Anda di halaman 1dari 17

EKSISTENSI DAN

KEDUDUKAN BK DI
SEKOLAH
KELOMPOK 1 :

1. IFFA HANIFAH MARDIAN 17035066


2. VELIA OKTAVIANI 17231123
3. FADILLAH KURNIAWAN 1723
4. WANDRA ASRONI 17
1. EKSISTENSI BK DI SEKOLAH
Guru BK berusaha memberikan layanan kepada
siswa dengan tujuan agar siswa mencapai kehidupan
bermakna bagi diri sendiri , serta dapat memberikan
kontribusi positif bagi masyarakat dan
lingkungannya.
Sejatinya ada tiga fungsi yang harus dijalankan oleh seorang guru
BK , diantarnya :

1. Remedial, dengan tujuan guru BK mampu berperan membantu menghilangkan hal-


hal negatif dari seorang siswa.

2. guru BK harus mengembangkan siswa agar mencapai kemampuan psikologi


semaksimal mungkin sesuai tahap perkembangannya.

3. fungsi pereventif agar siswa bisa mengembangkan potensi individu, menyesuaikan


diri dengan lingkungan, dan mampu memecahkan sendiri masalahnya.
Ada beberapa fungsi BK, yaitu :

• 1. Fungsi pemahaman

• 2. Fungsi pencegahan

• 3. Fungsi pengentasan

• 4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan


fungsi dari pelayanan BK di sekolah
adalah :
1. Fungsi penyaluran

2. Fungsi penyesuaian

3. Fungsi pengadaptasian
Kegiatan BK dinilai berhasil bila
menekankan pada empat aspek pokok ,
diantaranya :
1. bertujuan dan bermakna penuh di mana siswa sebagai
subyek pada makna itu.
2. menempatkan kegiatan BK sebagai usaha mencari dan
menemukan diri sendir
3. Hasil proses BK dapat berupa pemahaman, pengertian,
kejelasan, kesadaran, perubahan perilaku/kebiasaan, dan
perkembangan.
4. hasilnya harus dapat dimanfaatkan siswa untuk
menghadapi tantangan hidupnya.
2. KEDUDUKAN BK DI SEKOLAH

a. Landasan yuridis formal (undang-undang No. 20 tahun


2003, permendikbud No. 111 tahun 2014)
b. Landasan yuridis informal ( psikologis, sosial budaya,
IPTEK dan globalisasi)
a. Landasan yuridis formal

Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai


peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia
tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang
bersumber dari Undang -Undang Dasar, Undang –
Undang, Peraturan Pemerintah , Keputusan Menteri serta
berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur
tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di
Indonesia.
1 ). Undang- Undang no 20 tahun 2003 bab 1 pasal 1 ayat 6

“pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen


dan konselor, widyaiswara, pamong belajar, fasilitator dan sebutan lain sesuai
dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan”

Berdasarkan hal tersebut, diketahui bahwa layanan BK mempunyai posisi dan peran
yagng cukup penting dan strategis dalam pendidikan di sekolah.
BK berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat berkembang
secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif.
2). Lampiran permendikbud nomor 111 tahun
2014
Pada halaman 18 no 4 dijelaskan bahwa
“ layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan secara terprogram
berdasarkan asesmen kebutuhan (need assesment) yang dianggap penting (skala
prioritas) dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan (scaffolding). “

“ semua peserta didik harus mendapatkan layanan bimbingan dan konseling


secara terencana, teratur dan sistematis serta sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu,
konselor atau guru bimbingan dan konseling dialokasikan jam masuk kelas
selama 2 jam pembelajaran per minggu setiap kelas secara rutin terjadwal”
Kedudukan BK dipertegas juga pada lampiran permendikbud ini
halaman 37 no 2) dan 3) bagian b, bahwa :
“ setiap satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB diangkat
sejumlah konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan
rasio 1 : (150-160) (satu konselor atau guru bimbingan dan
konseling melayani 150-160 orang peserta didik / konseli)”.

Demikian juga halnya berlaku pada tingkat satuan pendidikan


SMA/MA/SMALB/SMK/MAK.
b. Landasan yuridis informal
• Psikologis
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan
pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran
layanan (klien).
Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi
yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang :
(a) motif dan motivasi;
(b) pembawaan dan lingkungan,
(c) perkembangan individu;
(d) belajar
(e) kepribadian.
Sosial – budaya

Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman


kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor
yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya


(2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa
bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan
berbudaya plural seperti Indonesia.
• IPTEK

Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling dapat


disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan
berbagai metode,seperti: pengamatan, wawancara, analisis
dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris
yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks
dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.
• Globalisasi
Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, timbul dua masalah
penting yang menyebabkan kerumitan struktur dan keadaan masyarakat, yaitu:
a. Penggantian sebagian besar tenaga kerja dengan alat-alat mekanis-elektronik,
dan hal ini mau tidak mau menyebabkan pengangguran.

b. Bertambahnya jenis-jenis pekerjaan dan jabatan baru yang menghendaki


keahlian khusus dan memerlukan pendidikan khusus pula bagi orang-orang yang
hendak menjabatnya.

Untuk itu, peran layanan BK sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan


terciptanya SDM yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkepribadian unggul, untuk
bersaing dalam era globalisasi tersebut.
terima kasih