Anda di halaman 1dari 31

MATA KULIAH BUDI PEKERTI

DAN KEPRIBADIAN
UNTUK SEMESTER 5

UNIVERSITAS SETIA BUDI


SURAKARTA
DESKRIPSI MATA KULIAH
• Mata Kuliah ini mengajarkan Budi Pekerti Luhur yang
universal dan Kepribadian Terpuji pada para mahasiswa
untuk bekal mereka hidup dalam keluarga, masyarakat
dan lingkungan pekerjaan. Dari mata kuliah ini
mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana bersikap
sebagai manusia yang berakhlak mulia melainkan juga
belajar selalu membiasakan memiliki pikiran positip.
Pikiran positip yang dibiasakan akan menuntun
mahasiswa berperilaku baik, dan perilaku yang baik
akan menjadikan mahasiswa memiliki sifat yang terpuji.
Karier dan kehidupan yang lebih baik pada akhirnya
akan diperoleh.
STANDARD KOMPETENSI MATA KULIAH

Pada akhir semester, mahasiwa diharapkan


dapat memiliki kemampuan memilih jalan
yang benar dalam kehidupan rohani sebagai
bekal meniti karier di dalam negeri dan di
dunia internasional. Mahasiswa diharapkan
mengerti urutan 10 Langkah menuju sukses
lahir bathin (Dasa Sila) guna mendasari
langkah mereka dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa (1)

Mengetahui 10 Langkah menuju


sukses lahir bathin ( Dasa Sila ) dan
mengerti arti pentingnya menaati
semua sila-sila yang digariskan
Topik Utama Pembahasan ( 1 )
• Membahas isi Dasa Sila
secara global:
1. Berbhakti kepada Tuhan 6. Berbhakti kepada saudara
Yang Maha Esa tua
2. Berbhakti kepada utusan 7. Berbhakti kepada guru
Tuhan 8. Berbhakti kepada
3. Berbhakti kepada pelajaran keutamaan
Kalifatullah
9. Kasih sayang sesama
4. Cinta Tanah Air
hidup
5. Berbhakti kepada orang
10. Menghormati semua
tua (ayah-ibu)
agama.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa ( 2 )

Memahami pentingnya berbhakti


kepada Tuhan dan utusanNya
(Sila 1 dan 2 )
Topik Utama Pembahasan ( 2 )

Bagaimana mencerminkan
kebaktian dan ketaatan kepada
Tuhan YME dan utusanNya
Pada semester 5 ini mahasiswa akan diajak
untuk mengerti dan memahami istilah Dasa Sila
atau sepuluh macam kebaktian manusia yang
dapat membekali para mahasiswa akan perilaku
utama ketika mereka terjun ke masyarakat yang
lebih luas. Mata kuliah ini sangat berguna juga
untuk menyadarkan para mahasiwa bahwa
aturan main dalam percaturan hidup
bermasyarakat mensyaratkan hal-hal yang harus
dipahami untuk ditaati dimanapun mereka
nantinya akan berada. Untuk itulah secara rinci
mereka harus mengetahui darimana harus
memulai langkahnya.
• Latar Belakang
Semakin banyaknya orang-orang terdidik – para
akademisi – di Indonesia, ternyata juga mendatangkan masalah
baru ketika mereka mulai tergiur untuk menjadi ‘brain drain’ atau
orang-orang yang tidak mau kembali ke tanah air setelah
mengenyam pendidikan di luar negeri, karena merasa ilmunya
lebih dihargai di luar negeri, daripada di tanah air. Semakin
banyaknya orang pintar juga mencetuskan pertikaian baru, yakni
ketika mereka lebih mengagungkan kepandaiannya untuk
memberontak pada tatanan negara, ketimbang menyumbangkan
kemampuannya untuk membangun.
Mata kuliah ini diharapkan akan menjadi penyeimbang
kemampuan kognisi mahasiswa, sehingga ketika mereka lulus dari
USB, telah terbentuk dalam diri mereka budaya cinta tanah air,
budaya kebhaktian pada kalifatullah, orang tua, saudara tua dan
budaya menghormati semua agama dll. sebagaimana yang
tercantum dalam urutan Dasa Sila.
•Ilustrasi Negeri Kita
Bagi yang pernah beruntung melihat suasana negara lain
yang lebih maju, mungkin tergores pertanyaan: mengapa di
negara tetangga seperti Singapore, Jepang, Korea, dan negara
maju lainnya, ketertiban begitu nampak. Kota dan desa bersih
dari sampah, suasana hijau pepohonan dan suara burung
berpadu rapih dengan hiruk pikuk kota yang tertata. Public
space (ruang public) benar-benar dipakai sebagai paru-paru
kota dan bukan menjadi tempat pedagang kaki lima, lalu lintas
sangat teratur dan hampir tidak pernah ada pelanggaran,
termasuk tidak ada orang menyeberang di sembarang jalan.
Mereka patuh pada lampu lalu lintas dan zebra cross.
Mengapa di Indonesia hal semacam itu tidak dapat dilakukan?
Kalau kita melihat urutan Dasa Sila kita akan mengerti
bahwa pangkal dari segala macam ketertiban adalah
kesadaran dan kedisiplinan manusia untuk mentaatinya.
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk
terbanyak nomer 4 di dunia, memang menghadapi
permasalahan yang lebih rumit dibanding negara-negara
maju yang jumlah penduduknya kecil. Namun, kita juga
harus ingat pepatah yang mengatakan: Berikan barang jelek
pada orang yang baik, maka barang itu akan menjadi baik.
Sebaliknya, berikan barang baik kepada orang jelek, maka
barang itu akan menjadi jelek. Pepatah itu menguatkan
kenyataan bahwa manusialah yang akan dapat membuat
merah-hijaunya negara.
Sebuah filosofi yang telah dibuktikan menggambarkan bahwa
sebuah negara akan mengalami ketidaktenteraman ketika:
- Pada nayaka praja dan pemimpinnya tidak memikirkan
kepentingan rakyat banyak
- Para bawahan dan rakyat tidak taat pada atasan/pimpinan
dan peraturan yang berlaku
- Sesama rakyat saling bertikai
Tiga hal itu saling berkaitan, dan menjadi pilar keberhasilan
pemerintahan. Ketika pemimpin tidak mencintai rakyatnya tetapi
lebih mencintai golongan atau partainya, tentulah para bawahan
akan melihat perilaku semacam itu sebagai hal yang perlu
dirombak. Ketika upaya merombak tatanan tidak lagi mengikuti
aturan dan jalur yang benar, maka jelas bakal terjadi ontran-
ontran seperti yang sering kita lihat ketika wakil-wakil rakyat
beradu pendapat. Kita menyaksikan bagaimana mereka masing-
masing ingin memenangkan golongannya. Rakyat yang merasa
tidak puas, karena merasa kepentingannya tidak terwakili akan
memberontak. Chaotic situation pun terjadi.
Sebuah lingkaran setan sering kita saksikan: trotoir
yang seharusnya dipakai untuk para pejalan kaki, justru
dipakai pedagang kaki lima menggelar dagangannya.
Mereka kadang malah membawa gerobak, menggelar tikar,
memasang tenda sehingga pejalan kaki terpaksa lewat
jalan aspalan yang seharusnya dipakai kendaraan
melintas. Ketika para aparat mencoba memperingatkan
dan membersihkan trotoir dan berusaha mengembalikan
fungsinya, para pedagang yang merasa menjadi rakyat
kecil, marah. Kemarahan mereka dilindungi LSM yang
hanya melihat dari sisi rakyat. Para LSM itu berkilah,
pemerintah tidak dapat tmencukupi kebutuhan rakyatnya,
mengapa harus mengusir rakyat yang mencoba mandiri
mencari nafkah? Nah, wakil rakyatpun menjadi semakin
kebingungan memposisikan diri mereka. Pertanyaanpun
berlanjut, sesungguhnya darimana kita dapat memulai
membangun bangsa yang taat dan tertib?
Dasa Sila adalah aturan yang kalau ditaati akan
memberikan kenyamanan bagi diri sendiri dan orang lain.
Kalau saja seluruh rakyat Indonesia mengerti urutan Dasa
Sila dan mereka dengan konsekwen mentaatinya, maka
negara kita akan menjadi negara yang kuat.
Berikut adalah urutan Dasa Sila yang akan kita bahas
masing-masing silanya:
1. Berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Berbhakti kepada utusan Tuhan
3. Berbhakti kepada Kalifatullah
4. Cinta Tanah Air
5. Berbhakti kepada orang tua (ayah-ibu)
6. Berbhakti kepada saudara tua
7. Berbhakti kepada guru
8. Berbhakti kepada pelajaran keutamaan
9. Kasih sayang sesama hidup
10. Menghormati semua agama
• Berbhakti Kepada Tuhan YME dan kepada
utusan Tuhan YME
Ketaatan pada perintah agama adalah dasar
dari kebaktian kepada Tuhan YME. Tidak ada satupun
agama di dunia yang tidak mengajarkan kasih sayang.
Pertikaian antar umat berlainan agama selalu terjadi
karena masing-masing umat merasa keyakinannya
yang paling benar. Di negeri yang pluralis dari sisi
keyakinan, agama, budaya dan etnik seperti Indonesia,
kebaktian pada Tuhan YME harus selalu dikaitkan
dengan pelaksanaan toleransi dan kasih sayang.
Karena disitulah sebenarnya kekuatan fondasi
bangunan negara yang tata tenteram.
Kita dapat menyaksikan bagaimana sebuah negara
hancur lebur dan rakyatnya banyak lari mengungsi
mencari suaka ke negara lain yang ayem tentrem.
Situasi semacam itu tentu sangat memprihatinkan,
apalagi bila permasalahan chaos nya karena satu etnik
meng-hegemoni etnik yang lain, atau atau kelompok
mayoritas yang beragama dengan mahzab tertentu
ingin memaksakan kehendak mereka agar kaum
minoritas di negaranya beralih mahzab. Kalau sudah
begitu situasinya, orang tidak lagi melihat siapa yang
benar dan siapa yang salah, melainkan siapa yang
membuat siapa lebih sengsara. Jelas ketimpangan
sosial terjadi karena absent nya kasih sayang dan
toleransi.
Kekacauan semacam ini akan meninggalkan
sakit hati yang dalam pada generasi muda dan
anak-anak. Mereka akan merekam dalam
bathinnya betapa mengerikan hidup di
negaranya sendiri, dan betapa terancamnya
ketika mereka ingin memulyakan asma Allah
sesembahannya. Lebih parah lagi bila
pengalaman yang memilukan ini menjadikan
tumbuhnya dendam dalam hati mereka. Kita
dapat membayangkan apa yang terjadi ketika
mereka nanti dewasa dan memiliki power untuk
balas dendam.
Tuhan tidak mengutus utusanNya untuk berlomba
memamerkan kelebihannya. Penganut para
utusannyalah yang justru sering melakukan hal-hal
yang tercela, karena merasa apa yang dianutnya
adalah hal yang paling benar, dan memaksakan
kehendaknya pada orang lain yang tidak sama
pendapatnya. Akumulasi dari perilaku seperti itu akan
mengancam keamanan nasional. Kita mungkin masih
ingat bagaimana penduduk sebuah kampung bertikai
dengan kampung sebelah hanya karena masalah cara
ibadat yang tidak sama. Kita juga pernah
membaca/melihat di TV bagaimana sebuah keluarga
pecah gara-gara si kakak memiliki keyakinan baru dan
mengusir adiknya yang tidak sepaham.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa ( 3 )

BERBAKTI KEPADA KALIFATULLAH


Topik Utama Pembahasan ( 3 )

Siapa kalifatullah
Bagaimana bersikap pada
kalifatullah yang tidak
mencerminkan pemimpin yang
baik
• Berbhakti kepada kalifatullah dan Cinta Tanah Air.
Kebhaktian pada pemimpin negara memang sudah
menjadi kewajiban utama warga negara yang baik. Bhakti
tidak selalu berarti menyetujui. Warga negara boleh
mempertanyakan dan tidak setuju dengan policy
pimpinannya, tetapi pendapatnya haruslah disalurkan lewat
jalur yang benar, dan bukan dengan demonstrasi seperti
yang selalu kita saksikan di TV dan Koran. Bagaimanapun
ketika seorang pemimpin negara terpilih, dia sesungguhnya
telah menerima kepercayaan Tuhan untuk menjadi wakilNya
memimpin rakyat di dalam negaranya. Apabila dikemudian
hari ternyata dia tidak dapat menjalankan kepemimpinannya
dengan baik, menjadi diktaktor, lupa pada kepentingan
rakyat dan hanya memikirkan dirinya, golongannya, atau
partainya, maka Tuhan sendiri yang akan menjatuhkan
pengadilanNya lewat kejadian yang menimpa yang
bersangkutan. Tidak sembarang orang mampu menjadi
lantaran Tuhan mengadili para pemimpin seperti itu.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa ( 4 )

Mengerti, memahami dan dapat


menceriterakan kembali
pentingnya cinta tanah air
(Sila ke 4 Dasa Sila)
Diskusikan :
1. Bagaimana kita mewujudkan tanda bakti kpd
Kalifatullah.
2. Bgm sikap kita pd Kalifatullah yg tdk dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik.
3. Apa pendapat kalian ttg demo mahasiswa
terhadap Kalifallah
4. Bgm bentuk tanda bakti kpd Tanah Air.
5. Telaah salah satu dari lagu wajib yang kau pilih
sbg perwujudan janji baktimu pd negeri ini.
Tugas :
1 Mengapa berbakti kpd kalifatullah itu penting ? Dan apa
hubungannya dengan kesuksessan lahir batin yg kita inginkan
? Jelaskan !
2. Bgm mengimplementasikan tanda/ rasa bakti kita kpd
kalifatullah di dalam kehidupan sehari-hari
3. Apa dampaknya jika warga negara tidak berbakti kpd
kalifatullah ?
4. Apa yg dimaksud cinta Tanah Air ? Dan bgm kita mewujudkan
rasa cinta Tanh Air tersebut di dalam perilaku kehidupan
sehari-hari ?
5. Sebagai generasi muda penerus bangsa, bgm sikap anda dlm
menghadapi :
a. Arus globalisasi diberbagai bidang kehidupan di negeri ini.
b. Rongrongan dari dalam maupun dari luar yg berusaha utk
memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Menjaga nama baik ketika bekesempatan berada di
negeri orang juga merupakan manifestai cinta tanah air.
Di Jakarta orang-orang asal Afrika kulit hitam yang
berniaga di seputaran Tanah Abang sudah mendapat
stigma masyarakat bahwa mereka adalah kaum penipu,
penjual narkoba dan makelar curang. Stigma ini sangat
melekat sehingga kebanyakan kaum pedagang di Tanah
Abang tidak mau berpekulasi berniaga dengan mereka.
Padahal, orang-orang Afrika yang benar-benar jujur
ketika berniaga juga banyak. Di Malaysia, orang-orang
Indonesia lebih terkenal sebagai kaum ‘underdog.’
Sedemikian rendahnya martabat orang-orang Indonesia
di Malaysia, dan ini semua juga karena ulah orang-
orang kita sendiri yang mau-maunya mengadu nasib ke
negeri orang tanpa dukungan intelektualitas dan skill
yang memadai.
Kalau saja para pencari kerja itu juga memiliki rasa cinta
tanah air, maka mereka akan lebih berkonsentrasi mencari
pekerjaan dan menciptakan pekerjaan di negeri sendiri,
meskipun harus mulai dari bawah, menjadi buruh atau ikut
transmigrasi. Kalau saja mereka juga menyadari menjaga
nama baik diri sendiri juga merupakan perwujudan cinta tanah
air, pastilah mereka akan lebih menampakkan perilaku baik
ketika terpaksa harus hijrah. Berapa banyak orang yang sudah
dihukum mati di luar negeri? Kesalahan apa yang mereka
perbuat? Kita tidak dapat semata-mata menyalahkan negara
lain, karena kemungkinan besar kesalahan justru ada pada kita
sejak awalnya. Screening TKI tidak ketat, dan human
trafficking semakin menjadi-jadi karena petugas yang
berwenang mengatur pengiriman TKI, tidak menunaikan
tugasnya dengan baik.
Pertanyaan darimana kita harus memulai
menyadarkan masyarakat luas akan arti
pentingnya cinta tanah air, tetap akan mengusik
hati kita. Cinta Tanah Air harus kita mulai dari
diri sendiri. Tertib di dalam negeri harus
dibiasakan, termasuk antri dengan tertib, tidak
mencari kemudahan dengan ‘menyogok,’
menyeberang jalan hanya pada tempat-tempat
yang ditentukan, menghentikan kendaraan pada
jalur yang benar, dll. Untuk para pemula
mungkin perlu law-enforcement.
Hal seperti inilah yang dahulu dilakukan Lee Kuan Yeuw, perdana
menteri Singapura, ketika beliau mereformasi negara pulau itu. Lee
begitu berwibawa dan dipercaya rakyat, karena memang beliau dapat
menunjukkan bahwa beliau bersih, sepi ing pamrih, dan cinta pada
rakyatnya yang multi-etnis. Kita tidak dapat membayangkan
bagaimana Singapore yang sekarang ini dahulu merupakan kota
pelabuhan yang jorok, sungainya hitam, sampah menggunung
dimana-mana, dan perkampungan rakyatnya sangat kumuh. Dalam
waktu kurang dari 10 tahun, penyehatan sungai berhasil baik,
kampung kumuh beralih menjadi flat dengan lift yang terjaga
keamanannya, dan public space pun dapat diwujudkan dengan
proporsi yang benar. Jalan bawah tanah sangat nyaman dan aman,
dan lalu lintas sangat tertib. Orang-orang yang tadinya sangat takut
melanggar tata tertib karena denda, kini mereka melakukan tata
tertib sesuai prosedur yang berlaku karena kesadaran. Memang,
untuk jiwa-jiwa yang masih mentah, punishment dan law enforcement
masih perlu diterapkan. Pertanyaannya sekarang, dapatkah kita
menerapkan seperti itu di Indonesia?
Cinta tanah air ternyata tidak hanya siap angkat
senjata kalau ada penjajah datang. Penjajahan di jaman
sekarang bukan penjajahan fisik seperti jaman Jepang
dan Belanda dahulu. Penjajahan sekarang lebih
berwujud pada hegemony ekonomi, perdagangan dan
politik yang subtle (tersembunyi/tidak kentara). Kalau
kita mau mengakui, banyak orang-orang Indonesia yang
lebih bangga memakai produk luar negeri (yang
memang lebih bagus dan awet), ketimbang produk
dalam negeri. Dari tas, sepatu, dompet sampai pakaian
dan bahkan sekarang makanan, nampaknya Indonesia
menjadi pasar yang menjanjikan. Dengan penduduk
yang lebih di 250 juta, pastilah Indonesia menjadi
gudang konsumen yang tidak cerdas.
Topik Utama Pembahasan (4 )

Membahas fenomena aktual


mengenai pertikaian antar bangsa
karena mempertahankan
negerinya dari jarahan asing
Kompetensi Dasar
Mahasiswa ( 5 )

Mengerti dan dapat menuangkan


dalam tulisan: pentingnya berbhakti
kepada orang tua dan saudara tua
(Sila 5 dan 6 Dasa Sila)