr, proses
penyembelihan
* Al-Hadist: binatang buas, burung
berkuku tajam, najis, hewan jalalla h
LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017 6
Q.S. AL-BAQARAH ayat 172-173:
Mengharamkan bangkai, darah, daging babi, disembelih bukan karena
Allah.

Q.S. AL-BAQARAH ayat 168:


Halal dan baik, jangan mengikuti jejak setan.

Q.S. AL-AN’AM ayat 119:


Segala sesuatu yang haram, kecuali dalam keadaan terpaksa.

Q.S. AL-AN’AM ayat 145:


Mengharamkan bangkai, darah yang mengalir, daging babi.

Q.S. AL-MAIDAH ayat 3:


Haram memakan bangkai, darah, daging babi, disembelih bukan dengan
nama Allah, mati karena dicekik/dipukul/jatuh dari atas/ditanduk/dimakan
hewan buas kecuali yang disembelih dan disembelih dengan nama berhala.
Q.S. AL-AN’AM ayat 118: Makan segala sesuatu yang disebut nama Allah ketika
menyembelihnya

Q.S. AL-AN’AM ayat 121: Jangan makan yang tidak disebut nama Allah

7
Q.S Al Maidah : 90
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya
minuman keras (khamr), berjudi, (berkurban
untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak
panah adalah perbuatan keji dan termasuk
perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-
perbuatan) itu agar kamu beruntung”.
H.R BUCHARI dan MUSLIM: (Sesuatu) yang halal telah jelas dan yang haram juga
telah jelas, dan di antara keduanya ada perkara Syubhat (samar-samar).
Barangsiapa menjaga diri dari perkara yang syubhat itu berarti ia telah
menjaga agama dan kehormatannya. Barangsiapa terjatuh kepada yang
syubhat berarti ia telah terjatuh dalam yang haram. ... Ketahuilah, di dalam
tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka akan baiklah seluruh tubuh.
Namun jika ia rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuh, ketahuilah
bahwa segumpal darah tersebut adalah jantungmu.

H.R. IBNU MAJAH: Jika ingin menyembelih hendaklah mengadakan persiapan


terlebih dahulu.

H.R. AHMAD, ABU DAUD, TURMUDZI, HAKIM: Daging yang dipotong dari hewan
dalam keadaan hidup berarti bangkai.
H.R. MUSLIM: Perbaiki caramu menyembelih dan tajamkan pisaunya serta
senangkan hewan yang disembelih itu
H.R. AHMAD, ABU DAUD, NASA’I, IBNU MAJAH, HAKIM dan IBNU HIBBAN:
Alirkanlah darahnya dengan apa saja yang disukai dan sebutlah nama
Allah atasnya
8
LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017
9
PENCANTUMAN TULISAN
PRODUK BABI
2. HALAL BERDASARKAN
CARA PENANGANANNYA
• Cara memasak (bumbu, peralatan),
• Cara penyembelihan termasuk
semua peralatan
• Cara penyimpanan, penjualan,
pengelolaan, pengangkutan yang tidak
digunakan untuk babi atau barang tidak
halal lainnya
• Kecap asin
(berlogo
halal)
• Jeruk nipis
• Jahe.
HARAM - HALAL

BERSIH-HALAL
NAJIS-HARAM
JALLALAH:
 Makanan/minuman yang menjijikkan (ikan diberi
pakan kotoran manusia/hewan, ternak diberi pakan
sampah).
KUAS
SYUBHAT HALAL
PENGGANTIAN KUAS
RAMBUT HEWAN SILIKON
3. HALAL BERDASARKAN
PENAMAAN DAN
PERLENGKAPAN
0% ALKOHOL
RAWON SETAN

20
BEEF BACON

BEEF RASHERS
HOT
DOG
KELENGKAPAN MIRIP TOILET
ES GAYUNG
4.HALAL BERDASARKAN CARA
MEMPEROLEHNYA
(LIGHAIRIHI )
mencuri, merampok, korupsi,
penyuapan

Penegak hukum
LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017 29
FIGUR KORUPTOR
6 Januari 2012
HAS 23000
6 Januari 1989
LPPOM MUI didirikan

1988 23 TAHUN
Isyu Lemak Babi

HAS 23000
Sekilas Perkembangan Sertifikasi Halal :

1. LPPOM MUI dan 33 LPPOM MUI Provinsi


2. Presiden World Halal Food Council (WHFC)
3. Standar HAS 23000 yang menjadi rujukan
Internasional
4. Kerjasama (memberi pengakuan) lebih dari
40 Lembaga Sertifikasi Luar Negeri
5. Sertifikasi Halal On Line (Cerol-SS23000)
BUKU SERI HAS 23000
1. HAS 23000 Persyaratan Sertifikasi Halal
2. HAS 23101 Pedoman Pemenuhan Kriteria SJH di Industri
Pengolahan
3. HAS 23102 Pedoman Pemenuhan Kriteria SJH di
Restoran
4. HAS 23103 Pedoman Pemenuhan Kriteria SJH di Rumah
Pemotongan Hewan
5. HAS 23104 Pedoman Pemenuhan Kriteria SJH di
Katering.
6. HAS 23201 Persyaratan Bahan Pangan Halal.
7. HAS 23301 Pedoman Penyusunan Manual SJH di Industri
Pengolahan
Cara Konsumen muslim mendapat
jaminan bahwa produk yang dikonsumsi
adalah Halal

Proses sertifikasi halal

Sertifikat Halal
Fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang
menyatakan kehalalan suatu produk sesuai
dengan syari’at Islam
 merupakan syarat untuk mendapatkan ijin
pencantuman label halal pada kemasan
produk dari instansi pemerintah yang
berwenang (BBPOM)
Cara Memutuskan Status Kehalalan Produk
Gabungan antara Ulama dan Ahli sains

LPPOM MUI Majelis Ulama Indonesia (MUI)


Auditor (Scientist) Ulama di Komisi Fatwa MUI
-Menemukan fakta kandungan Memberikan Fatwa terhadap status
produk dan menelaah dari sisi hukum dari produk. Keluaran dari
sains dan teknologi. Fatwa adalah menjelaskan status
-Sebagai saksi terhadap proses kehalalan dari produk berdasarkan
produksi secara menyeluruh hasil audit dari LPPOM MUI.
dan penerapan SJH di
perusahaan.

-Sertifikat Halal Produk


-Sertifikat Status Sistem Jaminan Halal
-Sertifikat Sistem Jaminan Halal
Sekilas MUI and LPPOM MUI
 MUI
Majelis Ulama Indonesia merupakan induk organisasi
Islam di Indonesia (+ 63 Ormas Islam)

 LPPOM MUI
Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika
- Majelis Ulama Indonesia
 Institusi yang dibentuk oleh MUI untuk menjalankan
fungsi MUI dalam sertifikasi halal dengan melakukan
pengkajian terhadap pangan, obat dan kosmetika.
LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017
TUJUAN

Peserta memahami Kriteria


Sistem Jaminan Halal
(HAS 23000 : 1)
SISTEM JAMINAN HALAL (SJH)

* Sistem manajemen terintegrasi.


* Yang disusun, diterapkan dan dipelihara
* Untuk mengatur bahan, proses produksi,
produk, sumber daya manusia dan prosedur
dalam rangka menjaga kesinambungan
proses produksi halal
* Sesuai dengan persyaratan LPPOM MUI
yang tercantum pada HAS 23000:
Kriteria Sistem Jaminan Halal.
KETENTUAN SJH
• Perusahaan menerapkan SJH sesuai dengan
Manual SJH yang telah disusun.
• Implementasi SJH dinilai oleh LPPOM MUI
melalui proses audit.
• Hasil audit implementasi SJH dinyatakan
dalam Status Implementasi SJH dan
Sertifikat SJH.
• Perusahaan memperoleh Sertifikat Halal
jika memiliki status SJH minimum B.
AUDIT SISTEM JAMINAN HALAL
Audit :
Verifikasi oleh auditor LPPOM MUI untuk
menentukan pemenuhan kriteria dalam
implementasi SJH.
Tipe Audit :
• On Site Audit
• On Desk Audit
Nama Representasi Masa Berlaku Basis Penulisan
Dokumen (tahun)

Sertifikat Halal Produk halal 2 Kelompok


produk

Status Kualitas 2 Pabrik (fasilitas


Implementasi implementasi produksi)
SJH (A, B) sistem

Sertifikat SJH Kualitas 4 Pabrik (fasilitas


implementasi produksi)
sistem

Sertifikat SJH diberikan kepada perusahaan


yang memperoleh 3 (tiga) kali nilai A untuk
STATUS SJH secara berturut-turut.
SERTIFIKAT
PRODUK HALAL
SERTIFIKAT STATUS
SISTEM JAMINAN HALAL
SERTIFIKAT

SISTEM
JAMINAN
HALAL
DEFINISI KRITERIA SJH:

Kalimat yang menjelaskan


persyaratan yang harus
dipenuhi perusahaan dalam
rangka menghasilkan produk
halal secara konsisten .
39
Kriteria SJH meliputi 11 Kategori :

Pra- 1. Kebijakan Halal


2. Tim Manajemen Halal
Syarat 3. Pelatihan and Edukasi
4. Bahan
5. Produk
Isi 6. Fasilitas Produksi
7. Prosedur Tertulis untuk Aktifitas Kritis
Prosedur 8. Kemampuan Telusur
9. Penanganan Produk yang Tidak Memenuhi Kriteria
10. Audit Internal
Evaluasi 11. Kaji Ulang Manajemen
SISTEMATIKA MANUAL SJH
NO ITEM HALAMAN

1.0 Kendali dokumen

2.0 Pendahuluan

3.0 Komponen SJH

4.0 Lampiran
KENDALI DOKUMEN
Kendali dokumen terdiri dari :
1. Daftar Isi
2. Lembar Pengesahan
3. Daftar Distribusi Manual
4. Daftar Revisi Dokumen
MANUAL SJH
Perusahaan “XYZ”

Disusun oleh :
Koordinator Auditor Halal Internal

Disahkan oleh :
Manajemen Puncak
DAFTAR DISTRIBUSI MANUAL
No Divisi Personel Tandatangan Tanggal
1. Pembelian Mr. Buyer 01/01/08

2. QA/QC Mr. Quality 01/01/08

etc

LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017 69


Perubahan Dokumen yang direvisi Dokumen Hasil Revisi Keterangan

NO Tanggal Edisi Bab Halaman Edisi Bab Halaman

1. 02/02/08 I Lampiran 4.6 50 I Lampiran 51 Penambahan


4.6 bahan dan
pemasok baru

2. 03/03/08 II Lampiran 12 65 II Lampiran1 65 Perubahan tim


2 AHI

LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017 70


Pendahuluan SJH terdiri dari :
2.1. Profil perusahaan
Informasi dasar perusahaan merupakan pernyataan identitas diri atau
profil perusahaan berisi nama perusahaan, alamat,lokasi pabrik, jenis
produk, kapasitas produksi, tempat maklon jika ada, jumlah lini produksi,
jumlah tenaga kerja, dan jangkauan pasar.

2.2. Tujuan Penerapan


Perusahaan harus menyatakan secara tertulis tujuan penerapan SJH di
perusahaannya sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh LP
POM MUI yaitu : menjamin kehalalan produk yang dihasilkan secara
sinambung dan konsisten sesuai dengan Syariat Islam yang telah
ditetapkan berdasarkan fatwa MUI

2.3. Ruang Lingkup Penerapan


Perusahaan menjelaskan jangkauan penerapan sistem jaminan
perusahaan di lingkungan perusahaan, antara lain pembelian,
penerimaan bahan, lini produksi,penyimpanan bahan dan produk,
transportasi dan distribusi, serta pemajangan dan penghidangan
(untuk restoran).
4.0. LAMPIRAN
4.1. Panduan Halal
4.2. Pohon keputusan Identifikasi titik kritis :
1. bahan tanaman
2. bahan hewani dan turunannya
3. bahan mikrobial
4. bahan lainnya
5. penyimpanan bahan dan lini produksi
6. distribusion, transportasi dan display (untuk
restoran)
4.3. Prosedur detail dari aktifitas kritis
4.4. Matrik bahan yang telah disetujui LPPOM MUI
4.5. Daftar pertanyaan audit internal
4.6. Format Laporan Berkala
4.0. LAMPIRAN (lanjutan)
4.7. Form ketidaksesuaian
4.8. Daftar lembaga halal yang diakui MUI
4.9. Form hasil Management Review.
4.10 Surat penunjukan Tim Manajemen Halal
.
4.11 Form administrasi (traceability) :
.
11.1. Pembelian/pengadaan barang
11.2. Penerimaan barang
11.3. Penyimpanan barang
11.4. Penggunaan bahan baru
11.5. Pergantian bahan
11.6. Pengiriman produk
Kriteria
SISTEM JAMINAN HALAL
1. Kebijakan halal
2. Tim manajemen halal
3. Pelatihan dan edukasi
4. Bahan
5. Produk
6. Fasilitas produksi
7. Prosedur tertulis untuk aktivitas kritis
8. Kemampuan telusur
9. Penanganan produk yang tidak memenuhi kriteria
10. Audit internal
11. Kaji ulang manajemen
Kebijakan halal
merupakan pernyataan
tertulis tentang
komitmen perusahaan
untuk memproduksi dan
menyajikan produk halal
secara konsisten.
KEBIJAKAN HALAL
Manajemen puncak harus menetapkan
kebijakan halal tertulis yang menunjukkan
komitmen perusahaan untuk menghasilkan
produk halal secara konsisten.

Kebijakan halal dapat ditulis terpisah atau


terintegrasi dengan kebijakan sistem yang
lain. 50
KEBIJAKAN HALAL

Kebijakan halal harus didiseminasikan kepada semua


stakeholder.
Stakeholder : manajemen, tim manajemen halal,
pekerja, supplier.
Diseminasi dapat dengan berbagai macam
cara sesuai kebutuhan perusahaan (antara lain : trainin
briefing, memo internal, buletin, spanduk, email, banne
poster, dll)
CONTOH KEBIJAKAN HALAL
CONTOH KEBIJAKAN HALAL
KEBIJAKAN HALAL
KEBIJAKAN HALAL
KEBIJAKAN HALAL
TIM MANAJEMEN HALAL
Sekelompok orang yang ditunjuk oleh
manajemen puncak sebagai penanggung
jawab atas perencanaan, implementasi,
evaluasi dan perbaikan berkelanjutan
sistem jaminan halal di perusahaan.
Tim manajemen halal adalah Manajemen puncak
harus menetapkan tim manajemen halal.

Tanggung jawab tim harus didefinsikan dengan jelas.

Tim manajemen halal harus mencakup semua


bagian yang terlibat dalam aktifitas kritis 57
TIM MANAJEMEN HALAL
(Lanjutan)

Penunjukan tim manajemen halal harus disertai


bukti tertulis :
 SK, surat pengangkatan, surat penetapan
atau bentuk penunjukkan lain yang berlaku
di perusahaan.
Tim Manajemen Halal harus memahami
persyaratan (HAS 23000) sesuai dengan
tanggungjawab masing- masing.
Koordinator Tim Manajemen Halal sekurang-
kurangnya seorang Manajer Teknis dan
diutamakan seorang muslim.
58
TIM MANAJEMEN HALAL
(Lanjutan)
Tim Manajemen Halal dapat berada di level
corporate/holding dan/atau di pabrik/outlet,
gudang dan dapur.
Penetapan tanggungjawab tim dapat ditulis
terpisah atau terintegrasi dengan sistem yang
lain
Manajemen puncak harus menyediakan
sumberdaya yang dibutuhkan untuk
perencanaan, implementasi, evaluasi dan
perbaikan berkelanjutan sistem jaminan halal
TIM MANAJEMEN HALAL

LPPOM 59
MUI PROV. BALI 08-04-2017
 Dibentuk untuk membantu tugas Koordinator
AHI dan diangkat secara resmi dengan SK
manajemen.
 Personil dari departemen teknis yg terlibat dalam
proses halal
 Ditunjuk dengan memperhatikan persyaratan :
◦ Kompetensi yang dibutuhkan (pendidikan,
pelatihan, ketrampilan dan pengalaman).
◦ Berbagai bidang keahlian (teknologi dan formulasi
pangan, kimia, pembelian, manufacturing,
engineering, penggudangan dan administrasi)
• Setiap elemen dari organisasi manajemen halal
memiliki tugas dan wewenang dalam penerapan
SJH di perusahaan
• Uraian tugas dan wewenang harus diuraikan
secara jelas dalam Manual SJH
• Bukti tugas dan wewenang telah berjalan efektif
dapat dilihat dari adanya sign dari masing-
masing elemen sesuai tugas dan wewenangnya
• Mencakup tugas dan wewenang Top
manajemen/MR, (Koordinator) AHI, serta
semua fungsi dalam struktur organisasi SJH
yang sudah ditetapkan.
• Merumuskan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan
kehalalan produk yang dihasilkan.
• Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kebijakan halal
• Memberikan dukungan penuh bagi pelaksanaan SJH
• Menyediakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan SJH.
• Memberikan wewenang kepada Ketua Manajemen Halal
Internal untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu
yang berkaitan dengan pelaksanaan SJH.
• Menyusun sistem pembuatan produk baru
berdasarkan bahan yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
• Menyusun sistem perubahan bahan sesuai dengan
ketentuan halal.
• Mencari alternatif bahan yang jelas kehalalalannya.
• Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam
formulasi dan pembuatan produk baru.
 Menyusun dan melaksanakan prosedur pemantauan
dan pengendalian untuk menjamin konsistensi
produksi halal.

 Melaksanakan pemeriksaan terhadap setiap bahan


yang masuk sesuai dengan sertifikat halal,
spesifikasi dan produsennya.

 Melakukan komunikasi dengan KAHI terhadap setiap


penyimpangan dan ketidakcocokan bahan dengan
dokumen kehalalan.
Menyusun prosedur dan melaksanakan pembelian yang
dapat menjamin konsistensi bahan sesuai dengan daftar
bahan yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh
LPPOM MUI
Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam pembelian
bahan baru dan atau pemilihan pemasok baru.
Melakukan evaluasi terhadap pemasok dan menyusun
peringkat pemasok berdasarkan kelengkapan dokumen
halal
• Menyusun prosedur produksi yang dapat menjamin
kehalalan produk
• Melakukan pemantauan produksi yang bersih dan
bebas dari bahan haram dan najis.
• Menjalankan kegiatan produksi sesuai dengan matrik
formulasi bahan yang telah disusun oleh KAHI dan
diketahui oleh LPPOM MUI.
• Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam hal proses
produksi halal
Menyusun prosedur administrasi
pergudangan yang dapat menjamin
kehalalan bahan dan produk yang
disimpan serta menghindari terjadinya
kontaminasi dari segala sesuatu yang
haram dan najis.
 Melaksanakan penyimpanan produk dan bahan sesuai
dengan daftar bahan dan produk yang telah disusun
oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI.
 Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam sistem
keluar masuknya bahan dari dan ke dalam gudang.
PELATIHAN dan EDUKASI
Perusahaan harus mempunyai
prosedur tertulis pelaksanaan
pelatihan untuk semua personel
yang terlibat dalam aktifitas
kritis, termasuk karyawan baru.
PELATIHAN dan EDUKASI
(Lanjutan)

Prosedur pelaksanaan pelatihan dapat


berisi tujuan/target, jadwal, peserta,
metode, pemberi materi, materi,
dokumentasi, evaluasi dan indikator
kelulusan.
Materi pelatihan meliputi persyaratan
sertifikasi halal (Kriteria, Kebijakan dan
Prosedur pada HAS 23000) dan
disesuaikan dengan sasaran pelatihan.
70
Pelatihan dan Edukasi
(Lanjutan)

Pelatihan eksternal adalah pelatihan mengenai HAS


23000 (persyaratan sertifikasi halal) dengan trainer dari
LPPOM MUI, baik diselenggarakan oleh LPPOM MUI atau
oleh perusahaan dalam bentuk in house training.

Pelatihan eksternal dilakukan setidaknya dua tahun


sekali atau lebih sering jika diperlukan.
Pelatihan dan Edukasi
(Lanjutan)

Pelatihan internal harus dilaksanakan secara terjadwal


minimal setahun sekali atau lebih sering jika diperlukan.
Pelaksanaan pelatihan harus mencakup kriteria kelulusan
untuk menjamin kompetensi personel
Indikator kelulusan pelatihan internal adalah setiap
peserta memahami tanggungjawabnya dalam
implementasi dan perbaikan berkelanjutan sistem
jaminan halal.
Evaluasi kelulusan dapat dilakukan melalui tes tertulis,
tes lisan atau bentuk evaluasi lain yang berlaku di
perusahaan.
Bukti pelaksanaan pelatihan harus dibuat dan dipelihara.
BAHAN
BAHAN (Lanjutan)

Bahan Baku dan Bahan Tambahan


Seluruh bahan yang digunakan untuk
menghasilkan produk dan menjadi bagian
dari komposisi produk (ingredient).

Bahan Penolong
Bahan yang digunakan untuk membantu
pembuatan produk, tetapi bahan tersebut tidak
menjadi bagian dari komposisi produk
(ingredient), misal air, es, kuas.
ahan (Lanjutan)
Bahan tidak boleh berasal dan mengandung
bahan dari :
(a) Babi dan turunannya,
(b) Khamr (minuman beralkohol),
(c) Turunan khamr yang diperoleh hanya
dengan pemisahan secara fisik,
(d) Darah,
(e) Bangkai,
(f) Bagian dari tubuh manusia.
Bahan (Lanjutan)

Bahan tidak dihasilkan dari fasilitas


produksi yang juga digunakan untuk
membuat produk yang menggunakan
babi atau turunannya.
Bahan tidak bercampur dengan bahan
haram atau najis.
Bahan (lanjutan)
Bahan hewani harus berasal dari jenis hewan
halal.
Jenis Hewan yang harus disembelih harus
dibuktikan penyembelihan sesuai dengan
syariah Islam.
Semua hewan laut adalah halal, baik hidup
maupun bangkainya.
Cara pembuktian kehalalan bahan jenis hewan
yang harus disembelih :
(a) Sertifikat Halal MUI, atau
(b) Sertifikat dari lembaga yang sertifikat
halalnya dapat diterima. atau
(a) Diaudit langsung oleh LPPOM MUI.
BAHAN (Lanjutan)
Perusahaan harus mempunyai dokumen
pendukung untuk semua bahan yang digunakan.
Dokumen pendukung untuk semua bahan
yang digunakan harus valid.

Dokumen pendukung bahan dapat berupa


Sertifikat halal, diagram alir proses, spesifikasi
teknis, MSDS (Material Safety Data Sheets), CoA,
Statement of Pork Free Facility atau kombinasi
dari beberapa dokumen yang dikeluarkan oleh
produsen.
SERTIFIKAT HALAL DARI EROPA
Sertifikat Halal IFANCA Produk Carbon Aktif
SH IFANCA UNTUK PRODUK YANG DIHASILKAN RRC
Spesifikasi
Spesifikasi
BAHAN (Lanjutan)
Setiap bahan baru harus mendapatkan persetujuan LPPOM
MUI sebelum digunakan. (filter baru)

Bukti persetujuan bahan baru harus dipelihara.


Produksi halal hanya boleh menggunakan approved
material.

Bahan yang memiliki potensi/kemungkinan diproduksi di


fasilitas yang sama dengan bahan dari babi atau turunannya,
harus disertai pernyataan pork free facility dari produsennya

Perusahaan harus mempunyai prosedur untuk menjamin


semua dokumen pendukung bahan yang digunakan selalu
valid

LPPOM MUI PROV. BALI 08-04-2017 79


PRODUK
Produk merupakan
produk yang
didaftarkan untuk
sertifikasi Halal, baik
berupa produk akhir
maupun produk antara
(intermediet).
PRODUK (Lanjutan)

Produk pada Restoran


Semua menu yang
disajikan, baik dibuat
sendiri oleh perusahaan
maupun menu yang dibeli
dari pihak lain atau menu
konsinyasi (titipan).
PRODUK (Lanjutan)

Nama produk tidak menggunakan nama yang


mengarah pada sesuatu yang diharamkan atau
ibadah yang tidak sesuai dengan Syariat Islam.
Karakteristik / Profil Sensori Produk tidak memiliki
kecenderungan bau, rasa atau bentuk yang
mengarah kepada produk haram atau yang telah
dinyatakan haram berdasarkan Fatwa MUI.
PRODUK (Lanjutan)
Khusus untuk produk retail
Jika suatu merk tertentu didaftarkan, maka semua
varian produk dengan merk yang sama juga harus
didaftarkan.
Jika produk mempunyai formula, maka formula baku
harus dibuat dan didokumentasikan.
 Formula baku adalah formula yang menjadi
rujukan dalam proses produksi.
Khusus untuk restoran, semua menu harus
didaftarkan.
Restoran harus membuat aturan khusus yang
melarang pengunjungnya mengkonsumsi produk
dari luar.
DILARANG MEMBAWA
MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR
PINTU MASUK DIPASANG DI MEJA
LARANGAN MEMBAWA DARI LUAR
PRODUK (Lanjutan)

Jika ada acara ulang tahun di dalam restoran,


maka kue tart yang digunakan harus bersertifikat
halal. Jika tidak ada sertifikat halalnya, maka kue
tart hanya boleh dipotong dan difoto tetapi tidak
boleh dikonsumsi di dalam restoran. Demikian
juga dengan hadiah berupa makanan atau
minuman yang dibagikan kepada peserta acara
sebagai hadiah
90
Kebijakan Penulisan Nama
dan Bentuk Produk
 Nama Produk Yang Tidak Dapat Disertifikasi :
a. Nama produk yang mengandung nama minuman keras
b. Nama produk yang mengandung nama babi dan anjing
serta turunannya
c. Nama produk yang mengandung nama setan
d. Nama produk yang mengarah kepada hal-hal yang
menimbulkan kekufuran dan kebatilan
e. Nama produk yang mengandung kata-kata yang
berkonotasi erotis, vulgar dan/atau porno

 Bentuk Produk Yang Tidak Dapat Disertifikasi :


a. Bentuk hewan babi dan anjing.
b. Bentuk produk atau label kemasan yang sifatnya erotis,
vulgar dan/atau porno.
MENGARAH PORNOGRAFI
MENGARAH PORNOGRAFI
PERMEN DAN KUE
BENTUK
BABI/ANJING
KUE MIRIP HANTU KUE MIRIP ALAT KELAMIN
PRODUK MENJIJIKKAN
FASILITAS PRODUKSI

Fasilitas Produksi adalah


Semua lini produksi dan
peralatan pembantu yang
digunakan untuk
menghasilkan produk,
baik milik sendiri atau
menyewa dari pihak lain.
FASILITAS PRODUKSI (Lanjutan)

Seluruh nama (jika ada) dan alamat


fasilitas produksi harus didaftarkan.
Fasilitas produksi tidak boleh
digunakan bergantian untuk
menghasilkan produk yang disertifikasi
halal dan produk yang tidak
disertifikasi yang mengandung bahan
dari babi atau turunannya.
FASILITAS PRODUKSI (Lanjutan)

Fasilitas dan peralatan yang pernah digunakan untuk


menghasilkan produk yang mengandung babi atau
turunannya.
Jika akan digunakan untuk menghasilkan produk yang
disertifikasi  harus dicuci tujuh kali dengan air dan salah
satunya dengan tanah atau bahan lain yang mempunyai
kemampuan menghilangkan rasa, bau dan warna.
Setelah pencucian dilakukan validasi dan fasilitas tersebut
hanya boleh digunakan untuk produksi halal atau sebagai
sharing facility yang memenuhi syarat.
FASILITAS PRODUKSI (Lanjutan)
Fasilitas penyimpanan bahan dan produk,
termasuk gudang antara, harus mampu
mencegah terjadinya kontaminasi najis.
Prosedur sampling bahan dan produk harus
mampu mencegah terjadinya kontaminasi najis.
Fasilitas pencucian peralatan tidak boleh
digunakan bersama / bergantian dengan
peralatan yang kontak dengan bahan yang
berasal dari babi atau turunannya.
Produksi halal hanya dibolehkan di fasilitas
produksi yang memenuhi kriteria.
Sharing Facility (Penggunaan Fasilitas Bersama)
Fasilitas digunakan bersamaan
untuk menangani produk yang
disertifikasi dengan produk yang
tidak disertifikasi halal.
Syarat :
• Tidak ada penggunaan bahan babi
dan turunanannya,
• Aplikasi prosedur pencucian yang
memadai (sesuai syariah).
PROSEDUR TERTULIS
AKTIFITAS KRITIS
Prosedur Tertulis
Aktivitas Kritis
adalah seperangkat
tata cara kerja yang
dibakukan untuk
mengendalikan
aktifitas kritis.
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)
Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis
mengenai pelaksanaan aktifitas kritis.
Aktifitas kritis mencakup :
Seleksi bahan baru, pembelian bahan, formulasi
produk (jika ada), pemeriksaan bahan datang,
produksi, pencucian fasilitas dan peralatan
pembantu, penyimpanan dan penanganan
bahan/produk serta transportasi.

Cakupan aktivitas kritis tidak selalu


sama antar perusahaan, tergantung
pada proses bisnisnya masing-
masing
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS
KRITIS (Lanjutan)
Prosedur tertulis aktifitas kritis harus
disosialisasikan ke semua pihak yang terlibat.

Prosedur tertulis aktifitas kritis harus dievaluasi


efektifitasnya setidaknya setahun sekali.

Hasil evaluasi disampaikan ke pihak yang


bertanggung jawab.
Tindakan koreksi yang diperlukan dan
batas waktunya harus ditentukan.
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS
KRITIS (Lanjutan)
Seleksi dan Penggunaan Bahan Baru
Seleksi bahan baru adalah proses pemilihan
bahan baru dan persetujuan penggunaannya.

Dua tipe bahan baru :


1.Bahan yang sebelumnya tidak tercantum dalam
daftar bahan yang telah disetujui LPPOM MUI.
2.Bahan yang sudah ada dalam daftar bahan
yang telah disetujui LPPOM MUI tetapi berasal
dari produsen baru.

100
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS
KRITIS (Lanjutan)
Seleksi dan Penggunaan Bahan Baru

Prosedur seleksi bahan baru harus


menjamin semua bahan baru harus
melalui tahapan persetujuan
penggunaannya oleh LPPOM MUI.
 kecuali bahan dalam positive list.
Bukti seleksi bahan baru harus dibuat
dan dipelihara.
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS
KRITIS (Lanjutan)

Pembelian
Perusahaan harus mempunyai prosedur pembelian.
Prosedur harus menjamin semua bahan yang dibeli
untuk produk yang disertifikasitelah disetujui LPPOM
MUI.
Pembelian bahan dapat mengacu pada daftar bahan
yang disetujui LPPOM MUI.
 Bentuk daftar bahan dapat dimodifikasi sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
Formulasi Produk (Lanjutan)

Perusahaan harus mempunyai prosedur formulasi


(jika ada formula produk).
Prosedur harus menjamin semua bahan yang
digunakan telah disetujui LPPOM MUI.
Formula baku harus tersedia.
 Formula baku adalah formula/resep yang
menjadi rujukan pada proses produksi.
Prosedur formulasi juga mencakup reformulasi
produk. Reformulasi produk yang tidak
menghasilkan nama baru tidak perlu didaftarkan,
cukup dimintakan approval lewat SJH.
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)
Pemeriksaan Bahan Datang
Perusahaan harus mempunyai prosedur
tertulis pemeriksaan bahan datang.
Prosedur harus menjamin kesesuaian
informasi yang tercantum dalam dokumen
pendukung bahan dengan yang tercantum di
label kemasan bahan.
 Informasi mencakup nama bahan, nama
produsen, negara asal produsen dan logo
halal (jika sertifikat halal bahan
mempersyaratkan).
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)
Pemeriksaan Bahan Datang (Lanjutan)
Bahan bersertifikat halal MUI tidak perlu
diperiksa logonya.
Bahan dalam positive list tidak harus
diperiksa pada saat datang.
Bahan dengan sertifikat per pengapalan perlu
diperiksa secara spesifik (lot number, production
date).
Bukti pemeriksaan bahan datang harus dibuat
dan dipelihara
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)
Produksi
Perusahaan harus mempunyai prosedur
tertulis produksi.
Prosedur harus menjamin semua bahan yang
digunakan untuk produk yang disertifikasi
adalah bahan yang telah disetujui LPPOM MUI.
Formula produk (jika ada) harus sesuai dengan
formula bakunya.
Produksi dilakukan di fasilitas yang memenuhi
kriteria fasilitas.
Bukti harus dibuat dan dipelihara.
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)
Pencucian Fasilitas Produksi dan Peralatan
Pembantu
Perusahaan harus mempunyai prosedur
pencucian (pemakaian merk sabun halal).
Prosedur harus menjamin proses pencucian
dapat menghilangkan berbagai bahan
haram/najis. Ada tiga jenis najis, yaitu najis
berat, sedang dan ringan.
Najis berat dihilangkan dengan pencucian
dengan air 7 kali dan salah satunya dengan
menggunakan tanah atau bahan kimia.
FILTER AIR
PROSES PEMBUATAN AIR MINERAL
Air sumber

Silika (menyaring partikel kasar)

Carbon aktif (menghilangkan bau dan warna)

Resin (menetralkan pH)

Filter cartridge (menyaring mikroorganisme)

RO (cartridge sangat rapat-demineral)

Ozonisasi

Ultra Violet
CARBON AKTIF
Berfungsi menyaring : bahan organik, bau, warna, rasa, bahan
pencuci, klorin
Pada dasarnya, carbon terbuat dari :
1. Batubara
2. Batok Kelapa
3. Tulang (hewan-BABI, SAPI dll) –oleh karena itu air minum
kemasan berlabel HALAL
Selain itu Carbon juga berasal dari berbagai negara yang
membuatnnya dan berbagai macam jenis ukuran, kegunaan
maupun kualitasnya.
Secara Fisik, carbon terbagi menjadi :
1. Ganular
2. Powder
3. Block
Carbon juga diproduksi di dalam negeri, dengan harga yang murah ,
yang kadang memakai Tulang Babi sebagai bahan bakunya.
Untuk tahu carbon darimana asal bahan bakunya, silahkan di
cek di BPOM.
BAHAN FILTER
SILIKA TEMPURUNG KELAPA
BATUBARA
AIR MINERAL
BER OKSIGEN
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)

Penyimpanan dan Penanganan


Bahan/Produk
Perusahaan harus mempunyai prosedur
penyimpanan dan penanganan bahan/ produk.
Prosedur harus menjamin tidak adanya
kontaminasi bahan/produk dengan
bahan/produk najis/haram termasuk yang
berasal dari personil.
Bukti penyimpanan harus dibuat dan dipelihara
.
WAREHOUSE

SERTIFIKAT
HALAL

HALAL
PASS
HALAL PASS

110
PROSEDUR TERTULIS AKTIFITAS KRITIS
(Lanjutan)
Transportasi

Prosedur harus menjamin tidak


terjadinya kontaminasi bahan/produk
oleh bahan haram/najis.
Lingkup transportasi yang dimaksud
mencakup transportasi bahan dari
supplier ke gudang perusahaan dan
antar fasilitas produksi dalam
perusahaan.
TRANSPORTASI
BAHAN TIDAK KRITIS
FORMULASI MENU BARU
PEMERIKSAAN BAHAN DATANG
TANDA STATUS BAHAN
Kategori Produk berdasarkan pada Bahan Kritis yang
digunakan dan Kemamputelurusannya (Traceability) :
A. No Risk : tidak ada bahan kritis yang digunakan (Bahan
baku, bahan tambahan, bahan penolong), fasilitas
produksi bebas bahan haram dan najis. Contoh: tepung
beras, tepung jagung, bahan tambang, CPO, dll.
B. Low Risk : mengandung 1 atau 2 bahan kritis (tidak
termasuk bahan sangat kritis), fasiltias produksi bebas
bahan haram dan najis. Contohnya : minyak nabati,
tepung telur, ekstrak bahan nabati, AMDK, dll.
C.Risk : bahan selain kategori diatas.

D. Very High Risk : mengandung bahan turunan hewani dan


atau bahan kritis lainnya. Misalnya : gelatin, daging, whey,
rennet laktosa hewani, kondroitin, kolagen, dll.
KEMAMPUANTELUSUR
Perusahaan harus mempunyai prosedur untuk
menjamin ketertelusuran produk yang disertifikasi.
Maksud ketertelusuran
Selalu dapat dibuktikan bahwa produk yang
disertifikasi berasal dari bahan yang disetujui
(termasuk jika ada pengkodean bahan/ produk)
dan diproduksi di fasilitas yang memenuhi
kriteria.
Bukti ketertelusuran produk harus dibuat dan
dipelihara.
PENANGANAN PRODUK YANG
TIDAK MEMENUHI KRITERIA
Perusahaan harus mempunyai prosedur untuk
menangani produk yang tidak memenuhi
kriteria.
Prosedur harus memuat definisi yang tepat
tentang produk ini dan cara menanganinya.
Definisi : produk disertifikasi yang terlanjur
diproduksi dari bahan yang tidak approved dan
atau dari fasilitas yang tidak memenuhi
kriteria.
PENANGANAN PRODUK YANG TIDAK
MEMENUHI KRITERIA (Lanjutan)
Cara menangani :
 Tidak dijual ke pembeli yang mempersyaratkan
produk halal.
 Jika terlanjur dijual, maka produk harus ditarik.
Produk ini tidak boleh di : rework, down grade,
reformulasi.
Prosedur ini bersifat antisipatif .
karena kemungkinan kesalahan selalu ada.
Bukti penanganan produk ini harus dibuat dan
dipelihara
130
AUDIT INTERNAL

Verifikasi pemenuhan 11 kriteria yang


dilakukan oleh auditor dari perusahaan
(internal).
Perusahaan harus mempunyai prosedur
Tertulis pelaksanaan audit internal.
Audit internal harus dilakukan oleh pihak
kompeten dan Independen terhadap area
yang diaudit.
AUDIT INTERNAL (Lanjutan)
Pihak independen :
Dari divisi/bagian/departemen lain (audit
silang).
Dari pihak yang ditunjuk manajemen
untuk tugas ini
Audit internal harus dilakukan setidaknya
dua kali dalam setahun.
Pelaksanaan audit internal dapat
diintegrasikan dengan audit sistem lain
(jadwal, personel, check list).
AUDIT INTERNAL (Lanjutan)

Hasil audit internal disampaikan ke pihak yang


bertanggungjawab terhadap kegiatan yang diaudit.
Tindakan koreksi/perbaikan yang diperlukan harus
ditentukan batasnya dan mampu menyelesaikan
kelemahan yang ditemukan dan mencegah
terulangnya kelemahan tersebut di masa yang akan
datang.
Hasil audit internal harus disampaikan ke LPPOM
MUI sebagai laporan berkala setiap 6 bulan sekali
melalui CEROL SS-23000 (Menu : Regular Report).
KAJI ULANGMANAJEMEN
(MANAGEMENT REVIEW)

Assessment yang
dilakukan manajemen/
wakil manajemen
tentang efektifitas
pelaksanaan SJH.
KAJI ULANG MANAJEMEN (Lanjutan)

Perusahaan harus mempunyai prosedur


tertulis pelaksanaan kaji ulang manajemen.
Kaji ulang manajemen harus dilakukan
setidaknya setahun sekali.
Bahan Kaji Ulang :
 Hasil audit dan pelatihan internal dan
eksternal.
 Perbaikan dari kaji ulang sebelumnya.
 Perubahan kondisi di perusahaan.
BADAN PENYELENGGARA
JAMINAN PRODUK HALAL
(BPJPH)
PRESS RELEASE
1) UU NO 33/2014 TENTANG JAMINAN PRODUK
HALAL (JPH) YANG DISAHKAN PADA TANGGAL
17 OKTOBER 2014 OLEH PRESIDEN SBY
TERSEBUT MEMBERIKAN PAYUNG HUKUM
TERHADAP PROSES SERTIFIKASI HALAL.
2) SELAMA INI PROSES SERTIFIKASI HALAL
DILAKUKAN OLEH LPPOM MUI SEBAGAI
SEBUAH LEMBAGA NON PEMERINTAH.
UU NO 33/2014 TENTANG JPH MENGATUR
PROSES SERTIFIKASI SEBAGAI BERIKUT:
a) Pemohon mengajukan permohonan sertifikasi ke
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal
(BPJPH), sebuah badan di bawah Kemenag.
b) BPJPH mengarahkan permohonan tersebut ke
Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) untuk melakukan
pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk
(Pasal 30)
c) LPH boleh dibentuk oleh Pemerintah dan
masyarakat yang diajukan oleh lembaga keagamaan
Islam berbadan hukum (Pasal 12 dan 13)
d) Hasil pemeriksaan/audit oleh LPH diserahkan ke
BPJPH untuk diverifikasi. Kemudian BPJPH akan
mengajukan hasil audit tersebut ke MUI untuk
dimintakan fatwa untuk memperoleh penetapan
kehalalan produk (Pasal 32)
e) BPJPH menerbitkan sertifikat halal setelah fatwa
MUI menyetujuinya (Pasal 33)
3) PERANAN MUI TETAP ADA DAN SANGAT
PENTING DALAM PROSES SERTIFIKASI HALAL
4) BPJPH MERUPAKAN REGULATOR DALAM PROSES
SERTIFIKASI HALAL
5) UU NO 33/2014 TENTANG JPH MENJAMIN
TERPENUHINYA HAK-HAK KONSUMEN
UNTUK MEMPEROLEH PRODUK YANG
HALAL DAN BAIK. OLEH KARENA ITU
SERTIFIKASI HALAL MENJADI WAJIB
SIFATNYA.
6) DENGAN BERLAKUNYA UU NO 33/2014 INI,
PERANAN LPPOM MUI MENJADI LPH.
KEPALA
BPJPH

Prof. Dr.Ir.
SUKOSO
(duduk paling
kiri)