Anda di halaman 1dari 51

MANAJEMEN DI APOTEK

KELOMPOK A

1. Annisa Iswari 19/451104/FA/12323


2. Annisa Tri R. 19/451105/FA/12324
3. Annisa Utami 19/451106/FA/12325
11. Lydia Vanessa 19/451175/FA/12394
4. Anggun Rizkiana 19/451100/FA/12319
12. Merry Ella Agustin 19/451181/FA/12400
5. Ariesta Ratih K 19/451105/FA/12323
13. Nadya Faradita 19/451189/FA/12408
6. Dyah Kusuma P.A 19/451134/FA/12353
14. Nazah Savira 19/451194/FA/12413
7. Emma Rahmania 19/451139/FA/12358
15. Noura Nisriena N. 19/451200/FA/12419
8. Eri Nurqolifah 19/451140/FA/12359
16. Rahajeng Putri L. 19/451213/FA/12432
9. Heryana Ummy Z. 19/451157/FA/12376
17. Rima Meldiana 19/451220/FA/12439
10. Lia Rachmawati 19/451171/FA/12390
18. Risma Martasuri 19/451223/FA/12442
19. Sarah Nabila H. 19/451232/FA/12451
20 Vania Amanda S. 19/451248/FA/12467
21. Yesiska Kristina H. 19/451253/FA/12472
A. Rancangan pengaturan shift kerja yang efektif sesuai dengan
kompetensi, pekerjaan, dan kewenangan SDM

Gb. Struktur organisasi di apotek


Rancangan pengaturan kerja

● Apotek buka jam 08.00-21.00 (13 jam),


● Minggu dan hari besar libur (asumsi 1 bulan = 26 hari kerja).
● Jumlah karyawan total 5 orang yang terdiri dari 1 APA, 1 Apoteker Pendamping, 2 TTK, 1 Office
boy.
● Tidak ada sistem jaga malam dikarenakan office boy sudah melebihi jam kerja dan belum
dibutuhkan sistem jaga malam.
● Pemangkasan tenaga kerja yaitu 2 orang kasir dan 1 orang administrasi dilakukan untuk
efisiensi kerja apotek. Rincian pembagian shift:
Shift 1: 08.00-15.00 (istirahat 12.00-13.00)
Shift 2: 15.00-21.00 (istirahat 19.00-20.00)
● Tiap shift terdiri dari APA/Aping + 1 TTK. Terkhusus untuk office boy masuk kerja pada shift 1
pukul 07.00-10.00 dan shift 2 pukul 17.00-21.00.
Job Description
APA
a. Memimpin segala kegiatan apotek baik teknis maupun non teknis sesuai dengan ketentuan dan
peraturan perundangan yang berlaku.
b. Berkewajiban dan bertanggung jawab penuh dalam mengelola apotek yang meliputi hal berikut :
· Penyediaan dan pemeliharan sarana, prasana serta fasilitas di apotek agar tetap berfungsi dengan baik
· Keberlangsungan pelaksanaan kegiatan manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi dan komoditas
peralatan kesehatan lainnya.
· Keberlangsungan pelaksanaan pelayanan farmasi klinik meliputi pengkajian resep, dispensing,
pelayanan informasi obat (PIO), konseling, home pharmacy care, pemantauan terapi obat (PTO), dan
monitoring efek samping obat (MESO).
· Pengelolaan dan pengembangan terhadap sumber daya manusia yang dimiliki apotek
· Evaluasi mutu apotek dalam hal manajerial, adminidan pelayanan farmasi klinik
c. Mengelola administrasi dan keuangan apotek sesuai tanggung jawab yang diberikan oleh pemilik apotek,
termasuk penggajian karyawan.
Apoteker Pendamping
1. Melaksanakan seluruh tugas dan kewajiban APA, jika
APA berhalangan hadir pada jam kerja apotek.
2. Melaksanakan segala tugas dan wewenang berdasaran
instruksi atau arahan dari APA
3. Dalam melaksanakan segala tindakan, terutama hal
penting yang mendasar dan strategis, wajib
mendapatkan persetujuan dari APA.
4. Membantu APA dalam mengelola administrasi dan
keuangan apotek.
TTK
1. Mempersiapkan dan memastikan kesiapan apotek sebelum operasional.
2. Melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai petunjuk atau di bawah
pengawasan apoteker, baik itu pelayanan obat bebas maupun pelayan
resep.
3. Mengurus dan merapikan administrasi resep.
4. Membuat sediaan farmasi atau melakukan peracikan sesuai tingkat
pelayanan apotek.
5. Mengelola persediaan obat, meliputi pencatatan dan penataan dengan
memperhatikan tanggal kadaluwarsa.
6. Bersama APA atau Aping menjadi saksi dalam penerimaan barang
pesanan, memeriksa faktur, membuat catatan pembelian dan
memperhatikan daftar harga tetap up to date.
Office boy
1. Membantu persiapan apotek sebelum
operasional.
2. Menjaga kebersihan apotek.
3. Membantu karyawan lain dalam tugas
teknis jika diperlukan.
4. Menjaga keamanan dan kerapian parkir
pengunjung apotek.
5. Membangun kenyamanan pengunjung
apotek.
B. Perlunya sebuah sistem reward/punishment bagi SDM dan
rancangannya

• Sistem reward bagi karyawan


1. Pelaksanaan pemberian reward disesuaikan dengan lamanya bekerja, skill
(kemampuan), dan jenjang pendidikan.
● Untuk pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) disesuaikan dengan kemampuan
perusahaan
● Bonus diberikan sesuai kesepakatan pencapaian target dan penilaian kinerja per tiga
bulan.
● Reward diberikan dengan nominal Rp 300.000,00 per tiga bulan, dan tambahan reward
akan diberikan dari punishment gaji karyawan lain (jika ada)
2. Sistem penilaian kinerja karyawan berdasarkan metode Analytical
Hierarchy Process (Amalia dan Utami, 2015) :
Perhitungan sebagaimana tabel,
digunakan untuk menilai secara
kuantitatif performa tiap karyawan
yang nantinya akan diberi insentif.

Besar nilai insentif adalah Rp. 300.000


yang diberikan per- tiga bulan.
Sehingga akan diberikan Rp 1.200.000
3. Form penilaian kinerja karyawan :
• Adapun sistem punishment bagi karyawan, yaitu :
1. Melakukan pelanggaran SOP
2. Tidak melakukan praktek dengan baik dan tidak berkompeten

Punishment yang diberikan meliputi :


● Teguran untuk kesalahan-kesalahan yang kecil yang tidak memberikan dampak buruk bagi
pasien, apotek maupun masyarakat, serta melanggar UU pidana.
● Hukuman untuk keterlambatan berlaku pemotongan gaji Rp 5.000,00 setiap kelipatan 5
menit keterlambatan, tidak ada pemotongan maksimal. Pemotongan berlaku jika tanpa
izin pada APA paling lambat 1 jam sebelum jam kerja dengan alasan yang bisa diterima.
● Karyawan yang absen tanpa alas an diberikan pemotongan gaji 5%.
● Sistem Surat Peringatan (SP)
1. SP 1 : Peringatan tertulis (terdapat kompensasi bila
dalam kurun waktu 6 bulan pegawai menunjukkan
adanya perbaikan kinerja (dinilai dari sistem
penilaian kinerja), maka SP dapat dicabut. Akan
tetapi jika dalam 6 bulan masih melakukan
kesalahan tersebut, maka diberikan SP 2)
2. SP 2 : Pemotongan tunjangan sebesar 30% sesuai
dengan perjanjian kerja dan pelanggar diwajibkan
membuat surat pernyataan
3. SP 3 : PHK
A. Usulan perbaikan untuk sistem penyimpanan di apotek, yaitu:

● Pembuatan kartu stok untuk mengendalikan jumlah obat atau bahan obat yang
masuk maupun keluar baik dengan cara manual maupun elektronik (komputerisasi)
secara terintegrasi antara stok dan penjualan. Pada sistem komputerisasi, harus ada
pendataan ED saat stok masuk sehingga sudah ada alert mendekati waktu ED.
● Penyimpanan disusun tidak hanya berdasarkan alfabetis saja, tetapi juga
mempertimbangkan jenis obat, golongan obat, bentuk sediaan dengan FIFO (Fast
moving) – FEFO (Slow moving), serta obat high alert disimpan dalam lemari
penyimpanan khusus.
● Ruang penyimpanan harus memperhatikan temperatur, kelembaban, ventilasi,
kondisi sanitasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas.
Ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet, pendingin
ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan
psikotropika, lemari penyimpanan khusus, serta pengukur suhu dan kartu suhu.
○ Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal
pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus
dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah
baru. Wadah sekurang- kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal
kadaluwarsa.
○ Semua Obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga
terjamin keamanan dan stabilitasnya.
○ Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang lainnya
yang dapat menyebabkan kontaminasi.
○ Melakukan pengecekan stock opname secara berkala sebulan sekali (dilakukan pada
hari libur di akhir bulan, diberikan reward berupa insentif kepada petugas apotek)
○ Mengupayakan pengembalian atau penukaran obat kepada PBF apabila obat telah
kadaluwarsa.
○ Menyimpan obat LASA tidak secara berdekatan.
○ Menggunakan lemari khusus untuk menyimpan narkotik dan psikotropik
B. Terjadi overstock dalam pengelolaan obat, dapat ditunjukkan melalui
perbandingan HPP dan Pembelian serta TOR
Tabel Perhitungan Nilai HPP, Pembelian dan TOR Apotek
Terjadi Over Stock

Dari soal : Dari perhitungan indeks rata-rata :


Pembelian = 90% x omset Indeks rata-rata = 1,15 %
= 90% x 1.010.880.000 Margin = 0,15 = 15%
= 909.792.000 / tahun Pembelian = 100% - 15% = 85%
Pembelian = 85% x omset
TOR = HPP/(pembelian/12) = 85% x 1.010.880.000
= 838.645.375/(909.792.000 /12) = 859.248.000 / tahun
= 11,06 kali TOR = HPP/(pembelian/12)
= 838.645.375/(859.248.000/12)
(TOR sudah baik karena sudah sesuai standar = 11,71 kali
(TOR = 8-12) tetapi belum efisien karena = 12 kali
keuntungan 10% ) lebih sedikit dari perhitungan (TOR sudah baik karena sudah sesuai standar (TOR =
dari indeks rata-rata 8-12) dan sudah efisien dengan keuntungan lebih
tinggi yaitu 15% ) lebih banyak dari perhitungan dari
indeks rata-rata
Dari 2 presentase pembelian, terjadi
overstock, karena sebaiknya pembelian
dihitung dari indeks rata-rata yaitu 85%
dari omset, tetapi pada soal 90% dari
omset, terjadi perbedaan 5% sehingga
dapat dinyatakan terjadi overstock pada
obat-obat non esensial dan daya jualnya
kecil.
C. Dampak overstock terhadap efisiensi persediaan

1. Biaya pemusnahan meningkat dan beban usaha


meningkat
2. Meningkatkan biaya-biaya persediaan
(penyimpanan produk)
3. Banyak obat yang mengalami deadstock
sehingga berakhir rusak/kadaluwarsa
4. Meningkatkan resiko adanya kerugian bagi
apotek
5. Keuntungan dan profit menurun.
D. Langkah-langkah meningkatkan efisiensi pengelolaan obat

Seleksi:
● Melakukan seleksi item obat yang akan dibeli berdasarkan daftar obat yang disusun
dengan metode konsumsi dan ABC-VEN serta mempertimbangkan kemampuan
masyarakat, budaya masyarakat.
● Seleksi obat juga disesuaikan dengan Formularium Nasional.

Pengadaan:
● Menetapkan persediaan dana yang dialokasikan untuk pembelian obat- obatan
berdasarkan metode kombinasi konsumsi dan ABC-VEN.
● Melengkapi fasilitas apotek dengan adanya kartu stok terkomputerisasi untuk mencegah
terjadinya stok kosong dan stok berlebih
● Menghitung jumlah item obat yang akan dipesan, kapan harus memesan dan pada level
stok berapa sediaan harus sudah dipesan kembali.
● Meningkatkan kedisiplinan dalam pembayaran biaya jatuh tempo pembelian obat di PBF
dengan cara pembuatan timeline kegiatan apotek yang diperbaharui setiap satu bulan.
Pencatatan
Melakukan pencatatan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat pesanan,
faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan
pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Pelaporan
Melakukan pelaporan yang terdiri dari pelaporan internal dan eksternal.
Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan
manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan
eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, meliputi pelaporan
narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya
Distribusi:
● Melakukan pengecekan stock opname secara rutin setiap sebulan sekali
● Mengevaluasi omset apotek tiap bulan dengan cara menghitung TOR dan HPP, neraca laba rugi.
● Mengevaluasi ketersediaan obat dengan menghitung presentase obat yang kadaluwarsa atau
rusak dan presentase stok mati.

Penggunaan:
● Kerja sama dengan dokter keluarga terdekat terkait peresepan obat
● Mengevaluasi kualitas pelayanan resep dengan cara pemberian kuisioner kepada pasien
● Melakukan pengembalian atau penukaran obat kepada PBF apabila obat telah kadaluwarsa
● Melakukan pemusnahan obat yang rusak dan kadaluwarsa melalui sistem pelaporan dan berita
acara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
A. Identifikasi penyebab masalah dalam pelayanan apotek

Pasien memberikan complain bahwa apotek sering buka pukul 9


• Belum adanya SOP yang berlaku pada SDM apotek atau belum
ditaatinya SOP yang ada
• Belum adanya sistem punishment yang diberlakukan pada SDM
yang melakukan pelanggaran
• Belum adanya penerapan pembagian kerja yang difungsikan
untuk SDM sehingga sebab luasnya jam kerja yang ia miliki
sekarang menyebabkan SDM cenderung tidak bertanggung
jawab pada jam kerja tersebut.
• Belum adanya rasa tanggung jawab atau kesadaran atas
kewajiban SDM pada apotek.
Beberapa pasien mengaku sering tidak mendapatkan
obat yang dibutuhkan
• Ketidaksesuaian persediaan atau perencanaan pengadaan obat
dengan kebutuhan pasien.
• Data terkait persediaan obat tidak didokumentasi dengan
benar baik dari kerjasama dengan dokter atau kebutuhan obat
BPJS
• Pengelolaan penyimpanan obat atau SOP pada pengecekkan
obat kurang baik sehingga banyak obat rusak sehingga
mengurangi persediaan obat di apotek.
• Pengelolaan keuangan untuk persediaan obat tidak cukup
menutup kebutuhan obat pasien.
Pasien BPJS jumlahnya bertambah namun stock obat
sering kosong

Keuangan apotek yang tidak mampu menutup


kurangnya dana untuk mengadakan obat pasien BPJS,
terutama karena piutang BPJS yang belum dibayar
selama 6 bulan. Sehingga kenaikan jumlah pasien BPJS
yang terjadi, tidak bisa berdampak langsung pada
pemasukan keuangan apotek dan akhirnya stock obat
masih sering kosong
Pelayanan apotek lambat

• Belum ada atau kurang ditaatinya mengenai SOP


untuk pelayanan obat pasien (misalnya waktu
peracikan)
• Administrasi apotek terkait pelayanan atau pendataan
pasien masih manual
• Performa SDM rendah, karena gaji masih dibawa
UMR
B. Langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas pelayanan apotek

• Menyusun SOP secara rinci untuk semua sistem di apotek


• Mensosialisasikan SOP pada SDM apotek
• Menerapkan sistem reward dan punishment pada SDM apotek
• Menyusun pembagian shift kerja
• Melakukan training tentang manajemen pengelolaan apotek pada
SDM
• Mengatur keuangan dengan mengusahakan klaim ke BPJS agar
piutang terbayarkan agar bisa menutup kekurangan obat BPJS
• Memperbaiki sistem pengadaan dan penyimpanan obat di apotek
untuk meminimalisis adanya obat rusak dan pasien yang tidak
mendapatkan obat
• Meningkatkan performa SDM dengan meningkatkan gaji, karena
masih dibawa UMR
C. Pelayanan terhadap pasien BPJS yang terus bertambah walaupun stok
obat sering kosong

Tetap dilakukan pelayan pada pasien BPJS, namun


akan melakukan klaim terhadap BPJS dimana akan
tetap memberikan pelayanan pada pasien BPJS
apabila piutang telah dibayarkan dan maksimal
waktu pembayaran ditangguhkan selama 3 bulan.
Dan pelayanan akan dihentikan jika BPJS tidak
melunasi piutangnya selama jangka waktu yang
diberikan tersebut
A. Evaluasi laba/rugi apotek serta parameternya (NPM, GPM) dan analisis
ROI dan PBP
• Pembelian produk
= 90% x Omset
= 90% x Rp. 1.010.880.000
= Rp. 909.792.000 / tahun
• Biaya operasional
•Per bulan = Rp.11.500.000
•Per tahun = Rp. 138.000.000
• PPh
= 0,5% x Omset
= 0,5% x 1.010.880.000
= Rp. 5.054.400 / tahun
• PBB
= Rp. 290.500,00
• Laba Bersih
= Omset – ( HPP + PPh + PBB+ Biaya operasional)
= Rp. 1.010.880.000– (Rp. 838.645.375,49 + Rp. 5.054.400 + Rp. 290.500,00 + Rp.138.000.000)
= Rp. 28.885.224 / tahun

• Laba kotor
= Omset – HPP
= Rp. 1.010.880.000 – Rp. 838.645.375,49
= Rp. 172.234.624 / tahun
Laba bersih Laba bersih
NPM = 𝑥 100% ROI = 𝑥 100%
𝑂𝑚𝑠𝑒𝑡 Investasi
Rp.28.885.224 Rp.28.885.224
= x 100% = x 100%
Rp.1.010.880.000 Rp.250.000.000
= 2,89 % = 11,56 %
Laba kotor Investasi
GPM = 𝑥 100% PBP =
Laba bersih
𝑂𝑚𝑠𝑒𝑡
Rp.172.234.624 Rp.250.000.000
= x 100% =
Rp.1.010.880.000 Rp.28.885.224

= 17,04 % = 8, 65 tahun
NPM : 2,86 % (5-7,5%)

Nilai NPM lebih rendah dari standar, Angka ini


menunjukkan bahwa pada tahun tersebut apotek
hanya menghasilkan laba 2,86% dari total
penjualan.
Menurut Seto (2001), persentase laba bersih
dapat ditingkatkan dengan menaikkan persentase
laba kotor dengan cara :
• Menaikkan harga
• Membeli barang dengan biaya lebih rendah
• Mengurangi beban usaha.
GPM : 17,04%

Menurut Keown (2008) standar rata-rata besarnya


nilai GPM untuk industri farmasi adalah 8,3%, Semakin
besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi
perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga
pokok penjualan (HPP) relatif lebih rendah
dibandingkan dengan penjualan, demikian pula
sebaliknya, semakin rendah gross profit margin
semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin,
2009)
ROI : 11,55% (12%)

Nilai ROI hamper mencapai nilai standar, Kemampuan apotek dalam


memanfaatkan seluruh sumber dayanya hamper mencapai target.
Rendahnya nilai ROI merupakan indikator adanya kekurangefektifan
penggunaan aktiva perusahaan. Penyebab utama bisa karena tingkat
perputaran aktiva yang rendah atau karena profit margin yang tidak
memadai (Machfoedz, cit Liza, 2001). ROI dapat dinaikkan dengan
cara: (Anief, 1995)
a. Menaikkan margin
1) Hasil penjualan dinaikkan lebih besar dibanding biaya
2) Biaya diturunkan lebih besar dibanding penjualannya
b. Menaikkan perputaran
1) Menaikkan hasil penjualan (laba) dibanding aktivanya (modal
lancarnya)
2) Menurunkan aktivanya lebih besar dibanding hasil penjualan (laba)
PBP : 8,65 tahun

Semakin kecil waktu pengembalian modal maka


semakin prospektif pendirian apotek yang
menandakan semakin besar tingkat pengembalian
modal dan keuntungan bersih rata-rata juga akan
semakin besar. Pay back period tergantung dari
jumlah investasi dan modal tetap yang dikeluarkan.
B. Pajak yang harus dibayar apotek dan pemilik apotek

Pajak yang harus dibayar apotek

PBB : Pajak Bumi dan Bangunan.


NJOP = (Luas Tanah (m2) x harga tanah (m2)) + (luas
bangunan (m2) x harga bangunan (m2))
NJOPTKP = Rp. 12.000.000
NJKP = NJOP – NJOPTKP
PBB = 0,1% X NJKP
PBB = 290.500,-
PPh : Pajak penghasilan :
PPh = 0,5% x omset
Pph = 5.054.400
PPN : Pajak Pertambahan Nilai :
PPN = 10% X Total biaya pembelian produk
PPN = 90.979.200,-

Total biaya pajak yang harus


dibayar apotek
= PBB + PPh + PPN
= Rp 96.324.100,00
Pajak yang harus dibayar pemilik apotek
Kondisi :
Pemilik apotek (apoteker) +istri (tidak bekerja)+1 anak
PTKP = 63.000.000
Total gaji pemilik apoteker
= (2.775.000x 12) + 9.199.008,
= 42.499.008/tahun
Golongan pendapatan total =
= PTKP-PKP
= 63.000.000 – 42.499.008
= 20.500.992
(masuk golongan 1, (kelompok pendapatan <50 juta ) (Kena
potongan 5%)

Pajak penghasilan pemilik apoteker yang harus


dibayarakan sebesar = 2.124.950/tahun
C. Bagaimana mengatasi pembayaran piutang bpjs

Asumsi : Apotek sudah mengajukan klaim sesuai administrasi dan sudah


diterima oleh BPJS. Keterlambatan pembayaran klaim oleh BPJS, menyebabkan
BPJS dikenakan denda sebesar 1 % setiap 1 bulan. Cara pengatasan piutang
BPJS
1. Apotek menggunakan fasilitas Supply Chain Financing (SCF) dari
Bank mitra BPJS kesehatan.
2. Memberlakukan masa tenggang 3 bulan setelah penunggakan
pembayaran piutang 6 bulan oleh BPJS untuk selanjutnya melakukan
pemutusan kerjasama kepada BPJS apabila melewati masa tenggang
tersebut.
3. Meningkatkan profit dengan cara mengurangi beban usaha yaitu
pemangkasan tenaga kerja dan kenaikan embalase jasa, serta memilih
PBF dengan harga murah. Efisiensi pengadaaan yaitu 85% dari omset.
Notes : SCF adalah program kerjasama BPJS Kesehatan
dengan Bank mitra dalam pembiayaan faskes provider
BPJS kesehatan. Jika Faskes tidak memiliki anggaran
membayar bunga bank atas fasilitas SCF, dapat
membayar denda atas keterlambatan pembayaran
klaim oleh BPJS kesehatan.
Berikan usulan bagaimana strategi untuk meningkatkan pendapatan apotek yang tidak
melanggar perUU dan Etika!
 Menyediakan layanan konseling apoteker dan cek kesehatan
Bangunan yang cukup luas memungkinkan untuk menambah ruang konseling (ukuran sekitar 2x2 m2), sehingga
proses patient oriented dapat ditingkatkan.
 Menaikkan margin
- Obat narkotik dan psikotik, dengan margin 1,4
- OWA dan Resep, dengan margin 1,3
 Diversifikasi pasar dengan penambahan penjualan alat kesehatan (GCU, kursi roda, kruk, kassa, plester, suntik dll),
makanan dan minuman kesehatan, produk popok bayi dan dewasa, perlengkapan bayi (pembersih telinga, gunting
kuku, dot, botol susu) dan produk susu.
 Menambah fasilitas seperti ruang tunggu yang nyaman, tv, dan wifi.
 Inisiasi apotek online dengan SOP yang jelas dan efektif. Apotek online mencakup :
- Admin call-center dan whatsapp
- Menyediakan website yang menyediakan informasi obat yang tersedia di apotek
- Pengantaran obat dengan syarat dan ketentuan jarak maksimal 5 km dari apotek yang bekerja sama dengan
Gojek
 Penguatan Prolanis sehingga loyalitas pelanggan dapat meningkat. Misalnya dengan membuat grup whatsapp
khusus untuk memantau program berjalan rutin.
 Menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan farmasi seperti universitas dan sekolah tinggi farmasi untuk
menyediakan kesempatan magang bagi pelajar.
Adakah potensi permasalahan perUU dan etika
terkait dengan permasalahan apotek dalam hal
keuangan, pengelolaan, dan pelayanan apotek?
• Pelayanan apotek lambat, melanggar Standar Praktik Apoteker
Indonesia standar 3.11 dan Kode Etik Apoteker Bab IV dimana
apoteker menyelesaikan dispensing tepat waktu
• Stok obat kosong, melanggar Undang-Undang nomor 73 tahun 2016
pasal 6 tentang ketersediaan sediaan farmasi.
• Upah karyawan di bawah UMR, melanggar Undang-Undang nomor
13 tahun 2003 tentang Ketenegakerjaan pasal 90 dimana
perusahaan tidak boleh memberikan upah karyawan di bawah UMR
• Tidak dilakukan pengendalian sediaan dengan kartu stok, tidak
sesuai dengan Undang-Undang nomor 73 tahun 2016 Standar
pelayanan kefarmasian di apotek.

Anda mungkin juga menyukai