Anda di halaman 1dari 57

ASUHAN KEPERAWATAN

TEORITIS JIWA
DENGAN KASUS
KEBUTUHAN KHUSUS :
KORBAN PEMERKOSAAN,
KDRT DAN TRAFFIKING
Kelompok 1
TINJAU TEORITIS

KORBAN PEMERKOSAAN
Pengertian
Pemerkosaan (rape) berasal dari bahasa latin
rapare yang berarti mencari, mamaksa, merampas
atau membawa pergi. Pemerkosaan adalah suatu
usaha untuk melampiaskan nafsu seksual yang
dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap
perempuan dengan cara yang dinilai melanggar
menurut moral dan hukum.
Penyebab Terjadinya Pemerkosaan

 Kemarahan
 Mencari kepuasan seksual
 Prilaku wanita-wanita yang menggoda
 Gambar atau film porno
Resiko Psikis dan Kesehatan
Reproduksi
 Korban perkosaan biasanya mengalami trauma
 Rasa takut yang berkepanjangan

 Tidak mampu kembali berinteraksi secara sosial


dengan masyarakat secara normal
 Tak jarang dikucilkan dan buang oleh
lingkungannya karena dianggap membawa aib
 Resiko tinggi menjadi tidak mampu melakukan aktivitas
seksual secara normal pada kehidupannya dimasa
datang
Bentuk-bentuk Perkosaan yang
Diakui dan Dikenal
 Perkosaan oleh orang yang tak dikenal
 Perkosaan oleh orang teman atau pacar

 Perkosaan oleh orang yang dikenal

 Perkosaan oleh pasangan perkawinan

 Pelecehan seksual
 Perkosaan oleh atasan ditempat kerja
Fase Reaksi Psikolog Terhadap
Perkosaan
 Fase disorganisasi akut
Fase yang di manifestasikan dalam 2 cara :
 Keadaan terekspresi yaitu syok, tidak percaya, takut, rasa
memalukan, marah dan bentuk emosi yang lainnya.
 Keadaan terkontrol, dimana perasaan tertutup atau tersembunyi
dan korban tampak tenang
 Fase menyangkal dan tanpa keinginan untuk bicara tentang
kejadian, diikuti tahap cemas yang meningkat, takut
mengingat kembali, gangguan tidur, terlalu waspada dan
reaksi psikosomatik.
 Fase Reorganisasi
Dimana kejadian ditempatkan pada perspektif, beberapa
korban tidak benar-benar pulih dan mengembangkan
gangguan stress kronik.
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah memberikan
dukungan simpatis, untuk menurunkan trauma,
emosional pasien dan mengumpulkan bukti yang
ada untuk kemungkinan tindakan legal.
 Hormati privacy dan sensitifitas pasien, bersikap
baik dan memberikan dukungan.
 Yakinkan pasien bahwa cemas adalah sesuatu yang
dialami.
 Terima reaksi emosi pasien, misalnya terlalu perasa.
 Jangan tinggalkan pasien sendiri
TINJAUAN TEORITIS
KORBAN KDRT
Pengertian
Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa
Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama
perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam
lingkup rumah tangga
Rentang respon

Adaptif Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk


 Asertif : Mampu menyatakan rasa marah tanpa menyakiti orang lain dan merasa
lega.
 Frustasi : Merasa gagal mencapai tujuan disebabkan karena tujuan yang tidak realistis.
 Pasif : Diam saja karena merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan yang
sedang dialami.
 Agresif : Tindakan destruktif terhadap lingkungan yang masih terkontrol.
 Amuk : Tindakan destruktif dan bermusuhan yang kuat dan tidak terkontrol.
Faktor penyebab
kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak,
cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri,
kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.
Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai
tujuan / keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi.
Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa
frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan
keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
Hilangnya harga diri; pada dasarnya manusia itu mempunyai
kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi
akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak
berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya
mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai
dan diakui statusnya.
Proses terjadi
Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress, cemas dan marah
merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap
individu. Stress dapat menyebabkan kecemasan yan g menimbulkan perasaan
tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan
yang mengarah pada perilaku kekerasan. Respon terhadap marah dapat
diekspresikan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal dapat berupa
perilaku kekerasan sedangkan secara internal dapat berupa perilaku depresi
dan penyakit fisik.
Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan
kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain, akan
memberikan perasaan lega, menu runkan ketegangan, sehingga perasaan
marah dapat diatasi
Perilaku yang tidak asertif seperti perasaan marah dilakukan individu
karena merasa tidak kuat. Individu akan pura-pura tidak marah atau melarikan
diri dari rasa marahnya sehingga rasa marah tidak terungkap. Kemarahan
demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama dan pada suatu saat
dapat menimbulkan kemarahan destruktif yang ditujukan kepada diri sendiri
Mekanisme koping
Beberapa mekanisme koping yang  Represi
dipakai pada klien marah untuk Mencegah pikiran yang
melindungi diri antara lain : menyakitkan atau membahayakan
 Sublimasi masuk ke alam sadar.
Menerima suatu sasaran
pengganti yang mulia artinya di mata  Reaksi formasi
masyarakat untuk suatu dorongan yang
mengalami hambatan penyalurannya Mencegah keinginan yang
secara normal. berbahaya bila diekspresikan, dengan
melebih-lebihkan sikap dan perilaku
 Proyeksi yang berlawanan dan
Menyalahkan orang lain mengenai menggunakannya sebagai rintangan.
kesukarannya atau keinginannya yang  Displacement
tidak baik.
Melepaskan perasaan yang
tertekan biasanya bermusuhan, pada
obyek yang tidak begitu berbahaya
seperti yang pada mulanya yang
membangkitkan emosi itu.
Bentuk-bentuk KDRT
 Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit
atau luka berat.
 Kekerasan psikis
Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,
hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak
berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.
 Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan
hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar
dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk
tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
Kekerasan seksual meliputi:
 Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam
lingkup rumah tangga tersebut;
 Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya
dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
Penelantaran Rumah Tangga
Penelantaran rumah tangga adalah seseorang
yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah
tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku
baginya atau karena persetujuan atau perjanjian
ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau
pemeliharaan kepada orang tersebut. Selain itu,
penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang
mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan
cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja
yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga
korban berada di bawah kendali orang tersebut.
Tanda dan gejala
 Perubahan fisiologi  Menyatakan Secara Asertif (Assertiveness)
Tekanan darah meningkat, denyut nadi dan Perilaku yang sering ditampilkan
pernapasan meningkat, pupil dilatasi, tonus otot individu dalam mengekspresikan kemarahannya
meningkat, mual, frekuensi buang air besar yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif.
meningkat, kadang-kadang konstipasi, refleks Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk
tendon tinggi. mengekspresikan marah karena individu dapat
mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti
 Perubahan Emosional orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di
Mudah tersinggung , tidak sabar, frustasi, samping itu perilaku ini dapat juga untuk
ekspresi wajah nampak tegang, bila mengamuk pengembangan diri klien.
kehilangan kontrol diri.  Memberontak (acting out)
 Perubahan Perilaku Perilaku yang muncul biasanya disertai
Agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik
sinis, curiga, mengamuk, nada suara keras dan perhatian orang lain.
kasar.  Perilaku kekerasan
 Menyerang atau menghindar (fight of flight) Tindakan kekerasan atau amuk yang
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun
karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi lingkungan
terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan
tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah,
pupil melebar, sekresi HCl meningkat, peristaltik
gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva
meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga
meningkat diserta ketegangan otot, seperti rahang
terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan
disertai reflek yang cepat.
TINJAUAN PUSTAKA
KORBAN TRAFFICKING HUMAN
pengertian
Definisi Trafficking Human Trafficking adalah
konsep dinamis dengan wujud yang berubah dari
waktu kewaktu, sesuai perkembangan ekonomi,
sosial dan politik. Sampai saat ini tidak ada definisi
trafficking yang disepakati secara internasional,
sehingga banyak perdebatan dan respon tentang
definisi yang dianggap paling tepat tentang
fenomena kompleks yang disebut trafficking ini.
Faktor- Faktor Penyebab
Trafficking Human Terjadinya Trafficking baik itu
berupa kasus kekerasan maupun eksploitasi terhadap anak-
anak dan perempuan disebabkan oleh beberapa factor
khususnya di Indonisia diantaranya ialah sebagai berikut:
 1. Faktor Ekonomi
 2. Posisi Subordinat Perempuan dalam Sosial dan Budaya
 3. Faktor Pendidikan
 4. Tidak Ada Akta Kelahiran
 5. Kebijakan yang Bias Gender
 6. Pengaruh Globalisasi
Bentuk dan Modus Trafficking
Human
 Bentuk Trafficking  Modus Trafficking
 Eksploitasi Seksual Dalam menjalankan
 Pekerja Rumah Tangga operandinya para
 Penjualan Bayi trafficker sering
 Jeratan Hutang menggunakan mudus
 Pengedar Narkoba dan berupa iming-iming. Di
Pengemis antara modus-modusnya
 Pengantin Pesanan Pos antara lain yaitu:
(Mail order bride)  Tawaran Kerja Salah
 Donor Paksa Organ  Bius
Tubuh
Dampak/ Pengaruh Trafficking
Human
 Dampak Psikologi dan Kesehatan Mental
 Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
 Kecemasan

 Ketidakberdayaan

 Dampak Sosial Secara sosial


 Dampak Kesehatan Fisik
Pencegahan dan Penanggulangan
Human Trafficking
Perdagangan orang, khususnya perempuan sebagai suatu
bentuk tindak kejahatan yang kompleks, tentunya memerlukan
upaya penanganan yang komprehensif dan terpadu. Tidak
hanya dibutuhkan pengetahuan dan keahlian professional,
namun juga pengumpulan dan pertukaran informasi, kerjasama
yang memadai baik sesame apparat penegak hokum seperti
kepolisian, kejaksaan, hakim maupun dengan pihak- pihak lain
yang terkait yaitu lembaga pemerintah (Kementrian terkait)
dan lembaga non pemerintah (LSM) baik local maupun
internasional. Semua pihak bisa saling bertukar informasi dan
keahlian profesi sesuai dengankewenangan masing-masing dan
kode etik instansi. Tidak hanya perihal pencegahan, namun
juga penanganan kasus dan perlindungan korban semakin
memberikan pembenaran bagi upaya pencegahan dan
penanggulangan perdagangan peremuan secara terpadu.
Upaya Masyarakat dalam pencegahan trafficking yakni dengan
meminta dukungan ILO dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI)
yang melakukan Program Prevention ofChild Trafficking for Labor and
Sexual Exploitation. Tujuan dari program ini adalah:
 Memperbaiki kualitas pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai
Sekolah Menegah Atasuntuk memperluas angka partisipasi anak laki-laki
dan anak perempuan.
 Mendukung keberlanjutan pendidikan dasar untuk anak perempuan setelah
lulus sekolah dasar.
 Menyediakan pelatihan keterampilan dasar untuk memfasilitasi kenaikan
penghasilan.
 Menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses ke kredit keuangan untuk
memfasilitasi usaha sendiri.
 Merubah sikap dan pola pikir keluarga dan masyarakat terhadap
trafficking anak.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN
KORBAN HUMAN TRAFFICKING
 IDENTITAS
Biasanya berisi nama, uur, tanggal lahir, jennis kelamin, No MR,
alamat, pekerjaan, dan penanggung jawab.
 II. POLA PERSEPSI KESEHATAN ATAU PENANGANAN KESEHATAN
 1. Keluhan Utama: biasanya keluarga mengatakan jika anaknya terlihat sangat
frustasi, cemas yang berlebiha atau bahkan terlihat tidakberdaya,
 2. Riwayat Penyakit Sekarang : biasanya klien kemungkinan besar akan
menderita penyakit HIV / AIDS, sipilis, gonorea dan penyakit seksual menular
lainnya.
 3. Lamanya Keluhan : biasanya tidak dapat di prediksi berapa lama.
 4. Faktor yang Memperberat : Biasanya karena faktor keluarga yang broken
home dan tidak betah dirumah sehingga memutuskan untuk pergi dan juga
biasanya karena faktor ekonomi serta pengaruh dari pergaulan dan globalisasi
 5. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi Keluhan : biasanya kluarga
mengatakan bagaimana kronologi yang berisi upaya yang dilakukan klien
misalnya pergi bekerja sebagai TKW tanpa sepengetahuan orang tua,
 6. Riwayat Penyakit Dahulu : biasanya mengenai
kondisi klien saat ini apakah ada penyakit biologis.
 7. Persepsi Klien tentang status kesehatan dan
kesejahteraan : biasanya klien belum bisa menjawab
pertanyaan dari perawat.
 8. Riwayat Kesehatan Keluarga : bisanya berisi
apakah kluarga pasien mempunyai riwayat penyakit
menurun atau tidak.
 9. Susunan Keluarga (Genogram) : biasanya berisi 3
generasi dari kedua orang tua dan apakah tinggal
serumah atau tidak.
 III. POLA NUTRISI DAN METABOLIK
Biasanya nutrisi klien akan terganggu.
 IV. POLA ELIMINASI
Biasanya bisa terganggu atau tidak tergangggu adakah penyakit
penyertanya.
 V. POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN
Biasanya klien korban trafficking prokduktivitas dirinya akan sangat
menurun.
 VI. POLA ISTIRAHAT DAN TIDUR
Biasanya istirahat dan tidur klien korban trafficking akan terganggu misalnya
karena mimpi buruk, membuat tibulnya rasa takut dan cmas yang berlebihan.
 VII. POLA KOGNITIF DAN PERSEPTUAL
Biasanya klien kognitifnya sangat buruk dimana klien mengalami trauma
yang sangat berat, dan depresi, stres yang berhubungan dengan gangguan,
disorientasi, kebingungan, fobia, dan ketakutan. Korban shock, mengalami
penolakan, ketidakpercayaan, tentang situasi mereka saat itu, perasaan tidak
berdaya dan malu.
 Masalah keperawatan : isolasi sosial
 VIII. POLA PERSEPSI DIRI/ KONSEP DIRI
 1. Role Peran : biasanya klien mengalami konflik peran, dimana tidak
menyangka akan terjadi seperti situasinya tersebut, misalnya: klien menerima
kekerasan maupun fisik atau mental. Rasa takut yang terus-menerus untuk
keamanan pribadi mereka dan keselamatan keluarga mereka, ancaman
deportasi akhirnya berkembang menjadi rasa kehilangan dan tidak berdaya.
 2. Identity/ Identitas Diri : biasanya klien seperti kehilangan jati dirinya, karena
dampak dari traffiking yang di alami klien dan perempuan korban trafficking
kehilangan makna dan tujuan hidup serta penghargaan atas dirinya.
 Masalah Keperawatan : Resiko bunuh diri
 IX. POLA PERAN DAN HUBUNGAN
Bisanya klien perempuan korban trafficking telah kehilangan
perannya entah itu sebagai anak, istri atau orangrang tua serta
menganggap dirinya orang yang kotor, telah ternodai dan karena itu
menolak untuk menikah. Serta menggambarkan standar evaluasi atau
penilaian yang mengecewakan nilai diri dengan memandang rendah diri
sendiri.
 Masalah keperawatan : Harga diri rendah
 X. POLA SEKSUALITAS/ REPRODUKSI
Biasanya klien korban trafficking mengalami
trauma seksual yang sangat berat.
 XI. POLA KOPING/TOLERANSI
Biasanya klien mekanise kopingnya sudah rusak
karena seringkali mengalami kondisi yang kejam yang
mengakibatkan trauma fisik, seksual dan psikologis.
 Masalah keperawatan : koping individu tidak efektif
 XII. POLA NILAI / KEPERCAYAAN
Biasanya nilai kepercayaan klien korban
trafficking sudah hancur.
 XIII. PENGKAJIAN PERSISTEM (Review of System)
Biasanya klien Para perempuan korban trafficking gangguan kronis pada
pendengaran, dan kardiovaskular atau masalah pernapasan yang disebabkan oleh
penyiksaan, trans-seksual dan memaksa penggunaan narkoba. Luka fisik termasuk
hal-hal seperti patah tulang, gegar otak, luka bakar, dan vagina atau dubur robek.
Kehamilan korban yang tidak diinginkan akibat pemerkosaan atau prostitusi.
Infertility sebagai akibat infeksi kronis menular seksual yang tidak diobati atau
gagal atau melakukan aborsi tradisional bukan oleh para medis dan tanpa
perawatan medis. Belum lagi penyakit yang tidak terdeteksi atau tidak diobati,
seperti diabetes atau kanker, sebagai ancaman masa depan para korban (Stotts &
Ramey, 2009: 11).
 XIV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Biasanya klien korban trafficking akan memerlukan peeriksaan seperti EKG,
test HIV/AIDS dll.
 XV. TERAPI
Biasanya terapi yang digunakan adalah terapi modalitas, terapi somatik,
dan terapi psikofarma, terapi TF-CBT dan terapi Komperhensif lainnya.
POHON MASALAH
Bunuh diri

Resiko bunuh diri

Isolasi sosial

Harga diri rendah

Koping individu inafektif


DIAGNOSA KEPERAWATAN
 1. Resiko bunuh diri
 2. isolasi sosial
 3. harga diri rendah
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS PADA PASIEN KDRT
Pengkajian
 Identitas klien
Biasanya berisi nama, jenis kelamin, usia, status, agama, suku/bangsa, bahasa
yang digunakan sehari-hari, pekerjaan dan sumber informasi data.
 Riwayat keperawatan
 Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya sebagian dari korban KDRT sudah bercerai dengan suami dan menikah lagi.
Namun klien dan anak-anaknya mengalami trauma yang mendalam akibat KDRT yang
pernah dialami.
 Riwayat kesehatan masa lalu
Biasanya klien mengeluh sering dipukuli, dibanting dan dibenturkan ke tembok oleh
suami. Suami sering melakukan KDRT di depan anak-anak mereka, terkadang
mengancam akan membunuh klien dan anak-anaknya jika ada yang mengadu pada
orang lain. Biasanya klien tampak luka di bibir, bengkak, pelipis memar.
 Riwayat psikososial dan spiritual
Biasanya klien dan anak-anaknya tidak berani mengatakan jika klien mengalami KDRT
karena telah diancam akan dibunuh jika mengadu. Klien dan anak-anaknya mengalami
trauma yang mendalam akibat KDRT tersebut. Aktivitas spiritual yang dilakukan yaitu
sholat.
 Pengkajian umum
 Pemeriksaan fisik umum
Biasanya klien mengalami luka di bibir hingga bengkak, pelipis memar.
 Pengumpulan data.
 Aspek biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom
bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat,
tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada
gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan,
ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan
refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah
bertambah.
 Aspek emosional
Salah satu anggota yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak
berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul anggota yang lain ,
mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
 Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran
panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam
proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah,
mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan
diintegrasikan.
 Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah
sering merangsang kemarahan anggota keluarga yang lain lain. Individu seringkali menyalurkan
kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga anggota keluarga yang lain
merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras.
Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak
mengikuti aturan
 Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal
yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang
dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. Dari uraian tersebut di atas jelaslah
bahwa perawat perlu mengkaji individu secara komprehensif meliputi aspek fisik, emosi,
intelektual, sosial dan spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut : Aspek fisik
terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat, berkeringat, sakit fisik,
penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek emosi : tidak adekuat, tidak aman,
dendam, jengkel. aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan. aspek
sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.
 Klasifikasi data
Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2
macam yaitu data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data
yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan
melalui wawancara perawat dengan klien dan keluarga. Sedangkan data
obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui obsevasi
atau pemeriksaan langsung oleh perawat.
 Analisa data
Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan
permasalahan yang dihadapi keluarga dan dengan memperhatikan pohon
masalah dapat diketahui penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut.
Dari hasil analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.
 Aspek Fisik
Aspek fisik terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek
dan cepat, berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah
meningkat. Aspek emosi : tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel. aspek
intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan. aspek
sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.
Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Resiko peilaku kekerasan

Gangguan komunikasi verbal

HALUSINASI

Defisit perawatan diri

ISOS

HDR

Koping individu tidak efektif

Marah, frustasi, cemas, dendam, dakit hati


Diagnosa
 Harga diri rendah
 Isolasi sosial
NCP
Resiko bunuh diri
 TUJUAN :
 Klien tidak menyakiti diri secara fisik dengan:
 Perlindungan

 Kontrak keamanan

 Meningkatkan harga diri

 Mengatur emosi dan perilaku

 Mobilisasi dukungan sosial

 Penkes

 Pencegahan Bunuh Diri


 SP KLIEN
SP 1:
 -mengidentifikasi beratnya masalah RBD: isyarat, ancaman dan percobaan

 -Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan klien dan


mengamankannya
 -Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri : buat daftar
aspek positif yg dimiliki
 -Masukkan pada jadwal kegiatan harian yaitu latihan berpikir positif

 SP 2:

 -Evaluasi kegiatan berfikir positif tentatang diri sendiri, beri pujian,kaji


ulang RBD
 -Latih cara mengendalikan diri dr dorongan bunuh diri : buat daftar aspek
positif keluarga dan lingkungan
 -Masukkan pada jadwal kegiatan harian latihan berpikir positif tentang
diri,keluarga dan lingkungan
SP 3:
 -Evaluasi kegiatan berfikir positif tentang diri,keluarga dan
lingkungan,beri pujian
 -Diskusikan harapan dan masa depan

 -Diskusikan cara mencapai harapan dan masa depan

 -Latih cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap

 -Masukkan pada jadwal kegiatan harian latihan berfikir positif


tentang diri,keluarga,lingkungan dan tahapan kegiatan yg dipilih
SP 4:
 -Evaluasi kegiatan harian berpikir positif tentang diri,keluarga dan
lingkungan,kegiatan yg dipilih,beri pujian
 -Latih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan

 -Masukkan pada jadwal kegiatan latihan befikir positif tentang


diri,keluarga,lingkungan serta kegiatan yg dipilih utuk persiapan
masa depan.
 SP KELUARGA KLIEN
SP 1:
 -Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien

 -Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala risiko bunuh diri, dan jenis
perilaku bunuh diri yang dialami klien beserta proses terjadinya
 -Menjelaskan cara-cara merawat klien risiko bunuh diri

 -Latih cara memberikan pujian hal positif pasien, memberi dukungan


pencapaian masa depan
 -Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian

SP 2:
 -Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian & penghargaan
atas keberhasilan dan aspek positif pasien
 -Latih cara memberikan penghargaan pada pasien dan menciptakan
suasana positif dalam keluarga
 -Anjurkan membantu pasien serta jadwal dan beri pujian
SP 3:
 -Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian n
keberhasilan dan menciptakan suasana positif dalam
keluarga
 -Bersama keluarga mendiskusikan dengan pasien tentang
harapan masa depan serta langkah-langkah mencapainya
SP 4:
 -Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian,
penghargaan, menciptakan suasana keluarga yang positif
 -Bersama keluarga berdiskusikan tentang langkah-langkah
dan kegiatan untuk mencapai harapan masa depan
 -Jelaskan follow up, tanda kambuh, rujukan

 -Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian


Harga diri rendah
 TUJUAN:
Pasien mampu:
 Membina hubungan saling percaya
 Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
 Menilai kemampuan yang dapat digunakan
 Menetapkan/ memilih kegiatan yang sesuai kemampuan
 Melatih kegiatan yang telah dipilih sesuai kemampuan
 Merencanakan kegiatan yang telah dilatihnya.
Keluarga mampu :
 mengenal masalah harga diri rendah
 mengambil keputusan untuk merawat harga diri rendah
 merawat harga diri rendah
 memodifikasi lingkungan yang mendukung meningkatkan harga diri pasien
 menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien
 memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
SP KLIEN
SP 1: latih kegiatan 1
 Identifikasi tentang pandangan/ penilaian pasien tentang diri sendiri dan pengaruhnya
terhadap hubungan dengan orang lain, harapan yang telah dan belum tercapai, upaya yang
dilakukan untuk mencapai harapan yang belum terpenuhi
 Identifikasi kemampuan melakukan kegiatan dan aspek positif pasien (buat daftar kegiatan)
 Bantu pasien menilai kegiatan yang dapat dilakukan saat ini (pilih dari daftar kegiatan) :
buat daftar kegiatan yang dapat dilakukan saat ini
 Bantu pasien memilih salah satu kegiatan yang dapat dilakukan saat ini untuk dilatih
 Latih kegiatan yang dipilih (alat dan cara melakukannya)
 Masukkan pada jadual kegiatan untuk latihan
 dua kali per hari
SP 2: latih kegiatan 2
 Evaluasi kegiatan pertama yg telah dilatih
 Bantu pasien memilih kegiatan kedua yang akan dilatih
 Latih kegiatan kedua (alat dan cara)
 Masukkan pada jadual kegiatan untuk latihan: dua kegiatan masing-masing dua kali per hari
SP 3: latih kegiatan 3
 Evaluasi kegiatan pertama dan kedua yg telah dilatih

 Bantu pasien memilih kegiatan ketiga yang akan dilatih

 Latih kegiatan ketiga (alat dan cara)

 Masukkan pada jadual kegiatan untuk latihan: tiga


kegiatan, masing-masing dua kali per hari

SP 4: latih kegiatan 4
 Evaluasi kegiatan pertama,kedua,ketiga yang telah dilatih

 Bantu pasien memilih kegiatan keempat yang akan dilatih

 Latih kegiatan keempat (alat dan cara)

 Masukkan pada jadual kegiatan untuk latihan: empat


kegiatan, masing-masing dua kali per hari
SP KELUARGA KLIEN
SP 1 : mengenal masalah dalam merawat harga diri rendah dan latihan cara merawat: melatih kegiatan pertama
(latihan 5)
 Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien harga diri rendah
 Jelaskan tentang harga diri rendah: pengertian, tanda & gejala, proses terjadinya harga diri rendah, dan akibat
jika tidak diatasi (gunakan booklet)
 Jelaskan cara merawat harga diri rendah
 Berikan pujian semua hal yang positif pada pasien
 Latih keluarga memberi tanggung jawab kegiatan yang dipilih pasien
 Bimbing memberikan bantuan pada pasien
 Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan pujian

SP 2 : latihan cara merawat: membimbing melakukan kegiatan kedua (latihan 6)


 Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala harga diri rendah
 Validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien melaksanakan kegiatan yang telah dilatih
 Evaluasi manfaat yang dirasakan keluarga dalam merawat, beri pujian.
 Bersama keluarga melatih pasien dalam melakukan kegiatan kedua yang dipilih pasien
 Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberi pujian.
SP 3 : latihan cara merawat: membimbingmelakukan kegiatan ketiga (latihan 7)
 Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi
 gejala harga diri rendah
 Validasi kemampuan keluarga dalam membimbing
 pasien melaksanakan kegiatan yang telah dilatih
 Evaluasi manfaat yang dirasakan keluarga dalam merawat, beri pujian
 Bersama keluarga melatih pasien melakukan kegiatan ketiga yang dipilih
 Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan berikan pujian.

SP 4 : latihan cara merawat: membimbingmelakukan kegiatan keempat ( latihan 8)


 Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala harga diri rendah
 Validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien melaksanakan kegiatan yang telah
dilatih
 Evaluasi manfaat yang dirasakan keluarga dalam merawat, beri pujian
 Bersama keluarga melatih pasien melakukan kegiatan keempat yang dipilih
 Jelaskan follow up ke Puskesmas, tanda kambuh, dan rujukan
 Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan pujian.
Isolasi Sosial
 1. Membina hubungan saling percaya.
 2. Menyadari penyebab isolasi sosial.
 3. Berinterkasi dengan orang lain.

 Keluarga mampu merawat pasien isolasi sosial


 SP 1 pasien isolasi sosial
1.Bina hubungan saling percaya.
2.Bantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial dengan tindakan :
-Menanyakan tentang pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
-Siapa yang satu rumah denagn pasien.
-Siapa yang dekat dengan klien.
-Apa sebabnya
-Siapa yang tidak dekat dengan pasien dan apa sebabnya.
-Menanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
3.Bantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan keuntungan
bilapasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
4.Bantu pasien mengenal kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain dengan tindakan :
-Mendiskusikan kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
-Menjelaskan pengarauh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien.
5.Latih dan ajarkan pasien berkenalan dengan cara :
a.Jelaskan kepada pasien cara berinteraksi dengan orang lain.
b.Beri contoh cara berinteraksi dengan orang lain . sebutkan nama kita dan nama panggilan, asal dan hobi,
menanyakan nama orang yang akan diajak berkenalan, nama panggilan, asal dan hobinya.
c. Menganjurkan memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
 SP2 pasien Isolasi Sosial
1.Mengevaluasi jadwal kegiatan harian (SP1)
2.Mengajarkan berinteraksi secara bertahap.
3.Berkenalan dengan 2-3 orang.
 SP 3 pasien Isolasi Sosial.

1.Mengevaluasi jadwal kegiatan harian (SP 1 dan SP 2)


2.Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap: berkenalan denagn 3-4 orang.
3.Susun jadwal latihan berkenalan dengan orang lain secara bertahap dalam jadwal
kegiatan harian.
 SP 4 pasien Isolasi Sosial

1.Mengevaluasi jadwal kegiatan harian (SP 1, SP 2 DAN SP 3)


2.Mengajarkan pasien berinteraksi secra bertahap : berkenalan dengan 4 orang atau
lebih.
3.Susun jadwal latihan berkenalan dengan orang lain secara bertahap dalam jadwal
hegiatan harian.
 Sp keluarga :
 SP 1 Isolasi Sosial

1.Diskusikan masalah keluarga dalam merawt pasien di rumah.


2.Menjelaskan konsep teori isolasi sosial : pengertian, tanda dan
gejala serta proses terjadi isolasi sosial.
3.Melath cara merawat pasien isolasi sosial dengan cara berkenalan,
berbicara saat melakukan kegiatan harian.
4.Menganjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian.
 SP 2 Isolasi Sosial keluarga

1.Evaluasi kegiatan keluarga dalam melatih pasien berkenalan,


berbicara saat melakukan kegiatan harian.
2.Menjelaskan kegiatan rumah tangga yang dapat melibatkan pasien
berbicara (makan, sholat bersama)
3.Melatih cara membimbing pasien berbicara.
4.Menganjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian.
 SP 3 Isolasi Sosial
1.Evaluasi kegiatan keluarga dalam melatih pasien berkenalan, berbicara
saat melakukan kegiatan harian dan rumah tangga.
2.Menjelaskan cara melatih pasien melakukan kegiatan sosial seperti :
berbelanja, meminta sesuatu, dll.
3.Melatih keluarga mengajak pasien berbelanja.
4.Menganjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian.

 SP 4 Isolasi Sosial
1.Evaluasi kegiatan keluarga dalam melatih pasien berkenalan, berbicara
saat melakukan kegiatan harian/ rumah tangga dan berbelanja.
2.Menjelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh dan rujukan.
3.Mengajurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian.
TERIMAKASIH....

Anda mungkin juga menyukai