Anda di halaman 1dari 16

MEMAHAMI

MUHAMMADIYAH SEBAGAI
GERAKAN SOSIAL
Nama kelompok:
Mughits Hazim Amru (060)
Agus Rizal Irwansyah (080)
Kelvin Erlangga Suryadji (088)
NILAI-NILA I ISLAM YANG MENDASARI
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
 Nilai Kemanusiaan
Agama mengandung ajaran yang dapat menjadi dasar pembentukan nilai-
nilai sosial dan perilaku sosial. Menurut Muhammadiyah, gerakan sosial
termasuk dalam urusan Muamalah al-duniawiyah.
Manusia mempunyai nilai universal tanpa dibatasi oleh keyakinan, wilayah,
etnis dan jenis kelamin. Nilai itu adalah nilai kemuliaan yang disandang oleh
setiap anak cucu Adam. Di dalam Al-Qur’an surat al-israa’ ayat 70 Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di
daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk
yang telah Kami ciptakan”
NILAI-NILA I ISLAM YANG MENDASARI
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
 Ajaran Sosial Kemanusiaan dalam Muhammadiyah
Islam menetapkan dua pola hubungan yang permanen dalam kehidupan
beragama yakni: hubungan dengan Allah SWT, yang lazim disebut hablun
minallah dan hubungan dengan sesama manusia atau lazim disebut hablun
minannas. Hubungan dengan Allah dalam bentuk ibadah dibahas dalam
ilmu fiqih, sedangkan hubungan dengan sesame manusia dibahas dalam ilmu
akhlak. Baik yang berhubungan dengan ibadah maupun yang berhubungan
dengan akhlak, apabila disebutkan secara jelas dan tegas di dalam al-
Qur’an atau al-Hadist, itu disebut ajaran
NILAI-NILA I ISLAM YANG MENDASARI
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
 Nilai Syukur
Syukur adalah bentuk pernyataan terima kasih atas nikmat yang telah diperoleh.
Allah akan memberi balasan kepada hambanya yang suka bersyukur (QS. Al-
Qamar:35). Bentuk syukur yang diimplementasikan oleh Muhammadiyah adalah
kerja keras. Muhammadiyah memahami bahwa bekerja secara sungguh-sungguh
dalam mengelola lembaga pendidikan merupakan perwujudan bentuk syukur
(tafsir syukur). Pintu untuk meraih kebahagiaan adalah kerja keras (syukur). Allah
tidak akan membiarkan hambaNya dalam keadaan termarjinal, dalam keadaan
tertinggal untuk keluar dari kesulitan apabila si hamba beriman dan bekerja keras
(bersyukur) (QS. An-Nisa:147) Lebih tegas, dinyatakan bahwa Allah pasti membalas
orang-orang yang bekerja keras (syukur). Sebagaimana yang telah disebutkan
dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat tujuh bahwa:“Dan (ingatlah juga), tatkala
Tuhanmu memaklumkan;”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim:7)
NILAI-NILA I ISLAM YANG MENDASARI
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
 Nilai tolong menolong
Tolong-menolong merupakan perinsip ajaran Islam dalam kehidupan
bermasyarakat. Tolong-menolong disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Maidah
ayat 2 bahwa: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-
syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan
jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang
mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu, dan janganlah sekali-kali
kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu
dari Mesjidil haram, medorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-
menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah:2)
NILAI-NILA I ISLAM YANG MENDASARI
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah menganut doktrin bahwa: hidup harus bermasyarakat. Di
dalamnya terkandung pengertian kerja sama, saling menghargai, dan juga
saling mengakui perbedaan. Idea tau cita-cita social Muhammadiyah
berkisar pada: ukhuwah, hurriyah, musawah, dan ‘adalah(persaudaraan,
kemerdekaan, persamaan dan keadilan) (Rais,1998:17). Hidup
bermuhammadiyah berarti memperbanyak kawan, dan berarti kita harus
memelihara kesetiakawanan. Hidup bermuhammadiyah berarti menghargai
orang lain, menghargai organisasi lain, dan menghargai agama lain.
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
 Muhammadiyah: Gerakan Transformasi Sosial
Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan yang didirikan
didasarkan atas cita-cita Islam. Karenanya Muhammadiyah merupakan
gerakan Islam yang berusaha membersihkan Islam dari pengaruh non-Islam.
Pandangan umum yang dianut para pengamat mengatakan bahwa
Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi sosial keagamaan yang
didirikan untuk menyelaraskan agama islam dalam struktur masyarakat
modern di Indonesia. Sementara menurut Abdul Munir Mulkhan, berdirinya
Muhammdiyah merupakan konsekuensi logis dari munculnya pertanyaan
sederhana seorang muslim kepada diri sendiri dan masyarakat tentang
bagaimana memahami dan mengamalakan kebenaran Islam yang telah
diimani sehingga pesan global Islam, yaitu rahmatan lil alamin,dapat terwujud
dalam kehidupan obyektif umat manunsia.
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
 Perintisan Organisasi Masa Kiai Dahlan
Kiai Dahlan adalah satu diantara anggota menengah pribumi yang sepanjang hidupnya
berusaha mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata melalui gerakan dan
amal perjuangan. Kiai Dahlan berfikir besar tentang cita-cita perubahan sosial demi
kemajuan umat Islam yang sedang mengalami keterbelakangan, kebodohan dan
kemiskinan. Pikiran besarnya itulah yang kemudian mendorongnya untuk mendirikan
Muhammdiyah pada 18 November 1912. Setelah Muhammadiyah berdiri, Kiai Dahlan
mengajukan surat permintaan badan hukum (recht persoon) kepada Gubernur Jenderal
Belanda di Jakarta. Permintaan itu dikabulkan pada 22 Agustus 1914, dengan wilayah
yurisdiksi hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan berlaku selama 29 tahun. Dalam
Anggaran Dasar yang disahkan pemerintah Belanda, dinyatakan bahwa makud dan tujuan
Muhammadiyah adalah :
1. Memajukan serta menggembirakan pelajaran dan pengajaran agama Islam dalam
kalangan sekutu-sekutunya.
2. Memajukan serta menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam dalam
kalangan sekutu-sekutunya.
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
 Perkembangan Organisasi Masa Kiai Dahlan
Dalam masa perkembangan ini, pengaruh gerakan Muhammadiyah semakin
tersebar ke daerah-daerah lain di luar Yogyakarta. Perkembangan ini diikuti pula
dengan munculnya lembaga-lembaga pendukung (majelis,bagian) atau badan-
badan otonom dalam gerakan Muhammadiyah. Daerah operasi itu mulai meluas
setelah tahun 1917. Ketika kongres Budi Utomo di Yogyakarta, Kiai Dahlan
menyampaikan pengajian yang ternyata memberi kesan mendalam bagi para
utusan kongres. Akibatnya mucul banyak permintaan untuk mendirikan cabang
Muhammadiyah di berbagai daerah di pulau Jawa. Tetapi karena anggaran
dasar Muhammadiyah masih terbatas di daerah Yogyakarta, maka aturan ini
harus diamandemen lebih dahulu. Akhirnya pada tahun 1920 dinyatakan bahwa
wilayah yurisdiksi Muhammadiyah diperluas meliputi seluruh pulau Jawa. Dan
pada tahun berikutnya kembali diperluas ke seluruh wilayah Indonesia.
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
 Masa Penjajahan Belanda
Semenjak Kiai Dahlan meninggal tahun 1923 dan kepemimpinan dilanjutkan
oleh KH. Ibrahim, perdebatan yang terjadi antara organisasi Islam yang
bergerak di bidang politik dan sosial-keagamaan semakin memuncak. Pada
masa pimpinan KH. Ibrahim, Muhammadiyah dihadapkan pada benturan-
benturan internal maupun ekternal. Pada akhirnya, Muhammadiyah mampu
menyelesaikan masalah di atas dengan beberapa kompromi. Konsekuensi
harus kompromi dengan sistem pendidikan kolonial telah menyebabkan
Pimpinan Muhammadiyah menghadapi persoalan baru: bagaimana harus
menyesuaikan kurikulum dan pelayanan pendidikan Muhammadiyah dengan
kurikulum dan sistem pelayanan yang berlaku pada sekolah pemerintah
tanpa meninggalkan ciri pendidikan Muhammadiyah.
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
 Masa Pendudukan Jepang
Berbeda dengan sikap penjajah Belanda yang cenderung mencurigai aktifitas
politik tokoh Islam, Jepang justru bersikap sebaliknya. Mereka cenderung bersikap
lunak terhadap kelompok Islam. Pada periode ini juga terlihat sikap kritis
Muhammadiyah terhadap penjajah Jepang. Sikap ini ditunjukan ketika
menentang kebijakan jepang, saekerei , yakni penghormatan kepada Tenno
Haika dengan membungkukan badan ke arah timur. Melalui sidang Tarjih, akhirnya
dipustuskan kalau saekerei, adalah terlarang karena tidak sesuai dengan ajaran
agama Islam dan menjurus kepada tindakan syirik dan bertentangan dengan
prinsip tauhid. Diakhir masa kependudukan Jepang, atas desakan tokoh
pergerakan nasional Indonesia, maka pemerintah Jepang membentuk sebuah
panitia yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia yakni, Badan
Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi
Tyosakai. Lembaga ini beranggotakan enam puluh tiga orang termasuk Ki Bagus
Hadikusumo. Peranan Ki Bagus Hadikusumo cukup besar, seperti melahirkan
beberapa ide dan gagasan dalam rangka meletakan kerangka dasar negara
(filosofiche gronslag).
GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
 Relasi Muhammadiyah – Masyumi
Salah satu episode paling penting dari sejarah ketelibatan Muhammadiyah dalam politik
kepartaian adalah posisi Muhammadiyah sebagai anggota istimewa Majelis Syuro Muslimin
Indonesia (Masyumi). Berdiri sejak tahun 1945 di Yogyakarta, Masyumi disponsori oleh
Muhammadiyah bersama beberapa organisasi kemasyarkatan Islam lain sebagai anggota
istimewa, seperti NU, al-Wasliyah, PSII, Mathlaul Anwar, al-Hidayah, al-Irsyad dan Persis.
Masyumi merupakan wujud konkret dari ide persatuan umat Islam Indonesia, karena seluruh
organisasi Islam menyalurkan aspirasi politik mereka dalam satu wadah partai politik. Intensitas
keterlibatan Muhammadiyah di dalam Masyumi sangat tinggi, terutama setelah dua
organisasi menyatakan keluar dari Masyumi dan mendirikan partai politik sendiri: PSII tahun
1947 dan NU tahun 1952. Dinamika hubungan Muhammadiyah dan Masyumi mengalami
beberapa kali pasang surut. Dinamika tersebut setidaknya dapat dibagi dalam tiga tahap,
yakni:
1. Hubungan Mesra tahun 1945-1955
2. Hubungan Renggang tahun 1956-1959
3. Akhir Hubungan tahun 1959
MODEL GERAKAN SOSIAL
MUHAMMADIYAH
Ahmad Dahlan menerjemahkan teks-teks al-Qur’an kedalam kegiatan praksis
social, amaliah, atau tindakan. Inilah yang menjadi pembeda dengan tokoh-
tokoh yang lain. Ia lebih menonjolkan aksi, bukan menonjolkan pemikiran,
tetapi tidak berarti Muhammadiyah mengabaikan pemikiran keagamaan.
Konsistensi di bidang gerakan social ini menjadi cirri khas, dan kemudian
dikenal istilah metode tafsir sosial dalam Muhammadiyah.
Teologi al-Ma’un diterjemahkan kedalam tiga pilar kerja atau tiga bentuk
pelayanan yakni; pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan dan
pelayanan sosial
MODEL GERAKAN SOSIAL
MUHAMMADIYAH
 Pelayanan Pendidikan
Seperti disebutkan pada uraian terdahulu, doktrin Muhammadiyah adalah
pencerahan dan doktrin amal salih. Konsekwensi dari doktrin ini adalah
Muhammadiyah mencurahkan segala kemampuannya untuk mendirikan
sekolah-sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak atau Pendidikan Usia Dini
sampai ke Perguruan Tinggi. Besarnya apresiasi sejarah terhadap organisasi
Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari peranan Muhammadiyah dalam
memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu
factor yang mendorong KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah
adalah keterbelakangan bangsa Indonesia dari segi pendidikan. Tentu
problem tersebut sekaligus menjadi problem umat Islam
MODEL GERAKAN SOSIAL
MUHAMMADIYAH
 Pelayanan Kesehatan
Tahun 1918 telah berdiri Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) yang pada
tahun 1921 menjadi bagian khusus dalam Muhammadiyah. Pada tahun 1926,
berdirilah klinik di Surabaya, malang dan Surakarta atau Solo, selain klinik yang
ada di Jokyakarta. Sekarang ini masalah pelayanan kesehatan diurus oleh
suatu majelis yang diberi nama Majelis Pembinaan kesehatan Umum. Dalam
mewujudkan visi muhammadiyah tahun 2025, salah satu usahanya adalah
meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sekarang,
Muhammadiyah mengelola Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP dan lain
sebagainya yang secara keseluruhan telah berjumlah 457 buah (lihat profil
Muhammadiyah, 2015). Semangat warga Muhammadiyah mendirikan amal
usaha dalam bidang kesehatan semakin tumbuh. Hal ini mungkin disebabkan
oleh banyaknya putra-putri Muhammadiyah yang kuliah di Fakultas
Kedokteran
MODEL GERAKAN SOSIAL
MUHAMMADIYAH
 Pelayanan Sosial
Dalam mewujudkan visi Muhammadiyah tahun 2025, usaha lainnya adalah
memajukan perekonomian dan kewirausahaan kea rah perbaikan hidup yang
berkualitas. Selain masalah pendidikan yang menjadi alas an utama KH. Ahmad
Dahlan mendirikan muhammadiyah, masalah ekonomi umat juga menjadi factor
dominan pendorong lahirnya persyarikatan muhammadiyah. Jika usaha
pendidikan berusaha untuk mengubah situasi umat yang bodoh menjadi umat
yang cerdas, maka bidang ekonomi digarap dalam rangka mengubah keadaan
masyarakat yang miskin menjadi masyarakat yanga kaya atau paling tidak
menjadi masyarakat yang berkecukupan.
Amal usaha dalam bidang kesejahteraan/kesehatan meliputi pembinaan anak
yatim dan anak fakir miskin, pembinaan daerah kumuh, daerah tertinggal, anak
jalanan, pekerja anak, rumah sakit, rumah bersalin, balai kesehatan masyarakat
(Keputusan muktamar Muhammadiyah 43:162), Pemberdayaan masyarakat,
pendampingan usaha masyarakat tani dan nelayan.