Anda di halaman 1dari 125

Proposal Penelitian

Selasa, 13 Agustus 2019

PERBANDINGAN POLA BERJALAN


PADA PASIEN OBESITAS DENGAN NON OBESITAS
DISERTAI OSTEOARTHRITIS LUTUT

Oleh :
dr. Laras Hapsari

Pembimbing :
Dr. dr. Tirza Z. Tamin, SpKFR-K
dr. I Nyoman Murdana, SpKFR-K
Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, SpPD-KGEH
Latar Belakang Masalah

Obesitas Menimbulkan Angka morbiditas


gangguan kesehatan dan disabilitas ↑

Departemen Rehabilitasi Medik


Prevalensi obesitas ↑
RSCM  jumlah kunjungan
Riskesdas 2018
Poliklinik Obesitas ↑
Pria (15 %  20 %)
2015 – 2016 (1174  2272)
Wanita (26 %  35 %)
2017-2108 (2821  3370)

1. World Health Organization. Obesity and Overweight. 2013. p. 128.


2. Kementrian kesehatan RI. Hasil utama riskesdas 2018. 2018;61
Modifikasi faktor
Etiologi OA
OA

Faktor etiologi OA
Menurunkan
- Obesitas
progresifitas
- Usia
- Cedera lutut
- Penggunaan berlebihan
pada sendi
- Kepadatan tulang
Mencegah nyeri
- Kelemahan otot
dan disabilitas
- Laxity sendi

3. Losina E, Walensky RP, Reichmann WM, Holt HL, Gerlovin H, Solomon DH, et al. Original Research Impact of Obesity and Knee Osteoarthritis on Morbidity and Mortality in Older
Americans. Ann Intern Med. 2011;26(154):217–26.
Obesitas OA Adaptasi pada pola berjalan 
lutut  mengurangi high joint loading 
25% lebih
stabilitas menurunkan GRF (Ground
tinggi berisiko
tubuh jatuh  cost Reaction Force), EKAM (External
terganggu Knee Adduction Moment)

Perubahan pola berjalan (kecepatan


berjalan, panjang selangkah, lebar
setapak, panjang setapak, dan jumlah
langkah)

Harding et al.  penurunan


kecepatan berjalan dan panjang
selangkah pada obesitas dengan OA
lutut moderate dibandingkan non
obesitas dengan OA lutut
Bw OP. Simulating gait in patients with knee osteoarthritis. Maastricht; 2019.
Lai PPK, Leung AKL, Li ANM, Zhang M. Three-dimensional gait analysis of obese adults. 2008;23:2–6.
Harding GT, Hubley-kozey CL, Dunbar MJ, Stanish WD, Astephen JL. Body mass index affects knee joint mechanics during gait differently with and without moderate knee osteoarthritis.
Osteoarthr Cartil [Internet]. 2012;20(11):1234–42. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.joca.2012.08.004
Perumusan Masalah
Belum diketahuinya
Obesitas dengan OA Perubahan pola berjalan
pengaruh obesitas dan OA
 kecepatan berjalan,
lutut risiko jatuh lebih panjang selangkah, lebar
lutut pada perbedaan
tinggi perubahan setapak, panjang setapak,
pola berjalan terhadap
pola berjalan non obesitas dengan OA
dan jumlah langkah
lutut di Indonesia

Diketahuinya pola berjalan pasien


obesitas dengan OA lutut  dapat
menentukan gangguan pola berjalan
 membantu mengkoreksi kelainan
yang ada  mencegah risiko jatuh

4. Porto HC Del, Pechak CM, Smith DR, Reed-Jones RJ. Biomechanical Effects of Obesity on Balance. Int J Exerc Sci [Internet]. 2012;5(4):301–20. Available
from:https://digitalcommons.wku.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1465&context=ijes
Pertanyaan Penelitian

 Apakah terdapat perbedaan pola berjalan antara


pasien obesitas dengan non obesitas disertai OA lutut?
Hipotesis

 Terdapat perbedaan pola berjalan antara pasien


obesitas dengan non obesitas disertai OA lutut
Tujuan Penelitian

 Tujuan Umum
Mengetahui perubahan pola berjalan pada pasien
obesitas dengan non obesitas disertai OA lutut untuk
mencegah risiko jatuh
Tujuan Khusus

1. Mengetahui perbedaan kecepatan berjalan antara pasien


obesitas dengan non obesitas disertai OA lutut
2. Mengetahui perbedaan panjang setapak antara pasien obesitas
dengan non obesitas disertai OA lutut
3. Mengetahui perbedaan lebar setapak antara pasien obesitas
dengan non obesitas disertai OA lutut
4. Mengetahui perbedaan panjang selangkah antara pasien
obesitas dengan non obesitas disertai OA lutut
5. Mengetahui perbedaan jumlah langkah antara pasien obesitas
dengan non obesitas disertai OA lutut
Manfaat Penelitian

 Bidang Pendidikan
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan
data dasar mengenai pola berjalan pada obesitas
dengan OA lutut yang akan menambah pengetahuan
dalam bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
 Bidang Pelayanan
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pentingnya intervensi
latihan pada abnormalitas pola berjalan dalam mencegah risiko
jatuh pada obesitas dengan OA lutut

 Bidang Pengembangan Penelitian


1. Mendapatkan gambaran data dasar pola berjalan obesitas
dengan OA lutut di Negara Indonesia
2. Membuka penelitian selanjutnya mengenai faktor risiko
perubahan pola berjalan pada pasien obesitas dengan OA
lutut
TINJAUAN PUSTAKA
OBESITAS
EPIDEMIOLOGI

 Prevalensi obesitas di Indonesia menurut Riskesdas 2018


meningkat jika dibandingkan dengan 2013
 Pria : 15 persen  20 persen
 Wanita : 26 persen  35 persen
 Departemen Rehabilitasi Medik RSCM  peningkatan
jumlah kunjungan pasien ke Poliklinik Obesitas dari tahun
2015 – 2016 (1174  2272) dan 2017-2108 (2821  3370)
 Tingginya prevalensi  meningkatkan angka morbiditas
dan disabilitas yang diakibatkan oleh obesitas
1. World Health Organization. Obesity and Overweight. 2013. p. 128.
2. Kementrian kesehatan RI. Hasil utama riskesdas 2018. 2018;61
ETIOLOGI

Kadouh HC, Acosta A. Current paradigms in the etiology of obesity. Tech Gastrointest Endosc [Internet]. 2017;19(1):2–11. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.tgie.2016.12.001
Obesitas adalah penyakit multifaktorial

Kadouh HC, Acosta A. Current paradigms in the etiology of obesity. Tech Gastrointest Endosc [Internet]. 2017;19(1):2–11. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.tgie.2016.12.001
DIAGNOSIS

INDEKS MASSA TUBUH (IMT)


 Dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan
tinggi badan dalam meter persegi
 IMT berkorelasi dengan jumlah lemak tubuh  risiko penyakit

1. International Diabetes Institute/ Western Pacific World Health Organization/ International, Force A for the study of OIOT. The Asia-Pacific perspective: redefining obesity and its
treatment. Geneva, Switzerland: World Health Organization. 2000. p. 56.
LINGKAR PINGGANG

 World Health Organisation (WHO)  obesitas


central pada orang Asia sebagai lingkar pinggang
> 90 cm pada pria dan > 80 cm pada wanita
OSTEOARTHRITIS
EPIDEMIOLOGI
 Kelainan sendi terbanyak di Amerika Serikat
 OA lutut timbul pada 10% pria dan 13% perempuan usia 60 tahun
ke atas
 Di Indonesia, prevalensi OA adalah 74,48% (2004)  69% pasien
wanita dan 87% OA lutut
 Berdasarkan provinsi, Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa di
Indonesia, NTT prevalensi OA tertinggi (33,1%)  Riau provinsi
terendah (9%)

2. Kementrian kesehatan RI. Hasil utama riskesdas 2018. 2018;61.


16. Indonesian Rheumatology Association. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Rekomendasi IRA untuk Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. 2014. 13 p.
17. Litwic A, Registrar S, Edwards M, Clinical M. Europe PMC Funders Group Epidemiology and Burden of Osteoarthritis. 2013;44(0):185–99.
ETIOLOGI

1. Heidari B. Knee osteoarthritis prevalence, risk factors, pathogenesis and features: Part I. Casp J Intern Med. 2011;2(2):205
2. Ashkavand Z, Malekinejad H, Vishwanath BS. The pathophysiology of osteoarthritis. J Pharm Res [Internet]. 2013;7(1):132–8. Available from:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0974694313000534
1. Ashkavand Z, Malekinejad H, Vishwanath BS. The pathophysiology of osteoarthritis. J Pharm Res [Internet]. 2013;7(1):132–8. Available from:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0974694313000534
2. Pottie P, Presle N, Terlain B, Netter P, Mainard D, Berenbaum F. Obesity and osteoarthritis: More complex than predicted! Ann Rheum Dis. 2006;65(11):1403–5.
1. Ashkavand Z, Malekinejad H, Vishwanath BS. The pathophysiology of osteoarthritis. J Pharm Res [Internet]. 2013;7(1):132–8. Available from:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0974694313000534
2. Pottie P, Presle N, Terlain B, Netter P, Mainard D, Berenbaum F. Obesity and osteoarthritis: More complex than predicted! Ann Rheum Dis. 2006;65(11):1403–5.
3. Bialosky JE, Bishop MD, Price DD, Robinson ME, George SZ, Khayrullina T. NIH Public Access. Curr Opin Rheumatol. 2010;22(5):533–7
TANDA DAN GEJALA

Nyeri

Kekakuan sendi

Kelemahan otot

Pembengkakan

. Ashkavand Z, Malekinejad H, Vishwanath BS. The pathophysiology of osteoarthritis. J Pharm Res [Internet]. 2013;7(1):132–8. Available from:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0974694313000534
Indonesian Rheumatology Association. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Rekomendasi IRA untuk Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. 2014. 13 p.
Indonesian Rheumatology Association. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Rekomendasi IRA untuk Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. 2014. 13 p.
PENANGANAN OA LUTUT

Indonesian Rheumatology Association. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. Rekomendasi IRA untuk Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. 2014. 13 p.
Risiko Jatuh
 OA lutut  prediktor jatuh pada 25 tahun terakhir
 OA lutut  risiko lebih besar untuk jatuh dibandingkan
dengan non OA (> 50% OA lutut jatuh pada satu tahun
terakhir)
 Risiko jatuh pada usia lanjut dengan OA lutut 1,5 kali
lipat dibandingkan usia lanjut tanpa OA lutut
 Jatuh pada usia lanjut  hubungan terbesar antara
perubahan gait dengan risiko jatuh pada usia lanjut 
diikuti oleh kelemahan otot (17%)

Manlapaz DG, Zealand N, Sole G, Lecturer S, Zealand N, Jayakaran P, et al. Risk factors for falls in adults with knee osteoarthritis: a systematic review.
Hoops ML, Rosenblatt NJ, Hurt CP, Crenshaw J, Grabiner MD. Does lower extremity osteoarthritis exacerbate risk factors for falls in older adults ? 2012;8:685–98.
 Usia lanjut dengan obesitas dan OA  risiko tinggi untuk jatuh
dibandingkan dengan individu usia lanjut dengan OA saja
maupun dengan obesitas saja 25% lebih tinggi berisiko jatuh
 Pasien jatuh  34 trilyun dollar Amerika tahun 2013 (Centers for
Disease Control and Prevention)
 Abnormalitas gait  jatuh dan penurunan mobilitas
 Pengurangan kecepatan berjalan  functional loss  risiko jatuh

Pater ML, Rosenblatt NJ, Grabiner MD. Knee osteoarthritis negatively affects the recovery step following large forward-directed postural perturbations. J Biomech [Internet].
2019;49(7):1128–33. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jbiomech.2016.02.048
Hoops ML, Rosenblatt NJ, Hurt CP, Crenshaw J, Grabiner MD. Does lower extremity osteoarthritis exacerbate risk factors for falls in older adults ? 2012;8:685–98.
Sharma L, Lou C, Cahue S, Dunlop DD. The mechanism of the effect of obesity in knee osteoarthritis: the mediating role of malalignment. Arthritis Rheum [Internet]. 2000;43(3):568–75.
Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10728750
Rodríguez-molinero A, Herrero-larrea A, Miñarro A, Narvaiza L, Gálvez-barrón C, León NG, et al. The spatial parameters of gait and their association with falls , functional decline and death
in older adults : a prospective study. 2019;(September 2018):1–9 .
 Berjalan  aktivitas paling sering dilakukan sehari-hari 
perubahan pola berjalan (kecepatan berjalan, panjang
selangkah, lebar setapak, panjang setapak, dan jumlah
langkah)
  terdeteksi oleh pengukuran klinis kuantitatif 
pengukuran parameter gait
 Gervasio et al, didapatkan risiko jatuh terbesar dengan
perubahan pola berjalan, berada pada usia antara 50
hingga 70 tahun

Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p.
Santos GA, Ribeiro DM, Menezes RL De. Falls risk detection based on spatiotemporal parameters of three-dimensional gait analysis in healthy adult women from 50 to 70 years old.
POLA BERJALAN
21. Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p
21. Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p
STANCE
HEEL STRIKE

 Heel strike  pergelangan kaki sedikit dorsifleksi dan otot


anterior kaki berkontraksi  mencegah forefoot untuk
jatuh
 Otot secara progresif relaksasi  menurunkan kaki 
berat dipindahkan ke lateral dari kaki  pergelangan
kaki saat stance dimulai
 Heel-strike  lutut sedikit fleksi  kontraksi quadriceps 
mencegah kolaps

Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p.
Jones O. Walking and Gaits [Internet]. 2019 [cited 2019 Jun 12]. Available from: https://teachmeanatomy.info/lower-limb/misc/walking-and-gaits/
Catlin B, Lyons J. Human Anatomy. Posture and locomotion [Internet]. Dartmouth Medical School. 2008. Available from:
https://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_3/chapter_18.html
SUPPORT
 Quadriceps femoris : menjaga paha tetap ekstensi,
menerima berat dari tubuh
 Inverter dan everter kaki : berkontraksi seimbang untuk
menstabilkan kaki
 Gluteus minimus, gluteus medius, dan tensor fascia lata
(abductor hip) :  menahan kecenderungan
pergerakan ke bawah dari hip pada sisi kebalikan 
kontraksi otot  menjaga kesegarisan pelvis
 Kedua kaki menyentuh lantai  double limb support,
hanya salah satu kaki menyentuh lantai  single limb
support
Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p.
Jones O. Walking and Gaits [Internet]. 2019 [cited 2019 Jun 12]. Available from: https://teachmeanatomy.info/lower-limb/misc/walking-and-gaits/
Catlin B, Lyons J. Human Anatomy. Posture and locomotion [Internet]. Dartmouth Medical School. 2008. Available from:
https://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_3/chapter_18.html
TOE OFF

 Hamstring : ekstensikan paha pada hip


 Quadriceps femoris : mempertahankan posisi ekstensi
pada lutut
 Kompartemen posterior kaki : plantarfleksi pergelangan
kaki
 Prime mover  gastrocnemius, soleus, dan tibialis
posterior
  berikutnya memulai fase swing

Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p.
Jones O. Walking and Gaits [Internet]. 2019 [cited 2019 Jun 12]. Available from: https://teachmeanatomy.info/lower-limb/misc/walking-and-gaits/
Catlin B, Lyons J. Human Anatomy. Posture and locomotion [Internet]. Dartmouth Medical School. 2008. Available from:
https://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_3/chapter_18.html
SWING
LEG LIFT

• Iliopsoas dan rectus femoris : fleksi paha pada hip,


mengarahkan lutut maju
• Hamstring : fleksi kaki pada sendi lutut
• Kompartemen anterior pada kaki : dorsifleksi
pergelangan kaki

Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p.
Jones O. Walking and Gaits [Internet]. 2019 [cited 2019 Jun 12]. Available from:
https://teachmeanatomy.info/lower-limb/misc/walking-and-gaits/
Catlin B, Lyons J. Human Anatomy. Posture and locomotion [Internet]. Dartmouth Medical School. 2008.
Available from: https://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_3/chapter_18.html
SWING

• Iliopsoas dan rectus femoris : menjaga paha tetap fleksi


pada hip, melawan gravitasi saat gravitasi mencoba
untuk menarik ekstremitas bawah turun
• Quadriceps femoris : ekstensi kaki pada lutut,
memposisikan kaki untuk mendarat
• Kompartemen anterior pada kaki : menjaga dorsifleksi
sehingga heel pada tempat yang tepat untuk mendarat

Lippert LS. Clinical Kinesiology and Anatomy 5th ed. 2011. 339-41 p.
Jones O. Walking and Gaits [Internet]. 2019 [cited 2019 Jun 12]. Available from:
https://teachmeanatomy.info/lower-limb/misc/walking-and-gaits/
Catlin B, Lyons J. Human Anatomy. Posture and locomotion [Internet]. Dartmouth Medical School. 2008.
Available from: https://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_3/chapter_18.html
Nilai normal berjalan

de Souza SA et al Beauchet et al

 Kecepatan berjalan =  Kecepatan berjalan


130 m/s (cm/detik) : 125.4 ± 21.7
 Jumlah langkah : 1,8
langkah/s  Lebar selangkah (cm) 9.9
± 3.1
 Panjang setapak : 66 cm
 Panjang selangkah : 132  Panjang selangkah (cm)
cm 138.0 ± 16.6
 Lebar setapak : 5-10 cm
Aparecida S, Souza F De, Faintuch J, Carlos A, Fernando A, Anna S, et al. Gait Cinematic Analysis in Morbidly Obese Patients. 2005;1238–42.
Beauchet O, Allali G, Sekhon H, Verghese J, Guilain S. Guidelines for Assessment of Gait and Reference Values for Spatiotemporal Gait Parameters in Older Adults : The Biomathics and
Canadian Gait Consortiums Initiative. 2017;11(August).
Pola Berjalan Pada Non Obesitas
Dengan OA Lutut
 Abnormalitas gait  instabilitas pada sendi lutut pasien
OA lutut  kecepatan berjalan lebih lambat, panjang
selangkah yang berkurang dan fase stance yang
memanjang pada siklus gait
  heel-strike KFA yang lebih besar (pada lutut yang
jarang difleksikan)
 Kelemahan otot pada OA lutut (disuse atrophy dari
otot)  nyeri sendi, refleks inhibisi otot, dan
ketidakmampuan mengaktivasi quadriceps 
menurunnya produksi gaya

Bakheit AMO. A study of the gait characteristics of patients with chronic osteoarthritis of the knee. 2002;24(5):275–80.
Favre J, Jolles BM. Gait analysis of patients with knee osteoarthritis highlights a pathological mechanical pathway and provides a basis for therapeutic interventions. 2016;1(October).
Liikavainio T. Biomechanics of Gait and Physical Function in Patients with Knee Osteoarthritis. University of Eastern Finlandia; 2010.
 Peranan quadriceps  mengontrol eccentric lutut
selama flexi pada fase stance
 Quadriceps lemah  kompensasi hip ekstensor 
membawa tungkai ke posisi lebih ekstensi  mengurangi
jumlah fleksi lutut pada fase stance
 Heel strike muncul lebih awal  meningkatkan
plantarfleksi pergelangan kaki, mencegah pergerakan ke
depan dari tibia  menstabilisasi sendi lutut
 Quadriceps femoris yang kuat sebagai ekstensor lutut 
mengurangi pembebanan tungkai bawah 
memperlambat fase deselerasi sebelum heel strike

Todd P. Stitik J-HK, Doreen Stiskal, Patrick Foye, Robert Nadler, James Wyss and SH. DeLisa’s Physical Medicine & Rehabilitation PRINCIPLES AND PRACTICE. 5 edition. Philadelphia; 2010. p.
781-809
University of Washington. Pathologic Gait: Musculoskeletal [Internet]. Available from: http://courses.washington.edu/anatomy/KinesiologySyllabus/PathGait1Ortho
 Puncak gaya pada hip dan ekstensor lutut  serabut
fiber yang memanjang dimana otot-otot tersebut
membangun gaya maksimal  perubahan panjang
setapak lebih besar dibandingkan frekuensi langkah
 Panjang setapak yang meningkat  kontribusi lebih
kecil pada gaya gravitasi (postur tungkai) ke support
vertical
 Kelemahan hip dan ekstensor lutut  berjalan lebih
lambat  mengurangi panjang setapak dan frekuensi
langkah

Lim YP, Lin Y, Pandy MG. Effects of step length and step frequency on lower-limb muscle function in human gait. J Biomech [Internet]. 2017; Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jbiomech.2017.03.004
ICF CORE SET
 Postur  kemampuan adaptasi pada perubahan selama
berjalan
 Distribusi lemak tubuh area abdomen  perubahan
center of pressure anterior posterior ke arah depan 
berat badan bertumpu pada kaki  instabilitas AP
selama keseimbangan statis dan dinamis
 Perubahan parameter gait temporospatial (panjang
setapak dan frekuensi langkah)  mekanisme
kompensasi untuk instabilitas
 Usaha meningkatkan keseimbangan  jatuh dan cedera

Forhan M, Reg OT, Gill S V, Otr L. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism Obesity , functional mobility and quality of life. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab
[Internet]. 2019;27(2):129–37. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.01.003
 Perubahan pola berjalan pada individu obese 
menurunkan torsi lutut dan mengurangi impak pada sendi
lutut dan hip ketika berjalan
 Pola berjalan yang dimodifikasi  menjaga skeletal health
 Penurunan pada pola berjalan  perbedaan parameter
gait temporospatial antara obese dan normoweight 
kecepatan berjalan, panjang selangkah, jumlah langkah,
panjang setapak, lebar setapak

Forhan M, Reg OT, Gill S V, Otr L. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism Obesity , functional mobility and quality of life. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab
[Internet]. 2019;27(2):129–37. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.01.003
 Fungsi eksekutif menurun (planning and mental flexibility)
dibandingkan individu dengan berat badan normal
 Komponen kognitif menurun atau terganggu  plan motor
actions akan menurun  disebabkan oleh proses metabolik
yang terganggu  mempengaruhi struktur otak  planning
and organisasi  cerebellum
 Penurunan aliran oksigen ke otak  kurangnya aktivitas fisik
 Ketidakmampuan beradaptasi selama pergerakan  saat
berjalan  cedera

Forhan M, Reg OT, Gill S V, Otr L. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism Obesity , functional mobility and quality of life. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab
[Internet]. 2019;27(2):129–37. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.01.003
 Nyeri pada ekstremitas bawah  abnormalitas gait
 Peningkatan nyeri sendi, terutama lutut  anterior–
posterior (AP) dan medial–lateral (ML) sway  hilangnya
stabilitas dan berakibat jatuh
 Nyeri  mempengaruhi mobilitas fungsional 
menurunkan HRQoL (Health Related Quality of Life)

Forhan M, Reg OT, Gill S V, Otr L. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism Obesity , functional mobility and quality of life. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab
[Internet]. 2019;27(2):129–37. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.01.003
 Individu obese  body functions and structures
impairments  mempengaruhi mobilitas fungsional 
meningkatkan kemampuan pasien  latihan
 Adaptasi gait  mengakomodasi kelebihan berat
badan dan memproteksi tulang dan sendi
 Perubahan parameter gait  pasien obesitas memiliki
risiko jatuh tinggi dan berakibat cedera

Forhan M, Reg OT, Gill S V, Otr L. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism Obesity , functional mobility and quality of life. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab
[Internet]. 2019;27(2):129–37. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.01.003
 15% energy expenditure dibutuhkan dua kali lipat untuk
berjalan satu kilometer selama kecepatan berjalan 1.5 m/s
 Energy expenditure  disabilitas mobilitas fungsional atau
adaptasi terhadap parameter gait  intervensi  perubahan
parameter gait yang tidak meningkatkan energy
expenditures pada individu obese mengurangi kerusakan
potensial pada tulang sendi dan nyeri (konservasi energi)
 Intervensi  kontrol postural dan stabilitas berjalan  program
pencegahan jatuh dapat diberikan  segala usia

Forhan M, Reg OT, Gill S V, Otr L. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism Obesity , functional mobility and quality of life. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab
[Internet]. 2019;27(2):129–37. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.01.003
Pola Berjalan Pada Obesitas Dengan
OA Lutut
 Perubahan pola berjalan  panjang selangkah yang
lebih pendek  meminimalisir loading pada sendi lutut
 Peningkatan IMT  modifikasi spatiotemporal mayor 
panjang selangkah yang lebih pendek, jumlah langkah
yang lebih rendah  kecepatan berjalan yang rendah
 Harding et al  hubungan antara IMT dengan perubahan
pola berjalan  perubahan pada pola biomekanika 
penurunan kecepatan berjalan dan panjang selangkah
pada subjek obesitas dengan OA lutut moderate
dibandingkan non obesitas dengan OA moderate

Harding GT, Hubley-kozey CL, Dunbar MJ, Stanish WD, Astephen JL. Body mass index affects knee joint mechanics during gait differently with and without moderate knee osteoarthritis.
Osteoarthr Cartil [Internet]. 2012;20(11):1234–42. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.joca.2012.08.004
Russell EM, Braun B, Hamill J. Clinical Biomechanics Does stride length influence metabolic cost and biomechanical risk factors for knee osteoarthritis in obese women ? Clin Biomech
[Internet]. 2019;25(5):438–43. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.clinbiomech.2010.01.016
Henriksen M, Jørgensen LB, Aaboe J. Obesity and Walking : Implications for Knee Osteoarthritis and Plantar Heel Pain. 2015;(2012):160–5
 Loading pada sistem muskuloskeletal pasien obesitas 
perubahan pola berjalan yang patologis, hilangnya mobilitas,
dan progresifitas  disabilitas pada OA lutut
 Berat badan  beban sendi  pasien obesitas memiliki EKAM
yang meningkat dibandingkan pasien dengan berat badan
normal  ditambah dengan faktor sistemik dari jaringan
adiposa  mempercepat degenerasi kartilago lutut pada
pasien obesitas
 Kelemahan otot quadriceps  deselerasi cepat sebelum heel
strike  mengurangi high joint loading  adaptasi pada pola
berjalannya  menurunkan GRF  pengurangan kecepatan
berjalan

Hills AP, Hennig EM, Mcdonald M. Plantar pressure differences between obese and non- obese adults : a biomechanical analysis. 2001;1674–9.
 Bwop et al pada 55 pasien obesitas dengan OA lutut 
berjalan lebih lambat dan panjang selangkah yang
lebih pendek dan EKAM lebih tinggi dibandingkan OA
lutut normoweight
 Berat badan memiliki peranan pada EKAM
 Perubahan pola berjalan  mengurangi kecepatan
berjalan  menurunkan EKAM dan panjang setapak
yang lebih kecil  mengurangi peak loading pada
sendi lutut

Bw OP. Simulating gait in patients with knee osteoarthritis. Maastricht; 2019


 Individu obese  kecepatan berjalan lebih lambat,
panjang selangkah lebih pendek, dan peningkatan fase
stance dan double support saat berjalan
 Adduksi hip yang lebih besar  pada fase terminal
stance dan pre-swing
 Individu obese  mengadjust kekuatan otot hip adductor
selama fase terminal stance  mengontrol body sway
dan menjaga upright stability  menahan hip extension
 Adaptasi gait  mengurangi momen dan energy
expenditure

Lai PPK, Leung AKL, Li ANM, Zhang M. Three-dimensional gait analysis of obese adults. 2008;23:2–6.
 Lai et al  pasien obesitas  karakteristik pola berjalan
 mengurangi momen pada lutut
 Perbedaan bermakna  pola berjalan temporal-spatial
antara obesitas dengan OA lutut dibandingkan non
obesitas dengan OA lutut dengan berat badan normal
 berjalan lebih lambat dan memiliki panjang
selangkah yang lebih pendek

Lai PPK, Leung AKL, Li ANM, Zhang M. Three-dimensional gait analysis of obese adults. 2008;23:2–6.
 Adaptasi biomekanik pada obesitas  variabel pola
berjalan  pengurangan kecepatan, jumlah langkah, dan
panjang selangkah, demikian juga peningkatan support
base atau lebar setapak
 Abnormalitas pola berjalan  defisit mobilitas pada 
lingkar pinggang yang besar  mengurangi fleksi hip dan
lutut akibat jaringan adiposa di abdomen dan tungkai
bawah  fase stance yang lebih memanjang dan fase
swing yang lebih pendek  panjang setapak, panjang
selangkah yang lebih pendek dan juga frekuensi langkah
yang lebih sedikit

Porto HC Del, Pechak CM, Smith DR, Reed-Jones RJ. Biomechanical Effects of Obesity on Balance. Int J Exerc Sci [Internet]. 2012;5(4):301–20. Available from:
https://digitalcommons.wku.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1465&context=ijes
 Adaptasi pola berjalan  kebutuhan akan stabilitas
postural  COG berubah  keseimbangan terganggu
 hip circumduction dan lateral leg swing 
mengurangi efek GRF
 GRF 60% lebih besar pada obesitas  mediolateral
 Lebar setapak meningkat sekitar 30%  meningkatkan
stabilitas lateral

Porto HC Del, Pechak CM, Smith DR, Reed-Jones RJ. Biomechanical Effects of Obesity on Balance. Int J Exerc Sci [Internet]. 2012;5(4):301–20. Available from:
https://digitalcommons.wku.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1465&context=ijes
 EKAM yang meningkat  adaptasi untuk meredistribusi
GRF melalui lutut
 Kecepatan berjalan yang lebih lambat  menurunkan
GRF dan momen otot absolut (N-m) 
mempertahankan kecepatan berjalan
 Deviasi postural  anterior tilt dari trunk 
mempengaruhi pola berjalan
 Metabolik cost berjalan 10-12% lebih besar  adaptasi
meningkatnya lebar setapak

Porto HC Del, Pechak CM, Smith DR, Reed-Jones RJ. Biomechanical Effects of Obesity on Balance. Int J Exerc Sci [Internet]. 2012;5(4):301–20. Available from:
https://digitalcommons.wku.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1465&context=ijes
 Contti et al (42 pasien obese dan 20 dewasa
normoweight)
 berjalan lebih lambat (p < 0.0005)
 panjang selangkah lebih pendek (p < 0.0005)
 frekuensi langkah lebih rendah (p < 0.0005)
 stance lebih lama (p < 0.0005)
 swing lebih singkat (p < 0.0005)  menjaga stabilitas 
massa and gaya lebih besar  kompensasi kinematik 
memperlambat progresifitas dari OA lutut

L. Conti, M.G. Benedetti ∗, S. Sergi, A. Di Gioia, L. Berti, F. Catani S, Giannini. Gait abnormalities in obese people and knee osteoarthritis. 19(2009):40–1
SUBJEKTIF VISUAL

ANALISA
Video Analysis
POLA and Treadmill
BERJALAN
Electronic and
OBJEKTIF Computerized
Apparatus

Electronic
Pedometers
PENGUKURAN KUANTITATIF

Dynamic Analisis Analisis


loads Kinematik Kinetik

Analisis
EMG Konsumsi
temporal-
dinamik oksigen
spatial
Dynamic Loads
 Metode langsung
 Pergerakan, perputaran, dan prosedur gait normal  hingga 5X
berat badan pada pergelangan kaki dan 3 kali lipat pada lutut
(gaya / kekuatan geser (shear force) )
 Menggunakan peralatan tekanan intrartikular  jarang
digunakan pada manusia
 Pada model hewan  malalignment menyebabkan dynamic
load yang berlebih  destruksi kartilago dan progresif

Egloff C, Hügle T, Valderrabano V. Biomechanics and pathomechanisms of osteoarthritis. 2012;(July):1–14.


 Metode tidak langsung  noninvasif dan dapat
diterapkan luas
 Selama siklus gait  kamera video dan plat GRF
mengukur tekanan dan pergerakan  merubah data-
data tersebut menjadi external moment relatif terhadap
load sendi internal
 Keterbatasan  hanya menggambarkan load saat
waktu spesifik
 Perubahan selama gait, kecepatan berjalan, dan fase
stance tidak tergambarkan

Egloff C, Hügle T, Valderrabano V. Biomechanics and pathomechanisms of osteoarthritis. 2012;(July):1–14.


Analisis Kinematik
 Mendapatkan sudut hip, lutut, dan pelvis  memindahkan
tanda refleksi pada sendi dengan 4-6 kamera  trajektori
pada lintasan berjalan
 Menggunakan aksis internal dan sudut rotasi 
menggambarkan pergerakan 3D pada sendi selama berjalan
 Meliputi pelvic tilt dan sudut perputaran, fleksi hip, sudut abduksi
dan adduksi; fleksi lutut dan sudut abduksi; dorsifleksi
pergelangan kaki dan sudut fleksi ibu jari kaki; dan lingkup
gerak sendi ibu jari kaki
 Kelemahan  kompleks dan menghabiskan banyak waktu
serta sulit digunakan pada penggunaan klinis

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9
Analisis Kinetik

 Tekanan dan load selama pergerakan  dua plat gaya


 mengukur distribusi tekanan plantar dan GRF pada
fase support saat berjalan  stress vertikal, gaya geser
horizontal, dan lateral dan area gaya plantar
 Tambahan sensor pada kaki  mengukur tekanan
plantar di beberapa bagian
 Kelemahan  tidak mendapatkan variabel ruang
berjalan

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9
EMG Dinamik

 Efektif untuk mendeteksi aktivitas otot selama berjalan 


menganalisa dan merekam waktu dan intensitas dari
aktivitas otot
 Otot superfisial menggunakan elektroda permukaan,
otot dalam diimplan elektroda wire
 Penting untuk gait yang abnormal dengan penyebab
pada saraf, dan otot
 Kelemahan  biaya yang dibutuhkan cukup tinggi dan
sulit diterima luas

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9
Konsumsi Oksigen

 Menganalisa konsumsi energi saat berjalan  memakai


analyzer oksigen portable
 Gas yang dikeluarkan dikumpulkan selama berjalan 
analisis konsumsi oksigen yang berkaitan dengan jarak
tempuh : semakin rendah cost oksigen  semakin
rendah konsumsi energi untuk berjalan
 Mendeteksi konsumsi oksigen selama berjalan dengan
prosthesa, orthosis  penilaian efisiensi rehabilitasi

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9
Pengukuran Pola Berjalan Menggunakan
KINOVEA®
 Video yang direkam, dianalisa  open-source sport technical
analysis software KINOVEA®  mengukur panjang setapak,
kecepatan berjalan, dan jarak tempuh
 Subjek dan kamera sama-sama bergerak selama perekaman
video  sulit untuk memfiksasi posisi kamera dengan
pergerakan tubuh
 Sebelum memulai tes dan perekaman video  ditempelkan
kertas di bawah lutut pada celana subjek  panduan
 Pengukuran harus dikalibrasi pada setiap langkah 
mendapatkan hasil yang akurat
Sayeed T, Samà A, Català A, Cabestany J. Comparison and adaptation of step length and gait speed estimators from single belt worn accelerometer positioned on lateral side of the
body. 2013;(April 2014)
Rodríguez-molinero A, Herrero-larrea A, Miñarro A, Narvaiza L, Gálvez-barrón C, León NG, et al. The spatial parameters of gait and their association with falls , functional decline and death
in older adults : a prospective study. 2019;(September 2018):1–9
 Video direkam tegak lurus  melihat pergeseran ke arah
anterior  panjang setapak bias dengan lebar setapak
 Pengukuran lebar setapak  pengambilan video  atas
ke arah bawah atau sebaliknya  menjadi kendala 
perlu mengukur jarak di antara kedua kaki  terhalang
oleh tubuh dan jaringan adiposa di abdomen
 Lebar setapak  sulit untuk diukur dan memerlukan teknik
laboratorium  metode footprints (yang digunakan) atau
computerized walkways

Sayeed T, Samà A, Català A, Cabestany J. Comparison and adaptation of step length and gait speed estimators from single belt worn accelerometer positioned on lateral side of the
body. 2013;(April 2014)
Rodríguez-molinero A, Herrero-larrea A, Miñarro A, Narvaiza L, Gálvez-barrón C, León NG, et al. The spatial parameters of gait and their association with falls , functional decline and death
in older adults : a prospective study. 2019;(September 2018):1–9
Analisis Temporal-Spatial

 Pengukuran temporo-spatial gait  metode footprint 


manual (pulasan tinta)  computerized (platform)
 Keterbatasan  tidak merekam pergerakan batang
tubuh dan lengan
Computerized (platform)

 Berupa electronic walk pad dimasukkan dengan


baroreseptor  merekam variabel berjalan real-time 
mengukur variabel waktu – ruang (single foot / feet
support time, swing time and pace)
 Kegunaan : perbandingan sebelum terapi, menentukan
gait patologik dan melihat efek terapi
 Penggunaannya belum banyak  harga alat yang
mahal  belum banyak yang memiliki

Taranto J. Analysis of dynamic angle of gait and radiographic feaures in subjects with hallux valgus. The university of Western Australia; 2004
Footprint

 Pelaksanaan  sole dari kaki ditutupi tinta  berjalan


melalui 4-6 m kain atau kertas putih
 Beberapa literatur  lintasan hingga 10 m, dengan
starting point sedikitnya tiga langkah sebelum mencapai
platform untuk memastikan steady-state pola berjalan
 Hasil dianggap memuaskan  kedua kaki full contact
dengan setiap white paper platforms

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9.
Jegede JA, Adegoke BOA, Olagbegi OM. Effects of a Twelve-Week Weight Reduction Exercise Programme on Selected Spatiotemporal Gait Parameters of Obese Individuals Effects of a
Twelve-Week Weight Reduction Exercise Programme on Selected Spatiotemporal Gait Parameters of. 2017;(January).
Kaur S, Singh V. Quantitative Gait Analysis of Healthy Adults Using Foot Print Method and Win Track. 2014;3(3):16–21.
 Jumlah langkah  membagi jumlah step dibagi waktu
saat menyelesaikan 10 m berjalan  didapatkan
langkah per menit
 Kecepatan berjalan didapatkan dengan membagi
jarak lintasan 10 m dengan waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan lintasan
 Waktu diukur menggunakan stopwatch
 Variabel berjalan  panjang langkah, panjang setapak,
lebar setapak didapatkan dari lintasan

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9.
Jegede JA, Adegoke BOA, Olagbegi OM. Effects of a Twelve-Week Weight Reduction Exercise Programme on Selected Spatiotemporal Gait Parameters of Obese Individuals Effects of a
Twelve-Week Weight Reduction Exercise Programme on Selected Spatiotemporal Gait Parameters of. 2017;(January).
Kaur S, Singh V. Quantitative Gait Analysis of Healthy Adults Using Foot Print Method and Win Track. 2014;3(3):16–21.
 Metode footprint dengan pulasan tinta  metode yang
mudah, reliable, valid, tidak mahal dan dapat
digunakan pada klinik/praktek
 Dapat dilakukan secara luas di berbagai daerah
 Perbandingan metode foot print pulasan tinta dengan
computerized platform (WIN TRACK®)  terdapat
perbedaan pada kecepatan berjalan, frekuensi
langkah, dan panjang selangkah (tidak signifikan secara
statistik)  panjang setapak tidak ada perbedaan

Xiangping Li, Bin Shu, Dingguo Miu, Wangling Jiang DT. Review on the Clinical Application of Gait Analysis. Forensic Sci. 2012;2(1):36–9.
Jegede JA, Adegoke BOA, Olagbegi OM. Effects of a Twelve-Week Weight Reduction Exercise Programme on Selected Spatiotemporal Gait Parameters of Obese Individuals Effects of a
Twelve-Week Weight Reduction Exercise Programme on Selected Spatiotemporal Gait Parameters of. 2017;(January).
Kaur S, Singh V. Quantitative Gait Analysis of Healthy Adults Using Foot Print Method and Win Track. 2014;3(3):16–21.
Reliabilitas
 Boenig  1 minggu test-retest reliability yang baik untuk
panjang setapak (0.972), panjang selangkah (0.925),
dan jumlah langkah (0.905), dan moderate reliability
untuk lebar setapak (0.782)
 Blaker et al.  intratester reliability yang baik dari
panjang selangkah menggunakan footprint (0.99)

16. Boenig DD: Evaluation of a clinical method of gait analysis. Phys Ther 57:795-798, 1977
17. Bhker K, Gropper M, Verdin A, et al.: Comparison of stride length measurements: footprint analysis versus computerized gait analysis. Poster presentation of the APTA Annual
Conference, 28 June 1990, Anaheim, CPL.APTA Annual Conference Abstracts: K243, 1990
Validitas
 Boenig  hubungan antara data yang didapat dengan
footprints data yang menggunakan interrupted-light
photography oleh Murray et al
 Blaker et al.  korelasi 0.72 antara pengukuran panjang
selangkah menggunakan metode footprint dengan
computerized gait analysis menggunakan Motion
Analysis Expert Vision System

11. Murray MP, Kory RC, Sepic SB: Walking patterns of normal women. Arch Phys Med Rehabil 51:637-650, 1970
16. Boenig DD: Evaluation of a clinical method of gait analysis. Phys Ther 57:795-798, 1977
17. Bhker K, Gropper M, Verdin A, et al.: Comparison of stride length measurements: footprint analysis versus computerized gait analysis. Poster presentation of the APTA Annual
Conference, 28 June 1990, Anaheim, CPL.APTA Annual Conference Abstracts: K243, 1990
 Rodriguez et al : panjang selangkah yang lebih pendek
 prediktor risiko jatuh berulang 6 bulan ke depan
(sensitivitas 93% dan spesifisitas 53%) dan 12 ke depan
(sensitivitas 81% dan spesifisitas 57%)
 Panjang selangkah  memprediksi penurunan
fungsional pada 12 bulan ke depan (sensitivitas 79.4%
dan spesifisitas 65.6%)
 Panjang selangkah (p<0.05) dan lebar setapak (p <
0.05)  risiko kematian 60 bulan ke depan

Rodríguez-molinero A, Herrero-larrea A, Miñarro A, Narvaiza L, Gálvez-barrón C, León NG, et al. The spatial parameters of gait and their association with falls , functional decline and
death in older adults : a prospective study. 2019;(September 2018):1–9.
KERANGKA TEORI
Kerangka Konsep
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian

 Uji observasi analitik potong lintang


Tempat dan Waktu penelitian

 Tempat
Penelitian ini dilakukan di poliklinik Rehabilitasi Medik
RSUPN Cipto Mangunkusumo

 Waktu
Persiapan : Juli – Desember 2019
Pelaksanaan : Januari - Juni 2020
Analisis : Juli - Desember 2020
Penyajian : Januari 2021
Populasi dan Sampel

 Populasi target  pasien obesitas dengan OA lutut dan


pasien non obesitas dengan OA lutut
 Populasi terjangkau  pasien obesitas dengan OA lutut
dan pasien non obesitas dengan OA lutut di RSUPN
Cipto Mangunkusumo
 Consecutive sampling pada populasi terjangkau yang
memenuhi kriteria penerimaan dan tidak memenuhi
kriteria penolakan  pasien poliklinik Rehabilitasi Medik
RSUPN Cipto Mangunkusumo sampai besar sampel
minimal terpenuhi
Kriteria Penerimaan

• Pasien obesitas dengan OA lutut


• Pasien non obesitas dengan OA lutut
• Usia 50-70 tahun
• Mampu berjalan minimal 10 m
• Bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dengan
menandatangani lembar persetujuan penelitian
(informed consent) setelah mendapat penjelasan
Kriteria Penolakan

• Subjek dengan gangguan kognitif dengan MocaIna <26


• Subjek dengan genu valgus/varus > 15
• Subjek dengan prosthesis
• Subjek dengan OA lutut berat/KL IV
• Subjek dengan rencana dan post TKR
• Nyeri lutut VAS ≥ 4
• Subjek dengan alat bantu jalan
 Subjek dengan gangguan cardiorespirasi
 Subjek dengan gangguan penglihatan dan
pendengaran
 Subjek dengan gangguan keseimbangan
 Subjek dengan gangguan proprioseptif
 Subjek dengan MMT ekstremitas bawah < 3
 Subjek dengan PAL aktif
Estimasi besar Sampel

 Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus perbedaan dua


rerata antar populasi
𝒁𝜶+𝒁𝜷 𝑺 𝟐
 𝒏𝟏 = 𝒏𝟐 = (𝟐 )
𝒙𝟏−𝒙𝟐
 n = jumlah sampel
 Zα = tingkat kemaknaan berdasarkan interval kepercayaan 5% (α = 1.96)
 Zβ = deviasi relatif berdasarkan power 80% (β = 0,842)

 X1 -X2 = perbedaan rerata

28. Madiyono B, Sastroasmoro S, Budiman I PS. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 5th ed. Jakarta: Sagung Seto; 2014. 352–87 p.
Estimasi Besar Sampel
No. Indikator Zα Zβ S1 S2 Sp 2 X1 X2 n

1 Kecepatan 1.96 0.842 0.18 0.20 0.2 1.31 1.19 2


berjalan9
2 Panjang 1.96 0.842 0.07 0.09 0.03 0.65 0.70 4
setapak7
3 Lebar 1.96 0.842 23.6 30.8 7.2 175 183 8
setapak7
4 Panjang 1.96 0.842 0.15 0.15 0.15 1.69 1.96 25
selangkah9
5 Jumlah 1.96 0.842 0.14 0.18 0.10 2.18 2.28 16
langkah7
7. Bw OP. Simulating gait in patients with knee osteoarthritis. Maastricht; 2019.
9. Harding GT, Hubley-kozey CL, Dunbar MJ, Stanish WD, Astephen JL. Body mass index affects knee joint mechanics during gait differently with and without moderate knee
osteoarthritis. Osteoarthr Cartil [Internet]. 2012;20(11):1234–42. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.joca.2012.08.004
28. Madiyono B, Sastroasmoro S, Budiman I PS. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 5th ed. Jakarta: Sagung Seto; 2014. 352–87 p.
 Bila power (1-β) = 80% (Zβ 20% = 0.842) dan tingkat
kemaknaan α = 0.05 (Zα 95% = 1,96), standar deviasi (S)
panjang selangkah adalah 0.15 dan perbedaan
panjang selangkah yang bermakna adalah 0.17
diperoleh besar sampel minimal sebanyak 25
 Dilakukan penambahan sebesar 20% pada jumlah
sampel, sehingga jumlah sampel setiap kelompok
menjadi 30 subjek

9. Harding GT, Hubley-kozey CL, Dunbar MJ, Stanish WD, Astephen JL. Body mass index affects knee joint mechanics during gait differently with and without moderate knee
osteoarthritis. Osteoarthr Cartil [Internet]. 2012;20(11):1234–42. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.joca.2012.08.004
28. Madiyono B, Sastroasmoro S, Budiman I PS. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 5th ed. Jakarta: Sagung Seto; 2014. 352–87 p.
Bahan dan alat penelitian

Formulir penjelasan dan persetujuan mengikuti


penelitian
Formulir status penelitian
Lembar penilaian Moca-Ina
Pita Ukur
Stopwatch
Penggaris
 Kain belacu
 Tinta non-toxic skin safe
 Timbangan
 Stature Meter
 Kalkulator
Batasan Operasional

Jenis
No. Variabel Definisi Operasional Alat ukur Cara ukur Hasil ukur
data

Dinyatakan dalam tahun yang


dibuktikan dengan kartu tanda
Berdasarkan
penduduk, dihitung dari tanggal
Kartu tanda kartu Satuan
1 Usia ulang tahun terakhir, apabila 6 Numerik
penduduk tanda tahun
bulan, dibulatkan ke atas, jika di
penduduk
bawah 6 bulan dibulatkan ke
bawah

Berdasarkan
Laki-laki
Jenis Laki-laki atau perempuan Kartu tanda kartu
2 atau Kategorik
kelamin berdasarkan kartu tanda penduduk penduduk tanda
perempuan
penduduk
Berdasarkan
angka
Berat Dinyatakan dalam kilogram Satuan
3 Timbangan yang tertera Numerik
badan berdasarkan timbangan kilogram
pada
timbangan
Berdasarkan
angka
Tinggi Dinyatakan dalam meter Satuan
4 Staturemeter yang tertera Numerik
badan berdasarkan staturemeter meter
pada
staturemeter
Satuan kg/m2.
Normoweight (IMT <
Berdasarkan
Berdasarkan kriteria WHO 23), overweight (IMT
Indeks massa perhitungan
5 tahun 2000 untuk Kalkulator 23-24.9), obesitas grade Kategorik
tubuh rumus
Asia I (25-29.9, obesitas
BB/(TB)2
grade II (≥30)

Gambaran :
0 (normal) : tidak ada
gambaran radiografi
yang abnormal
Berdasarkan 1 (meragukan) : tampak
gambaran osteofit kecil
radiografi 2 (minimal) : tampak
Osteoarthritis Berdasarkan kriteria ACR tahun
6 Radiografi sendi lutut, osteofit, celah sendi Kategorik
Lutut 2000
weight normal
bearing, 3 (sedang) : osteofit
posisi AP jelas, penyempitan
celah sendi
4 (berat) : penyempitan
celah sendi berat dan
ada sklerosis, kista
7 Lingkar Subjek berdiri dengan kaki 25- Pita ukur Berdasarkan Satuan sentimeter Numerik
pinggang 30cm terpisah. Pengukuran angka yang
diambil di tengah antara tertera pada pita
margin inferior dari tulang ukur
rusuk terakhir dan puncak
ilium dalam bidang horizontal
Berdasarkan angka
Kecepatan Waktu yang diperlukan untuk
8 Stopwatch yang tertera pada Satuan meter/detik Numerik
berjalan menempuh jarak 10 meter berjalan
stopwatch

Jarak antara kedua kaki, Berdasarkan angka


9 Lebar setapak pengukuran dari sisi medial kaki Penggaris yang tertera pada Satuan sentimeter Numerik
satu ke sisi medial kaki lainnya penggaris

Berdasarkan angka
Panjang Jarak posterior antara tumit kaki
10 Penggaris yang tertera pada Satuan sentimeter Numerik
setapak satu dengan tumit kaki lainnya
penggaris
Jarak posterior antara tumit pada Berdasarkan angka
Panjang
11 kaki yang sama selama periode Penggaris yang tertera pada Satuan sentimeter Numerik
selangkah
waktu pengukuran penggaris
Berdasarkan angka
Jumlah
12 Jumlah langkah dalam satu menit Stopwatch yang tertera pada Satuan kali/menit Numerik
langkah
stopwatch
13 Kognisi Kemampuan mental untuk Kuesioner Wawancara Normal:>26 Kategorik
mengerti perintah Moca Ina Tidak Normal: <26
Tambahan 1 nilai
untuk pasien yang
mempunyai pendidikan
formal selama 12 tahun
atau kurang, jika nilai
<30
14 Physical Perhitungan Aktivitas Fisik Kalkulator Berdasarkan Aktivitas fisik pasif Kategorik
Activity Level Berdasarkan Compendium of Perhitungan Jumlah PAL ≤ 1,40
Physical Activities Tahun 1996 METs dalam satu Aktivitas fisik aktif PAL
hari dibagi dengan > 1,40
24
Cara kerja/Pelaksanaan Penelitian

 Peneliti memberikan penjelasan kepada subjek penelitian mengenai


tujuan dan manfaat yang diperoleh jika bersedia mengikuti
penelitian ini
 Subjek akan diikutsertakan apabila telah memenuhi kriteria inklusi
penelitian
 Apabila bersedia maka subjek diminta untuk mengisi formulir
persetujuan penelitian
 Pengisian dan penandatanganan formulir persetujuan
 Pengisian status penelitian oleh peneliti melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan data rekam medik
 Setiap subjek penelitian diukur tinggi badan, berat badan, IMT,
lingkar pinggang, PAL
 Subjek penelitian diminta untuk berdiri dan menginjak bak tinta
pembuat sidik telapak kaki
 Kemudian subjek diminta berjalan 2-3 langkah sebelum sampai
lintasan kain, untuk penyesuaian subjek penelitian dan melihat
apakah tinta sudah layak untuk masuk lintasan
 Kemudian subjek diminta berjalan dengan kecepatan biasa di
atas kain belacu sepanjang 10 m
 Untuk mendapatkan kecepatan berjalan, dihitung dengan
mengukur waktu menyelesaikan lintasan 10 m, menggunakan
stopwatch dari saat awal mulai berjalan hingga selesai lintasan
 Pengukuran panjang selangkah, panjang setapak, lebar setapak,
didapatkan dengan mengukur jarak pada footprints
menggunakan penggaris
 Jumlah langkah didapatkan dengan menghitung jumlah langkah
dalam satu menit pertama
 Semua data dikumpulkan kemudian diolah secara statistik
Variabel penelitian

 Variabel bebas  pasien OA lutut non obesitas, obesitas


dengan OA lutut berusia 50-70 tahun
 Variabel terikat  kecepatan berjalan, panjang
setapak, lebar setapak, panjang selangkah, dan jumlah
langkah
 Variabel perancu  usia, jenis kelamin, PAL,
komorbiditas
Alur penelitian
Pengolahan dan analisis data
 Data diolah menggunakan program komputer IBM SPSS
(Statistical Package for the Social Sciences) for Windows
versi 20.0
 Analisis univariat  analisis deskriptif berupa penjabaran
distribusi karakteristik subjek penelitian
 Uji normalitas untuk melihat sebaran data (Kolmogorov
Smirnoff/Saphiro Willk)
 Bila sebaran data normal, maka dilakukan uji t test
independen/ uji perbedaan 2 mean/rerata
 Bila sebaran data tidak normal, maka dilakukan Uji
Mann Whitney
28. Madiyono B, Sastroasmoro S, Budiman I PS. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 5th ed. Jakarta: Sagung Seto; 2014. 352–87 p.
Etika

 Seluruh subjek penelitian diberikan penjelasan tentang tujuan,


manfaat, dan prosedur penelitian
 Bagi yang bersedia mengikuti penelitian diminta
menandatangani persetujuan mengikuti penelitian yang telah
disiapkan
 Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah menilai pola berjalan
pasien obesitas dengan OA lutut dibandingkan dengan pasien
non obesitas dengan OA lutut
 Seluruh data dan informasi subjek penelitian akan dirahasiakan
 Subjek setiap saat diberikan kebebasan untuk mengundurkan diri
dari penelitian apabila merasa dirugikan
Anggaran Biaya Penelitian

No Item Total

1 Fotokopi, printing dan alat tulis Rp. 1,000,000,-

2 Pembelian kain, tinta non-toxic skin safe Rp. 2,000,000,-

3 Pembiayaan sekretaris penelitian Rp. 2,000,000,-

TOTAL Rp. 5.000.000


DUMMY TABLE

Variabel Jumlah (%)


Usia
Jenis kelamin
IMT
OA Lutut
PAL
DUMMY TABLE

Kecepatan Panjang Panjang Lebar Frekuensi


berjalan setapak selangkah setapak langkah
OBESITAS
DENGAN
OA LUTUT
NON
OBESITAS
DENGAN
OA LUTUT
TERIMA KASIH
Pengukuran menggunakan KINOVEA

Sayeed T, Samà A, Català A, Cabestany J. Comparison and adaptation of step length and gait speed estimators from single belt worn accelerometer positioned on lateral side of the
body. 2013;(April 2014)
 Video yang direkam, dianalisa dengan open-source sport technical
analysis software KINOVEA® mengukur panjang setapak,
kecepatan berjalan, dan jarak tempuh
 Sebelum memulai tes dan perekaman video, ditempelkan kertas di
bawah lutut pada celana subjek sebagai panduan panjang
 Subjek dan kamera sama-sama bergerak selama perekaman video
 sulit untuk memfiksasi posisi kamera dengan pergerakan tubuh
 Pengukuran harus dikalibrasi untuk setiap langkah untuk
mendapatkan hasil yang akurat.42

Sayeed T, Samà A, Català A, Cabestany J. Comparison and adaptation of step length and gait speed estimators from single belt worn accelerometer positioned on lateral side of the
body. 2013;(April 2014)
Rodríguez-molinero A, Herrero-larrea A, Miñarro A, Narvaiza L, Gálvez-barrón C, León NG, et al. The spatial parameters of gait and their association with falls , functional decline and death
in older adults : a prospective study. 2019;(September 2018):1–9
 Video direkam tegak lurus dengan melihat pergeseran ke arah
anterior  pengukuran panjang setapak akan bias dengan lebar
setapak
 Untuk mengukur lebar setapak, maka pengambilan video harus
dari atas ke arah bawah atau sebaliknya  menjadi kendala 
perlu mengukur jarak di antara kedua kaki  terhalang oleh tubuh
dan jaringan adiposa di abdomen.
 Lebar setapak relatif sulit untuk diukur dan memerlukan teknik
laboratorium  metode footprints (yang digunakan) atau sistem
yang lebih membutuhkan biaya seperti computerized walkways 
tidak mudah dipakai di berbagai tempat.23

Sayeed T, Samà A, Català A, Cabestany J. Comparison and adaptation of step length and gait speed estimators from single belt worn accelerometer positioned on lateral side of the
body. 2013;(April 2014)
Rodríguez-molinero A, Herrero-larrea A, Miñarro A, Narvaiza L, Gálvez-barrón C, León NG, et al. The spatial parameters of gait and their association with falls , functional decline and death
in older adults : a prospective study. 2019;(September 2018):1–9
 PAL = METs (jam) / 24 (comparison of physical activity
between normal and underweight adult male worker)
 The lateral collateral ligament, in comparison, provides
the primary resistance against a varus (adduction) force
 The tibial-femoral angle should be less than
15 degrees (Braddom)
INTERVENSI

 Penurunan BB
 Latihan aerobik
 Latihan LGS
 Latihan penguatan
 Latihan keseimbangan
 Peningkatan awareness