Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RUMAH SAKIT dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2017
1. Istilah berasal dari bahasa Yunani yaitu ’pterygion’ 
wing atau sayap.
2. Proliferasi jaringan fibrovaskular pada konjungtiva
bulbi berbentuk segitiga atau menyerupai sayap yang
dapat menginvasi kornea superfisial
3. Operasi merupakan terapi definitif .
4. Indikasi dari eksisi pterigium adalah meliputi adanya
visually significant induced astigmatism, pterigium
yang menutup aksis visual, adanya keluhan tidak
nyaman pada mata yang signifikan, iritasi yang berat,
ataupun alasan kosmetik
Anatomi Konjungtiva
Anatomi kornea
PTERIGIUM
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva
yang bersifat degeneratif dan invasif.
Menurut Hamurwono, pterigium merupakan konjungtiva bulbi
Definisi patologik yang menunjukkan penebalan berupa lipatan
berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan
puncak segitiga di kornea. Pterigium berasal dari bahasa
Yunani, yaitu pteron yang artinya wing atau sayap.
PTERIGIUM

Radiasi ultraviolet

Etiologi Faktor genetik

Faktor lain
Etiopatogenesis
DIAGNOSIS PTERIGIUM

I. Anamnesis
Pemeriksaan Fisik

- Tajam penglihatan dapat normal atau menurun


- Pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada
konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fisura
interpalpebralis.
- Kira-kira 90% pterigium terletak di daerah nasal.

- Perluasan pterigium dapat sampai medial dan lateral limbus


sehingga menutupi visual axis, menyebabkan penglihatan
kabur.

- Gangguan penglihatan terjadi ketika pterigium mencapai


pupil atau menyebabkan kornea astigmatisme pada tahap
regresif.
Klasifikasi pterigium
Progresif pterigium: tebal dan vaskular
dengan beberapa infiltrat di kornea di depan
kepala pterigium (disebut cap dari pterigium)

Berdasarkan
perjalanan penyakit

Regresif pterigium: tipis, atrofi, sedikit


vaskular. Akhirnya menjadi bentuk membran
tetapi tidak pernah hilang.
Klasifikasi pterigium

Berdasarkan luas
pterigium

Pterigium stadium 1 Pterigium stadium 2

Pterigium stadium 3 Pterigium stadium 4


Diagnosis Banding
Pembeda Pterigium Pinguekula Pseudopterigium
Definisi Jaringan fibrovaskular Benjolan pada konjungtiva Perlengketan konjungtiba bulbi
konjungtiva bulbi berbentuk bulbi dengan kornea yang cacat
segitiga
Warna Putih kekuningan Putih-kuning keabu-abuan Putih kekuningan
Letak Celah kelopak bagian nasal Celah kelopak mata terutama Pada daerah konjungtiva yang
atau temporal yang meluas ke bagian nasal terdekat dengan proses kornea
arah kornea sebelumnya
♂:♀ ♂>♀ ♂=♀ ♂=♀
Progresif Sedang Tidak Tidak
Reaksi kerusakan Tidak ada Tidak ada Ada
permukaan kornea
sebelumnya
Pembuluh darah Lebih menonjol Menonjol Normal
konjungtiva
Sonde Tidak dapat diselipkan Tidak dapat diselipkan Dapat diselipkan di bawah lesi karena
tidak melekat pada limbus
Puncak Ada pulau-pulau Funchs Tidak ada Tidak ada (tidak ada head, cap, body)
(bercak kelabu)
Histopatologi Epitel ireguler dan degenerasi Degenerasi hialin jaringan Perlengketan
hialin dalam stromanya submukosa konjungtiva
Diagnosis Banding

Pterigium

Pseudopterigium

Piengkula
Penatalaksanaan Pterigium

Menghindari faktor resiko


seperti paparan radiasi yang
Non Farmakologi
dapat meningkatkan resiko
terkena pterigium.

Untuk pterigium derajat 1-2 yang


mengalami inflamasi, pasien dapat
diberikan obat tetes mata kombinasi
antibiotik dan steroid 3 kali sehari
Farmakologi
selama 5-7 hari. kortikosteroid tidak
dibenarkan pada penderita dengan
tekanan intraokular tinggi atau
mengalami kelainan pada kornea.
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium.

Indikasi Operasi pterigium:


1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi
pupil
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan
silau karena astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.
Teknik Pembedahan

Eksisi dengan bare sclera

Transplantasi membran
amnion

Teknik Autograft
Konjungtiva

Eksisi dengan membran


mukosa

Avulsi pterigium dengan


konjungtiva limbal graft
A.Bare sclera, B. Simple closure, C. Sliding flap
D. Rotational flap, E. Conjungtival graft
Terapi Tambahan

MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena


kemampuannya untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan iradiasi
beta. Namun, dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan. Dua
bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke
sclera setelah eksisi pterygium, dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal
setelah operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan
MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.
Komplikasi
Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut:
• Gangguan penglihatan
• Mata kemerahan
• Iritasi
• Gangguan pergerakan bola mata.
• Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea
• Dry Eye sindrom

Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut:


• Infeksi
• Ulkus kornea
• Graft konjungtiva yang terbuka
• Diplopia
• Adanya jaringan parut di kornea
Pencegahan

Memakai kacamata hitam dengan perlindungan UV untuk melindungi


dan menghindari pajanan pada mata dari sinar matahari, debu, dan
angin.
Prognosa

Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Rasa


tidak nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi,
kebanyakan pasien setelah 24 jam postop dapat beraktivitas kembali.
Pasien dengan rekuren pterigium dapat dilakukan eksisi ulang dan
graft dengan autograft atau transplantasi membran amnion.
KESIMPULAN
Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga
yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah
interpalpebra. Pterygium tumbuh berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi.

Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa


mata sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan
astigmatisma yang memberikan keluhan gangguan penglihatan. Pada kasus
berat dapat menimbulkan diplopia.

Adapun teknik bedahnya yaitu : Eksisi dengan bare sclera, Transplantasi


membran amnion (amniotic membrane transplantation), Teknik Autograft
Konjungtiva, Eksisi dengan membran mukosa, dan Avulsi pterigium
dengan konjungtiva limbal graft.

Prognosis pada penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah


baik.