Anda di halaman 1dari 59

Bahan Bakar dan

Pembakaran
Pengertian Umum
Ditinjau dari sudut teknis dan ekonomis, bahan bakar diartikan
sebagai bahan yang apabila dibakar dapat meneruskan proses
pembakaran tersebut dengan sendirinya, disertai dengan
pengeluaran kalor. Bahan bakar dibakar dengan tujuan untuk
memperoleh kalor tersebut, untuk digunakan baik secara langsung
maupun tak langsung. Sebagai contoh penggunan kalor dari proses
pembakaran secara langsung adalah:
• untuk memasak di dapur-dapur rumah tangga,
• untuk instalasi pemanas, sedang contoh penggunaan kalor
secara tidak langsung adalah:
1. kalor diubah menjadi energi mekanik, misalnya pada
motor bakar,
2. kalor diubah menjadi energi listrik, misalnya pada
pembangkit listrik tenaga diesel, tenaga gas dan tenaga
uap.
Definisi Bahan Bakar

Bahan bakar adalah zat yang dapat dibakar


dengan cepat bersama udara (oksigen) dan akan
menghasilkan panas. Oleh karena itu bahan bakar harus
mengandung satu atau lebih unsur yang dapat terbakar.

Biasanya unsur-unsur pokok dalam bahan bakar adalah


karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), belerang (S),
nitrogen (N). Selain itu bahan bakar juga mengandung
logam-logam mineral, yang merupakan ikutan dari
tambang seperti, natrium (Na), besi (Fe), aluminium (Al),
mangan (Mn), Silika (Si), Vanadium (V), Kalsium (Ca),
Timah hitam (Pb), dsb.

13
Komposisi dan Spesifikasi Bahan Bakar
Komposisi
Bahan bakar fosil dan bahan bakar organik lainnya umumnya tersusun dari unsur-
unsur C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), N (nitrogen), S (belerang), P (fosfor) dan
unsur-unsur lainnya dalam jumlah kecil, namun unsur-unsur kimia yang penting
adalah C, H dan S, yaitu unsur-unsur yang jika terbakar menghasilkan kalor, dan
disebut sebagai “bahan yang dapat terbakar” atau “combustible
matter”, disingkat dengan BDT.
Unsur-unsur lain yang terkandung dalam bahan bakar namun tidak dapat
terbakar adalah O, N, bahan mineral atau abu dan air. Komponen-komponen ini
disebut
Spesifikasi Dasar
Spesifikasi bahan bakar yang terpenting adalah:

A. Nilai Kalor
Nilai Kalor atau “Heating Value” atau “Calorific Value” atau
Kalor Pembakaran. Nilai kalor adalah kalor yang dihasilkan oleh
pembakaran sempurna 1 kilogram atau satu satuan berat bahan bakar padat atau cair
atau 1 meter kubik atu 1 satuan volume bahan bakar gas, pada keadaan baku. Nilai
kalor atas atau “gross heating value” atau “higher heating
value” adalah kalor yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna satu satuan berat
bahan bakar padat atau cair, atau satu satuan volume bahan bakar gas, pada tekanan tetap,
suhu 250C, apabila semua air yang mula -mula berwujud cair setelah pembakaran
mengembun menjadi cair kembali. Nilai kalor bawah atau “net heating value” atau “lower
heating value” adalah kalor yang besarnya sama dengan nilai kalor atas dikurangi kalor
yang diperlukan oleh air yang terkandung dalam bahan bakar dan air yang terbentuk dari
pembakaran
B. Kandungan Air di dalam Bahan Bakar
Air yang terkandung dalam bahan bakar padat terdiri dari:
• kandungan air internal atau air kristal, yaitu air yang terikat secara kimiawi.
• kandungan air eksternal atau air mekanikal, yaitu air yang menempel pada
permukaan bahan dan terikat secara fisis atau mekanis.
Air dalam bahan bakar cair merupakan air eksternal, berperan sebagai
pengganggu. Air dalam bahan bakar gas merupakan uap air yang bercampur
dengan bahan bakar tersebut. Air yang terkandung dalam bahan bakar
menyebabkan penurunan mutu bahan bakar karena:
• menurunkan nilai kalor dan memerlukan sejumlah kalor untuk penguapan,
• menurunkan titik nyala,
• memperlambat proses pembakaran, dan menambah volume gas buang.
Keadaan tersebut mengakibatkan:
- pengurangan efisiensi ketel uap ataupun efisiensi motor bakar,
- penambahan biaya perawatan ketel,
- menambah biaya transportasi, merusak saluran bahan bakar cair (“fuel line”)
dan ruang bakar.
C. Kandungan Abu
Abu yang terkandung dalam bahan bakar padat adalah
mineral yang tak dapat terbakar (non-BDT) yang tertinggal setelah proses
pembakaran dan perubahan perubahan atau reaksi-reaksi yang menyertainya selesai.
Abu berperan menurunkan mutu bahan bakar karena menurunkan nilai kalor. Di dalam
dapur atau dalam generator gas, abu dapat meleleh pada suhu tinggi, menghasilkan
massa yang disebut “slag”. Sifat kandungan abu dapat ditandai oleh perubahan-
perubahan yang terjadi bila suhunya naik. Kalau suhu diberi lambang t, maka:

t1 = suhu pada saat abu mulai deformasi,


t2 = suhu pada saat abu mulai lunak,
t3 = suhu pada saat abu mulai mencair.
Kalau abu meleleh pada suhu t3 < 13000C, maka abu bertitik leleh rendah.
Kalau abu meleleh pada suhu 13000C < t3 < 14250 C; abu bertitik leleh sedang.
Kalau abu meleleh pada suhu t3 > 14250 C; abu bertitik leleh tinggi.
Slag dapat menutup aliran udara yang masuk di antara batang-batang rooster (kisikisi)
dalam ruang pembakaran, menutupi timbunan bahan bakar dan merusak
dapur, serta abu yang terbawa oleh gas asap mengikis bidang pemanasan ketel.
D. Kandungan Belerang
Apabila bahan bakar yang mengandung belerang dibakar, belerang akan terbakar
membentuk gas belerang dioksida (SO2) dan belerang trioksida (SO3). Gas-gas ini
bersifat sangat korosif terhadap logam dan meracuni udara sekeliling

E. Kandungan BTG dan Daya Pembentukan Kokas


Jika bahan bakar padat dibakar tanpa udara berlebihan, pertama -tama yang menguap
adalah air, baru kemudian gas-gas yang terbentuk dari terbakarnya BTG. Sisa akhir
pembakaran adalah KT atau kokas serta abu (karbon tetap” atau “fixed carbon” disingkat
KT ). Makin tua umur geologis bahan bakar padat, makin rendah kandungan BTG-nya.

F. Flash Point
“Flash point” adalah suhu dimana bahan bakar terbakar dengan sendirinya oleh udara
sekelilingnya disertai kilatan cahaya. Untuk menentukan kapan minyak terbakar sendiri,
Pensky-Martens memakai sistem “closed cup”, sedang Cleveland memakai “open cup”.
Uji dengan open cup menunjukkan angka 20-300F lebih tinggi daripada dengan closed
cup.

G. Titik Bakar atau “Ignition Point”


Titik Bakar atau “Ignition Point” Titik bakar adalah suhu dimana bahan bakar cair yang
dipanaskan pada keadaan baku dapat terbakar selama waktu sekurang-kurangnya 5 detik.
Macam Bahan Bakar
1. Bahan bakar organik, terdiri dari:
• Bahan bakar fosil, misal: batubara, minyak bumi,
gas bumi.
• Sisa tumbuhan, minyak nabati, minyak hewan.

2. Bahan bakar nuklir, misal: Uranium, Plutonium. Kalor


dihasilkan dari reaksi rantai penguraian atom- atom
melalui peristiwa radioaktif.

Bahan bakar organik tersusun dari unsur-unsur C, H, O,


N, S, P dan lain-lain dalam jumlah kecil, sedang yang
berperan sebagai bahan bakar adalah: C, H, S.
Macam Bahan Bakar
Berdasarkan wujudnya, bahan bakar dibagi:
• bahan bakar padat,
• bahan bakar cair,
• bahan bakar gas.

Berdasarkan proses terbentuknya, dibagi:


• bahan bakar alamiah,
• bahan bakar non-alamiah.
Pembakaran
Pembakaran adalah reaksi kimia yang cepat antara
oksigen dan bahan yang dapat terbakar, disertai timbulnya cahaya dan
menghasilkan kalor.

• Pembakaran ialah reaksi kimia yang cepat antara oksigen dan bahan
bakar, disertai keluarnya kalor.
• Proses pembakaran = reaksi antara bahan bakar dan oksigen, diikuti cahaya dan timbul
kalor. Oksigen yang dipakai biasanya dari udara. Udara terdiri dari: 79% N2 + 21% O2.

Catatan:
• Untuk komposisi gas, yang dimaksud adalah komposisi volum atau komposisi mol.

• Untuk bahan padat dan cair, yang dimaksud komposisi adalah komposisi berat.
• Harapan Bahan Bakar :
1. Mudah ditangani
2. Tidak korosi terhadap logam
3. Proses pembakaran baik
4. Stabil pada saat penyimpanan
5. Mempunyai nilai kalor yang tinggi

4
Sekilas Mengenai Kimia
Unsur adalah zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat yang
lebih sederhana dengan cara kimia biasa

SIMBOL

Satu Huruf Dua Huruf

O = Oksigen Na = Natrium
C = Karbon Ca = Kalsium
N = Nitrogen Ba = Barium

5
UNSUR-UNSUR PENTING DALAM
BAHAN BAKAR
Nama Simbol Berat Atom
Karbon C 12
Hidrogen H 1
Oksigen O 16
Nitrogen N 14
Belerang (Sulfur) S 32
Fosfor P 31
Kutor Cl 35,5
Barium Ba 137
Kalsium Ca 40
Natrium Na 23
Vanadium V 51
Besi (Ferum) Fe 55,5
Nikel Ni 59
Seng Zn 65,4
Timah Hitam (Timbal) Pb 207
Kalium K 39
Silika Si 28
Tembaga Cn 63,5
Bismut Bi 209
Magnesium Mg 24
Mangan Mn 55
6
SENYAWA ADALAH ZAT MURNI YANG DISUSUN
OLEH 2 UNSUR ATAU LEBIH

ASAM BASA GARAM

Hcl = Asam Khlorida NaOH = Natrium Hidroksida NaCl = Natrium Hidroksida


HNO3 = Asam Nitrat Ca(OH)2 = Kalsium Hidroksida K2SO4 = Kalium Sulfat

H2SO4 = Asam Sulfat K(OH) = Kalium Hidroksida BaCO3 = Barium Karbonat


H2CO3 = Asam Karbonat Ba(OH)2 = Barium Hidroksida Na2SO4 = Natrium Sulfat
H3PO4 = Asam Fosfat AgOH = Farak Hidroksida CaCl2 = Kalsium Khlorida
H2S = Asam Sulfida Fe(OH)2 = Besi (II )Hidroksida Ca(NO3) = Kalsium Nitrat

7
MOLEKUL = Bagian terkecil dari senyawa

Berat Molekul = Jumlah berat atau unsur penyusun senyawa


Berat Molekul Air H2O
= 2 x B.A.H + 1 x B.A.O
= 2 x 1 + 1 x 16 = 18
Berat Molekul CaCO3
= 1 x BA.Ca + 1 x BA.C + 3 x BA.O
= 1 x 40 + 1 x 12 + 3 x 16 = 100
Berat Molekul NaOH
= 1 x BANa + 1 x BA.O + 1 x BA.H
= 1 x 23 + 1 x 16 + 1 x 2 = 40
Berat Molekul H2SO4
= 2 x BA H + 1 x BA.S + 4 x BA.O
= 2 x 1 + x 32 + 4 x 16 = 98

9
Mol = BanyaknyaSenyawa(g)
Berat Molekul(Berat Atom)

1 Mol C = 12 g
1 Mol NaOH = 40 g
1 Mol CaCO3 = 100 g
1 Mol H2SO4 = 98 g
1 Mol NaOH = 40 g

C + O2  CO2 (Reaksi seimbang)


C + O2  CO (Tidak seimbang)
2C = O2  2CO (Reaksi seimbang)
p.A + qB  nC + mD
A, B = Zat Pereaksi
C, D = Zat Hasil Reaksi
p, q, n & m = Koefisien Reaksi

10
Konsentrasi Larutan

Catatan : grek = gram ekivalen


Untuk asam, 1 grek asam = (1/(jumlah H+)) mol asam 1 grek
basa = (1/(jumlah OH-)) mol basa
1 grek garam = (1/(jumlah garam)) mol garam
JENIS BAHAN BAKAR

BAHAN BAKAR

CAIR
PADAT GAS

ALAM BUATAN
ALAM BUATAN ALAM BUATAN

Kayu Arang Minyak Bumi Terbatubara Gas Alam Gas Batubara


Gambut Kokas (Bensin) Minyak Distilasi
Batubara Briket (Solar)
(HSD)
(IDO)
(Residu)

14
Pembakaran

Proses Pembakaran
Dalam pembakaran proses yang terjadi adalah oksidasi dengan reaksi sebagai
berikut:
Karbon + oksigen = Karbon dioksida + panas
Hidrogen + oksigen = Uap air + panas
Sulfur + oksigen = Sulfur dioksida + panas
Pembakaran
• Pembakaran sempurna = complete combustion terjadi kalau semua unsur C, H dan S
yang terkandung dalam bahan bakar bereaksi membentuk CO 2, H2O dan SO2.
Pembakaran sempurna dapat dicapai dengan:
• pencampuran antara bahan bakar dan oksidator tepat/baik, dengan rasio tepat.
Pencampuran yang baik terjadi kalau berlangsung secara turbulen.

• Pembakaran sempurna = perfect combustion, yaitu “complete combustion” yang jumlah


bahan bakar dan oksidatornya (oksigen atau udara) stoikiometris.
• Campuran stoikiometris: kalau jumlah oksigen dalam campuran tepat untuk
bereaksi dengan C, H dan S membentuk CO2, H2O dan SO2.

• Pembakaran spontan = spontaneous combustion terjadi jika zat/bahan mengalami


oksidasi perlahan-lahan, kalor yang dihasilkan tidak dilepas, sehingga suhu bahan naik
secara perlahan juga sampai suhu mencapai titik bakarnya (ignition point), maka bahan
terbakar dan menyala.

• Pembakaran parsial = incomplete combustion terjadi jika proses pembakaran bahan


bakar menghasilkan “intermediate combustion product” seperti CO, H 2, aldehid, disamping
CO2 dan H2O. Kalau oksidatornya udara, gas hasil pembakaran juga mengandung N 2.

Pembakaran parsial dapat terjadi antara lain karena:


• pasokan oksidatornya terbatas atau kurang dari jumlah yang diperlukan,
• nyala ditiup/diembus,
• nyala didinginkan dengan dikenai benda/permukaan dingin.
Komposisi
Bahan bakar padat tersusun dari:
•Komponen yang dapat terbakar, yaitu komponen yang mengandung:
C, H, S, yaitu unsur-unsur yang bila terbakar membentuk gas, disebut
sebagai “bahan dapat terbakar yang membentuk gas” atau “BTG” atau
“VCM” (volatile combustible matter ).
Reaksinya: C + CO2 / CO
O2 H 2O
H + O2 S + O2 SO2 / SO3
• Komponen yang bila terbakar tidak membentuk gas, yaitu “karbon
tetap” atau “KT” atau “FC” (fixed carbon).
• Komponen yang tidak dapat terbakar, yaitu O, N, bahan mineral
atau abu dan H2O.
Analisis Bahan Bakar Padat
( khususnya batubara )
•menurut analisis pendekatan (proximate analysis):
• air
• abu
• bahan yang dapat terbakar (combustible matter) = BDT; hasil
pembakarannya: gas dan fixed carbon
• fixed carbon

•menurut analisis tuntas (ultimate analysis):


• komposisi unsur-unsur C, H, O, N, S, abu dan air.
• Air yang terkandung:
- air dari kelembaban (menempel secara mekanik)
- air senyawa (air yang dapat terbentuk jika unsur O dan H dalam
bahan bakar mempunyai perbandingan stoikiometris)

Bahan yang dapat terbakar (= BDT) terdiri dari:


•BTG (bahan yang bila terbakar menghasilkan gas dan uap air) = volatile
combustible matter = VCM.
•KT (karbon tetap) = fixed carbon = FC.
Komposisi Batubara

Batubara adalah senyawa hidrokarbon padat


yang terdapat di alam dengan komposisi yang
cukup kompleks.
Batubara yang merupakan bahan bakar,
umumnya tersusun atas unsur-unsur karbon,
hidrogen, oksigen, nitrogen, belerang dan fosfor
serat unsur-unsur lainnya dalam jumlah yang
sangat kecil.
Komposisi kimia batubara

Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk batubara, yaitu :

Combustible Matter atau Bahan Dapat Terbakar (BDT)


Bahan Dapat Terbakar yaitu material atau bahan yang dapat dioksidasi oleh
oksigen akan menghasilkan kalor. Material dasar tersebut umumnya terdiri dari :

• Karbon Padat (Fixed Carbon)


• Senyawa Hidrokarbon
• Senyawa Sulfur
• Senyawa Nitrogen, serta beberapa senyawa lainnya dalam jumlah yang
kecil.
Non Combustible Matter atau Bahan yang Tidak Dapat Tebakar (non-BDT)
Bahan yang Tidak Dapat Terbakar yaitu bahan atau mineral yang tidak dapat
dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material/bahan tersebut umumnya adalah
senyawa anorganik (SiO2, Al2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, MgO, Na2O, K2O, dan
senyawa-senyawa logam lainnya dalam jumlah kecil yang akan membentuk abu
dalam batubara. Bahan yang tidak dapat terbakar ini umumnya tidak diinginkan
keberadaanny karena akan mengurangi nilai bakarnya.
Pada proses pembentukan batubara/coalification, Komposisi
batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan
tumbuhan, mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C,
H, O, N, S, P.
Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan
cara manusia membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang
kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia,
selama jangka waktu yang pendek, sedang batubara terbentuk
oleh proses alam,
“Menurut American Society for Testing Material (ASTM)”, secara
umum batubara digolongkan menjadi 4 berdasarkan kandungan
unsur C dan H2O yaitu: anthracite, bituminous coal, sub
bituminous coal, lignite dan peat (gambut). endapan batubara
yang terdapat pada cekungan sedimen berasal dari tempat lain.
dengan bantuan faktor fisika dan kimia alam, selulosa yang
berasal dari tanaman akan mengalami perubahan menjadi lignit,
subbituminus, bituminus, atau antrasit.
Sifat Kimia
Sifat kimia dari batubara sangat berhubungan langsung dengan
senyawa penyusun dari batubara tersebut, baik senyawa organik
ataupun senyawa anorganik. Sifat kimia dari batubara dapat
digambarkan sebagai berikut :

a) Karbon
Jumlah karbon yang terdapat dalam batubara bertambah sesuai
dengan peningkatan derajat batubaranya. Kenaikan derajatnya dari
60% sampai 100%. Persentase akan lebih kecil daripada lignit dan
menjadi besar pada antrasit dan hampir 100% dalam grafit. Unsur
karbon dalam batubara sangat penting peranannya sebagai
penyebab panas. Karbon dalam batubara tidak berada dalam
unsurnya tetapi dalam bentuk senyawa. Hal ini ditunjukkan dengan
jumlah karbon yang besar yang dipisahkan dalam bentuk zat
terbang.
b) Hidrogen

Hidrogen yang terdapat dalam batubara berangsur-angsur habis


akibat evolusi metan. Kandungan hidrogen dalam liginit berkisar
antara 5%, 6% dan 4.5% dalam batubara berbitumin serta
sekitar 3% smpai 3,5% dalam antrasit.

c) Oksigen

Oksigen yang terdapat dalam batubara merupakan oksigen yang


tidak reaktif. Sebagaimana dengan hidrogen kandungan oksigen
akan berkurang selam evolusi atau pembentukan air dan
karbondioksida. Kandungan oksigen dalam lignit sekitar 20%
atau lebih, dalam batubara berbitumin sekitar 4% sampai 10%
dan sekitar 1,5% sampai 2% dalam batubara antrasit.
d) Nitrogen
Nitrogen yang terdapat dalam batubara berupa senyawa organik yang
terbentuk sepenuhnya dari protein bahan tanaman asalnya jumlahnya
sekitar 0,55% sampai 3%. Batubara berbitumin biasanya mengandung
lebih banyak nitrogen dari pada lignit dan antrasit.

e) Sulfur
Sulfur dalam batubara biasanya dalam jumlah yang sangat kecil dan
kemungkinan berasal dari pembentuk dan diperkaya oleh bakteri sulfur.
Sulfur dalam batubara biasanya kurang dari 4%, tetapi dalam beberapa
hal sulfurnya bisa mempunyai konsentrasi yang tinggi. Sulfur terdapat
dalam tiga bentuk, yaitu :
Sulfur Piritik (piritic Sulfur)
Sulfur Piritik biasanya berjumlah sekitar 20% - 80% dari total
sulfur yang terdapat dalam makrodeposit (lensa, urat, kekar, dan
bola) dan mikrodeposit (partikel halus yang menyebar).
• Sulfur Organik
Sulfur Organik biasanya berjumlah sekitar 20% - 80% dari total
sulfur, biasanya berasosiasi dengan konsentrasi sulfat selama
pertumbuhan endapan.
• Sulfat Sulfur
Sulfat terutama berupa kalsium dan besi, jumlahnya relatif kecil
dari seluruh jumlah sulfurnya.
Bahan bakar cair
Bahan bakar cair = campuran beberapa macam
senyawa hidrokarbon.

Bahan bakar cair tersusun dari:


Senyawa-senyawa hidrokarbon cair, sedikit
mengandung S, O dan N sebagai asosiasi dengan
karbon dan hidrogen dari senyawa hidrokarbon
tersebut, serta abu.

Minyak bumi:
• C5-C16
• parafin, naftena, olefin, aromatik.
• membentuk senyawa ikatan dengan S, O, N.
Analisis Kimia Batubara
Disisi lain,sifat kimia batubara ditunjukkan dengan hasil analisis :
Analisis proksimat
Analisis ultimat
Nilai kalori
Komposisi abu
Dll
Pada analisis proksimat, biasanya dilakukan pengukuran untuk mendapatkan nilai-nilai :
Kandungan air (moisture) dalam batubara
Zat terbang (volatile matter) yang dilepas dalam bentuk gas saat batubara mendapat
perlakuan panas
Kandungan karbon tetap (fixed carbon) dari suatu padatan dapat terbakar yang
memiliki kandungan unsur utama berupa karbon
Abu (zat oksida mineral yang terkandung dalam batubara) yang tertinggal saat
batubara dibakar
Untuk mencari nilai kandungan unsur-unsur utama seperti karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen, dan belerang, dilakukan analisis ultimat.
Selain unsur-unsur tersebut, batubara juga mengandung unsur- unsur lain seperti klor,
fluor, dan lain-lain golongan halogen, serta aneka unsur logam seperti aluminium besi, dan
juga silika yang kesemuanya terkandung di dalam abu.
Secara kimia, batubara tersusun atas tiga komponen utama,
yaitu :
1. air yang terikat secara fisika, dapat dihilangkan pada suhu
sampai 105 0C, disebut moisture.
2. senyawa batubara atau coal substance atau coal matter,
yaitu senyawa organik yang terutama terdiri atas atom
karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dan nitrogen.
3. zat mineral atau mineral matter, yaitu suatu senyawa
anorganik.
Moisture
Dalam batubara moisture paling sedikit terdiri atas satu senyawa
kimia tunggal. Wujudnya dapat berbentuk air yang dapat mengalir
dengan cepat dari dalam sampel batubara, senyawa teradsorpsi,
atau sebagai senyawa yang terikat secara
kimia.Sebagian moisture merupakan komponen zat mineral yang
tidak terikat pada batubara.
Moisture didefinisikan sebagai air yang dapat dihilangkan bila
batubara dipanaskan sampai 105 0C. Semua batubara mempunyai
pori-pori berupa pipa kapiler. Dalam keadaan alami, pori-pori ini
dipenuhi oleh air. Didalam standar ASTM, air ini
disebut moisture bawaan (inherent moisture). Ketika batubara
ditambang dan diproses, air dapat teradsorpsi pada permukaan
kepingan batubara, dan standar ASTM menyebutnya
sebagai moisture permukaan (surface moisture).
Jenis-jenis moisture yang biasanya ditentukan dalam analisis batubara adalah :
• Total Moisture (TM)
• Free Moisture (FM) atau Air Dry Loss (ADL)
• Residual Moisture (RM) atau Moisture in air dried sample (MAD)
• Equilibrium moisture (EQM) atau Moisture holding capacity (MHC)
• Moisture in the analysis sample (dalam analisis proksimat, disingkat Mad).
Total Moisture (TM), disebut pula sebagai as received moisture (istilah yang
digunakan oleh pembeli batubara) atau as sampled moisture (istilah yang
digunakan oleh penjual batubara), menunjukkan pengukuran jumlah semua air
yang tidak terikat secara kimiawi, yaitu air yang teradsorpsi pada permukaan, air
yang ada dalam kapiler (pori-pori) batubara, dan air terlarut (dissolved
water). Total Moisture didefinisikan sebagai penjumlahan dari air dry loss (free
moisture) dan residual moisture(misture in air dried sample).
Volatile Matter

Definisi volatile matter (VM) ialah banyaknya zat yang hilang bila
sampel batubara dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah
ditentukan (setelah dikoreksi oleh kadar moisture). Suhunya adalah
900oC, dengan waktu pemanasan tujuh menit tepat.
Volatile yang menguap terdiri atas sebagian besar gas-gas yang
mudah terbakar, seperti hidrogen, karbon monoksida, dan metan,
serta sebagian kecil uap yang dapat mengembun seperti tar, hasil
pemecahan termis seperti karbon dioksida dari karbonat, sulfur dari
pirit, dan air dari lempung.
Moisture berpengaruh pada hasil penentuan VM sehingga
sampel yang dikeringkan dengan oven akan memberikan hasil
yang berbeda dengan sampel yang dikering-udarakan. Faktor-
faktor lain yang mempengaruhi hasil penentuan VM ini adalah
suhu, waktu, kecepatan pemanasan, penyebaran butir, dan
ukuran partikel.
VM yang ditentukan dapat digunakan untuk
menentukan ranksuatu batubara, klasifikasi, dan proporsinya
dalam blending. Volatile matter juga penting dalam pemilihan
peralatan pembakaran dan kondisi efisiensi pembakaran.
Kandungan Fixed carbon
Fixed Carbon (FC) menyatakan banyaknya karbon yang
terdapat dalam material sisa setelah volatile
matter dihilangkan.FC ini mewakili sisa penguraian dari
komponen organik batubara ditambah sedikit senyawa
nitrogen, belerang, hidrogen dan mungkin oksigen yang
terserap atau bersatu secara kimiawi. Kandungn FC digunakan
sebagai indeks hasil kokas dari batubara pada waktu
dikarbonisasikan, atau sebagai suatu ukuran material padat
yang dapat dibakar di dalam peralatan pembakaran batubara
setelah fraksi zat mudah menguap dihilangkan.
Apabilaash atau zat mineral telah dikoreksi, maka kandungan
FC dapat dipakai sebagai indeks rank batubara dan parameter
untuk mengklasifikasikan batubara.
Fixed Carbon ditentukan dengan perhitungan : 100% dikurangi
persentase moisture, VM, dan ash (dalam basis kering udara (adb)).
Data Fixed Carbon digunakan dalam mengklasifikasikan
batubara, pembakaran, dan karbonisasi batubara. Fixed
Carbonkemungkinan membawa pula sedikit presentase nitrogen,
belerang, hidrogen, dan mungkin pula oksigen sebagai zat
terabsorbsi atau bergabung secara kimia.
Fixed Carbon merupakan ukuran dan padatan yang dapat terbakar
yang masih berada dalam peralatan pembakaran setelah zat-zat
mudah menguap yang ada dalam batubara keluar. Ini adalah salah
satu nilai yang digunakan didalam perhitungan efesiensi peralatan
pembakaran.
Kandungan Abu (Ash content)

Coal ash didefinisikan sebagai zat organik yang tertinggal


setelah sampel batubara dibakar (incineration) dalam kondisi
standar sampai diperoleh berat yang tetap. Selama pembakaran
batubara, zat mineral mengalami perubahan, karena itu
banyakash umumnya lebih kecil dibandingkan dengan banyaknya
zat mineral yang semula ada didalam batubara. Hal ini disebabkan
antara lain karena menguapnya air konstitusi (hidratasi) dan
lempung, karbon dioksida serta karbonat, teroksidasinya pirit
menjadi besi oksida, dan juga terjadinya fiksasi belerang oksida.
Ash batubara, disamping ditentukan kandungannya (ash
content), ditentukan pula susunan (komposisi) kimianya dalam
analisa ash dan suhu leleh dalam penentuan suhu leleh ash.
Abu merupakan komponen non-combustible organic
yangtersisa pada saat batubara dibakar. Abu mengandung
oksida-oksida logam seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan CaO, yang
terdapat didalam batubara. Kandungan abu diukur dengan cara
membakar dalam tungku pembakaran (furnace) pada suhu
815°C. Residu yang terbentuk merupakan abu dari batubara.
Dalam pembakaran, semakin tinggi kandungan ash batubara,
semakin rendah panas yang diperoleh dari batubara tersebut.
Sebagai tambahan, masalah bertambah pula misalnya untuk
penanganan dan pembuangan ash hasil pembakaran.
1.Moisture in The analysis Sample
Semakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara tersebut
atau semakin padat batubara tersebut. Dengan demikian akan semakin kecil juga
moisture yang dapat diserap atau ditampung dalam pori batubara tersebut. Hal ini
menyebabkan semakin kecil kandungan moisturenya khususnya inherent
moisturenya.
Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka semakin besar luas permukaanya.
Hal ini menyebabkan akan semakin tinggi surface moisturenya.
Pada nilai inherent moisture tetap, maka TM-nya akan naik yang dikarenakan
naiknya surface moisture.

2. Ash Content (kandungan Abu)


Kadar abu dalam batubara tergantung pada banyaknya dan jenis mineral matter
yang dikandung oleh batubara baik yang berasal dari inherent atau dari
extraneous. Semakin tinggi kadar abu pada jenis batubara yang sama, semakin
rendah nilai kalorinya. Kadar abu didalam penambangan batubara dapat dijadikan
penentu apakah penambangan tersebut bersih atau tidak, yaitu dengan
membandingkan kadar abu dari data geology atau planning, dengan kadar abu dari
batubara produksi.
3.Volatile Matter
Kadar Volatile Matter dalam batubara ditentukan oleh peringkat batubara.
Semakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar volatile matternya.
Volatile Matter digunakan sebagai parameter penentu dalam penentuan peringkat
batubara. Volatile matter dalam batubara dapat dijadikan sebagai indikasi reaktifitas
batubara pada saat dibakar.
4.Total Sulfur
Kandungan sulfur dalam batubara sangat bervariasi dan pada umumnya bersifat
heterogen sekalipun dalam satu seam batubara yang sama. Baik heterogen secara
vertikal maupun secara lateral. Namun demikian ditemukan juga beberapa seam yang
sama memiliki kandungan sulfur yang relatif homogen.
Sulfur dalam batubara thermal maupun metalurgi tidak diinginkan, karena sulfur dapat
mempengaruhi sifat-sifat pembakaran yang dapat menyebabkan slagging maupun
mempengaruhi kualitas product dari besi baja. Selain itu dapat berpengaruh terhadap
lingkungan karena emisi sulfur dapat menyebabkan hujan asam. Oleh karena itu dalam
komersial, sulfur dijadikan batasan garansi kualitas, bahkan dijadikan sebagai rejection
limit.
5.Calorific Value (Nilai Kalori)
Nilai Kalori batubara bergantung pada peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat
batubara, semakin tinggi nilai kalorinya. Pada batubara yang sama Nilai kalori dapat
dipengaruhi oleh moisture dan juga Abu. Semakin tinggi moisture atau abu, semakin
kecil nilai kalorinya
Bahan bakar gas

Bahan bakar gas = campuran atau tunggal senyawa yangmengandung C dan


H, misal: CH4, C2H6, C2H4, C2H2, CO, H2, C3H8, C4H10.

Bahan bakar gas tersusun dari:


• Campuran senyawa-senyawa karbon dan hidrogen (yang mudah terbakar),
dan gas- gas yang tidak terbakar.
Spesifikasi Dasar
Nilai kalor

Nilai kalor = heating value = calorific value

•Higher heating value = HHV = gross heating value = GHV


* semua air (yang terbentuk + yang sudah ada) berwujud cair
•Lower heating Value = LHV = net heating value = NHV
• semua air berwujud uap

HHV – LHV = kalor untuk mencairkan (mengembunkan) uap air yang


terbentuk dari pembakaran.
Nilai kalor
• Oksidasi: reaksi antara oksigen dan bahan yang dapat terbakar,
berlangsung relatif pelan, tanpa timbul cahaya dan tanpa timbul kalor yang
cepat, meskipun jumlah kalor yang dihasilkan seluruhnya cukup berarti.

• Kalor Pembakaran: kalor yang dihasilkan dari pembakaran sempurna 1


satuan berat bahan bakar padat atau bahan bakar cair atau 1 satuan
volume bahan bakar gas pada kondisi baku.

• Kondisi baku: tekanan 1 atm, suhu 250C atau 600F atau 00C.

• Available heat = kalor guna = (kalor pembakaran) – (kalor untuk


mengubah suhu bahan bakar dan udara menjadi suhu baku T0) – (kalor
untuk mengubah suhu hasil pembakaran ke T0)

• Kalor yang diperlukan = heat required = (kalor untuk mendapatkan kerja) +


(kalor hilang dari dinding sistem pembakaran) + (kalor hilang karena radiasi
dari lubang-lubang sistem pembakaran) + (kalor untuk pemanasan awal
sistem pembakaran).
–untuk operasi batch-

• Kalor yang diperlukan = kalor guna.


Tabel GHV dan NHV untuk Bahan Bakar Sederhana
Contoh :
RASIO UDARA-BAHAN BAKAR

Dua parameter yang diperlukan untuk kuantifikasi bahan bakar


udara dan udara di dalam sebuah proses pembakaran adalah:
•Rasio udara – bahan bakar : rasio jumlah udara di dalam
sebuah reaksi terhadap jumlah bahan bakar = mol udara / mol
bahan bakar atau massa udara / massa bahan bakar.

AF  rasio udara  bahanbakar basis molar dan AF  rasio dengan basis massa

• Rasio bahan bakar – udara


UDARA TEORITIS

Jumlah udara teoritis adalah jumlah minimum udara


yang memberikan oksigen yang cukup untuk
pembakaran tuntas terhadap semua karbon,
hidrogen dan sulfur yang terkandung di dalam bahan
bakar.

Produk yang dihasilkan untuk pembakaran tuntas


dengan jumlah udara teoritis adalah : CO2, H2O, SO2
dan N yang menyertai O2 di dalam air.
CONTOH

Tentukanlah jumlah udara teoritis untuk pembakaran tuntas terhadap metana :

CH4  a O2  3,76N2   b CO2  c H 2O  d N2


a,b,c,d merepresentasikan jumlah mol dari oksigen, karbondioksida, air dan
nitrogen. 3,76 mol N2 dianggap menyertai setiap mol oksigen. Dengan prinsip
konservasi massa terhadap karbon,hidrogen, oksigen dan nitrogen akan
diperoleh:
C: b =1
H: 2c =4
O: 2b+c = 2a
N: d = 3,76 a

Dengan menyelesaikan persamaan-persamaan tersebut, maka persamaan kimia


setimbang adalah :

CH4  2 O2  3,76N2   CO2  2 H 2O  7,52 N2


CONTOH

Koefisien 2 di depan suku (O2 + 3,76 N2) adalah jumlah mol osigen di
dalam udara pembakaran per mol bahan bakar dan bukan jumlah
udara.
Jumlah udara pembakaran adalah 2 mol oksigen + (2 x 3,76) mol
nitrogen = 9,52 mol udara per mol bahan bakar.
Jadi rasio udara-bahan bakar dengan basis molar adalah 9,52. Untuk
menghitung rasio udara-bahan bakar dengan basis massa =
JUMLAH UDARA DISUPLAI

Jumlah udara yang disuplai biasanya lebih besar atau


lebih kecil dari jumlah udara teoritis.

Jumlah udara aktual yang disuplai biasanya dinyatakan


dalam bentuk persentase udara teoritis. Contoh :
udara teoritis 150 % berarti udara aktual yang
disuplai adalah 1,5 x jumlah udara teoritis.

Jumlah udara yang disuplai juga bisa dinyatakan


sebagai persentase kelebihan atau persentase
kekurangan udara. Jadi udara teoritis 150 %
sebanding dengan kelebihan udara 50 %. Jika udara
teoritis 80 % berarti sebanding dengan kekurangan
udara 20 %.
RASIO EKIVALENSI

Rasio ekivalensi adalah rasio dari rasio aktual bahan bakar-udara


terhadap rasio bahan bakar-udara untuk pembakaran dengan
jumlah udara teoritis. Jika rasio ekivalensi < 1 : reaktan
membentuk campuran encer (lean) dan jika rasio ekivalensi > 1
: reaktan membentuk campuran kental (rich).
CONTOH
Tentukanlah rasio udara-bahan bakar dengan basis molar dan massa untuk
pembakaran tuntas terhadap oktan C8H18 dengan (a) jumlah udara teoritis
dan (b) udara teoritis 150 %.
Jawab:
(a). Untuk pembakaran tuntas terhadap C8H18 dengan jumlah udara teoritis, produk
yang dihasilkan mengandung CO2, air, & nitrogen saja.

Konservasi massa terhadap C, H2, O2 dan N2 akan diperoleh :

C8 H18  aO2  3,76N2   bCO2  cH 2O  dN2


C: b=8

H: 2c = 18
O: 2b + c = 2a
N: d = 3.76 a

Jika diselesaikan, a = 12.5; b = 8; c = 9; d = 47


Contoh
CONTOH
Contoh