Anda di halaman 1dari 50

KARSINOMA

MAMMAE
-FG 1-
Suhirman
Nur Ikhsan
Tetty Nurkayani
Visya
Astri
Iif
Rofi
KASUS …

Seorang perempuan usia 68 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan terdapat benjolan pada
payudara kiri yang baru disadari sejak 5 bulan yang lalu. Saat itu benjolan masih teraba kecil sekitar
± 2cm. setelah itu dilakukan biopsi diperoleh kesan: carcinoma mammae. Pasien kemudian dilakukan
operasi mastektomi radikal modifikasi (MRM) sinistra. Pada saat pengkajian hari ke 2 post operasi,
klien mengeluh nyeri di tangan kiri. Klien tidak berani menggerakkan tubuh dan saat ini hanya
berani untuk tidur dalam posisi terlentang. Hasil pengkajian: TD 130/85mmHg, frekuensi nadi 95
kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit.Dokter merencanakan untuk melakukan kemoterapi pasca
operasi, namun pasien masih belum menyetujui dengan alasan khawatir akan dampak kemoterapi.
OUTLINE

Konsep Dasar Ca Mammae

Asuhan Keperawatan Ca Mammae


KONSEP DASAR CA MAMMAE
DEFINISI
• Kanker Payudara adalah pertumbuhan abnormal sel-
sel payudara yang terkadang dapat dirasakan sebagai
benjolan atau massa yang disebut tumor.
• Kanker Payudara terbentuk ketika sel-sel di dalam
payudara tumbuh tidak normal dan tidak terkendali
(Lewis, Dirksen, Heitkemper, & Bucher, 2013)
• Kanker bisa terbentuk di kelenjar yang menghasilkan
susu (lobules) atau di saluran (ductus) yang membawa
air susu dari kelenjar ke puting payudara.
KLASIFIKASI KARSINOMA MAMMAE:
Kanker payudara dibagi menjadi kanker yang belum menembus membrane basal (non invasif) dan kanker yang
sudah menembus membrane basal (invasive). Selain itu kanker payudara juga dapat diklasifikasikan berdasarkan
lokasi kanker, yaitu ductul karsinoma dan lobules karsinoma.
Non invasif Invasif
• Karsinoma ductus in situ (DCIS: • Karsinoma ductus invasive
karsinoma intraduktus) • Karsinoma lobules invasive
• Karsinoma lobules in situ (LCIS) • Karsinoma medularis
• Karsinoma koloid (karsinoma
musinosa)
• Karsinoma tubulus
• Tipe lain
PENYEBARAN
KARSINOMA MAMMAE
PENETUAN STADIUM
KARSINOMA PAYUDARA
(AMERICAN JOINT
COMMITTEE ON CANCER,
2010):
Prognosis karsinoma payudara dipengaruhi oleh:
• Ukuran karsinoma primer
• Keterlibatan kelenjar getah bening dan jumlah kelenjar getah bening yang terkena metastasis
• Derajat karsinoma
• Tipe histologic karsinoma
• Invasi limfovaskuler
• Ada/ tidaknya reseptor estrogen atau progesterone
• Laju proliferasi kanker
• Aneuploidi (kandungan DNA abnormal)
• Ekspresi berlebihan ERBB2
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Radiografi: mammografi digital, diagnosis berbantu computer (CAD)
• Aspirasi jarum halus
• Biopsy terpandu jarum stereotaktik
• Ultrasound core biopsy
• Biopsi terbuka
• Bone scan
• MRI/ CT Scan
PENATALAKSANAAN PADA CARSIMOMA MAMMAE

 PEMBEDAHAN:

 MASTEKTOMI RADIKAL MODIFIKASI (MRM):


Tindakan pengangkatan tumor payudara dan seluruh payudara
termasuk kompleks puting-areola, disertai diseksi kelenjar getah
bening aksilaris level I sampai II secara en bloc, namun m. pectoralis mayor tetap
dipertahankan.

 MASTEKTOMI RADIKAL KLASIK


Operasi ini saat ini digunakan bagi tumor –tumor yang melibatkan m.pectoralis atau kanker
payudara yang melibatkan dingding dada.
 MASTEKTOMI DENGAN TEKNIK ONKOPLASTI
rekonstruksi payudara dapat dilakukan dengan mengunakan jaringan autolog
seperti prosthesisi seperti silikon
 MASTEKTOMI SIMPEL/TOTAL
Indikasi:
Tumor phylodes besar
Keganasan payudara stadium lanjut dengan tujuan paliatif menghilangkan tumor
Penyakit Paget tanpa massa tumor.
 MASTEKTOMI SUBKUTAN
Indikasi:
Mastektomi Profilaktik
Prosedur onkoplasti
 BREAST CONSERVING THERAPY (BCT)
INDIKASI:
• Kanker payudara stadium III dengan respon parsial setelah terapi NEoajuvan.
• Kanker payudara stadium I dan II.
 SALFINGO OVARIEKTOMI BILATERAL (SOB)
 METASTASEKTOMI.
INDIKASI: -TUMOR METASTASIS TUNGGAL PADA SATU ORGAN
 TERAPI SISTEMIK
Kemoterapi yang diberikan dapat berupa obat tunggal atau berupa gabungan
beberapa kombinasi obat kemoterapi.
 TERAPI HORMONAL
Pemeriksaan imunohistokimia memegang peranan penting dalam menentukan pilihan kemo atau
hormonal.
Terapi hormonal diberikan pada kasus-kasus dengan hormonal positif.
 TERAPI TARGET
• Pemberian terapi anti target hanya diberikan di rumah sakit tipe A/B
• Lebih diutamakan pada kasus stadium dini dan yang mempunyai prognosis baik
 RADIOTERAPI
Radioterapi dalam tatalaksana kanker payudara dapat diberikan sebagai terapi kuratif ajuvan dan paliatif

 TARGET RADIASI
Pendefinisian target radiasi untuk radioterapi 2 dimensi menggunaan prinsip penanda tulang dan batas-batas anatomi.

 RADIOTERAPI PALIATIF:
- BERMETASTASES KE TULANG DAN MENIMBULKAN RASA NYERI.
- METASTASES OTAK
- KANKER PAYUDARA INOPERABLE YANG DISERTAI ULKUS BERDARAH DAN BERBAU.
- KANKER PAYUDARA INOPERABLE SETELAH KEMOTERAPI DOSIS PENUH.
PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI
• Patofisiologi carcinoma mammae dimulai dengan beberapa etiologi, seperti paparan
radiasi zat radioaktif, zat kimia tertentu, virus, zat karsinogenik, dan ketidakseimbangan
hormonal (hormon estrogen) yang mempengaruhi proliferasi sel-sel pada payudara.
Pada awalnya hanya terdapat hiperplasia sel dengan perkembangan sel–sel yang atipikal.
Sel–sel ini kemudian berlanjut menjadi karsinoma in situ dan mengivasi stroma. Kanker
membutuhkan waktu 7 tahun untuk tumbuh dari satu sel menjadi massa yang cukup
besar untuk dapat dipalpasi (kira–kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu, sekitar 25%
kanker payudara sudah mengalami metastasis. Penyebaran kanker payudara terjadi
dengan invasi langsung ke arenkim payudara, sepanjang duktus mamaria, pada kulit
permukaan dan meluas melalui jaringan limfatik payudara.Kelenjar getah bening regional
yang terlibat adalah aksilaris, mamaria interna, dan kelenjar supraklavikular (Price &
Wilson, 2014).
MANIFESTASI KLINIS PRE-OPERATIF ATAU PRE TINDAKAN TATALAKSANA
• Retraksi putting susu dan lesi yang terfiksasi pada dinding dada.
• Massa teraba tunggal atau soliter dalam satu payudara, bentuknya tidak teratur, lebih keras,
tidak berbatas tegas, terikat pada kulit atau jaringan di bawahnya, dan biasanya tidak ada nyeri
tekan.
• Penonjolan vena yang meningkat.
• Terjadinya inversi puting susu.
• Adanya peau d’Orange seperti orange peel, pori pori membesar, kulit menebal, susah
digerakkan dan terjadi perubahan warna
• Sindrom Paget’s yaitu eritema puting susu dan areola, kulit menebal, bersisik dan erosi putting
susu serta areola
• Metastasis ke kulit dapat dimanifestasikan oleh lesi yang mengalami ulserasi dan berjamur.
(Smeltzer & Bare, 2010)
MANIFESTASI KLINIS POST OPERATIF (SESUAI KASUS)
Manifestasi klinis yang khusus muncul pada kondisi pasca operasi menurut KPKN Kemenkes RI (2014)
diantaranya adalah:
• Keterbatasan aktifitas: dipengaruhi oleh gangguan mobilitas pada lengan sisi payudara yang mengalami
kesakitan.
• Nyeri pada metastasis tulang
• Gangguan mobilisasi akibat nyeri, metastasis tulang, cedera medula spinalis dan metastasis otak serta tirah
baring lama.
• Gangguan fungsi kardiorespirasi akibat metastasis paru dan efek terapi (fibrosis paru pascakemoradiasi dan
kardiomiopati pascakemoterapi)
• Sindrom dekondisi akibat tirah baring lama
• Gangguan pemrosesan sensoris pada neuropati pasca tindakan operasi.
TTV KLIEN PADA KASUS, APAKAH NORMAL?
• Tekanan darah klien pada kasus didapati data 130/85mmHg, terkait dengan usia klien yang telah mencapai 68
tahun, maka tekanan darah klien masih termasuk kategori normal, bedasarkan referensi The Merck Manual of
Geriatrics, tekanan darah cenderung meningkat untuk sebagian besar orang berusia 65 tahun ke atas (Jeanne
Troncao, MS, LMT, 2010).
• Tanda-tanda vital klien lainnya yang berupa denyut nadi dan frekuensi pernafasan juga masih dalam rentang
normal.
• Keabnormalan data pemeriksaan fisik mungkin didapatkan jika nyeri yang dirasakan klien sudah tidak dapat ia
tolerir lagi. Mengingat klien mengidap kanker payudara, ambang nyeri klien mungkin saja sudah berubah, karena
sebelum operasi pun nyeri dengan skala tinggi telah dirasakan oleh klien, untuk itu, pada kondisi post operasi,
walau klien mengaku nyeri, akan tetapi nyeri yang dirasakan masih dapat dikompensasi oleh tubuhnya, sehingga
tanda-tanda vital klien masih dalam rentang normal.
ASUHAN KEPERAWATAN CA MAMMAE
PENGKAJIAN
1. Identitas klien
• Nama : Ny. x

• Usia : 68 tahun

• Jenis Kelamin : Perempuan

2. Keluhan utama klien


• Klien mengeluh nyeri di tangan kiri dan tidak berani menggerakkan tubuh.

3. Komponen pemeriksaan

Riwayat kesehatan
• Terdapat benjolan pada payudara kiri yang baru disadari sejak 5 bulan yang lalu. Saat itu benjolan masih teraba
kecil sekitar ± 2cm. setelah itu dilakukan biopsi diperoleh kesan: carcinoma mammae.
Pola kesehatan fungsional
Aktifitas dan istirahat
• Subjektif :
Klien mengatakan tidak berani menggerakkan tubuh dan saat ini hanya berani untuk tidur dalam posisi
terlentang. Mengatakan tidak bisa tidur dan sering terbangun karena nyeri
• Objektif :
Tampak membatasi aktifitas dan tidak berani menggerakan tubuhnya.Tampak tidur terlentang

Sirkulasi
• Subjektif :-
• Objektif :
TD 130/85mmHg, frekuensi nadi 95 kali/menit
Integritas ego
• Subjektif :
Mengatakan khawatir karena akan dilakukan kemotherapi setelah dilakukan operasi, dan tidak mengetahui dampak
kemotherapi.
• Objektif :-

Eliminasi
• Subjektif : tidak ditemukan keluhan
• Objektif : tidak ditemukan data

Makanan dan cairan


• Subjektif : tidak ditemukan keluhan
• Objektif : tidak ditemukan data
Neuro sensori
• Subjektif :-
• Objektif :
Kesadaran compos mentis ; GCS= 15 (E: 4, M: 6,V: 5)

Nyeri/kenyamanan
• Subjektif :
klien mengeluh nyeri di tangan kiri. Skor nyeri 3 /VAS
• Objektif :
Pasien post operasi mastektomi radikal modifikasi (MRM) sinistra hari ke2. Klien tampak tidak berani menggerakkan
tubuh
Klien tampak melindungi bagian tangan yang nyeri ketika perawat hendak memeriksanya
Ekspresi wajah klien tampak meringis
Pernafasan
• Subjektif : Mengatakan sulit saat bernafas karena nyeri
• Objektif : frekuensi napas 20 kali/menit
Keamanan
• Subjektif : tidak ditemukan keluhan
• Objektif : tidak ditemukan data
Seksualitas
• Subjektif : Pasien merasa khawatir karena payudaranya sudah diangkat satu.
• Objektif : Pasien post operasi mastektomi radikal modifikasi (MRM) sinistra hari ke2
Interaksi sosial

• Subjektif : tidak ditemukan keluhan


• Objektif : tidak ditemukan data
Penyuluhan dan pembelajaran
• Subjektif : Klien mengatakan belum mengetahui dampak kemoterapi yang
akan dilakukan
Klien mengatakan tidak mengetahui tentang kemoterapi
• Objektif : Pasien direncanakan kemoterapi. Pasien belum menyetujui
tindakan kemoterapi yang akan dilakukan.
DATA FOKUS
DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
 Klien mengeluh nyeri di tangan kiri Skor nyeri 3 • TD 130/85mmHg, frekuensi nadi 95 kali/menit,
/VAS frekuensi napas 20 kali/menit
 Mengatakan sulit saat bernafas karena nyeri • Pasien post operasi mastektomi radikal modifikasi
 Klien mengatakan tidak berani menggerakkan (MRM) sinistra hari ke2.
tubuh dan saat ini hanya berani untuk tidur dalam • Klien tampak tidak berani menggerakkan tubuh
posisi terlentang. Mengatakan tidak bisa tidur dan • Klien tampak melindungi bagian tangan yang nyeri
sering terbangun karena nyeri ketika perawat hendak memeriksanya
 Pasien merasa khawatir karena payudaranya sudah • Ekspresi wajah klien tampak meringis
diangkat satu. • Kesadaran compos mentis
 Klien mengatakan belum mengetahui dampak • GCS= 15 (E: 4, M: 6, V: 5)
kemoterapi yang akan dilakukan • Pasien direncanakan kemoterapi. Pasien belum
menyetujui tindakan kemoterapi yang akan
dilakukan.
Analisis Data
Data Etiologi Dx. Kep
DS: Agen Nyeri
1. Klien mengeluh nyeri pada bagian tangan kiri post op hari kedua dengan Cedera Akut
skala nyeri 3 Fisik
2. Klien mengatakan dirinya tidak berani menggerakan tubuh
Data tambahan:
1. Klien mengatakan tidak bisa tidur karena nyeri
DO:
1. Klien tampak tidak berani menggerakkan tubuh dan saat ini hanya berani
untuk tidur dalam posisi terlentang.
2. TD 130/85mmHg, frekuensi nadi 95 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit.
Data tambahan:
1. Klien tampak melindungi bagian tangan yang nyeri ketika perawat hendak
memeriksanya
2. Ekspresi wajah klien tampak meringis
3. Klien terdengar mengerang kesakitan
Data Etiologi Diagnosis

DS: Faktor mekanis Kerusakan integritas

- (pengangkatan kulit & jaringan


jaringan secara bedah)
DO:

Klien Post Op MRM hari kedua


DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik


2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanis
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, ketidaknyamanan, menolak
untuk berupaya bergerak
4. Ansietas berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ancaman akan perubahan pada
payudara dan seksualitas
INTERVENSI: NYERI AKUT
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah dapat teratasi dengan kriteria hasil:
• Mengungkapkan Penurunan nyeri
• Klien tampak rileks dan dapat tidur nyenyak
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji adanya laporan nyeri dan perubahan sensori 1. Memeriksa tingkat ketidaknyamanan, otot, dan sistem
limfa dan memperjelas kebutuhan untuk analgesia serta
mengevaluasi keefektifan
2. Perhatikan lokasi, durasi, dan intensitas nyeri 2. Jumlah jaringan, otot, dan sistem limfatik yang diangkat
dapat memengaruhi intensitas yang dialami.
3. Perhatikan adanya laporan kekakuan, pembengkakan, dan 3. Kebutuhan untuk meninggikan lengan, ukuran, balutan,
mati rasa atau rasa tebakar di dada, bahu, dan lengan yang dan adanya drain semuanya memengaruhi kemampuan
terganggu klien untuk relaks dan istirahat tidur secara efektif.
4. Jelaskan penyebab nyeri pada klien 4. Memberi pemahaman tentang perubahan sensori.
Kerusakan saraf di area aksila menyebabkan mati rasa
di lengan atas dan area skapula, yang mungkin lebih
tidak dapat ditoleransi daripada nyeri bedah. Nyeri di
dinding dada dapat terjadi akibat ketegangan otot,
yang dipengaruhi oleh panas dan dingin yang ekstrem,
dan berlanjut selama beberapa bulan.

5. Berikan kenyamanan dasardan aktivitas 5. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali


diversional. Dorong ambulasi dini dan perhatian jauh dari ketidaknyamanan, dan dapat
penggunaan teknik relaksasi, imajinasi meningkatkan kemampuan koping.
terbimbing, dan sentuhan terapeutik

6. Berikan medikasi nyeri yang tepat pada jadwal 6. Mempertahankan tingkat kenyamanan dan
yang teratur sebelum nyeri bertambah hebat memungkinkan klien untuk melatih lengan dan
dan sebelum penjadwalan aktivitas. ambulasi tanpa nyeri yang menghambat usaha
7. Jelaskan efek merugikan dari nyeri yang tidak 7. Menjelaskan komplikasi akibat nyeri yang buruk
teratasi baik secara fisiologis dan emosi (NCI, 2012).

8. Memberi metode pereda nyeri untuk digunakan


8. Diskusikan metode koping yang sebelumnya berdasarkan pengalaman sebelumnya
berhasil untuk mengatasi nyeri

Kolaborasi
9. Berikan PCA, opioid, atau nonopioid sesuai indikasi 9. Memberikan peredaan dari ketidaknyamanan atau nyeri
dan memfasilitaso istirahat dan partisipasi dalam terapi
pascaoperasi
INTERVENSI: KERUSAKAN INTEGRITAS JARINGAN
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah dapat teratasi dengan kriteria hasil:
• Mengungkapkan pemahaman tentang rencana terapi untuk meningkatkan penyembuhan luka
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji jumlah dan karakteristik drainase dan balutan 1. Penggunaan balutan bergantung pada tingkat pembedahan dan
luka jenis penutupan luka. Balutan bertekanan biasanya dipasang pada
awalnya dan diperkuat, bukan diganti. Drainase terjadi karena
trauma prosedur dan manipulasi sejumlah pembuluh darah dan
limfatik di area tersebut.

2. Lakukan perawatan drain, libatkan klien/keluarga 2. Keterlibatan keluarga dapat mengurangi kekhawatiran
dalam proses tersebut klien/keluarga

3. Pantau Suhu dan tanda infeksi 3. Deteksi dini infeksi akan memungkinkan pemberian terapi yang
cepat dan tepat
4. Cegah atau minimalkan edema pada lengan yang 4. Mengurangi ketidaknyamanan dan komplikasi
mengalami gangguan terkait

5. Tinggikan tangan dan lengan di wedges atau 5. Mencegah terjadinya limfeedema


bantal, sesuai indikasi

6. Hindari mengukur tekanan darah, menyuntikkan 6. Mengurangi tekanan pada jaringan yang terganggu
medikasi, atau memasang jalur intarvena di lengan
yang terganggu

Kolaborasi:
7. Berikan antibiotik, jika diindikasikan 7. Memberikan profilaksis untuk mengatasi infeksi dan
meningkatkan penyembuhan
INTERVENSI: HAMBATAN MOBILITAS FISIK
Dx. Kep. Tujuan Intervensi Rasional
Hambatan  Mobilitas Fisik 1. Identifikasi adanya 1. Klien harus mendapatkan penjelasan
mobilitas fisik nyeri atau keluhan fisik rekomendasi dan pilihan terapi sebelum
meningkat, dengan dimulai pembedahan atau terapi.
lainnya 2. Rencana ini meliputi aktivitas prabedah,
kriteria hasil:
2. Identifikasi toleransi penjelasan bedah, perawatan pasca bedah,
 Pergerakan ekstremitas rencana kepulangan dan diskusi mengenai
fisik melakukan
meningkat* keterbatasan klien yang dapat dialami kibat
pergerakan pembedahan
 Kekuatan otot meningkat* 3. Monitor frekuansi 3. Memberi pengetahuan dasar sehingga pasien
 Rentang gerak (ROM) jantung dan tekanan mampu membuat pilihan berdasarkan
informasi yang masuk termasuk
meningkat* darah sebelum memulai berpartisipasi dalam radiasi /program
 Nyeri menurun* mobilisasi kemoterapi

 Kecemasan menurun*
 Kaku sendi menurun*
Dx kep. Tujuan Intervensi Rsional
Hambatan  Mobilitas Fisik 1. Monitor kondisi umum 1. Memberikan nutrisi optimal dan
mobilitas fisik selama melakukan mempertahankan volume sirkulasi untuk
meningkat, dengan meningkatkan regenerasi jaringan/ proses
mobilisasi penyembuhan
kriteria hasil:
2. Jelaskan tujuan dan prosedur 2. Mencegah kelelahan. Duduk dengan
 Pergerakan ekstremitas lengan dan kepala ekstensi menekan
mobilisasi
meningkat* struktur yang sakit, menimbulkan
3. Anjurkan melakukan ketegangan otot, dapat mempengaruhi
 Kekuatan otot mobilisasi dini penyembuhan
meningkat* 4. Ajarkan mobilisasi 3. Mempengaruhi system limfatik sehingga
menyebabkan jaringan rentan infeksi dana
 Rentang gerak (ROM) sederhana yang harus tau cidera yang dapat menimbulkan
meningkat* dilakukan (mis. duduk di limfedema
tempat tidur, duduk di sisi 4. Dengan membatasi sirkulasi dan
 Nyeri menurun* meningkatkan resiko infeksi bila system
tempat tidur, pindah dari limfatik menurun
 Kecemasan menurun*
tempat tidur ke kursi
 Kaku sendi menurun*
INTERVENSI: ANSIETAS
Dx kep. Tujuan Intervensi Rasional
ansietas Tingkat Ansietas 1. Jelaskan tentang 1. Klien harus mendapatkan
menurun, dengan penjelasan rekomendasi dan
kriteria hasil: pilihan pilihan terapi pilihan terapi sebelum
Verbalisasi yang tersedia. dimulai pembedahan atau
kebingungan terapi.
menurun*
Verbalisasi khawatir 2. Inisiasi rencana
akibat kondisi yang 2. Rencana ini meliputi aktivitas
dihadapi menurun* pengajaran tentang prabedah, penjelasan bedah,
Perilaku gelisah perawatan pasca perawatan pasca bedah,
menurun* rencana kepulangan dan
Perilaku tegang operasi diskusi mengenai
menurun* keterbatasan klien yang
dapat dialami kibat
pembedahan
Dx Tujuan Intervensi Rsional
keperawatan
Ansietas Tingkat Ansietas 1. Kaji prosespenyakit, prosedur 1. Memberi pengetahuan dasar sehingga
menurun, dengan kriteria pasien mampu membuat pilihan
hasil: pembedahan dan harapan yang berdasarkan informasi yang masuk
Verbalisasi kebingungan akan datang termasuk berpartisipasi dalam radiasi
menurun* /program kemoterapi
Verbalisasi khawatir 2. Diskusikan perlunya 2. Memberikan nutrisi optimal dan
akibat kondisi yang keseimbangan kesehatan , mempertahankan volume sirkulasi
dihadapi menurun* untuk meningkatkan regenerasi
Perilaku gelisah nutrisi, makan dan pemasukan jaringan/ proses penyembuhan
menurun* cairan yang adekuat 3. Mencegah kelelahan. Duduk dengan
Perilaku tegang lengan dan kepala ekstensi menekan
menurun* 3. Anjurkan pilihan jadwal struktur yang sakit, menimbulkan
istirahat sering dan periode ketegangan otot, dapat mempengaruhi
penyembuhan
aktifitas khususnya situasi saat
duduk lama
Dx keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Ansietas Tingkat Ansietas 1. Anjurkan untuk melindungi tangan dan 1. Mempengaruhi system
menurun, dengan kriteria lengan bila : berkebun menggunakan limfatik sehingga
hasil: menyebabkan jaringan
Verbalisasi kebingungan sarung tangan bila menjahit, rentan infeksi dana tau
menurun* menggunakan pengalas bila memegang cidera yang dapat
Verbalisasi khawatir benda panas, gunakan sarung tangan menimbulkan limfedema
akibat kondisi yang 2. Dengan membatasi
dihadapi menurun* plastic saat mencuci, jangan bawa sirkulasi dan
Perilaku gelisah menurun* dompet atau menggunakan perhiasan/jam meningkatkan resiko
Perilaku tegang tangan pada sisi yang sakit infeksi bila system
menurun* limfatik menurun
2. Waspadai dalam pengambilan darah atau
pemberian cairan intra vena/ obat atau
pengukuran tekanan darah pada sisi yang
sakit
INTERVENSI: GANGGUAN CITRA TUBUH
Dx. Kep. TUJUAN INTERVENSI RASIONALISASI

Gangguan Klien memperlihatkan 1.Beri kesempatan pada klien 1.Klien dapat merasakan manfaat
citra citra tubuh yang positif , untuk mengekspresikan dari konsultasi serta menggali
tubuh dibuktikan dengan perasaan feminitas dan cara apakah klien mau berbicara pada
penggunaan riasan yang dimana dia dapat seseorang yang mengalami
biasa dan pakaian tidur menunjukkan adaptasi positif prosedur serupa
miliknya sendiri atau terhadap pembedahan. 2.Klien akan mengalami
perlengkapan yang 2.kaji strategi koping perubahan rutinitas kehidupan,
feminism lainnya setelah 3.Dorong aktifitas perawatan interaksi social, konsep diri dan
pembedahan mandiri citra tubuh serta rasa takut akan
4.Jelaskan kemungkinan kematian
kekhawatiran akan citra 3.Aktifitas efektif sangan penting
tubuh setelah kepulangan untuk keberhasilan rehabilitasi
psikososial dan fisik.
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONALISASI
Gangguan citra Klien 1.sarankan klien mengenakan bra 1.Banyak klien terkejut akan
tubuh memperlihatkan dengan satu atau dua kaus kaki kejadian seperti nyeri,
citra tubuh yang katun sampai prostesis dipasang ketidaknyamanan, kelelahan,
positif , dibuktikan dalam 6 hingga 8 minggu penyembuhan insisi lambat,
dengan penggunaan 2.Advokasi klien itu dan pasangan pembengkakan lengan.
riasan yang biasa seksual secara terbuka 2.Padding bra memberikan
dan pakaian tidur mengungkapkan satu sama lain penampilan luar bahwa klien
miliknya sendiri bagaimana operasi telah memiliki kedua payudara. Membeli
atau perlengkapan mempengaruhi mereka secara bra palsu ditunda sampai jaringan
yang feminism emosional sembuh
lainnya setelah 3.Diskusikan metode untuk berurusan 3.Komunikasi yang terbuka
pembedahan dengan payudara yang dilepas memfasilitasi pemahaman normal
selama aktivitas seksual seperti dan penerimaan terhadap
menggunakan pencahayaan siang perubahan
hari selama hubungan seksual atau
mengenakan pakaian bagian atas.
IMPLEMENTASI

• Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana asuhan keperawatan.


• Sebelum tindakan keperawatan diimplementasikan perawat perlu memvalidasi apakah
rencana tindakan yang ditetapkan masih sesuai dengan kondisi pasien saat ini (here and
now).
• Pada akhir implementasi, dokumentasikan apa yang telah dilaksanakan.
EVALUASI (PENCAPAIAN SEBELUM PULANG)

• Situasi dapat teratasi secara realistis


• Komplikasi dapat dicegah atau diminimalkan
• Program latihan fisik dilakukan, proses penyakit, prosedur bedah, prognosis, dan regimen
terapeutik (termasuk kemoterapi) dapat dipahami

(Doenges, 2014)
DAFTAR PUSTAKA
• Brunner & Suddarth, (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 2.Jakarta EGC

• Doenges, Marilyn E. 2009. Rencana Asuhan keperawatan. Ed. 3. Jakarta: EGC

• Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2014). Nursing Care Plans : Guidelines For Individualizing Client Care Across The Life Span, Ninth Edition. Philadelphia: F.A. Davis Company.

• Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. alih bahasa Angelina, B. (2014). Rencana Asuhan Keperawatan Volume 2. Jakarta: EGC.

• Harbeck, N., & Gnant, M. (2017). Breast cancer. The Lancet, 389(10074), 1134-1150. doi:10.1016/S0140-6736(16)31891-8

• Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2017). NANDA-I Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC

• Jeanne Troncao, MS, LMT (2010). Normal Blood Pressure Range for 70 Year Old. Diakses tanggal 16 November 2019 dari https://www.livestrong.com/article/202698-normal-blood-pressure-range-for-
70-year-old/

• Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) merupakan Komite yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK 02.02/MENKES/389/2014 pada
17 Oktober 2014

• Lewis, S. L., Dirksen, S. R., Heitkemper, M. M., & Bucher, L. (2014). Medical-Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical Problems, Ninth Editions. Missouri: Elsevier Mosby.

• Smeltzer, et al (2010). Brunner and Suddarths - Medical-Surgical Nursing 12th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins.

• Timby, Barbara K, 2010 Introductiory Medical Surgical Nursing Seventh Edition Lipincott, Phildelpia New York.