Anda di halaman 1dari 19

MANAJEMEN PENYAKIT

BERBASIS WILAYAH
ADAT MEE PAGO

KELOMPOK 7

MARIKE ALITNOE
20160721014043
PEMBAGIAN 7 WILAYAH ADAT

KOMANDO WILAYAH ME PAGO


Wilayah Mee Pago terletak di
Pegunungan Papua Bagian Tengah,
meliputi: 1. Intan jaya 2. Paniai
3. Deiyai 4. Dogiyai 5. Nabire Gunung
6. Mimika Gunung
BUDAYA WILAYAH ADAT MEE PAGO

MEEPAGO letaknya di Papua bagian Timur,


mengapa membagi wilayah adat ini, bagiku
pasti ada kemiripan dalam budaya serta
adanya kekerabatan dalam kehidupan
sosialnya. Kemiripan itu dapat terlihat dari
segi kehidupan adat istiadat yang ada di
beberapa daerah dalam konteks admintrasi
pemerintah ada enam kabupaten
yakni Paniai, Deyai, Dogiyai, Intan Jaya, dan
Topografi wilayah pegunungan
Pegunungan atau disebut juga
Barisan merupakan suatu area
geografis dengan gunung-
gunung yang terkait secara
geologis yang membentuk suatu
jajaran/rantai. Pegunungan yang
dibatasi oleh dataran tinggi atau
terpisah dari pegunungan lain
Wilayah Pegunungan
• Mempunyai curah hujan yang sangat rendah,
yakni kurang dari 25 cm/ tahun.
• Keadaan tanah sangat tandus.
• Tanah tidak dapat menyimpan air.
• Mempunyai kecepatan evaporasi atau tingkat
penguapan yang sangat tinggi.
• Memiliki kelembapan udara yang sangat
rendah
LANJUTAN
• Masalah kesehatan di wilayah pegunungan sangatlah kompleks menyangkut
Lingkungan, perilaku dan sosial- ekonomi
1. Lingkungan : Paniai merupakan kabupaten yang terletak di pegunungan sehingga
memiliki kecenderungan suhu udara yang rendah dan kelembaban udara yang
relatif tinggi. Di Kabupaten Paniai suhu udara maksimum 24,6 derajat celcius dan
rata-rata kelembaban udara 82,3%.
Masalah kesehatan lingkungan yang ada di daerah paniai, paniai memiliki danau,
yaitu danau paniai yang dapat dilihat banyak sampah di sungai yang bermuara di
danau paniai hal ini dapat menimbulkan sumber penyakit bagi masyarakat paniai.
2. Determinan Perilaku : Rendahnya Perilaku masyarakat terkait dengan STBM
(sanitasi total berbasis masyarakat)
3. Determinan Sosial-Ekonomi : Kondisi Sosial dan Ekonomi yang terjadi di paniai
dapat kita lihat bahwa masyarakat paniai mempunyai sistem mata pencarian
adalah Berkebun dan nelayan hal ini melatari kehidupan masyarakat di paniai
dalam tingkat pendapatan mereka, mekanisme dari kondisi-kondisi ini dapat
mempengaruhi kesehatan masyarakat di paniai.
Wilayah pegunungan
Hutan Tropis
Ekosistem danau
Ekosistem alami Ekosistem sungai

Suaka marga satwa


Taman hutan raya
Ekosistem Buatan Ekosistem perkebunan
Ekosistem pemukiman
Peta kabupaten paniai
Penyakit Endemis
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Kabupaten Paniai, Provinsi Papua
mencatat sebanyak 52 kasus malaria
terjadi di daerah itu sejak Januari-Mei
2019 atau yang tertinggi di antara
penyakit lainnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit ( P2P) Dinas
Kesehatan Provinsi Papua, dr Aaron
Rumainum mengatakan, dari laporan
Permasalahan spesifik
Permasalahan spesifik berbagai
variabel yaitu iklim, topografi, serta
kondisi lingkungan spesifik lainnya.
Ekosistem dan habitat Binatang
Penular penyakit (yang biasa
berhubungan dengan variabel
topografi, iklim dan kondisi
lingkungan setempat)
TEORI SIMPUL PENYAKIT MALARIA

Simpul 1

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat


interseluler dari genus Plasmodium yang ditransmisikan oleh nyamuk
betina dari genus Anopheles

Sumber Penyakit Agent penyakit adalah komponen lingkungan yang dapat


menimbulkan gangguan penyakit melalui kontak secara langsung atau
melalui media perantara yang juga komponen lingkungan. Malaria
disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hanya disebarkan oleh nyamuk
Anopheles betina. Ada banyak sekali jenis parasit Plasmodium, tapi hanya
lima jenis yang menyebabkan malaria pada manusia. Parasit masuk ke
dalam aliran darah manusia melalui gigitan nyamuk. Gigitan ini lebih
sering terjadi pada malam hari. Setelah terjadi gigitan nyamuk, parasit
akan masuk ke aliran darah dan bergerak ke organ hati. Infeksi akan terjadi
dan berkembang di organ hati. Dari situ, parasit akan masuk kembali ke
aliran darah dan menyerang sel darah merah. Parasit akan memanfaatkan
sel darah merah sebagai tempat berkembang biak. Jika sel darah merah
sudah penuh terisi dengan parasit malaria, sel tersebut akan meletus
sehingga lebih banyak lagi parasit yang tersebar di dalam aliran darah.
Ketika ini terjadi, penderita akan mengalami gejala seperti demam,
menggigil, dan berkeringat
Simpul 2

Media transmisi penyakit Komponen lingkungan berperan


dalam patogenesis penyakit, karena dapat memindahkan
agent penyakit. Komponen lingkungan yang lazim dikenal
sebagai media transmisi adalah: udara, air, makanan,
binatang, dan manusia secara langsung. Penyebaran
penyakit malaria melalui nyamuk Anopheles sp yang
menggigit penderita malaria, kemudian nyamuk tersebut
memindahkan plasmodium ke orang sehat melalui gigitan
nyamuk Anopheles tersebut. Penyebaran malaria tidak
akan terjadi bila tidak ada penderita malaria, karena
meskipun nyamuk menggigit puluhan orang tetapi jika
nyamuk tersebut tidak mengandung plasmodium yang
menyebakan malaria, tidak akan timbul penyakit malaria.
Demikian pula bila banyak penderita malaria tetapi tidak
ada nyamuk Anopheles sebagai media transmisi
plasmodiumnya tidak ada, tidak akan terjadi penyakit
malaria.
Simpul 3

Komunitas perilaku, umur, gender Agent penyakit dapat masuk ke dalam tubuh
manusia karena adanya kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang
mengandung bahaya penyakit agen penyakit atau disebut dengan perilaku
pemajanan. Jumlah kontak pada setiap orang berbeda satu sama lain karena
ditentukan oleh perilakunya. Perilaku orang akan dipengaruhi oleh pengetahuan,
pengalaman, dan lain sebagainya. Namun, apabila kesulitan mengukur besarnya
agen penyakit yang kontak maka dapat dikur dengan cara tidak langsung yang
disebut sebagai biomarker atau tanda biologi. Pada simpul 3 diamati masyarakat
dengan berbagai karakteristiknya, termasuk biomarker yang menunjukkan adanya
kontak serta berbagai variabel lain yang menunjukkan pola kebiasaan, perilaku dan
dinamika transmisi atau penularan.
Adapun perilaku masyarakat yang mempengaruhi kejadian malaria, adalah:
a) Kebiasaan berada di luar rumah sampai larut malam
b) Selain itu kebiasaan berada di luar rumah sampai larut malam, terutama kaum
laki-laki dewasa dengan tidak memakai baju atau bertelanjang dada dan tidak
menggunakan lotion anti gigitan nyamuk dimana nyamuk Anopheles sp bersifat
eksofilik dan eksofagik
c) Pemakaian kelambu dan atau lotion anti nyamuk pada waktu tidur malam hari
terutama di daerah endemis malaria.
Simpul 4

Dampak kesehatan Sehat sakit Kejadian penyakit


adalah outcome dari adanya hubungan antara
penduduk dengan lingkungan yang memiliki potensi
bahaya gangguan kesehatan. Seseorang dikatakan sakit
apabila salah satu maupun bersama mengalami
kelainan dibandingkan dengan rata-rata masyarakat
lainnya. Simpul 4 pada dasarnya merupakan
pengukuran kasus malaria yang terjadi. Ukuran, teknik
dan metode yang digunakan untuk mengukur simpul 4
sama dengan yang digunakan untuk mengukur simpul
Adapun gejala penyakit malaria yang mungkin terjadi
apabila seseorang positif terkena malaria, adalah:
demam tinggi, sakit kepala, keringat dingin, mual dan
muntah-muntah, nyeri otot, diare, anemia, dan kejang.
Simpul 5

Variabel Suprasistem Kejadian penyakit masih dipengaruhi


oleh kelompok variabel simpul 5 yakni variabel iklim, cuaca,
topografi dan lainnya. Variabel ini harus diperhitungkan
dalam upaya manajemen penyakit. Dalam proses
patogenesis penyakit malaria, terdapat variabel yang
memiliki peran besar baik terhadap vektor atau variabel
kependudukan. Berbagai faktor tersebut termasuk dalam
simpul 5 yakni variabel yang berperan mempengaruhi
simpul 1, simpul 2 dan simpul 3. Variabel-variabel tersebut
adalah suhu lingkungan, kelembapan, curah hujan,
topografi peruntukan lahan yaitu ekosistem alami dan
ekosistem buatan.

(Iklim : curah hujan tinggi, topografi : wilayah pegunungan)


FAKTOR RESIKO
Faktor Lingkungan
• Lingkungan fisik (suhu udarah, kelembaban
udarah, hujan, cahaya matahari dan angin )
• Lingkungan fisik yang berhubungan dengan
tempat tinggal manusia (Kontruksi dinding
rumah, Ventilasi rumah, Kondisi atau bahan atap
rumah)
• Lingkungan fisik yang berhubungan denga tempat
perindukan nyamuk (banyaknya aliran sungai
yang tertutup pasir (laguna) yang merupakan
tempat perindukan nyamuk)
LANJUTAN
• Lingkungan Biologi (menempatkan hewan-
hewan ternak dalam kandang di luar rumah
dekat dengan tempat perindukan nyamuk
vector dan pada garis arah terbang nyamuk ke
pemukiman penduduk)
• Lingkungan Sosial Budaya (Pendidikan dan
pengetahuan, Pekerjaan, Kebiasaan penduduk
dan adat-istiadat setempat)
Manajemen Penanggulangan
• Upaya penanggulangan yang dapat di lakukan untuk
kasus KLB malaria, maka kegiatan yang dapat dilakukan
adalah penanggulangan dini perlu segera di laksanakan
untu menekan jumlah penderita dan kematian
• Kegiatan yang dilakukan Unit Pelayanan Kesehatan
Contonya di Puskesmas
 Pengobatan : Pengobatan pada penderita malaria
tanpa komplikasi, penderita malaria berat, pada
penderita di lokasi KLB, pengobatan lanjutan
 Pemberantasan Vektor : Distribusi kelambu
berinsiktisida, Penyemprotan rumah, Larvidicing.
 Penyuluhan Kesmas
 Membuat laporan