Anda di halaman 1dari 23

PETANDA BIOLOGI

( BIOMARKER)
Petanda biologik ( biomarker) dari
suatu paparan terhadap risiko
kesehatan

Petanda biologik ( biomarker)


untuk menilai kualitas lingkungan :
 Petanda biologik ( biomarker) dari suatu paparan
terhadap risiko kesehatan

dapat dipergunakan dengan beberapa metode antara lain :


- Teknik ekstraksi dari sedimen.
Teknik ini dipergunakan untuk sedimen yang berasal
dari sungai untuk mengetahui tingkat genotoxicity
bahan polutan.
- Pemakaian GCMS dan Bioassay ( misalkan untuk analisis Poly
Aromatic Hidrocarbon ( PAH) dan Dioxin.
- Teknik analisis nuklir untuk menganalisis Trace metal dengan
cara neutron activation analysis.
- Teknik Immuno-histokimia, dipergunakan untuk
mengidentifikasi bahan karsinogen, khususnya terhadap
liver.
 Petanda biologik ( biomarker) untuk menilai
kualitas lingkungan :

- Analisis bakteriologi ( pada tanah dan air)


- Analisis reduksi cacing tanah
- Analisis pertumbuhan dari akar tanaman
- Bioassay serangga
- Bioassay Daphnia
- Bioassay Ikan
2.5.3.3. BIOMONITORING LOGAM

Dilakukan dengan pemeriksaan suatu media untuk


menentukan bahan logam. Media yang dipakai
adalah darah, urin, jaringan tubuh, ikan, binatang
invertebrata dan tanaman perairan.
Biomonitoring Logam

 Media yg dipakai antara lain : darah/urine, jaringan


tubuh, ikan, binatang invertebrata, dan tanaman
perairan
 1. Logam yg dpt ditemukan pd drah/urine, al :
- Cadmium (Cd) - Zat besi (Fe) - Mangan (Mn)
- Tembaga (Cu) - Merkuri (Hg) - Zinc (Zn)
 2. Logam berat di atmosfer ditemukan pd jaringan
burung, al :
- Pb, Cd, Arsen, Hg.
 Logam berat tsb berasal dr pabrik pengeklasan logam
dan scr tdk langsung burung memakan serangga yg
terkontaminir oleh logam berat. Tempat akumulasi
logam berat di dl tubuh burung terletak pd jaringan dan
bulu burung.
3. Logam berat diperairan yg ditemukan pd ikan, al :
Cr, Cu, Pb, Zn.
Logam tsb akan meningkat kadarnya apbl ada
peningkatan (BOD) di perairan.
4. Logam berat di perairan yg ditemukan pd binatang
inevrtebrata, al
(Cr, Cu, Pb, Cd, Cobalt/Co, Ni).
Adanya logam berat tsb pd tubuh invertebrata mrp
indikator tercemarnya lingkungan.
5. Tanaman perairan & tn darat dpt dipakai sbg
biondikator dr ling yg terkontaminasi oleh logam
berat. Pabrik pengecoran besi yg mengeluarkan bhn
pencemaran udar logam berat dpt dideteksi pd tn dg
analisis”Neutron Activation Analysis”
 Pinus dpt dipakai sbg bionindikator utk logam brt Pb, Cd,
Zn, As.
Vegetasi perairan spt phytoplankton dpt dipakai
sbg biondikator untuk logam berat Cu, Cd, dan
Zn.
 Efek logam berat thd komunitas mikrobiologi dr
ekosistem perairan, al berkurangnya jumlah populasi
bakteri dan meningkatnya toleransi thd tembaga.

 Indikator adanya logam berat Cd di dl perairan,


ditunjukkan adanya :
 a. Diversitas komunitas protozoa
 b. Densitas populasi protozoa
 c. Bio mass protozoa
2.5.3.4. BIOMONITORING ZAT ORGANIK

Akumulasi zat organik pada beberapa jenis


mamalia dapat dipergunakan sebagai bioindikator
pencemaran lingkungan dengan beberapa indikator
antara lain :
Perubahan non protein sulfhidril pada sel liver
tikus untuk menguji paparan pestisida
Biomonitoring Zat Organik
Akumulasi zat organik pd bbrp sp mamalia mrp bio-
indikator yg potensial utk mendeteksi pencemaran
lingkungan,al :

 1. Perubahan non protein slfhidril pd sel liver dr tikus sbg


indikator terpapar oleh pestisida
 2. Meningkatnya bilirium pd tikus, menunjukkan adanya paparan
oleh Tri Nitro Toluen (TNT)
 3. Terdpt hub antara pencemar lingk dg Poly Chorinated Bifhenyl
(PCB), dioxin dan furan pada manusia
 4. Terdapatnya dioxin, furan, PCB, DDE dan Lindane pd telur
burung sbg indikator tercemarnya lingkungan oleh zat organik
 5. Terakumulasi PCB, pestisida & bhn anthropogenik pd tubuh
ikan sbg indikator tercenarnya ekosistem perairan.
 6. Meningkatnya aktifitas “Mixed Function Oxidase” (MFO) pd
ikan di sungai yg tercemar oleh bhn organik, PAH, Dioxin dan
PCB
2.5.3.5.BIOMONITORING LIMBAH CAIR

Dengan menggunakan studi toksisitas untuk


menilai buangan limbah cair antara lain :
pemakaian Ikan, Invertebrata ( Uji larva
biota air), Algae ( Uji inhibisi pertumbuhan
algae) dan bakteri.
2.5.3.6.BIOMONITORING PENCEMAR UDARA

Daun pinus jarum dapat dipakai sebagai


indikator pencemaran udara oleh alifatik
hidrokarbon dengan menggunakan analisis
Gas Chromatography.
Lichen palmalia sulcata dapat dipakai
sebagai indikator pencemaran udara.
2.5.3.7. BIOMONITORING KESEHATAN MANUSIA

A. EFEK REPRODUKSI
Azoospermia; Berat bayi baru lahir ; Aborsi spontan setelah 8-28
minggu kehamilan ; Anomali kromosom ; Cacat lahir ; Cacat
neural tube

B. Insidensi kanker
Semua organ
Perut
Colon
Paru dan bronchus
Kantung kemih
Ginjal
Lymphoma
Leukemia

C. MORTALITAS
Biomonitoring paparan genotoksid oleh
senyawa PAH terhadap karyawan industri
dapat dilakukan dengan analisis DNA adducts
dalam sel limfosit darah perifer.

Pemeriksaan ASI dan darah dapat digunakan untuk


biomonitoring Pb dan Cd.

Biomonitoring paparan oleh Toluena dapat


dideteksi dengan adanya orto-toluidin pada
urine.
Dampak cemaran dari lokasi penimbunan limbah
terhadap kesehatan manusia sbb:
a). Symptoms ( ruam-ruam, iritasi mata ; paralysis,
tremor, dll)
c). Penyakit / Disorder :
- Tampak ( gangguan abnormal reproduktif, gangguan
pertumbuhan dan perkembangan, gangguan
psikologi, cancer, mortalitas, autoimmun, penyakit
arteri koroner)
- Tidak tampak ( abnormalitas biokimiawi antara lain
cholinesterasi, protoporphyrin erythrocyt, tes fungsi
hati); abnormalitas immunologi ( tes limfosit);
abnormalitas kromosom; abnormalitas konduksi
syaraf dan tes abnormalitas lainnya ( fungsi
pulmonalis).
2.5.3.8. BIOMONITORING DI EKOSISTEM PERAIRAN

Plankton
Merupakan kelompok heterogen dari jasad renik
mikroskopis, hidup di dalam air dan sangat
tergantung kepada gerakan air ( arus). Dibedakan
atas :
- Primary producer
- Konsumer Tingkat I , Biasanya menggunakan Indeks
saprobik.

Benthos
Merupakan organisme dasar perairan, biasanya
hidup di lumpur. Misalnya cacing untuk lumpur dan
moluska untuk media pasir. Biasanya
menggunakan Indeks Shannon dan Wiener (
Plankton dan Benthos).
2.5.3.9. EVALUASI EFEK SUBLETAL ZAT PENCEMAR

Beberapa tolok ukur toksisitas sublethal


suatu bahan pencemar dapat dibedakan
atas aspek pengaruh-pengaruhnya yaitu :
a. Pergerakan,
b. Pertumbuhan,
c. Reproduksi;
d. Teratogenik;
e. Mutagenik;
f. Carcinogenik;
g. Toksisitas Ganda.
Tolok ukur efek sublethal yang umum digunakan untuk
mengkaji efek suatu bahan pencemar terhadap ikan
dapat dibedakan menjadi 3 katagori, yaitu :
1.Mempelajari perubahan sifat-sifat biologik yang
terpenting seperti : pola serta kecepatan pertumbuhan,
cara makan, pemasakan/kedewasaan, kemampuan
fertilisasi serta perkembangan telur, kelangsungan hidup
anak dan lain sebagainya;
2.Mempelajari gangguan-gangguan fungsi ( studi
pathofisiologik) dengan metode fisiologik dan biokimia(
pada umumnya adalah secara hematologik,pengukuran
derajat metabolik,studi mengenai aktivitas immunobiologik
dan enzimatik atau pengamatan - pengamatan mengenai
kelakuan);
3.Mempelajari perubahan-perubahan pathomorphologik yang
meliputi semua perubahan yang menyangkut morfologi ikan
dari bentuk-bentuk eksternal sampai kerusakan histologik
dan sitologik ( Mitrovic,1972).
2.6. BAKU MUTU AIR
Baku Mutu Air ( Stream Standard)
Baku mutu air adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen lain yang ada atau harus ada dan
atau unsur pencemaran yang ditenggang adanya dalam air
pada sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya.

Penggolongan air menurut peruntukannya dibagi atas :


Golongan I : Air yang dapat dipergunakan sebagai air
minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dulu.
Golongan II. Air yang dapat digunakan sebagai air baku air
minum.
Golongan III. Air yang dapat digunakan untuk keperluan
perikanan dan peternakan.
Golongan IV. Air yg dapat digunakan untuk keperluan
pertanian, dan dapat dimanfaatkan untuk usaha pertokoan,
industri, pembangkit listrik tenaga air.
2.7.Baku Mutu Limbah Cair ( Effluent Standard)

Baku mutu limbah cair adalah batas kadar dan


jumlah unsur pencemar yang ditenggang adanya
dalam limbah cair untuk dibuang dari suatu jenis
kegiatan tertentu. Pembuangan limbah cair ke
dalam air dilakukan dengan ijin yang diberikan oleh
Gubernur kepala Daerah Tingkat I. Untuk di Propinsi
Kalimantan Timur Baku Mutu Limbah cair Bagi
Kegiatan Industri dan usaha lainnya ditetapkan oleh
TUSGUB Propinsi Kaltim No. 26 Tahun 2002.
2.8. Nilai Ambang Batas (NAB)

 Nilai Ambang Batas (NAB) atau Threshold Limit Value


(TLV) adalah kadar dimana pekerja yang terpapar
racun masih sanggup menghadapinya dengan tidak
menunjukkan penyakit atau tidak menyebabkan
gangguan kelainan dalam pekerjaan mereka sehari-
harinya untuk waktu 8 jam sehari dan 40 jam
seminggunya.
 Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa nilai NAB
menggambarkan kepada kita tentang kadar zat
dimana manusia masih dapat bereaksi secara fisiologis
untuk melakukan aktivitasnya secara normal. Nilai-nilai
NAB ditentukan oleh pemerintah di masing-masing
negara, sehingga dapat terjadi adanya nilai NAB yang
berlainan di setiap negara terhadap bahan yang
sama.
Kadar Tertinggi yang diperkenankan ( KTD)
 Kadar Tertinggi yang diperkenankan (KTD) atau
Maximum Allowable Concentration (MAC) adalah nilai
tertinggi dari kadar suatu zat yang pekerja tidak
menderita penyakit atau gangguan kesehatan.
Dengan demikian KTD menekankan efek akut dari
pada efek kumulatif atau menahun.
NAB digunakan sebagai jalan kompromi dari kenyataan
bahwa di lingkungan kerja tidak mungkin diusahakan
tidak adanya bahan-bahan kimia dari hasil suatu
kegiatan dibidang industri.
Nilai NAB ini merupakan kadar aman sebagai pedoman
dan kadar tersebut bukan merupakan batas di antara
keadaan sakit dan sehat. NAB merupakan pegangan
bagi kegiatan Manajemen Kerja di suatu lingkungan
Industri.
Kegunaan dari NAB adalah :
a. Sebagai kadar standard di lingkungan kerja untuk ditaati
b.Pedoman untuk perencanaan dan rancangan
pengendalian peralatan
c.Substitusi bahan-bahan yang beracun dengan yang
kurang beracun
d.Membantu menentukan gangguan-gangguan kesehatan
atau penyakit akibat faktor kimiawi.
NAB harus dievaluasi dan dikoreksi oleh beberapa faktor
seperti perubahan musim, keadaan cuaca dan
kemungkinan efek kumulatifnya terhadap kesehatan
pekerjanya. Pada daftar NAB terdapat tanda kulit,artinya
bahan-bahan tersebut jika kontak dengan kulit akan
menyebabkan bahaya melalui absorbsi. Dengan demikian,
bahan ini harus dihindari kontaknya dengan kulit. Zat-zat
pelarut memiliki pengaruh terhadap besarnya
penyerapan.
Cara Menentukan NAB
Nilai NAB diperoleh dengan beberapa cara antara
lain
a. Penelitian di lapangan dengan supervisi medis
b. Penelitian di lapangan, tanpa supervisi medis
tetapi melalui laporan-laporan angka sakit dan
angka kematian
c. Melalui uji hayati ke hewan
d. Melalui analogi dan similaritas struktur senyawa
kimianya
e. Percobaan terhadap manusia, jika tingkat
keselamatannya cukup dijamin