Anda di halaman 1dari 10

KELOMPOK

TELAAH
JURNAL
LATAR BELAKANG

Penyakit diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk


dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya
frekuensi berak- lebih dari biasanya (tiga kali dalam sehari). Di
Indonesia penyakit diare masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama, dimana insidens diare pada tahun
2000 yaitu sebesar 301 per 1000 penduduk, secara proporsional 55 %
dari kejadian diare terjadi pada golongan balita dengan episode diare
balita sebesar 1,0 – 1,5 kali per tahun.
Diare merupakan suatu penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit
potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sangat sering disertai dengan kematian.
Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare dengan jumlah penderita 1.213 orang dan
kematian 30 orang dengan CFR atau Case Fatality Rate sebanyak 2.47%
(Kemenkes RI, 2015).
Anak adalah investasi bangsa karena mereka adalah generasi penerus bangsa.
Kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini.
Gangguan kesehatan yang terjadi pada masa anak-anak dapat mempengaruhi proses
tumbuh kembang anak, khususnya jika gangguan tersebut terjadi pada saluran
pencernaan yang mempunyai peranan penting dalam penyerapan nutrisi yang
diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang anak.
Kejadian diare dapat terjadi di seluruh dunia dan menyebabkan 4% dari semua
kematian dan 5% dari kehilangan kesehatan menyebabkan kecacatan. Diare tetap
menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di negara-
negara Sub-Sahara di Afrika. Faktor risiko untuk diare akut bervariasi berdasarkan
konteks dan memiliki implikasi penting untuk mengurangi beban penyakit. (Berhe,
Mihret, & Yitayih, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya diare meliputi(Suharyono,
2008) :
– Faktor gizi, faktor gizi menujukan bahwa makin buruk gizi anak,
– Faktor makanan Kebersihan makanan ditentukan dari kemampuan ibu dalam
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terhadap makanan dari
proses persiapan,
– Faktor sosial ekonomi,
– Faktor lingkungan,
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Maidartati dan Anggraeni, 2017)
mengenai factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita
ditemukan mengenai faktor makanan pada balita di Puskesmas Babakansari Kota
Bandung menunjukkan bahwa sebagian besar anak (75.0%) memiliki faktor
makanan yang baik, sedangkan sebagian kecil anak (25.0%) memiliki faktor
makanan yang buruk. Hasil uji statistik didapatkan p value (0.000) < 0.05 yang
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor makanan
dengan kejadian diare pada balita
kemudian Statistik Hubungan Penghasilan Orangtua Dengan Kejadian Diare pada
Balita di Puskesmas Babakansari Kota Bandung Berdasarkan hasil penelitian
mengenai faktor sosial ekonomi pada balita di Puskesmas Babakansari Kota
Bandung terkait pendidikan orang tua menunjukkan sebagian besar responden
(63.3%) berpendidikan terakhir adalah SMA/Sederajat, sedangkan sebagian kecil
responden (15.6%) berpendidikan terakhir Diploma/Sarjana. Hasil uji statistic
didapatkan p value (0.004) < 0.05 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara pendidikan orangtua dengan kejadian diare pada balita.
Penelitian yang dilakukan oleh (Hartati &
Nurazila, 2018) mengenai factor yang
mempengaruhi kejadian diare pada balita

a. Hubungan pendidikan dengan kejadian diare menunjukkan hasil dengan Pvalue


yaitu 0,000 < 0,05 yang artinya ada hubungan Pendidikan orang tua dengan
kejadian diare pada balita di Wilayah Puskesmas Rejosari Pekanbaru Tahun 2017,
b. Hubungan pengetahuan dengan kejadian diare menunjukkan hasil dengan nilai P =
0,000 < 0,05 yang artinya ada hubungan Pengetahuan dengan kejadian diare pada
balita di Wilayah Puskesmas Rejosari Pekanbaru.
c. hubungan variabel perilaku cuci tangan dengan kejadian diare menunjukan hasil
dengan nilai yaitu 0,000 < 0,05 yang artinya ada hubungan perilaku cuci tangan
dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Puskesmas Rejosari Pekanbaru.
Gejala yang paling berbahaya dari diare infeksi adalah dehidrasi, yang merupakan
penyebab langsung banyak diare kematian, terutama pada bayi dan
anak kecil (Faure, 2013).
Menurut data (World Health Organization, 2013), diare merupakan penyakit yang
berbasis lingkungan dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia. Setiap
tahunnya ada sekitar 1,7 miliar kasus diare dengan angka kematian 760.000 anak di
bawah 5 tahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia di bawah 3 tahun rata-rata
mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya, diare akan menyebabkan
kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan
penyebab utama malnutrisi pada anak dan menjadi pada tahun 2010 dilaporkan 2,5 juta
kasus diare pada anak diseluruh dunia. Kasus diare terbanyak di Asia dan Afrika kurang
memadainya status gizi pada anak dan kurangnya sanitasi air bersih (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan data United Nation Children’s Fund (UNICEF) dan World Health
Organization (WHO) (World Health Organization, 2013), secara global terdapat dua
juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare. Jumlah penderita Kejadian
Luar Biasa (KLB) diare tahun 2013 di Indonesia menurun secara signifikan
dibandingkan tahun 2012 dari 1.654 kasus menjadi 646 kasus pada tahun 2013.
KLB diare pada tahun 2013 terjadi di 6 provinsi dengan penderita terbanyak terjadi
di Jawa Tengah yang mencapai 294 kasus (Riskesdas, 2013)
Hasil Riset Kesehatan Dasar (2018) menyatakan bahwa berdasarkan karakteristik
penduduk, kelompok umur balita adalah kelompok yang paling tinggi menderita
diare. Insiden diare balita di Indonesia adalah 6.8%.