Anda di halaman 1dari 34

 NAMA : Sagita Haryati, Skep,Ns.,M.

Kes
 TTL : Jakarta,10 desember 1976
 Alamat : ds Banaran Geger Madiun
 Pelatihan terkait:
 PPI Dasar : Surabaya 2011
 PPI Lanjut : Jakarta 2015
 IPCN : Jakarta 2015
 PPI Advance : Surabaya 2016
 Icra dan Surveillance : Semarang 2016
 TOT PPI PERSI : Jakarta 2016
 Penugasaan
saat ini : sebagai IPCN
Purnawaktu di RSUD Kota Madiun
TPU
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu
menjelaskan penanganan linen di rumah
sakit dengan Pedoman Pengelolaan
Linen Rumah Sakit
1. Menjelaskan tentang tujuan penanganan linen di RS
2. Menyebutkan prinsip PPI pada penanganan linen
3. Menjelaskan tahap penanganan linen
4. Menyebutkan monitoring & evaluasi
5. Menyebutkan dokumentasi pelayanan linen
What’s wrong with these
pictures?
What’s wrong with these
pictures?
Bagaimana di tempat kita??
TUJUAN PENANGANAN LINEN

1. Untuk memutus mata rantai transmisi kuman


2. Untuk meminimalkan infeksi di Rumah Sakit
dengan meningkatkan standar Precaution.
3. Dapat memberikan rasa aman dan nyaman
kepada pasien sehingga meningkatkan
mutu pelayanan Rumah Sakit.
JENIS LINEN
 LINEN BERSIH
 LINEN KOTOR
 KOTOR INFEKSIUS
 KOTOR TIDAK INFEKSIUS
DEFINISI
Dalam pengelolaannya linen dibagi atas :
Linen infeksius : linen yang terkontaminasi dg
darah dan cairan tubuh pasien, bekas pasien
infeksi

Linen non infeksius : linen yang berasal dari


pasien, bagian lain di rs yg tidak terkontaminasi dg
darah dan cairan tubuh pasien, bekas pasien non
infeksi
PRINSIP PPI pada PENGELOLAAN
LINEN & LAUNDRY
1. Penanganan linen
o Semua linen pasien dimasukan ke dalam trolly linen setelah dilepaskan dari
tempat tidur pasien
o Linen diletakan di dalam trolly di samping tempat tidur pasien
o Linen yang tidak dipergunakan jangan didekatkan ke tempat tidur pasien
untuk mencegah kontaminasi
o Linen kotor dimasukan ke dalam trolly yang dibungkus kantong tertutup
o Jangan menepuk/mengibaskan linen ke lingkungan
o Jangan mengganti linen saat sedang perawatan luka
o Gunakan APD jika akan terpapar darah produk darah dan cairan tubuh
pasien
2. Hand Hygiene
o Dilakukan sebelum dan setelah menyentuh linen
3. ALAT PELINDUNG DIRI
o Apron digunakan pada pengelolaan linen yang kemungkinan terpapar cairan
(mengotori tubuh petugas)
o Sarung tangan digunakan hanya jika terpapar darah, produk darah dan
cairan tubuh
o Kacamata digunakan jika akan terpapar percikan saat mengelola linen
PRINSIP PENGELOLAAN LINEN &
LAUNDRY
4. Pengendalian lingkungan
o Pembersihan Lingkungan
o Pengelolaan limbah
o Penataan barang dan saranan prasarana
o Pembebasan dari binatang dan serangga
o Penggunaan cairan disinfektan
o Pembersihan permukaan lingkungan
5 Disain lingkungan
o Pintu masuk linen kotor
o Pintu keluar linen bersih
o Transportasi linen
6. Kesehatan karyawan
TAHAP PROSES PENGELOLAAN LINEN DI RUMAH
SAKIT

A. Penanganan Linen di ruangan


B. Transportasi linen kotor
C. Pencucian di laundry
D. Penyetrikaan linen di laundry
E. Pendistribuan linen bersih
F. Penyimpanan linen bersih
Segera setelah dilepas dari tempat tidur,
pisahkan linen infeksius dengan linen non
infeksius
Linen non
Buang kotoran
infeksius sbg sampah
medis
Mengganti
linen kotor

Linen infeksius

Kontainer

Laundry
Pengelolaan linen diruangan
 Tidak menyeret linen kotor dilantai
 Tidak meletakkan linen kotor diatas kursi atau
meja pasien
 Tidak mengibas – ngibaskan linen
 Pisahkan wadah linen bersih dan linen kotor
 Tidak melakukan desinfeksi linen di ruangan
Pengiriman Linen Kotor ke Laundry
B. TRANSPORTASI LINEN
 Pisahkan antara troli linen
kotor dengan linen bersih
 Pisahkan wadah linen
infeksius dan noninfeksius
 Bersihkan troli sebelum
digunakan kembali
 Bila troli pakai pengalas/
sarung, segera dicuci
setelah linen kotor
diturunkan
 Bedakan pintu masuk linen kotor ke Laundry dan
pintu keluar linen bersih dari Laundry ke Ruangan

Linen bersih`
Linen kotor
APD Untuk Pencucian

19
1. Pembasahan dan pemerasan
 Pembasahan linen kotor direndam/dibasahi agar
debu dan kotoran yang melekat dapat terlepas.
 Pemerasan merupakan proses pengurangan kadarair
setelah tahap pencucian selesai.
 Pemerasan dilakukan dengan mesin cuci yang juga
memiliki fungsi pemerasan
2. Pencucian
Pencucian mempunyai tujuan selain menghilangkan
noda (bersih) awet ( tidak cepat rapuh) namun
memenuhi persyaratan sehat (bebas dari
microorganisme phatogen)
3. Pembilasan
 Pembilasan dilakukan untuk membersihkan secara
total kotoran maupun atau pewangi.busa yang masih
melekat di linen sehingga linen benar-benar bersih
dari kotoran atau busa dan kemudian diberikan
pelembut
4. Pemerasan
 Proses pemerasan dilakukan untuk mengurangi kadar
air yang ada di linen menjadi kering kurang lebih 80%
hingga 90% tergantung dari linennya.

5. Pengeringan
 Proses pengeringan ini dilakukan untuk menjadikan
linen benar-benar kering dengan kondisi 100%
 Pengeringan dilakukan dengan mesin
pengering/drying, pada proses ini, microorganisme
yang belum mati atau terjadi kontaminasi ulang
diharapkan dapat mati.
6. Penyetrikaan dan pelipatan
 Proses penyetrika dilakukan untuk mengembalikan
kondisi linen yang kumal setelah melalui beberapa
proses diatas sehingga menjadi rapi dan licin lagi
seperti linen baru.
 Melipat linen mempunyai tujuan selain kerapihan juga
mudah digunakan pada saat penggantian linen, saat
pasien berada di tempat tidur.
 dilakukan dengan mesin strika besar dapat disetel
sampai dengan suhu 120 C, (70-80 C)
D. PENYETRIKAAN

• Kelompokkan linen yang


lembaran dan bukan
lembaran.

• Penyetrikaan menggunakan
Roll Press dan Rotary Press.

• Roll Press untuk linen


lembaran, sedangkan Rotary
Press untuk bukan lembaran.

• Suhu yang digunakan untuk


penyetrikaan 70-80OC.
PELIPATAN
 Bertujuan untuk
merapikan dan
memudahkan dalam
penggantian linen pasien.
 Proses pelipatan,
dilakukan penyortiran
linen yang rusak.
 Tempat pelipatan harus
bersih dan jauh dari
daerah kotor agar tidak
terkontaminasi.
E. DISTRIBUSI LINEN BERSIH

DISTRIBUSI LINEN

 Linen bersih dibawa dgn


menggunakan trolly
(tertutup) untuk
mencegah kontaminasi
dalam perjalanan
F. PENYIMPANAN LINEN BERSIH
PENYIMPANAN LINEN
 Linen disimpan di dalam lemari tertutup sesuai
dengan jenis linen, suhu 22 – 270 C dan kelembaban
45 – 75 %.

 Simpan linen dgn sistem FIFO.


Linen disimpan terpisah dari ruang kotor agar
tidak terkontaminasi.

Gudang penyimpanan linen tidak boleh


digabung dengan benda/cairan yang bersifat
menguap atau menitrasi.

Pisahkan linen sesuai dengan jenis linen.


Sistim FIFO pada Linen Room

Contoh : FIFO ( Pengambilan dan Pengeluaran Barang dari Gudang)


Gambar Kiri : Masukkan linen baru dicuci dibawah tumpukan linen yang ada dan
mengambil linen baru dari tumpukan paling atas
Gambar Kanan : Masukkan linen baru dicuci diatas tumpukan linen yang ada dan
mengambil linen baru dari tumpukan paling bawah

MASUK
KELUAR

LINEN LINEN LINEN


LINEN
LINEN LINEN

LINEN LINEN
LINEN
LINEN LINEN LINEN

MASUK KELUAR
KELUAR
MONITORING PELAYANAN LINEN
 Sarana, prasaran dan peralatan.
 Standard/pedoman pelayanan linen.SOP,kebijakan
Dirktur RS,visi, misi dan motto RS dll.
 Pengamatan dengan penglihatan pada linen, yaitu
warna yang kusam,pudar tidak cerah,/putih tua, linen
sudah menipis.
 Dari perabaan bila ditarik terjadi perobekan/lapuk
 Linen melewati batas pencucian 150 x cuci dan 200 x
cuci
EVALUASI
 Evaluasi pada tahap proses pencucian, pengeringan,
dsb. dan evaluasi kinerja pengelolaan linen di rumah
sakit.
 Tujuan Evaluasi antara lain :
Melaksanakan evaluasi kepuasan pelanggan dengan
menyebar kuesioner ke unit kerja pelayanan.
Penerimaan linen dari ruangan

Pendistribusian dari laundry

Penghapusan linen

Permintaan linen baru


1. Tujuan penanganan linen: meminimalkan infeksi di
Rumah Sakit dengan meningkatkan standar Precaution.
2. Prinsip PPI pada penanganan linen :penanganan linen,
HH, APD, pengendalian lingkungan, kesehatan karyawan.
3. Tahap penanganan linen: penanganan linen kotor di
ruangan, transportasi, pencucian, peyetrikaan&pelipatan,
pendistribusian, penyimpanan
4. Monitoring dan evaluasi linen: sarpras, SPO, kebijakan,
kualitas linen, dan evaluasi per tahapan.
5. Dokumentasi : pencatatan penerimaan dan
pendistribusiaan, penghapusan, pengajuan.
 Pengelolaan linen yang benar, baik di ruangan
maupun di laundry dapat memutus mata rantai
transmisi kuman, menghasilkan linen yang
higienis dan siap pakai
 Dapat memuaskan pelanggan maupun pasien
sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan di RS
 Resiko perpindahan penyakit akan dapat
diminimalisasi jika ditangani dengan tepat oleh petugas
yang terlatih dan handal serta peduli terhadap
lingkungan
 Monitoring dan Evaluasi tetap memegang peran