Anda di halaman 1dari 14

NOVITA IDAMAYANTI

ZHALSA DEVANTI
2.
LARUTAN
DAPAR

ZAT
TAMBAHAN
Zat Pengisotonis :
Bahan yang digunakan untuk membuat larutan mempunyai sifat
osmostis yang sama dengan cairan fisiologis.
Contohnya : adalah detrosa, natrium klorida

Isotonis :
Suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama
dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita (darah, air, mata)
Mengurangi rasa sakit dan iritasi selama
penyuntikan, karena diharapkan mampu
menyamakan tekanan osmosis di dalam
tubuh.
 Mempunyai ikatan osmotis sama dengan
tekanan osmotis cairan tubuh (darah, cairan
lumbal, air mata) yang nilainya sama dengan
teka⃘nan osmotis larutan NaCl 0,9% b/v
 Mempunyai titik beku sama dengan titik beku
cairan tubuh, yaitu -0,52 ⃘
Jika larutan injeksi mempunyai tekanan
osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0,9% b/v
disebut HIPERTONIS, jika lebih kecil dari
larutan NaCl 0,9% disebut HIPOTONIS.

Jadi, sebaiknya larutan injeksi harus isotonis ,


kalau memang terpaksa dapat sedikit
hipertonis,tetapi jangan sampai hipotonis.
 Cairan tubuh kita masih dapat menahan
tekanan osmotis larutan injeksi yang sama
nilainya dengan larutan NaCl 0,6-20 % b/v
 Subkutan : jika tidak isotonis dapat
menimbulkan rasa sakit, sel-sel sekitar
penyuntikan dapat rusak, penyerapan bahan
obat tidak dapat lancar.
 Intralumbal : jika terjadi perubahan tekanan
osmotis pada cairan lumbal, dapat
menimbulkan perangsangan pada selaput
otak.
 Intravena : terutama pada sediaan infus
intravena, dapat menimbulkan haemolisa
Larutan NaCl 0,9% b/v adalah larutan
garam fisiologis yang isotonis dengan cairan
tubuh.
Beberapa cara menghitung tekanan
osmosis :
a) Dengan cara penurunan titik beku air
yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB)
b) Dengan cara Equivalensi NaCl
c) Dengan Derajat ionisasi
d) Dengan Cara grafik
Suatu larutan dinyatakan isotonic dengan
serum atau cairan mata, jika membeku pada
suhu -0,52 derajat celcius. Untuk memperoleh
larutan isotonic dapat ditambahkan NaCl atau
zat lain yang cocok. Dapat dihitung dengan
rumus :
B = 0,52 – b1 c
b1
Keterangan :
B = Bobot zat tambahan (NaCl) dalam
satuan gram untuk tiap 100 ml larutan
b1 = PTB zat khasiat
b2 = PTB zat tambahan (NaCl)
0,52 = titik beku cairan tubuh
C = Konsentrasi dalam satuan % b/v zat
khasiat
V = 100/0.9 . (W . E)

Keterangan :
V : Volume larutan yang sudah isotonis ( ml )
W : Bobot Zat aktif (gram)
E : Nilai Ekivalensi Zat Aktif
Keadaan tekanan osmotis larutan obat :
a) Keadaan Isotonis, apabila B = 0 ;maka b1.c =
0,52
b) Keadaan Hipotonis, apabila B positif maka :
b1.c < 0,52
c) Keadaan Hipertonis, apabila B negative
maka : b1.c > 0,52
Keuntungan dan Kerugian dari pemberian zat
pengisotonis sendiri tidak ada, akan tetapi
tergantung dari bentuk sediaan obat dan cara
pemberian obat tersebut.

Anda mungkin juga menyukai