Anda di halaman 1dari 24

PIL (PILULAE)

OLEH :
1. AZRIEL RESTU F (1913206007)
2. ISWARI RAHMI A (1913206018)
3. LUQYANA SALSABILA (1913206023)
4. MUHAMMAD IQBAL F (1913206028)
5. SITI AINUN N (1913206044)
PENGERTIAN
• Pil berasal dari bahasa latin yaitu “Pila” yang berarti bola.
• Dalam Farmakope edisi III : Pil adalah suatu sedian berupa
massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat.
• Dalam buku ilmu meracik obat : Pil adalah suatu sedian yang
berbentuk bulat seperti kelereng mengandung satu atau lebih
bahan obat.
• Menurut Leerboek der Receptuur : Pil adalah salah satu
bentuk sedian padat yang berbentuk bola kecil dengan berat
100 – 500 mg.
• Pil adalah sediaan kecil, berbentuk bulat atau bulat telur untuk
pemakaian dalam (Eric W. Martin, 1971 : 802).
• Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng
mengandung satu atau lebih bahan obat (Moh. Anief, 2008 :
80).
MACAM-MACAM SEDIAN PIL
• Bolus: beratnya lebih dari 300 mg
• Pil: beratnya sekitar 60 – 300 mg
• Granul : beratnya 1/3 – 1 grain (1 grain = 64,8 mg)
• Parvul : beratnya kurang dari 1/3 grain
KEUNTUNGAN SEDIAAN PIL

• Mudah digunakan / ditelan


• Rasa obat yang tak enak dapat tertutupi
• Relatif lebih stabil dibandingkan serbuk dan solutio
• Sangat baik untuk sediaan yang penyerapannya dikehendaki
secara lambat, misal: Kathartika
KEKURANGAN SEDIAAN PIL
• Kurang cocok untuk obat yang dikehendaki memberikan aksi
yang cepat.
• Obat tertentu dalam larutan pekat dapat mengiritasi lambung.
• B.O. Padat volominous dan B.O. Cair dalam jumlah lebih
• Penyimpanan lama sering menjadi keras dan tidak memenuhi
waktu hancur
• Ada kemungkinan ditumbuhi jamur (dapat diatasi dengan
bahan pengawet)
SYARAT SEDIAAN PIL YANG BAIK

•Homogen ukuran, bentuk, warna dan dosisnya


•Mempunyai kekenyalan, daya rekat, dan kekerasan tertentu.
•Mempunyai waktu hancur tertentu
•Dalam FI ed. III, pil harus memenuhi beberapa syarat :
a. Keseragaman bobot
b. Waktu hancur pil = Waktu hancur tablet
1. Tidak lebih dari 15 menit untuk pil tak bersalut
2. Tidak lebih dari 60 menit untuk pil bersalut gula dan bersalut
selaput.
3. Pil bersalut enterik : 3 jam dalam larutan 0,06 N HCl dan
tidak lebih dari 60 menit dalam larutan pendapar pH 6,8
KOMPOSISI DARI PIL
1. ZAT UTAMA
2. ZAT TAMBAHAN
ZAT UTAMA
Berupa bahan obat yang harus memenuhi persyaratan farmakope
misalnya KMnO₄, Asetosal, digitalis folia, garam ferro, dll.
ZAT TAMBAHAN
1. Zat pengisi
• Memperbesar volume pil (akar manis/radix liquiritiae, bolus
alba, atau bahan lain yang cocok).
• Sebaiknya pengisi yang dipilih Radix Liquiritiae terutama pada
pil-pil yang jumlah zatnya sedikit. Jika ada Succus Liquiritiae
sebagai zat pengikat, banyaknya Radix Liquiritiae sekurang-
kurangnya dua kali dari Succus Liquiritiae. Radix Liquiritiae
merupakan suatu zat pengisi yang baik sekali, lebih baik
daripada serbuk tumbuh-tumbuhan manapun, karena Radix
Liquiritiae memberikan memberikan suatu massa pil yang
kenyal, yang jika dibuat dengan sejumlah zat pengikat yang
tepat akan mudah pecah di lambung.
2. Zat pengikat
• Untuk melekatkan massa pil antara yang satu dengan yang lain (Sari
akar manis, Gom akasia, tragakan, campuran bahan tersebut,
atau bahan lain yang cocok. Perlu diingat zat pengikat adalah
bahan-bahan yang bersifat lengket bila terkena air).
• Biasanya dipakai Succus Liquiritiae dan jumlahnya pada umumnya 2
g untuk 60 pil. Jumlah ini selalu cukup untuk jumlah zat aktif yang
sedikit, tetapi untuk jumlah zat aktif yang besar, dibutuhkan jumlah
Succus Liquiritiae yang lebih banyak tergantung dari sifat obat yang
dibuat massa pil. Pada pembuatan massa pil, kedalam campuran
obat Radix Liquiritiae dan Succus Liquiritiae harus ditambahkan
suatu cairan supaya dapat diperoleh suatu massa yang homogen
yang dapat dikepal. Biasanya dipakai air tetapi lebih tepat jika
dipakai Aqua Glyserinata yaitu suatu campuran yang sama banyak
antara air dan gliserol. Pada waktu massa pil mongering, yang
tertinggal hanya gliserol sehingga didapat suatu pil kering.
3. Zat pembasah
• Digunakan untuk membasahi massa agar dapat dibentuk (Air,
gliserol, sirup, madu, campuran bahan tersebut atau bahan lain
yang cocok).
4. Zat penabur
• Digunakan untuk mencegah sediaan pil yang satu dengan lain tidak
melekat (Likopodium atau talk, atau bahan lain yang cocok).
5. Zat penyalut
• ditambahkan untuk tujuan tertentu. macam-acam tujuan
penyalutan:
1. untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari zat aktifnya.
2. Mencegah perubahan/teroksidasinya zat aktif oleh udara.
3. Supaya pil pecah dilambung, karena zat aktif dapat mengiritasi
lambung atau zat aktif rusak oleh asam lambung
• Contoh : (Perak, balsam tolu, keratin, sirlak, kolodium, salol, gelatin,
gula, atau bahan lain yang cocok) (FI Ed III, 1979 : 23).
TAHAP PERACIKAN PIL
A. Pembuatan Massa Pil
1. Hitung bobot b.o per mil
2. Tentukan macam & jumlah bahan tambahan
3. Lakukan pencampuran b.o. dengan bahan pengisi, pengikat,
dan pemecah
4. Tambahkan bahan pembasah sedikit demi sedikit sambil
digilas kuat
Cara mengetahui massa pil yang baik :
1. Massa pil dipindahkan ke kertas perkamen
2. Digulung dengan tangan membentuk silinder
3. Bila silinder masih pecah/retak, ditambah pembasah
4. Bila silinder terlalu lembek/lengket, ditambah bahan pengisi
lagi
B. Pemotongan Pil
1. Massa pil yang sudah jadi dipindahkan ke kertas perkamen, kemudian
dibentuk silinder dengan tangan (ujung silinder harus pipih).
2. Pindahkan ke papan pemotong pil yang sudah diberi penabur, lalu buat
silinder panjang (sesuai jumlah pil yang diminta).
3. Dipotong dengan pemotong pil.
C. Pembulatan Pil
1. Potongan massa pil pindahkan ke alat pembulat pil yang sudah diberi
penabur.
2. Pil dibulatkan dengan gerakan memutar ditambah sedikit penekanan.
3. Setelah bulat, masukkan wadah sambil dihitung.
D. Penyalutan Pil
• Bila pil perlu disalut, lakukan penyalutan sesuai jenis bahan penyalut yang
dipakai.
• Tujuan :
1. Melindungi Bahan Obat dari pengaruh lingkungan (salut selaput) contoh
: garam-garam ferro disalut tolubalsem.
2. Menutupi rasa bahan yg tak enak (salut gula), contoh : kloramfenikol,
strychnin
3. Memperbaiki penampilan pil (salut selaput)
4. Untuk menghindari oksidasi zat aktifnya. Penyalutan dilakukan dengan
larutan Balsamum Tolutanum 1 bagian dalam 9 bagian Chlorofornum.
Dilakukan dalam botol mulut lebar, pil-pil disiram dengan sedikit larutan
Tolubalsem tersebut dan digojog keras-keras lalu dipindahkan pada
piring dan digerak-gerakkan agar tidak melengket sampai kering.
5. Untuk menghindari agar pil tidakpecah dalam lambung karena :
1. Zat aktifnya tidak dikehendaki bekerja dalam lambung tetapi dalam
usus.
2. Zat aktifnya mengiritasi lambung.
3. Zat aktifnya rusak karena adanya asam lambung.
CARA PENYALUTAN SEDIAAN PIL
a. Gula
Pil diguling-gulingkan dalam sedikit Sirupus simpleks, kemudian digulingkan dalam campuran
saccharum pulv. + Amylum tritici + Gom Arab (1:2:1,5) ad kering.
b. Gelatin
Pil ditusuk jarum, celupkan dalam larutan gelatinpanas (20% gelatin dalam air, biarkan dingin).
Bekas tusukan jarum ditutup dengan menotolkan batang pengaduk pada lubang tersebut.
c. Tolubalsem
Pil dimasukkan dalam cawan berisi larutan tolubalsem dalam CHCl3 (10%), lalu digoyang-goyang
sampai CHCl3 menguap. Pindahkan pil ke wadah lain, dan biarkan kering.
d. Perak
Pil dibasahi dengan sirupus simpleks atau mucilage gom arab, kemudian dikocok dengan Ag
foliatum (2 lbr/30 pil) sampai tersalut merata. Jika bahan obat beraksi dengan Ag, disalut dulu
dengan Collodium.
e. Salol
Pil dimasukkan dalam cawan berisi lelehan salol (20 g/60 pil) sampai terbasahi merata. Pindahkan
ke wadah lain dan biarkan sampai salol memadat.
f. Schellak
Pil disalut dengan larutan 10% schellak dalam spiritus. Setelah kering disalut lagi dengan
campuran schellak ditambah asam stearate ditambah aether cum spiritus (5:2,5:50)
PRINSIP PEMBUATAN
BERDASARKAN MACAM BAHAN
OBAT
1) Pil yang mengandung obat berupa serbuk (padat).
Pil yang mengandung zat berkhasiat yang bersifat oksidator digunakan
Adeps Lanae atau Vaselinum sebagai zat pengikat dan Bolus Alba 100
mg tiap pil sebagai zat pengisi. Pengunaan Adeps atau Vaselinum adalah
kira-kira 1/6 berat zat padatnya. Caranya menambahkan sedikit-demi
sedikit digerus dan ditekan.

2) Pil yang mengandung obat berupa ekstrak kental.


Ekstrak kental direndam dengan Spiritus dilutus atau cairan lain yang
digunakan sebagai ekstrak dan dicampur dengan Liquiritiae Radix.
Apabila jumlahnya sedikit diperlukan Succus Liquiritiae sebagai
tambahan zat pengikat 1 g untuk 30 pil. Apabila jumlah ekstrak kental
besar yaitu 1,5 g lebih, kebutuhan Succus Liquiritiae dapat dikurangi,
bahkan tidak diperlukan Succus Liquiritiae tapi cukup dibuat dengan
Liquiritiae Radix saja,misalnya Valerianae Extractum dan Secalis Cornuti
Extractum spissum.
PIL DENGAN BAHAN-BAHAN
KHUSUS
1. Pil-pil yang mengandung senyawa Hydrargyrum:
Dibuat dengan menggerus hydrargyrum, dengan sama berat
Liquiritiae Radix dan air, setelah tidak terlihat butir hydrargyum maka
masa ditambah Liquiritiae Radix dan Succus Liquiritiae secukupnya
sampai mendapat masa pil yang cocok. Bila jumlah Hydrargyrum kecil
maka dapat ditambahkan Succus dan Liquiritiae Radix dalam
perbandingan 1 : 2

2. Pil yang mengandung Ferrosi Carbonas dan Ferrosi Iodium:


Formula dapat dilihat di Farmakope Belanda edisi V, untuk pil
Ferrosi Carbonas setiap pil mengandung 50 mg dan formula untuk
pembuatan 300 pil jadi seluruh formula mengandung 15 g Ferrosi
Carbonas. Dibuat dengan mereaksikan Ferrosis Sulfas dengan Natrii
Bicarbonas di atas tangas air. Sebagai pereduksi adalah Mel dan sebagai
zat pembasah gliserin dan air sampai berat tertentu. Hal ini
dimaksudkan agar reaksi pembentukan Ferrosis Carbonas berjalan
sempurna yaitu gas CO2 yang terjadi hilang.
3. Pil-pil yang mengandung garam-garam yang dapat menyerap air:
Seperti Natrii Iodium sering terjadi penggumpalan hingga sulit dibuat
masa pil yang baik. Untuk mencegahnya maka perlu diberi air secukupnya
biar larutan setelah itu baru dibuat masa pil.
4. Pil-pil dengan zat-zat higroskopik:
Seperti Kalii Bromidum, Kalii Iodidum dan Natrii Salicylas supaya
digerus halus dan didalam mortar yang panas . Untuk pil yang mengandung
zat yang higroskopis sebagai zat pembasah jangan menggunakan Aqua
Glycerinata.
5. Pil-pil yang mengandung senyawa yang sangat Higroskopis:
Digunakan sebagai larutan seperti Calcii Bromidum, Calcii Chloridum,
Kalii Acetas. Jika didalam resep tertulis garamnya maka yang diambil sebagai
larutannya yang sebanding :
- Solutio Kalii Acetatis mengandung 331 / 3% Kalii Acetas
- Solutio Calcii Bromidi mengandung 25% Calcii Bromidum
- Solutio Calcii Chloridi mengandung 25% Calcii Chloridum
- Solutio Ferri Chloridi mengandung 75% Ferri Chloridum
Larutan tersebut setelah ditimbang diuapkan sampai sisa airnya kira-kira
tinggal kurang dari 1 g untuk 30 pil. Harus diingat jangan menguapkan Larutan
Ferri Chloridum karena garam Ferrinya akan terurai.
6. . Pil-pil yang mengandung senyawa Codeinum base dengan garam
Ammonium atau Ichtammolum :
Karena Codeinum base terhitung mudah larut dalam air dan
merupakan base lebih kuat dari garam Ammonium, maka akan bereaksi dan
timbul gas NH3 yang bebas serta membuat pil jadi pecah.
7. Pil-pil yang dapat pecah Karena zat-zat yang terkandung dapat bereaksi
hingga memimbulkan gas yang memecah pil:
Supaya tidak terjadi jangan menggunakan zat pembasah air yaitu
dengan menggunakan zat pengikat yang lain :
- Pil yang mengandung Ferrosi Carbonas dengan Acidum Citricum akan
menimbulkan gas CO2
- Pil yang mengandung Meditrenum akan timbul gas CO2 karena terjadi
reaksi antara Iodochloroxychinolin Sulfonas dengan Natrii Bicarbonas
- Pil yang mengandung Ferrum Reductum atau pulveratum dengan asam
seperti Acidum Cutricum akan bereaksi dan timbul gas H2 yang akan
memecah pil.
8. Pil-pil yang mengandung Hydrargyri Cloridum:
Akan menghilangkan selaput lendir dari lambung dan usus maka
perlu Hydrargyri Chloridum dalam keadaan yang halus. Untuk itu perlu
penambahan Natrii Chloridum untuk memudahkan Hydrargryi Chloridum
larut dalam air. Penambahan Natrii Chloridum adalah setengah berat
Sublimat dan dilarutkan dulu dengan air sama berat,
9. Pil-pil yang mengandung Diphantoinum Natrium:
Jangan menggunakan Liquiritiae Radix tetapi menggunakan Succus
Liquiritiae 1 bagian dan Amyilum 3 bagian dan sebagai zat pembasah
digunakan Sirupus Simplex. Hal ini untuk menjaga agar pil lekas hancur dalam
lambung.

10. Pil-pil yang mengandung Quinini Sulfas:


Ada dua macam yaitu yang berwarna coklat dan berwarna putih.

11. Pil-pil yang mengandung zat pengikat yang bereaksi dengan asam :
Seperti Gentianae Extractum, Succus Liquiritiae dan Liquiritiae
Extractum. Bahan tersebut akan bereaksi dengan Ferrum reductum, Ferrum
pulveratum yang menimbulkan gas H2 serta menyebabkan pil menjadi
menggelembung dan pecah. Bahan tersebut akan bereaksi pula dengan Natrii
Bicarbonas, Ferrosi Carbonas yang menimbulkan gas CO2 serta menyebabkan
pil menjadi menggelembung dan pecah. Maka itu Succus Liquiritiae,
Liquiritiae Extractum dan Gentianae Extractum harus dinetralkan dulu dengan
MgO 50 mg tiap gram Ekstrak dan Succus.
12. Pil-pil yang mengandung Ekstrak kering :
a. Aloe Extractum Aquosum siccum, Rhamni Frangulae Extractum
Aquosum siccum, Rhamni Phursianae Extractum siccum, Rhei
Extractum dapat dibuat pil cukup dangan Liquiritiae Radix dan zat
pembasah Aqua Glyserinata.
b. Chinchonae Extractum siccum dan Colae Extractum siccum
memerlukan Succus Liquiritiae sebagai zat pengikat untuk dapat dibuat
masa pil.
c. Pil dengan ekstrak kering supaya dibuat keras jangan lembek agar
tidak berubah bentuk.
TERIMAKASIH 