Anda di halaman 1dari 12

Bunuh Diri dengan

StrangulasiLigatur: Tiga Laporan


Kasus

Ayu Lestari– G1A217090


Pembimbing : dr. Shalahudden Syah, M.Sc

http://www.free-powerpoint-templates-design.com
Abstract
Bunuh diri dengan strangulasi ligatur, yang memberikan kesan awal terjadinya pembunuhan,
sangatlah jarang. Dalam artikel ini, ditampilkan 3 kasus bunuh diri yang disebabkan oleh
strangulasi ligatur di Konya pada tahun 2001 hingga 2006. Korban pertama adalah seorang pria
berusia 68 tahun yang menderita depresi dan tinggal sendirian di rumah pondok. Dia mengakhiri
hidupnya dengan menerapkan tourniquet ke lehernya setelah meninggalkan pesan bunuh diri.

Section Break
Korban kedua adalah seorang wanita berusia 70 tahun yang ditemukan tewas di lantai ruang
tamu di rumahnya. Setelah dia memotong pembuluh darah di pergelangan tangannya, dia
Insert the
mengikat stocking dengan 3 simpul di lehernya. Sub Title bahwa
Dilaporkan of Your dia
Presentation
sering berobat untuk asma
bronkial dan depresi selama 20 tahun. Korban ketiga adalah seorang wanita berusia 30 tahun
yang menderita skizofrenia selama 6 tahun. Dia mengikatkan syal di lehernya dengan 3 simpul
dan meninggal di rumah sakit setelah 1 hari karena "sindroma hipoksia otak". Sebagai hasil dari
penyelidikan TKP, otopsi, dan penyelidikan pengadilan, disimpulkan bahwa kematian berupa
bunuh diri pada ketiga kasus tersebut. Karena penggunaan metode strangulasi ligatur (terutama
metode tourniquet) pada kasus bunuh diri sangat jarang ada pada literatur, tujuan kami adalah
untuk menyajikan dan mendiskusikan kasus-kasus ini.
Pendahuluan
• Strangulasi dengan ligatur adalah metode yang sering pada kasus
pembunuhan

• Bunuh diri dengan strangulasi-sendiri jarang terjadi


Section Break
• banyak penulis dan penyelidik kriminal tetap mempercayai bahwa strangulasi
Insert the Sub Title of Your Presentation
sendiri tidaklah mungkin dan strangulasi pasti merupakan pembunuhan

• Untuk mengkonfirmasi strangulasi ligatur, perlu melakukan penyelidikan


terperinci padaTKP dan memeriksa jenis ligatur di sekitar leher korban, jumlah
pembungkus di sekitar leher, bentuk simpul, dan metode penggunaan ligatur .
Kasus 1

Seorang lelaki berusia 68 tahun ditemukan tewas di rumahnnya yang berbentuk seperti pondok
pada musim gugur Tahun 2000. Tidak ada tanda masuk paksa pada pintu rumah. Bagian dalam
rumah itu rapi dan tidak terganggu. Korban berbaring telentang di ranjang dan ada sabuk kain
tebal selebar 5 cm di lehernya (Gbr.1). Sebatang kayu melewati sebuah lingkaran yang dibuat
oleh kain di sisi kanan leher (yaitu, metode tourniquet ). Lingkaran itu mengerut dengan memutar
batang, sehingga memberi tekanan pada leher. Ketika kain dilepaskan dari leher dengan cara
Section Break
dipotong, tampak adanya tanda ligatur selebar 5 cm , yang sesuai dengan bentuk sabuk dan
posisi horizontal di sekitar leher setinggi tulang rawan tiroid. Di sisi kanan leher, tandanya tipis di
Insertdari
mana sabuk terlipat. Ketika bagian yang dilipat the sabuk
Sub Title of Your
kain Presentation
dibuka, diketahui bahwa batang
kayu telah diputar dua kali. Dalam penyelidikan TKP, sebuah catatan bunuh diri ditemukan dan
menunjukkan bahwa tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian korban.
Setelah istrinya meninggal 2 tahun sebelumnya, korban tinggal sendirian dan seringkali berobat
karena depresi berat di rumah sakit setempat selama 2 tahun. Pemeriksaan luar tubuh
menunjukkan bahwa rigor mortis ada dan berlanjut, dan hipostasis tampak sangat jelas, berwarna
ungu gelap, dan terlokalisasi di bagian belakang. Otopsi menunjukkan tanda-tanda umum
kematian akibat asfiksia meliputi: darah cair, kongesti pembuluh leher, dan bintik perdarahan
petekie; tidak ada lesi traumatis yang tampak dan kompleks laryngohyoid masih utuh; analisis
toksikologi negatif.
Seorang wanita berusia 70 tahun ditemukan tewas oleh putranya di lantai
Kasus 2
ruang tamu di rumahnya pada musim semi Tahun 2006 dengan stokingterikat
di lehernya dengan bantal di bawah kepalanya. Segera setelah ditemukan
putranya, ia melepaskan 3 ikatan stoking di bawah dagunya di bagian depan
lehernya (Gbr. 2). Korban telah mendapat pengobatan untuk depresi dan asma
bronkial selama 20 tahun. Diketahui bahwa korban telah mencoba bunuh diri
dengan menggunakan obat-obatan dan telah dirawat di rumah sakit
pemerintah beberapa minggu sebelumnya.
Section Break
Dalam penyelidikan TKP, pisau roti berdarah ditemukan di dekat lemari dalam
kamar mandi (Gbr. 3). Tidak ada Insert
tanda-tanda pada mayat ataupunlokasi
the Sub Title of Your Presentation
kejadian yang menunjukkan adanya serangan oleh orang lain.
Pada pemeriksaan eksternal, tampak adanya luka sayat 2.4 cm, paralel, dan
superfisial pada permukaan fleksor pergelangan tangan kiri yang tegak lurus
terhadap sumbu lengan bawah (Gbr. 4). Terdapat ekor di awal dan akhir luka.
Tanda ligatur horizontal, superfisial , selebar 2 cm ditemukan di leher.
Rigor sedang terjadi dan hipostasis ireversibelterdapat di bagian belakang
tubuh. Otopsi menunjukkan tanda-tanda umum kematian akibat
asfiksiameliputi darah cair, kongesti pembuluh leher, dan bintik perdarahan
• Seorang wanita berusia 30 tahun ditemukan tidak sadarkan diri di kamar
rumahnya pada musim panas Tahun 2006. Kakaknya segera membawanya Kasus 3 ke
rumah sakit. Dokter melaporkan bahwa ia melepaskan syal dari sekitar leher,
terdiri atas 3 simpul di bagian depan leher, dengan cara memotongnya.
Diketahui bahwa wanita tersebut telah berobat karena skizofrenia selama 6
tahun.
• Tanda ligatur horizontal, superfisial, selebar 4 cm diamati di sekitar leher
(Gbr. 6). Selain itu, tusukan jarum di kulit terkait dengan terapi medis di rumah
sakit tampak di vena antekubital. Pada rekam medis rumah sakit, disebutkan
Section Break
bahwa “Dia dibawa ke rumah sakit karena kehilangan kesadaran. Keadaan
Insert the Sub Title of Your Presentation
umumnya buruk. Tanda ligatur terlihat di leher pasien. Korban dipasangkan
ventilator mekanik. Bilas lambung dilakukan karena dicurigai keracunan.
Terdiagnosa "Sindrom otak hipoksik". Namun, dia meninggal setelah 1 hari
dirawat di rumah sakit. "
• Pada pemeriksaan eksternal tampak bahwa terjadi rigor mortis dan
hipostasis yang hilang setelah ditekan pada bagian belakang. Otopsi
menunjukkan tanda-tanda umum kematian akibat asfiksia meliputi darah cair,
kongesti pembuluh leher, perdarahan petekie subpleural dan subepicardial,
Diskusi
Strangulasi-sendiri adalah salah satu metode yang dapat dengan mudah disalah
artikan sebagai pembunuhan karena banyak penyelidik dan ahli patologi forensik
percaya bahwa stranguasi sendiri tidaklah mungkin dilakukan. Hal ini disebabkan
oleh miskonsepsi bahwa tekanan kuat diperlukan pada leher untuk menutup jalan
napas dan pembuluh arteri leher.
Polson secara brilian menunjukkan bahwa hanya dengan kekuatan 3,2 kg saja
yang diperlukan untuk menutup jalan nafas, sedangkan kekuatan 2 kg cukup
Section Break
untuk menutup sistem vena. Selain itu, untuk menstimulasi refleks vagal hanya
Insert the Sub Title of Your Presentation
dengan tekanan minimal saja. Dalam laporan ini, kematian pada ketiga kasus
disebabkan oleh tekanan pada saluran napas dan sistem vena.
Menurut literatur, kongesti luas pada wajah dan kepala, pendarahan yang tidak
signifikan pada struktur leher (bahkan tidak ada pendarahan sama sekali),
ketiadaan tanda ligatur yang jelas akibat cedera mekanik, dan tidak adanya
cedera pertahanan, semua mencirikan tindakan bunuh diri.
kasus. Tanda ligatur jelas pada kasus pertama, di mana metode tourniquet
digunakan, karena jenazahnya ditemukan dalam waktu yang Diskusi
cukup lama setelah
kematian, dan material ligatur cukup kuat.
pada 2 kasus lainnya, tanda ikatan cukup superfisial dan tidak jelas, karena
mayat kasus kedua ditemukan sesaat setelah kematian, sedangkan kasus ketiga
ditemukan saat hidup. Penyebab lain dari tanda ligatur superfisial ataupun yang
tidak jelas dalam kasus ini adalah kelembutan stoking dan syal sebagai bahan
strangulasi.
Analisis literatur menunjukkan bahwa lokalisasi simpul pada strangulasi bunuh
diri sering di daerah anterior leher, seperti yang terlihat pada kasus kedua dan
ketiga kami. Namun, simpul yang terlokalisasi di daerah leher lateral atau di
belakang leher juga telah dilaporkan seperti yang terlihat pada kasus pertama
kami. Lebih dari satu simpul dalam bunuh diri bukanlah hal yang tidak biasa. Oleh
karena itu keberadaan 3 simpul pada kasus kedua dan ketiga sesuai dengan
kasus yang dilaporkan dalam literatur ini. Pengamatan ini mungkin penting
sebagai petunjuk dalam investigasi kasus dan dapat membantu menentukan
penyebabnya. Pertanyaan mendasar adalah apakah korban dapat menjangkau
simpul, dan pertanyaan ini harus terjawab dalamTKPpada kasus-kasus seperti
Fraktur tulang hyoid atau kartilago laring jarang ditemukanDiskusi
pada kasus bunuh diri
dan terbatas hanya pada 1 upper horn tiroid yang rusak dalam kebanyakan
kasus. Rothschild dan Maxeiner meninjau 116 kasus strangulasi ligatur bunuh diri
dengan rincian yang cukup tersedia. Mereka menemukan bahwa jumlah fraktur
laryngohyoid umumnya rendah dan keterlibatan tulang hyoid, serta cedera utama
(misalnya, fraktur kartilago krikoid), sangat jarang terjadi. Maxeiner dan Bockholdt
menganalisis 47 kasus pembunuhan dan 19 kasus kematian bunuh diri dengan
strangulasi ligatur. Mereka melaporkan bahwa ada pendarahan di lidah pada 25
kasus pembunuhan dan 19 kasus bunuh diri, sedangkan cederapada kompleks
laryngohyoid ditemukan di 21 kasus pembunuhan dan 2 kasus bunuh diri. Dalam
penelitian kami, terdapat fraktur di upperhorn kiri tulang rawan tiroid dalam kasus
ketiga saja.
Istilah "garroting" atau "metode tourniquet" adalah pengetatan jeratan di leher
dengan memutar batang di dalam ligatur. Metode tourniquet digunakan dalam
kasus pertama.Kami tidak dapat menemukan kasus serupa pada penggunaan
metode tourniquet dalam literatur selama 50 tahun terakhir. Kami berpendapat
bahwa metode ini penting sebagai temuan bunuh diri dalam kasus strangulasi.
Tidak ada temuan yang menunjukkan pembunuhan di TKP dari ketiga kasus
kami. Tidak ada luka defensif pada mayat kami. Catatan bunuh diri ditemukan
Diskusi
dalam kasus pertama. Tindakan bunuh diri pada semua kasus kami dilakukan
dengan barang-barang pribadi yang umum (yaitu ikat pinggang, pantyhose, dan
syal) . Disimpulkan, berdasarkan semua temuan di atas, bahwa penyebab
kematian pada masing-masing dari 3 kasus yang disajikan adalah bunuh diri.
Kasus ketiga memiliki gangguan kejiwaan kronis (skizofrenia), sedangkan
kasus pertama dan kedua mengalami depresi, mirip dengan laporan dalam
literatur.
Seperti pada semua kasus asfiksia terkait ligatur, tipe simpulnya penting. Oleh
karena itu, ligatur harus diangkat dengan hati - hati, agar simpul tetap utuh.
Dalam penyelidikan TKP di kasus pertama, tourniquet dan ligatur di leher korban
diperiksa oleh ahli patologi forensik. Dalam kasus kedua, ligatur telah dilepaskan
oleh putra korban, yang melepaskan ikatan simpul. Dalam kasus ketiga, ligatur
dilepaskan oleh dokter di rumah sakit yang memotong ikatan dan tetap menjaga
simpulnya.
Harus ditekankan bahwa kolaborasi dan penyampaian informasi antara
para penyelidik dan ahli patologi forensik akan memfasilitasi dan mempercepat
Thank You
Insert the Sub Title of Your Presentation