Anda di halaman 1dari 62

METODE PEMBUATAN DAN

PERALATAN
PRODUKSI SEDIAAN SEMI PADAT
ERISA APRILIYANI
(1704101002)
SITI NURAINI
(170410100 )
SALEP

• FI III : sediaan setengah padat yang


mudah dioleskan dan digunakan obat luar.
• FI IV : sediaan setengah padat ditujukan
untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput.
Syarat pembuatan salep :

• Pemerian : Tidak boleh berbau tengik


• Kadar : Kecuali dinyatakan lain untuk salep
yang mengandung obat keras/narkotik,
kadar obat adl 10%
• Dasar salep : kecuali dinyatakan lain, basis
salep adalah vaselin (vaselin album)
• Homogenitas, jika dioleskan pd sekeping kaca
atau bahan transparan lain yg cocok harus
menunjukkan susunan yg homogeny
Kualitas salep yang baik adalah

• Stabil, selama dipakai harus bebas dari


inkompatibilitas, tidak terpengaruh oleh suhu
dan kelembaban kamar.
• Lunak,semua zat yang ada dalam salep
harus dalam keadaan halus, dan seluruh
produk harus lunak dan homogen.
• Mudah dipakai atau mudah dioleskan.
• Dasar salep yang cocok.
• Dapat terdistribusi merata.
Metode pembuatan

• Aturan umum pembuatan salep


• Cara Pembuatan Salep dengan bahan tertentu
• Pembuatan Salep secara Khusus
Metode pembuatan salep menurut
Aturan umum pembuatan salep
A. Bagian – bagian yang dapat larut dalam sejumlah campuran
lemak yang diperuntukkan bilamana perlu dilarutkan dengan
pemanasan di dalamnya.

Umumnya kelarutan obat dalam minyak lemak lebih besar dari


pada dalam vaselin. Champora, Mentholum, Phenolum, Thymolum
dan Guayacolum lebih mudah dilarutkan dengan cara digerus dalam
mortir dengan minyak lemak. Bila dasar salep mengandung vaselin,
maka zat-zat tersebut digerus halus dan tambahkan sebagian (+
sama banyak) Vaselin sampai homogen, baru ditambahkan sisa
vaselin dan bagian dasar salep yang lain. Champora dapat
dihaluskan dengan tambahan Spiritus fortior atau eter secukupnya
sampai larut setelah itu ditambahkan dasar salep sedikit demi
sedikit, diaduk sampai spiritus fortiornya menguap.
Bila zat-zat tersebut bersama-sama dalam salep, lebih mudah
dicampur dan digerus dulu biar meleleh baru ditambahkan dasar
salep sedikit demi sedikit.
Contoh Resep

R/ Camphora 1
Vaselin. Flav 9
S.Ungt.Champhoratum
Penyelesaian :
1. Menggerus campora dengan vaselin sama
banyak, baru ditambahkan sisa veselin ad
homogen
2. Menetesi campora dengan etanol 96% gerus ad
larut tambah sisa basis salep
Hal – hal yang perlu diperhatikan :

1. Jangan mengganti phenol dengan phenolum


liquefactum, sebab phenol liq merupakan
larutan air dalam phenol. Phenol yang
dilarutkan dalam minyak, bekerja kurang
merangsang kulit dibandingkan dengan
adanya air
2. Dalam unguentum Methylis salicylas
compositum, Salycilas methylicus dapat
dimanfaatkan untuk melarutkan menthol
3. Garam alkaloid mudah larut air, sedangkan basisnya
mudah larut dalam minyak seperti ephedrin
4. Anthralinum dan Chrysarobin dilarutkan dalam dasar
salep dengan pemanasan diatas tangas air.
5. Pelidol dilarutkan dulu dalam chloroform sama banyak,
setelah itu dicampur dulu dengan bagian lain dasar
salep, biarkan Chloroform menguap dengan jalan salep
diaduk-aduk sampai homogen
Bila mengandung minyak, pelidol digerus dulu dengan
minyak. Pelidol dapat larut dalam vaselin 1% dan
dalam minyak lemak 7% dengan pemanasan.
6 Cannabis Indica Ext. Digerus dengan minyak akan
segera larut. Bila harus dicampur dengan vaselin maka
lebih dulu ditambah sedikit ethanol 96% digerus lalu
ditambah sedikit demi sedikir vaselinya
7 Beta Naptholum dalam salep sering terdapat bersama
sapo kalinus. Maka itu larutkan Beta Naptholum dalam
Sapo Kalinus dulu dengan jalan digerus sama banyak
baru dicampur dengan sisa sapo kalinus dan bagian
lain. Ingat beta naphtholum untuk kulit ada dosis
maksimumnya, maka salep tersebut harus dibagi.
Metode pembuatan salep menurut
Aturan umum pembuatan salep
B. Zat-zat yang mudah larut dalam air kecuali ditentukan lain

Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat larut


dalam air yang tersedia maka obatnya dilarutkan dulu dalam
sebagian dulu dalam air dan dicampur dengan bagian dasar salep
yang dapat menyerap air, setelah seluruh obat dalam air terserap,
baru ditambahkan bagian-bagian lain dasar salep, digerus dan
diaduk hingga homogen.

Dasar salep yang dapat menyerap air antara lain ialah Adeps
lanae, Unguentum Simplex, hydrophilic ointment. Dan dasar salep
yang sudah mengandung air antara lain Lanoline (25% air),
Unguentum Leniens (25%), Unguentum Cetylicum hydrosum (40%).
Contoh Resep 1

R/ Kalii iodiid 3
Lanolin 16
Ugt simplex ad 30
m.d.s.ad.us.ext

Penyelesaian : Ambil air dari lanolin untuk


melarutkan KI
Contoh Resep 2

R/ Procain hcl 0,100


Aq rosae 1
Adeps Lanae 3
Zincy Oxyd 3
Vaselin ad 30
m.d.s.us.ext

Penyelesaian: Larutkan Procain HCl dalam


Aq.rosae dan zincy oxyd diayar dahulu
Dalam keadaan terpaksa penambahan air
adalah perlu, maka perlu dijelaskan dan
dimintakan persetujuan dokter yang menulis
resep, jumlah air yang ditambahkan
dikurangkan pada bagian dasar salep.
Digunakan air bila dalam resep salep tertulis
obat :
A. Iodium
Disini dibuat seperti resep tersebut (Ph.Ned.V)
R/ Iodi 2
Kalii Iodii 3
Aquades5
Ungt Simplex 90

Larutkan KJ dalam air lalu ditambahkan iodium hingga


larut, setelah itu tambahkan Unguentum Simplex hingga
homogen. Penimbangan Iodium dengan kaca arloji dua
yang satu untuk tutup dan jangan menggunakan spatel
logam.
B. Argentum Coloidae (Collargol)
Digerus lama dengan aqua sama banyak sampai larut
C. Argenytum Proteinicum (Protargol)
Ditaburkan dalam air sama banyak, lalu dibiarkan
selama 30 menit baru digerus dengan masa salep. Bila
dalam masa salep ada Glycerin, maka Protargol dapar
digerus langsung dengan Glyerin. Hal tersebut merupakan
upaya agar sifat koloidnya tidak pecah.
D. Ekstrak Kental
Digerus dulu dengan sedikit air, seperti Belladonae
Extractum dan Hyoscyami Extractum. Bila dalam salep
ditulis Glycerin maka dapat dicampurkan unruk menggerus
exstrak, air yang digunakan dikurangkan masa salep.
E. Retanhiae Extractum
Ditaburkan dulu dalam air sama banyak, setelah itu
dibiarkan 15 menit baru digerus dan diaduk
F. Tanin
Sukar larut dalam air, bila air yang tersedia tidak cukup
lebih baik tidak dilarutkan tapi diserbuk dan digerus dengan
dasar salep
G. Adanya Iodium atau Tanin dengan garam alkaloida
dalam larutan maka akan mengendapkan alkaloid
base. Maka kedua macam tersebut dipisah, dengan masing-
masing dicampur sendiri-sendiri dengan sebagian dasar
salep baru keduanya salep tersebut dicampur.
Metode pembuatan salep menurut
Aturan umum pembuatan salep
C. Zat-zat yang kurang larut atau tidak larut dalam dasar
salep
Zat-zat ini diserbukkan dulu dengan derajat halus
serbuk pengayak no.100. setelah itu serbuk dicampur
baik-baik dengan sama berat masa salep, atau dengan
salah satu bahan dasar salep. Bila perlu bahan dasar
salep tersebut dilelehkan terlebih dahulu, setelah itu
sisa bahan-bahan yang lainditambahkan sedikit demi
sedikit sambil digerus dan diaduk hingga homogen.
Untuk pencegahan pengkristalan pada waktu
pendinginan, seperti Cera flava, Cera alba,
Cetylalcoholum dan Paraffinum solidum tidak tersisa
dari dasar salep yang cair atau lunak.
Pembuatan salep dengan Asam borat tidak diizinkan dibuart dengan
pemanasan :
Contoh Resep
R/ Zinci Oxyd 1
Vaselin album 9
m.d.s.ad.us.ext

Ayak ZnO dengan pengayak no 100 dan timbang serbuk yang


telah diayak tersebut 1gr. Panaskan mortir dan stamfer dengan
dituangi air panas. Masukan 1gr vaselin dalam mortir panas, diaduk
dan digerus sampai homogen.

Zincy Oxydum dan Acidum boricum selalu diayak dahulu sebelum


ditimbang
Untuk membuat salep yang homogen dan
terbaginya zat padat yang merata dalam salep
dapat digunakan alat penggilas salep (Zalf Molen)
Contoh Resep
R/ Acidi borici 10
Vaselin 90
SUE

Dibuat tanpa pemanasan.


Metode pembuatan salep menurut
Aturan umum pembuatan salep
D. Apabila unguenta dibuat dengan perlelehan,
maka campurannya harus diaduk sampai dingin.
Pembuatan salep ini dibuat dengan cawan
porselin sebagai pengaduk digunakan batang
gelas atau spatel kayu. Massa yang melekat pada
dinding cawan dan spatel atau batang gelas kaca
selalu dilepas dengan kertas film
Bahan salep yang mengandung air tidak ikut
dilelehkan tetapi diamnil bagian lemaknya,
sedang air ditambahkan setelah masa salep
diaduk sampai dingin
Contoh Resep
R/ Sulfadiazin
Alchoholcetylici aa 2,5
Zincy Oxydum 5
Oleum sesami 20
Acidum Borici 4
Vaselin 16
s.ad.us.ext

Penyelesaian :
• Lebur Alcoholcetylicum, vaselinum dan ol.sesami
• Zincy Oxydum diayak dahulu
• Campur serbuk dengan leburan dasar salep
Cara Pembuatan Salep dengan bahan
tertentu
1. Oleum Cacao
Karena sifatnya polimorfis, maka bila oleum cacao dilelehkan sampai
mencair, semua pada waktu mendinginkan akan memakan waktu yang lama. Maka
dari itu bila salep mengandung lebih dari 10% oleum cacao perlu hati-hati pada
waktu melelehkan. Oleum cacao dilelehkan sampai meleleh, tetapi belum mencair
seperti minyak, setelah itru diturunkan dari penangas air lalu ditambah minyak
dingin atau masa salep dan digerus. Bila kurang daroi 10% maka dapat dibuat
seperti pada pembuatan salep peleburan.
2 Sapo Kalinus
Tidak ikut dipanasi, sebelum dicampu dengan masa salep , maka digerus
dahulu dalam mortir.
3. Styrax
Supaya dimurnikan dulu dengan dipanasi diatas tangas air pada temperatur
tidak lebih dari 75derajat setelah dikolir. Dalam perdagangan sudah ada styrax
yang telah dimurnikan. Bila styrax perlu dicolir harus diyimbang lebih bear 100%
karena diperkirakan 50% hilang pada waktu styrax dikolir.
Cara Pembuatan Salep dengan bahan
tertentu
4. Coloponium
Digerus halus dulu dimortir, setelah itu serbuk coloponium ditaburkan pada
bagian-baguian salep yang telah dilebur dahulu, dimana serbuk coloponium dapat
larut. Setelah itu, seluruhnya dipanasi diatas tangas air, coloponium dapat larut
dalam lemak, minyak, cera dam adeps lanae.
Contoh Resep
R/ Acid salicyl 1
Suld praecip 6
Sapo kalinus6
Cera flava 3
Ol. Arachud ad 30
s.ad.us.ext

Penyelesaian :
• Lebur cera flav dan ol.arachidids aduk sampai dingin
• Acid sal ditambah separo campuran tersebut
• Separo campuran yang lain ditambah sapo kalinus dan sulfur
• Campur kedua campuran tersenut
• Dibuat dua masa karena sapo kalinus dan acid sal akan keluar air, salep jai lembek
Cara Pembuatan Salep dengan bahan
tertentu
5. Balsamum Peruvianum
Jngan ikut dipanasi, ditambahkan pada mas salep yang telah
dingin dan dicampur terakhir. Bila ada ol.ricini dalam resep, digerus
dulu ol.ricini
Contoh Resep
R/ Procaini HCL 0,250
Bals peruvianum
Ol. Ricini aa 5
Ung simplex ad 25
Penyelesaian :
• Buat unguentum simplex dulu
• Larurkan Procain HCl dalam air kurangkan dalam basis
• Tambahkan ol.ricini terahir balsam peruvian ( jangankeras
menggerus)
Cara Pembuatan Salep dengan bahan
tertentu
Zat zat yang ditambahkan terakhir pada
salep yang telah dingin ialah ichtamolum,
tumenol amommum, pix litantracihs, Oleum.
Fagi empyreumatycum depuratum,dan oleum
lunipoeri empyrerumaticum depuratuim.
Oleum lecoris aseli,minyak- minyak eteris,dan
zat yang mudah menguap, seperty camphora,
menthol dan lainya.
Pembuatan Salep secara Khusus
1. Hydragyrum
Menurut Ph.ned V (Farmakope Belanda) hydragyrum
digerus dengan adeps lanae sampai tidak terlihat partikel
hydragyrum yaitu diperoleh partikel Hg<20iu. Penimbangan
Hg dilakukan dengan menggunakan kertas yang dilipat
dengan corong, lubangnya dapat diatur besarnya, dengan
memukul tepi kertas dengan jari maka HG dapat diatur
keluarnya melalui lubang.
2. Hydragiri Oxydum Flavum
Hydragiry Oxydi yang terjadi dan masih basah digerus
dulu dengan adeps lanae setelah itu dicampur vaselin
3. Hydragyri Aminochloridum
Serbuk yang masih basah dicampur dengan adeps
lanae, setelah itu dicampur vaselin.
PASTA

Pasta adalah sediaan berupa massa lunak


yang dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Biasanya dibuat dengan mencampurkan
bahan obat yang berbentuk serbuk dalam
jumlah besar dengan vaselin atau parafin cair
atau dengan bahan dasar tidak berlemak
yang dibuat dengan gliserol, mucilago atau
sabun. Digunakan sebagai antiseptik atau
pelindung kulit.
Kelebihan Pasta

• Pasta mengikat cairan secret, pasta lebih baik


dari unguentum untuk luka akut
dengan tendensi mengeluarkan cairan
• Bahan obat dalam pasta lebih melekat pada
kulit sehingga meningkatkan daya kerja local
• Konsentrasi lebih kental dari salep
• Daya adsorpsi sediaan pasta lebih besar dan
kurang berlemak dibandingkan dengan sediaan
salep.
Kekurangan Pasta

• Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat


ditembus, pasta pada umumnya tidak sesuai
untuk pemakaian pada bagian tubuh yang
berbulu.
• Dapat mengeringkan kulit dan merusak
lapisan kulit epidermis. Dapat
menyebabkan iritasi kulit.
Metode pembuatan pasta
Pembuatan pasta baik dalam ukuran besar maupun
kecil dibuat dengan dua metode:
A. Pencampuran
Komponen dari pasta dicampur bersama-sama dengan
segala cara sampai sediaan yang rata tercapai.
B. Peleburan.
Semua atau beberapa komponen dari pasta
dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan
dengan pengadukan yang mengental. Komponen-
komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada
campuran yang sedang mengental setelah didinginkan
dan diaduk.
Metode pembuatan pasta menurut
macam pasta :
A. Pasta Berlemak
Pasta berlemak adalah suatu salep yang mengandung
lebih dari 50% zat padat (serbuk). Sebagai Sebagai bahan
dasar salep digunakan vaselin, parafin cair. Bahan tidak
berlemak seperti Glycerinum, Mucilago, atau sabun
digunakan sebagai antiseptik atau pelindung kulit.
Karena itu merupakan salep yang tebal, kaku, keras
dantidak meleleh padasuhu badan. Komposisi salep ini
memungkinkan penyerapan pelepasan cairan berair yang
tidak normal dari kulit.
Karene jumlah lemak lebih sedikit dibanding serbuk
padatanya supaya homogen lemak –lemak harus dilelehkan
dahulu
Metode pembuatan pasta menurut
macam pasta :
Contoh resep 1:
Acidi salicilicy Zincy Oxydi pasta (F.N.1978) =
Pasta Zincy Oxid salicylata (Ph.Ned.Ed.VI)
R/ Acydi Salicylici 2
Zincy Oxyd 25
Amyli Tritici 25
Penyelesaian : Mengayak Zincy Oxyd lalu
lelehkan vaselin flavum
Metode pembuatan pasta menurut
macam pasta :
Contoh resep 2:
Pasta Zincy Oxyd (Ph.Ned.ed.VI) = Zincy Pasta
(FN.1978)
R/ Zincy Oxyd 25
Amyli Tritici 25
Vaselin Flavi 50
Penyelesaian : Mengayak zincy oxyd lalu vaselin
flavum dilelehkan kemudian campur keduanyaa
Metode pembuatan pasta menurut
macam pasta :
B. Pasta Kering
Suatu pasta bebas lemak yang mengandung kurang lebih 60% zat padat
(serbuk). Dalam pembuatan akan terjadi kesukaran bila dala resep tertulis
Ichthamolum atau tumenol amommum.
Adanya zat tersebut akan menjadikan pasta menjadi encer
R/ Bentoniti 1
Sulf praecip 2
Zincy oxyd 10
Talci 10
Ichtamolum 0,5
Glycerin
Aquae aa 5
S.ad.us.ext
Supaya tidak terjadi kering, salep ditempatkan ditempat yang kedap.
Bentonit ditambahkan sebagai stabilisator, disini bentonit dicampur
dengan serbuk yang lain baru ditambahkan cairan yang tersedia.
Metode pembuatan pasta menurut
macam pasta :
C. Pasta pendingin

Merupakan campuran serbuk minyak lemak dan cairan berair, dikenal dengan salep tiga
dara
R/ Zincy Oxyd
Oleum olivae
Calcii Hydroxydy sol aa 10
Cara pembuatan :
Gerus serbuk zincy oxyd lalu diayak dengan ayakan no 100. Setelah itu
ditambahkan dalam mortir Aqua Calcis dan campur baik-baik. Setelah itu ditambahkan
minyaknya sekaligus, diaduk sampai diperoleh massa salep yang homogen.
Tipe emulsi yang terjadi A/M untuk penstabilan sebagai minyak kira-kira 3%
diganti dengan cera alba. Penggerusan massa salep jangan lama-lama karena dapat
terjadi pecahnya emulsi.
Penstabilan dapat dilakukan pula dengan penambahan acidum oleinicum crudum
(1 tetes per 5gr minyak) dicampur dulu pada minyak. Pada pencampuran dengan aqua
calcis akan terbentuk sabun Ca-Oleat yang akan menstabilkan emulsu A/M setelah itu
ditambah ZnO dan dicampur.
KRIM
Pengertian :
• Menurut Farmakope Indonesia III definisi Cream adalah
sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung
air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan
untuk pemakaian luar.
• Menurut Farmakope Indonesia, Cream adalah bentuk
sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar
yang sesuai.
• Menurut Formularium Nasional Cream
adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental
mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan
untuk pemakaian luar.
Pembuatan Krim
A. Metode pertama yaitu bahan-bahan yang
larut dalam minyak (fase minyak) dilebur
bersama di atas penangas air pada suhu
70 0C sampai semua bahan lebur, dan
bahan-bahan yang larut dalam air (fase air)
dilarutkan terlebih dahulu dengan air panas
juga pada suhu 70 0C sampai semua bahan
larut, kemudian baru dicampurkan, digerus
kuat sampai terbentuk massa krim.
Pembuatan Krim
B. Metode kedua, semua bahan, baik fase minyak
maupun fase air dicampurkan untuk dilebur di atas
penangas air sampai lebur, baru kemudian langsung
digerus sampai terbentuk massa krim.

Baik metode pertama maupun metode kedua,


sama-sama menghasilkan sediaan krim yang stabil,
bila proses penggerusan dilakukan dengan cepat
dan kuat dalam mortar yang panas sampai
terbentuk massa krim. Tetapi dengan metode kedua,
kita dapat menggunakan peralatan yang lebih
sedikit daripada metode pertama
Contoh Resep 1
R/ Acidi stearinici 15
Cera Alba 2
Vaselin Album 8
Triethamolum 1,5
Propylen glicol 8
Aq dest 65,5
s.vanishing cream

Penyelesaian :
• Lelehkan cera alba, vaselinum dan acid stearicum
• Taambahkan larutan Triathanolaminum + Propylen glycol dalam air
hangat dan campurkan pada lelehan tersebut diatas.
Contoh Resep 2
R/ Acid Stearic 20
Kalii hydroxidi 1,4
Ol. Rosae qs 80
Penyelesaian :
Taburkan bentonit dalam campuran aqua dan
glycerin hangat, aduk biarkan sampai bentonit
larut
LOTION
Lotion adalah sediaan cair berupa suspensi
atau dispersi, digunakan sebagai obat luar.
Dapat berbentuk suspensi zat padat dalam
bentuk sebuk halus dengan bahan
pensuspensi yang cocok atau emulsi tipe
minyak dalam air (o/w atau m/a) dengan
surfaktan yang cocok (FI III,1979)
Pembuatan Lotion
Proses pembuatan Lotion secaca garis besar
adalah mencampurkan fase minyak dengan fase
air (emulsifikasi).
1. Fase air dan emulgator dihomogenkan.
2. Ditambahkan Fase minyak. Kedua fase masing-
masing dipanaskan hingga larut kemudian baru
dicampur.
3. Setelah keduanya tercampur baru ditambahkan
pengawet (sebagai anti mikroorganisme)dan
pewangi. Pengawet & Pewangi ditambahkan
setelah suhu camp. turun hingga 40o sd. 30o C.
Penyelesaian :
Contoh Resep
Lotio Kummerfel,Di. • Ditimbang champora, diasukkan
Resep stadart dalam motir, ditambahkan 3 tetes
R/ Sulf praec 20 spiritus fort dan digerus ad homogen.
Camph 3 • Ditimbang sulf. Praicipitat
Mucil Gum Arab 10 dimasukkan kedalam no. 4, digerus
Sol. Calc Hidrat 134 ad homogen. Dipindahkan dalam
Aq. Rosae 133 kaca arloji, dan dibasahi dengan
s.u.e gliserin
• Ditimbang PGA dimasukkan kedalam
mortar digerus, ditambahkan aqua
rosae 1,2ml digerus ad terbentuk
mucilage
• Ditambahkan no. 5 kedalam mortar
no. 6 diaduk ad homogen
• Ditambahkan sol calc hidrat diaduk
ad homogen
• Diencerkan hasil no 8 dengan aqua
rosae, dimasukan dalam botol
• Diadkan dengan aqua rosae ad tanda
kalibrasi, lalu di tutup dan kocok ad
homogen
GEL
Pengertian Gel
• Farmakope Indonesia edisi IV : Gel kadang kadang disebut
jeli, merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang
dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul
organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
• Formularium Nasional : Gel adalah sediaan bermassa
lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil
senyawa anorganik atau makromolekul senyawa organik,
masing masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.
• Ansel : Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah
padat yang terdiri dari suatu disperse yang tersusun baik
dari partikel anorganik yang terkecil atau molekul organik
yang besar dan saling diresapi cairan.
Syarat-syarat Sediaan Gel

• Memiliki viskositas dan daya lekat tinggi, tidak mudah


mengalir pada permukaan kulit
• Memiliki sifat tiksotropi, mudah merata bila dioleskan
Memiliki derajat kejernihan tinggi (efek estetika)
• Tidak meninggalkan bekas atau hanya berupa lapisan
tipis seperti film saat pemakaian
• Mudah tercucikan dengan air
• Daya lubrikasi tinggi
• Memberikan rasa lembut dan sensasi dingin saat
digunakan (Formularium Nasional, hal 315).
Metode Pembuatan Gel

Menurut Khristantyo (2010), pada prinsipnya metode


pembuatan sediaan semisolid dibagi menjadi dua :
A. Metode pelehan (fusion), disini zat pembawa dan zat
berkhasiat dilelehkan bersamadan diaduk sampai
membentuk fasa yang homogen. Dalam hal ini perlu
diperhatikan stabilitas zat berkhasiat terhadap suhu
yang tinggi pada saat pelelehan.
B. Trirurasi, zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit
basis yang akan dipakai atau dengan salah satu zat
pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan
basis. Dapat juga digunakan pelarut organik untuk
melarutkan terlebih dahulu zat aktifnya,kemudian baru
dicampur dengan basis yang akan digunakan.
Contoh Resep
R/ Piroxicam gel 20 g
SUE

Teori Pendukung :
• Tragakan 2%
• Gliserol 25%
• Aqua Dest ad 100 g
• Nipagin q.s
• Mf gellones

Penyelesaian
• Siapkan alat dan bahan
• Timbang Tragakan tambahkan dengan air diamkan beberapa menit lalu gerus ad
terbentuk jelling agent
• Timbang Piroxicam masukan ke dalam mortir sambil digerus ad homogen,
encerkan dengan sedikit air
• Timbang glicerol tambahkan pada mortir sambil di gerus ad homogen
• Masukkan dalam wadah yang sesuai dan beri etiket
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat

1. Spatula
Spatula biasanya digunakan untuk
memindahkan bahan padat seperti serbuk,
salep, atau krim. Mereka juga digunakan untuk
mencampur bahan bersama-sama menjadi
campuran homogen. (Madinah, 2008).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
2. Mortar dan Stamper
Mortar dan stamper digunakan untuk
menggiling partikel ke dalam bubuk halus
(triturasi). Penggabungan cairan (levigasi)
dapat mengurangi ukuran partikel lebih lanjut
(Madinah, 2008).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
3. Ointment Slab
Ointment slab memberikan permukaan yang
keras dan bersih untuk pencampuran
senyawa. (Madinah, 2008).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
4. Blender
Blender untuk menggerakkan cairan dalam wadah sehingga dapat
mendispersikan fase dispersi ke dalam medium dispersinya. Selain
itu blender juga dapat menghomogenkan campuran dan memperkecil
ukuran partikel. Dengan adanya pengadukan mengakibatkan terjadinya
tumbukan antarpartikel dispers. (Lieberman HA & Lachmann, 1994).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
5. Homogenizer
Homogenizer paling efektif dalam
memperkecil ukuran fase dispers kemudian
meningkatkan luas permukaan fase minyak
dan akhirnya meningkatkan viskositas emulsi
sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
”creaming”. Homogenizer bekerja dengan
cara menekan cairan dimana cairan tersebut
dipaksa melalui suatu celah yang sangat
sempit lalu dibenturkan ke suatu dinding atau
ditumbuhkan pada peniti-peniti metal yang
ada di dalam celah tersebut.. Cara kerja
homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa
didapatkan diameter partikel rata-rata kurang
dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat
menaikkan temperatur emulsi sehingga
dibutuhkan pendinginan (Lieberman HA &
Lachmann, 1994).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
6. Mixer
Mixer memiliki sifat menghomogenkan
sekaligus memperkecil ukuran partikel
tapi efek menghomogenkan lebih
dominan. Mixer biasanya digunakan
untuk membuat emulsi tipe batch.
Terdapat berbagai macam mixer yang
dapat digunakan dalam pembuatan
sediaan semi padat. Dalam hal ini sangat
penting untuk merancang dan memilih
mixer sesuai dengan jenis produk yang
diproduksi atau sedang dicampur.
(Lieberman HA & Lachmann, 1994).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
7. Agitator Mixers
Secara prinsip mirip
dengan mixer pengaduk yang digunakan
untuk cairan dan untuk serbuk,
memang mixer gerakan planetary sering
digunakan untuk semi
padat. Mixers dirancang khusus untuk semi
padat yang biasanya memiliki bentuk lebih
berat untuk menangani bahan dengan
konsistensi lebih besar. Lengan pengaduk
dirancang untuk menarik, meremas,
membentuk dan bergerak sedemikian rupa
sehingga bahan dibersihkan dari semua sisi
dan sudut tempat pencampuran (Bhatt &
Agrawal, 2007).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
8. Shear Mixers
Mesin yang dirancang untuk pengurangan
ukuran ini dapat digunakan untuk
mencampur. Tetapi meskipun gaya
gesernya baik, efisiensi pencampuran
umumnya buruk. Bentuk rotary mungkin
digunakan dan colloid mill memiliki stator
dan rotor dengan permukaan kerja
kerucut. Rotor bekerja pada kecepatan
antara 3.000-15.000 rpm dan
pembersihan dapat diatur antara 50-500
mikrometer. Suspensi campuran kasar
atau dispersi dimasukkan melalui corong
dan dikeluarkan antara permukaan kerja
dengan gaya sentrifugal (Bhatt & Agrawal,
2007).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
9. Planatory Mixer
Planatory mixer digunakan untuk pencampuran dan
mengaduk bahan kental dan seperti bubur, planatory
mixer tersebut masih sering digunakan untuk operasi
dasar pencampuran dalam industri farmasi. Planatory
mixer digunakan dengan kecepatan rendah untuk
pencampuran kering dan kecepatan lebih cepat untuk
peremasan yang diperlukan dalam granulasi basah (Bhatt
& Agrawal, 2007).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
10 Double Planetary Mixers
Double planetary mixers mencakup dua bilah
yang berputar pada sumbu mereka sendiri,
sementara mereka mengorbit tempat
mencampur pada sumbu umum. Bilah terus maju
di sepanjang pinggiran tempat, menghapus bahan
dari dinding tempat dan membawanya ke bagian
interior. Berlawanan dengan conventional
planetary mixer, negosiasi kedua konsfigurasi
bilah menyapu dinding tempat searah jarum jam
dan memutar dalam arah yang berlawanan pada
sekitar tiga kali kecepatan perjalanan. Shear
blades menggantikan bahan dari dinding tempat
dan oleh aksi tumpang tindih mereka pusat
membawa partikel ke arah agitator shafts,
sehingga menghasilkan gaya geser yang luas.
Dengan menggunakan bahan ini bahkan bahan
yang sangat kental dan kohesif dapat dicampur
secara efisien (Bhatt & Agrawal, 2007).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
11. Sigma mixer
• Sigma mixer berisi pencampuran elemen (blades) dari dua tipe sigma
dalam jumlah yang kontra berputar ke dalam untuk mencapai sirkulasi
ujung ke ujung serta menyeluruh dan pencampuran yang seragam di
pembersihan dekat atau tertentu dengan wadah. Produk campuran dapat
dengan mudah diberhentikan dengan memiringkan wadah dengan tuas
tangan secara manual baik dengan sistem roda gigi yang dioperasikan
secara manual atau bermotor. Mixer yang lengkap dipasang pada baja
dibuat dari kekuatan yang sesuai untuk menahan getaran dan
memberikan performance (Bhatt & Agrawal, 2007).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
12. Ultrasonic Mixers
Metode yang efektif untuk
menangani bentuk-bentuk
tertentu dari masalah
pencampuran adalah untuk
permasalahan bahan terhadap
getaran ultrasonik. Hal ini
memiliki aplikasi khusus dalam
pencampuran dalam preparasi
emulsi (Bhatt & Agrawal, 2007).
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
13. Colloid Mill
Colloid mill berguna untuk
penggilingan, dispersi,
homogenisasi dan merusak
aglomerat dalam pembuatan
pasta makanan, emulsi, coating,
salep, krim, pulp, minyak, dll.
Fungsi utama dari colloid
mill adalah untuk memastikan
kerusakan aglomerat atau dalam
kasus emulsi untuk menghasilkan
tetesan halus yang berukuran
sekitar 1 mikron.
Peralatan Produksi Sediaan Semi Padat
14. Triple-Roller Mill
Berbagai jenis roller mill biasanya digunakan terdiri dari satu
atau lebih rol, terutama triple-roller mill. Alat ini dilengkapi
dengan tiga rol yang terdiri dari bahan tahan abrasi keras.
Mereka dilengkapi sedemikian rupa sehingga mereka datang
dalam kontak dekat satu sama lain dan berputar pada
kecepatan yang berbeda. Materi yang datang di antara rol
dihancurkan dan ukuran partikelnya dikurangi. Penurunan
ukuran partikel tergantung pada gap antara rol dan
perbedaan kecepatannya. Bahan masuk melewati gerbong A,
diantara rol B dan C dimana ia mengurangi ukuran. Kemudian
bahan tersebut lewat di antara rol C dan D dimana ia
kemudian mengurangi ukuran partikel dan menghasilkan
campuran yang halus. Gap antara rol C dan D biasanya
kurang dari celah antara B dan C, setelah melewati materi
antara rol C dan D bahan halus terus dihapus dari rol D oleh
sarana scraper E, dari mana ia dikumpulkan dalam penerima
(Bhatt & Agrawal, 2007). Pada skala besar, roller mill salep
mekanik digunakan untuk mendapatkan salep halus dan
tekstur yang seragam. Perlakuan salep kasar dipaksa untuk
lewat melalui rol stainless steel di mana ia mengurangi
ukuran partikel dan produk halus yang seragam dalam
komposisi dan tekstur yang diperoleh. Untuk skala kecil
kerja, pabrik salep kecil tersedia (Bhatt & Agrawal, 2007).