Anda di halaman 1dari 12

AIRWAY & BREATHING

MANAGEMENT
TATA LAKSANA JALAN NAPAS
Tujuan Pembelajaran
Peserta diharapakan mampu memahami dan melakukan
pengelolaan jalan napas pada kegawatan
kardiopulmoner, yaitu :
1. Pemberian suplementasi oksigen
2. Pembekuaan dan pemeliharaan jalan napas atas
3. Pemberian ventilasi dasar
4. Penggunaan alat bantu napas dasar (alat bantu jalan
napas orofaringeal dan nasofarigeal)
5. Pemberian ventilasi lanjut dengan alat bantu jalan
nafas : selang trakhea, sungkup larings (LMA)
6. Penyedot jalan nafas yang tersumbat
1. Pemberian suplementasi oksigen

Pada kegawatan kardiopulmonar, pemberian oksigen


harus dilakukan secepatnya jika saturasi kurang dari
94%. Oksigen dibutuhkan dalam metabolismeaerob
untuk menghasilkan energi. Oksigen yang terdapat
dalam udara bebas sebesar 20% saja, sehingga pada
keadaan kegawatan kardiopulmonal yang
mengakibatkan hipoksemia dan hipoksia jaringan
perlu diperbaiki dengan peningkatan fraksi oksigen
dalam udara inspirasi (Fio2) dan peningkatan
tekanan oksigen dalam udara inspirasi (PO2).
Alat-Alat Pemberian Oksigen
Agar dapat memberikan oksigen kepada pasien
diperlukan peralatan dasar yaitu:
• Sumber oksigen
• Alat-alat suplementasi oksigen : kanul nasal, berbagi
macam sungkup muka.
2. Pembukaan dan Pemeliharaan Jalan Napas Atas
Pada pasien yang tidak sadar, penyebab tersering
sumbatan jalan nafas yang terjadi adalah akibat
hilangnya tonus otot-otot tenggorokan. Dalam
kasus ini, lidah jatuh ke belakang dan menyumbatan
jalan nafas pada bagian faring
Pembukaan jalan napas secara manual
Teknik dasar pembukaan jalan nafas atas
adalah dengan mengangkat kepala dan
mendorong rahang bahwa ke depan atau
disebut angkat kepala-angkat dagu (head
tilt-chin lift) . Teknik dasar ini akan efektif
bila obtruksi jalan nafas disebabkan oleh
lidah atau relaksasi otot pada jalan nafas
atas.
3. Alat Bantu Jalan Napas Atas
Posisi jalan nafas yang benar harus dijaga pada
pasien tidak sadar yang dapat bernafas secara
spontan. Pada pasien yang tidak sadar tanpa refleks
batuk dan muntah, dapat dipasang lat bantu jalan
nafas sederhana.
Alat bantu jalan napas sederhana adalah :
• Alat bantu jalan nafas orofaring (Oropharygeal
Airway/OPA)
• Alat bantu jalan nafas nasofaring (Nasopharyngeaal
Airway/NPA)
4. Pemberian Ventilasi Manual
Ventilasi dengan kantung napas-sungkup muka (bag-mask
ventilation)

alat ventilasi kantung napas-sungkup muka terdiri dari


sebuah kantung ventilasi (selalu mengembang) yang
melekat pada sebuah sungkup muka wajah dan katup satu
arah (non- rebreathing). Selain dengan sungkup muka,
kantung ventilasi bisa dihubungkan dengan alat bantu jalan
nafas lain seperti pipa trakhea, sungkup laring, dan pipa
esofagotrakhea. Peralatan ini telah menjadi suatu peralatan
utama selama beberapa decade yang digunakan untuk
ventilasi dalam keadaandarurat.
5. Pemberian Ventilasi Dengan Alat Bantu Jalan
Napas Tingkat Lanjut Intubasi Endotrakea

Hanya tenaga kesehatan berpengalaman yang boleh


melakukan intubasi endotrake.
Intubasi endotrake adalah proses memasukan pipa
endotrake ke dalam trake pasien. Bila pipa
dimasukan melalui mulut disebut intubasi orotrake,
bila melalui hidung disebut intubasi nasotrakea.
Intubasi didalam trakea ini termasuk dalam tata
laksana jalan napas tingkat lanjut.
Kegunaan pipa endotrakea adalah:
• Memilihara jalan napas atas terbuka (paten)
• Membantu pemberian oksigen kosentrasi tinggi
• Mempasilitasi pemberian ventilasi dengan volume tidal yang
tepat untuk memelihara pengembangan paru yang adekuat.
• Mencegah jalan napas dari aspirasi isi lambung atau benda
padat atau cairan dari mulut, kerongkongan atau jalan nafas
atas.
• Mempermudah penyedotan cairan dalam trakhea.
• Sebagai alternatif untuk memasukan obat (atropine,
vasopressin, epinefrin dan lidokain) pada waktu resusitasi
jantung paru bila akses intravena atau intraoseus belum ada.
6. Penyedotan jalan nafas atas yang tersumbat
Penyedotan adalah komponen yang penting dalam
mengelola napas pasien. Tenaga kesehatan harus
siap untuk melakukan penyedotan bila jalan napas
tersumbat oleh secret, darah, atau muntahan.
Peralatan penyedot terdiri dari unit yang mudah
dibawak atau unit yang tertanam pada dinding.
Peralatan penyedot yang mudah dibawa, atau
dipindahkan dengan mudah harus memiliki daya
sedot yang memadai. Umumnya yang dibutuhkan
adalah daya sedot sebesar -80 hingga -120 mmHg.
Unit penyedotan yang tertanam pada dinding dapat
memberikan daya sedot hingga lebih dari -300
mmHg ketika selang dipasang pada daya sedot
penuh.