Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

DG RISIKO PERILAKU
KEKERASAN

Anang Nurwiyono, Mkep.SpKepJ


RSJ RW Lawang
RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN
1. Pengertian Perilaku Kekerasan
2. Rentang Respon PK
3. Faktor-faktor Presipitasi PK
4. Faktor-faktor Predisposisi PK
5. Asuhan Kep. Dg PK :
- Pengkajian
- Diagnosa Kep.
- Intervensi
- Implementasi
- Evaluasi 2
A. PENGERTIAN
Perilaku kekerasan merupakan salah satu
respon yang dihadapi oleh seseorang.
Respon ini dapat menimbulkan kerugian baik
kepada diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan.
Perilaku kekerasan adalah hasil dari marah
yang ekstrim atau ketakutan sebagai respon
terhadap perasaan terancam, baik berupa
ancaman serangan fisik atau konsep diri
(Stuart & Laraia; 2005, Stuart, 2013).
3
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk
perilaku yang bertujuan untuk melukai
seseorang baik secara fisik maupun
psikologis. Berdasarkan definisi ini maka
perilaku kekerasan dapat juga dilakukan
secara verbal, diarahkan pada diri sendiri,
orang lain dan lingkungan

4
Tingkah laku emosional, t.d:
 Marah : Orang bergerak menentang sumber
frustrasi
 Takut: Orang bergerak meninggalkan
sumber frustrasi
 Depresi: Orang menghentikan respon-
respon terbukanya & mengalihkan emosi ke
dalam dirinya sendiri
 Cinta : Orang bergerak menuju sumber
kesenangan
5
MARAH
 Perasaan jengkel yang timbul sebagai
respon terhadap kecemasan/kebutuhan
yang tidak terpenuhi yang dirasakan
sebagai ancaman (Stuart & Sundeen)
 Normal bagi tiap individu
 Manifestasi perilaku berfluktuasi
sepanjang rentang adaptif & maladaptif

6
Teori Perilaku Kekerasan
1. Teori psikoanalisa
– 2 dorongan pd manusia: eros (hidup), tanatos
(mati)
– Agresif akibat tanatos > eros
– Manusia memiliki insting agresi
2. Teori psikologi
– Agresi akibat frustrasi
– Ada faktor perkembangan ~ kekerasan:
disabilitas belajar, kerusakan otak, gg
emosional berat, penolakan, ortu protektif,
paparan pada kekerasan.
3. Teori perilaku
 PK dipelajari
 Peran role model, imitasi perilaku
4. Sosial budaya
 Budaya tdk tolerir kekerasan
 Marah tdk boleh, ekspresi maladaptif
 Faktor sosial ~ PK:
 Kemiskinan
 Gg perkawinan
 Ortu tunggal
 Pengangguran
 Sulit mempertahankan hubungan
5. Teori biologi: agresif dipengaruhi
neurotransmiter: GABA, Norepinefrin,
serotonin, dopamin, acetilcholin
Model Ekspresi Marah
Self Devaluasi

Ansietas
Rasa Bersalah

Bermusuhan

Ekspresi Eksternal Ekspresi Internal

Perilaku tdk Perilaku Tidak Merusak


Konstruktif Agresif Asertif Diri
Rentang Respon Marah

Adaptif Maladaptif

Asertif Frustrasi Pasif Agresif Kekerasan


B. RENTANG RESPON
Asertif : Kemarahan yang diungkapkan tanpa
menyakiti orang lain
Frustasi : Kegagalan mencapai tujuan karena
tidak realistis/ terhambat
Pasif : Respon lanjutan dimana klien tidak
mampu mengungkapkan perasaannya
Agresif : Perilaku destruktif tapi masih
terkontrol
Amuk : Perilaku destruktif dan tidak terkontrol
11
ASERTIF
“Kemampuan dengan secara meyakinkan & nyaman mengekspresikan
pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain
(Adler, et al)”

Kemampuan asertif antara lain:


1. Berbicara jelas
2. Mampu menghadapi manipulasi pihak lain tanpa menyakiti hatinya
3. Terbuka dan tidak melindungi diri dari kritik

AGRESIF
 Memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang
lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai
 Umumnya klien masih dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai
orang lain

12
KEKERASAN
 Sering juga disebut gaduh-gelisah/amuk
 Ditandai dengan menyentuh orang lain
secara menakutkan, memberi kata-kata
ancaman disertai melukai pada tingkat
ringan, dan yang paling berat adalah
melukai/merusak secara serius
 Klien tidak mampu mengendalikan diri

13
PERBANDINGAN PERILAKU
PASIF, ASERTIF, DAN AGRESIF
Perilaku Pasif Asertif Agresif
Isi pembicaraan Negatif Positif Berlebihan
Menghina Diri Menghargai diri Menghina
Tekanan Suara Tenang, lemah, Berirama Keras
merengek Menuntut
Postur Membungkuk, Tegak, relaks Tegang
kepala tunduk Condong ke depan
Jarak personil Membolehkan Mempertahankan Invasi ke orang lain
invasi jarak aman
Penampilan Loyo Siap melaksanakan Mengancam
Kontak Mata Sedikit/tidak ada Mempertahankan Melotot
kontak mata sesuai hubungan
Faktor Predisposisi:
 Psikologis, kegagalan yang dialami dapat
menimbulkan frustrasi yang kemudian dapat timbul
agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak
menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya
atau saksi penganiayaan.
 Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat
melakukan kekerasan, sering mengobservasi
kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek
ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku
kekerasan.
 Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara
diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti
terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-
olah perilaku kekerasan diterima (permisive).
 Bioneurologis, banyak pendapat bahwa kerusakan
system limbic, lobus frontal, lobus temporal dan
ketidakseimbangan neurotransmitter (dopamin) turut
berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.
Faktor Presipitasi:
 Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien,
lingkungan atau interaksi dengan orang lain.
Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit
fisik), keputusasaan, ketidak berdayaan,
percaya diri yang kurang dapat menjadi
penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula
dengan situasi lingkungan yang ribut, padat,
kritikan yang mengarah pada penghinaan,
kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan
kekerasan merupakan faktor penyebab yang
lain. Interaksi sosial yang provokatif dan konflik
dapat pula memicu perilaku kekerasan.

16
Tanda dan Gejala

1. Fisik
 muka merah
 pandangan tajam
 napas pendek
 keringat
 sakit fisik
 penyalahguanan zat
 tekanan darah

17
2. Emosi
 tidak adekuat
 tidak aman
 rasa terganggu
 marah (dendam)
 jengkel

3. Intelektual
 Mondominasi
 Bawel
 Berdebat
 Meremahkan orang lain
 Kreatifitas Terhambat 18
4. Sosial
 Menarik diri
 Pengasingan
 Penolakan
 Kekerasan
 Ejekan

5. Spiritual
 Mengingkari Yang Maha Kuasa
 Lupa Kebajikan
 Keraguan
 A Moral
19
DIAGNOSA

Dx medis:
 Psikotik akut
 Penyalahguna zat

Dx Keperawatan:
 Risiko perilaku kekerasan
 Perilaku kekerasan
20
Pohon Masalah
Risti mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan --------- Effec

Perilaku Kekerasan --------- Core Problem

Gangguan konsep diri: HDR -------- Causa

21
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Resiko Perilaku kekerasan (Risk for other


directed)  D11: C3 (00138)

(NANDA 2017 - 2019)


Askep Perilaku Kekerasan :
1. Manajemen krisis : Askep saat terjadi
kekerasan  Fiksasi / Isolasi
2. Manajemen perilaku kekerasan : Askep
yang bertujuan melatih klien untuk
mengontrol perilaku kekerasan (Fisik, Obat,
Verbal, Spiritual)
3. Pendidikan kesehatan tentang Mana
jemen PK
23
Tindakan Keperawatan u/ Klien
Sp1:Mengidentifikasi tanda dan gejala, penyebab dan akibat
perilaku kekerasan serta melatih latihan fisik 1 (tarik
nafas dalam) dan cara fisik 2 (pukul kasur bantal)
Sp 2:Menjelaskan dan melatih mengontrol perilaku
kekerasan dg minum obat teratur dg prinsip 6 benar,
manfaat/keuntungan minum obat dan kerugian tidak
minum obat.
Sp 3:Menjelaskan dan melatih mengontrol perilaku
kekerasan dg cara verbal/ bicara baik-baik.
Sp 4:Menjelaskan dan melatih mengontrol perilaku
kekerasan dg cara spiritual.
Tindakan Keperawatan u/ Keluarga TAK

Sp1:Mengidentifikasi masalah yang dihadapi Terapi Aktivitas Kelompok


keluarga dalam merawat klien dan berikan Sesi 1: Mengenal perilaku
penjelasan: pengertian, tanda gejala, proses kekerasan
terjadinya dan akibat perilaku kekerasan. Melatih Sesi 2: Mencegah PK dg kegiatan
keluarga membimbing klien latihan nafas dalam fisik
dan pukul kasur/bantal. Sesi 3: Mencegah PK dg patuh
minum obat
Sp 2:Menjelaskan dan latih keluarga cara Sesi 4: Mencegah PK dg kegiatan
mengontrol perilaku kekerasan dg minum obat asertif
teratur, manfaat dan kerugian (prinsip 6 benar). Sesi 5: Mencegah PK dengan
Sp 3:Menjelaskan dan latih keluarga cara kegiatan ibadah
mengontrol perilaku kekerasan dg latihan verbal
bicara baik-baik dan spiritual.
Sp 4:Menjelaskan cara menciptakan lingkungan
yang dapat mencegah terjadinya perilaku
kekerasan, tanda gejala kekambuhan dan
pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan
terdekat untuk follow-up ke PKM/RSJ.
Evaluasi pada Pasien
1. Pasien mampu menyebutkan penyebab,
tanda dan gejala PK, PK yg biasa
dilakukan dan akibat PK.
2. Pasien mampu menggunakan cara
mengontrol perilaku kekerasan secara
teratur sesuai jadual:
a. secara fisik
b. secara psikofarmaka
c. secara sosial/verbal
d. Secara spiritual

26
Evaluasi pada Keluarga
Keluarga mampu
• Mengenal masalah terjadinya PK
• Mengambil keputusan perawatan
• Merawat dg PK
• Menciptakan lingkungan yg kondusif
• Memanfaatkan sarana kesehatan

27
Bagan Penanganan PK

Klien PK

Anjurkan tenang Tenang


1. BHSP
2. Diskusi penyebab
Tdk tenang Bahaya diri 3. Diskusi PK
4. Diskusi Akibat
Tdk 5. Belajar cara fisik
Ikat 6. Belajar cara verbal
Bahaya
Obat
diri 7. Belajar cara spiritual
8. Obat
9. Keluarga

Isolasi Tenang
Obat
Referensi .....
Fortinash, K.M. (2004). Psychiatric Mental Health
Nursing. (3rd edition). St. Louis: Mosby.
Stuart, G.W., & Laraia, M.T. (2005). Principles and
practice of psychiatric nursing. (8th edition). St Louis:
Mosby.
Videbeck, S.L. (2006). Psychiatric Mental Health
Nursing. (3rd edition). Philadhelpia: Lippincott Williams &
Wilkins.
Stuart, G.W.(2013). Principles and practice of psychiatric
nursing. (10th edition). St Louis: Mosby.

29
TERIMA KASIH