Anda di halaman 1dari 8

PENDIDIKAN BUDAYA ANTI KORUPSI

Annisa Fitri Akmal (P07124215043)


Fitra Ayu Rahmawati (P07124215053)
Mela Redianti Utami (P07124215064)
Tiara Valentina (P07124215075)
Seorang PNS memperoleh kepercayaan oleh
atasannya ditunjuk sebagai panitia pembelian atau
tim pengadaan barang baik barang inventaris maupun
barang habis pakai. Pada triwulan pertama, tim
tersebut melaksanakan pembelanjaan senilai Rp
10.000.000,00. Dari toko tempat belanja karena dana
yang digunakan adalah dana pemerintah maka toko
tersebut memberikan potongan sebesar Rp
1.100.000,00 dan Rp 133.500,00 ditambah lagi dengan
diskon Rp 300.000,00. Bagaimanakah menurut
kelompok jika peristiwa ini dikaitkan dengan
pemberantasan korupsi.
Menurut kelompok kami, kasus tersebut termasuk pembelanjaan barang menggunakan
dana pemerintah, dengan sejumlah potongan harga. Hal tersebut dilakukan oleh
sekelompok pekerja PNS, dan dilakukan pada triwulan pertama. Untuk menghindari
tindakan korupsiagar peristiwa tersebut terhindar dari korupsi maka mewajibkan tim
yang membelanjakan uang tersebut, untuk membuat laporan pertanggungjawaban
akan barang yang telah diberi sesuai kenyataan dengan mencantumkan bukti
pembayaran yang sudah mendapat potongan harga serta diskon, agar laporan tersebut
menjadi transparan. Sedangkan dana yang tersisa sejumlah Rp 1.533.500,00 yang
merupakan jumlah potongan harga dikembalikan lagi pada pemerintah.Selain itu,
diusahakan melibatkan pegawai pemerintah sebagai pihak pemberi dana untuk ikut
terlibat dalam proses pembelian barang tersebut serta melakukan pengawasan.

What : Pembelanjaan barang menggunakan dana pemerintah, dengan sejumlah


potongan harga
Who : sekelompok pekerja PNS
When : pada triwulan pertama
Where : toko tempat belanja barang
Why : untuk menghindari tindakan korupsi
Seorang pegawai kebetulan mendapatkan tugas
untuk berbelanja untuk membeli sebuah almari
besar seharga Rp.5.000.000,00 . oleh yang
bersangkutan harga dinaikkan menjadi
6.000.000 dengan alasan keperluan bayar pajak
pembelian. Kemudian uang lebihan tersebut
dibagi-bagikan kepada teman temannya
setimnya. Bagaimana pendapat kelompok anda
mengenai kasus diatas?
What: Apa yang mendasari hal tersebut dikatakan sebagai korupsi?
Kasus di atas merupakan salah satu perilaku korupsi yang biasa di sebut mark-up atau penggelembungan biaya
pengadaan suatu barang dengan dana pemerintah. Dalam kasus diatas, jelas tertera bahwa tujuan pelaku dalam
melakukan mark up adalah untuk tujuan pribadi, yaitu dengan memebagi-bagikan kepada teman teman setimnya.
Dalam hal ini, perilaku tersebut jelas merugikan negara dengan penyalahgunaan wewenang dengan tujuan
kepentingan pribadi/golongan.

When: Kapan Perilaku tersebut dikatakan sebagai tindak korupsi?


Perilaku mark-up dapat diakatan bahwa hal itu merupakan tindak pidana korupsi apabila penggelembungan dana
yang dilakukan dengan tujuan pribadi yang merugikan keuangan negara. Dalam hal ini, jelas saat melakukan
pembelian almari yang harga sebenarnya adala 5 juta dimanipulasi menjadi 6 juta, yang dalam praktiknya uang 1
juta yang notabene milik negara, pelaku kepentingan pribadi dengan menyalahgunakan wewenang.

Where: Dimana kasus/hal tersebut dapat terjadi?


Kasus seperti diatas dapat terjadi dikalangan manapun, bahkan dapat terjadi disemua sektor kementerian
pemerintah yang di tempat tersebut sering melakukan pembelian akomodasi dan pengadaan barang/jasa dengan
menggunakan uang negara. Mark up telah banyak terjadi dinegeri ini, salah satu contoh kasus ini dalam proyek
detailing engineering design PLTA di Sungai Mamberamo, Papua. Proyek itu melibatkan Gubernur Papua periode
2006-2011 Barnabas Suebu, yang ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan proyek serta
mark up yang dimulai pada tahun anggaran 2009/2010.

Why: Mengapa peeilaku seperti kasus tersebut dapat terjadi ?


Pada dasarnya perilaku mark up / penggelembungan uang dapat terjadi akibat adanya kesempatan untuk
melakukan hal tersebut dan lemahnya pengawasan dalam sistem keuangan negara. Telah diketahui bahwa
wewenang juga merupaka faktor besar dalam penyalahgunaan dana pemerintah. Dalam hal ini budaya dan perilaku
korupsi di negeri ini sangat berpengaruh dalam upaya penggelembungan uang untuk kepentingan golongan. Selain
itu tidak adanya transparansi dalam perencanaag pembelian barang/jasa juga memicu adanya mark up.
Who: Siapakah yang dapat terlibat dalam kasus diatas?
Dalam kasus mark up pelaku dapat berasal dari berbagai kalangan di lingkup kenegaraan yang sering terpapar dengan
kegiatan pengadaan barang/jasa serta proyek besar yang dibiayai oleh negara. Dalam kasus pembelian almari, adanya
wewenang dan adanya pengaruh untuk melakukan penggelembungan uang berdasar kepentingan pribadi juga menjadi pemicu
pelaku melakukan penggelembungan. Bahkan di semua sektor kemeterian di negara, semua memiliki kebijakan dalam hal
diatas.

How: Bagaimana tindak pidana yang harus diterima pihak pihak yang melakukan kecurangandan cara meminimalisir mark up?
Tindak pidana mark up melanggar:
Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Peraturan
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No: PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001

Solusi meminimalisisr terjadiya mark up:


1.Integrasi antara Perencanaan dan Penganggaran PBJ
2. Audit Pra, Proses dan PascaPBJ (audit Khusus kemanfaatan pengadaan barang/jasa
3. Perluasan e-katalog, termasuk penguatan database harga dan spesifikasi barang dan jasa serta lembaga pengelola
2. Mencegah persekongkolan vertical dan horizontal
3. Menyediakan menu penilaian kinerja penyedia oleh pengguna barang atau jasa
3. Mewajibkan dilakukan pemeriksaanLapangan terhadap penyedia barang/jasayang mendaftar di LPSE
4. Optimalisasi Whistle Blower System
Suatau lembaga membangun sebuah gedung dengan biaya
senilai 1 milyar rupiah. Prosedur membangun telah dipenihi
syarat-syaratnya. Dalam operasional pembiayaan tidak semua
nominal dioperasionalkan karena harus dipotong dengan pajak
sekitar 15% kemudian bangunan sudah terealisasi dan telah
diadakan serah terima bangunan dengan penandatanganan
Berita Acara. Kemudian pihak rekanan suatu hari datang
kerumah ketua tim memberikan sebagian keuntungan senilai 50
juta rupiah, dengan tujuan memberi ucapan terima kasih kepada
petugas tim yang sudah mengawasi proses pembangunan
sampai selesai.
What : pada kasus ini terjadi tindakan gratifikasi. Dalam kasus ini terlihat bahwa pihak rekanan datang
kerumah ketua tim dan memberikan sejumlah 50 juta rupiah. Tujuan dari pemberian ini adalah untuk
memberikan ucapan terimakasih kepada petugas tim yang sudah mengawasi proses pembangunan sampai
selesei, namun jika dilihat lagi sebenarnya pemberian uang ini tidak diperlukan.

Who : yang terlibat dalam kasus ini adalah pihak rekanan sebagai pemberi hadiah atau gratifikasi, dan pihak
kedua yaitu petugas tim sebagai pihak yang menerima hadiah atau gratifikasi.

Where : kegiatan pemberian gratifikasi terjadi di rumah ketua tim pengawas. Kasus ini terjadi pada sektor
pembangunan

When : kasus ini dilakukan ketika pembangunan gedung telah selesei

Why : kasus ini disebut gratifikasi suap karena apabila suatu hari nanti akan dilakukan kembali pembangunan
gedung dari pihak lembaga, pengawas yang telah diberi gratifikasi oleh pihak kontraktor dapat memilih
kembali kontraktor tersebut pada pembagunan selanjutnya. Kemudian pada pembangunan yang selanjutnya
kontraktor tersebut akan lebih leluasa melakukan korupsi karena pihak kontraktor telah memberi hadiah pada
pihak pengawas.

How : proses gratifikasi pada kasus ini dimulai ketika pembangunan gedung yang dilakukan suatu lembaga,
kontraktor mendapat keuntungan dari pembangunan gedung tersebut. Setelah pembagunan gedung selesei
pihak kontraktor memberikan hadiah kepada pihak ketua tim yang dapat dimatsudkan untuk bisa dipilih
kembali apabila ada pembangunan yang akan dilakukan selanjutnya. Gratifikasi ini disebut suap karena pihak
yang memberi mempunyai niat tertentu.