Anda di halaman 1dari 24

PENGAPIAN MAMPU PROGRAM

UNTUK
MOTOR BAKAR
(PROGRAMMABLE IGNITION FOR COMBUSTION ENGINE )

Oleh
PT. REXTOR TECHNOLOGY INDONESIA & PT. MOTOCOURSE TECHNOLOGY
Garis besar sistim pengapian

1. Arti pembakaran
2. Syarat pembakaran
3. Fungsi pengapian
4. Pengapian mampu program
Arti pembakaran

Pembakaran adalah suatu runutan


reaksi kimia antara suatu bahan bakar dan suatu oksidan,disertai
dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam
bentuk pendar atau api.

Contoh yang lebih sederhana dapat diamati pada


pembakaran hidrogen dan oksigen, yang merupakan
reaksi umum yang digunakan dalam mesin roket, yang
hanya menghasilkan uap air.
Syarat pembakaran

1. Bakan bakar, (lpg, gasolin, minyak diesel, minyak tanah, kertas,


kayu,dll, umumnya mengandung hidrokarbon)
2. Oksidizer, (oksigen, udara, dll)
3. Sumber kalor (korek api, rokok, sumber panas yang lain)

Point ke 3, banyak orang menyebutnya api (flame), namun kurang tepat. Karena api bukan
satu-satunya yang dapat memulai pembakaran. Maka yang lebih tepat adalah sumber kalor
(heat source). Proses reaksi kimia membutuhkan energi inisiasi untuk memacu reaksi kimia
itu sendiri. Jika reaksi kimia sudah terjadi, maka reaksi kimia itu akan mengkasilkan kalor
yang akan digunakan sebagai pemicu proses reaksi kimia dari campuran bahan bakar dan
oksidizer yang belum terbakar.
Syarat sekunder adalah dukungan enviromental. Misal temperatur atau tekanan. Reaksi kimia
tidak akan terjadi jika temperatur dan tekanan linkungannya terlalu rendah. Syarat yang lain
adalah campuran bahan bakar dan oksidizer harus baik, artinya campuran bahan bakar dan
oksidiser yang balance tidak terlalu banyak bahan bakarnya “rich mixture”, atau terlalu sedikit
bahan bakarnya “lean mixture”. Jika campuran bahan bakan tersebut terlalu kaya atau miskin,
maka kalor dari campuran tersebut akan menjadi rendah, sehingga proses pembakaran tidak
optimal.
Fungsi pengapian

 Sistem pengapian berfungsi sebagai pemicu terjadinya proses


pembakaran di ruang bakar antara bahan bakar dan udara yang
bertekanan.
 Pembakaran diruang bakar meghasilkan tekanan yang akan
mendorong piston menuju TMB, inilah yang terjadi saat siklus
tenaga pada mesin 4 langkah.
 Pembakaran yang tepat untuk menghasilkan efisiensi tekanan
yang tinggi memerlukan beberapa syarat, yaitu :
 Jumlah perbandingan bahan bakar dan udara (AFR) yang tepat
antara 12<AFR<18
 Waktu pengapian yang tepat untuk suatu kondisi ruang bakar
yang berbeda-beda.
Jenis
pengapia
n
Pengapian mesin racing
Mesin racing membutuhkan perangkat pengapian yang lebih baik dari kondisi standar, hal ini
dikarenakan mesin racing bekerja pada kondisi extreme, diantaranya :
1. Putaran mesin tinggi
2. Temperatur tinggi
3. Kompresi tinggi
4. Naiknya efisiensi volumetris
Giagram pengapian ideal

Pengapian advance Pengapian normal Pengapian retard

Skema pengapian DC CDI


Pengapian mampu program
Alasan : Waktu pengapian yang berbeda-beda untuk tiap kondisi mesin
Fungsi : Mengakomodir waktu pengapian sesuai dengan putaran mesin
Majority : Timing pengapian dapat diatur menurut putaran mesin tertentu

Istilah dalam pengapian programmable


Kurva pengapian
Sering disebut dengan MAP atau juga derajat pengapian, adalah besarnya sudut yang antara
crank shaft dengan TMA saat terjadi pengapian.

Delta pengapian
Adalah selisih antara pulser angle dan pick up angle. Selisih ini menyatakan besar derajat
pengapian terbesar yang dapat dilayani oleh perangkat pengapian. Delta pengapian.

Limiter
Sesuai dengan arti kata yaitu adalah batasan. Batas putaran mesin yang diijinkan saat
beroperasi. Hal ini penting diperhatikan agar mesin tidak bekerja diatas kemampuannya.
Limiter.
Dasar pemprograman
Proses aliran pembacaan data diawali dari sensor pulser. Pickup pada rotor akan menginterupsi
pulser dan mengirim data kepada CDI. Data yang dikirim pulser tersebut adalah putaran mesin yang
akan didiskripsikan oleh CDI sebagai fungsi waktu. Mengapa fungsi waktu? Karena CDI tidak dapat
membaca derajat.

Demikian juga data derajat pengapian yang tersimpan dalam CDI, akan diartikan CDI sebagai
seberapa lama waktu penundaan pengapian setelah pickup menginterupsi pulser.

Dasar perhitungan derajat pengapian pada CDI.

Contoh

Langkah pemprograman
Langkah demi langkah pemprograman CDI.
Contoh
Langkah pemprograman
Persiapan hardware
1. PC atau laptop
- Pentium III (500MHz)
- OS Windows 98/2000/XP/Vista
2. CDI
- Usahakan sesuai dengan tipe motor
3. Motor
-Memastikan jalur kabel benar

Merubah soket CDI


Bila menggunakan CDI tipe lain, maka perlu diperhatikan letak pin kabel, misal CDI asli
menggunakan tipe A, kemudian diganti tipe B maka perlu dilakukan perubahan pin kabel
seperti gambar dibawah.

Tipe B
Tipe A 1. Koil
1. Koil 2. Massa
2. Massa 3. Pulser
3. Pulser 4. Massa
4. Massa 5. Not Connected
5. Not Connected 6. 12 Volt Battrey
Troubleshooting CDI Programmable

Bebera hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemprograman diantaranya :


1. Bentuk kurva pengapian pada umumnya
Kurva pengapian memiliki karakter yang berbeda untuk tiap modifikasi mesin. Beberapa bentuk
dasar kurva pengapian seperti berikut.

Kurva pengapian Jupiter Kurva pengapian Mio


Troubleshooting CDI Programmable

Kurva pengapian tersebut sesuai dengan kebutuhan mesin, misal pada Jupiter kurva pengapian naik
terus hingga 9000 an rpm, kemudian mulai menurun. Penurunan ini dikarenakan kemampuan
optimal mesin juga mulai turun, penurunan ini sebanding dengan pengisian campuran bahan bakar
ke silinder. Pada kurva derajat pengapian Mio, kenaikan rpm seperti pada Jupiter namun diperlukan
naik cepat pada putaran awal hingga 4500 an rpm. Karakter ini berbeda dengan mesin Jupiter,
dikarenakan mesin Mio mempunyai desain transmisi CVT, dimana untuk akselerasi awal mesin
harus berputar tinggi sewaktu puli pada CVT melebar. Kondisi seperti itu membuat beban mesin
naik, sehingga derajat pengapian naik dan mencapai peak pada putaran mesin rendah.

Kurva pengapian naik, peak dan turun


Kurva pengapian mempunyai dasar karakter naik pada putaran rendah kemudian mulai mencapai
peak ( kondisi maksimum ) pada putaran menengah – atas, selanjutnya pada putaran atas derajat
pengapian cenderung turun hingga menyentuh limiter.
Kurva pengapian berhubungan dengan VE (volumetrik evisiensi), VE tertinggi yaitu pada saat peak
torsi, sehingga kurva pengapian pada saat peak torsi adalah pada nilai tertinggi.
Kurva pengapian naik

Kurva pengapian naik dari titik 0 derajat. Pada putaran awal derajat pengapian terletak pada nilai
<10 derajat BTDC, hal ini dikarenakan untuk penyalaan awal ( start ). Jika derajat pengapian
disetting pada nilai tinggi sewaktu start, maka dipastikan akan sulit untuk start awal.
Kurva pengapian peak dan menurun hingga limiter

Kurva pengapian mencapai peak ( 35° BTDC ) pada putaran menengah atas dan mulai turun hingga
garis limiter. Hal ini dikarenakan pengisian optimum campuran bahan bakar dan udara terletak pada
kira – kira putaran mesin 9000 – 10000 rpm. Kemampuan pengisian diatas putaran 10000 rpm
akan semakin turun, sehingga derajat pengapian harus diset untuk menyesuaikan kondisi tersebut.
Kompresi ruang bakar terhadap kurva pengapian
2. Bentuk kurva pengapian terhadap kompresi ruang bakar
Kurva pengapian berubah menyesuaikan dengan kompresi pada ruang bakar. Maksudnya adalah bila
menggunakan kompresi yang berbeda, maka kurva pengapian akan berbeda pula. Kompresi yang
makin tinggi, membutuhkan kurva pengapian yang lebih mundur ( retard ) dibanding dengan
kompresi yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan pada kompresi tinggi bahan bakar dapat dinyalakan
mendekati titik mati

Kompresi tinggi Kompresi rendah


Bahan bakar terhadap kurva pengapian
3. Jenis bahan bakar terhadap kurva pengapian
Bahan bakar untuk mesin pembakaran dalam memiliki jenis berfariasi. Bahan bakar tersebut
dibedakan berdasar nilai oktan-nya. Semakin tinggi nilai oktan, semakin tahan terhadap kompresi
tinggi diruang bakar. Untuk nilai oktan yang lebih tinggi, derajat pengapian akan lebih mendekati titik
mati atas ( retard ) untuk kompresi yang sama.

Oktan tinggi Oktan rendah


Energi pengapian terhadap kurva pengapian
4. Energi pengapian CDI terhadap kurva pengapian
Sistem pengapian CDI memiliki energ pengapian yang berbeda – beda. Makin besar energi pengapian
yang dihasilkan CDI, semakin besar pula percikan api yang terjadi di busi. Percikan api busi yang lebih
besar akan lebih cepat meledakan campuran bahan bakar yang terkompresi diruang bakar, sehingga
dengan energi pengapian yang lenih besar, maka derajat pengapian akan turun dibanding
sebelumnya.

Energi pengapian besar Energi pengapian kecil


Durasi camshaft terhadap kurva pengapian

5. Durasi camshaft terhadap kurva pengapian


Durasi camshaft dapat mempengaruhi derajat pengapian. Durasi yang besar memiliki waktu
pengisian yang lama, bahan bakar dan udara yang masuk lebih besar dibandingkan durasi kecil,
sehingga semakin banyak bahan bakar dan udara yang masuk ruang bakar. Bahan bakar dan udara
yang makin pekat tersebut perlu diledakan jauh dari titik mati atas, sehingga kurva pengapian perlu
lebih advance ( maju ).

Durasi besar Durasi kecil


Lift katup terhadap kurva pengapian

6. Lift katup terhadap kurva pengapian


Lift katup tergantung pada lift camshaft dan rasio rocker arm. Makin besar lift katup, makin lama
katup akan membuka jika durasi camshaft tetap. Sehingga bahan bakar dan udara yang masuk
semakin banyak mengisi ruang bakar. Bahan bakar yang makin banyak tersebut perlu dipercikan
lebih awal dari lift rendah.

Lift tinggi Lift rendah


Kesimpulan

1. Waktu pengapian berbeda untuk masing-masing karakter mesin.

2. Waktu pengapian harus menyesuaikan dengan julah bahan bakar,


udara dan putaran mesin.

3. Pengapian yang dapat diprogram mampu mengoptimalkan mesin


untuk memcapai performa yang semestinya.
Jenis pengapian
 Menurut mekanisme kerja :
 Manual : platina
 Elektronik : CDI, TCI

 Menurut sumber arusnya


 AC (arus bolak-balik)
 DC (arus searah)

Komponen & syarat pengapian racing Pengapian standar


1. Pick up coil dan pulser Sistem pengapian standar memiliki
-Akurasi dan daya tahan tinggi keterbatasan untuk melayani sebuah mesin
2. CDI racing, karena :
-Energi pengapian besar
-Dapat diprogram CDI : memiliki limiter mesin rendah
3. Koil Busi : suhu kerja rendah
-Tegangan induksi tinggi Koil : tegangan induksi rendah
4. Kabel busi Kabel busi : hambatan besar
-Tahanan rendah
5. Busi
-Sesuai dengan temperatur kerja
-Hambatan rendah kembali
Kurva pengapian kembali
CONTOH CARA PENGUKURAN SUDUT PULSER DAN SUDUT PICKUP COIL kembali
Awal pickup
TOP Delta pengapian diukur dengan mencari besar derajat
antara awal tonjolan pickup dengan tanda TOP pada
magnet. Misal hasil disamping adalah sebesar 100°. Hasil
ini selanjutnya disebut dengan pickup angle.

Langkah selanjutnya adalah mencari besar derajat antara


pulser dan tanda intip. Besaran ini yang kemudian disebut
pulser angle. Misal pada contoh dibawah pulser angel
sebesar 120°

FIRE PULSER Lubang intip

Delta pengapian = pulser angle – pickup angle


= 120° - 100 °
= 20 °
LIMITER

kembali
Limiter pada CDI berfungsi untuk membetasi putaran mesin agar tidak berputar diatas batas
amannya sehingga daya tahan dapat terjaga, pada sample diatas ini limiter dipasang pada putaran
13500 rpm.
Perhitungan pada CDI kembali
2000
2000 rpm  rps  33,3 rotasi / sec ond
60
1 putaran  1s / 33,3  0,03s
0,03s
waktuuntuk menenpuh1 derajat   8,33 10-5 s / derajat
360

Misal pada contoh disamping, pada 2000 rpm kita set pada 3°
BTDC, maka CDI akan melakukan penundaan waktu pengapian
selama :

20(delta pengapian )  3( sudut pengapian )  17


17° adalah jarak yang ditempuh dari awal pulser mendapat sinyal
hingga saat pengapian yaitu 3° BTDC. CDI akan memulai
pengapian setelah beberapa saat sesudah mendapat sinyal dalam
waktu :

8,33  10 -5 (s / derajat )  17  1,41 10 -3 sec ond