Anda di halaman 1dari 16

TRAUMA ABDOMEN

DAN PELVIS

Pembimbing
dr. Febriyanto Kurniawan, Sp.B (K) Onk

Disusun oleh :
Siti Zulfah
1102014255
Tujuan

c
01 Mengidentifikasi regio anatomi penting pada
abdomen

Mengidentifikasi pasien yang mempunyai risiko


02 cedera abdomen dan pelvis berdasarkan
mekanisme cedera

03 Menerapkan prosedur diagnostik yang sesuai


untuk mendeteksi perdarahan yang berlanjut
dan cedera yang dapat menyebabkan
morbiditas dan mortalitas. Menjelaskan
pengelolaan segera pada cedera abdomen dan
pelvis.
ANATOMI

Anatomi Eksternal
Anatomi Eksternal Abdomen
Abdomen Abdomen Posterior
Abdomen anterior Area abdomen belakang
dibatasi oleh linea aksilaris
Abdomen anterior dibatasi posterior dari tip skapula
oleh area antara transnipple sampai krista iliaka. Otot-
line di superior, ligamentum otot paraspinal dan
ingunial dan symphisis pubis pinggang belakang
di inferior, linea aksilaris berperan sebagai barrier
anterior dilateral terhadap luka penetrans
ANATOMI
Anatomi Internal
Abdomen

Rongga Peritoneum :

• Atas : diafragma, liver, limfa, gaster, dan kolon transversum


• Bawah : usus halus, sebagian kolon ascenden dan descenden,
kolon sigmoid, organ reproduksi interna (wanita)

Rongga Retroperitoneal :
Aorta abdominalis, vena cava inferior, sebagian besar duodenum,
pankreas, ginjal, ureter, permukaan posterior kolon ascenden dan
descenden.

Rongga Pelvis :
Rektum, kandung kemih, pembuluh darah iliaka, organ reproduksi
interna (wanita)
Mekanisme Cedera
Do you need
an online Hantaman langsung (kontak dengan kemudi kendaran) 
doctor now? Trauma kompresi dan cedera crushing terhadap viscera abdomen.
Kekuatan hantaman dapat merusak organ solid maupun
Tumpul berongga dan dapat menyebabkan ruptur dengan perdarahan
sekunder, kontaminasi oleh isi dalaman usus dan peritonitis.

Cedera
Organ Limfa 40-55%, liver 35-45%, usus halus 5-10%

Truma Luka tusuk dan luka tembak


Penetrans

Luka tusuk yang melintas struktur abdomen dapat mengenai


Cedera liver 40%, usus halus 30%, diafragma 20%, kolon 15%.
Organ Luka tembak paling sering mengenai usus halus 50%, kolon
40%, liver 30%, dan struktur vaskuler intraabdomen 25%.
Cedera Akibat Alat Pengaman

Alat Pengaman Cedera


Lap Seat Belt • Ruptur usus halus atau kolon
-Kompresi • Trombosis a.iliaca atau aorta
-Hiperfleksi abdominalis
• Fraktur Lumbal
• Cedera Pankreas/duodenum
Shoulder Harness • Fraktur atau dislokasi cervical
• Kompresi • Trombosis a.subclavia
• Fraktur tulang iga
• Kontusio pulmonal
• Ruptur visera abdomen

Air Bag • Abrasi Kornea


• Fleksi • Ruptur Kardia
• Hiperekstensi • Fraktur cervical/ thorakal
PENILAIAN
Pemeriksaan Fisik
• Inspeksi
Dilihat apakah ada
abrasi, kontusio dari
sabuk pengaman,
Perkusi
laserasi, luka
penetrans, benda Perkusi dapat
asing tertancap, merangsang
eviserasi omentum/ iritasi peritoneal
usus halus, kehamilan

Aanamnesis Auskultasi Palpasi

• Cedera akibat Ada atau tidaknya Dapat


kecelakaan bising usus. membedakan
mobil Bising usus (-) nyeri superficial
• Trauma adanya darah dan nyeri tekan
penetrans intraperitoneal/ dalam
• Luka akibat perforasi 
ledakan ILEUS
Penilaian Stabilitas Pelvis
Pemeriksaan uretra, perineal, rektal
• Robekan Uretra : darah pada meatus uretra
• Pemeriksaan rektal : - trauma tumpul : prostat letak
tinggi  ruptur uretra. – trauma penetrans : mencari
adanya darah segar karena perforasi usus

Pemeriksaan gluteal
Daerah gluteal meliputi krista
iliaka sampai lipatan glutea,
Pemeriksaan vagina
Dilakukan jika terdapat laserasi perineum
yang kompleks, laserasi disebabkan oleh
fragmen fraktur pelvis atau trauma tajam
Pemeriksaan tambahan

NGT

• Untuk dekompresi lambung sebelum DPL,


mengeluarkan isi lambung dan menurunkan
risiko aspirasi
Kateter Urin

• Membebaskan retensi urin, dekompresi


vesica urinaria sebelum DPL, monitoring
output urin
X-Ray FAST DPL CT SCAN

- Kedua tercepat
- Dengan - Invasif - Lambat
- mengidentifikasi
hemodinamik - Pasien tanpa - Mahal
perdarahan atau
terganggu  tidak adanya gangguan - tanpa
potensi cedera
perlu hemodinamik abnormalitas
organ berongga
- trauma penetrans - KI. Absolut : hemodinamik
- cepat
di atas umbilikus/ indikasi - Membutuhkan
- Non invasif
curiga cedera laparatomi penundaan
- Dapat dilakukan
thorakoabdominal - KI. Relatif : riw. pasien
di ruang resusitasi
x-ray berguna Op abd, obesitas, - Lebih spesifik
- Mempersulit :
untuk sirosis, pada cedera
obesitas, udara
menyingkirkan koagulopati, tertentu
subkutan, riw.op
hemothoraks/ - (-) diafragma,
abd
pneumothorax/ retroperitoneum
- (-) difragma, usus,
melihat udara - dianggap 98%
pankreas, cedera
bebas di sensitif untuk
organ yang solid
intraperitoneal pendarahan
intraperitoneal
Indikasi Laparatomi Pada Orang Dewasa

• Trauma tumpul abd + hipotensi, FAST (+)


• Trauma tumpul abd DPL (+)
• Hipotensi dengan luka penetrans abdomen
• Luka tembak melintasi rongga peritoneum/visera/vaskuler
retroperitoneum
• Perdarahan dari lambung, rektum/ saluran genitourinary dari trauma
penetrans
• Peritonitis
• Udara bebas, udara retroperinoneal, ruptur hemidiafragma setelah trauma
tumpul
• Ruptur saluran cerna, cedera pedikel ginjal, pada constrast-enhanced CT
Diagnosa Spesifik
Cedera Diafragma Cedera Pankreas
Hemidiafragma kiri > sering terkena,
Tumbukan langsung epigaster dan
robekan sepanjang 5-10 cm di
kompresi organ terhadap kolumna
posterolateral kiri.
vertebralis. Double-contrast CT tidak dapat
X-ray : elevasi / “blurring” , udara abnormal
mendeteksi saat setelah trauma
menutupi hemidiafragma

Cedera Duodenum
Pada pengemudi tanpa sabuk pengaman,
tabrakan frontal, tumbukan langsung pada
abdomen ; stang kemudi
Cedera
Genitourinarius Cedera usus halus
Benturan langsung pada punggung / flank,
menyebabkan kontusio, hematoma/ ekimosis Pengguna sabuk pengaman yang salah ,
(jejas) akan terjadi cedera ginjal  evaluasi adanya ekimosis di dinding abdomen yang
CT/IVP. Hematuri gross/ mikroskopis  berbentuk linear menyilang (seat-belt sign) 
indikasi evaluasi t.urinarius. Fraktur pelvis  DPL
cedera uretra.

Cedera organ solid

Cedera liver, limfa, ginjal  shock, gangguan


hemodinamik, tanda-tanda pendarahan yang
berkelanjutan  laparatomi segera.
Cedera organ solid tanpa abnormalitas
hemodinamik  terapi nonoperatif
Fraktur Pelvis
Kompresi AP : pejalan kaki tertabrak mobil, tabrakan
Struktur pelvis : sakrum dan tulang sepeda motor, jatuh dari ketinggian 3,6 meter
innominata (ilium, ischium, pubis) +
kompleks ligamentum
Kompresi lateral : tabrakan kendaraan bermotor 
rotasi interna hemipelvis. Rotasi  pubis masuk
melukai sistem genitourinarius
Mekanisme cedera : Kompresi AP,
Kompresi lateral, vertical shear, Vertical shear : gaya geser kekuatan tinggi pada
kombinasi permukaan vertikal melintas aspek anterior, posterior
dari cincin pelvis merobek lig. Sakrospinosus dan
sakroberus  instabilitas mayor pelvis

Kombinasi : kompresi dan shear force menyebabkan


kerusakan yang kompleks  pendarahan yang hebat
Inspeksi : flank, skrotum, area perianal untuk mencari darah di
meatus uretra, pembengkakan / memar/ laserasi perineum,
rektum  curiga Fr. Pelvis terbuka
Colok dubur  prostat letak tinggi  Fr. Pelvis yang berat
Pemeriksaan penunjang : X-Ray pelvis AP
Pengelolaan : Bidai pelvis untuk stabilisasi
Thank You