Anda di halaman 1dari 33

Obstruksi Saluran Napas

Atas

Pembimbing :
dr. Lisa Apri Yanti, Sp.THT-KL (K), FICS
Created by

Nyayu Firda 04054821820047


Naufal Karyna Putri 04054821820049
Izzy Vikrat 04054821820054
Mardiati Nurul Hidayah Harahap 04084821921075
Safira Azzahra 04084821921094
Nurul Anisa 04084821921092
2
Outline

▪ Pendahuluan
▪ Tinjauan Pustaka
▪ Kesimpulan

3
1
Pendahuluan

4
Saluran

Pernapasan Sumbatan
Atas

Sumbatan
Saluran
Napas Atas
2
Tinjauan Pustaka

6
ANATOMI SALURAN NAFAS ATAS

7
ANATOMI HIDUNG “
• Hidung luar berbentuk piramid
• Rongga hidung dilapisi mukosa
hidung
• Rongga hidung terbagi atas dua
bagian, secara longitudinal oleh
septum hidung dan secara
transversal oleh konka superior,
medialis, dan inferior.

8

9
• Bagian atas rongga hidung:
a. etmoid anterior dan
posterior

• Bagian bawah rongga hidung:
a. palatina mayor dan a.
sfenopalatina
•Bagian depan rongga hidung:
cabang a. fasialis.

• Pada bagian depan septum:


Anastomosis dari cabang-
cabang arteri (pleksus
Kiesselbach)

10

Penyaringan
Membran
Mukosa

Jaringan
Fungsi rongga hidung Penghangatan
pembuluh
darah

Pelembaban Konka

11
ANATOMI FARING

• Faring merupakan saluran
yang memiliki panjang
kurang lebih 13 cm yang
menghubungkan nasal dan
rongga mulut kepada laring.

12
NASOFARING OROFARING LARINGOFARING

▪ Berhubungan Struktur pada ▪ Merupakan posisi


dengan ruang orofaring: terendah dari
telinga tengah ▪ dinding posterior faring.
melalui tuba faring ▪ Pada bagian
eustachius. ▪ Tonsil palatina bawahnya, sistem
▪ Fosa tonsil respirasi menjadi
▪ Arkus faring anterior terpisah dari
dan posterior sistem digestif.
▪ uvula,
▪ Tonsil lingual
▪ Foramen sekum

13
ANATOMI LARING
• Struktur kompleks yang

menyatukan trakea dan bronkus
dengan faring sebagai jalur
aerodigestif umum
• Umumnya terbagi menjadi tiga
(supraglotis, glotis, dan subglotis)
• Dibentuk oleh kartilago,
ligamentum, otot, dan membrana
mukosa

14
15
OBSTRUKSI SALURAN NAFAS AKUT

16

DEFINISI
Sumbatan pada saluran napas atas yang
disebabkan oleh adanya radang, benda
asing, tumor, trauma, dan kelumpuhan
nervus rekuren bilateral sehinga ventilasi
pada saluran pernapasan terganggu.

17
ETIOLOGI
Kongenital Radang Traumatik Tumor Lain-lain

Atresia Ingesti Benda


Laringotrakeitis Hemangioma
koane kaustik asing

Stenosis Patah Papiloma


Udem
supraglotis, Epiglotitis tulang laring
angioneurotik
glotis, dan wajah rekuren
infraglotis
Hipertrofi Intubasi lama:
Limfoma
adenotonsiler udem/stenosis
Kista
Tumor
Angina
ganas
ludwig
tiroid

Karsinoma sel
Abses parafaring
skuamosa laring,
atau retrofaring 18 faring, atau esofagus
KONGENITAL

Atresia koane

• Akibat kegagalan absorpsi membran bukofaringeal


• Obstruksi dapat berupa membran atau tulang
• Gejala: kesulitan bernafas dan keluar sekret hidung terus-menerus
• Sianosis pada waktu diam dan menghilang saat menangis
• Pengobatan: pembedahan

Selaput glotis dan stenosis glotis

• Ditandai suara parau sedangkan pada bayi manifestasinya berupa suara serak
dan menangis tidak keras
• Pengobatan sementara: businasi. Diperlukan tindakan bedah untuk memisahkan
pita suara melalui tirotomi.
19
RADANG

Tonsilitis

• Inflamasi pada tonsila palatina yang disebabkan oleh virus atau bakteri

Angina ludwig

• Selulitis di dasar mulut dan leher akut yang invasif, menyebabkan udem hebat di
leher atas yang dapat menyumbat jalan napas.
• Berasal dari lesi mulut (abses alveolar gigi atau infeksi sekunder karsinoma dasar
mulut)
• Pengobatan: Pemberian antibiotik, dekompresi terhadap ruang fasia yang tertutup
20
TRAUMA

Menelan bahan kaustik Trauma trakea Trauma intubasi

• Menelan larutan • Dari pemeriksaan • Intubasi lama dapat


asam atau basa kuat rontgen terlihat benda sebabkan udem laring
 mukosa sal. cerna asing, trauma penyerta dan trakea.
terbakar seperti fraktur vertebra • Pengobatan dengan
• Diagnosis riwayat • Penderita trauma kortikosteroid
menelan zat kaustik, tumpul trakea • Obstruksi hebat:
luka bakar sekitar diobservasi, bila terjadi trakeotomi
dan dalam mulut obstruksi: trakeotomi
• Penderita trauma tajam
dengan robekan trakea
dialkukan trakeotomi di
distal robekan
21
TUMOR

Papiloma laring rekuren

• Disebabkan papova virus


• Gejala khas berupa disfonia dan sesak napas bertambah hebat sampai
terjadi sumbatan total.
• Terapi berupa pembedahan dengan mikrolaringoskopi

Neoplasma tiroid
• Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring (Dicurigai bila tumor tidak
dapat digerakkan dari dasarnya)
• Eksisi dengan laringektomi.

22
LAIN-LAIN

Udem angioneurotik

• Disebabkan oleh alergi.


• Gejala berupa suara parau yang pregresif setelah kontak dengan alergen
• Kadang diperlukan trakeotomi

Benda asing saluran napas atas


• Sering pada anak
• Dapat berupa sekret kental, bekuan darah, membran difteri, nanah, benda padat
(kacang, tulang, jarum, peniti, koin), atau zat kimia.
• Benda asing pada hidung dikeluarkan dengan pengait (haak)
• Benda asing di tonsil dapat diambil dengan pinset atau cunam
• Benda asing di laring dilakukan heimlich maneuver. Namun pada kasus sumbatan
total, dilakukan trakeostomi 23

Gejala dan tanda Pemeriksaan penunjang

• Serak (disfoni) sampai • Laringoskop


afoni • Nasoendoskopi
• Sesak napas • X-ray
• Stridor • Foto polos sinus
• Retraksi pada paranasal
suprasternal, • CT-Scan kepala dan
DIAGNOSIS epigastrium,
interkostal, dan
leher
• Biopsi
supraklavikula sebagai
upaya mendapatkan
oksigen yang adekuat
• Gelisah
• Pucat dan dapat
menjadi sianosis
karena hipoksia
24
• Pasien tenang
STADIUM I • Retraksi suprasternal
• Stridor inspirasi

• Pasien mulai gelisah


STADIUM II • Retraksi suprasternal dan epigastrium
• Stridor inspirasi

• Pasien sangat gelisah


STADIUM III • Retraksi suprasternal, epigastrium, dan interksotal
• Dispnea

• Pasien sangat gelisah


• Retraksi suprasternal, epigastrium, interkostal, dan
STADIUM IV supraklavikula
• Tampak sangat ketakutan dan sianosis

STADIUM OBSTRUKSI SALURAN NAPAS ATAS MENURUT JACKSON


25

PENATALAKSANAAN
TINDAKAN
Prinsip: mengusahakan KONSERVATIF
supaya jalan napas TINDAKAN
lancar kembali OPERATIF/RESU
SITASI

26
INTUBASI ENDOTRAKEA

Indikasi :
• Untuk mengatasi obstruksi
saluran napas bagian atas.
• Membantu ventilasi.
• Memudahkan mengisap
sekret dari traktus
trakeobronkial.
• Mencegah aspirasi sekret
yang ada di rongga mulut
atau berasal dari lambung.

27
KRIKOTIROTOMI

Krikotirotomi merupakan tindakan penyelamatan pada pasien


dalam keadaan gawat napas dengan membuat lubang pada
membran tirokrikoid. Tindakan ini harus dikerjakan cepat.

28
TRAKEOSTOMI

Indikasi :
• Mengatasi obstruksi laring.
• Mengurangi ruang rugi (dead air
space) di saluran pernapasan atas.
• Mempermudah pengisapan sekret
dari bronkus.
• Untuk memasang alat bantu
pernapasan (respirator).
• Untuk mengambil benda asing di
subglotik, apabila tidak
mempunyai fasilitas bronkoskopi.
29
HEIMLICH MANEUVER

• Suatu cara untuk mengeluarkan


benda asing yang menyumbat
laring secara total atau benda
asing ukuran besar yang
terletak di hipofaring.
• Prinsip: memberi tekanan pada
paru.
• Komplikasi: ruptur lambung,
ruptur hati, dan fraktur iga.

30
3
Kesimpulan

31
KESIMPULAN

▪ OSNA merupakan kegawatdaruratan yang harus segera diatasi


untuk mencegah kematian.
▪ Penanggulangan pada OSNA bertujuan agar jalan napas lancar
kembali.
▫ Tindakan konservatif (Obat antiinflamasi, antibiotik, dan
pemberian O2 intermiten)
▫ Tindakan operatif atau resusitasi dengan memasukan pipa
endotrakeal melalui mulut (intubasi orotrakea) atau melalui
hidung (intubasi nasotrakea) membuat trakeostoma
▫ Krikotirotomi
▫ Perasat heimlich
32
THANKS!

33