Anda di halaman 1dari 32

BAB 8 ANALISIS BATUBARA

KELOMPOK IV
 ZAHLUL AMRI (1504108010036)
 DICKY ROZA MULIA SANDY (1504108010062)
 RAZINFIKRAN (1504108010063)
 AKBAR PRAJA YUDHA (1504108010066)
 NURLITA DEVI (1604108010039)
 ASLAN AKBAR (1604108010043)
 KHAIRUL AGUS MUNIZAR (1704108010006)
 ASYAFAUL AUWALIN (1704108010010)
 HELVI REZKINTA DEVAYAN (1704108010053)
Analisis Batubara

Analisis batubara untuk bahan bakar


digolongkan menjadi dua, yakni analisis dasar,
yaitu analisis proksimat(moisture,ash,volatile
matter,dan fixed carbon),analisis ultimat
(karbon hidrogen,nitrogen,sulfur,dan oksigen).
ANALISIS BATUBARA

Penentuan Total
Penentuan Ultimat
Moisture
Penentuan Total M oisture
Tot al m o i st ur e (T M ) b er g u na u nt u k
m e n u nj uk ka n s u a t u p e ng u kur a n s em u a Penentuan Ultimat
a i r ya ng t i d a k te r i kat s ec ar a ki m i a ,yai t u Analisis ultimat didefinisikan sebagai
a i r ya ng ter ad s o rp s i p ad a p e r m u ka a n, ai r
ya ng ad a d al am kap i l er ( p o r i - p o r i ) b at u analisis batu bara yang dinyatakan
b a r a d a n a i r te r l a r ut d a l a m b a t u b a r a .
Pe n e n t u a n T M a d a d u a c a r a , ya i t u :
dalam kadungan unsur karbon,
a. Cara satu tahap,semua moisture hidrogen, nitrogen, sulfur, dan oksigen.
dalam batu bara lansung Jadi, penjumlahan karbon, hidrogen,
ditentukan.
b. Cara dua tahap,pertama-tama sulfur, ash, nitrogen, dan oksigen sama
ditentukan moisture yang hilang bila dengan 100%. Tiap unsur ditentukan
batu bara dikeringkan di udara
terbuka (free moisture), kemudian dalam sampel analitik dan hasil
sampel yang kering udara ini
diperkecil ukuran butirnya dan penentuan dinyatakan dalam basis
diambil sebagian untuk penentuan kering. bebas mineral matter (dmmf).
moisture yang tersisa dalam sampel
kering udara (residual moisture)
Dalam standar ISO 587-1974 dikemukakan tiga
cara penentuan TM dalam hard coal,yaitu :

•Cara ketiga sama dengan


cara kedua, tetapi tanpa
mengaliri gas nitrogen. Jika
• Destilasi dengan toluen, air yang cara pertama dan kedua
terkumpul dari hasil destilasi dapat digunakan dalam
dihitung terhadap berat sampel penentuan TM untuk semua
hard coal, maka cara ketiga
yaitu persen TM. Cara ini disebut hanya untuk hard coal yang
pula volumetri yang termasuk tahan terhadap oksidasi
pada cara langsung. saja.

• Gravimetri langsung,dimana sampel


dipanaskan pada suhu 105-110⁰C
dalam oven yang dialiri gas nitrogen
dan moisture yang menguap
ditampung dalami absorbans,
misalnya magnesium perklorat.
Pertambahan berat dari absorbans
menyatakan berat TM.
Pemakaian data Total Moisture

1. Handling
Penangan batu bara di terminal 2. Penggerusan
ataupun di pelabuhan, secara Kelebihan moisture juga
umum dipengaruhi oleh memposisikan pada penggerusan
kelebihan moisture yang bila apabila batu bara digunakan dalam
digabungkan dengan batu bara bentuk bubuk atau pulverised fuel,
halus secara berlebihan serta seperti yang terjadi di pabrik-pabrik
lempung yang lengket akan semen di PLTU. Dalam daur
menyebabkan kesulitan dalam penggerusan, batu bara dikeringkan
penanganan batu bara,misalnya dengan aliran balik atau counter-
penyumbatan dalam dalam current gas panas. Kelebian moisture
chute dan feeder. yang harus di uap kan akan
memperkecil kapasitas kerja
penggerus yang pada giliran nya akan
menyebabkan ketel uap harus
diperiksa ulang.
Pemakaian data Total Moisture

3. Ketel Uap
Untuk menangani lignit, ketel uap
harus dirancang dengan 4.Klasifikasi. 5. Eksplorasi.
menambahkan rangkaian pengering ISO mengklasifikasikan Beberapa peneliti dalam
di depan penggerus. Sistem demikian batu bara rank rendah eksplorasi batu bara
akan mengurangi efisiensi panas dari menggunakan subbitumen dan lignit
ketel. Bagaimanapun juga, ukuran parameter total menentukan kandungan total
pembakaran bergantung pada rank moisture dan nilai moiture pada sampel inti bor
batu bara. Untuk membakar batu bara panas untuk mambagi dan singkapan yang
subbitumen, ruang bakar harus lebih bagi batu bara atas dikumpulkannya,meskipun
lebar dan tinggi. Sama hal nya jika kelasnya tingkat penaksiran tidak
lignit yang ditangani, semua ukuran menentu. Selama eksplorasi
harus bertambah. Dengan bertambah dan penambangan,kondisinya
volume ruang bakar, maka banyak yang berbeda . Misalnya
perpindahan paas dalam bagian suatu lapisan batu bara dapat
radiatif dari ketel jadi berkurang. merupakan equifer yang akan
didranasekan bila dilakukan
penambangan.
Penentuan moisture holding capacity atau
equilibrium

Penentuan moisture alami yang ada di dalam batubara semasa belum ditambang
(masih ada di dalam bumi) bagi para ahli sangat penting, moisture jenis ini sangat
sulit diukur karena begitu batubara di ambil atau dikeluarkan dari dalam bumi, kadar
moister-nya akan berubah dengan cepat .pada waktu pengeboran atau
penambangan,kadar moisture berubah karena adanya penambahan air .
ntuk batubara yang mempunyai rank tinggi, moisture holding capacity (MHC).
 Untuk batubara dengan Rank lebih rendah,standar Australia (AS 2434.3 -1984)
memberikan prosedur penentuan MHC terhadap sampel batubara berukuran -4mm
dan waktu penyimpanan selama 7 hari.
 Standar ASTM D1412-74 yang diberlakukan untuk semua jenis batubara
,menggunakan sampel batubara berukuran -1 ,18mm sebanyak 20-25 g.
penentuan moisture dalam sampel yang di analisis

Cara penentuan moisture dalam sampel yang dianalisis termasuk dalam analisis
proksimat.perbedaannya dengan penentuan moisture dalam sampel kering udara (atau residual
moisture ) terletak dalam ukuran fraksi sampel,penentuan moisture dalam sampel kering udara
memerluhkan sampel batubara -3mm,sedangkan penentuan moisture dalam sampel yang dianalisis
memerluhkan sampel batu bara -0,2mm.

Dalam standar ISO ,ada dua cara penentuan Mad untuk hard coal dan satu cara untuk brown coal
dan lignit.
 Cara pertama untuk hard coal adalah cara gravimetri langsung (ISO 331-1975): 1 g sampel
batubara halus (-200uM) dalam tabung retort dari gelas dipanaskan pada suhu 105-110 C selama
satu jam. Kedalam tabung dialirkan gas nitrogen kering sebanyak dua perubahan udara per menit (
BS dan AS :100 ml/menit).
 Cara kedua,disebut cara volumetri langsung dengan menggunakan peralatan Dean and Stark (ISO
348-1981).Sebanyak 100 gram sampel batubara berukuran -0,2mm didesitilasi secara azeotrop
menggunakan toluen dan kadar moisture yang tertampung dalam tabung ,diukur secara volumetris
sampai kepekaan 0,05 ml. ( disarankan diatas lempengan logam.) Cara ini dalam standar BS dan AS
digunakan untuk penentuan moisture dalam hard coal .
Analisis Proksimat

Hasil dari analisis proksimat memberikan gambaran banyaknya senyawa organik ringan (volatile
matter ) secara relative ,karbon dalam bentuk padatan ( fixed karbon ), kadar moisture ,dan zat
anorganik (ash ),hingga mencakup keseluruhan komponen batu bara ,yakni batu baramurni
ditambah bahan – bahan pengelolaannya ( imparities ). Analisis proksimat merupakan cara
mengevaluasi batu bara yang paling sederhana dan banyak dilakukan orang .Ash adalah residu
yang tertinggal setelah batubara dibakar.

Zat mineral dalam batu bara dapat ditaksir menggunakan rumus Parr ( digunakan dalam
klasifikasi Seyler dan ASTM ).disini Zat mineral dihitung dari kandungan ash dan sulfur :

Zat mineral = 1,05 ash + 0,55 sulfur


Sedangkan rumus lainnya yang digunakan dalam klasifikasi batu bara inggris adalah
rumus King – Maries - Crossley ( KMC ) :
Zat mineral = 1,13 ash + 0,5 Spyrite + 0,8 CO2 + 2,8Ssuplute + 0,3 Cl
Sedangkan rumus batu bara di Indonesia menggunakan rumus Parr :
Zat mineral = 1,10 ash
Penentuan Kandungan Ash

Coal ash didefinisikan sebagai zat anorganik yang tertinggal setelah sampel batubara dibakar (
istilahnya incineration ) dalam kondisi standar sampai diperoleh berat yang tetap.selama
pembakara batu bara , zat mineral mengalami perubahan, karena itu banyaknya ash umumnya
lebih kecil dibandingkan dengan banyaknya zat mineral yang semula ada di dalam batu.hal ini
disebabkan antara lain :
Karena menguapnya air konstitusi ( hidratasi ) dari lempung,
Karbon dioksida dari karbonat,
Teroksidasinya pirit menjasi oksida
Dan terjadinya fiksasi belerang oksida.

Ash batu bara , di samping ditentukan kandungannya ( ash content ) ,juga ditentukan pula
susunan ( komposisi ) kimianya dalam analisis ash dan suhu lelehnya dalam penentuan suhu
leleh ash. Sejumlah perubahan kimia terjadi apabila suatu sampel batu bara dipanaskan. Zat
yang pertama menguap pada suhu 1000 C adalah moisture. Karbon dioksida lepas dari karbonat
dan besi sulfida teroksidasi menjadi besi oksida pada suhu sekitar 5000 C.oksida – oksida sulfur
tertambat pada suhu yang lebih tinggi dari 8000 C.
Penentuan Kandungan Ash

Dalam standar ISO dibedakan antara cara penentuan kandungan ash dalam hard coal , brown
coal dan lignit.

Prosedur untuk hard coal ( ISO 1171 – 1981 ) menyarankan


menimbang 1 g sampel batubara halus, menyebarkan
didalamnya cawan silika ,porselen, atau platina sampai
kepadatan permukaan maksimal 0,15 g / cm 2 .kemudian
sampel dalam cawan dipanaskan sampai suhu 5000 C dalam
waktu 30 menit , dari suhu 5000 C sampai 8150 C selama 30 –
60 menit , dan terakhir membiarkannya pada suhu 8150 C
selama 60 menit lagi.

Prosedur untuk brown coal dan lignit ,pemanasan dilakukan


sebagai berikut :
1. Suhu dinaikkan sampai 2500 C dalam waktu 30 menit lagi,
2.Dari 2500 C sampai 5000 C dalam waktu 30 menit lagi,
3. Kemudian dari suhu 5000 C sampai 8150 C selama 60 menit,
4. Terakhir pada suhu 8150 C selama 60 menit lagi.
Penentuan Kandungan Ash

Dalam standar BS dan AS ,tempat sampel untuk penentuan ash dipakai cawan silica ,
furnance harus diberi ventilasi sebanyak empat kali perubahan udara per menit dan
sampel dipanaskan 30 menit sampai suhu 5000 C , 60 menit sampai suhu 8150 C , dan
kemudian 60 menit lagi pada suhu yang tetap sampai diperoleh berat yang konstan.
Standar ASTM D 3174 – 77 menyarankan pemanasan dari suhu kamar sampai suhu 5000
C.
Prosedur standar yang memerlukan waktu lama dan perlu pengawasan yang terus –
menerus perlu diganti dengan yang lebih cepat yaitu menggunakan sinar -X serta
radioaktif dan telah banyak digunakan di tambang – tambang batu bara , pengumpanan
blending, dan sebagainya.
Penentuan Kandungan Ash

Dalam standar BS dan AS ,tempat sampel untuk penentuan ash dipakai cawan silica ,
furnance harus diberi ventilasi sebanyak empat kali perubahan udara per menit dan
sampel dipanaskan 30 menit sampai suhu 5000 C , 60 menit sampai suhu 8150 C , dan
kemudian 60 menit lagi pada suhu yang tetap sampai diperoleh berat yang konstan.
Standar ASTM D 3174 – 77 menyarankan pemanasan dari suhu kamar sampai suhu 5000
C.
Prosedur standar yang memerlukan waktu lama dan perlu pengawasan yang terus –
menerus perlu diganti dengan yang lebih cepat yaitu menggunakan sinar -X serta
radioaktif dan telah banyak digunakan di tambang – tambang batu bara , pengumpanan
blending, dan sebagainya.
Pemakaian data kandungan di ash

Kandungan ash penting dalam batubara bahan bakar maupun batu bara kokas. Ash
berperan penting dalam pemilihan alt penggerus di PLTU , sedangkan dalam batu bara
kokas merupakan petunjuk akan kandungan ash dalam kokas yang dibuat dari batu bara
tersebut. semakin banyak ash dalam batu bara setelah diproses menggunakan oven
kokas, akan semakin rendah manfaat produksi karbonnya. semakin banyak ash dalam
kokar ,akan semakin banyak batu kapur sebagai peleleh yang harus ditambahkan ke
dalam tungku pijar untuk mengumpulkan ash dan mengurangi logam panas yang
dihasilkannya.
Dalam pembakaran , semakin tinggi kandungan ash batubara , semakin rendah panas
yang diperoleh dari batu bara tersebut.
penentuan Volatile matter

Definisi volatile matter (VM) ialah banyaknya zat yang hilang bila sampel barubara di
panaskan pada suhu dan waktu yang telah di tentukan (setelah di koreksi oleh kadar
moisture). Moisture berpengaruh pada hasil penentuan VM sehingga sampel yang di
keringkan dengan oven akan memberikan hasil yang berbeda dengan sampel yang
dikeringudarakan. Factor factor lain yang mempengaruhi vm adalah waktu, suhu,
kecepatan pemanasan, penyebaran butir, dan ukuran partikel.
Prosedur penentuan VM untuk hard coal menurut ISO 1562-1981(e) adalah 1g sampel di
masukan ke dalam cawan silika dengan tutup yang rapat. Cawan diletakan pada
standterbuat dari kawat nikelkrom dan kemudian dimasukan ke dalam muffle furnace
bersuhu 900 derajat celcius pemanasan tanpa udara ini dilakukan selama tujuh menit
tepat.

Pemakaian data volatile


Digunakan untuk menentukan rank suatu batubara, klasifikasi, dan proporsinya dalam
blending, selain itu. Berguna pula unuk menaksir yield dan kokas dan hasil sampingan
nya.
penentuan fixed carbon

Fixed carbon (FC) mnyatakan banyak nya carbon yang terdapat dalam nmaterial sisa
setelah Volatile matter dihilangkan ini mewakili sisa penguraian dari komponen organic
batu bara di tambah dengan sedikit senyawa nitrogen belerang, hidogen hydrogen dan
mungkin oksigen.
Kandungan FC digunakan sebagai indeks hasil kokas dar I batu bara pada waktu
dikarbonisasi
Fixed carbone fi tentukan dengan perhitungan : 100% dikurangi persentase moisture,
volatile matter dan ash
FC= 100% - % M - %A - %VM
Penentuan Ultimat

Batubara secara tradisional telah dipandang sebagai zat yang terdiri dari karbon,
hidrogen, nitrogen, sulfur, dan oksigen. Analisis ultimat didefinisikan sebagai analisis batu
bara yang dinyatakan dalam kandungan unsur karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur, dan
oksigen. Jadi, penjumlahan karbon, hidrogen, sulfur, ash, nitrogen, dan oksigen sama
dengan 100%. Tiap unsur ditentukan dalam sampel analitik dan hasil penentuan
dinyatakan dalam basis kering. bebas mineral matter (dmmf). Perbedaan yang mencolok
antara prosedur untuk hard coal dan brown coal terletak pada cara pengurangan
moisture. Karena brown coal dan lignit mengandung moisture yang lebih banyak,
sebelum dilakukan analisis, sebagian (besar) dari moisture ini dihilangkan dulu,
kemudian dalam sampel yang kering ini dilakukan analisis ultimat. Pada penentuan
karbon dan hidrogen untuk lower rank coal tersebut, standar Australia menggunakan cara
Liebig.
Penentuan karbon dan hidrogen

Untuk menentukan karbon dan hidrogen, ada dua cara yang diajukan oleh ISO.

1. Liebig dan metode suhu tinggi. Dalam cara


Liebig (ISO 625-1975). sebanyak 0,2-0,3 g
sampel batu bara halus dibakar bersama gas
2. High temperature method (ISO609-1975), ditimbang
oksigen murni pada suhu 800°C. Gas yang
0,5 g sampel batu bara halus dan dipanaskan pada suhu
terbentuk dialirkan melalui tembaga oksida, air
1350°C dalam oksigen yang telah dimurnikan. Gas klor
yang terbentuk diabsorpsi oleh magnesium
dan sulfur oksida ditahan oleh silver gauze, air diabsorpsi
perklorat, sedangkan karbon dioksida
dalam magnesium perklorat, dan karbon dioksida
diabsorpsi oleh soda asbestos. Agar hasil
diabsorpsi dalam soda asbestos. Pada suhu 1350C ini,
penentuan itu mempunyai ketelitian yang tinggi,
nitrogen oksida tidak terbentuk sehingga tidak
maka dalam cara ini dipasang pula sederetan
memerlukan tabung absorpsi berisi mangan dioksida.
tabung absorpsi. Sulfur cksida akan diabsorpsi
oleh timbal kromat, klor oleh silver gauze, dan
nitrogen oksida olehmangan dioksida.
Penentuan karbon dan hidrogen

Untuk penentuan karbon dan hidrogen dalam batubara yang mempunyai rank rendah
digunakan cara Liebig. karena batu bara yang mengandung banyak volatile matter
dapat meledak bila dipanaskan sampai suhu tinggi seperti dalam cara high
temperature method.
Penentuan karbon berasal dari karbon

1. cara titrimetri
Dalam cara titrimetri 0,5 g
sampel batubara halus d
timbang didalam labu
didih, kemudian di 2. Cara gravimetri
tambah asam klorida. penimbangan 1 g
Selanjutnya hasil sampel batubara halus 3. Cara manometri
reaksinya yaitu karbon dilakukan seperti pada memerlukan sampel
dioksida, diabsorpsi oleh cara titrimetri tetapi sampel batubara halus
larutan benzylamine yang karbon dioksida yang sebanyaknya 5 g didalam
kemudian dititrasi dengan menguap diabsorbsi suatu sistem alir ditambah
larutan kalium metoksida oleh soda asbestos dan asam klorida. Kenaikan
dalam toluen/metanol pertambahan berat tekanan dalam sistem
dengan bantuan indikator soda asbestos diukur dan dibandingkan
timol baru. menunjukkan dengan kenaikan tekanan
banyaknya karbon yang disebabkan oleh
dioksida dalam sampel sejumlah karbon (standar)
yang diketahui beratnya.
Penentuan Nitrogen

Prinsip penentuan nitrogen dalam batubara semuanya menggunakan cara kjeldahl. prinsipnya
nitrogen diubah menjadi amonium sulfat dengan cara mendestruksi zat organik pembawa nitrogen
dalam batubara. Dalam cara ini digunakan asam sulfat dan katalisator.
Dalam standar ISO, diajukan dua cara penentuan yakni cara makro dan cara semimikro.

1. Cara makro (standar ISO 332-


1981, juga ASTM D3179-79, AS
1038, App.A,Part 6-1071) berat
sampel yang ditimbang adalahn 1 g
sampel batubara halus. 2. Semimikro (ISO 333-1979, BS 1016 Part
7-1977 AS 1038 Part 6-1971) digunakan
0,1 g sampel batubara halus
Pemakian data karbon
dioksida

Kandungan karbon dioksida pada mineral karbonat dalam batubara berguna untuk mengkoreksi
persentase karbon total yang telah ditentukan bila akan dihitung ke basis kering,bebas zat mineral
(dmmf) dan karbon yang dapat dibakar.

Pemakian data karbon dioksida


Kandungan karbon dioksida pada mineral karbonat dalam batubara berguna untuk mengkoreksi
persentase karbon total yang telah ditentukan bila akan dihitung ke basis kering,bebas zat mineral
(dmmf) dan karbon yang dapat dibakar
Dalam cara kedua, yaitu cara High Temperature combustion (HTM), sekitar 0,5 g sampel batu bara halus di timbang dalam perahu perselen, ditutupi oleh 0,5 g aluminium oksida. Peerahu dipanaskan

Penentuan Total Sulfur

Belerang atau sulfur dalam batu bara dapat terjadi dalam beberapa bentuk:

1.Sebagai Organic sulfur, di mana sulfur terikat pada senyawa


hidrokarbon dalam coal matter

2. Sebagai mineral sulfida, sulfur ada dalam fraksi anorganik,


missalnya dalam pirit

Sebagai mineral sulfat yang di hasilkan dari oksidasi


mineral sulfida dengan bantuan udara (besi sulgida --
-- besi sulfat, kalsium sulfida ------ kalsim sulfat).
Penentuan Total Sulfur

Standar ISO 334-1975 dan ISO 351-1975 memberikan dua cara pentuan sulfur total

1. cara Eschka dan high temperature


combustion. Dalam cara Eschka, 1 g sampel 2. cara High Temperature combustion (HTM), sekitar 0,5 g
batu bara harus dicampurkan dengan 3 g sampel batu bara halus di timbang dalam perahu
reagens Eschka (2 bagian berat magnesium perselen, ditutupi oleh 0,5 g aluminium oksida. Peerahu
oksida di tambah 1 bagian berat ntrium dipanaskan di dalam tabung dari furnace bersama aliran
karbonat anhidrous) di dalam cawan perselen gas oksigen murni pada suhu 1350’C. Sulfur oksida dan
khusus atau cawan platina, kemudian di tutup klot oksida yang terbentuk di absorpsi dalam larutan
dengan 1 g reagens Eschka. Cawan dipanaskan hidrogen peroksida, kemudian asam sulfat hasil reaksi
dalam tungku pembakaran yang biasa di pakai sulfur dan asam klorida hasil reaksi klor, ditentukan di
untuk penetuan ash, dari mulai dalam keadaan tentukan secara titrimetri. Cara ini lebih cepat bila
dingin sampai suhu 800’C dibiarkan 1 jam lagi, dibandingkan dengan cara Eschka, tetapi dengan cara ini
setelah didinginkan, di tambahkan larutan akn diperoleh penjumlahan persentase sulfur dan klor.
barium klorida dan endapan barium sulfat hasil Untuk memperoleh persentase sulfur, sebelum titrasi
reaksi ditentukan secara gravimetri. harus ditambahkan merkuri oksi sianida (racun).
Pemakaian data total sulfur

Sulfur kemungkinan merupakan pengotor utama nomor dua ( setelah ash) dalam batubara.
Dalam batu bara bahan bakar, hasil pembakarannya mempunyai daya korosif dan sumber polusi udara;
Maisture dan sulfur ( terutama sebagai pirit) dapat menunjang terjadinya pembakaran spontan;
Semua bentuk sulfur tidak dapat dihilangkan dalam proses pncairan.

Hasil penentuan sulfur di gunakan untuk menunjang evaluasi pencucian batu bara, emisi udara, dan
evaluasi kualitas batu bara berkaitan dengan spesifikasi dalam kontrak serta untuk keperluan penelitan.
Batu bara dengan kadar sulfur yang tinggi menimbulkan banyak masalah dalam pemanfaatan nya. Bila
batu bara itu dibakar, sulfur menyebabkan korosi dalam ketel dan membentuk endapan isolasi pada
tabung ketel uap ( yang disebut slagging).
PENENTUAN OKSIGEN

 Oksigen merupakan komponen pada beberapa senyawa organik dalam batubara.


Oksigen ini didapatkan pula dalam moisture, lempung, karbonat, dan sebagainya.
Oksigen kemungkinan besar penting sebagai penunjuk sifat – sifat kimia dan
derajat pembentukan batubara. Dalam analisis ultimat, oksigen ditentukan dengan
perhitungan 100% dikurangi dengan jumlah presentase karbon, hidrogen, nitrogen
dan sulfur organik dalam basis kering, bebas zat mineral. Hasil pengurangan ini
disebut “presentase oksigen dan kesalahan”
 Standar ISO 1994 – 1976 memberikan satu cara penentuan oksigen untuk sampel
hard coal yang prinsipnya mempirolisakan batu barakering dalam aliragn gas
nitrogen sehingga semua oksigen dalam hasil pirolisa berubah menjadi karbon
monoksida yang kemudian diubah lagi menjadi karbon dioksida dan ditentukan
dengan berbagai cara.
Contoh Cara Melaporkan Hasil Analisis
Ultimat

Contoh perhitungan diambil dari standar ASTM D 3176 menggunakan tabel 1 (cara mengubah
ke basis lain) dan tabel 2 contoh data analisis ultimat dalam basis as received, as determined
(air dried basis) dan dry basis (lihat tabel 5.3 dan tabel 8.1). Meskipun hasil analisis ultimat
seharusnya dilaporkan dalam basis kering, bebas zat mineral (dmmf), tetapi cara melaporkan
dalam basis lainnya sering pula diminta.

Tabel 8.1 Data hasil analisis ultimat (ASTM D 3176-2001 Tabel 2)


Tabel 8.1 Data hasil analisis ultimat (ASTM D 3176-2001 Tabel 2

Parameter tes Penetapan Basis yang ditemukan kembali

Hidrogen dan oksigen Basis Hidrogen dan oksigen Hidrogen dan oksigen

termasuk H dan Ox Dry termasuk H da OX termasuk H dan Ox


dalam moisture sampel
dalam moisture sampel (Mas) dalam moisture sampel (M as) (Mas)

karbon, berat % 60,08 66,02 46,86 46,86

Hidrogen, berat % 5,44 4,87 6,70 3,46

Nitrogen, berat % 0,88 0,97 0,69 0,69

Sulfur, % 0,73 0,80 0,67 0,57

Ash, % 7,86 8,64 6,13 6,13

Oksigen, % (Dgn pembeda) 25,01 18,70 39,05 13,27

Total % 100,00 100,00 100,00 70,98


Total moisture, berat %
(Diterima) (29,02) 29,02
Moisture, berat % (sampel
yang ditetapkan) 9,00 Total % 100,00
Untuk menghitung ke dry basis digunakan data moisture dalam sampel yang di analisis, yaitu
sebesar 9,00%. Jadi dalam basis kering:
Total Moisture, diterima 20,02%
Moisture dalam sampel yang dianalisis 9,0% (Proksimat)
Kandungan Ash, adb 7,86% (Proksimat)
Karbon, adb 60,08% (Ultimat)
Hidrogen, adb 5,44% (Ultimat)
Nitrogen, adb 0,88% (Ultimat)
Sulfur, adb 0,73% (Ultimat)
Oksigen, adb 25,01% (Ultimat)

Sementara itu, untuk menghitung ke basis as received bagi unsur karbon, nitrogen, sulfur dan ash
digunakan rumus:
Karbon = 60,08*(100-29,02)/(100-9,00) =46,86
Nitrogen = 0,88*(100-29,02)/(100-9,00) =0,69
Sulfur = 0,73*(100-29,02)/(100-9,00) =0,57
Ash = 7,86*(100-29,02)/(100-9,00) =6,13
Untuk mengubah hidrogen dan oksigen ke basis as received dengan
mengikutsertakan H dan O dari moisture dalam sampel digunakan rumus:
Hidrogen = ((5,44-0,1119*9,00)(100-29,02)/(100-9,00))+0,1119*29,02 =6,70
Oksigen =((25,01-0,8881*9,00)(100-29,02)/(100-9,00))+0,888*29,02 = 39,05

apabila H dan O yang ada dalam moisture pada sampel tidak diikutsertakan,
hasilnya adalah:
Hidrogen =((5,44-0.1119*9,00)(100-29,02)/(100-9,00)) =3,46
Oksigen = ((25,01-0,8881*9,00)(100-29,02)/(100-9,00)) = 13,27

Apabila H dan O dari moisture diikutsertakan, penjumlahan keenam unsur itu


dengan total moisture menjadi 100%
Thank You