Anda di halaman 1dari 88

PERGURUAN TINGGI KEDINASAN

SAMB I L BE
R JA LA
KE J AR
BE

PENGOLAHAN AIR

Oleh :
Ir. RISAYEKTI, MT
Fungsi air secara umum
 Kebutuhan rumah tangga, yaitu minum,
memasak, mencuci
 Perikanan
 Pertanian
 Industri (proses, bahan baku, bahan
tambahan, pelarut pendingin dan lain-lain).
 Pemadam kebakaran
 Sarana transportasi
 Energi (steam, tenaga jatuh air, gerakan air)
 Sarana oleh raga air, rekreasi
Cadangan air

Potensi air rata – rata 18.846 m3 per


kapita setahun, aliran mantap sekitar
25%. Indonesia harus menghemat air.
Air dari sumber air sering tidak
memenuhi persyaratan untuk digunakan
langsung. Proses pengolahan dengan
pertimbangan teknis, ekonomis dan
estetis
SUMBER AIR

Daur Hidrologi
Berbagai macam sumber air
Air Tanah : dieksploitasi dari dalam tanah
 Sifat kimiawinya tergantung sekitar.
 Mata air sebagai sumber air bersih yang paling
murah.
 Pembuatan sumur yang benar minimal 3 meter
kedalaman.
 Jarak sumur dengan jamban untuk tanah yang
berpasir jarak antara keduanya 12 meter.
 Sumur dangkal letak sumber air sekitar 5-20 meter.
 Sumur bor kedalaman rata-rata 250 meter. Aliran air
tanah sekitar 0,3 meter/hari.
 Air Permukaan
Dipermukaan tanah. Sifat sangat komplek,
kapasitasnya tergantung musim.
 Air Hujan
Turun sebagai hujan, banyak senyawa lain
terikut, bersifat asam (pH rendah), korosif, tidak
mengandung garam-garam mineral,
memperbaiki mutu ditambah kapur, 25 – 100
mgr/l dan kaporit 1,2 – 4,5 mgr/l.
 Air Laut
Di lautan ( dari permukaan bumi), kapasitas
sangat besar.
Sifat kimia :
Kandungan NaCl tinggi, pengolahan khusus
(desalinasi).
Sifat Korosif :
Dewasa ini, untuk industri diharuskan air laut
sebagai bahan bakunya.
AIR MINUM

Merupakan kebutuhan utama


manusia, syarat khusus sebagai
berikut :
 Harus sehat, bebas bakteri dan
bebas bahan racun.
 Estetika kehidupan manusia.
Kebutuhan Air Minum
Kebutuhan air menurut kelompok jumlah penduduk
Jumlah Penduduk Kebutuhan Air
( x 10.000 jiwa) ( liter/jiwa/hari)
Kurang dari 1 150 – 300
1–5 200 – 350
5 – 10 250 – 400
10 – 30 300 – 450
30 – 100 350 – 500
Lebih dari 100 Lebih dari 400
Sumber : pompa dan kompressor, pemilihan, pemakaian dan
pemeliharaan oleh Ir. Sularso, MSME dan Prof. Haruo Tahara,
1983 halaman 15
Perhitungan Air Minum di Perkantoran dan
Perumahan, dihitung berdasarkan konsumsi harian
rata-rata per orang.

 Kantor, pemakaian rata-rata/hari = 100 l/karyawan


 Laboratorium, pemakaian rata-rata/hari = 150 l/karyawan
 Rumah sakit, pemakaian rata-rata/hari = 650 l/pasien
 Gedung Bioskop, pemakaian rata-rata/hari = 10 l/pengunjung
 Toko (super market), pemakaian rata-rata/hari = 3 l/pengunjung
 Perumahan, pemakaian rata-rata/hari = 250 l/penghuni
 Sekolahan, pemakaian rata-rata/hari = 50 l/murid
 Tempat rekreasi/olahraga = 10 l/pengunjung
 Tempat peribadatan (Masjid) = 10 l/pengunjung
 Penginapan/Dormitaory/Mess = 250 l/tamu
 Pabrik (karyawan shift pabrik) = 80 l/karyawan
Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam air minum

 Proses pengolahan air minum


ditentukan oleh SUMBER AIR-nya.
 Bahan racun dalam air
- Adanya bahan bersifat racun
- Bahan yang menyebabkan
penyakit
Proses Utama Pengolahan Air
 Proses fisika
 Proses Kimia

Macam tahapan proses pengolahan air


antara lain :
 Proses Adsorbsi : Proses penyerapan pada permukaan saja,
misal : penambahan karbon aktif.
 Proses sedimentasi : Proses pengendapan dengan
memberikan kesempatan pertikel padat turun.
 Proses Koagulasi & Flokulasi : Penambahan koagulant,
terbentuk partikel besar (flock) sehingga mempercepat
pengendapan.
 Proses Klarifikasi : (Proses penjernihan).
 Proses Filtrasi : (Proses penyaringan).
 Proses Flotasi : (Proses pengapungan).
 Proses Desinfeksi : Proses pembunuhan kuman penyebab
penyakit.
Syarat Air Minum Internasional

Permissible Excesive

Total Solid 500 mg/l 1500 mg/l


Colour 5 units 50 units
Taste Unobyectionable -
Odor Idem -
Iron (Fe) 0,3 mg/l 1,0 mg/l
Manganse (Mn) 0,1 mg/l 0,5 mg/l
Cu 1,0 mg/l 1,5 mg/l
Zn 5,0 mg/l 15,0 mg/l
Ca 75,0 mg/l 200,0 mg/l
Mg 50,0 mg/l 150,0 mg/l
SO4 200,0 mg/l 400,0 mg/l
Cl 200,0 mg/l 600,0 mg/l
pH ring 7 – 8,5 6,2 atau 8,2
Mg + Ma Sulfat 500,0 mg/l 1000 mg/l
Phenolic substance 0,001 mg/l 0,002 mg/l
Load (as Po) 0,10 mg/l
Selenium (as Se) 0,05 mg/l
Arsenic (as As) 0,20 mg/l
Croom (as Cr 0,05 mg/l
hexavalent) 0,01 mg/l
Cyanic (as Cn)
Tujuan Proses Sedimentasi :
 Menghilangkan kekeruhan
 Mengurangi kesadahan
 Mengurangi kebutuhan bahan kimia
pada proses selanjutnya
 Meringankan beban dan memudahkan
kontrol pada proses penjernihan
selanjutnya.
Dasar Proses
 Perbedaan berat jenis lumpur dan air.
 Gaya Gravitasi
 Kelarutan

Yang perlu diperhatikan dalam proses


sedimentasi
 Waktu Pengendapan
 Aliran
 Memperlama aliran dalam bak (dengan
ukuran bak yang sama)
Gambar daerah bak
pengendapan
2

1 4

Keterangan :
1. Daerah Inlet
2. Daerah Settling
3. Daerah Dasar
4. Daerah Outlet
Menghitung Bilangan Reynold
Bilangan Reynold menunjukkan suatu aliran
dalam kondisi turbulent atau laminair.
 Bilangan Reynold < 2100  aliran laminair
 Bilangan Reynold 2100 – 2300  aliran transisi
 Bilangan Reynold > 2300  aliran turbulent

Menghitung R .V
bilangan Reynold Re 
 k
Pengendapan Air di Bak
Konvensional
Pengendapan pada bak konvensional
berlangsung secara bad, bak pengendapan
tanpa aliran.
Bak dengan ketinggian h, apabila
didalamnya partikel yang mengendap
dengan kecepatan V maka waktu
pengendapan t dapat dihitung, dan juga
dapat diketahui pada waktu tertentu pertikel-
partikel mana yang bisa mengendap.
KOAGULASI
Koagulasi merupakan proses untuk mempercepat pengendapan
kotoran padat dalam air dengan penambahan bahan kimia yang
disebut koagulan.
Mekanisme Koagulasi

Proses Pembentukan Flock


Bahan Koagulan

 Garam Mineral
 Campuran garam mineral dengan
senyawa lain
 Senyawa-senyawa Polimer
Reaksi yang terjadi bila tawas
ditambahkan dalam air, adalah :
 Terbentuk kesetimbangan
 Reaksi kesetimbangan air dengan harga 
sangat kecil.
 Al+++ bereaksi dengan OH- dari air
membentuk inti flock Al (OH)3
 SO4= bereaksi dengan H+ dari air
 H2SO4 akan menimbulkan H+ yang merupakan
medium terbentuknya asam.
 Untuk mencegah keasaman bisa
ditambahkan CaO apabila alkalinity
dalam air kurang.
Perbandingan tawas dan garam-
garam besi sebagai bahan koagulan
adalah sebagai berikut :
 Garam-garam besi dapat digunakan pada range harga pH
yang lebih besar (pH > 5,5).
 Garam – garam besi menyebabkan kekorosifannya
terhadap air relatif lebih besar dari pada alum.
 Flock yang dihasilkan oleh garam-garam besi lebih berat
dan dapat diendapkan lebih cepat dari pada jika
menggunakan tawas.
 Garam-garam besi merupakan bahan pengoksida
(oxidising agent) yang baik, ia dapat menghilangkan
hidrogen sulfida, bau dan rasa yang ada dalam air.
 Garam-garam besi memacu pertumbuhan bakteri besi
dalam sistem distribusi dan juga dapat menimbulkan
hambatan.
 Penanganan garam-garam besi memerlukan tenaga lebih
trampil.
Faktor – faktor yang mempengaruhi
koagulan
 Macam koagulan yang digunakan
 Kekeruhan air
 Warna air
 Harga pH air
 Suhu air
 Waktu pencampuran dan flokulasi
Contoh Bahan Koagulan
 Aluminium sulphate [Al2 (SO4)3 18 H2O]  tawas
 Sodium aluminate (Na AlO2)
 Aluminium sulphate dan sodium aluminate digunakan bersama-
sama
 Aluminium Chlorida (Al Cl3)
 Sodium aluminate + Fe Cl3
 Fe Cl3
 Al2 (SO4)3 + Ca (OH)2
 Al2 (SO4)3 dan Na OH (caustic soda)
 Al2 (SO4)3 dan Na2 CO3
 Fe2 (SO4)3
 Fe2 (SO4)3 +Ca (OH)2
 Fe SO4
 Fe SO4 dan Ca (OH)2
 Fe SO4 dan Chlorine
 Na AlO2 dan Mg Cl2
 Cupper II Sulphate (Cu SO4)
 Cu SO4 dan Hydrate Lime (Ca (OH)2)
Bahan kimia sebagai koagulan
NAMA RUMUS KANDUNGAN

1. Aluminium sulfat Al2(SO4)3 18 H2O Al2 O3 : 15-22%


2. Aluminium amonium Al2(NH4)(SO4)2 12 Al2 O3 : 11%
sulfat H2 O
3. Aluminium kalium Al2 O3 : 10-11%
sulfat AlK(SO4)2 12 H2O
4. Ferri khlorida Fe Cl3 6H2O Fe Cl3 : 59-61%
5. Ferri sulfat Fe2(SO4)3 9H2O Fe2(SO4)3 : 90-94%
6. Natrium aluminate Na2 Al2 O4 Na2 Al2 O4 : 70-80%
Bahan kimia sebagai koagulan
bantu

NAMA RUMUS KANDUNGAN


1. Bentonite - Al2 O3 : 15-22%
2. Kalsium karbonat Ca CO3 CaO : 50-55%
3. Kalsium Oksida Ca O -
4. Natrium silikat Na2 SiO3 SiO2 : 30%
Dosis bahan kimia pembantu
pada macam-2 sebagai koagulan
Koagulan Bahan Kimia Pembantu mg/lt
Alum Kapur sebagai CaO 55
Kapur sebagai Ca(OH)2 74
Soda abu sebagai Na2CO3 104
Alkalinitas yang ada sebagai 99
CaCO3

Ferro Sulfat Kapur sebagai CaO 44


Kapur sebagai Ca(OH)2 58
Chlorine sebagai Cl2 27
Sifat-sifat umum bahan koagulan
yang digunakan dalam pengolahan air
Koagulasi pH untuk Dosis Kekuatan % Bahan yang cocok Densitas
Koagulasi mg/liter & Sifatnya untuk Kg/m3
penanganannya

Aluminium Sulfat 5,5 – 8,0 5,2 – 8,5 0,25 – 5,0 Karet, timbal dan 514,3
[Al2(SO4)3,10H2O] asam&korosif broze tahan asam

Sodium aluminate 5,0 – 5,8 3,4 – 34,0 sampai 6,0 Karet dan besi -
[Na2Al2O4]

Ferri Chlorida 5,5 – 11,0 8,5 – 51,0 3,0 – 4,0 Bahan tahan asam 830,8
[FeCl3] asam&korosif

Ferri Sulfat 5,5 – 11,0 8,5 – 51,0 1,0 – 6,5 Karet dan baja 923,1
[Fe2(SO4)3] asam&korosif tahan karat

Ferro Sulfat 8,5 – 11,0 5,1 – 51,0 0,25 - 6,8 Karet dan baja 593,4
[FeSO4,7H2O] asam&korosif tahan karat
Flockulasi
Faktor yang menentukan Flockulasi :
 Macam flockulan
 Penambahan flockulan secara efektif
 Pengadukan yang sempurna
 Kontak yang baik
Contoh bahan flockulan :
 Silika akitf
 Bentonite
 Karbon aktif
 Zat organik (algae, pati)
 Clay
Mekanisme Flockulasi : Gumpalan flock akan mengendap
ke bawah karena gaya beratnya
sendiri.
Peralatan Jar –
Test
B

Keterangan :
A = motor
B = pengaduk
C = sampel
Bak/Tangki untuk
Koagulasi/Flockulasi
Digunakan bak bersekat atau tangki, peralatan ini disebut
bak/tangki penjernih atau clarifier dengan berbagai tipe.

Beberapa keuntungan clarifier mekanis dibandingkan dengan


jenis bak bersekat dengan arah aliran horisontal :

 Bahan kimia yang digunakan dapat dihemat sekitar


10 – 40%
 Pembentukan flock lebih baik
 Kapasitas tangki lebih kecil dan tidak memerlukan
lokasi yang luas sebagaimana bak yang berbentuk
persegi.
 Pengoperasiannya lebih fleksibel karena dapat
dikontrol secara mudah.
 Kerugian tekanan (loss in head) sangat kecil.
 Dapat dipasang secara mudah di plant yang ada.
Kerugiannya :

 Ada ruang mati dibagian sudut.


 Kecepatan alirannya rendah, mendekati
kecepatan poros pedal pengaduk.
 Memerlukan pengawasan dan
perawatan yang lebih hati-hati.
Beberapa Tipe Clarifier
a. Clarifier dengan model tangki silindris dengan
dasar berbentuk kerucut, dengan sudut berkisar
45 – 650.
b. Clarifier model Aquazar “B”
c. Pulsator Clarifier
d. Pulsator Clarifier dengan
plate sejajar
FILTRASI
Impurities yang bersifat lembut, ringan dan yang
mempunyai density lebih ringan dari air, sulit
dihilangkan dengan sedimentasi, koagulasi &
flockulasi. Impurities jenis ini dapat dihilangkan
dengan penyaringan pada filter.
Air yang keluar dari proses koagulasi & flockulasi
dialirkan ke filter, dengan sistem gravity filter atau
pressure filter.
Untuk air yang cukup jernih bisa dengan rapid
sand filter dengan kecepatan tinggi, sedangkan
yang masih keruh bisa dilewatkan slow sand filter.
Air yang mengandung senyawa besi dilewatkan
filter yang berisi senyawa mangan.
Prinsip Filtrasi
Proses filtrasi adalah menghilangkan
bakteri, warna, rasa, bau, dan membuat air
menjadi jernih, dasar-dasar (filtrasi) :

 Penghambatan Mekanik
 Sedimentasi
 Aksi Biologis
 Aksi Elektrolitik
Pasir untuk Filtrasi
Pasir yang digunakan untuk keperluan
proses filtrasi harus memiliki sifat-sifat
sebagai berikut :
 Harus berasal dari batuan keras seperti batuan
padat (basalt), batuan perangkap (trap) dan
batuan baiduri (quartz).
 Harus bebas dari lempung (clay), kapur, zat-zat
organik dan kotoran-kotoran lainnya.
 Ukurannya harus seragam.
 Harus tahan benturan keras dan sulit terkikis.
Bermacam-macam nozzle filter
Ukuran Efektif
Ukuran partikel pasir yang ditetapkan dengan ukuran
efektif, yaitu ukuran saringan dalam milimeter yang
mengijinkan 10% berat pasir yang lolos.
Persen Distribusi Ukuran Butiran Pasir
Ukuran
(%) Ukuran Butiran (mm)
Halus Menengah Kasar
Min Max Min Max Min Max
1 0,26 0,32 0,34 0,39 0,41 0,45
10 0,35 0,45 0,45 0,55 0,55 0,65
60 0,53 0,75 0,68 0,91 0,83 1,08
80 0,93 1,50 1,19 1,80 1,46 2,00
Keseragaman Pasir
Keseragaman pasir dinyatakan dengan
koefisien keseragaman (uninformity
coefficient), yaitu perbandingan antara
ukuran saringan yang meloloskan 60%
terhadap ukuran efektif. Misalnya pasir
dengan ukuran efektif yang terletak antara
0,30 – 0,55 dan yang mempunyai koefisien
keseragaman diantara 1,30 dan 1,75 adalah
digunakan.
Kedalaman Tumpukan Pasir

Kedalaman tumpukan pasir harus berada


diantara 60 cm – 90 cm.
Terlalu tipis tumpukannya, proses filtrasi
kurang sempurna. Terlalu tinggi akan
meningkatkan friksi, aliran terhambat.
Selain itu tumpukan yang tebal
mengakibatkan tekanan terhadap gravel
dan lapisan pasir yang dibawah besar.
Macam Pasir Filter
 Pasir Kwarsa
(banyak digunakan)
 Antrasite
Untuk air industri yang bebas SiO2 (BFW
dengan tekanan tinggi).
 Pasir Carbon
Untuk air tercemar yang disaring dengan
carbon dapat berfungsi sebagai penyerap
zat pencemar
Gravel
Gravel disusun dengan 5 – 6 lapis dan yang ukurannya
paling kecil diletakkan dibagian paling atas.
Tingkatan Lapisan Gravel
Tebal Lapisan, cm Ukuran Gravel, mm
5–8 4,7 – 2,4
5–8 12,7 – 4,7
7 – 13 19,0 – 12,7
7 – 13 38,0 – 19,0
13 - 20 63,0 – 38,0
Macam-macam Filter
Berdasarkan rangkaian proses ada
dua macam filter, yaitu :
a.Slow sand filter :
digunakan untuk menyaring air
tanpa proses koagulasi. Kapasitas
filter (max = 8 m3/hari per m2).
b. Rapid sand filter : digunakan untuk air yang telah
mengalami proses koagulasi. Kapasitas 120 – 150 m3/hari
per m2.

Rapid sand filter


Berdasarkan cara kerjanya ada 2
macam, yaitu :
a. Gravity Filter
b. Pressure Filter
(saringan bertekanan)

Ukuran saringan :
Diameter (m) tinggi (m)
Vertical 0,3 – 2,75 2 – 2,5
Horisontal 2–3 s/d 9
Keuntungan saringan bertekanan :
 Merupakan satuan yang dapat kompak dan sekarang
banyak dikembangkan untuk dapat bekerja secara
automatis.
 Cocok untuk melayani kebutuhan air yang jumlahnya
kecil.
 Sangat fleksible karena laju penyaringannya dapat
diubah-ubah dengan mengubah tekanan udara diatas
permukaan air.
 Tidak memerlukan tempat yang luas.
 Karena air yang telah dipasang masih berada pada
tekanan yang cukup maka untuk mengalirkannya ke
suatu penampung tidak memerlukan pompa untuk
menariknya.
 Tidak memerlukan tangki sedimentasi dan koagulant.
Kerugian saringan bertekanan :
 Kapasitas keseluruhan kecil meski laju
penyaringan per m2 tinggi.
 Sesuai dengan biayanya yang tinggi maka tidak
dapat digunakan untuk menangani air secara
besar-besaran.
 Karena proses penyaringan dilakukan dalam
bejana tertutup maka pemeriksaan dan
pengendalian mutunya tidak mungkin dapat
dilakukan secara sempurna.
 Pemeriksaan dan penggantian filter media serta
perbaikan pada bagian under drainage system
sulit dilakukan.
 Efisiensi pemisahan bakteri dan turbidity kecil.
 Memerlukan pompa tambahan untuk
memompakan air yang akan disaring.
Vertikal filter pada posisi operasi

Vertikal filter pada posisi pencucian


Pencucian Filter
Pencucian filter dilakukan dengan cara
mengalirkan kembali air melalui
tumpukan pasir.
Pencucian filter dapat hanya dengan air
saja, tapi akan membutuhkan jumlah air
yang besar dan tekanan besar, yang
ideal adalah didahului dengan
pengaliran udara bertekanan atau
dialirkan bersama-sama udara
bertekanan dan air.
DESINFEKSI
Desinfeksi adalah proses pembunuhan kuman yang
bersifat patogen (menyebabkan penyakit).
Dalam air selalu hidup jasad renik, ada yang
merugikan dan ada yang diperlukan manusia. Yang
merugikan dihilangkan dengan desinfeksi, yang
diperlukan jumlahnya perlu dibatasi.
 Cara Desinfeksi

Secara Fisis : Secara Chemis :


 Penyaringan  Elektrolisa
 Pasteurisasi  Menambah bahan kimia
 Radiasi
Khlorinasi
Umum digunakan di industri minyak, berupa gas
khlor, khlor cair, sodium, dan calcium hypochlorit.
Reaksi Khlorin
 Reaksi Khlorin dengan Air
Bila khlorin (Cl2) ditambahkan ke dalam air yang
murni secara kimia maka terbentuklah campuran
antara hypokhorit (HOCl) dan asam khlorida (HCl).

Cl2 + H2O HOCl + H+ + Cl-


Khlorin yang terdapat dalam air sebagai asam hypochlorit
dan ion hypochlorit itulah yang diartikan sebagai free
available chlorine.
Reaksi Khlorin dengan Amonia

Amonia bereaksi dengan HOCl untuk membentuk


khloramin.
Reaksi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :
NH3 + HOCl NH2Cl+H2O (Monokhloramin)

NH2Cl + HOCl NHCl2 + H2O (Dikhloramin)

NHCl2 + HOCl NCl3 + H2O (Trikhloramin)


Residu Khlorin dan break Point
Chlorination
0,6

0,5 5

0,4 4

0,3 2-3
RESIDU BEBAS
0,2 RESIDU GABUNGAN

0,1 1 RESIDU GABUNGAN

0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1


Masalah-masalah pada Khlorinasi
 Kekurangan penambahan khlor.
Dalam air distribusi Cl2 sudah habis (tak
berbau). Tapi masih banyak mikroba yang
hidup, sehingga kesehatan air tidak memenuhi
syarat hal ini menunjukkan penambahan Cl2
kurang.
 Jumlah khlor berlebihan (bau menyengat).
Mikroba mati semua  terlalu banyak
memberikan Cl2.
 Jumlah khlor dalam distribusi berlebihan.
mikroba masih hidup  menunjukkan proses
pengadukan dan waktu reaksi belum sempurna.
Desinfeksi dengan Ozone
Ozone (O3) merupakan oksidator yang kuat,
gas yang tidak stabil. Diproduksikan dari
bahan baku udara yang dilewatkan antara 2
elektroda dengan tegangan tinggi.
 Kebutuhan Ozone.
 Injeksi Ozone dalam Air. Metoda kontak
antara ozone dengan air adalah :
- Menggunakan injektor.
- Menggunakan pipa berlubang.
- Menggunakan impeller.
Menara Kontak Sederhana

A = air masuk
B = ozone masuk
C = air yang telah
terdesinfeksi
Menara kontak dengan impeller

A = air masuk
B = ozone masuk
C = air yang telah terdesinfeksi
Menara kontak dengan injektor

A = air masuk
B = injektor
C = menara kontak
D = air yang telah terdesinfeksi
Menara kontak 2 compartment

A = air masuk
B1, B2 = ozone masuk
C = air yang telah
terdesinfeksi
Bahan kimia sebagai desinfektan
NAMA RUMUS KANDUNGAN
1. Amonia Anhidres NH3 NH3 : 99-100%
2. Amonium Hidroksida NH4OH NH3 : 29,4%
3. Brom Br2 Br2 : 99-100%
4. Khlor Cl2 Cl2 : 99,3%
5. Jod J2 J2 : 70%
6. Natrium Khlorit NaClO2 Cl2 : 30%
7. Khlor Dioksida ClO2 Cl2 : 26-27%
8. Kaporit CaOCl2 4 H2O Cl2 : 70%
9. Kalsium Hipoklorit Ca(OCl)2 Cl2 : 70%
10. Natrium Hipoklorit NaClO Cl2 : 12-15%
11. Ozon O3 On : 30-35%
Bahan kimia untuk fluoridasi
NAMA RUMUS KANDUNGAN
1. Amonium Silika - (NH4)2SiF6 (NH4)2SiF6 : 100%
Fluorida
2. Kalsium Fluorida CaF2 CaF2 : 85%
3. Asam H2SiF6 H2SiF6 : 23-30%
Hidrofluorsilikat
4. Natrium Fluorida NaF NaF :
5. Natrium Silika Na2SiF6 Na2SiF6 : 99%
Fluorida
AIR INDUSTRI
Air industri yang banyak digunakan adalah
air umpan ketel/air ketel. Air umpan ketel
(boiler feed water) adalah air yang
dibutuhkan untuk feed dari ketel yang akan
diolah menjadi steam (uap air).
Fungsi steam antara lain :
 Energi penggerak turbin, penggerak pompa
 Pemanas pada proses
 Pemanas dan pendorong fraksi ringan di stripper
 Flashing perpipaan
Air Umpan Ketel

Air industri yang dikirim dari unit


pengolahan air sebagai bahan baku air
umpan ketel kering belum memenuhi
spesifikasi yang diijinkan.
Misal :
 Masih banyak mengandung garam-garam
carbonat dari Ca & Mg
 Masih banyak gas-gas yang terikut.
 Masih adanya senyawa asam yang terikut.
Skema Air Umpan Ketel
uap
Losses

Make up water
Mesin
C2
QC1

qC2

Blow down

Condensate
Blow Down

Adalah bahan-bahan yang tidak dikehendaki


dan dibuang lewat bagian bawah boiler.
Bahan-bahan yang di blow down berupa
bahan-bahan mineral diantaranya senyawa :
 Ca
 Mg
 Silika & gas-gas yang akan menimbulkan masalah
bila tidak dibuang.
Neraca bahan dalam boiler :
Dapat ditulis :
Q. C1 = q. C2
Standar Kemurnian Air Boiler
Untuk boiler tekanan tinggi (modern) memerlukan air dengan
kualitas tinggi, karena dengan tingginya tekanan material
yang ditinggalkan makin besar, hal ini tentu mempengaruhi
efisiensi boiler. Karena itu perlu mengikuti standar air tentang
boiler A.B.M.A (American Boiler Manufactured Association).

Standar ABMA didasarkan :


 Total endapan yang terlarut misalnya : garam-garam
natrium.
 Sludge yang menyebabkan hardness, garam : Ca,
Mg.
 Silika : untuk control blow down.
 Oksigen : juga logam-logam Cu, Fe dan logam-logam
lain yang menyebabkan korosi.
Spesifikasi Air Ketel Berdasar
Tekanan Ketel
Tekanan Total Solid Alkalinity Suspended Silica
psig ppm Solid ppm
0 – 300 3500 700 300 125
301 – 450 3000 600 250 90
451 – 600 2500 500 150 50
601 – 750 2000 400 100 35
751 – 900 15000 300 60 20
901 – 1000 1250 250 40 8
1001 – 1500 1000 200 20 25
1501 – 2000 750 150 10 1
> 2000 50 100 5 0,5

Tekanan (psi) 600 600 – 100 1000 – 2000


Besi (ppm) 0,1 0,05 0,01
Tembaga - 0,05 0,05 0,05
(ppm) 0,007 0,007 0,007
O2 (ppm)

Dari standar diatas dapat diambil kesimpulan :


Bahwa makin tinggi tekanan boiler makin kecil konsentrasi mineral yang diijinkan.
Jadi kualitas air harus tinggi, karena makin besar bahaya yang ditimbulkannya.
Condensat
Merupakan uap air yang
dikondensasikan setelah digunakan
sebagai energi (sirkulasi kembali).
Didalam condensate perlu diperhatikan :
 Jangan sampai uap bersinggungan
langsung dengan media-media lain,
seperti :
 Jangan sampai terjadi proses korosi
 Minimalkan kebocoran
Pengolahan Air Umpan Ketel
(B.F.W)
 External treatment : proses pengolahan
air ketel secara fisika.
 Internal treatment : proses pengolahan
air ketel secara kimia.
Tahapan pengolahan :
a. Pre treatment
b.Proses-proses dalam boiler (internal)
Skema external & internal treatment
air umpan ketel.

External

Raw Water Pre Treatment External treatment


- Softener
- Demineralisasi

Internal
treatment

Unit Boiler

Condensate
Yang perlu diperhatikan dalam
pengolahan air umpan ketel (B.F.W)
 Pre treatment  harus sempurna
 Air umpan ketel  harus bebas gas-gas yang
menimbulkan korosi
 Endapan yang berbahaya, misalnya : endapan : Ca,
Mg, Cu & Fe.
 pH dari air
 Condensate  sebelum masuk dan bercampur
dengan make up water, harus :
 Bebas dari senyawa-senyawa yang menyebabkan
korosi.
 Bebas dari minyak.
 Bebas dari gas-gas.
 Treatment di unit boiler meliputi external & internal
treatment dilakukan sempurna.
Proses Pertukaran Ion (Ion Exchanger)
Ada 2 macam Ion Exchanger :
1. Kation Exchange
2. Anion Exchange
Faktor-faktor yang mempengaruhi Ion Exchange :
 Konsentrasi garam-garam calsium & magnesium
dalam air.
 Kemampuan ion exchange terbatas, apabila
konsentrasi terlalu tinggi (Ca & Mg) tak bisa
bereaksi.
 Ion exchange sangat dipengaruhi oleh gas-gas
beracun CO2, gas clor.
 Sesuai fungsinya : ion exchange tidak boleh berlaku
sebagai filter, harus dibuat oleh ion yang tetap dan
mantap.
Penggunaan ion exchange dapat
dipengaruhi :
 Kapasitas total, yaitu berat max dari ion yang
dapat diubah & layak diberikan.
 Kapasitas yang dapat digunakan tergantung
pada kapasitas total yang dipengaruhi oleh sifat
hydrolis dan chemis.
 Bed volume, yaitu perbandingan volume cairan
yang harus tiap jam terhadap volume ion
exchange.
 Kecepatan regenerasi, merupakan jumlah zat
yang diregenerasi setiap volume ion exchange.
 Kebocoran, merupakan perbandingan
konsentrasi ion exchange sesudah & sebelum
dilalui air.
 Kerusakan, akibat peristiwa fisika/chemis
selama digunakan. Ion exchange bisa rusak.
Vesel Softener

V=A.h
Kapasitas : Q = B l/jam
B l / jam
h Bed volume :
A. h
A : luas penampang

out
Tipe ion exchange ada 2 macam yaitu :

 Kation Exchange (mengandung radikal asam) :


Merupakan ion exchange yang akan dapat
mengganti kation dalam suatu zat berbentuk seperti
pasir, merupakan zeolit yang sintetis atau bukan.
Merupakan kation radikal
 Anion Exchange (mengandung radikal basa) :
- Anion basa lemah/sedang
- Anion basa lemah/kuat
Tipe tersebut dapat dibedakan :
 Tipe basa lemah dapat diperlengkapi basa kuat.
 Tipe basa kuat dapat dihilangkan kebasaannya.
Softening (Proses Pelunakan)

H2O + CaCl2
H2O + garam-
garam
Garam-garam : Reaksinya :
-Ca H2O + Ca Cl2 + 2NaR 
-Mg CaR2 + 2 NaCl + H2O
-Fe CaR2 NaR
-Si
-Na

H2O + NaCl
H2O + NaCl
Softener dengan proses bantuan
H2O + garam
Ca, Mg, Fe, Injeksi H2O + garam-garam
Si, Na kapur konsentrasi rendah
CaO

H2O + NaCl
Filtrasi Ion Exchange
CaCo3
MgCO3
pengendapan ditunjukkan pada
senyawa-senyawa
Si, Fe
Proses Demineralisasi
(Total Demineralisasi)
Anion
H2O + NaCl
H2O + garam
Ca(HCO3)2
CaCl2
HR

Garam-garam CaR2 Degasing LOH


Mg, Fe
Cl
SO4

H2O + HCl H2O


H2O
Untuk regenerasi NaCl, H2SO4 H2O + NaOH
H2CO3 Untuk regenerasi
Tipe Proses Penghilang Hardness
No. Proses Hardness Keperluan Type Proses
1. Sedimentasi& Cukup Untuk keperluan air Secara fisika
Filtrasi tinggi industri tetapi dan kimia
bukan untuk air
umpan boiler.
2. Softening Rendah Untuk boiler Kimia dan
alatnya : tekanan rendah kation
softener exchange
3. Demineralisasi 0 Untuk boiler Kimia, kation
menengah sampai dan anion
tinggi exchange
Deaerator tipe spray
Masalah yang sering ditimbulkan
BFW dalam Boiler

1. Deposit
2. Masalah Korosi
3. Priming
4. Foaming
5. Carry Over
Syarat-sayat air umpan ketel secara
umum:
 Air harus jernih
 pH air minimal 8,50
 Kesadahan air maksimal 0,0
(mendekati nol)
 Alkalinitas (dibatasi)
 Kandungan oksigen
 Silikat, sebagai SiO2 (minimal)
 Phospate, sebagai PO4
Bahan Kimia untuk Stabilisasi dan
Pencegahan Korosi
NAMA RUMUS KANDUNGAN
1. Kapur CaO -
2. Air kapur Ca(OH)2 -
3. Natrium Na2CO3 -
karbonat
4. Natrium heksa (NaPO3)6 -
meta fosfat
5. Dinatrium fosfat Na2HPO4 12 H2O P2O5 : 19,5%
6. Tetra natrium Na4P2O7 10 H2O P2O5 : 53%
pirofosfat
7. Natrium fosfat Na3PO4 12 H2O P2O5 : 19%
Bahan Kimia Pengatur pH
NAMA RUMUS KANDUNGAN
1. Kalsium karbonat CaCO3 CaO : 50 – 55%
2. Karbon dioksida CO2 -
3. Asam klorida HCl HCl : 35%
4. Lime (kapur) CaO -
5. Natrium karbonat Na2CO3 -
6. Natrium hidroksida NaOH NaOH : 50% dan 73%
7. Asam sulfat H2SO4 H2SO4 : 60 – 94%
TAHUN 2006