Anda di halaman 1dari 102

BAB I

BIAYA BAHAN BAKU


BAHAN BAKU MERUPAKAN
BAHAN YANG MEMBENTUK
BAGIAN MENYELURUH
PRODUK JADI
UNSUR BIAYA YANG
MEMBENTUK HARGA POKOK
BAHAN BAKU YANG DIBELI

Contoh :
Biaya Angkut
DALAM PEMBELIAN BAHAN BAKU,
PERUSAHAAN MEMBAYAR BIAYA ANGKUT.
HAL INI MENIMBULKAN MASALAH
MENGENAI PENGALOKASIAN BIAYA
ANGKUT TERSEBUT KEPADA MASING-
MASING JENIS BAHAN BAKU YANG
DIANGKUT.
PERLAKUAN TERHADAP BIAYA ANGKUT ,
DAPAT DIBEDAKAN MENJADI :

1. BIAYA ANGKUT DIPERLAKUKAN


SEBAGAI BIAYA TAMBAHAN HARGA
POKOK BAHAN BAKU YANG DIBELI

2. BIAYA ANGKUT TIDAK DIPERLAKUKAN


SEBAGAI TAMBAHAN HARGA POKOK
BAHAN BAKU YANG DIBELI, NAMUN
DIPERLAKUKAN SEBAGAI UNSUR BIAYA
OVERHEAD PABRIK
TERDAPAT 3 METODE :
A. PERBANDINGAN KUANTITAS TIAP JENIS
BAHAN BAKU YANG DIBELI
B. PERBANDINGAN HARGA FAKTUR TIAP
JENIS BAHAN BAKU YANG DIBELI
C. BIAYA ANGKUT DIPERHITUNGKAN
DALAM HARGA POKOK BAHAN BAKU
YANG DIBELI BERDASARKAN TARIF
YANG DITENTUKAN DIMUKA
A. PERBANDINGAN KUANTITAS TIAP JENIS BAHAN
BAKU YANG DIBELI

CONTOH :

PERUSAHAAN MEMBELI 3 MACAM BAHAN BAKU


DENGAN JUMLAH HARGA DALAM FAKTUR SEBESAR
Rp. 500.000. BIAYA ANGKUT YANG DIBAYAR UNTUK
KETIGA MACAM BAHAN BAKU TERSEBUT ADALAH
SEBESAR Rp. 300.000. KUANTITAS MASING-MASING
JENIS BAHAN BAKU YANG TERCANTUM DALAM
FAKTUR ADALAH :
BAHAN BAKU A = 400 KG.
BAHAN BAKU B = 350 KG.
BAHAN BAKU C = 50 KG.
BERAT ALOKASI BIAYA
JENIS
% ANGKUT
BAHAN
Kg. (1) : 800 (2) x Rp. 300.000
BAKU
(1) (2) (3)
A 400 50.00% Rp 150,000.00
B 350 43.75% Rp 131,250.00
C 50 6.25% Rp 18,750.00
JUMLAH 800 100.00% Rp 300,000.00
B. PERBANDINGAN HARGA FAKTUR TIAP JENIS BAHAN
BAKU YANG DIBELI

CONTOH :

PERUSAHAAN MEMBELI EMPAT MACAM BAHAN BAKU DENGAN


HARGA FAKTUR TIAP-TIAP JENIS BAHAN SEBAGAI BERIKUT :
BAHAN BAKU A = Rp. 100.000
BAHAN BAKU B = RP. 150.000
BAHAN BAKU C = RP. 225.000
BAHAN BAKU D = Rp. 125.000
BIAYA ANGKUT YANG DIKELUARKAN UNTUK KE EMPAT JENIS
BAHAN BAKU TERSEBUT SEBESAR Rp. 48.000
. JIKA BIAYA ANGKUT TERSEBUT DIBAGIKAN ATAS DASAR PERBANDINGAN
HARGA FAKTUR TIAP-TIAP JENIS BAHAN BAKU TERSEBUT, HARGA POKOK
TIAP JENIS BAHAN BAKU AKAN DIBEBANI DENGAN TAMBANGAN BIAYA
ANGKUT SEBESAR Rp. 0,08
(YAITU Rp. 48.000 : Rp. 600.000)

Pembagian Harga Pokok


JENIS
Harga Faktur Biaya Angkut Bahan Baku
BAHAN
(1) X Rp. 0,08 (1) + (2)
BAKU
(1) (2) (3)
A Rp 100,000.00 Rp 8,000.00 Rp 108,000.00
B Rp 150,000.00 Rp 12,000.00 Rp 162,000.00
C Rp 225,000.00 Rp 18,000.00 Rp 243,000.00
D Rp 125,000.00 Rp 10,000.00 Rp 135,000.00
JUMLAH Rp 600,000.00 Rp 48,000.00 Rp 648,000.00
C. BIAYA ANGKUT DIPERHITUNGKAN DALAM HARGA POKOK
BAHAN BAKU YANG DIBELI BERDASARKAN TARIF YANG
DITENTUKAN DIMUKA

 PERHITUNGAN TARIF DILAKUKAN DENGAN MENAKSIR


BIAYA ANGKUT YANG AKAN DIKELUARKAN DALAM TAHUN
ANGGARAN TERTENTU.

 TAKSIRAN BIAYA ANGKUT INI KEMUDIAN DIBAGI DENGAN


DASAR YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK
MENGALOKASIKAN BIAYA ANGKUT TERSEBUT.

 PADA SAAT TERJADI PEMBELIAN BAHAN BAKU, HARGA


FAKTUR BAHAN BAKU HARUS DITAMBAH DENGAN BIAYA
ANGKUT SEBESAR TARIF YANG TELAH DITENTUKAN

 BIAYA ANGKUT YANG SESUNGGUHNYA DIKELUARKAN


DICATAT DALAM REKENING BIAYA ANGKUT.
JURNAL UNTUK MENCATAT PEMBEBANAN BIAYA ANGKUTAN
ATAS DASAR TARIF DAN BIAYA ANGKUTAN YANG SESUNGGUHNYA
TERJADI ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

A. Jurnal pembelian bahan baku :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan Bahan Baku Rp. XXX
Utang Dagang Rp. XXX
B. Pembebanan biaya angkut kepada bahan baku yang dibeli
atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah sebagai berikut :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan Bahan Baku
(Tarif biaya angkutan X dasar pembebanannya) Rp. XXX
Biaya angkutan Rp. XXX

C. Pencatatan biaya angkut yang sesungguhnya dikeluarkan :

Keterangan Debet Kredit


Biaya Angkutan Rp. XXX
Kas Rp. XXX
D. Apabila pada akhir periode akuntansi dalam rekening biaya
angkut terdapat selisih biaya angkut yang dibebankan atas dasar
tarif dengan biaya angkut yang sesungguhnya terjadi, yang
JUMLAHNYA MATERIAL, maka selisih tersebut dibagikan ke rekening
persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses,
persediaan produk jadi, dan harga pokok penjualan dengan jurnal
sebagai berikut :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan Bahan Baku Rp. XXX
Persediaan Barang Dalam Proses Rp. XXX
Persediaan Produk Jadi Rp. XXX
Harga Pokok Penjualan Rp. XXX
Biaya Angkutan Rp. XXX
Apabila saldo rekening biaya angkutan TIDAK MATERIAL, selisih tersebut ditutup
langsung ke rekening harga pokok penjualan.
CONTOH :

BIAYA ANGKUTAN YANG DIPERKIRAKAN AKAN DIKELUARKAN DALAM


TAHUN 2013 ADALAH SEBESAR RP. 2.500.000, DAN JUMLAH BAHAN
BAKU YANG DIANGKUT DIPERKIRAKAN SEBANYAK 50.000 KG. JADI TARIF
BIAYA ANGKUTAN UNTUK TAHUN 2013 ADALAH SEBESAR RP. 50 PER KG
BAHAN BAKU YANG DIANGKUT.

JENIS Berat Harga


BAHAN (Kg) Faktur
BAKU (1) (2)
A 25,000 Rp 5,000,000.00
B 15,000 Rp 4,500,000.00
C 10,000 Rp 4,000,000.00
JUMLAH 50,000 Rp 13,500,000.00

Misalnya, Biaya angkut yang sesungguhnya dikeluarkan untuk tahun 2013


adalah sebesar Rp. 2.400.000
Biaya Angkut yang
Harga Pokok Bahan
JENIS Berat Harga Dibebankan atas
Baku
BAHAN (Kg) Faktur Dasar Tarif
BAKU (1) X Rp. 50 (2) + (3)
(1) (2) (3) (4)
A 25,000 Rp 5,000,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 6,250,000.00
B 15,000 Rp 4,500,000.00 Rp 750,000.00 Rp 5,250,000.00
C 10,000 Rp 4,000,000.00 Rp 500,000.00 Rp 4,500,000.00
JUMLAH 50,000 Rp 13,500,000.00 Rp 2,500,000.00 Rp 16,000,000.00
A. Jurnal pembelian bahan baku :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan Bahan Baku Rp13.500.000
Utang Dagang Rp. 13.500.000

B. Pembebanan biaya angkut kepada bahan baku yang dibeli


atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah sebagai berikut :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan Bahan Baku Rp. 2.500.000
Biaya angkutan Rp. 2.500.000
C. Pencatatan biaya angkut yang sesungguhnya dikeluarkan :

Keterangan Debet Kredit


Biaya Angkutan Rp. 2.400.000
Kas Rp. 2.400.000

D. Jurnal penutupan saldo rekening biaya angkutan ke rekening


harga pokok penjualan :

Keterangan Debet Kredit


Biaya Angkutan Rp. 100.000
Harga Pokok Penjualan Rp. 100.000
• Dengan cara ini, biaya angkutan tidak diperhitungkan
sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli,
namun diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik.
• Pada awal tahun anggaran, jumlah biaya angkutan yang
akan dikeluarkan selama satu tahun ditaksir.
• Jumlah taksiran biaya angkutan ini diperhitungkan sebagai
unsur biaya overhead pabrik dalam penentuan tarif biaya
overhead pabrik.
• Biaya angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan kemudian
dicatat dalam sebelah debet rekening biaya overhead
pabrik sesungguhnya.
PENENTUAN HARGA POKOK
BAHAN BAKU YANG DIPAKAI
DALAM PRODUKSI
Karena dalam satu periode akuntansi sering
terjadi fluktuasi harga, maka harga beli bahan
baku juga berbeda antara pembelian satu
dengan pembelian lainnya.

Oleh karena itu, persediaan bahan baku yang


ada di gudang mempunyai harga pokok per
satuan yang berbeda-beda meskipun jenisnya
sama.

Hal ini menimbulkan masalah dalam


penentuan harga pokok bahan baku yang
dipakai dalam produksi.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan berbagai
macam metode penentuan harga pokok bahan
baku yang dipakai dalam produksi (materials
costing methods), diantaranya adalah :
1. Metode Identifikasi Khusus
2. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama
(MPKP)
3. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama
(MTKP)
4. Metode Rata-Rata Bergerak
5. Metode Biaya Standar
6. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku
pada akhir bulan
2. METODE MASUK PERTAMA KELUAR
PERTAMA (MPKP)

• METODE MPKP MENENTUKAN BIAYA BAHAN


BAKU DENGAN ANGGAPAN BAHWA HARGA
POKOK PERSATUAN BAHAN BAKU YANG
PERTAMA MASUK DALAM GUDANG ,
DIGUNAKAN UNTUK MENENTUKAN HARGA
BAHAN BAKU YANG PERTAMA KALI DIPAKAI.
CONTOH
• PERSEDIAAN BAHAN BAKU A PADA TANGGAL 1 JANUARI 2013 TERDIRI DARI :
600Kg. @ Rp. 2.400 = Rp. 1.440.000
400Kg. @ Rp. 2.500 = Rp. 1.000.000

• TRANSAKSI PEMBELIAN DAN PEMAKAIAN BAHAN BAKU SELAMA BULAN


JANUARI 2013 DISAJIKAN SBB :

HARGA
KUANTITAS
TGL. BELI PER KG JUMLAH
TRANSAKSI
(KG)
6 Jan 13 Pemakaian 700
15 Jan 13 Pembelian 1.200 Rp. 2.750 Rp. 3.300.000
17 Jan 13 Pembelian 500 Rp. 3.000 Rp. 1.500.000
21 Jan 13 Pemakaian 1.100
Jumlah pembelian Rp. 4.800.000
Kartu Persediaan dengan Metode MPKP

Pembelian Pemakaian Sisa


Tgl. Ket.
Kuan Harga/kg. Jumlah Kuan Harga/kg. Jumlah Kuan Harga/kg. Jumlah
1-1-2013Saldo Awal 600 Rp 2,400.00 Rp 1,440,000.00
400 Rp 2,500.00 Rp 1,000,000.00
6-1-2013Pemakaian 600 Rp 2,400.00 Rp 1,440,000.00
100 Rp 2,500.00 Rp 250,000.00 300 Rp 2,500.00 Rp 750,000.00

15-1-2013Pembelian 1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00 300 Rp 2,500.00 Rp 750,000.00

1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00


17-1-2013Pembelian 500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00 300 Rp 2,500.00 Rp 750,000.00

1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00


500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00
21-1-2013Pemakaian 300 Rp 2,500.00 Rp 750,000.00

800 Rp 2,750.00 Rp 2,200,000.00 400 Rp 2,750.00 Rp 1,100,000.00


500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00

JUMLAH 1,700 Rp 4,800,000.00 1,800 Rp 4,640,000.00 900 Rp 2,600,000.00


Jika perusahaan menggunakan Metode Persediaan Fisik
dalam perencanaan biaya bahan baku, maka
perhitungan biaya bahan baku yang dipakai dalam
produksi adalah sebagai berikut :

Persediaan awal 1000 Kg Rp 2,440,000.00


pembelian 1700 Kg Rp 4,800,000.00
Jumlah bahan baku yang tersedia untuk diolah Rp 7,240,000.00

Persediaan akhir (dengan MPKP):


400 @ Rp. 2.750 Rp 1,100,000.00
500 @ Rp. 3.000 Rp 1,500,000.00
Rp 2,600,000.00
Biaya Bahan Baku Bulan Januari Rp 4,640,000.00
3. METODE MASUK TERAKHIR KELUAR
PERTAMA (MTKP)

• Metoe MTKP menentukan harga pokok bahan


baku yang dipakai dalam produksi dengan
angggapan bahwa harga pokok per satuan
bahan baku yang terakhir masuk dalam
persediaan gudang, dipakai untuk
menentukan harga pokok bahan baku yang
pertama kali dipakai dalam produksi.
CONTOH
• PERSEDIAAN BAHAN BAKU A PADA TANGGAL 1 JANUARI 2013 TERDIRI DARI :
600Kg. @ Rp. 2.400 = Rp. 1.440.000
400Kg. @ Rp. 2.500 = Rp. 1.000.000

• TRANSAKSI PEMBELIAN DAN PEMAKAIAN BAHAN BAKU SELAMA BULAN


JANUARI 2013 DISAJIKAN SBB :

HARGA
KUANTITAS
TGL. BELI PER KG JUMLAH
TRANSAKSI
(KG)
6 Jan 13 Pemakaian 700
15 Jan 13 Pembelian 1.200 Rp. 2.750 Rp. 3.300.000
17 Jan 13 Pembelian 500 Rp. 3.000 Rp. 1.500.000
21 Jan 13 Pemakaian 1.100
Jumlah pembelian Rp. 4.800.000
Kartu Persediaan dengan Metode MTKP

Pembelian Pemakaian Sisa


Tgl. Ket.
Kuan Harga/kg. Jumlah Kuan Harga/kg. Jumlah Kuan Harga/kg. Jumlah
01/01/13 Saldo Awal 600 Rp 2,400.00 Rp 1,440,000.00
400 Rp 2,500.00 Rp 1,000,000.00
06/01/13 Pemakaian 400 Rp 2,500.00 Rp 1,000,000.00
300 Rp 2,400.00 Rp 720,000.00 300 Rp 2,400.00 Rp 720,000.00

15/01/13 Pembelian 1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00 300 Rp 2,400.00 Rp 720,000.00


1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00
17/01/13 Pembelian 500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00 300 Rp 2,400.00 Rp 720,000.00
1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00
500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00
21/01/13 Pemakaian 500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00

600 Rp 2,750.00 Rp 1,650,000.00 300 Rp 2,400.00 Rp 720,000.00


600 Rp 2,750.00 Rp 1,650,000.00

JUMLAH 1,700 Rp 4,800,000.00 1,800 Rp 4,870,000.00 900 Rp 2,370,000.00


Jika perusahaan menggunakan Metode Persediaan Fisik
dalam perencanaan biaya bahan baku, maka
perhitungan biaya bahan baku yang dipakai dalam
produksi adalah sebagai berikut :

Persediaan awal 1000 Kg Rp 2,440,000.00


pembelian 1700 Kg Rp 4,800,000.00
Jumlah bahan baku yang tersedia untuk diolah Rp 7,240,000.00

Persediaan akhir (dengan MTKP):


300 @ Rp. 2.400 Rp 720,000.00
600 @ Rp. 2.750 Rp 1,650,000.00
Rp 2,370,000.00
Biaya Bahan Baku Bulan Januari Rp 4,870,000.00
4. METODE RATA-RATA BERGERAK

• DALAM METODE INI PERSEDIAAN BAHAN BAKU YANG ADA DI


GUDANG DIHITUNG HARGA POKOK RATA-RATANYA DENGAN
CARA MEMBAGI TOTAL HARGA POKOK DENGAN JUMLAH
SATUANNYA. SETIAP KALI TERJADI PEMBELIAN YANG HARGA
POKOK PERSATUANNYA BERBEDA DENGAN HARGA POKOK
RATA-RATA PERSEDIAAN YANG ADA DI GUDANG, HARUS
DILAKUKAN PERHITUNGAN HARGA POKOK RATA-RATA
PERSATUAN YANG BARU.
• BAHAN BAKU YANG DIPAKAI DALAM PROSES PRODUKSI
DIHITUNG HARGA POKOKNYA DENGAN MENGALIKAN
JUMLAH SATUAN BAHAN BAKU YANG DIPAKAI DENGAN
HARGA POKOK RATA-RATA PER SATUAN BAHAN BAKU YANG
ADA DI GUDANG.
CONTOH
• PERSEDIAAN BAHAN BAKU A PADA TANGGAL 1 JANUARI 2013 TERDIRI DARI :
600Kg. @ Rp. 2.400 = Rp. 1.440.000
400Kg. @ Rp. 2.500 = Rp. 1.000.000

• TRANSAKSI PEMBELIAN DAN PEMAKAIAN BAHAN BAKU SELAMA BULAN


JANUARI 2013 DISAJIKAN SBB :

HARGA
KUANTITAS
TGL. BELI PER KG JUMLAH
TRANSAKSI
(KG)
6 Jan 13 Pemakaian 700
15 Jan 13 Pembelian 1.200 Rp. 2.750 Rp. 3.300.000
17 Jan 13 Pembelian 500 Rp. 3.000 Rp. 1.500.000
21 Jan 13 Pemakaian 1.100
Jumlah pembelian Rp. 4.800.000
Kartu Persediaan dengan Metode Rata-
Rata Bergerak
Pembelian Pemakaian Sisa
Tgl. Ket.
Kuan Harga/kg. Jumlah Kuan Harga/kg. Jumlah Kuan Harga/kg. Jumlah
01/01/13 Saldo Awal 600 Rp 2,400.00 Rp 1,440,000.00
400 Rp 2,500.00 Rp 1,000,000.00
1,000 Rp 2,440.00 Rp 2,440,000.00

06/01/13 Pemakaian 700 Rp 2,440.00 Rp 1,708,000.00

15/01/13 Pembelian 1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00 300 Rp 2,440.00 Rp 732,000.00


1,200 Rp 2,750.00 Rp 3,300,000.00
1,500 Rp 2,688.00 Rp 4,032,000.00

17/01/13 Pembelian 500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00 1,500 Rp 2,688.00 Rp 4,032,000.00


500 Rp 3,000.00 Rp 1,500,000.00
2,000 Rp 2,766.00 Rp 5,532,000.00

21/01/13 Pemakaian 1,100 Rp 2,766.00 Rp 3,042,600.00


900 Rp 2,766.00 Rp 2,489,400.00

JUMLAH 1,700 Rp 4,800,000.00 1,800 Rp 4,750,600.00 900 Rp 2,489,400.00


Jika perusahaan menggunakan Metode Persediaan Fisik
dalam perencanaan biaya bahan baku, maka
perhitungan biaya bahan baku yang dipakai dalam
produksi adalah sebagai berikut :

Persediaan awal 1000kg Rp 2,440,000.00


pembelian 1700kg Rp 4,800,000.00
Jumlah bahan baku yang tersedia untuk diolah 2700Kg @ Rp. 2.681 Rp 7,240,000.00

Persediaan akhir (dg Metode Rata-Rata Bergerak) :900Kg @ Rp. 2.681


Rp 2,412.900.00
Biaya Bahan Baku Bulan Januari Rp 4,827,100.00
A. Jurnal yang dibuat pada saat pembelian bahan baku :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan Bahan Baku
(kuantitas X harga standar per satuan) Rp. XXX
Selisih Harga Rp. XXX

B. Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga


standar :

Keterangan Debet Kredit


Selisih Harga Rp. XXX
Utang Dagang Rp. XXX
C. Pemakaian bahan baku dalam produksi dicatat sebesar hasil
kali kuantitas bahan baku sesungguhnya yang dipakai dengan
harga standarnya dan dijurnal sbb :

Keterangan Debet Kredit


Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. XXX
Persediaan Bahan Baku Rp. XXX

D. Jurnal yang dibuat pada saat pemakaian bahan baku adalah


sebagai berikut :

Keterangan Debet Kredit


Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. XXX
Persediaan Bahan Baku Rp. XXX
MASALAH-MASALAH KHUSUS
YANG BERHUBUNGAN
DENGAN BAHAN BAKU
SISA BAHAN
• DI DALAM PROSES PRODUKSI, TIDAK SEMUA BAHAN BAKU
DAPAT MENJADI BAGIAN PRODUK JADI.
• BAHAN YANG MENGALAMI KERUSAKAN DI DALAM PROSES
PENGERJAANNYA DISEBUT SISA BAHAN.
• PERLAKUAN TERHADAP SISA BAHAN TERGANTUNG DARI HARGA
JUAL SISA BAHAN ITU SENDIRI
• JIKA HARGA JUAL SISA BAHAN RENDAH, BIASANYA TIDAK
DILAKUKAN PENCATATAN JUMLAH DAN HARGANYA SAMPAI
SAAT PENJUALANNYA.
• TETAPI JIKA HARGA JUAL SISA BAHAN TINGGI, PERLU DICATAT
JUMLAH DAN HARGA JUAL SISA BAHAN TERSEBUT DALAM
KARTU PERSEDIAAN PADA SAAT SISA BAHAN DISERAHKAN OLEH
BAGIAN PRODUKSI KE BAGIAN GUDANG.
JIKA DI DALAM PROSES PRODUKSI TERDAPAT SISA
BAHAN, MASALAH YANG TIMBUL ADALAH
BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN HASIL SISA BAHAN
TERSEBUT.

HASIL PENJUALAN SISA BAHAN DAPAT DIPERLAKUKAN


SEBAGAI :
1. PENGURANG BIAYA BAHAN BAKU YANG DIPAKAI
DALAM PESANAN YANG MENGHASILKAN SISA
BAHAN TERSEBUT
2. PENGURANG TERHADAP BIAYA OVERHEAD PABRIK
YANG SESUNGGUHNYA TERJADI
3. PENGHASILAN DI LUAR USAHA.
HASIL PENJUALAN SISA BAHAN DIPERLAKUKAN SEBAGAI PENGURANG BIAYA
BAHAN BAKU YANG DIPAKAI DALAM PESANAN YANG MENGHASILKAN SISA
BAHAN TERSEBUT. JURNAL YANG DIBUAT PADA SAAT PENJUALAN SISA BAHAN
ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Kas/Piutang Dagang Rp. XXX
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp. XXX

HASIL PENJUALAN SISA BAHAN DIPERLAKUKAN SEBAGAI PENGURANG TERHADAP


BIAYA OVERHEAD PABRIK YANG SESUNGGUHNYA TERJADI. JURNAL YANG
DIBUAT PADA SAAT PENJUALAN SISA BAHAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Kas/Piutang Dagang Rp. XXX
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp. XXX
HASIL PENJUALAN SISA BAHAN DIPERLAKUKAN PENGHASILAN DI LUAR USAHA.
JURNAL YANG DIBUAT PADA SAAT PENJUALAN SISA BAHAN ADALAH SEBAGAI
BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Kas/Piutang Dagang Rp. XXX
Hasil Penjualan Sisa Bahan Rp. XXX
CONTOH

• Bagian produksi menyerahkan 2.000 kg sisa bahan ke bagian gudang. Sisa


bahan tersebut ditaksir dapat laku dijual Rp. 5.000 per kg. sampai dengan
akhir periode akuntansi sisa bahan tersebut telah laku dijual sebanyak 1.250
kg dengan harga jual Rp. 6.000 per kg
METODE I

JURNAL PENYERAHAN SISA BAHAN DARI BAGIAN PRODUKSI KE BAGIAN GUDANG,


JIKA HASIL PENJUALAN SISA BAHAN DIPERLAKUKAN SEBAGAI PENGHASILAN DI
LUAR USAHA, ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan sisa Bahan (2.000 X Rp. 5.000) Rp. 10.000.000
Hasil Penjualan Sisa Bahan Rp. 10.000.000

JURNAL PENJUALAN SISA BAHAN TERSEBUT ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Kas/Piutang Dagang (1.250 x Rp. 6.000) Rp. 7.500.000
Persediaan sisa Bahan Rp. 7.500.000
Pada akhir periode akuntansi perlu dibuat jurnal penyesuaian karena adanya
persediaan sisa bahan yang belum laku dijual sebanyak 750 kg.
Dengan jurnal pertama telah dicatat hasil penjualan 2.000 kg sisa bahan, padahal
kenyataannya yang telah direalisasikan baru 1.250 kg.
Oleh karena itu hasil penjualan sisa bahan sebesar Rp. 10.000.000 tersebut harus
dikurangi sebesar Rp. 3.750.000 (750 X Rp. 5.000) yaitu jumlah hasil penjualan
yang belum direalisasikan. Jurnal penyesuaian yang dibuat pada akhir periode
akuntansi adalah sebagai berikut :

Keterangan Debet Kredit


Hasil Penjualan Sisa Bahan Rp. 3.750.000
Penghasilan yang belum direalisasikan Rp. 3.750.000
Pada akhir periode akuntansi juga perlu dibuat jurnal penyesuaian apabila terjadi
perbedaan antara taksiran harga jual sisa bahan dengan harga jual
sesungguhnya. Dalam periode akuntansi tersebut terdapat selisih harga jual
taksiran dengan harga jual sesungguhnya sebesar Rp. 1.000 per kg. (Rp. 6.000
– Rp. 5.000), padahal jumlah sisa bahan yang ada telah terjual sebanyak 1.250
kg.
Oleh karena itu jumlah selisih harga jual adalah sebesar Rp. 1.250.000 (1.250 X
Rp. 1.000). Jumlah selisih harga jual yang terjadi dalam suatu periode
akuntansi digunakan untuk menyesuaikan rekening yang semula dikredit pada
jurna lpertama di atas.
Jurnal penyesuaian karena adanya selisish harga jual adalah sebagai berikut :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan sisa Bahan Rp. 1.250.000
hasil penjualan sisa bahan Rp. 1.250.000
Jurnal Pencatatan Persediaan dan Penjualan Sisa Bahan serta Jurnal Penyesuaian
adanya Persediaan Sisa Bahan yang Belum Laku Dijual dan Selisih Harga:

Hasil Penjualan Sisa Bahan Persediaan Sisa Bahan Kas

Rp 3,750,000.00 Rp 10,000,000.00 Rp 10,000,000.00 Rp 7,500,000.00 Rp 7,500,000.00


R/L Rp 7,500,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 N Rp 3,750,000.00 N Rp 7,500,000.00

Rp 11,250,000.00 Rp 11,250,000.00 Rp 11,250,000.00 Rp 11,250,000.00 Rp 7,500,000.00 Rp 7,500,000.00

Pendapatan yang belum direalisasikan

N Rp 3,750,000.00 Rp 3,750,000.00

Rp 3,750,000.00 Rp 3,750,000.00
Neraca yang disajikan pada akhir periode akuntansi akan berisi
persediaan sisa bahan sebesar Rp. 3.750.000 di kelompok
aktiva dengan penghasilan yang belum direalisasikan sebesar
Rp. 3.750.000 di kelompok utang lancar. Hal ini berarti
bahwa meskipun dalam kelompok aktiva terdapat kekayaan
berupa sisa bahan sebesar Rp. 3.750.000 namun kekayaan
tersebut belum direalisasikan sampai dengan tanggal neraca
tersebut, sehingga dengan kata lain perusahaan pada saat
tersebut tidak mempunyai apa-apa. Laporan laba rugi untuk
periode akuntansi tersebut menyajikan hasil penjualan sisa
bahan sebesar Rp. 7.500.000 (Rp. 10.000.000 + Rp. 1.250.000
– Rp. 3.750.000) yaitu jumlah hasil penjualan sisa bahan yang
sesungguhnya direalisasikan dari penjualan sisa bahan
METODE II
PERBEDAAN METODE I DAN II TERLETAK PADA JURNAL YANG DIBUAT PADA SAAT
SISA BAHAN DISERAHKAN KE GUDANG DAN PENJUALANNYA. JURNAL
PENYERAHAN SISA BAHAN DARI BAGIAN PRODUKSI KE BAGIAN GUDANG
ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Persediaan sisa Bahan (2.000 X Rp. 5.000) Rp. 10.000.000
Penghasilan yang belum direalisasikan Rp. 10.000.000

JURNAL PENJUALAN SISA BAHAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

Keterangan Debet Kredit


Kas/Piutang Dagang (1.250 x Rp. 6.000) Rp. 7.500.000
Hasil penjualan sisa Bahan Rp. 7.500.000

Keterangan Debet Kredit


Penghasilan yang belum direalisasikan (1.250 x Rp. 5.000) Rp. 6.250.000
Persediaan sisa Bahan Rp. 6.250.000
Apabila terdapat persediaan sisa bahan yang belum
laku dijial dan terjadi selisih harga jual, pada
akhir periode akuntansi tidak perlu dibuat jurnal
penyesuaian seperti pada metode I.
Jurnal Pencatatan Persediaan dan Penjualan Sisa Bahan :

Pendapatan yang Belum Direalisasikan Persediaan Sisa Bahan Penjualan Sisa Bahan

Rp 6.250,000.00 Rp 10,000,000.00 Rp 10,000,000.00 Rp 6.250,000.00 R/L Rp 7,500,000.00


N Rp 3,750,000.00 N Rp 3,750,000.00 Rp 7,500,000.00

Rp 10.000,000.00 Rp 10.000,000.00 Rp 10.000,000.00 Rp 10.000,000.00 Rp 7,500,000.00 Rp 7,500,000.00

Kas

Rp 7,500,000.00 Rp 7,500,000.00

Rp 7,500,000.00 Rp 7,500,000.00
PRODUK RUSAK
• PRODUK RUSAK ADALAH PRODUK YANG TIDAK MEMENUHI STANDAR MUTU YANG
TELAH DITETAPKAN, YANG SECARA EKONOMIS TIDAK DAPAT DIPERBAIKI MENJADI
PRODUK BAIK.
• PERLAKUAN TERHADAP PRODUK RUSAK TERGANTUNG PADA SIFAT DAN SEBAB
TERJADINYA :
1. JIKA PRODUK RUSAK TERJADI KARENA SULITNYA PENGERJAAN PESANAN TERTENTU
ATAU FAKTOR LUAR BIASA YANG LAIN, MAKA HARGA POKOK PRODUK RUSAK
DIBEBANKAN SEBAGAI TAMBAHAN HARGA POKOK PRODUK YANG BAIK DALAM
PESANAN YANG BERSANGKUTAN. JIKA PRODUK RUSAK TERSEBUT MASIH LAKU
DIJUAL, MAKA HASIL PENJUALANNYA DIPERLAKUKAN SEBAGAI PENGURANG BIAYA
PRODUKSI PESANAN YANG MENGHASILKAN PRODUK RUSAK TERSEBUT.
2. JIKA PRODUK RUSAK MERUPAKAN HAL YANG NORMAL TERJADI DALAM PROSES
PENGOLAHAN PRODUK, MAKA KERUGIAN YANG TIMBUL SEBAGAI AKIBAT
TERJADINYA PRODUK RUSAK DIBEBANKAN KEPADA PRODUKSI SECARA
KESELURUHAN, DENGAN CARA MEMPERHITUNGKAN KERUGIAN TERSEBUT DALAM
TARIF BIAYA OVERHEAD PABRIK . OLEH KARENA ITU ANGGARAN BIAYA OVERHEAD
PABRIK YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK MENENTUKAN TARIF BIAYA OVERHEAD
PABRIK TERDIRI ELEMEN-ELEMEN BERIKUT :
Biaya bahan penolong Rp. XXX
Biaya tenaga kerja tak langsung Rp. XXX
Biaya reparasi dan pemeliharaan Rp. XXX
Biaya asuransi Rp. XXX
Biaya overhead pabrik lain Rp. XXX
Rugi produk rusak (hasil penjualan - harga pokok produk rusak) Rp. XXX
Biaya overhead pabrik yang dianggarkan Rp. XXX

Dan tarif BIAYA OVERHEAD PABRIK dihitung dengan rumus berikut :

Biaya Overhead Pabrik yang dianggarkan


Tarif Biaya Overhead Pabrik =
Dasar Pembebanan

Jika terjadi produk rusak , maka kerugian yang sesungguhnya terjadi


didebetkan dalam rekening BIAYA OVERHEAD PABRIK
SESUNGGUHNYA
1. PENCATATAN PRODUK RUSAK - JIKA PRODUK RUSAK
DIBEBANKAN KEPADA PESANAN TERTENTU

CONTOH

• PT ELIONA SARI berproduksi atas dasar pesanan. Dalam bulan Januari 2013
perusahaan menerima pesanan pembuatan 1.000 satuan produk A. Karena
pesanan ini merupakan pesanan yang membutuhkan ketepatan spesifikasi
yang ditentukan pemesan, maka produk rusak yang terjadi dibebankan
kepada pesanan ini.
• Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan memproduksi 1.100 satuan
produk A dengan biaya produksi sebagai berikut : Biaya bahan baku Rp.
75.000, Biaya tenaga kerja langsung Rp. 175.000 dan biaya overhead pabrik
dibebankan atas dasar tarif sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung.
• Pada saat pesanan tersebut selesai dikerjakan, ternyata terdapat 100 satuan
produk yang rusak, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki. Produk
rusak tersebut diperkiakan laku dijual Rp. 350 per satuan. Jurnal untuk
mencatat biaya produksi untuk mengolah 1.100 satuan produk A adalah
sebagai berikut :
Keterangan D K
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 75,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 175,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 262,500.00
Persediaan Bahan Baku Rp 75,000.00
Gaji dan Upah Rp 175,000.00
Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 262,500.00
• Seandainya 100 satuan produk rusak tidak rusak, maka harga pokok produk A
adalah Rp. 466 per satuan (Rp. 512.500 : 1.100). Harga pokok produk rusak
dibebankan kepada produk yang baik, sehingga harga pokok produk A yang
baik adalah Rp. 513 ( yaitu Rp. 512.500 : 1.000)
• Jika produk rusak tersebut masih laku dijual, maka hasil penjualan produk
rusak dikurangkan dari biaya produksi yang seluruhnya telah dibebankan
kepada produk yang baik. Jurnal untuk mencatat nilai jual produk rusak dan
pengurangan biaya produksi pesanan yang bersangkutan adalah sebagai
berikut :

Keterangan D K
Persediaan produk rusak (100 X Rp. 350) Rp 35,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 5,100.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 11,925.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 17,925.00
• Pembagian nilai jual produk rusak sebagai pengurang terhadap tiap-tiap
rekening barang dalam proses tersebut, didasarkan pada perbandingan tiap-
tiap elemen biaya tersebut dalam harga pokok produk rusak, disajikan sebagai
berikut :

Harga Pokok Produk


Total Biaya Biaya Per Satuan
Elemen Harga Pokok Rusak
Produksi
Produk (1) : 1.100 (2) X 100
(1) (2) (3)
BBB Rp 75,000.00 Rp 68.00 Rp 6,800.00
BTKL Rp 175,000.00 Rp 159.00 Rp 15,900.00
BOP Rp 262.500.00 Rp 239.00 Rp 23,900.00
JUMLAH Rp 512.500.00 Rp 466,00 Rp 46,600.00
Nilai Jual Produk Rusak Rp 35,000.00
= = 75%
Harga Pokok Produk Rusak Rp 46,600.00
• Pembagian nilai jual produk rusak sebagai pengurang terhadap tiap-tiap
rekening barang dalam proses tersebut, didasarkan pada perbandingan tiap-
tiap elemen biaya tersebut dalam harga pokok produk rusak, disajikan sebagai
berikut :

Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku 75% X Rp6,800.00 Rp 5,100.00


Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 75% X Rp15,900.00 Rp 11,925.00
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik 75% X Rp 23, 900.00 Rp 17,925.00
JUMLAH Rp34,950.00

• Jumlah seharusnya Rp. 35.000. selisih sebesar Rp. 50 karena adanya pembulatan dalam perhitungan
• Jurnal pencatatan harga pokok produk jadi adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Persediaan produk Jadi Rp 477,500.00
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 69,900.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 163,075.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 244,575.00

• Karena produk rusak diperkirakan masih laku dijual seharga Rp. 35.000 maka
biaya produksi berkurang menjadi Rp. 477.500 (Rp. 512.500 – Rp. 35.000),
sehingga harga pokok per satuan produk A yang baik adalah sebesar Rp. 478
(Rp. 477.500 : 1000)
2. PENCATATAN PRODUK RUSAK – JIKA KERUGIAN PRODUK
RUSAK DIBEBANKAN KEPADA SELURUH PRODUK

CONTOH

• PT ELIONA SARI berproduksi atas dasar pesanan. Karena produk rusak


merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pengolahan produk, maka
kerugian karena adanya produk rusak sudah diperhitungkan dalam
penentuan tarif biaya overhead pabrik pada awal tahun. tarif biaya
overhead pabrik adalah sebesar 160% dari biaya tenaga kerja langsung.
• Pada bulan januari 2013, perusahaan menerima pesanan produk B sebanyak
2.000 kg. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengerjakan pesanan
tersebut adalah : Biaya Bahan Baku Rp. 100.000, Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp. 250.000 dan Biaya Overhead Pabrik 160% dari biaya tenaga
kerja langsung. Setelah pesanan ini selesai diproduksi ternyata ada 2.300 kg
produk selesai yang dihasilkan terdapat 300kg produk rusak, yang
diperkirakan masih dapat laku dijual Rp. 200 per kg.
• Jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah pesanan produk B
tersebut adalah :
Keterangan D K
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 100,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 250,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 400,000.00
Persediaan Bahan Baku Rp 100,000.00
Gaji dan Upah Rp 250,000.00
Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 400,000.00
• Karena dalam tarif biaya overhead pabrik telah diperhitungkan kerugian
produk rusak, maka berarti seluruh produk yang diproduksi akan dibebani
dengan kerugian karena adanya produk rusak tersebut. Oleh karena itu,
kerugian sesungguhnya yang timbul dari produk rusak didebitkan dalam
rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya. Dalam contoh ini kerugian
karena adanya produk rusak dihitung sebagai berikut :

Nilai jual produk rusak 300 X Rp200.00 Rp 60,000.00


Harga pokok produk rusak 300 X Rp326.00 Rp 97,800.00
KERUGIAN PRODUK RUSAK Rp 37,800.00

Total Biaya Biaya Per Satuan


Elemen Harga Pokok
Produksi (1) : 2.300
Produk
(1) (2)
BBB Rp 100,000.00 Rp 43.00
BTKL Rp 250,000.00 Rp 109.00
BOP Rp 400,000.00 Rp 174.00
JUMLAH Rp 750,000.00 Rp 326,00
• Jurnal pencatatan produk rusak dan kerugiannya adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Persediaan produk rusak Rp 60,000.00
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 37,800.00
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 12,900.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 32,700.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 52,500.00

• Jurnal pencatatan produk jadi yang baik adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Persediaan produk Jadi Rp 652,200.00
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku (2.000 X Rp. 43) Rp 87,100.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 217,300.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 347,800.00
PRODUK CACAT
• PRODUK CACAT ADALAH PRODUK YANG TIDAKMEMENUHI STANDAR MUTU YANG
TELAH DITENTUKAN, TETAPI DENGAN MENGELUARKAN BIAYA PENGERJAAN KEMBALI
UNTUK MEMPERBAIKINYA, PRODUK TERSEBUT SECARA EKONOMIS DAPAT
DISEMPURNAKAN LAGI MENJADI PRODUK JADI YANG BAIK.
• PERLAKUAN TERHADAP BIAYA PENGERJAAN KEMBALI PRODUK CACAT, MIRIP DENGAN
YANG TELAH DIBICARAKAN DALAM PRODUK RUSAK :
1. JIKA PRODUK CACAT BUKAN MERUPAKAN HAL YANG BIASA TERJADI DALAM
PROSES PRODUKSI, TETAPI KARENA KARAKTERISTIK PENGERJAAN PESANAN
TERTENTU, MAKA BIAYA PENGERJAAN KEMBALI PRODUK CACAT DAPAT
DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA TAMBAHAN BIAYA PRODUKSI PESANAN YANG
BERSANGKUTAN.
2. JIKA PRODUK CACAT MERUPAKAN HAL YANG BIASA TERJADI DALAM PROSES
PENGERJAAN PRODUK, MAKA BIAYA PENGERJAAN KEMBALI DAPAT DIBEBANKAN
KEPADA SELURUH PRODUKSI DENGAN CARA MEMPERHITUNGKAN BIAYA
PENGERJAAN KEMBALI TERSEBUT KE DALAM TARIF BIAYA OVERHEAD PABRIK. BIAYA
PENGERJAAN KEMBALI PRODUK CACAT YANG SESUNGGUHNYA TERJADI
DIDEBITKAN DALAM REKENING BIAYA OVERHEAD PABRIK SESUNGGUHNYA.
1. PENCATATAN BIAYA PENGERJAAN KEMBALI PRODUK CACAT JIKA
BIAYA TERSEBUT DIBEBANKAN KEPADA PESANAN TERTENTU

CONTOH

• PT RIMENDI menerima pesanan 100 satuan produk X. Biaya


produksi yang dikeluarkan untuk mengolah produk tersebut
adalah : Biaya Bahan Baku Rp. 40.000, Biaya Tenaga Kerja
Langsung 25.000 dan Biaya Overhead Pabrik dibebankan atas
dasar tarif sebesar 200% dari biaya tenaga kerja langsung.
• Setelah pengolahan 100 satuan produk X tersebut selesai,
ternyata terdapat 10 satuan produk cacat yang secara ekonomis
masih dapat diperbaiki lagi.
• Biaya-biaya pengerjaan kembali 10 satuan produk cacat tersebut
terdiri dari Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 5.000 dan Biaya
Overhead Pabrik pada tarif yang biasa dipakai. Jurnal pencatatan
produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk
cacat tersebut adalah sebagai berikut :
• Jurnal pencatatan biaya produksi 100 satuan produk X adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 40,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 25,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 50,000.00
Persediaan Bahan Baku Rp 40,000.00
Gaji dan Upah Rp 25,000.00
Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 50,000.00

• Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat jika biaya tersebut
dibebankan sebagai tambahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan
adalah sebagai berikut :
Keterangan D K
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 5,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 10,000.00
Gaji dan Upah Rp 5,000.00
Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 10,000.00
• Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Persediaan produk Jadi 130,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 40,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 30,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 60,000.00
2. PENCATATAN BIAYA PENGERJAAN KEMBALI PRODUK CACAT JIKA BIAYA
TERSEBUT DIBEBANKAN KEPADA PRODUKSI SECARA KESELURUHAN

CONTOH
• DALAM proses produksi PT ELIONIA selalu terjadi produk cacat, yang secara
ekonomis masih dapat diperbaiki dengan cara mengeluarkan biaya
pengerjaan kembali. Oleh karena itu pada waktu menentukan tarif biaya
overhead pabrik, di dalam anggaran biaya overhead pabrik di perhitungkan
di taksiran biaya pengerjaan kembali produk cacat yang akan dikeluarkan
selama periode anggaran. Tarif biaya overhead pabrik ditentukan sebesar
150% dari biaya tenaga kerja langsung.
• PT ELIONIA dalam periode anggaran tersebut menerima pesanan
pembuatan 500 satuan produk Y. biaya produksi yang dikeluarkan untuk
mengolah produk tersebut adalah : Biaya Bahan Baku Rp. 100.000, Biaya
Tenaga Kerja Langsung Rp. 125.000.
• Setelah pengolahan 500 satuan produk Y tersebut selesai, ternyata terdapat
50 satuan produk cacat. Biaya pengerjaan kembali 50 satuan produk cacat
tersebut terdiri dari Biaya tenaga Kerja Langsung Rp. 10.000 dan Biaya
Overhead Pabrik pada tarif yang dipakai.
• Jurnal pencatatan biaya produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan
kembali cacat adalah sebagai berikut :
• Jurnal pencatatan biaya produksi 500 satuan produk Y adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 100,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 125,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 187.500.00
Persediaan Bahan Baku Rp 100,000.00
Gaji dan Upah Rp 125,000.00
Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 187.500.00

• Jurnal pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat, jika biaya tersebut
dibebankan kepada produk secara keseluruhan sebagai berikut :

Keterangan D K
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 25,000.00
Gaji dan Upah Rp 10,000.00
Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Rp 15,000.00
• Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai adalah sebagai berikut :

Keterangan D K
Persediaan produk Jadi 412,500.00
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 100,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 125,000.00
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Rp 187,500.00
BIAYA TENAGA KERJA
PENGERTIAN BIAYA TENAGA KERJA DAN CARA
PENGGOLONGANNYA
1. DEFINISI : Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau
mental yang dikeluarkankaryawan untuk mengolah
produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang
dibebankan utnuk penggunaan tenaga kerja manusia
tersebut.
2. PENGGOLONGAN TENAGA KERJA :
a. Penggolongan menurut fungsi pokok dalam
organisasi perusahaan
b. Penggolongan menurut kegiatan departemen-
departemen dalam perusahaan
c. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya
d. Penggolongan menurut hubungannya dengan
produk.
1. PENGGOLONGAN MENURUT FUNGSI POKOK DALAM
ORGANISASI PERUSAHAAN
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi ke
dalam tiga fungsi pokok : produksi, pemasaran dan
administrasi. Berikut ini diberikan contoh biaya tenaga
kerja yang termasuk dalam tiap golongan tersebut :
1. Biaya Tenaga Kerja Produksi
a. Gaji karyawan pabrik
b. Biaya kesejahteraan karyawan pabrik
c. Upah lembur karyawan pabrik
d. Upah mandor pabrik
e. Gaji manajer pabrik
2. Biaya tenaga kerja pemasaran :
a. Upah karyawan pemasaran
b. Biaya kesejahteraan karyawan pemasaran
c. Biaya komisi pramuniaga
d. Gaji manajer pemasaran

3. Biaya tenaga kerja administrai dan umum :


a. Gaji karyawan bagian akuntansi
b. Gaji karyawan bagian personalia
c. Gaji karyawan bagian sekretariat
d. Biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi
e. Biaya kesejahteraan karyawan bagian personalia
f. Biaya kesejahteraan karyawan bagian sekretariat
2. PENGGOLONGAN MENURUT KEGIATAN DEPARTEMEN-
DEPARTEMEN DALAM PERUSAHAAN

Misalnya departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri


dari tiga departemen : Bagian Pulp, Bagian Kertas, dan Bagian
Penyempurnaan. Biaya tenaga kerja dalam departemen produksi
tersebut digolongkan sesuai dengan bagian-bagian yang dibentuk
dalam perusahaan tersebut.

3. PENGGOLONGAN MENURUT JENIS PEKERJAANNYA

Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan


menurut sifat pekerjaannya. Misalnya dalam suatu departemen
produksi, tenaga kerja digolongkan sebagai berikut : operator,
mandor, dan penyelia.
Demikian juga biaya tenaga kerja juga digolongkan menjadi : upah
operator, upah mandor, dan upah penyelia.
4. PENGGOLONGAN MENURUT HUBUNGANNYA DENGAN PRODUK

Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi :


tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung.

Tenaga kerja langsung adalah semua karyawan yang secara


langsung ikut serta memproduksi produk jadi, yang jasanya dapat
diusut secara langsung kepada produk, dan yang upahnya
merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk.

Tenaga kerja yang jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada
produk disebut biaya tenaga kerja tak langsung dan merupakan
unsur biaya overhead pabrik.
AKUNTANSI BIAYA TENAGA KERJA
BIAYA TENAGA KERJA DAPAT DIGOLONGKAN KE DALAM
TIGA GOLONGAN BESAR BERIKUT :

1. GAJI DAN UPAH REGULER yaitu jumlah gaji dan upah


bruto dikurangi dengan potongan-potongan seperti
pajak penghasilan karyawan dan biaya asuransi hari
tua
2. PREMI LEMBUR
3. BIAYA-BIAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN TENAGA
KERJA
Gaji dan Upah
• Ada beberapa cara perhitungan upah karyawan dalam
perusahaan. Salah satu cara adalah dengan mengalikan tarif
upah dengan jam kerja karyawan.
• Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok
pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja
karyawan adalah kartu hadir dan kartu jam kerja.
• Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk
mencatat jam kehadiran karyawan, yaitu jangka waktu antara
jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan.
• Kartu jam kerja biasanya hanya digunakan untuk mencatat
pemakaian waktu hadir tenaga kerja langsung di pabrik. Kartu
jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan
waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke
bagian akuntansi biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah
tenaga kerja langsung.
EMPAT TAHAP PENCATATAN
TAHAP 1
• Berdasarkan kartu hadir karyawan, bagian pembuatan
daftar gaji dan upah kemudian membuat daftar gaji
dan upah karyawan.
• Dari daftar gaji dan upah tersebut, kemudian dibuat
rekapitulasi gaji dan upah untuk mengelompokkan gaji
dan upah tersebut menjadi : gaji dan upah karyawan
pabrik, gaji dan upah karyawan administrasi dan
umum, serta gaji dan upah bagian pemasaran.
• Gaji dan upah karyawan pabrik dirinci lagi kedalam
upah karyawan langsung dan karyawan tak langsung
dalam hubungannya dengan produk.
Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah tersebut, bagian
akuntansi kemudian membuat jurnal sebagai berikut

Keterangan D K
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Rp XXX
Biaya Overhead Pabrik Rp XXX
Biaya Administrasi dan Umum Rp XXX
Biaya Pemasaran Rp XXX
Gaji dan Upah Rp XXX
TAHAP 2
• Atas dasar daftar gaji dan upah tersebut bagian
keuangan membuat bukti kas keluar dan cek untuk
pengambilan uang dari bank. Atas dasar bukti kas
keluar tersebut, bagian akuntansi membuat jurnal
sebagai berikut :

Keterangan D K
Gaji dan Upah Rp XXX
Utang PPh Karyawan Rp XXX
Utang Gaji dan Upah Rp XXX
TAHAP 3
• Setelah cek diuangkan di bank, uang gaji dan upah
kemudian dimasukkan ke dalam amplop gaji dan upah
tiap karyawan. Uang gaji dan upah karyawan kemudian
dibayarkan oleh juru bayar kepada tiap karyawan yang
berhak. Tiap karyawan menandatangani daftar gaji dan
upah sebagai bukti telah diterimanya gaji dan upah
mereka. Setelah tiap karyawan mengambil gaji dan
upahnya, atas dasar daftar gaji dan upah yang telah
ditandatangani karyawan, bagian akuntansi membuat
jurnal sebagai berikut :
Keterangan D K
Utang Gaji dan Upah Rp XXX
Kas Rp XXX
TAHAP 4
• Penyetoran pajak penghasilan (PPh) karyawan ke Kas
Negara dijurnal oleh bagian akuntansi sebagai berikut :
Keterangan D K
Utang PPh Karyawan Rp XXX
Kas Rp XXX
Contoh
• Misalkan perusahaan X mempekerjakan 2 orang karyawan :
Risna dan Eliona. Berdasarkan kartu hadir minggu pertama
bulan April 2013, bagian pembuat daftar gaji dan upah
membuat daftar gaji dan upah untuk periode yang
bersangkutan.
• Menurut kartu hadir, karyawan Risna bekerja selama seminggu
sebanyak 40 jam, dengan upah per jam Rp. 1.000, sedangkan
karyawan Eliona selama periode yang sama bekerja 40 jam
dengan tarif upah Rp. 750 per jam.
• Menurut kartu jam kerja, penggunaan jam hadir masing-masing
karyawan tersebut disajikan sebagai berikut :
Penggunaan Waktu Kerja Risna Eliona
Untuk pesanan #103 15 jam 20 jam
Untuk pesanan #188 20 jam 10 jam
Untuk menunggu persiapan pekerjaan 5 jam 10 jam

Pph karyawan sebesar 15%

Diminta :
1. Jurnal untuk mencatat distribusi gaji dan upah
2. Jurnal untuk mencatat hutang gaji dan upah
3. Jurnal untuk mencatat pembayaran gaji dan upah
4. Jurnal untuk mencatat pembayaran Pph karyawan
• Dengan demikian upah karyawan tersebut dihitung sebesar Rp.
70.000 (40 jam X Rp. 1.000 ditambah 40 jam X Rp. 750) dan
didistribusikan seperti dibawah ini :

Distribusi Biaya Tenaga Kerja Risna Eliona


Dibebankan sebagai tenaga kerja langsung :
pesanan #103 Rp. 15.000 Rp. 15.000
pesanan #188 Rp. 20.000 Rp. 7.500
Dibebankan sebagai biaya overhead pabrik Rp. 5.000 Rp. 7.500
Jumlah upah minggu pertama bulan april 2014 Rp. 40.000 Rp. 30.000
PPh yang dipotong oleh perusahaan 15% Rp. 6.000 Rp. 4.000
Jumlah upah bersih yang diterima karyawan Rp. 34.000 Rp. 25.500
Tahap 1
• Berdasarkan atas rekapitulasi gaji dan upah, bagian akuntansi
kemudian membuat jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut :
Keterangan D K
Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja Rp 57.500
Biaya Overhead Pabrik Rp 12.500
Gaji dan Upah Rp 70.000

Tahap 2
• Atas dasar bukti kas keluar, bagian akuntansi membuat jurnal
sebagai berikut :
Keterangan D K
Gaji dan Upah Rp 70.000
Utang PPh Karyawan Rp. 10.500
Utang Gaji dan Upah Rp 59.500
Tahap 3
• Atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani
karyawan, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut :
Keterangan D K
Utang Gaji dan Upah Rp 59.500
Kas Rp 59.500

Tahap 4
• Penyetoran PPh karyawan ke Kas Negara dijurnal oleh bagian
akuntansi sebagai berikut :
Keterangan D K
Utang PPh Karyawan Rp 10.500
Kas Rp. 10.500
Insentif

a. Insentif satuan dengan jam minimum. Karyawan


dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan
jumlah satuan keluaran (output) standar. Untuk hasil
produksi yang melebihi jumlah standar tersebut,
karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar
jumlah kelebihan satuan keluaran di atas standar kali
tarif upah per satuan. Tarif upah per satuan dihitung
dengan cara membagi upah standar per jam dengan
satuan keluaran standar per jam

Contoh : halaman 325 (Akuntansi Biaya; Mulyadi)


b. Taylor differential piece rate plan. Cara
pemberian insentif ini adalah semacam insentif
dengan jam minimum yang menggunakan tarif
tiap potong untuk jumlah keluaran rendah per
jam dan tarif tiap potong yang lain untuk
jumlah keluaran tertinggi per jam.

Contoh : halaman 325 (Akuntansi Biaya;


Mulyadi)
Premi Lembur

• Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam


satu minggu, maka mereka berhak menerima uang lembur dan
premi lembur. Misalnya dalam satu minggi seseorang karyawan
bekerja selama 44 jam dengan tarif upah (dalam jam kerja
biasa maupun lembur) Rp 50 per jam. Premi lembur dihitung
sebesar 50% dari tarif upah. Upah karyawan tersebut dihitung
sebagai berikut :

Jam biasa 40 X Rp. 600 = Rp 24.000


Lembur 4 X Rp. 600 = Rp 2.400
Premi lembur 4 X Rp. 300 = Rp 1.200
Jumlah upah karyawan tersebut satu minggu Rp 27.600
• Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas
alasan-alasan terjadinya lembur tersebut. Premi
lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja
langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau
departemen tempat terjadinya lembur tersebut.
Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah
bekerja pada kapasitas penuh dan
pelanggan/pemesan mau menerima beban
tambahankarena lembur tersebut.
• Premi lembur dapat diperlakukan sebagai unsur biaya
overhead pabrik atau dikeluarkan sama sekali dari
harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya
periode. Perlakuan terakhir ini hanya dapat
dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena
ketidakefisienan atau pemborosan waktu kerja.
Biaya-Biaya yang Berhubungan dengan Tenaga Kerja

SET UP TIME
Sering kali sebuah pabrik memerlukan waktu dan sejumlah biaya
untuk memulai produksi. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
memulai produksi disebut biaya pemula produksi (set up cost).
Ada tiga cara perlakuan terhadap biaya pemula produksi:
1. Dimasukkan kedalam kelompok biaya tenaga kerja langsung

2. Dimasukkan sebagai unsur biaya overhead pabrik


jurnal untuk mencatat biaya pemula produksi adalah :
BOP Sesungguhnya Rp. XXX
Kas Rp. XXX
Utang Dagang Rp. XXX
Persediaan Rp. XXX

3. Dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan.


WAKTU MENGANGGUR (IDLE TIME)
Dalam mengolah produk, seringkali terjadi hambatan-
hambatan, kerusakan mesin atau kekurangan pekerjaan. Hal ini
menimbulkan waktu menganggur bagi karyawan. Biaya-biaya
yang dikeluarkan selama waktu menganggur ini diperlukan
sebagai unsur biaya overhead pabrik.

Misalnya seorang karyawan harus bekerja 40 jam per minggu .


Upahnya Rp. 600 per jam. Dari 40 jam kerja tersebut misalnya
10 jam merupakan waktu mengaggur, dan sisanya digunakan
untuk mengerjakan pesanan tertentu. Jurnal untuk mencatat
biaya tenaga kerja tersebut adalah :

Barang Dalam Proses – BTKL Rp. 18.000


BOP sesungguhnya Rp. 6.000
Gaji dan upah Rp. 24.000
CONTOH SOAL
UNTUK PRODUK RUSAK
• PT ELIONA SARI berproduksi atas dasar pesanan. Dalam bulan
Januari 2013 perusahaan menerima pesanan pembuatan 1.000
satuan produk A. Karena pesanan ini merupakan pesanan yang
membutuhkan ketepatan spesifikasi yang ditentukan pemesan,
maka produk rusak yang terjadi dibebankan kepada pesanan ini.

• Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan memproduksi


1.100 satuan produk A dengan biaya produksi sebagai berikut :
Biaya bahan baku Rp. 75.000, Biaya tenaga kerja langsung Rp.
175.000 dan biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar tarif
sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung.

• Pada saat pesanan tersebut selesai dikerjakan, ternyata terdapat


100 satuan produk yang rusak, yang secara ekonomis tidak
dapat diperbaiki. Produk rusak tersebut diperkiakan laku dijual
Rp. 350 per satuan.
• Diminta :
(1) jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk
mengolah pesanan produk A
(2) jurnal untuk mencatat produk rusak dan kerugiannya,
(3) jurnal untuk mencatat produk jadi yang baik.
• PT ELIONA SARI berproduksi atas dasar pesanan. Karena produk rusak
merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pengolahan produk,
maka kerugian karena adanya produk rusak sudah diperhitungkan
dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik pada awal tahun. tarif
biaya overhead pabrik adalah sebesar 160% dari biaya tenaga kerja
langsung.
• Pada bulan januari 2013, perusahaan menerima pesanan produk B
sebanyak 2.000 kg. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk
mengerjakan pesanan tersebut adalah : Biaya Bahan Baku Rp. 100.000,
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 250.000 dan Biaya Overhead Pabrik
160% dari biaya tenaga kerja langsung. Setelah pesanan ini selesai
diproduksi ternyata ada 2.300 kg produk selesai yang dihasilkan
terdapat 300kg produk rusak, yang diperkirakan masih dapat laku
dijual Rp. 200 per kg.
• Diminta (1) jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah
pesanan produk B, (2) jurnal untuk mencatat produk rusak dan
kerugiannya, (3) jurnal untuk mencatat produk jadi yang baik.
CONTOH SOAL
UNTUK PRODUK CACAT
• PT RIMENDI menerima pesanan 100 satuan produk X.
Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengolah
produk tersebut adalah : Biaya Bahan Baku Rp. 40.000,
Biaya Tenaga Kerja Langsung 25.000 dan Biaya
Overhead Pabrik dibebankan atas dasar tarif sebesar
200% dari biaya tenaga kerja langsung.
• Setelah pengolahan 100 satuan produk X tersebut
selesai, ternyata terdapat 10 satuan produk cacat yang
secara ekonomis masih dapat diperbaiki lagi.
• Biaya-biaya pengerjaan kembali 10 satuan produk cacat
tersebut terdiri dari Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp.
5.000 dan Biaya Overhead Pabrik pada tarif yang biasa
dipakai.
• Diminta : Jurnal pencatatan produksi pesanan tersebut
dan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut
• DALAM proses produksi PT ELIONIA selalu terjadi produk
cacat, yang secara ekonomis masih dapat diperbaiki dengan
cara mengeluarkan biaya pengerjaan kembali.
• PT ELIONIA dalam periode anggaran tersebut menerima
pesanan pembuatan 500 satuan produk Y. biaya produksi
yang dikeluarkan untuk mengolah produk tersebut adalah :
Biaya Bahan Baku Rp. 100.000, Biaya Tenaga Kerja Langsung
Rp. 125.000. Tarif biaya overhead pabrik ditentukan sebesar
150% dari biaya tenaga kerja langsung.
• Setelah pengolahan 500 satuan produk Y tersebut selesai,
ternyata terdapat 50 satuan produk cacat. Biaya pengerjaan
kembali 50 satuan produk cacat tersebut terdiri dari Biaya
tenaga Kerja Langsung Rp. 10.000 dan Biaya Overhead Pabrik
pada tarif yang dipakai.
• Diminta : Jurnal pencatatan biaya produksi pesanan tersebut
dan biaya pengerjaan kembali cacat
CONTOH SOAL
UNTUK
BIAYA TENAGA KERJA
PT ABC mempekerjakan 5 orang karyawan yaitu : Badu, Susi, Irma,
Bunga dan Sandi. Berdasarkan kartu hadir minggu ke- 2 bulan April
2015, bagian penggajian, membuat daftar gaji dan upah untuk periode
yang bersangkutan. Upah per jam untuk Badu adalah Rp. 10.000,- Susi
Rp. 8.000,- Irma Rp. 5.000,- Bunga 17.000,- dan Sandi Rp. 15.000,-
Menurut kartu jam kerja, penggunaan jam hadir masing-masing
karyawan tersebut adalah sebagai berikut :
Penggunaan Waktu Kerja Badu Susi Irma Bunga Sandi
Untuk pesanan # 100 25 Jam 15 Jam 15 Jam 15 jam 20 jam
Untuk pesanan # 125 15 Jam 15 Jam 10 Jam 15 jam 10 jam
Untuk pesanan # 135 15 Jam 15 Jam 10 Jam 15 jam 10 jam
Untuk menunggu persiapan pekerjaan 10 Jam 5 Jam 5 jam 10 jam

Jika PPh karyawan ditetapkan sebesar 15%, hitung masing-


masing upah bersih yang diterima karyawan dan buatlah jurnal-
jurnal yang diperlukan!