Anda di halaman 1dari 4

KESULTANAN CIREBON

Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam yang pertama di Jawa Barat. Kerajaan
ini didirikan oleh salah satu anggota Walisongo, yaitu Sunan Gunung Jati. Diawal
abad ke-16, Cirebon merupakan daerah kecil dibawah kekuasaan Pakuan Pajajaran.
Islam sudah masuk ke Cirebon sejak tahun 1470 M.
Orang yang berhasil menjadikan Cirebon sebuah kerajaan adalah Syarif
Hidayatullah yang terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Karena kedudukannya
sebagai salah satu wali songo, ia mendapat kehormatan dari raja-raja lain di Jawa.
Setelah Cirebon resmi menjadi sebuah kerajaan islam, barulah Sunan Gunung Jati
berusaha meruntuhkan Pajajaran yang belum menganut Islam.
Setelah Sunan Gunung Jati wafat, ia digantikan oleh cicitnya yang terkenal, yaitu
pangeran ratu atau panembahan ratu, setelah panembahan ratu wafat,ia
digantikan oleh putranya yang bergelar panembahan girilaya, keutuhan Cirebon
sebagai satu kerajaan hanya sampai pangeran girilaya.
KERAJAAN BANTEN
Kerajaan Banten didirikan oleh Fatahillah pada tahun 1525 M.
Fatahilllah adalah ulama terkenal dari Pasai yang meninggalkan Pasai
karena sudah dikuasai oleh Portugis, ia meninggalkan Pasai karena
pergi ke Mekah. Sepulangnya dari Mekah, Fatahilllah tidak kembali ke
Pasai melainkan pergi ke Demak. Fatahilllah wafat pada tahun 1570 M
di Cirebon, setelah wafat Fatahilllah digantikan oleh putranya yang
bernama sultan Hasanuddin. Sultan hasanuddin berhasil
mengembangkan Agama Islam sampai ke Lampung dan sekitarnya.
Lampung adalah wilayah penghasil lada yang paling produktif. Maka
dari itu, Banten tumbuh menjadi pelabuhan lada terbesar di Jawa,
karena banyak disinggahi para pedagang dari China, India, dan Eropa.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa
kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa tahun 1651-1680
M. Cita-citanya ialah mempersatukan pasunda dibawah kekuasaan
Banten dan memajukan Agama Islam. Sultan Ageng bekerja sama
dengan ulama-ulama tasawuf, salah satunya Syaikh yusuf Al-makassari.
Banten mengalami keruntuhan ketika Banten dipimpin oleh sultan
Muda Abun Nashr Abdul Kahar (anak dari Sultan Ageng Tirtayasa) yang
bersekongkol dengan Orang Belanda.
KERAJAAN ISLAM MADURA
Sebelum masuknya islam, Madura dikuasai oleh Majapahit. Setelah
berdirinya Demak, maka Madura dijadikan salah satu pusat islamisasi di
wilayah Jawa Timur. Pada tahun 1624 M, Sultan Agung dari Mataram berhasil
menaklukkan Madura, dan satu-satunya keturunan Sultan Agung yang masih
hidup adalah Raden Praseno, dia dibawa ke Mataram dan dinikahkan dengan
adik Sultan Agung. Kemudian, dia diberi kepercayaan untuk memimpin
Madura dan dia diberi gelar Pangeran Cakraningrat I.
50 tahun kemudian, Madura dipimpin oleh Turyono dalam melawan
Mataram yang dibantu oleh Belanda. Dalam melawan Mataram, Turyono
dibantu oleh Banten dan Makassar. Dalam perang ini Turyono mengalami
kekalahan dan Turyono menyerahkan diri kepada Belanda. Setelah wafatnya
Turyono, Madura tidak bisa melawan pengaruh dari Mataram dan Belanda.
Pada akhir abad ke- 19, Kerajaan Madura dihapuskan oleh Belanda.