Anda di halaman 1dari 13

JOURNAL READING

Ratu Hendriani
406181033

Pembimbing:
dr Ardian Noor Wicaksono, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN THT
PERIODE 18 November-22 Desember 2019
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RAA SOEWONDO PATI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
JOURNAL IDENTITY

TITLE:
Vitamin D Levels in Children With Recurrent Aphthous Stomatitis

WRITERS:
Burc¸in Nalbantoglu, MD , and Ays¸in Nalbantoglu, MD

DEPARTEMENTS:
Department of Pediatrics, Namik Kemal University, Tekirdag 59100, Turkey.

JOURNAL
DOI :10.1177/0145561319882783

PUBLISHED ONLINE:
October 20, 2019

2
PENDAHULUAN
 Stomatitis aftosa berulang adalah salah satu penyakit mukosa mulut yang
paling umum.
 Mempengaruhi 5%-25% dari populasi, kebanyakan wanita dan dalam
kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi.
 Lesi idiopatik ini ditandai dengan serangan nyeri berulang. Bersifat kronis
dan biasanya sembuh sendiri pada pasien imunokompeten.
 Etiologi masih belum jelas, tetapi trauma lokal, stres emosional, alergi,
paparan racun, kebersihan mulut yang buruk, defisiensi vitamin, dan
perubahan flora oral didefinisikan sebagai faktor risiko.
 Lesi terasa nyeri dan ukurannya berkisar dari 1 mm hingga beberapa cm.
3
PENDAHULUAN
 Ukuran lesi adalah salah satu kriteria diagnostik yang digunakan dalam klasifikasi,
yang dibagi menjadi 3 kategori: mayor, minor, dan herpetiform.
 Minor : sekitar 80%-85% dari kasus dan ditandai oleh 1 hingga 5 erosi dengan
diameter lebih kecil dari 1 cm, penyembuhan secara spontan dalam 5-10 hari
tanpa jaringan parut.
 Mayor : terjadi sebagai lesi yang tahan lama, diameter lebih besar dari 1 cm
dan meninggalkan bekas luka.
 Vitamin D adalah hormon steroid dan memainkan peran penting dalam
metabolisme kalsium, tetapi baru-baru ini, bukti yang muncul menunjukkan bahwa
vitamin D memainkan peran penting dalam regulasi kekebalan.
 Reseptor vitamin D telah ditemukan di sebagian besar tipe sel imun, termasuk sel
yang mempresentasikan antigen, seperti makrofag dan sel dendritik, dan sel T.
4
PENDAHULUAN
 Sebagai pengatur keseimbangan mineral dan metabolisme jaringan tulang
dan agen antiinflamasi dan imunomodulasi yang kuat, vitamin D dapat
secara signifikan mempengaruhi homeostasis rongga mulut.
 Peran vitamin D sebagai pengubah kondisi autoimunologis rongga mulut
sangat penting.
 Hanya ada beberapa penelitian yang dilakukan pada populasi orang
dewasa untuk menyelidiki kemungkinan hubungan vitamin D dan
stomatitis aftosa berulang.
 Sejauh yang diketahui, belum ada penelitian yang dilakukan pada
populasi anak tentang potensi peran vitamin D dalam stomatitis aftosa
berulang hingga saat ini.
5
TUJUAN
Untuk menentukan status vitamin D pada stomatitis aftosa
berulang pada anak-anak..

6
METODE
Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dari Januari 2014 hingga Januari
2019
KRITERIA INKLUSI
Pasien berusia antara 3 dan 12 tahun dengan riwayat yang divalidasi
minimal 3 episode stomatitis aftosa berulang idiopatik minor dalam 12
bulan sebelumnya dimasukkan, hanya lesi aphthous minor dengan
diameter <1 cm.
KRITERIA EKSKLUSI
Pasien berusia < 3 tahun atau > 12 tahun, dengan penyakit sistemik atau
kronis, penggunaan suplemen vitamin D dalam 6 bulan terakhir, dan
7
stomatitis aftosa mayor atau herpetiform.
METODE
Pasien dibagi menjadi dua kelompok
1. Kelompok studi: 76 anak-anak dari kedua jenis kelamin (41 perempuan
dan 35 laki-laki) berusia antara 3 dan 12 tahun dengan stomatitis aftosa
minor berulang
2. Kelompok kontrol: 70 anak-anak sehat yang sesuai usia (34
perempuan dan 36 laki-laki) .

8
ANALISIS STATISTIK
 Data dianalisis menggunakan SPSS 21 (IBM SPSS, Chicago, Illinois).
 Variabel kontinyu dinyatakan sebagai mean (standar deviasi), variabel ordinal sebagai
median (minimum maksimum), dan sebagai frekuensi dengan persen untuk variabel
kategori.
 Untuk mengevaluasi tingkat normalitas data untuk variabel kontinu digunakan uji
Kolmogorov-Smirnov ; uji w2 digunakan untuk menguji perbedaan dalam variabel kategori
antara 2 kelompok.
 Uji t sampel independen digunakan untuk membandingkan rata-rata variabel kontinu.
Untuk lebih dari 2 kelompok independen, uji Kruskal-Wallis digunakan untuk variabel yang
tidak terdistribusi normal.
 Korelasi Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel yang tidak
terdistribusi normal.
 Korelasi antara variabel yang terdistribusi normal dianalisis dengan koefisien korelasi
Pearson.
 Tingkat signifikan P <0,05 : diterima signifikan.
9
HASIL
72 pasien (39 perempuan, 33 laki-laki) : kelompok kasus (kelompok 1) dan 70 anak
sehat (34 perempuan, 36 laki-laki) dalam kelompok kasus (kelompok 2).
 Usia rata-rata kelompok 1 adalah 8,7 (4,2) tahun dan pada kelompok 2 adalah 7,6 (5,1)
tahun.
 Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara 2 kelompok dalam hal
usia (P = 0.12) dan jenis kelamin (P = 0.6).
 Durasi rata-rata stomatitis aftosa berulang adalah 32 (18-58) bulan, jumlah rata-rata lesi
per pasien adalah 2 (1-5), frekuensi kekambuhan rata-rata adalah 24 (14-90) hari, waktu
penyembuhan rata-rata adalah 5,3 (3,5) hari.
 Tidak ada korelasi yang signifikan antara kadar vitamin D serum dan jumlah lesi
(P=0.76), frekuensi rata-rata rekurensi (P = 0.65), dan waktu penyembuhan rata-rata
(P = 0.966).

10
HASIL
Klasifikasi keparahan dilakukan dengan
saran dari Bagan et al.
Tidak ada korelasi yang signifikan
antara kadar vitamin D serum dan
keparahan stomatitis aftosa berulang (P
= 0,76; Tabel 2).
Kadar vitamin D serum 16,4 (8,6) ng / mL
pada kelompok 1 dan 23,1 (11,5) ng / mL
pada kelompok 2.
Ada perbedaan yang signifikan secara
statistik antara kelompok dalam hal
kadar vitamin D serum (P <0,002; Tabel
3).

11
KESIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kadar vitamin


D antara pasien dengan stomatitis aftosa berulang dan kelompok kontrol
yang sehat, tapi tidak menemukan korelasi antara status vitamin D dan
tingkat keparahan penyakit.

12
THANKS! 