Anda di halaman 1dari 46

Keperawatan

Jiwa II – FG 7
KONSEP RESIKO
PERILAKU KEKERASAN
DEFINISI

• Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang, baik
secara fisik mapupun psikologis (Keliat, 2007)
• Stuart (2012) menyebutkan perilaku kekerasan merupakan hasil dari marah yang ekstrim atau
ketakutan (panik) sebagai respon terhadap perasaan terancam, baik berupa ancaman serangan
fisik atau konsep diri.
FAKTOR PENYEBAB
Faktor Predisposisi Faktor presipitasi

 Faktor dari dalam individu meliputi


Faktor biologis kehilangan relasi atau hubungan dengan
Faktor psikologis orang yang dicintai atau berarti (putus
pacar, perceraian, kematian), kehilangan
Faktor sosiokultural rasa cinta, kekhawatiran terhadap
penyakit fisik, dll.
 Faktor luar individu meliputi serangan
terhadap fisik, lingkungan yang terlalu
ribut, kritikan yang mengarah pada
penghinaan, tindakan kekerasan.
RENTANG RESPON MARAH

Sumber: Yusuf, A., Fitryasari, R., dan Nihayati, H. E. (2015)


Tanda & gejala

• Ungkapan berupa ancaman


Objektif
• Ungkapan berupa kata-kata
kasar • Wajah memerah dan tegang
• Ungkapan berupa ingin memukul • Pandangan tajam
atau melukai • Mengatupkan rahang dgn kuat
• Mengepalkan tangan
• Bicara kasar
• Suara tinggi atau berteriak
• Mondar mandir

Subjektif • Melempar atau memukul benda


KONSEP HARGA DIRI
RENDAH
KONSEP
• Harga diri merupakan komponen dari konsep diri.
• Konsep diri:
- Ide
- Pikiran
- Perasaan
- Kepercayaan
- Pendirian
..... seseorang tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain
(yusuf, fitriasari, & nihayati, 2015)
PEMBENTUKAN HARGA DIRI
• Dipengaruhi persepsi orang lain terhadap diri seseorang.
• Dimulai dari usia dini.
• Berhubungan kuat dengan goal diri: ketika goal/tujuan pribadi tercapai, harga diri
meningkat.
• Harga diri berawal dari masa kecil dan berbasis pada penerimaan,
kehangatan/keintiman, keterlibatan seseorang dalam lingkungannya, konsistensi, dan
respek atau rasa hormat.
CARA MENAIKKAN HARGA DIRI
SESEORANG
• Memberikan kesempatan untuk berhasil
• Menanamkan nilai-nilai
• Memberi aspirasi yang menyemangati
• Membantu seseorang membangun mekanisme pertahanan diri yang baik jika sewaktu-
waktu persepsi dirinya diganggu

(Coopersmith in Stuart, 2013)


HARGA DIRI SEBAGAI RENTANG
RESPON KONSEP DIRI

(Stuart, 2013)
FAKTOR PREDISPOSISI HDR
• Penolakan
• Kurang penghargaan
• Pola asuh overprotektif, otoriter, inkonsisten, terlalu dituruti, dan terlalu dituntut
• Persaingan antar keluarga
• Kesalahan atau kegagalan berulang
• Tidak mampu mencapai standar
FAKTOR PRESIPITASI HDR
• Trauma
• Ketegangan peran
• Transisi peran perkembangan
• Transisi peran situasi
• Transisi peran sehat-sakit
TANDA DAN GEJALA HDR
• Mengkritik diri sendiri/orang lain • Ketegangan peran
• Produktivitas menurun • Pesimis menghadapi hidup
• Gangguan berhubungan • Keluhan fisik
• Merasa diri paling pening • Penolakan kemampuan diri
• Destruktif pada orang lain • Pandangan hidup bertentangan
• Merasa tidak mampu • Destruktif terhadap diri
• Merasa bersalah dan khawatir • Menarik diri secara sosial
• Mudah tersinggung/marah • Penyalahgunaan zat
• Perasaan negative terhadap tubuh • Menarik diri dari realitas
PENGKAJIAN DAN ANALISA
DATA
PADA PASIEN RISIKO PERILAKU
KEKERASAN
KASUS

“Seorang laki-laki, 35 tahun, dirawat di rumah sakit jiwa sejak seminggu yang lalu
karena memukuli istrinya. Saat dikaji klien mengatakan benci kepada istrinya
karena sering membanding-bandingkan dirinya dengan suami temannya yang
lebih mapan. Istrinya juga selalu marah-marah karena sudah menikah selama
sepuluh tahun namun belum mempunyai keturunan. Klien merasa dipojokkan
terkait hal itu. Wajah klien tampak tegang, mata melotot, sering mengajak pasien
lain berkelahi. Diagnosa medis: Psikotik akut.”
PENGKAJIAN

1) Pengkajian Perilaku Kekerasan


 Klien sudah seminggu dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena memukuli istrinya.
Saat dikaji klien mengatakan benci kepada istrinya karena sering membanding-
bandingkan dirinya dengan suami temannya yang lebih mapan. Istrinya juga selalu
marah-marah karena sudah menikah selama sepuluh tahun namun belum
mempunyai keturunan. Wajah klien tampak tegang, mata melotot, sering
mengajak pasien lain berkelahi. Diagnosa medis: Klien mengalami Psikotik akut.
 Data yang ditambahkan : klien mengatakan sering mengancam istrinya dan orang-
orang sekitar, merusak lingkungan, perilaku agresif/ amuk, mata melotot atau
pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah, postur tubuh
kaku, suara keras dan bicara ketus.
PENGKAJIAN

2) Pengkajian Konsep Diri


 Citra Tubuh
Klien tidak mengalami kehilangan atau kerusakan bagian tubuh. Klien tidak memilki
pandangan negatif tentang bagian tubuhnya.
 Harga Diri
Klien mengatakan ia merasa dipojokkan karena sudah menikah selama sepuluh tahun
namun belum mempunyai keturunan dan istrinya sering membanding-bandingkan dirinya
dengan suami temannya yang lebih mapan.
Data yang ditambahkan : klien mengatakan tidak berguna karena tidak dapat memilki keturnan,
klien merasa malu dengan orang sekitar karena belum punya anak, klien mengatakan tidak
memilki kelebihan atau kemampuan positif, klien mengatakan sulit berkonsentrasi, klien
mengatakan sulit tidur, berjalan menunduk, postur tubuh menunduk, kontak mata kurang, lesu
dan tidak bergairah, berbicara pelan dan lirih, perilaku tidak asertif, sulit membuat keputusan dan
pasif.
PENGKAJIAN

 Ideal Diri
Klien tidak memilki cita-cita terlalu tinggi, klien tidak mengalami ideal diri samar atau
tidak jelas.
 Peran Diri
Klien mengalami perubahan peran diri yang dahulunya sebagai suami dan kepala rumah
tangga tetapi sekarang klien sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa.
 Identitas Diri
Klien mengalami perubahan struktur sosial karena saat ini klien sedang dalam
perawatan di Rumah Sakit Jiwa.

3) Pengkajian Perkembangan Psikososial


Klien saat ini berusia 35 tahun berada pada masa perkembangan psikososial dewasa (25-
65 tahun): generativity/ menyiapkan generasi berikutnya vs stagnasi/ terhambat. Saat ini
klien sudah menikah selama sepuluh tahun namun belum mempunyai keturunan.
ANALISA DATA

Data Fokus Masalah


Keperawatan
Data Subjektif : Risiko Perilaku Kekerasan
 Klien mengatakan benci kepada istrinya (Sumber: SDKI, 2017)
 Klien mengatakan sering mengancam istrinya dan orang-orang sekitar
Data Objektif :
 Klien sudah seminggu dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena memukuli istrinya.
 Wajah klien tampak tegang
 Mata melotot
 Klien sering mengajak pasien lain berkelahi.
 Diagnosa medis: Klien mengalami Psikotik akut.
 Merusak lingkungan , Perilaku agresif/ amuk
 Mata melotot atau pandangan tajam , Tangan mengepal
 Rahang mengatup , Wajah memerah
 Postur tubuh kaku, Suara keras
ANALISA DATA

Data Fokus Masalah


Keperawatan
Data Subjektif : Harga Diri Rendah Kronis
 Klien mengatakan ia merasa dipojokkan karena sudah menikah selama sepuluh tahun (Sumber: SDKI, 2017 dan
namun belum mempunyai keturunan NANDA, 2019)
 Klien mengatakan istrinya sering membanding-bandingkan dirinya dengan suami
temannya yang lebih mapan
 Klien mengatakan tidak berguna karena tidak dapat memilki keturnan
 Klien merasa malu dengan orang sekitar karena belum punya anak
 Klien mengatakan tidak memilki kelebihan atau kemampuan positif
 Klien mengatakan sulit berkonsentrasi
 Klien mengatakan sulit tidur
Data Objektif :
 Berjalan menunduk , Postur tubuh menunduk , Kontak mata kurang
 Lesu dan tidak bergairah , Berbicara pelan dan lirih , Perilaku tidak asertif
POHON MASALAH

Risiko Perilaku Kekerasan

Harga Diri Rendah Kronis


DIAGNOSA DAN ASUHAN
KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Risiko Perilaku Harga Diri


Kekerasan Rendah Kronis
INTERVENSI KEPERAWATAN DX I: RISIKO PERILAKU
KEKERASAN
Tujuan (pasien) Tujuan (keluarga)
1. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab Keluarga dapat merawat pasien di rumah.
perilaku kekerasan
2. Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda
perilaku kekerasan
3. Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku
kekerasan yang pernah dilakukannya
4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari
perilaku kekerasan yang dilakukannya
5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/
mengontrol perilaku kekerasannya
6. Pasien dapat mencegah/ mengontrol perilaku
kekerasannya secara fisik, spiritual, social,
dan dengan terapi psikofarmaka
INTERVENSI KEPERAWATAN DX I: RISIKO PERILAKU
KEKERASAN Intervensi pada pasien Intervensi pada keluarga
1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien 1. Diskusikan masalah yang
2. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat dihadapi keluarga dalam
ini dan yang lalu merawat pasien
3. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku 2. Diskusikan bersama keluarga
kekerasan tentang perilaku kekerasan
4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa (penyebab, tanda dan gejala,
dilakukan pada saat marah secara verbal perilaku yang muncul, dan
5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya akibat dari perilaku tersebut)
6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku 3. Diskusikan bersama keluarga
kekerasan secara fisik, obat, social/ verbal, dan spiritual kondisi-kondisi pasien yang
7. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik perlu segera dilaporkan
8. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara social/ kepada perawat
verbal 4. Latih keluarga merawat pasien
9. Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual dengan perilaku kekerasan
10. Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum 5. Buat perawatan lanjutan
obat
11. Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Stimulasi Persepsi mengontrol perilaku kekerasan
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX 1I: HARGA DIRI RENDAH KRONIS
Tujuan (pasien) Tujuan (keluarga)
1. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan 1. Keluarga mampu membantu pasien
aspek positif yang dimiliki. mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
2. Pasien dapat menilai kemampuan yang dapat pasien.
digunakan. 2. Keluarga mampu memfasilitasi pelaksanaan
3. Pasien dapat menetapkan/ memilih kegiatan kemampuan yang masih dimiliki pasien.
yang sesuai kemampuan. 3. Keluarga mampu memotivasi pasien untuk
4. Pasien dapat melatih kegiatan yang sudah melakukan kegiatan yang sudah dilatih dan
dipilih, sesuai kemampuan. memberikan pujian atas keberhasilan pasien.
5. Pasien dapat menyusun jadwal untuk 4. Keluarga mampu menilai perkembangan
melakukan kegiatan yang sudah dilatih perubahan kemampuan pasien.
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX 1I: HARGA DIRI RENDAH KRONIS
Intervensi pada pasien Intervensi pada keluarga
1. Identifikasi kemampuan dan aspek 1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam
positif yang masih dimiliki pasien. merawat pasien.
2. Bantu pasien menilai kemampuan yang 2. Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah
dapat digunakan. yang ada pada pasien.
3. Bantu pasien memilih atau menetapkan 3. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki
kemampuan yang akan dilatih. pasien dan memuji pasien atas kemampuannya.
4. Latih kemampuan pasien. 4. Jelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga
5. Bantu menyusun jadwal pelaksanaan diri rendah.
kemampuan yang dilatih 5. Demonstrasikan cara merawat pasien dengan harga
diri rendah
6. Beri kesempatan kepada keluarga untuk
mempraktikan cara merawat pasien dengan harga
diri rendah seperti yang telah perawat
demonstrasikan.
7. Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien
dirumah
TERAPI ANTIPSIKOTIK
• Antipsikotik merupakan kelompok obat terbesar yang dipakai untuk mengobati
gangguan mental. Secara khusus obat-obat ini memperbaiki proses pikir dan perilaku
klien dengan gejala-gejala psikotik.
• Antipsikotik dibagi dalam empat kelas: fenotiazin (kelas yang terbesar), tiosantin,
butirofenon, dan dibenzodiazepine.
• Fenotiazin dan tiosantin menghambat norepineprin, menimbulkan efek sedative dan
hipotensi pada awal pengobatan.
• Butirofenon hanya menghambat neutrotransmiter, dopamine.
• Tetapi karena fenotiazin mewakili kelas yang begitu besar, maka antipsikotik dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kelopok: fenotiazin dan nonfenostiazin.
FENOTIAZIN
• Dibagi ke dalam tiga kelompok: alifatik, piperazin, dan piperadin, yang perbedaan
utamanya ada pada efek sampingnya
• Fenotiazin alifatik menghasilkan efek sedatif yang kuat, menurunkan tekanan darah,
dan mungkin menimbulkan gejala ekstrapiramidal.
• Fenotizin piperazin menghasilkan efek sedative yang sedang, efek anti emetic yang
kuat, dan beberapa menurunkan tekanan darah.
• Fenotizin piperadin mempunyai efek sedative yang kuat, menimbulkan sedikit gejala
ekstrapiramidal, menurunkan tekanan darah, dan tidak mempunya efek antiemetic.
• Contoh terapi fenotizin adalah klorpromazin dan proklorperazin.
NONFENOTIZIN
• Nonfenotizin yang seringkali diresepkan adalah butirofenon haloperidol (haldol).
• Haloperidol diabsorpsi dengan baik melalui mukosa gastrointestinal.
• Haloperidol mengubah efek dopamine dengan menghambat reseptor dopamine,
sehingga sedasi dan gejala ekstrapiramidal dapat terjadi. Obat ini dapat dipakai
untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi pada dewasa
maupun anak-anak.
• Banyak antipsikotik mempunyai efek antikolinergik seperti mulut kering,
meningkatnya denyut jantung, retensi urine, dan konstipasi.
Kegawatdaruratan PSIKIATRI
• Merupakan suatu kondisi gangguan akut pada pikiran perasaan, perilaku, atau hubungan
social yang membutuhkan auatu intervensi segera
• Kriteria kegawatdaruratan psikiatri:
• Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan
• Telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, serta harta benda dan
lingkungan
• Memiliki kecenderungan peningkatan bahaya yang tinggi dan segera. Terhadap kehidupan,
kesehatan, harta benda, atau lingkungan.
Fase I (24 jam pertama)
• Faseintensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan
observasi, diagnosis, perawatan, dan evaluasi yang ketat.
• Terdapat intervensi mandiri keperawatan dan kolaborasi yang dapat
dilakukan untuk memenuhi prinsip tindakan penyelamatan hidup (life
saving) dan mencegah cidera pada pasien, orang lain, dan lingkungan.
Fase I (24 jam pertama)
• Tindakan kolaborasi yang sesuai standar medik seperti transquilizer
(golongan obat penenang) sesuai program terapi. Pengobatan dapat berupa
suntikan valium 10 mg IM/ IV 3-4 x 1 ampul/ hari dan suntikan
haloperidol (serenace) 5 mg, 3-4 x 1 ampule/ hari. Pantau keefektifan
obat dan efek sampingnya.
• Jika perilaku pasien tidak terkendali dan semakin tidak terkontrol, serta
terus mencoba melukai dirinya sendri, orang lain, dan merusak lingkungan,
maka dapat dilakukan tindakan pembatasan gerak. Jika perilaku masih
tidak terkendali, maka dapat dilakukan pengekangan. Tindakan
pengekangan merupakan tindakan akhir yang dapat dilakukan.
FASE II (24-72 JAM PERTAMA)

• Faseintensif II adalah perawatan pasien dengan observasi kurang


ketat sampai dengan 72 jam. Prinsip tindakan pada fase II adalah
observasi lanjutan dair fase kritis (intensif I), dan mempertahankan
pencegahan cidera pada pasien, orang lain, dan lingkungan.
FASE III (72 JAM-10 HARI)
• Pada fase intensif III, pasien dikondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi
menjadi lebih berkurang dan tindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan
rehabilitasi.
• Prinsip tindakan pada fase iii observasi lanjutan dari fase akut (intensif ii) dan
memfasilitasi perawatan mandiri klien. Kolaborasi yang dapat dilakukan dengan
memberikan obat-obatan standar medik sesuai program terapi, yaitu obat oral
seperti haloperidol 5 mg 3x1 tablet/ hari, dan artane atau arkine 2 mg 3x1 tablet/
hari.
IMPLEMENTASI DAN TAK
PADA KLIEN DENGAN
RPK
IMPLEMENTASI RPK
- IMPLEMENTASI KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN
DILAKSANAKAN SESUAI TINDAKAN KEPERAWATAN YANG TELAH DISUSUN DAN
TERTUANG DALAM SP (STRATEGI PELAKSANAAN).
- SETELAH DILAKUKAN IMPLEMENTASI, DILANJUTKAN DENGAN EVALUASI TERHADAP
KEMAMPUAN PASIEN DAN KELUARGA, DAN KEMAMPUAN PERAWAT, KEMUDIAN
DIDOKUMENTASIKAN DENGAN MENGGUNAKAN FORMAT BERDASARKAN BUKU
CMHN (BASIC COURSE)
(KELIAT,AKEMAT, & HELENA, 2011).
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
KLIEN DENGAN RPK

- SP 1 PASIEN -> MEMBINA HUBUNGAN SALING PERCAYA, IDENTIFIKASI PENYEBAB,


TANDA DAN GEJALA, PK YANG DILAKUKAN, AKIBAT PK, CARA MENGONTROL PK,
DAN MEMPRAKTIKAN LATIHAN CARA FISIK I
- SP 2 PASIEN -> PASIEN DAPAT MEMPRAKTIKKAN LATIHAN CARA FISIK II
- SP 3 PASIEN -> PASIEN DAPAT MEMPRAKTIKKAN CARA LATIHAN VERBAL,
MEMPRAKTIKKAN LATIHAN CARA SPIRITUAL, MEMPRAKTIKKAN LATIHAN CARA
MINUM OBAT
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
KLIEN DENGAN RPK
SP 1 PASIEN
• Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab, tanda dan gejala, PK yang
dilakukan, akibat PK, cara mengontrol PK, dan mempraktikan latihan cara fisik I
SP 2 PASIEN
• Pasien dapat Mempraktikkan latihan cara fisik II

SP 3 PASIEN
• Pasien dapat Mempraktikkan cara latihan verbal, Mempraktikkan latihan cara spiritual,
Mempraktikkan latihan cara minum obat
STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
KLIEN DENGAN RPK
SP 1 KELUARGA
• Keluarga dapat Menyebutkan pengertian PK dan proses terjadinya masalah PK
dan Menyebutkan cara merawat pasien PK
SP 2 KELUARGA
• Keluarga dapat Mempraktikkan cara merawat pasien PK

SP 3 KELUARGA
• Keluarga dapat Membuat jadwal aktifitas dan minum obat untuk klien
TAK
(TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK)
- Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu
tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu.
- Fokus terapi kelompok adalah meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), meningkatkan
hubungan interpersonal, membuat perubahan atau ketiganya.
- Terapi aktifitas kelompok dibagi sesuai kebutuhan yaitu, stimulasi persepsi, stimulasi sensori,
orientasi realita, dan sosialisasi.
TAK
(TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK)
- Pada klien dengan resiko perilaku kekerasan dilakukan TAK stimulasi persepsi.
- Tak stimulasi persepsi dilaksanakan dengan melatih klien mempersiapkan stimulus yang
disediakan atau stimulus yang pernah dialami.
- Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi.
- Dengan proses ini, diharapkan respons klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan
menjadi adaptif.
- Terdapat 5 tak yang dapat dilakukan pada klien dengan resiko perilaku kekerasan
TAK PADA KLIEN RPK
SESI 1: Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan

SESI 2 : Mencegah Perilaku Kekerasan Secara Fisik

SESI 3 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Cara Interaksi Sosial Asertif


(Cara Verbal)

SESI 4 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Cara Spiritual

SESI 5 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengonsumsi Obat


DAFTAR PUSTAKA
• Anugerah, P. 1994. Farmakologi: pendekatan proses keperawatan. Jakarta: EGC
• Herdman, T. H., Dan shigemi, K. (Ed). (2019). NANDA-I diagnosis keperawatan definisi
dan klasifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC.
• Keliat, B. A. & Akemat (2007). Model praktik keperawatan professional jiwa. Jakarta:
EGC.
• Keliat, B. A. Dkk (2007). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas: CMHN (basic course).
Jakarta: EGC.
• Keliat, B. A., Daulima, N. H. C., Dan farida, P. (2019). Manajemen keperawatan psikososial
dan kader kesehatan jiwa CMHN (intermediete course). Jakarta : EGC.
DAFTAR PUSTAKA
• Nanda. (2017). NANDA international nursing diagnoses: definitions and classifications
2018-2020 eleventh edition. New york: thieme medical publishers, inc
• Nurhalimah, (2016). Modul bahan ajar cetak keperawatan; keperawatan jiwa. Jakarta :
PPSDM kemenkes RI
• Stuart, G. W. ( 2012 ). principles and practice of psychiatric nursing. 10th ed. St. Louis:
elsivier mosby
• Tim pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan indonesia. Edisi 1.
Jakarta: dewan pengurus pusat persatuan perawat nasional indonesia.
• Yusuf, rizky fitryasari PK, hanik endang nihayati. (2015). Buku ajar keperawatan jiwa.
Jakarta: penerbit salemba medika