Anda di halaman 1dari 40

1

DEFINISI
SEPSIS NEONATORUM

bakteri Bone RC, et al. Chest 1992; 101:1644-55


Child Health Research Project.Baltimore, Maryland, 1999; 3(1):6-12
2
PERJALANAN PENYAKIT INFEKSI PADA NEONATUS
Bila ditemukan dua atau lebih keadaan:
 SIRS
Laju nafas >60x/m dengan/tanpa retraksi dan
desaturasi O2
Suhu tubuh tidak stabil (<36ºC atau >37.5ºC)
Waktu pengisian kapiler > 3 detik
Hitung leukosit <4000x109/L atau >34000x109/L
CRP >10mg/dl
IL-6 atau IL-8 >70pg/ml
16 S rRNA gene PCR : Positif

 SEPSIS
Terdapat satu atau lebih kriteria SIRS disertai
dengan gejala klinis infeksi
 SEPSIS BERAT
Sepsis disertai hipotensi dan disfungsi organ
tunggal
 SYOK
Sepsis berat disertai hipotensi dan kebutuhan
SEPTIK
resusitasi cairan dan obat-obat inotropik
 SINDROM DISFUNGSI
Terdapat disfungsi multi organ meskipun telah
MULTIORGAN
mendapatkan pengobatan optimal
Haque KN. Pediatr Crit Care Med 2005; 6: S45-9 ↓ KEMATIAN 3
AWITAN TERJADINYA SEPSIS NEONATORUM

Early Onset Late Onset


- < 72 jam - ≥ 72 jam
- berkaitan dengan infeksi - berkaitan dengan infeksi
vertikal/maternal genital tract nosokomial / HAI – Hospital
Acquired Infection)

Zaidi AKM, Huskins WC, Thaver D, Bhutta ZA, Abbas Z, Goldmann DA.
Hospital-acquired neonatal infections in developing countries.
The Lancet 2005;365:1175-1185
4
5
6
7
8
9
INFEKSI YANG DIPEROLEH DI RUMAH SAKIT
 Infeksi yang didapat di RS awitan lambat
 Di negara berkembang

Setiap infeksi pada bayi yang lahir di RS harus


dipikirkan merupakan infeksi nosokomial /
didapat dari RS, walaupun gejalanya telah ada
pada beberapa jam pertama kehidupan

Zaidi AKM, Huskins WC, Thaver D, Bhutta ZA, Abbas Z, Goldmann DA.
Hospital-acquired neonatal infections in developing countries.
The Lancet 2005;365:1175-1185
10
KARAKTERISTIK SEPSIS AWITAN
DINI DAN SEPSIS AWITAN LAMBAT

Karakteristik Awitan Dini Awitan Lambat

Waktu timbulnya gejala  72 jam > 72 jam


Komplikasi kehamilan + -
dan persalinan
Sumber mikroorganisme Traktus genitalia ibu Traktus genitalia ibu;
lingkungan pasca natal
Manisfestasi klinis Fulminan Progesif lambat
Multisistem Fokal
Pneumonia Meningitis
Mortalitas (%) 15 – 50 10 - 20

11
12
MENEGAKKAN DIAGNOSIS SEPSIS
 Risiko yang perlu diwaspadai
Risiko Mayor Risiko Minor
1. Ketuban pecah > 12 jam
1. Ketuban pecah >24jam 2. Ibu demam (suhu intrapartum
2. Ibu demam (suhu intrapartum >380C) >37,5C)
3. Nilai Apgar rendah
3. Korioamnionitis (menit ke-1< 5 , menit ke-5< 7)
4. Denyut jantung janin yang 4. Bayi berat lahir sangat rendah
(BBLSR) < 1500 gram
menetap >160x/ menit
5. Usia gestasi < 37 minggu
5. Ketuban berbau
6. Kehamilan ganda
7. Keputihan pada ibu
8. Ibu dengan infeksi saluran kemih
(ISK) / tersangka ISK

13
Health Technical Assistance-Sepsis, Depkes, 2008
…simpulan
warna ketuban,
lama ketuban pecah
tidak bermakna
leukosit ibu
secara statistik
kehamilan multipel
terhadap sepsis
suhu ibu intrapartum
neonatorum
keputihan yang tidak
diobati
berat lahir rendah
usia gestasi <37 minggu
Diagnosis Sepsis Neonatorum
 Minimal 2 gejala klinis dan 1 gejala laboratorium
dibawah ini disertai kecurigaan maupun bukti
adanya infeksi pada neonatus (sampai usia koreksi
44 minggu)
MENEGAKKAN DIAGNOSIS SEPSIS…
 Gambaran klinis
 Gambaran klinis pasien sepsis neonatorum tidak

spesifik, mirip sekali dengan kelainan lainnya

 Gejala yang terlihat sangat berhubungan dengan


karakteristik kuman penyebab dan respon tubuh
terhadap masuknya kuman

 Bervariasi dari mulai sederhana komplikasi

HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum16


MENEGAKKAN DIAGNOSIS SEPSIS…
 Gambaran klinis
Letargi, refleks hisap buruk, limp, tidak dapat dibangunkan,
SSP
poor or high pitch cry, iritabel, kejang

Kardiovaskuler Pucat, sianosis, dingin, clummy skin

Respiratorik Takipnu, apnu, merintih, retraksi

Saluran
Muntah, diare, distensi abdomen
pencernaan

Hematologik Pendarahan, jaundice

Kulit Ruam, purpura, pustula

17
HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum
MENEGAKKAN DIAGNOSIS SEPSIS…
Gejala & tanda klinis (NON SPESIFIK)
 Bayi tidak mampu menyusu  Letargis atau kesadaran
 Refleks hisap tidak ada/lemah menurun
 Temperatur >37,7 OC atau  Kejang
<35,5 OC  Ubun-ubun membonjol
 Laju napas >60x/menit  Sianosis
 Retraksi dada yang berat  Waktu pengisian kapiler
 Napas cuping hidung lambat
 Merintih  Keluarnya pus dari telinga
 Krepitasi  Kemerahan di sekitar
umbilikus yang meluas ke kulit

18
MENEGAKKAN DIAGNOSIS SEPSIS…
 Laboratorium Penunjang
 Baku Emas : Kultur Darah
 Spesifitas : 96%  Sensitivitas : 82%
 Leukositosis (Leukosit > 34.000/L)
 Leukopenia (Leukosit < 5.000/L)
 Netrofil imatur > 10%
 Imatur: total neutrofil (IT) Ratio > 0,2
 Trombositopenia < 100.000/L
 CRP > 10mg/dL atau > 2 SD di atas nilai normal
 Prokalsitonin > 8,1 mg/dL atau > 2 SD di atas nilai normal
 IL-6 or IL-8 > 70 pg/mL
 PCR positif

19
HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum
20
21
22
TATA LAKSANA
 Eliminasi kuman penyebab merupakan pilihan utama

 Terapi suportif (adjuvant)

 Inotropik

 Nutrisi

 Pemberian Produk Darah


 Transfusi tukar

 Khusus: Steroid
Pemberian imunoglobulin intravena (IVIG)

HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum 23


ELIMINASI KUMAN

HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum 24


26
INOTROPIK
 Pada neonatus inotropik yang sering digunakan:

 Dopamin : 2-20 mcg/kg/menit

 Dobutamin : 5-20 mcg/kg/menit,

mulai dengan 5 mcg/kg/menit, bila perlu dapat


ditingkatkan setelah 10 menit
dapat digunakan masing-masing maupun bersamaan

 Epinephrine : 0,05-1 mcg/kg/menit

Neonatal pharmacopoeia 2nd Ed. Pharmacy Departement, The Royal Women’s Hospital, Carlton. 2005
27
NUTRISI
Sepsis merupakan keadaan stress : hipermetabolisme,
hiperglikemia, resistensi insulin, lipolisis, dan katabolisme protein

• Minimal 50% dari energy expenditure bayi sehat harus dipenuhi


atau minimal 60 kal/kg/hari
• Kebutuhan Protein : 2,5-4 g/kg/hari
• Kebutuhan Karbohidrat : 8,5-10 g/kg/hari
• Kebutuhan Lemak : 1 g/kg/hari

dianjurkan untuk tidak memberikan nutrisi enteral pada 24-48 jam


pertama. Pemberian nutrisi enteral diberikan setelah bayi lebih
stabil (suhu, ventilasi dan sirkulasi)
28
HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum
PRODUK DARAH
 Pada bayi dengan sepsis, pemberian Fresh Frozen

Plasma (FFP) biasanya diberikan apabila ditemukan

gangguan koagulasi (Disseminated Intravascular

Coaagulation/DIC)

HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum


Weiss MD.;. Burchfield DJ. NBIN 2004, 4 (1): 46-50 29
TRANSFUSI TUKAR
 Prosedur untuk menukarkan sel darah dan plasma resipien
dengan sel darah merah dan plasma donor

 Memutuskan rantai inflamasi sepsis dan memperbaiki


keadaan umum

 Darah yang digunakan:


• Whole blood

• Segar (optimalnya < 3 hari, max 5 – 7 hari), Bebas CMV

• Ht minimal 45 – 50%, Antikoagulan = CPD

• Gunakan  24 jam setelah pengambilan


HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum
30
Rohsiswatmo R. Update in neonatal infection. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. 2005. hlm 92-98
TRANSFUSI TUKAR….
Volume darah yang dibutuhkan:
 2 x volume total darah bayi + 75 – 100 ml untuk
“priming the tubing” agar dapat menggantikan 90%
dari volume darah yang bersirkulasi
 Volume darah bayi : 80-85 ml/kgBB
 Volume darah bayi prematur : 100 ml/kgBB
Metode:
 “Isovolumetric exchange : A. dan V. umbilikalis
 “Two-site” : A. umbilikalis dan vena perifer
A. perifer dan vena umbilikas
 “Push-pull” : A.umbilikalis saja atau vena umbilikalis
HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum
31
Rohsiswatmo R. Update in neonatal infection. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. 2005. hlm 92-98
32
PEMBERIAN intravenous immune
globulin (IVIG)
 Untuk memberikan antibodi spesifik yang berguna pada proses opsonisasi dan
fagositosis organisme bakteri

 Untuk mengaktivasi komplemen serta proses kemotaksis neutrofil pada


neonatus

 Manfaat pemberian IVIG sebagai tatalaksana tambahan pada penderita sepsis


neonatal masih bersifat kontroversi

 Pemberian IVIG terbukti memiliki keuntungan untuk mencegah kematian dan


kerusakan otak bila diberikan pada sepsis neonatorum onset dini

 Dosis yang dianjurkan adalah 500-750mg/kgBB IVIG dosis tunggal

Andersen-Berry, AL. Available in: www.emedicine.com. cited at December 13 th 2006


33
Jenson HB, Pollock BH. American Academic of Pediatrics 1997; 99(2)
PEMBERIAN IVIG….
 Gammaraas®
 Isi : Plasma Immune globulin IV (human) 5%

 IV immunodefisiensi primer dan atau sekunder:

100-200 mg/kg body wt, max 300-400 mg/kg body wt

MIMS Indonesia 2009. http://www.mims.com/


34
PEMBERIAN STEROID
 Pemberian kortikosteroid pada pasien sepsis lebih
ditujukan untuk mengatasi kekurangan kortisol endogen
akibat insufisiensi renal
 Kortikosteroid dosis rendah bermanfaat pada syok sepsis
 memperbaiki status hemodinamik, memperpendek
masa syok, memperbaiki respons terhadap katekolamin,
dan meningkatkan survival
 Dosis Hidrokortison: 2 mg/kgBB/hari

HTA Indonesia 2008. Sepsis Neonatorum


Seri I, Tan R, Evans J, et al. Pediatrics 2001;107:1070-1074 35
INFEKSI JAMUR
 Infeksi berkepanjangan, penggunaan antibiotik spektrum luas dan
kortikosteroid jangka panjang

infeksi jamur

 Faktor risiko terjadinya infeksi jamur adalah:

 Bayi berat lahir rendah

 Penggunaan antibiotik dan kortikosteroid jangka panjang

 Nutrisi Parenteral Total

 Infeksi aliran darah sebelumnya

 Necrotizing enterocolitis (NEC)

Rohsiswatmo R. Paediatrica Indonesiana, Vol. 46, No. 1-2 • January - February36


2006
INFEKSI JAMUR….
 Gejala dan tanda klinis infeksi jamur sistemik pada
neonatus bervariasi dan tidak khas (sangat mirip dengan
sepsis bakteri)

 Suhu tidak stabil: hipotermi atau hipertemi


 Perubahan perilaku: letargis, iritabel atau perubahan tonus otot
 Kulit: perfusi jelek, sianosis, mottled, pucat, petekie, rash, sclerema atau ikterik
 Masalah pemberian minum: intoleransi, muntah, diare atau distensi abdomen
 Kardiopulmoner: takipneu, distres pernapasan (merintih, retraksi), apneu,
takikardi, hipotensi
 Metabolik: hipoglikemi, hiperglikemi atau asidosis metabolik

37
Gomella TL.5th edition . New York: McGraw-Hill Companies. Inc.2004:h.435-6
INFEKSI JAMUR….
 Pengobatan Infeksi Jamur

 Amphotericin B i.v ,14-21 hari

dosis terapeutik:

0,25-0,5 mg/kg/hari

• Fluconazol i.v

dosis terapeutik:

6-12mg/kg/dosis
38
Neonatal pharmacopoeia 2nd Ed. Pharmacy Departement, The Royal Women’s Hospital, Carlton. 2005
INFEKSI JAMUR….
Hal Penting

 Jangan berikan amphotericin bersama dengan


intralipid!

 Jika granulositopenia tidak diatasi, maka pengobatan


infeksi jamur tidak bermanfaat!

Systemic Fungal Infection. www.anaesthetist.com/icu/infect/findex.htm#fungus.htm


39
Rekomendasi
 Nistatin oral menjadi pilihan utama profilaksis antijamur pada
neonatus BBLSR dan prematur.
 Pemberian nistatin ≤ 72 jam lebih efektif, dapat di berikan
secara. Dosis: 3 x 1 mL/ hari
 Profilaksis nistatin oral dapat menurunkan kolonisasi jamur dan
infeksi jamur sistemik pada neonatus prematur dengan UG ≤ 32
minggu, berat lahir ≤ 1500 gram.
 Nistatin mempunyai keuntungan :
1. Tidak toksis
2. Mudah digunakan
3. Harga tidak mahal
4. Dapat di toleransi dengan baik
5. Efektif