Anda di halaman 1dari 19

FUNGI PENYEBAB PENYAKIT

TIKA AFRIANI, M. FARM., APT.


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR
OUTLINE

• KEY TERMS
• KEY POINTS
• MIKOSIS
• FUNGI PENYEBAB PENYAKIT
KEY TERMS

• Mikotoksin merupakan toksin yang dihasilkan oleh beberapa fungi, bertanggung jawab atas
untuk berbagai kasus keracunan pangan.
• Mikotoksikosis, proses keracunan karena tertelannya mikotoksin (toksin jamur) ekstraseluler. Ex:
Aspergillus flavus penghasil aflatoksin.
• Misetismus, penyakit (keracunan) yang disebabkan karena mengkonsumsi jamur beracun. Ex:
Amanitus muscaria penghasil amanitin.
• Toksin yaitu substansi racun yang dihasilkan mikroorganisme tertentu.
• Toksigenisitas adalah kemampuan mikroorganisme menghasilkan toksin.
• Sitotoksin, membunuh sel inang atau mempengaruhi fungsi sel.
KEY POINTS
• Pada tanaman, jamur dapat merusak jaringan tanaman secara langsung atau melalui produksi toksin,
yang biasanya berakhir dengan kematian host dan bahkan dapat menyebabkan ergotisme pada
hewan dan manusia.
• Jamur juga bertanggung jawab atas pembusukan/kerusakan makanan dan pembusukan tanaman
yang disimpan. Ex: jamur Claviceps purpurea menyebabkan ergot, penyakit pada tanaman biji-bijian
(khususnya gandum). Efek; penurunan hasil panen, pada manusia dan hewan; ergotisme.
• Smuts, rusts, dan powdery or downy mildew merupakan contoh lain dari jamur pathogen yang
mempengaruhi tanaman.
• Jamur dapat mempengaruhi hewan, termasuk manusia, dalam beberapa cara.
• Infeksi jamur sulit diobati, karena tidak seperti bakteri, jamur adalah eukariot. Antibiotics only target
prokaryotic cells, whereas compounds that kill fungi also harm the eukaryotic animal host.
MIKOSIS

• Merupakan infeksi yang disebabkan jamur; biasanya infeksi kronis (long-lasting) karena jamur
tumbuh lambat.
• Berdasarkan tingkat jaringan yang terlibat dan cara masuk pada host, mikosis terbagi 5:
a. Sistemik
b. Sub cutaneous
c. Cutaneous = Dermatomycosis
d. Superfisial
e. Opportunistik
MIKOSIS SISTEMIK

• Merupakan mikosis yang terjadi pada sejumlah jaringan dan organ, biasanya disebabkan oleh
jamur geofilik (tanah), transmisi melalui spora yang terinhalasi lalu ke paru-paru menyebar ke
jaringan tubuh lain. Ex: Histoplasmosis, Cryptococcosis, Coccidioidomycosis.
• Transmisi melalui sistem pernapasan.
• Histoplasmosis: disebabkan jamur dimorfik Histoplasma capsulatum, menyebabkan infeksi paru.
Pembengkakan selaput otak dan sumsum tulang belakang (jarang terjadi).
• Coccidioidomycosis (valley fever): ditemukan di AS barat daya, jamur berada dalam debu.
Setelah terhirup, spora berkembang di paru-paru dan menyebabkan gejala mirip TBC.
MIKOSIS Sub cutaneous

• Merupakan mikosis yang terjadi di bawah kulit oleh jamur saprofitik, geofilik dan tanaman, infeksi
terjadi secara langsung dengan implantasi spora atau fragmen miselia melalui luka/lesi pada
kulit.
• Contoh: Cladosporium corioni, Phialospora verukosa
MIKOSIS CUTANEOUS = DERMATOMYCOSIS

• Merupakan mikosis yang terjadi pada epidermis, rambut, dan kuku. Disebabkan oleh jamur
dermatophyte yang mensekresikan keratinase (enzim yang memecah keratin=protein yang
ditemukan di rambut, kulit, dan kuku).
• “Dermatophyte”, berasal dari kata Yunani dermis (kulit) dan phyte (tanaman).
• Transmisi dari manusia (antrofilik) ke manusia atau dari hewan (zoofilik) ke manusia secara kontak
langsung atau kontak dengan rambut terinfeksi dan sel epidermis.
• Tiga genus jamur Dermatophyta: Microsporum, Epidermophyton, dan Trichophyton.
• Contoh: Tinea capitis, T. manum, T. pedis, T. favosa, T. barbae, dan T. cruris.
MIKOSIS SUPERFISIAL

• Merupakan mikosis pada batang rambut dan permukaan/superfisialis, umumnya terjadi di iklim
tropis.
• Penyebab/etiologi adalah jamur nondermatophyta.
• Contoh: tinea axilaris, t. Versicolor/panu, piedra hitam, piedra putih, dan onichomycosis.
MIKOSIS OPPORTUNISTIK

• Bersifat apatogen pada habitat normal, menjadi patogen bila ada faktor predisposisi (terapi
antibiotic) spektrum luas dalam jangka waktu lama, imunosupresive).
• Infeksi yang terjadi pada individu dengan sistem imun yang turun. Ex: penderita AIDS.
• Contoh: Mucormycosis, Aspergillosis, Candidiasis.
• Candida sp., adalah biota normal, dapat tumbuh tanpa terkontrol dan menginfeksi vagina atau
mulut (sariawan) jika pH lingkungan, sistem kekebalan tubuh, atau populasi normal bakteri
berubah.
AFLATOKSIN

• Aflatoksin merupakan toksin karsinogenik yang dihasilkan oleh kapang Aspergillus flavus dan
Aspergillus parasiticus (kelompok Ascomycotina).
• Secara alami terdapat di dalam tanah dan dapat menyerang biji kacang tanah bila kondisi suhu
dan kelembapan lingkungannya mendukung (suhu 25-30 ̊C dan kelembapan 85%). Selain pada
kacang tanah juga dapat menyerang jagung, beras, singkong, cabai dan rempah-rempah.
• Aflatoksin terdiri atas lima: aflatoksin B1 (blue), B2, G1 (green), G2, dan M1 (milk). Aflatoksin B1
dianggap paling berbahaya karena kemampuannya merusak jaringan, terutama hati, sering
dikaitkan dengan kerusakan sel hati pada penderita hepatitis.
• Batas maksimal kandungan aflatoksin pada kacang tanah dan produk olahannya: 20 ppb (part
per billion) (AS); mendekati nol (MEE); 35 ppb untuk total aflatoksin, 20 ppb untuk aflatoksin B1
pada produk olahan kacang tanah dan jagung (BBPOM).
• Mekanisme kerja: terikat pada DNA dan mencegah transkripsi informasi genetik.
• Efek jangka pendek konsumsi aflatoksin kadar tinggi: keracunan akut dan mengakibatkan
terjadinya kerusakan hati hingga kematian.
• Efek jangka Panjang konsumsi kadar menengah hingga rendah: kanker hati (karsinogenik),
menurunkan kekebalan tubuh terhadap penyakit, mengganggu metabolisme protein, dan
mengganggu ketersediaan gizi mikro.
• Aflatoksin juga dapat menghambat pertumbuhan anak dan mengganggu janin jika dikonsumsi
wanita hamil.
• Aflatoksin juga dapat menyerang hewan ternak yang mengonsumsi pakan ternak yang
terkontaminasi aflatoksin.
• Unggas paling rentan terhadap aflatoksin, pada kadar relatif rendah dapat mengganggu
pertumbuhan, menurunkan produksi telur, dan menurunkan ketahanan terhadap penyakit.
ERGOMETRIN, ERGOTAMIN & ERGOTAMININ

• Merupakan alkaloid toksik yang dihasilkan oleh fungi Claviceps purpurea (kelompok
Ascomycotina).
• Mekanisme kerja: mengeblok transmisi saraf dan menyebabkan degenerasi pembuluh darah
kapiler.
• Gejala meliputi muntah, diare, perasaan haus, halusinasi, gangrene, dan kejang-kejang.
• ERGOTISME merupakan akibat dari mengonsumsi padi-padian yang mengandung ergot (lysergic
acid).
PSILOSIBIN

• Psilosibin, senyawa kimia yang dapat menyebabkan halusinasi dihasilkan oleh fungi Psilocybe.
• Psilocybe, umumnya berukuran kecil dengan panjang tangkai (3-4 cm) serta garis tengah tudung
(1-2 cm). Fungi ini banyak ditemukan pada timbunan kotoran kendang, sudah sejak lama
digunakan dalam ritual suku Indian ataupun suku bangsa di India, Cina, dan di Kawasan Benua
Afrika.
• Psilosibin digolongkan sebagai bahan kimia beracun yang dapat menyebabkan kematian, efek
tidak berdaya, cacat sementara, atau bahaya permanen pada manusia atau binatang, dan umum
digunakan sebagai senjata kimia.
PHALLOIDIN DAN AMANITIN

• Sitotoksin phalloidin dan amanitin yang dihasilkan oleh Amanita phalloides, dan beberapa spesies
Amanita lainnya menyebabkan gejala keracunan makanan 8-24 jam setelah dikonsumsi.
• Kelompok Basidiomycotina.
• Mekanisme kerja: toksin α-amanitin mengeblok transkripsi DNA dengan cara mengganggu aksi
enzim RNA polymerase.
• Gejala awal muntah dan diare, selanjutnya terjadi perubahan pada sel hati dan ginjal, hingga
menyebabkan kematian pada beberapa hari setelah mengonsumsi 5-10 mg toksin.
Candida albicans

• Kelompok Ascomycotina, menyebabkan kandidiasis.


• Candida sp., adalah biota normal, dapat tumbuh tanpa terkontrol dan menginfeksi vagina atau
mulut (sariawan) jika pH lingkungan, sistem kekebalan tubuh, atau populasi normal bakteri
berubah.
REFERENCES