Anda di halaman 1dari 72

Bidang Kaderisasi DPP

Bab 2
Pengantar Umum
Manhaj Tarbiyah 1433 H

MANHAJ TARBIYAH 1433 H
Perubahan Menjadi
Manhaj Tarbiyah 1433 H

 Manhaj Tarbiyah perlu senantiasa dilakukan revisi
agar dapat menyesuaikan perkembangan dakwah
dan menyelesaikan problematika penerapan MT
1427 H selama 6 (enam) tahun.
 Oleh karena itu, disusunlah Manhaj Tarbiyah 1433 H
yang merupakan revisi dari MT 1427 H.
 Penamaan Manhaj Tarbiyah 1433 H juga merupakan
hal yang lazim dalam merubah kurikulum dengan
mencantumkan tahun dilakukannya perubahan
tersebut.
Perubahan Menjadi
Manhaj Tarbiyah 1433 H

Hal ini juga dimaksudkan agar jelas manhaj
tarbiyah yang mana yang digunakan dalam
mentarbiyah para mutarabbi
Jadi yang berlaku adalah MT 1433 H;
sedangkan buku Manhaj Tarbiyah 1427 H
sudah tidak digunakan lagi
Perubahan Menjadi
Manhaj Tarbiyah 1433 H

 MT 1433 H telah merevisi 7 (tujuh) bab yang
merupakan bab-bab utama dalam manhaj tarbiyah
NO BAB PERUBAHAN
1 Bab 2 Pengantar Umum  Menambahkan penjelasan tentang
Manhaj Tarbiyah 1433 H perubahan menjadi Manhaj Tarbiyah
1433 H
 Menjelaskan hak katas buku manhaj
2 Bab 3 Karakteristik Melengkapi penjelasan gambar disain
Manhaj Tarbiyah 1433 H struktur Manhaj Tarbiyah 1433 H
3 Bab 8 Pelaksana Tarbiyah Tambahan: Musyrif
4 Bab 9 Pengelola Tarbiyah Tambahan penjelasan tentang SPU
(Struktur Pengelola Usrah)
Perubahan Menjadi
Manhaj Tarbiyah 1433 H
NO BAB
 PERUBAHAN
5 Bab 10 Proses  Merevisi tabel tentang Pelaksana dan Bidang Studi
Tarbiyah  Menambah sarana tarbiyah dengan sarana nadwah,
kalimat murabbi dan kultum
 Menghapus sarana tarbiyah kajian intensif
 Menjelaskan tentang sesi, Majmu’ah Rasail,
muwashafat, dan taqwim
 Menghapus istilah primer (p) dan sekunder (s) dari
muwashafat
 Memformat ulang materi-materi di semua
marhalah
6 Bab 12 Sarana  Merivisi penjelasan tentang Ta’lim Tarbawi
Tarbiyah  Menegaskan bahwa liqa’ usrah adalah rutin setiap
pekan
 Merevisi baramij halaqah dan usrah
 Menambahkan penjelasan tentang nadwah
7 Bab 21 Taqwim Dihapus. Penjelasan singkatnya ada di Bab 10
Hak Atas Buku Manhaj

 Sebagai tambahan, Manhaj Tarbiyah 1433 H akan disusun
berdasarkan marhalah.
 Peserta tarbiyah di suatu marhalah berhak memiliki buku
manhaj tarbiyah di marhalahnya dan marhalah di
bawahnya, kecuali tamhidi:
 Edisi lengkap akan diperuntukkan bagi yang ada di
marhalah Amil.
 Muntazhim mendapatkan edisi yang berisi marhalah
muntazhim sampai tamhidi
 Muntasib mendapatkan edisi yang berisi marhalah
muntasib sampai tamhidi
 Muayyid mendapatkan edisi yang berisi marhalah muayyid
sampai tamhidi
 Tamhidi tidak diberikan hak memegang buku manhaj
tarbiyah
DESAIN STRUKTUR
MANHAJ TARBIYAH 1433
Desain Per
Segmen objek
dakwah

41 TUJUAN UMUM STRATEGIS


SDM

ADM

21 Kader 10 Kader
MARHALAH TARBAWIYAH

Tamhidi

Muwashafat Marhalah Amal

Kader Rabbani
7 struktur 6 Keluarga
Muayyid

ARKAN BAIAH
7 masyarakat 7 Irsyadul
Manajemen Muntasib
Musjtama’
Tarbiyah Muntazhim 3 non muslim
Hukumah
Amil Islamiyah
LINGKUNGAN
PENDUKUNG

3 memusuhi
INSTITUSI

Ustadziyatul
SOSIAL

Mutakhasis Islam Alam

Desain khusus
peningkatan skill
dan kapasitas
PELAKSANA
TARBIYAH

1. Murabbi
2. Naqib
3. Mudarrib (Trainer)
4. Muwajjih
5. Mu’allim
6. MUSYRIF
 Musyrif adalah pelaksana penerapan manhaj tarbiyah
untuk pencapaian hafalan al-Qur’an, baik hafalan Al-
Qur’an sesuai marhalahnya maupun hafalan Al-Qur’an 30
juz.
 Musyrif bertanggung jawab dalam pelaksanaan
Mukhayyam Al-Qur’an (MQ): sebelum (seleksi peserta),
saat pelaksanaan (menerima setoran hafalan) dan
pemantauan hafalan peserta pasca MQ
STRUKTUR PENGELOLA
USRAH (SPU)

1. Definisi
2. Klasifikasi
3. Tujuan
4. Tugas
5. Wewenang
6. Hak
7. Pengurus
8. Pola Hubungan
Definisi SPU

Struktur Pengelola Usrah (SPU) adalah
salah satu tingkatan jamaah yang secara
harian bertanggung jawab pada
pengelolaan usrah dan kader inti.
SPU adalah pelaksana pertemuan struktural
nuqaba.
SPU menjadi ujung tombak keberhasilan
implementasi manhaj dan pemberdayaan
usrah dan naqib serta pencapaian sasaran
tarbiyah.
Klasifikasi SPU

 Berdasarkan jenjang usrahnya, SPU bisa
dikelompokkan menjadi
1. SPU Amil
2. SPU Muntazhim
3. SPU Muntasib
 SPU diklasifikasikan juga berdasarkan jumlah usrah
yang ada di suatu elemen tarbiyah: ada elemen
tarbiyah yang kurus (sedikit jumlah usrahnya) dan
ada yang gemuk (jumlah usrahnya besar); sehingga
klasifikasinya adalah sebagai berikut:
1. Klasifikasi A (kurus)
2. Klasifikasi B (gemuk)
Klasifikasi SPU

KLASIFIKASI A (KURUS) adalah
usar yang dikelola secara langsung oleh
Elemen Tarbiyah
dengan jumlah usar yang dikelola 3 – 7
usar pada masing-masing marhalah.
Pengelolaan usar pada tipe ini dilakukan
jika seluruh elemen struktur memiliki
daya dukung untuk mengelola usar.
Klasifikasi SPU

 KLASIFIKASI B (GEMUK) adalah
 usar yang dikelola oleh beberapa pengelola
(beberapa SPU) yang dibentuk oleh Elemen
Tarbiyah
 dengan jumlah usar 3 – 7 usar pada masing-masing
marhalah.
 Pengelolaan usar pada tipe ini dilakukan jika struktur
di bawahnya belum memiliki daya dukung untuk
mengelola usar
 Dalam pengelolaannya, struktur (SPU) ini
bertanggung jawab kepada Elemen Tarbiyah yang
membentuknya
Tujuan SPU

1. Intensitas mutabaah terhadap proses tarbiyah,
sehingga segera dilakukan tindakan koreksi
terhadap proses tarbiyah yang tidak standar.
2. Melakukan pendeteksian dini terhadap gejala
penyimpangan, baik fikri, tarbawi, tandzimi
maupun yang lainnya, sehingga dapat segera
dilakukan langkah-langkkah ‘ilaj yang tepat
sasaran.
3. Pemerataan dan pengokohan peran partisipatif
kader (organisasi, kaderisasi, sosial, politik dll),
sehingga semua potensi kader dapat diberdayakan
secara konstruktif bagi kepentingan da’wah.
Tujuan SPU

5. Memacu pertumbuhan dan perluasan da’wah, baik
secara vertical maupun horizontal, sehingga tidak
ada lagi medan da’wah yang lepas dari
sentuhannya.
6. Peningkatan kinerja tarbiyah, sehingga seluruh
struktur berlomba dalam mencapai prestasi terbaik.
7. Semua kader terdata secara akurat, baik potensi
maupun sebarannya, sehingga struktur da’wah bisa
membuat perencanaan dengan tepat
Tugas SPU

1. Mengelola aktivitas tarbiyah, yaitu merencanakan,
mengorganisasi, dan memutabaah tarbiyah sesuai
ruang lingkup yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Melakukan rapat koordinasi (liqo/majlis nuqaba,
liqo amin) dan evaluasi secara rutin
3. Membuat dan memperbarui database kader.
4. Menyusun peta sebaran kader, baik sebaran vertical
maupun horizontal. Intensif memutabaah proses
tarbiyah, sehingga segera dilakukan tindakan
koreksi terhadap proses tarbiyah yang tidak
standar.
Tugas SPU

5. Menyusun peta potensi tarbiyah, yaitu mengkalkulasi
kekuatan personil dan kekuatan-kekuatan lain (baik
internal maupun eksternal) yang berpotensi untuk
pencapaian tujuan tarbiyah.
6. Melakukan supervisi terhadap usar.
7. Menyampaikan laporan secara berkala tentang evaluasi
perjalanan usar.
8. Melakukan mutabaah secara intensif kepada nuqaba
tentang kewajibannya dalam menyampaikan laporan
perjalanan usrah secara periodic.
9. Menjadi ujung tombak keberhasilan implementasi
manhaj dan pemberdayaan usrah dan naqib serta
pencapaian sasaran pembinaan kader
Wewenang SPU

1. SPU melakukan pengelolaan usrah dalam aspek
administratif dan aspek penerapan manhaj.
2. Bersama dengan nuqaba mengusulkan
pembentukan atau perubahan komposisi usroh
(muntasib atau muntazhim) dan naqibnya, untuk
mendapat persetujuan ETD. Sedang untuk usar
amil, proses persetujuannya disampaikan kepada
ETW.
3. Menyelesaikan berbagai persoalan kader bersama
para nuqaba’
Hak SPU

1. Mendapatkan supervisi dari Elemen
Tarbiyah yang membentuknya
2. Mendapatkan pelatihan tentang hal-
hal berkaitan dengan tugas dan
wewenangnya
3. Mendapatkan support dana untuk
pelaksanaan tugas dan wewenangnya
Pengurus SPU

Koordinator
Sekretaris
staf
Koordinator SPU
1.

Berwibawa dikalangan nuqaba usar yang akan dikelola
2. Memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan.
3. Marhalah keanggotaan minimal satu tingkat diatas usar yang dikelolanya.
4. Pernah atau sedang menjadi naqib usrah pada marhalah yang dikelolanya
5. Diutamakan yang pernah memasukkan binaannya kedalam jamaah
6. Sehat secara tanzhimi, tarbawi (fikri, ruhi, jasadi), suluki dan ijtima’i
7. Menguasai buku Manhaj Tarbiyah 1433 H
8. Menguasai landasan operasional tarbiyah:
1) Pedoman atau surat keputusan yang terkait
2) Tupoksi Elemen Tarbiyah
3) Risalah ta’alim
4) 10 wasiat
5) Muktamar Khomis
6) Nizhamul usroh
7) P3UN
8) Juklak/juknis terkait
9) Visi Peradaban Ikhwan
Sekretaris SPU

1. Memiliki marhalah keanggotaan minimal sama dengan usar
yang dikelolanya,
2. Sehat secara tandzimi, tarbawi (fikri, ruhi, jasadi), suluki dan
ijtima’i,
3. Diutamakan pernah atau sedang menjadi naqib usrah pada
marhalah yang dikelolanya,
4. Diutamakan yang pernah memasukkan binaannya kedalam
jamaah,
5. Mampu memformulasikan ide-ide yang muncul dalam Liqo
Nuqaba
6. Rapi dalam menulis, mengarsipkan data, dan membuat laporan.
7. Memiliki hissul amni dan wa’yu tandzimi
8. Menguasai program komputer yang dibutuhkan
Staf SPU
(Sesuai Keperluan)

1. Memiliki marhalah keanggotaan minimal sama
dengan usar yang dikelolanya,
2. Sehat secara tandzimi, tarbawi (fikri, ruhi, jasadi),
suluki dan ijtima’i,
3. Diutamakan pernah atau sedang menjadi naqib
usrah pada marhalah yang dikelolanya,
4. Diutamakan yang pernah memasukkan binaannya
kedalam jamaah,
5. Memiliki kafaah yang sesuai dan mendukung
pelaksanaan amanahnya
Pola Hubungan SPU

1. SPU Muntasib, dengan stelsel struktur jamaah yang ketua,
sekretaris, bendahara, dan elemen tarbiyahnya berstatus
muntazhim.
2. SPU Muntazhim, dengan stelsel struktur jamaah yang ketua,
sekretaris, bendahara, dan elemen tarbiyahnya berstatus amil.
3. SPU Amil, dengan stelsel struktur jamaah yang ketua, sekretaris,
bendahara, dan elemen tarbiyahnya berstatus amil.
4. Dalam keadaan stelsel struktur setempat sebagaimana dimaksud
point (1) sampai (3) tidak terpenuhi, maka pola hubungan
tarbiyahnya dilakukan dengan elemen tarbiyah yang
membentuknya.
5. Jika usar dikelola oleh stelsel struktur yang lebih tinggi, maka
setiap anggota usrah tetap harus memiliki keterikatan,
keterlibatan dan peran partisipatif terhadap struktur di
bawahnya, di mana ia berdomisili
Bab 10
PROSES TARBIYAH

MANHAJ TARBIYAH 1433 H
Kode Nama Bidang Studi Tamhidi Muayyid Muntasib Muntazhim Amil TOTAL
1 Al-Qur'an 37 46 8 34 21 146

Bidang Studi
2 Ulumul Qur'an - - 15 6 - 21
3 Aqidah 36 15 12 7 2 72
4 Istilah Aqidah - - - - 3 3
5 Hadits 1 14 22 11 26 74

(Jumlah Sesi)
6 Mushthalah Hadits - - 1 12 - 13
Sejarah
7 - - - 14 -


Perkembangan Hadits 14
8 Fiqih 6 13 20 - 7 46
9 Tarikh Tasyri' - - - - 6 6
10 Ushul Fiqih - - - - 5 5
11 Sirah 5 11 20 10 - 46
12 Kisah Sahabat 8 - - - - 8
13 Tazkiyah 25 21 14 20 9 89
14 Kisah Nabi 1 6 6 - - 13
15 Tokoh Islam - 11 - - - 11
16 Kaifa Ihtadaitu 6 - - - - 6
17 Tarikh - - - 13 4 17
Manusia dan
18 1 - - - -
Kebenaran 1
19 Pengembangan Diri - - 8 5 3 16
20 Rumah Tangga Muslim - 7 10 4 - 21
21 Fiqih Dakwah - 54 25 59 36 174
22 Fikrul Islami 7 9 15 5 - 36
23 Gerakan Pembaharu - - 11 - - 11
24 Masyarakat Muslim - - 4 3 15 22
Dunia Islam
25 - - 4 - -
Kontemporer 4
26 Palestina - - - - 6 6
27 Syariah dan Per -UU - - - - 6 6
28 Bank Islam - - - - 8 8
29 Ekonomi Islam - - - - 10 10
30 Kekuatan Penentang - - - - 16 16
31 Kesehatan - - 3 - - 3
32 Bahasa Arab - 10 11 10 10 41
33 Keakhwatan 6 1 4 2 - 13
Jumlah 139 218 213 215 193 978
5 Bidang Studi yang
Dominan

1. Tamhidi : Al-Qur’an, Aqidah, Tazkiyah, Kisah
Sahabat, dan Fikrul Islami
2. Muayyid : Fiqih Dakwah, Al-Qur’an, Tazkiyah,
Aqidah dan Hadits
3. Muntasib: Fiqih Dakwah, Hadits, Sirah, Fiqih dan
Ulumul Qur’an
4. Muntazhim: Fiqih Dakwah, Al-Qur’an, Tazkiyah,
Sejarah Perkembangan Hadits dan Tarikh
5. Amil : Hadits, Fiqih Dakwah, Al-Qur’an,
Kekuatan Penentang dan Masyarakat Muslim
Ulum Marhalah

 Ulum marhalah adalah bidang studi pada setiap marhalah
yang disampaikan kepada peserta tarbiyah. Setiap marhalah
akan mendapatkan bidang studi yang tidak sama dengan
marhalah lain. Setiap marhalah tarbiyah juga mendapatkan
porsi waktu dan beban belajar yang berbeda-beda.
 Untuk menyeimbangkan masa waktu marhalah dengan jumlah
materi yang harus diberikan, maka Manhaj Tarbiyah 1433 H
menetapkan prioritas materi yang harus lebih dahulu
disampaikan dari pada yang lain untuk setiap bidang studi.
Namun materi dengan prioritas kedua tidak boleh diremehkan
apalagi dihilangkan. Materi prioritas kedua harus tetap
disampaikan ketika materi prioritas pertama telah disampaikan
semua sedangkan definisi marhalah, karakternya, tujuan dan
muwashafatnya belum terwujud pada peserta tarbiyah
Sesi

 Sesi adalah durasi penyampaian materi tarbiyah.
 Satu sesi setara dengan 45 – 60 menit.
 Satu sesi di halaqah/usrah atau mabit/JR setara
dengan satu pertemuan halaqah/usrah atau
mabit/JR.
 Sedangkan untuk tatsqif, daurah dan nadwah dapat
lebih dari satu sesi untuk setiap pertemuannya.
 Yang berbeda adalah Kalimat Murabbi dan Kultum,
karena satu sesinya setara dengan 7 – 10 menit.
Sesi

 Satu tahun terdiri atas 52 minggu. Waktu efektif untuk
penyampaian materi sekitar 46 minggu.
 Sarana tarbiyah yang lain:
1. Bulanan: mabit dan/atau tatsqif (jika tatsqif dilakukan
bulanan, maka cukup 1 sesi); setahun 10 sesi
2. Dua-bulanan: tatsqif (harus berisi 2 sesi sehingga setahun
10 sesi)
3. Tiga-bulanan: nadwah (2 sesi, setahun 4 kali atau 8 sesi)
4. Empat-bulanan: daurah (2 sesi, setahun 3 kali atau 6 sesi)
karena 4 minggu pertemuan tetap ada tetapi agendanya
lebih banyak untuk ansyithoh Ramadhan, dan 2 minggu
untuk lebaran Idul Fithri
Jumlah Sesi

 Materi sudah ditentukan banyak sesi selama tarbiyah di marhalah
tertentu (umur marhalah)
 Pengelompokan materi berdasarkan prioritas dihitung berdasarkan
jumlah sesi yang seharusnya ada selama umur marhalah standar
Umur Hlq/ Usrah Tatsqif Mabit Daurah Nadwah
No Marhalah
Marhalah (Sesi) (Sesi) (Sesi) (Sesi) (Sesi)
1
1 Tamhidi 1 46 10 6 0
0
2
2 Muayyid 2 92 20 12 0
0
2
3 Muntasib 2 92 0 12 16
0
3
4 Muntazhim 3 138 0 18 24
0
3
5 Amilin 3 138 0 18 24
0
6 Takhashush -
Perubahan Kode

 Karena pada MT1427 H jumlah sesi setiap marhalah tidak
standar, maka pengelompokan materi berdasarkan
prioritas menjadi tidak standar
 Karena itu di MT1433H dilakukan standarisasi jumlah
sesinya
 Di samping itu, ada materi-materi baru dan penambahan
sarana tarbiyah (kultum, kalimat murabbi, nadwah)
 Konsekuensinya:
 Penataan kembali materi-materi
 Perubahan kode materi
Pembagian MR

 Majmu’ah Rasa’il Imam Al-Banna (MR) adalah materi
tarbiyah yang sangat penting, sehingga harus masuk
semua kedalam kurikulum tarbiyah.
 MR mulai diberikan pada marhalah Muayyid dan
seterusnya.
 Jumlah seluruh risalah sebagaimana dalam buku Min
Turatsil Imam Al-Banna, Kitab 15: Majmu’ah Rasa’il lil Imam
Al-Banna (edisi 1) ada 23 (dua puluh tiga) risalah.
 Risalah yang pertama ditulis oleh Imam Al-Banna pada
26 Muharram 1353H (11 Mei 1934M) adalah Ilaa Ayyi
Sya’in Nad’un Naas, sedangkan yang terakhir ditulis
adalah Qadhiyyatunaa (ditulis pada Januari 1949)
Pembagian MR

Pembagian Bab dari Buku Fiqih
Dakwah (Musthafa Masyhur)

 Sesuai arahan Naib Mursyid Am, Mahmud Izzat, buku Fiqih
Dakwah (Musthafa Masyhur) termasuk buku utama yang harus
masuk dalam Manhaj
 Karena itu, pada MT1433H beberapa bab dimasukkan kedalam
kurikulum
NO MARHALAH JUDUL BAB JUMLAH
1 Muayyid Qadhaya Asasiyah dalam Dakwah (Bab V)
2 Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam (Bab II) 3
3 Al-Qiyadah wal Jundiyah (Bab VII)
4 Muntasib Jalan Dakwah (Bab I)
5 Dakwah Fardiyah (Bab IV) 3
6 Ikhwanul Muslimin Menjawab Gugatan (Bab)
7 Muntazhim Bekal Dakwah (Bab IX)
8 Rabbaniyah dan Materialisme (Bab XIII) 4
9 Keteladanan di Jalan Dakwah (Bab XV)
10 Jihad adalah Satu-satunya Jalan (Bab XVI)
Muwashafat

 Muwashofat adalah kriteria yang harus dimiliki oleh peserta
tarbiyah pada marhalahnya.
 Muwashofat tidak lagi dikelompokkan kedalam primer dan
sekunder seperti sebelumnya.
 Setiap muwashofat dinilai dan diisi di dalam lembar penilaian
dengan angka dari 0 (E) sampai 4 (A).
 A-Konsisten (Consistently), muwashafat terlihat dan timbul
dari motivasi dirinya, selalu muncul dan otomatis.
 B-Terbiasa (Usually), muwashafat terlihat dan timbul dari
motivasi dirinya, sudah sering munculnya dengan ada atau
tidaknya lingkungan yang mendukung.
 C-Berkembang (Developing Skills), muwashafat terlihat ketika
ada lingkungan yang mendukung dan sesekali muncul di saat
tidak ada lingkungan yang mendukung.
 D-Perlu bantuan (Support Required), muwashafat terlihat
setelah ada lingkungan yang mendukung.
 E-Belum terlihat (Not Applicable), muwashafat belum terlihat
Muwashafat

 Setiap muwashofat memiliki nilai minimum yang
beragam. Pada Form Laporan Hasil Taqwim Reguler nilai
minimum yang harus dicapai untuk setiap muwashofat
ditandai dengan warna putih di dekat kolom yang berwarna
abu-abu (tidak dibolehkan nilainya berada di dalam sel
yang berwarna abu-abu).
 Muwashofat dapat dicapai dengan talaqqi maddah sesuai
dengan sarananya. Akan tetapi, mungkin tidak semua
muwashofat memiliki korelasi dengan materi yang ada,
sehingga harus dicapai dengan cara lain, terutama
dengan tarbiyah ‘amaliyah. Bahkan tarbiyah ‘amaliyah
inilah yang seharusnya dominan dalam tarbiyah
dibanding dengan tarbiyah nazhariyah (teoritis).
Taqwim

 Pengertian
 Kapan Taqwim Dilakukan?
 Karakteristik Taqwim yang Baik
 Adawatul Qiyas
 Qiyas
 Taqyim
 Daurah Istikmaliyah

Secara operasional, taqwim itu


merujuk ke Risalah Taqwim 1432 H
PengertianTaqwim

 Taqwim
 tidak sekedar memberikan penilaian dan melakukan
perbandingan,
 tetapi juga harus menganalisa semuanya untuk
menentukan
 titik kelemahan mutarabbi,
 sebab-sebabnya
 dan melakukan ‘ilaj terhadap kelemahan ini;
 dan untuk menentukan titik kekuatannya lalu
melakukan pengembangan atau peningkatannya
Kapan Taqwim
Dilakukan?

Taqwim dapat dilakukan di waktu yang
berbeda-beda dilihat dari masa interaksi
dengan manhaj.
Dari sini taqwim dapat kita bagi menjadi:
1. Taqwim Mabda-i
2. Taqwim Takwini
3. Taqwim Khitami
4. Taqwim Tatabbu’i
Taqwim Mabda-i

 Dilakukan sebelum dimulainya penerapan manhaj atas
mutarabbi.
 Taqwim ini membantu dalam hal:
1. Menentukan kondisi awal mutarabbi dalam memulai
berinteraksi dengan manhaj. Dengan demikian murabbi
dapat mengetahui bagaimana ia menerapkan manhaj
kepada mutarabbi secara umum dan kepada masing-
masing mereka secara khusus karena perbedaan kondisi
mereka yang masih berada di tingkat dasar, atau
menengah atau sudah cukup maju.
2. Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam penerapan
manhaj berupa perangkat-perangkatnya. Secara umum
taqwim mabda-i amat penting dalam sistem tarbiyah yang
bertahap.
Taqwim Takwini

 Dilakukan dalam beberapa kesempatan selama
penerapan manhaj dengan maksud memperoleh
informasi yang dapat membantu evaluasi proses
tarbiyah, dan mengembalikan arah pengembangan
tarbiyah sehingga mempengaruhi hasil akhir seperti
yang diinginkan.
 Ini amat penting untuk terus menerus melakukan
perbaikan dan pengembangan secara terencana.
Taqwim Khitami

 Dilakukan di akhir proses interaksi dengan manhaj
atau program dengan tujuan melakukan follow up
berupa taqwim tatabbu’i
Taqwim Tatabbu’i

 Peran manhaj tidak berhenti sebatas meluluskan
mutarabbi saja (dari marhalah tertentu), tetapi
pengaruhnya akan terus berlangsung kepada proses
tarbiyah selanjutnya, efektifitas amalnya, dan
interaksinya dalam berbagai aktivitas kehidupan
dan problem solving secara umum.
 Taqwim yang dilakukan dengan terus menerus
memutabaah mutarabbi setelah ia menyelesaikan
marhalah tertentu akan memberikan informasi
terhadap semua hal tersebut
Karakteristik Taqwim
yang Baik

1. Jujur (objektif)
 Sesuai antara taqwim dengan ahdaf, dimana ahdaf
menjadi titik awal program taqwim dan menjadi
pengarah langkah-langkahnya.
 Dapat dipastikan bahwa sarana dan alat ukurnya
benar-benar digunakan dan tersedianya argumentasi
ilmiah dalam pengukurannya.
2. Tawazun
 Program taqwim harus diarahkan kepada mutarabbi di
satu sisi dan juga kepada manhaj dan proses tarbiyahnya di
sisi lain secara seimbang.
3. Syumul
Adawatul Qiyas

 Taqwim dilakukan menggunakan adawat al-qiyas (alat
ukur) berupa kumpulan pertanyaan (dalam ziarah
tahqiq—kunjungan investigative—, diskusi, bedah buku
atau seminar ) atau tugas yang berkaitan dengan keahlian
tertentu di mana mutarabbi dituntut untuk menjawab
atau meresponnya.
 Dan dengan menganalisis jawaban/respon ini kita akan
memperoleh ukuran nilai berupa angka dari pemahaman
atau kinerja mutarabbi dalam aspek tertentu.
 Alat ukur ini mencakup ikhtibarat (ujian), form
mulahazhah (pemantauan), form taqdir (penilaian) hasil
taqwim regular/irreguler
Qiyas

 Qiyas (pengukuran) adalah kegiatan yang dilakukan
untuk menentukan kadar kinerja mutarabbi dalam
aspek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang
sesuai.
 Pengukuran ini diwakili oleh nilai kuantitatif, tetapi
nilai ini (misalnya 3 dari 4) belum menunjukkan
keberhasilan atau tidaknya seseorang, juga belum
menunjukkan kemajuan atau kemundurannya
Taqyim

 Adalah kegiatan yang digunakan untuk menentukan tingkat
yang diraih oleh mutarabbi melalui alat ukur yang digunakan.
 Yaitu menentukan posisi tingkat pencapaian mutarabbi
dibandingkan dengan ahdaf yang ditetapkan, atau
dibandingkan dengan rekan-rekannya, atau melalui
perbandingan pencapaiannya sekarang dengan pencapaian
sebelumnya, atau pencapaiannya dibanding pencapaian rata-
rata di kelasnya (rata-rata nilai dari mutarabbi yang lain).
 Semuanya diukur dalam aspek tertentu.
 Artinya memberikan keputusan atas nilai mutarabbi
berdasarkan ukuran-ukuran tersebut (ahdaf, pencapaian yang
lalu, rata-rata nilai mutarabbi yang lain di halaqah)
Daurah Istikmaliyah

 Kadang terjadi seorang muqawwam sudah
memenuhi muwashafat tetapi ulum marhalahnya
belum memenuhi.
 Oleh karena itu, perlu diadakan daurah untuk
tujuan ini.
 Daurah seperti itu disebut dengan Daurah
Istikmaliyah atau Daurah Intensif
SARANA UTAMA PENERAPAN
MANHAJ

1. Halaqah dan usrah. Untuk marhalah tamhidi juga
dimungkinkan melakukan tarbiyah melalui sarana:
 Tarbiyah Fardiyah
 Ta’lim Tarbawi
2. Penugasan
3. Mabit, Jalsah Ruhiyah & Lailatul Katibah
4. Tarbiyah Tsaqafiyah
5. Daurah
6. Nadwah
7. Kalimat Murabbi/Naqib
8. Kultum
TA’LIM TARBAWI

 Ta’lim tarbawi adalah
1. pengembangan sarana tarbiyah
2. dalam rangka mencapai muwashafat tarbiyah
3. melalui berbagai program dan ketentuannya
4. dengan jumlah peserta yang banyak
5. dibina oleh murabbi minimal muntasib yang telah
mengikuti daurah i’dad murabbi ta’lim tarbawi
6. disahkan oleh SPU Madya yang ada di atasnya
 Ta'lim tarbawi bukanlah majlis ta'lim
Pelaksana Ta’lim Tarbawi

 Pelaksana ta’lim tarbawi disebut murabbi. Murabbi pada
ta’lim tarbawi ini adalah kader yang memenuhi syarat
sebagai berikut:
1. Minimal muntasib.
2. Telah mengikuti daurah i'dad murabbi ta'lim tarbawi.
3. Menguasai manhaj tarbiyah marhalah tamhidi.
4. Memiliki loyalitas dan kesetiaan pada gerakan dakwah.
5. Memiliki kemampuan dalam menyampaikan dan
mengembangkan materi dalam kelompok besar.
6. Mendapat rekomendasi dari murabbinya, atau usrahnya
atau ditugaskan oleh struktur gerakan dakwah.
 Murabbi bertugas untuk mengelola ta’lim tarbawi, dan
secara tetap menyampaikan mawad tarbiyah marhalah
tamhidi kepada peserta. Dalam melaksanakan tugasnya
murabbi dibantu oleh seorang asisten.
Asisten

 Asisten adalah seseorang yang diamanahkan untuk
membantu murabbi dalam mengelola ta’lim tarbawi.
 Asisten pada ta’lim tarbawi ini adalah kader yang
memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Minimal muayyid.
2. Telah mengikuti daurah idari ta’lim tarbawi
3. Menguasai mawad tarbiyah marhalah tamhidi.
4. Memiliki loyalitas dan kesetiaan pada gerakan
dakwah.
5. Mendapat rekomendasi dari murabbi atau naqibnya
atau ditugaskan oleh struktur gerakan dakwah.
Tugas Asisten

 Tugas pokok asisten ta’lim tarbawi adalah:
1. Menyiapkan sarana penyelenggaraan ta’lim
tarbawi
2. Bertanggung jawab mengelola administrasi
ta’lim tarbawi.
3. Menggantikan tugas atau mencari pengganti
ketika murabbi tidak dapat menyampaikan
madah tarbiyah.
4. Menjadi fasilitator saat berlangsungnya proses ta’lim
tarbawi
Muatan

Muatan ta’lim tarbawi sepenuhnya mengacu
pada kurikulum tarbiyah marhalah tamhidi.
Dimungkinkan untuk melakukan
pengembangan dan modifikasi pada muatan
ta’lim tarbawi dalam rangka mengefektifkan
proses pencapaian muwashafat marhalah
tamhidi
Mekanisme

 Kegiatan ta’lim tarbawi dilaksanakan dengan mekanisme
sebagai berikut:
1. Ta’lim tarbawi dilaksanakan dengan frekuensi sepekan
sekali.
2. Bila tidak memungkinkan untuk dilaksanakan
sebagaimana point 1, kegiatan ta’lim tarbawi dapat
dilaksanakan dua pekan sekali, dengan konsekuensi proses
pencapaian muwashafat dan masa tarbiyah relatif menjadi
lebih lama.
3. Peserta dikelompokkan berdasarkan kesamaan jenis
kelamin. Jika tidak memungkinkan, maka dapat dilakukan
penggabungan antara peserta laki-laki dan perempuan
dengan tetap memperhatikan adab islami dalam
pelaksanaannya.
Mekanisme

4. Ta’lim tarbawi dapat dibentuk melalui:
1) Hasil rekruting baru.
2) Pengalihan dari majelis ta’lim yang ada.
3) Diversifisikasi majelis ta’lim yang ada dari sisi mawad.
4) Penggabungan beberapa halaqah tamhidi yang tidak
efektif.
5. Pengelolaan dan mutabaah Ta’lim Tarbawi dilakukan
oleh usrah di mana murabbi berada.
6. Pembentukan, perubahan dan penataan ta’lim
tarbawi menjadi tanggung jawab usrah murabbi di
bawah supervisi struktur elemen tarbiyah di atasnya.
USRAH

 Usrah adalah unit terkecil gerakan dakwah sebagai
wadah aktivitas tarbawi, jama’i dan ijtima’i bagi
anggotanya.
 Menurut marhalahnya usrah dibagi menjadi usrah
muntasibin, usrah muntazhimin, usrah ‘amilin dan
usrah mutakhashishin.
 Usrah merupakan stelsel terkecil gerakan dakwah
dan berada dalam posisi paling depan dalam
mengemban amanah dakwah.
 Liqa’ Usrah (LU) di semua marhalah dilakukan
secara rutin setiap pekan
Barnamij Liqa’ Usrah

1. Iftitah Rabbani.
2. Tahfizh Al-Qur’an.
3. Berita.
4. Pembacaan Majmu’ah Rasa’il.
5. Talaqqi materi.
6. Ibda’ul Khathirah.
7. Mutaba’ah
8. Ta’limat.
9. Qadhaya dan rawa’i
10. Evaluasi
11. Ikhtitam Rabbani
Barnamij Liqa’ Usrah

1. Iftitah Rabbani.
 Naqib membuka dengan basmalah, menyampaikan
penyambutan serta menyampaikan taujih (kalimat
usrah).
 Fungsi iftitah adalah untuk tahyi'ah (memformat
keadaan) dari non-LU ke LU dan mengarahkan LU ke
VISI Jama’ah yang ingin dicapai (Visi Jama’ah: dari
ishlahul-fardi hingga ustadziyyatul ‘alam).
 Waktunya 5-10 menit. Setelah itu Naqib/ah bisa
menyerahkan kepada Rais Jalsah
2. Tahfizh Al-Qur’an. Dilakukan secara berpasangan
Barnamij Liqa’ Usrah

3. Berita.
 Cara membawakannya dengan membaca 10 berita dalam
waktu 10 menit, 5 menit berikutnya untuk anilisis politik.
 Dibawakan dengan teknik pembacaan yang menarik seperti
pembaca berita di TV.
 Diakhiri dengan rekomendasi (doa, kajian lanjutan,
optimalisasi peristiwa untuk dakwah).
4. Pembacaan Majmu’ah Rasa’il.
 Dibaca bahasa Arab dan terjemahannya dalam rangka
menguatkan fikrah.
5. Talaqqi materi.
6. Ibda’ul Khathirah.
 Naqib/ah menanyakan secara acak kepada setiap a’dha apa
hal yang sedang dipikirkan.
Barnamij Liqa’ Usrah

7. Mutaba’ah
8. Ta’limat.
 Ta’limat adalah perintah pekanan qiyadah.
 Ta’limat berasal dari struktur resmi.
 Menyampaikannya secara utuh.
 Tidak berkomentar dengan nada menolak atau melemahkan.
 Segera melakukan AKSI yang dituntut oleh ta’limat itu, bukan
sekedar diketahui saja
9. Qadhaya dan rawa’i
 Dari tiap anggota, dengan memperhatikan efektifitas waktu
penyampaiannya serta menitikberatkan pada hulul (solusi)
untuk qadhaya dan istifadah (mengambil faidah) dari rawa’i.
 Dalam menyampaikan qadhaya personal perlu diperhatikan
pula kehormatan pihak yang dibicarakan sehingga tidak
terjebak kepada ghibah atau hal-hal yang diharamkan.
Barnamij Liqa’ Usrah

10. Evaluasi
 rangkuman agenda pembicaraan serta penyampaian
program mendatang
11. Ikhtitam Rabbani.
 Bertujuan untuk mengikat hati sebelum berpisah.
 Alternatif kegiatannya:
 Doa
 Shalat sunnah (mutlak, kecuali di waktu terlarang) sendiri-
sendiri yang diakhiri dengan saling mendoakan untuk
masing-masing anggota (memohon solusi dari qadhaya
yang telah disampaikan dan program yang disepakati)
NADWAH

Nadwah adalah
pertemuan ilmiah kader dalam satu
jenjang struktur
atau mustawa tarbiyah untuk melakukan
kajian
dan analisa permasalahan dengan masing-
masing berkontribusi pemikiran dan
pandangan yang didukung dengan
argumentasi ilmiah
Sasaran Nadwah

1. Membangun tradisi ilmiah dan kontestasi gagasan
2. Membangun tradisi dialog
3. Menemukan cara yang mudah dalam memecahkan
masalah dari banyak gagasan
4. Mempromosikan kader-kader yang memiliki
spesialisasi dalam bidang keilmuan
5. Memudahkan bertemunya kader dari berbagai
wilayah di sebuah acara, sehingga mereka bisa
meningkatkan ta’aruf, tafahum, tarabuth (ikatan)
untuk maslahat dakwah
Waktu dan Frekuensi

1. Nadwah dilaksanakan tiga bulan
sekali
2. Nadwah dilaksanakan selama satu
hari dari jam 09.00 sampai jam 17.00
3. Nadwah dilaksanakan dalam dua sesi
Nadwah Kader

1. Peserta adalah kader inti sesuai jenjang keanggotaan
2. Jumlah minimal 25 orang maksimal 50 orang (jika jumlah
kader di suatu daerah tidak memenuhi jumlah minimal
perjenjang maka digabung dengan daerah/wilayah
terdekat, atau ke jenjang di bawahnya)
3. Nadwah kader Ahli dilaksanakan oleh Kaderisasi
Tingkat Wilayah
4. Nadwah Kader Dewasa dilaksanakan oleh Kaderasasi
Tingkat Daerah
5. Nadwah Kader Madya dilaksanakan oleh Kaderisasi
Tingkat Daerah/Kecamatan
Nadwah Struktur

1. Nadwah fraksi dan pejabat publik
2. Nadwah DPTP dan pengurus sampai bidang
3. Nadwah Departeman (Kluster)
4. Nadwah DPTW, pengurus dan fraksi, pejabat
publik tingkat daerah dan propinsi
5. Nadwah struktur dapat menghadirkan nara sumber
eksternal
Agenda Acara

1. Pembukaan
2. Tasmi’/tilawah (bisa menunjuk salah satu peserta)
3. Sambutan struktur
4. Nadwah tema 1
 Moderator nadwah
 Pemakalah 1,2,3 (masing-masing 5 menit)
 Diskusi peserta
 Kesimpulan / rekomendasi
5. Istirahat/sholat zhuhur
6. Nadwah tema 2
 Moderator nadwah
 Pemakalah 1,2,3 (masing-masing 5 menit)
 Diskusi peserta
 Kesimpulan / rekomnedasi
7. Istirahat/sholat Ashar
8. Ma’tsurat Kubra
9. Penutupan
Tata Tertib

1. Sebelum Acara Nadwah Berlangsung
a. Ikhlas niat untuk mengikuti acara
b. Hadir sebelum acara dimulai
c. Mengisi absen/regestrasi
d. Sudah mengkaji tema yang sudah ditetapkan sebelumnya
e. Membawa alat tulis
2. Ketika Acara Berlangsung
a. Bersemangat mengikuti acara nadwah
b. Memperhatikan adab hiwar/berdialog
c. Memperhatikan adab majlis
d. Menjaga ketertiban majlis (menonaktifkan hp)
Indikator Keberhasilan

1. Nadwah dianggap berhasil jika dihadiri oleh 80%
dari jumlah yang harus hadir
2. Peserta dianggap hadir jika datang paling lambat
sebelum sesi pertama dimulai dan mengikuti
sampai selesai
3. Berlangsung suasana diskusi yang dinamis dan
melibatkan minimal 50% peserta yang hadir
4. Ada kesimpulan dan follow up dari nadwah