Anda di halaman 1dari 237

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

PENGANTAR

Dasar matakuliah
Kurikulum nasional: Pendidikan Agama = matakuliah wajib
Ada 3 Pilar peradaban
1.religi> agama/kepercayaan/RELIGIUSITAS
2.rasionalitas > IPTEK
3.seni > karya seni, budaya
Pendidikan agama Bagian dari MKDU/MKU/MPK
(Matakuliah Pengembangan Kepribadian)
Tugas MPK:
pendidikan nilai > long life process,
memanusiakan manusia muda (mahasiswa)
Menyangkut seluruh aspek kemanusiaan
Pertimbangkan manusia yang multi dimensi :
LANJUTAN

Animal rationale (berpikir)


Homo sapiens (bijaksana)
Homo socialis (bersesama)
Homo fabre (pekerja)
Homo ludic (bermain)
Homo religiosus (berTuhan)
Pendidikan Agama
berkepentingan dengan pilar
dan predikat homo religiosus
LANJUTAN

Tujuan matakuliah
• Bukan mengKatolikkan mahasiswa, tetapi
memperkenalkan ajaran Katolik dan membimbing ke arah
homo religiosus sehingga mahasiswa mampu berperan
aktif dalam menyelesaikan problem kemanusiaan.
Katolik = umum/universal
 nilai=nilai universal
 Mahasiswa nonKatolik dapat mengambil inspirasi agar
menjadi homo religiosus yang dapat mempertanggung
jawabkan imannya sendiri secara rasional.
TUJUAN
• Mhs mampu memiliki wawasan yg
komprehensif ttg realitas hidup beragama, shg
mengarah pd sikap inklusif dan humanis
• Mhs mampu merefleksikan pengalaman hidup
beragama secara kritis dan bertanggung jwb.
• Mhs mampu menghayati agama sbg dasar
hidup bersama dlm masyarakat plural.
• Mhs trampil dlm mengintegrasikan iman dan
ilmu secara nyata : intelektual,afeksi,spiritual
dan atittute seimbang
MATERI
• Pengalaman Religius
• Agama dan unsur-unsurnya
• (Dimensi2 agama:
• - eksperiensial(iman),
- Naratif (Kitab suci),
- Ritual(ibadat),
- Moral,
- Doktrinal filosofis(ajaran pokok)
- institusional(kelembagaan) -
- Material (simbol).
• Agama dalam Masyarakat :
- Pluralisme agama & multikulturalisme
- Kebebasan beragama
-Dialog antar umat beragama
• Agama dalam dunia modern :
- Hubungan iman dan IPTEK -
Globalisasi dan fundamentalisme agama
• Agama dan Moral :
• Moral Dasar :
- Penjernihan istilah & prinsip2 penilaian mrl
• - Tolok ukur moral(suara hati&norma) & nilai
• - Kebebasan dan tanggung jawab
• Moral dan masalahnya :
1. Moral hidup : Aborsi, bayi tabung, Narkoba,
pembatasan anak
2. Moral Seksual :
- Ketidakadilan gender , kesetaraan gender
- Seks dan pergaulan bebas
3. Moral keluarga :
- Pernikahan campur beda agama
- Poligami dan perceraian
4. Moral sosial :
- Global warming
- Korupsi
- Etik global
Daftar Pustaka (1-3 Wajib)
• AM.Harjana, 1993, Penghayatan agama yg
otentik dan tidak otentik, Kanisius, Yogyakarta.
• Purwa Hadiwardaya,Msf,1990,moral dan
masalahnya, Kanisius, Yogyakarta.
• MD.Susilawati dkk,2009, Urgensi pendidikan
moral,UAJY,Yogyakarta.
• Ninian Smart,Relegion of Asia, Englewood
clifts,Prentis Hall.
• Frans Magnis Suseno, Etika Dasar, Kanisius ,
Yk.
• K.Bertens,Etika,Gramedia,Jakarta
METODE
• Ceramah
• Pemberian tugas : individu & kelompok
• Refleksi
• Diskusi
• Studi kasus
• Pemutaran film
• Presentasi
PENILAIAN
• Nilai Final : UTS+UAS+Tugas
3
• Skor Nilai :
• A= 79-100
• B= 69-78
• C= 57-68
• D= 46-56
• E= 0-45
12
ATURAN PERKULIAHAN
• Presensi minimal 75 %
• Toleransi keterlambatan 10 menit
• Berpakaian Rapi (Berkrah dan bersepatu)
• Selama proses pembelajaran HP silent
• Kecurangan : presensi, tugas dan ujian
dikenai sanksi : nilai E
14

TARIK NAFAS PANJANG


15
KALAU ADA PERTANYAAN
SILAHKAN ANGKAT TANGAN
16

FOKUS/KONSENTRASI
17
DATA PRIBADI
• Nama Lengkap
• Tempat dan Tanggal lahir
• Agama
• Asal
• Alamat di yogya
• Nomor HP 085729086999
• Saran dan masukan untuk perkulihaan
agama katolik
Pengalaman Religius
 Keyakinan akan adanya Allah [Iman] tidak lepas dari
kehidupan manusia, maka kepercayaan dipengaruhi
oleh pengalaman-pengalaman.
 Ada pengalaman–pengalaman tertentu yang
membawa pada kepercayaan, namun ada pula
pengalaman-pengalaman lain yang tidak.
 Pengalaman yang membawa manusia percaya
kepada Allah sebagai hakekat tertinggi .
Pengalaman religius
 Pengalaman religius adalah pengalaman pertemuan antara
manusia dengan Allah sebagai hakikat tertinggi, artinya
pengalaman- pengalaman profan yang dialami manusia
diangkat menjadi pengalaman iman, sehingga manusia
menyadari adanya kehadiran dan peranan Tuhan di dalam
peristiwa atau pengalaman yang dialami tersebut.
 Agama-agama di dunia ini muncul karena adanya
pengalaman religius yang dialami oleh para tokoh agama,
yaitu pengalaman mereka dalam perjumpaan dengan “
Yang Ilahi” yang disebut dengan berbagai sebutan di
dalam agama- agama.
 Keyakinan akan adanya Allah sebagai “Hakikat Tertinggi”
tidak lepas dari kehidupan manusia, maka iman
kepercayaan dipengaruhi oleh pengalaman perjumpaan
antara manusia dengan Allah. Pengalaman adalah suatu
pengetahuan yang timbul bukan pertama- tama dari
pikiran, melainkan terutama dari pergaulan praktis
dengan dunia.Ada pengalaman–pengalaman tertentu yang
membawa pada kepercayaan kepada “Hakikat Tertinggi”,
namun ada pula pengalaman-pengalaman lain yang tidak
sampai mengarah pada kepercayaan kepada Hakikat
Tertinggi(Yang Kudus)
 Pengalaman hanya dapat disebut pengalaman religius
apabila sungguh- sungguh disadari adanya hubungan atau
kaitan dengan “Yang Ilahi” sehingga ada unsur
transendensi Allah.
 Akibat dari pengalaman religius tersebut maka sabda Allah
bukan merupakan sesuatu hal yang asing bagi eksistensi
manusia di dunia ini. Pengalaman- pengalaman eksistensi
manusia mengakibatkan pemahaman tentang Allah,
sehingga dunia dapat menjadi simbol kehadiran Allah.
 Pengalaman religius / pengalaman iman adalah saat
kharismatis, penuh roh, saat khusus, seseorang
merasakan sentuhan Tuhan : seseorang merasakan
kehadiran Tuhan dalam hidupnya.
 Orang beriman / beragama menyadari dan
menyatakan bahwa seluruh hidupnya ada di tangan
Tuhan. Itu semua berdasarkan pengalaman hidupnya.
 Dalam agama- agama primitif pemahaman
tentang hakikat tertinggi masih kurang, maka
sebagian ada yang mengarah pada animisme dan
dinamisme, sehingga ritus-ritus mereka dianggap
berbau magi, maka aliran- aliran tersebut tidak
bisa disebut agama. Walau demikian tidak semua
agama asli mengarah pada hal tersebut,
melainkan ada pula agama- agama asli yang
mempercayai Allah sebagai “Hakikat Tertinggi”
atau “Yang Kudus”. Dalam agama- agama besar
rahasia yang maha kuasa telah direspon secara
lebih murni dan lebih sempurna ( Theo Huijbers,
1982,74).
 Kehadiran “Yang Kudus” tidak secara jelas dan
langsung dapat dimengerti essensinya, melainkan
Yang Kudus hadir dalam bentuk simbol yang
menyatakanNya. Dalam pengalaman hidup itu
terdapat kemutlakan yaitu peristiwa yang menyatakan
sesuatu “Yang Transenden”, sehingga membawa
manusia percaya kepada Allah sebagai realitas yang
hadir dalam faal iman.
 Menurut Guardini manusia mengalami pengalaman
religius melalui berbagai bentuk, yaitu melalui alam raya,
melalui kejadian dalam kehidupan manusia dan melalui
hati nurani. Semua bentuk pengalaman religius tersebut
merupakan buah hasil dari kemampuan mengamati dunia
ini secara simbolis. Kemampuan tersebut berkaitan erat
dengan pengalaman akan keterbatasan, yaitu apa yang
terbatas dan terhingga sifatnya mengacu kepada “Yang tak
terbatas dan tak terhingga”(1958,58-66).
 Contoh/ Latihan:
 Berikan contoh- contoh konkret pengalaman religius yang
pernah terjadi dalam Pengalaman hidup anda masing-
masing.
• Pengalaman-pengalaman religius menyangkut seluruh
manusia. Apa yang di sentuh dalam pengalaman-
pengalaman adalah hidup dalam arti sesungguhnya,
yakni sebagai rahasia yang mempunyai akarnya
dalam keseluruhan realitas.

• Maka pengalaman ini adalah mengenai apa yang tidak


dapat dikatakan, yang merupakan dasar dari
segalanya, dan sekaligus melebihi segala-galanya.

• Oleh karena segala-galanya dibawa oleh rahasia itu,


maka pengetahuan tentangnya terdapat dimana-
mana, didalam setiap pengalaman, walaupun sering
kali secara anomin saja, yaitu dengan tidak sadar.
Tahap-tahap Pengalaman Religius.
Ada beberapa macam pengalaman religius yang dialami
oleh manusia yaitu antara lain :
 Pengalaman Eksistensial yang dalam dirinya belum
menyatakan hubungan secara langsung dengan Allah.
Contoh : pengalaman-pengalaman profan yaitu berhasil,
gembira, gagal, sedih, tidak lulus, dsb.
 Pengalaman Eksistensial yang dalam dirinya mulai
mengarah kepada Allah.
 Contoh : pengalaman-pengalaman keterbatasan
manusia yaitu : kelahiran, kehidupan, kematian,
penyakit, dsb.
 Pengalaman Eksistensial yang dalam dirinya
menunjukkan hubungan yang erat antara manusia
dengan Allah.
 Contoh: Pengalaman kerohanian yaitu : doa, meditasi,
SIFAT-SIFAT PENGALAMAN
RELIGIUS
1. Personal : menyentuh pribadi secara mendalam (
kualitas seseorang sangat terkesan dan tersentuh
oleh pengalaman tersebut mempengaruhiseluruh
hidupnya.
2. Subyektif : dialami dan dirasakan seara subyektif
(kebenaran). Hanya orang itu sendiri yang
mengalaminya, maka kebenarannya bersifat
subyektif, sehingga tidak bisa dikonfirmasi dengan
orang lain.
3. Transformatif : memperbaruhi dan mengubah hidup
secara individu dan sosial ; tidak menghancurkan
(akibat) Pengalaman religius akan membaharui hidup
seseorang menjadi lebih baik.
4.Rasional : dapat dimengerti akal sehat (penerima)
pengalaman religius adalah otentik, tidak direkayasa
demi kepentingan politik atau ekonomi.
Macam – macam bentuk pengalaman
religius
 PR merupakan realisasi kewajiban. Setiap tugas dan
tanggung jawab disadari sebagai perintah Tuhan(dharma)
 Pengalaman mistik dalam meditasi. Orang yang tekun
bermeditasi dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam
meditasi tersebut.
 Pengalaman Religius dalam ibadat
 Dalam ibadat orang beriman mengalami kehadiran Tuhan.
Mis : mendengarkan sabda Tuhan, menyambut komuni
 Pengalaman hidup sehari –hari
 Dihayati dan dirasakan kehadiran Tuhan, melalui
pengalaman suka, duka, bahagia, atau derita.
Pandangan empat filosof tentang pengalaman
religius.
 Pengalaman Eksistensiil menurut Paul Tillich.
 Paul Tillich menyatakan pandangannya tentang
pengalaman religius dengan pengalaman takut.
Dalam perasaan takut manusia kehilangan
pegangan hidup, sehingga manusia menjadi tak
berdaya. Dalam keadaan yang tidak berdaya dan
mencekam tersebut manusia mengharapkan
pertolongan dari luar dirinya. Pertolongan
tersebut berasal dari Allah.
menurut Levinas.

 Dalam menyatakan pandangannya tentang pengalaman


religius Levinas menonjolkan pengalaman pertemuan
dengan seseorang dalam cinta.
 Pada dasarnya manusia diciptakan saling berbeda
antara yang satu dengan yang lainnya, masing-masing
manusia mempunyai keunikan.
 Perbedaan tersebut bersifat komplementer, yaitu
berbeda untuk saling membuka hati, saling
melengkapi, saling menyempurnakan dan saling
mencintai. Menurut haklekatnya manusia terarah
kepada sesuatu yang berlainan sama sekali dari dirinya
sendiri yang jauh melebihi dirinya yaitu ke arah Allah.
 Jadi cinta manusia kepada sesamanya menjadi dasar
untuk mencintai Allah.
Pengalaman Eksistensiil menurut
Teilhard de Chardin.

 Teilhard de Chardin menyatakan pandangannya


tentang pengalaman religius dengan teori evolusi,
yaitu bertolak dari fisika dan antropologi.
 Dari tahap ke tahap suatu organisme dan Alfa ke
Omega selalu mengalami perkembangan atau
perubahan. Begitu pula organisme manusia dari
tahap ke tahap selelu mengalami perubahan.
 Allah berada di luar organisme manusia, karena
Allah adalah Alfa sekaligus Omega, yaitu Allah
sebagai asal dari manusia sekaligus tujuan
manusia.
Pengalaman Eksistensiil menurut
Rudolf Otto.
• Rudolf Otto menyatakan pandangannya tentang
pengalaman religius sebagai berikut:
– Allah dihayati sebagai transenden sekaligus Allah
dihayati sebagai Imanen.
• Allah yang transenden(jauh)
• Allah adalah misteri, manusia tidak bisa menjangkau Allah
secara keseluruhan.
• Allah yang Imanen (dekat). Manusia merasakan karya Allah
dalam kehidupan sehari-hari, maka dalam kehidupan sehari-
hari tidak pernah lepas dari campur tangan Allah.
• Kata ”transenden” sebetulnya berarti melampaui,
unggul dan mau mengungkapkan bahwa Tuhan
mengatasi segala-sesuatu (seperti juga dikatakan
dengan sebutan maha). Maka dengan kata
”transenden” lebih ditekankan perbedaan Allah
dengan makhluk-makhluk-Nya. Seperti yang
dikatakan Nabi Yesaya, ”Dengan siapa hendak kamu
samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap
serupa dengan Dia?” (Yes. 40:18).
• Sifat ”transenden” itu perlu dilengkapi dengan sifat ”imanen”,
sebab seandainya Allah hanya transenden saja, seolah-olah Ia
tidak berhubungan lagi dengan dunia. Padahal, dalam refleksi
atas pengalaman hidup, Allah justru dikenal sebagai Yang-
Memberi-Hidup. Memisahkan Allah secara total dari dunia,
biarpun karena hormat kepada Allah, menutup kemungkinan
berhubungan dengan Allah, bahkan mengenal Allah secara
pribadi. Oleh sebab itu, sifat transenden harus dilengkapi dan
diimbangi dengan sifat imanen. Secara harfiah kata ”imanen”
berarti ”yang tinggal di dalam”. Jadi mau menyatakan bahwa
Allah tidak hanya mengatasi makhluk-makhluk-Nya, tetapi
juga ”tinggal di dalam” mereka. Bagaimana caranya? Lagi,
manusia tidak dapat membayangkannya, sebagaimana
sebetulnya juga tidak dapat digambarkan transendensi Allah.
• Allah memang berbeda dengan dunia, tetapi tidak terpisahkan
darinya. Oleh karena sifat-sifat Allah tidak mengenal batas
maka kehadiran-Nya tak terbatas. Allah hadir di mana-mana.
Tuhan ada di surga, di bumi dan di segala tempat. Dalam arti
ini kita menerima panenteisme, Allah hadir dan berada dalam
segala-galanya, tetapi bukan segala-galanya adalah Allah
(panteisme). Allah tidak hadir seperti manusia atau makhluk
lain. Tuhan hadir di mana-mana secara ilahi. Itu disebut
”imanensi”. Maka ”di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita
ada” (Kis. 17:28). Oleh karena Allah hadir pada kita maka kita
hadir pada Allah. Oleh karena Allah ada dalam diri kita maka
kita berada dalam Allah.
 Allah dihayati sebagai mysterium tremendum
sekaligus Allah dihayati sebagai mysterium
fascinosum.
 Mysterium Tremendum, Allah dihayati sebagai
misteri yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha
Dahsyat, menggetarkan dan menakutkan sehingga
manusia merasa kecil dan lemah di hadapan Allah
dan mengimani Allah sebagai yang Maha Kuasa,
Maha Besar, Maha Sempurna.
 Mysterium Fascinosum, Allah dihayati sebagai yang
Suci, yang penuh kebaikan, belas kasihan, yang
menarik, menggembirakan, membahagiakan,
sehingga manusia merasakan Allah sebagai yang
Maha Kasih, Maha Cinta, Maha Rahim, Maha
Bijaksana, Maha Pengampun.

Cara- cara membedakan
Pengalaman religius dan yang
bukan religius
 Ada berbagai macam pengalaman yang dialami oleh
manusia, terkadang manusia kesulitan untuk
membedakan pengalaman mana yang bisa disebut
pengalaman religius dan mana yang tidak. Adapun
cara-cara untuk membedakan pengalaman religius
dan yang bukan seperti yang dipaparkan oleh Nico
syukur Dister (1985,43) adalah sebagai berikut :
 1. Pengalaman religius yang murni adalah adanya
transendensi Allah atas “ Yang Kudus”, sedangkan
pengalaman yang bukan religius tidak mengandung
transendensi Allah sebagai Hakikat Tertinggi.
 2. Apakah “Yang Kudus” itu dialami sebagai yang
berbelas kasih, baik hati dan maha pengampun ? atau
sebaliknya yaitu selalu menuntut korban,
membinasakan dan suka menghancurkan ? Allah
adalah maha pengasih, pengampun,dan maha murah.
Pengalaman religius pasti mengarah kepada Allah.
 3. Perlu ada patokan atau ukuran yang dapat diandalkan
yaitu “criteria intern” dan “kriteria ekstern” . kriteria intern
adalah berasal dari manusia sendiri. Adanya unsur akal
budi yang bertugas untuk mengerjakan , mengolah dan
menyelidiki data- data pengalaman secara kritis, dan
adanya unsur refleksi yang dapat menentukan berkembang
tidaknya pengalaman religius di kemudian hari. Kriteria
ekstern adalah berasal dari luar manusia dan dunia, yaitu
adanya unsur wahyu adikodrati, maksudnya bagaimana
Allah telah mewahyukan Diri pada manusia pilihannya
secara khusus.
Hambatan- hambatan
Pengalaman Religius
 Pengalaman religius tidak selalu berkembang dengan baik
.Ada beberapa hal yang dapat menjadi hambatan bagi
berkembangnya pengalaman religius yaitu antara lain :
 1. Humanisme
 (Latin: Humanus = manusia, ismus = aliran/ faham)
 a. Nama suatu aliran kebudayaan di kalangan kaum
terpelajar yang mencapai masa kejayaan pada abad 15 di
Italia yang bertujuan mencari pengembangan segi
rohaniah pada manusia secara mandiri menurut pola- pola
dalam kebudayaan dan kesusastraan klasik.
 b. Humanisme modern : pandangan hidup yang ingin
memahami manusia dan kemanusiaan sebagai dasar serta
tujuan dari segala pemikiran ilmu pengetahuan,
kebudayaan dan agama (Endiklopedi Indonesia,1350).
 Humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan
konsep perikemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya
tujuan. Dengan kata lain humanisme mengajak manusia
berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka dan hanya
mementingkan identitas mereka sendiri. Hal inilah yang
dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan
pengalaman religius.
 2. Sekularisme
 a. Sekularisasi ( Latin: Saeculum= waktu, abad, generasi, dunia).
Istilah yang dipakai untuk menyatakan suatu proses yang berlaku
demikian rupa, sehingga orang, golongan atau masyarakat yang
bersangkutan semakin berhaluan duniawi, artinya semakin berpaling
dari agama, atau semakin kurang mempedulikan nilai- nilai atau
norma- noarma yang dianggap kekal dsb.
 b. Sekularisme : Suatu sistem etika yang dibangun di atas asas- asas
moralitas alamiah dan bebas dari agama wahyu atau supra natural.
Sekularisme menghambat pengalaman religius karena semakin
menjauhkan hal-hal yang bersifat rohani bahkan tidak mengakuinya.
Cara memelihara Pengalaman
Religius :
 1. Selalu bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah
terjadi pada kita ( kegagalan dan kesuksesan.Rendah
hati dan merasakan cinta Tuhan. Dengan terua
menerus mensyukuri segala pengalaman hidup, dan
dengan rendah hati menyadarinya sebagai campur
tangan Tuhan, Tuhan akan selalu hadir dalam
kehidupan kita.
 2. Mengikuti ibadat, kebaktian,devosi utk terus
menerus menerima sapaan Tuhan.
 3, Mendekatkan diri dengan Tuhan lewat doa dan
meditasi.
Agama (religion) -> a –gam –a
:a (negasi = tidak : atheis,
amoral),
Gam=pergi,a (sifat = kekal)
Agama : tidak pergi (kekal)
Perjalanan menuju yang abadi
Agama merupakan ungkapan lahirilah dan konkret
dari hubungan batin manusia dengan Allah; atau
lebih tepat (sekurang-kurangnya untuk tradisi
62 Yudeo-Kristiani): jawaban batin manusia
terhadap hubungan yang diprakarsai Allah. Inisiatif
Allah adalah Wahyu, dan jawaban manusia kepada-
Nya adalah iman. Iman sebagai sikap dan sebagai
penyerahan diri manusia kepada Allah
Agama adalah suatu jenis sistem sosial
yang dibuat oleh penganut- penganutnya
yang berporos pada kekuatan-kekuatan
nonempiris yang dipercayainya dan
didayagunakannya untuk mencapai
keselamatan bagi diri mereka dan
masyarakat luas umumnya.
Berdasarkan pengertian tersebut, kita dapat melihat beberapa
unsur dalam definisi diatas sebagai berikut:
 Agama disebut jenis sistem sosial; Artinya bahwa agama
adalah suatu fenomena sosial, suatu peristiwa
kemasyarakatan; suatu sistem sosial,
 dapat dianalisis karena terdiri atas suatu kaidah yang
kompleks dan peraturan yang dibuat saling berkaitan dan
terarahkan pada suatu tujuan.
 Agama berpusat pada kekuatan-kekuatan nonempiris;
Artinya bahwa agama itu khas berurusan dengan kekuatan
dari “dunia luar” yang “dihuni” oleh kekuatan-kekuatan
yang lebih tinggi dari pada kekuatan manusia dan yang
dipercayai sebagai arwah, roh-roh, dan roh tertinggi.
 Manusia mendayagunakan kekuatan-kekuatan di atas untuk
kepentingannya sendiri dan masyarakat disekitarnya. Yang
dimaksud dengan kepentingan adalah keselamatan di dalam
dunia sekarang ini dan keselamatan di “dunia lain” yang
dimasuki manusia sesudah kematian.
Religion (religio relegere = to read
again; religare = to bind) Religius
(kata sifat. religositas = kata benda) :
sikap hidup yang mencerminkan
kedekatan hubungan dengan Allah.
Ciri: tenang, berwibawa, tidak mudah
gusar, optimis, tidak memaksakan
kehendak, peka terhadap mereka
yang menderita/tersisih
Agama : kesatuan kompleks dari ajaran,
kepercayaan, ungkapan dan penghayatan
terhadap yang ilahi, yang kuasa, yang
menakutkan dan sekaligus
memikat(tremendum et fascinosum),
yang mengatasi (transenden) dan sekaligus
menjiwai (imanen), yang diakui sebagai
asal, penyelenggara dan tujuan hidup
Pengertian Agama
Agama:Bentuk sosial penghayatan kpd Allah

Arti luas : Semua bentuk sosial penghayatan iman kpd


Allah (baik diakui maupun tdk diakui oleh
pemerintah/negara)

Arti sempit : Bentuk sosial penghayatan iman kpd Allah


sebatas yg diakui oleh pemerintah/negara
Macam & Asal Agama
 Agama Asli (Pribumi) :
Berasal dari bumi sendiri, lahir dan berkembang
dalam suatu kelompok (suku) setempat, tak
terpisahkan dari adat istiadat, budaya dan cara hidup
masyarakat / suku setempat , kebanyakan hanya
dikenal dalam lingkungan penganutnya
Penyebaran : Perkawinan, turun temurun
 Agama Universal :
Agama yg tumbuh dan berkembang di luar kelompok,
suku atau masyarakat yg menganut (Berasal dari luar
penganutnya)
Penyebarannya :
Perkawinan, peperangan, penjajahan, perdagangan,
pendidikan dsb shg tersebar di seluruh dunia.
TUJUAN MANUSIA BERAGAMA
 Permasalahan :
Ada kesenjangan antara tujuan yg akan dicapai dlm
hidup beragama dg realitas kehidupan , misal : Dasein
hal-hal yang menyenangkan lebih kecil dibanding hal-
hal yang membebani dari hidup beragama
 Keselamatan (masuk surga) :
Hidup damai dekat dengan Allah dan sesama
 Hal-hal yang membebani, menyesakkan dalam
kehidupan beragama banyak yang bersangkut
paut dengan : kewajiban berdoa dan beribadat,
ajaran-ajaran yang dogmatis yang jauh dari
realitas kemampuan untuk melaksanakannya,
aturan-aturan agama yang mengekang manusia
dalam menikmati hidup ini,
 pengalaman-pengalaman berdoa yang terasa kering
ataupun tidak terkabulkan. Ajaran agama yang
menyangkut kepentingan sorgawi kelihatan bertentangan
dengan kepentingan duniawi.
 Allahlah yang menyelamatkan manusia. Kalau
keselamatan atau surga itu hidup damai, dekat
dengan Allah, keselamatan itu tidak hanya dapat
kita peroleh nantinya dalam kehidupan kekal
sesudah kematian saja tetapi juga, kalau kita
mau, mulai dalam kehidupan saat ini pun kita
dapat memperolehnya. Hal ini akan menjadi
jelas kalau kita menerima pemahaman ini.
 Kalau kita mau, dalam menghayati hidup beragama dengan
menjalani ajaran dan aturan agama serta menjauhi larangan-
larangannya, kita sudah selamat, sudah masuk sorga. Dengan
kata lain; menghayati hidup beragama adalah mewujudkan dan
mengembangkan hidup selamat atau hidup sorgawi di dunia
ini, dan besok sesudah mati minimum keselamatan yang kekal
abadi. Kalau keselamatan, hidup dekat damai dengan Allah itu
juga mulai bisa dihidupi dalam hidup saat ini, dan keselamatan
ini menjadi tujuan dasar dan tujuan akhir dari seluruh
kehidupan manusia, kiranya mereka yang mencita-citakan
hidup sorgawi akan secara terus menerus, tanpa putus-putus
mewujudkan dan mengembangkan hidup sorgawi ini.
 Kalau orang beragama itu adalah orang yang ingin dan
sudah damai dengan Allah, orang beragama itu akan
mengasihi Allah dan juga mengasihi semua ciptaan Allah.
Orang beragama dan beriman akan menjadi pengasih
Allah, pengasih sesama manusia, dan penyayang alam raya
ini (ciptaan Allah). Allah dalam mengasihi manusia
ciptaan-Nya sangat tampak ketika Allah berkehendak
menyelamatkan manusia khususnya mereka yang
menderita kemiskinan : miskin ekonomis, miskin
kesehatan, miskin pendidikan, miskin hak asasi manusia,
miskin rohani, dsb.
FUNGSI AGAMA
 Edukatif : Pengajaran dan pembimbingan
 Penyelamatan
 Profetis dan pengawasan sosial
 Memupuk persaudaraan
 Transformatif
MAKNA AGAMA
 Memberikan pedoman dlm bertingkah laku
 Menemukan penjelasan atas misteri Illahi
 Memberikan visi/ arah
 Menunjukkan makna berbagai peristiwa dalam hidup
manusia
Motivasi beragama
 Theologi: Rahmat Tuhan (Allah sendiri yang
menghendaki).
 Psikologi:
 U. mengatasi frustrasi karena : alam, sosial, moral,
maut
 U. menjaga kesusilaan dan ketertiban masyarakat
 U. memuaskan intelek yang ingin tahu
 U. mengatasi ketakutan
 Sosiologi:
 Memperoleh rasa aman (dari ancaman &
ketakutan
 Mencari perlindungan
 Menemukan penjelasan
 Memperoleh pembenaran praktik kehidupan
 Meneguhkan tata nilai (jujur, adil, dsb)
 Memuaskan kerinduan mistik (harapan
eskatologis)
Alasan Manusia Beragama.

Mendapatkan Keamanan.
 Dari berbagai macam gangguan seperti bencana alam :
gempa, banjir, kekeringan, dan gangguan dari ulah
manusia : berupa tindak kriminal.
 Mencari Perlindungan.
 Hidup manusia penuh ketidak pastian dan ketidaktentuan.
 Manusia  mencari perlindungan terhadap Tuhan.
 Menemukan Penjelasan.
 Manusia selalu bertanya tentang hidupnya. Pertanyaan
fundamental  mendapatkan jawaban dalam agama.
Alasan Manusia Beragama.

 Memperoleh Pembenaran Praktek


Kehidupan.
 Dalam masyarakat  Praktek hidup dengan baik
dan berguna rajin bekerja.
 Meneguhkan Tata Nilai.
 Jangan Mencuri  Nilai kejujuran.
 Memuaskan Kerinduan.
 Jasmani dan rohani
UNSUR PENGHAMBAT DALAM
MENGHAYATI AGAMA
 Fanatisme.
 Menonjolkan agamanya sendiri dan menghina agama lain,
serta mengurangi hak hidup penganut agama lain.
 Takhyul.
 Kepercayaan berlebihan terhadap benda atau acara
tertentu, guna mendapatkan bantuan dari Tuhan.

 Fatalisme.
 Sikap mudah menyerah kepada nasib, karena nasib
dianggap sebagai sesuatu yang telah ditakdirkan Tuhan.
LANJUTAN
 Indiferentisme.
 Pandangan yang beranggapan bahwa semua agama sama
saja, sama manfaatnya, sama benarnya.
 Sinkretisme.
 Usaha niencampuradukkan/mempersatukan beberapa
agama menjadi satu kesatuan sehingga menghasilkan
agama baru.
 Magis.
 •. Ilmu Sihir
 • Tidak berpusat pada Tuhan, melamkan pada manusia.
 • Sifatnya egsentris.
-Kitab Suci disebut suci karena kitab suci berisi wahyu
Allah .
-Kitab Suci mrpkn kitab iman krn KS berisi pengalaman
iman umat tertentu.
-Dalam bentuk aslinya mempergunakan bhs setempat.
-Untuk menafsirkan KS perlu diterjemahkan dan perlu
pendamping (ahli)
Dimensi Naratif
Pengalaman
Pengalamanreligius
religiusdiceritakan
diceritakandari
darisatu
satugenerasi
generasike
ke
generasi
generasiberikutnya
berikutnya
Dimensi
Dimensinaratif
naratifmelanggengkan
melanggengkandan danmenjaga
menjagakualitas
kualitas
iman
iman
Cara
Caramembaca
membacakitab
kitabsuci
sucidiperlukan
diperlukanperan
peraniman
imandan
dan
akal
akalbudi
budi
Dimensi Ritual (Peribadatan)
 Pengalaman Religius diekspresikan dalam peribadatan
untuk menghadirkan dan mengenang kembali
pengalaman religius
 Peran ibadat agar pengalaman religius itu selalu aktual
 Ciri-ciri ibadat perayaan (kebersamaan), tata cara
resmi, pemimpin resmi
Dimensi Doktrinal dan Filosofis
(ajaran agama )
 Pengalaman religius dipahami dg akal budi kemudian
diajarkan mjd ajaran pokok (dogma)
 Sumber ajaran : Kitab suci
 Macam-macam ajaran : Ketuhanan, ciptaan/manusia,
keselamatan, penciptaan dan berbagai aspek
kehidupan
Dimensi Institusi (kelembagaan)
 Tujuan : memperkokoh kelompok agama (memelihara
iman,ajaran,praksis hidup)
 Mengatur kebersamaan, menjaga hubungan dg
sesama dan negara
 Sruktur institusi : pemimpin agama, umat, AD & ART
Dimensi material
 Sarana/simbol yang membantu kehadiran “Yg Illahi”
 Sarana peribadatan yg membantu umat beragama dlm
menghayati kehadiran Allah.
 Contoh : air, bunga, lilin , salib, tasbih/ rosario dsb
Dimensi moral
 Pokok- pokok ajaran dlm agama dipakai sebagai
pedoman dalam membuat aturan/ norma agama.
 Norma agama ada yg bersifat universal, artinya
diterapkan pada semua agama.
 Contoh : Jangan membunuh, jangan
mencuri,hormatilah orang tua dsb
 Namun ada juga yg bersifat lokal, artinya ada pd satu
agama, namun belum tentu ada pada agama lain,
misal : tdk boleh poligami, tdk boleh makan daging
babi /sapi dsb.
AGAMA DALAM MASYARAKAT
Pluralisme dan multikulturalisme
Pluralisme adalah pandangan yang menghargai
kemajemukan, serta penghormatan terhadap sang lain
yang berbeda (the others), membuka diri terhadap warna-
warni keyakinan, kerelaan untuk berbagi (sharing),
keterbukaan untuk saling-belajar (inklusivisme), serta
keterlibatan diri secara aktif di dalam dialog dalam rangka
mencari persamaan-persamaan (common belief) dan
menyelesaikan konflik-konflik. Oleh karena itu, tanpa ada
keterlibatan aktif dalam pengembangan sikap dialogis ini,
tidak ada pluralisme.

80
Pluralisme dan multikulturalisme

Multikulturalisme (multiculturalisme)-meskipun berkaitan


dan sering disamakan-adalah kecenderungan yang berbeda
dengan pluralisme. Multikulturalisme adalah sebuah relasi
pluralitas yang di dalamnya terdapat problem minoritas
(minority groups) vs mayoritas (mayority group), yang di
dalamnya ada perjuangan eksistensial bagi pengakuan,
persamaan (equality), kesetaraan, dan keadilan (justice),
seperti perjuangan yang dilakukan oleh kelompok
minoritas Afrika, India, Pakistan, Cina, Turki di Amerika
Serikat. Multikulturalisme jelas memperkaya pluralisme,
meskipun tidak bisa disamakan dengannya.

81
Pluralisme di Indonesia adalah:
- Berkah
- Keragaman
- Sosial
- Budaya
- Adat
- Bahasa
 Dalam negara kita, Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI), termasuk di daerah kita terdapat
beberapa jenis agama yang berbeda. Dari satu sisi,
perbedaan-perbedaan yang ada dilihat dan dinilai
sebagai kekayaan bangsa dimana para penganut
agama yang berbeda bisa saling menghargai atau
menghormati, saling belajar, saling menimbah serta
memperkaya dan memperkuat nilai-nilai keagamaan
dan keimanan masing-masing.
 Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, tetapi dilihat dan
dijadikan sebagai pembanding, pendorong, bahkan penguat dan
pemurni apa yang dimiliki. Kaum beriman dan penganut agama
yang berbeda-beda semestinya bisa hidup bersama dengan
rukun dan damai selalu, bisa bersatu, saling menghargai, saling
membantu dan saling mengasihi.
 Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama,
sering terjadi bahwa perbedaan keagamaan dan
keimanan dijadikan sebagai pemicu atau alasan
pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat telah
terjadi konflik berdarah dan berapi yang menelan
banyak korban manusia dan harta benda, serta
menghancurkan sendi-sendi kehidupan di pelbagai
bidang, di lingkungan kita.
 Unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu dan sasaran
penghancuran dalam konflik tersebut. Menurut pemahaman
teoritis dan pengakuan banyak pihak, agama bukan dan tidak
boleh dipandang serta dijadikan sebagai pemicu konflik dan
perpecahan, melainkan adalah dan harus dipandang serta
dijadikan sebagai penunjang perdamaian dan persatuan. Namun
kenyataannya dalam perilaku atau tindakan orang-orang
tertentu, entah dengan sengaja atau tidak, agama dipakai
sebagai pemicu konflik dan perpecahan.
 Bahkan ada orang-orang tertentu yang menganggap dan
menjadikan agama sebagai dasar atau alasan untuk tidak boleh
hidup bersama atau harus hidup terpisah, tidak boleh berdamai
atau rukun dengan orang yang berbeda agama. Bahkan ada
anjuran untuk memusuhi dan membinasakan orang-orang yang
beragama lain. Kenyataan bahwa unsur-unsur keagamaan
dijadikan sebagai pemicu serentak sasaran konflik, baik pada
tingkat lokal dan nasional maupun internasional akhir-akhir ini,
tentu memprihatinkan dan mencemaskan banyak orang,
terutama bagi kita bangsa Indonesia umumnya yang berciri
majemuk.
 Persaudaraan, kekeluargaan, kerukunan, perdamaian
dan ketenteraman serta kebersamaan, persekutuan dan
kerjasama akan terancam, terganggu dan merosot.
Timbul kecemasan akan konflik, kekerasan,
perpecahan dan kehancuran yang sewaktu-waktu bisa
terjadi. Cukup banyak orang cemas akan ancaman
terhadap kesatuan dan persatuan bangsa, atau akan
terjadinya disintegrasi bangsa, yang dipicu dengan
issu agama.
 Perlu diupayakan peningkatan akan pemahaman, penghayanan,
implementasi dan pelestarian akan :

 wawasan kebangsaan kita seperti tersurat dan tersirat dalam falsafah


bangsa seperti : “Bhineka Tunggal Ika”, “Bersatu kita teguh, bercerai kita
runtuh”,

 kekeluargaan dan persaudaraan sejati antar suku, ras, golongan, daerah


dan agama;

 kerukunan dan toleransi antar umat beragama maupun suku, ras dan
golongan.
 SEBAB KONFLIK YANG BERKAITAN DENGAN AGAMA
SERTA CARA MENGATASI DAN MENCEGAHNYA

 Fakta bahwa ada konflik dan kekerasan maupun perpecahan dan


penghancuran yang berkaitan dengan agama disebabkan karena :

1. Perbedaan yang ada salah dipahami dan salah disikapi, dan tidak
dilihat dan ditanggapi secara positif serta tidak dikelola dengan baik dalam
konteks kemajemukan.

2. Fanatisme yang salah. Penganut agama tertentu menganggap hanya


agamanyalah yang paling benar, mau “menang sendiri”, tidak mau

menghargai, mengakui dan menerima keberadaan serta kebenaran agama

dan umat beragama yang lain.


1. Umat beragama yang fanatik (secara negatif) dan yang terlibat dalam
konflik ataupun yang menciptakan konflik adalah orang-orang yang
pada dasarnya :

2. kurang memahami makna dan fungsi agama pada umumnya;

3. kurang memahami dan menghidupi agamanya secara lengkap, benar,


mendalam;

4. kurang matang imannya dan takwanya;


kurang memahami dan menghargai agama lain serta
umat beragama lain;

kurang memahami dan menghargai hakekat dan


martabat manusia;

kurang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang


universal, terutama hati nurani dan cinta kasih;
1. kurang memahami dan menghidupi wawasan kebangsaan dan
kemasyarakatan yang khas Indonesia, yakni kerukunan,
toleransi dan persatuan dalam kemajemukan, baik pada
tingkat nasional maupun lokal. Oleh sebab itu permasalahan
yang timbul, ataupun yang dikhawatirkan akan timbul,
dapat diatasi atau dicegah dengan upaya peningkatan
pemahaman dan implementasi yang memadai dari
kekurangan-kekurangan tersebut, terutama peningkatan
kwalitas iman dan takwa, hati nurani dan cinta kasih. Hal
ini dapat dilaksanakan dengan:
1. Hal ini dapat dilaksanakan dengan:

 1. Mengembangkan Dialog atau komunikasi timbal balik, yang


dilandaskan pada kesadaran akan :
 adanya kesamaan maupun perbedaan yang tak dapat diingkari dan
disingkirkan, sesuai hakekat atau harkat dan martabat manusia;
 adanya kesamaan nilai-nilai serta permasalahan dan kebutuhan yang
universal, yang berkaitan dengan kemanusiaan, seperti kebenaran,
keadilan, HAM, persaudaraan dan cinta kasih;
 adanya fakta kehidupan bersama dalam kemajemukan serta hubungan dan
ketergantungan satu sama lain;
 mutlak perlunya kerukunan dan damai sejahtera, persatuan dan
kerjasama dengan prinsip keadilan, saling menguntungkan,
saling menghargai, saling terbuka dan saling percaya.
 Mengevaluasi dan memperbaiki sistem dan
bobot pendidikan dan pembinaan, baik yang khas
keagamaan maupun yang bukan khas atau yang bersifat umum,
untuk menambah pengetahuan, mematangkan iman,
meningkatkan moral dan spiritual, memantapkan
kepribadian; Sasaran pendidikan dan pembinaan bukan
hanya pada aspek intelektual dan ketrampilan, tetapi juga
pada budi pekerti dan hati nurani (moral dan spiritual)
serta emosionalitas dan perilaku, pola pikir dan pola hidup.
KERUKUNAN DAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA
MENURUT GEREJA KATOLIK

 Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik sangat


menekankan dan turut memperjuangkan kerukunan
dan toleransi antar umat beragama, karena dan demi
keharmonisan, persaudaraan, damai sejahtera,
persatuan, dan “keselamatan” segenap umat manusia.
Kerukunan dan toleransi antar umat beragama dilihat
sebagai suatu kebutuhan hakiki dan universal.
Dikatakan oleh Konsili Vatikan II :
 “ Tetapi kita tidak dapat menyerukan nama Allah Bapa
semua orang, bila terhadap orang-orang tertentu, yang
diciptakan menurut citra-kesamaan Allah, kita tidak
mau bersikap sebagai saudara. Hubungan manusia
dengan Allah Bapa dan hubungannya dengan sesama
manusia saudaranya begitu erat, sehingga Allah
berkata : “Barang siapa tidak mencintai, ia tidak
mengenal Allah” (1 Yoh 4:8).
 Jadi tiadalah dasar bagi setiap teori atau praktek, yang
mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia
serta hak-hak yang bersumber padanya antara
manusia dengan manusia, antara bangsa dengan
bangsa.
 Maka Gereja mengecam setiap diskriminasi antara
orang-orang atau penganiayaan berdasarkan
keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau
agama, sebagai berlawanan dengan semangat Kristus.
Oleh karena itu Konsili suci, mengikuti jejak para
Rasul kudus Petrus dan Paulus, meminta dengan
sangat kepada Umat beriman kristiani, supaya bila ini
mungkin “memelihara cara hidup yang baik di antara
bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1Ptr 2:12), dan sejauh
bergantung dari mereka hidup dalam damai dengan
semua orang, sehingga mereka sungguh-sungguh
menjadi putera Bapa di sorga
Pentingnya kerukunan dan
toleransi antar umat beragama
 Dalam pandangan Gereja Katolik, kerukunan dan toleransi
antar umat beragama adalah penting bagi :
 1. Praktek hidup beragama secara benar, konsekwen dan
efektif;
 2. Tercapainya tujuan dari agama, yakni terwujudnya
keselamatan/kebahagiaan di dunia maupun di akhirat,
yang dapat dicapai melalui cinta kasih, yang tidak lain
adalah intimitas relasi antara manusia dengan Allah dalam
intimitas relasi antara manusia dengan manusia;
 3. Terwujudnya kebutuhan yang hakiki dan cita-cita
setiap insan manusia, yaitu damai sejahtera lahir dan batin
dalam “dunia” yang harmonis, rukun dan damai.
Dasar kerukunan dan
toleransi antar umat beragama
 1. Kesamaan kodrat dan martabat, kebebasan, hak dan
kewajiban dari segenap umat manusia sebagai makhluk
ciptaan Tuhan yang secitra denganNya;
 2. Persaudaraan universal, segenap bangsa merupakan
suatu masyarakat atau keluarga umat manusia, yang adalah
putera-puteri dari Allah yang satu dan sama;
 3. Allah yang satu dan sama sebagai sebagai sumber dan
tujuan dari segala bangsa, termasuk sumber dan tujuan
dari agama-agama yang berbeda;
 4. Allah itu merupakan sumber keselamatan yg
dibutuhkan dan didambakan setiap orang;
 5. Universalitas Keselamatan dari Allah, yang terwujud
secara penuh dalam Yesus Kristus, diperuntukkan bagi
segenap bangsa. Jadi bagi segenap umat dari pelbagai
golongan agama;
 6. Inti dari keselamatan dari Allah adalah ketenteraman
lahir dan batin yang diperoleh melalui intimitas relasi
vertikal maupun horizontal, yakni damai sejahtera dan
persekutuan lahir dan batin antara manusia yang satu
dengan sesama manusia yang lain sebagai wujud nyata dari
intimitas relasi dengan Tuhan;
 7. Dasar dan serentak tujuan maupun wujud dari relasi
tersebut adalah cinta kasih.
 Dan yang dimaksudkan dengan cinta kasih adalah
seperti apa yang dilukiskan oleh rasul Paulus, yaitu: “
murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri
dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan
dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak
pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain,
tidak bersuka cita karena ketidak-adilan, tetapi karena
kebenaran, menutupi segala sesuatu (tidak
membeberkan jelekan/kesalahan orang lain),
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu (Kor.13:4-7).
 Cinta inilah yang menjadi dasar atau landasan utama
bagi usaha dan terwujudnya kerukunan dan toleransi
antar umat beragama. Dengan adanya cinta manusia
mampu menghargai satu sama lain, hidup bersama
dengan rukun dan damai, kendati ada rupa-rupa
perbedaan, dan saling menunjang atau bekerjasama
dengan baik.
 Cinta kasih tersebut merupakan buah dari Roh Kudus, yang tidak lain
adalah Roh Allah sendiri. Dengan daya Roh Kudus orang-orang yang
berbeda dan asing satu sama lain dapat saling menghargai, memahami
dan berkomunikasi dengan baik (Kisah Para Rasul 2:1-12), dapat
menjadi sehati sejiwa, saling menunjang dan solider dalam suka dan
duka (Kisah Rasul-Rasul 2:41-47). Kehadiran, karya dan buah-buah
Roh Kudus tak dibatasi dengan ruang dan waktu. Roh Kudus dapat
hadir dan berkarya dalam diri setiap orang, yang adalah ciptaan Allah,
kapan saja dan dimana saja, tanpa membedakan agama, asal, dll. Maka
Roh yang satu dan sama dapat mempersatukan orang-orang yang
berbeda-beda, entah dalam iman dan agama maupun dalam hal apa
saja.
MEMAHAMI PERBEDAAN
KEYAKINAN DIANTARA KITA SBG
BANGSA YG MAJEMUK

TIDAK MENGUKUR KEPERCAYAAN


ORANG LAIN DGN KEYAKINAN
SENDIRI

TIDAK MUDAH TERSINGGUNG DLM


PERGAULAN HIDUP

MAMPU MENATA HATI DAN PIKIRAN


UTK TIDAK IRIHATI, TDK MEMBENCI,
DAN TDK MEMAKI-MAKI KEYAKINAN
ORANG LAIN

TIDAK MENCURIGAI KEGIATAN RITUAL


ORANG LAIN YG TDK SAMA DGN KEYAKINAN
KITA
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2002:966)
Kerukunan berasal dari kata
: RUKUN yang berarti : Baik
dan Damai; Tidak
Bertengkar; Bersatu Hati,
Bersepakat.

“KERUKUNAN berarti Perilaku hidup


RUKUN, yakni hidup yang baik dan
damai, bersahabat, tidak bertengkar,
bersatu hati dan bersepakat pada nilai-
nilai kehidupan yang baik”
 Merupakan tolak ukur pintu gerbang
pilar perekat persatuan dan
kesatuan.
 Modal Dasar bagi kelangsungan
pembangunan nasional,
 Semangat kebersamaan
Keragaman Bangsa Indonesia
tercermin dengan Pengakuan Pemerintah
terhadap Enam Agama

 Islam
 Kristen
 Katholik
 Hindu
 Buddha
 Khong hucu
Keanekaragaman bunga yang
terangkai akan menyebabkan vas
bunga menjadi indah, demikian
pula keragaman ras, agama, suku
bangsa ataupun bahasa menjadi
sebuah budaya yang tertata indah
bila diikat dengan keharmonisan.

Berbagai agama yang ada di


Indonesia akan berkembang, bila
setiap orang mau menghargai
perbedaan tersebut. Setiap bahasa
daerah yang ada di Indonesia akan
tetap terpelihara bila kita mau
memeliharanya.

Tari-tari daerah akan terus terawat


bila generasi mudanya diberikan
kepercayaan untuk terus
mengembangkan.
 Mudah menimbulkan konflik
 Kurang memahami perbedaan
 Sikap Fanatisme yang tinggi
 Politisasi agama
PRINSIP DASAR YANG HARUS DIBANGUN :
 Membangun tanpa perbedaan,
 Kebersamaan dalam perbedaan,
 Hidup tanpa kekerasan,
 Hidup toleran,
 Tidak mengukur keyakinan orang lain dengan keyakinan
diri sendiri,
 Tidak mudah tersinggung,
 Mudah menata hati dan pikiran,
 Hidup harmonis berdampingan satu sama lain secara
damai.
Sumber Majalah TIME
Sumber Majalah TIME
Sumber BPS
GEREJA SBG GD IBADAH : TEMPAT BERKUMPUL UMAT KATOLIK MELAKS
KEGIATAN IBADAH

GEREJA SBG HIMPUNAN UMAT ALLAH : PERSEKUTUAN UMAT YG BERIMAN


KPD YESUS KRISTUS

KATHOLIK = UNIVERSAL

KITAB SUCI : KS. ORG KATOLIK YG BERISI PERJANJIAN


CINTA ALLAH DG MANUSIA
MULTIKULTURALISME

118
multikulturalisme?
• AJARAN bahwa beberapa budaya yang
berbeda (kesukuan, ras, agama, kedaerahan,
bahasa, kelompok gender) dapat hidup
berdampingan secara damai, saling
mendukung dalam posisi yang setara,
dan menikmati kehidupan yang makin
adil (dalam suatu negara, wilayah
pengorganisasian hidup bersama, termasuk di
universitas);
• PERSPEKTIF memuat semangat baru
dlm meyakini, meneorikan, dan
menyikapi keanekaragaman budaya;
Pengenalan Multikulturalisme 2013 119
PENTINGNYA multikulturalisme
• Setiap komunitas budaya
cenderung ingin hidup dengan
caranya sendiri  hak hidup
dan berkembang.
• Masyarakat modern-terbuka 
niscaya terjalin interaksi
(pertemuan, kerjasama,
perselisihan) di antara manusia
yang berbeda latar belakang
ikatan budaya-nya.
• Indonesia  modern-terbuka;
miniatur PBB
Pengenalan Multikulturalisme 2013 120
PREMIS MULTIKULTURALISME

• Premis 1: Keanekaragaman identitas


budaya merupakan hal yang positif,
dan dialog antar identitas budaya
merupakan unsur penting dari
masyarakat yang plural.
Semua identitas budaya memiliki
sesuatu yang dapat disumbangkan
dan dipelajari dari budaya lain;
• Premis 2: Inti multikulturalisme sbg
praktik mencakup dua Hak, yaitu
hak untuk berbeda dan hak untuk
hadir memperoleh tempat di ruang
publik (berpartisipasi secara setara
dlm urusan publik);

Pengenalan Multikulturalisme 2013 121


PREMIS MULTIKULTURALISME
(lanjutan)
• Premis 3: Rasa memiliki dlm
perspektif multikulturalisme tak dpt
didasarkan pada etnik, agama, jender,
bahasa, dsb. Melainkan berdasar
komitmen bersama yang dibangun
dgn pilar toleransi dan solidaritas atas
dasar kepercayaan aktif;
• Premis 4: Pilar toleransi dan
solidaritas atas dasar kepercayaan aktif
hanya bisa dimajukan melalui
perbaikan distribusi material yang
more or less adil, sebagaimana
penghargaan thd dimensi budaya;

Pengenalan Multikulturalisme 2013 122


Tindakan pro-multikulturalisme
• Menerima, toleran, simpati,
berempati, peduli terhadap
keanekaragaman kultural, bersedia
hidup bersama, saling percaya dan
saling mendukung (ko-eksistensi dan
pro-eksistensi);
• Melakukan prakarsa memajukan
kehidupan multikultural yang lebih
damai, merumuskan dan menegakkan
aturan yang fair-adil, mengurangi
kesenjangan, meningkatkan keadilan
secara konsisten &
berkesinambungan.
Pengenalan Multikulturalisme 2013 123
124
ADALAH
ADALAH SUATU ADALAH
KELOMPOK MASY
KONDISI AMAN KEHIDUPAN YG
YG TDK DPT
TENTRAM & NYAMAN PENUH
DIPISAHKAN DR
DAMAI DLM TENGGANG RASA
KEHADIRAN &
KEHIDUPAN DI DLM MASY.
PERK. AGAMA’S
BERBANGSA & DLM BERBGSA &
BESAR, ISLAM,
BENEGARA DI BERNEGARA
KRISTEN,
MASYARAKAT
KATOLIK, HINDU,
BUDDHA
Dasar Filosofis
 Rukun: Orang Indonesia (khususnya Orang Jawa)
selalu mengedepankan kerukunan dalam
kehidupannya.
 Harmoni: Orang Indonesia (khususnya Orang
Jawa) selalu mengedepankan keseimbangan antara
mikro kosmos dan makro kosmos
 Selamet: Orang Indonesia (khususnya orang Jawa)
sangat menjaga keselamatan baik dengan sesama
manusia, alam dan Tuhan
MAKNA KERUKUNAN
BERAGAMA
1. Kerukunan umat beragama adalah keadaan
hubungan sesama umat beragama yang dilandasi
toleransi, saling pengertian, saling menghormati,
menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran
agamanya dan kerjasama dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
2.Pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah
upaya bersama umat beragama dan Pemerintah
di bidang pelayanan, pengaturan, dan
pemberdayaan umat beragama.
Bagaimana Mewujudkan Kerukunan: Intern dan
Antar
 Bagaimana mengembangkan dasar-dasar kebijakan
pembinaan agama agar terwujud kerukunan
internumat beragama ?
 Bagaimana mengembangkan prinsip dasar
kehidupan bersama dalam mewujudkan kerukunan
antarumat beragama?
Bagaimana Mewujudkan Kerukunan: Intern dan
Antar
 Bagaimana mengembangkan dasar-dasar kebijakan
pembinaan agama agar terwujud kerukunan
internumat beragama ?
 Bagaimana mengembangkan prinsip dasar
kehidupan bersama dalam mewujudkan kerukunan
antarumat beragama?
BUDAYA ROHANI SEPERTI APA?
Antar
 Masyarakat Timur, tidak mungkin
melepaskan diri dari kondisi
obyektif bahwa ia dibentuk dan
dibesarkan oleh prinsip kehidupan
komunal dan budaya rohani yang
bersifat bersama.
BUDAYA ROHANI
 Tidak terjebak dalam
SEPERTI APA?
‘fundamentalisme’ dan
ekslusifisme.
Dialog Antar Umat Beragama.
 Dialog antar umat beragama merupakan
jalan yang paling sesuai untuk diambil
sebagai langkah pcrtama menuju
kerukunan dan perdamaian.
A. PENGERTIAN DIALOG.

 Kata Dialog berasal dari kata Yunani "dia-logos", artinya


bicara antara dua pihak, atau "dwiwicara". Lawannya
adalah "monolog" yang berarti "bicara sendiri". Arti
sesungguhnya (definisi) dari dialog ialah : percakapan
antara dua orang (atau lebih) dalam mana diadakan
pertukaran nilai yang dimiliki masing-masing puhak.
Lebih lanjut dialog berarti pula : pergaulan antara pribadi-
pribadi yang saling memberikan diri dan berusaha
mengenal pihak lain sebagaimana adanya. Berdialog
merupakan kebutuhan hakiki dari manusia sebagai
makhluk sosial.
 Dialog antar umat beragama dapat didefinisikan
sebagai berikut : suatu temu wicara antara dua atau
lebih pemeluk agama yang berbeda, dalam mana
diadakan pertukaran nilai dan informasi keagamaan
pihak masing-masing untuk mencapai bentuk
kerjasama dalam semangat kerukunan.
 Menurut Mukti Ali, dialog antar umat beragama adalah
pertemuan hati dan pikiran antara pemeluk pelbagai
agama. Dialog adalah komunikasi antara orang-orang yang
percaya pada tingkat agama. Dialog adalah jalan bersama
untuk mencapai kebenaran dan kerjasama dalam proyek-
proyek yang menyangkut kepentingan bersama. la
merupakan perjumpaan antar pemeluk agama tanpa
merasa rendah dan tanpa merasa tinggi, dan tanpa agenda
atau tujuan yang dirahasiakan. Dialog ini merupakan
perjumpaan yang sungguh-sungguh bersahabat dan
berdasarkan hormat dan cinta dalam tingkatan agama
antara pelbagai kelompok pemeluk agama.
TUJUAN DIALOG.

 Pertama-tama mjuan yang hendak dicapai


musyawarah pemeluk-pemeluk agama bukanlah
mengadakan peleburan (fusi) agama-agama menjadi
satu agama baru yang memuat unsur-unsur ajaran
agama.
 Dialog juga tidak dimaksud untuk mendapat
pengakuan dari pihak lain akan supremasi agamanya
sendiri sebagai agama yang paling benar. Juga tidak
dapat dibenarkan bila musyawarah antar umat
beragama mau meniadakan perbedaan yang ada dari
masing-masing
 Justru melalui musyawarah bersama itu harus disadari
dan diakui adanya perbedaan-perbedaan fundamental
ajaran agama yang tidak boleh dikaburkan ataupun
direlativir kebenarannya. Bahkan perbedaan dogma
itu harus dihormati dengan rasa toleransi.
 Dialog juga tidak boleh dipakai sebagai topeng untuk
mencari kelemahan pihak lain dan menariknya untuk
berpindah agama.
 Tujuan positif yang hendak dicapai dengan
musyawarah itu ialah:
 Mencapai saling pengertian dan saling penghargaan
yang lebih baik antar penganut agama, dan kemudian
bersama-sama menjalin hubungan persaudaraan yang
jujur untuk melaksanakan rencana keselamatan
yang dikehendaki Tuhan yang memanggilnya
 . Agar pelaksanaan rencana Illahi itu berjalan teratur
dan terarah pada sasaran yang ingin dicapai, maka
dialog juga dimaksudkan untuk menyusun suatu
rencana kerjasama dengan isi dan cara yang disepakati
bersama.
 Maka dialog pada tingkat ini hendaknya tidak dimulai
dari bidang doktriner, akan tetapi beriolak dari
bidang karya. Baru kemudian jika dialog dalam bidang
karya telah menjadi kenyataan yang berjalan
lancar orang dapat meningkat kcpada dialog doktriner.
Maksud dialog antaragama
 Bukan mencari siapa benar siapa salah
 Menghargai agama dan kepercayaan orang lain
 Dari eksklusif ke inklusif
 Melakukan pemikiran kembali terhadap konsep-konsep
lama tentang agama dan masyarakat untuk menuju era
pemikiran baru berdasarkan solidaritas historis dan
integrasi sosial
 Melakukan reformasi pemikiran dari pemikiran teologis
eksklusif menuju pemikiran teologis yang inklusif,
terbuka dan pluralis , serta bersedia menerima umat
beragama lain sebagai teman dialog untuk meperluas
wawasan dan pengalaman keagamaan.
 Tujuan yang ingin dicapai: Passing over
 Bukan hanya berhenti pada pada ko-eksistensi,
melainkan juga pada pro-eksistensi. Artinya, dialog
tidak hanya mengantarkan pada sikap bahwa setiap
agama berhak untuk berseksistensi secara bersama-
sama, melainkan juga mengakui dan mendukung
(bukan berarti menyamakan) eksistensi semua agama
 Berlaku di antara yang seagama
 Membuat pengelompokan (Paul F. Knitter)
 Pusatkan pembicaraan atau tema tentang “ada banyak
jalan menuju ke satu sumber yang ilahi” (Divine Center)
sebagai titik berangkat atau kriteria
 Dibuat pengelompokan menurut eklesiosentris
(terpusat pada Gereja), atau kristosentris (terpusat pada
Kristus), atau teosentris (terpusat pada Allah) sebagai
titik berangkat atau kriteria
 Mempergunakan kriteria penjabaran tentang
pemahaman eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme
(Kristus menolak agama-agama lain, Kristus di dalam
agama-agama lain, atau Kristus bersama agama-agama
lain)
 Melakukan dialog bertingkat (Krishnanda Wijaya
Mukti):
 Dialog kehidupan sehari-hari: Belajar saling mencontoh
kebaikan satu sama lain
 Dialog melakukan pekerjaan sosial : Bekerja sama
dengan agama-agama lain untuk mengerjakan proyek-
proyek kemanusiaan
 Dialog pengalaman keagamaan: Saling memperkaya
penghayatan nilai-nilai kerohanian melalui berbagi
pengalaman doa, meditasi, dsb.
 Dialog pandangan teologis: Dilakukan oleh ahli-ahli
agama untuk saling berbagi pemahaman nilai-nilai
rohani masing-masing agama
 Menghargai perbedaan interpretasi kitab suci
(Muhammad Ali):
 Mengakui perbedaan pemahaman terhadap kitab suci
agama lain
 Menghargai perbedaan pemahaman terhadap kitab
suci dalam agama tertentu
 Berdebat secara cerdas dan bukan berdebat kusir (tidak
ada penghujatan, pengkafiran, pelabelan “setan”
terhadap mitra dialog atau theological judgment lain
yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan)
 Mengikuti kuliah Character Building: dengan mengenal
ajaran dan praktek dasar masing-masing agama.
Prinsip-prinsip yang menyertai
pelaksanaan dialog:
 Frank Witnes, dimana masing-masing tidak
menyembunyikan keyakinan, untuk menghilangkan
kecurigaan atau ketakutan yang tidak diungkapkan
 Mutual Respect, yaitu sikap simpati terhadap kesulitan
orang lain dan penghargaan terhadap prestasi orang lain
 Religious Freedom, yaitu hak untuk memeluk agama
tanpa paksaan
BENTUK DIALOG.
 1. Dialog Kehidupan (bngi semua orang).
 Dialog kehidupan diperuntukkan bagi semua orang
dan sekaligus merupakan level dialog yang paling
mendasar (bukan paling rendah). Sebab ciri kehidupan
bersama sehari-hari dalarr. masyarakat majemuk yang
paling umum dan mendasar ialah ciri dialogis. Dalam
kehidupan sehari-hari; aneka pengalaman yang
menyusahkan, mengancam, dan menggembirakan dialami
bersama-sama. Masing-masing dengan pengalaman
hidupnya yang khas - dalam kewajarannya sebagai orang
yang tinggal bersama - senantiasa tergerak untuk
mebagikan pengalamannya.
 Dalam dialog ini, pribadi-pribadi yang berakar dalam
tradisi keagamaan masing-masing berbagi
pengalaman doa, kontemplasi, meditasi, bahkan
pengalaman iman dalam arti yang lebih mendalam
(pengalaman mistik, misalnya). Dialogue and Mission
35 melihat bahwa perbedaan-perbedaan yang kadang-
kadang besar tidak menjadi halangan dalam dialog
semacam ini, tentu saja sejauh orang mengembalikan
perbedaan-perbedaan itu kepada Tuhan "yang lebih
besar dari pertimbangan hati kita" (1 Yoh 3:20).
 Saling terlibat dalam pengalaman orang lain
berlangsung dalam suatu wujud kehidupan yang
dialogis. Dialog kehidupan seringkali memang tidak
langsung menyentuhnperspekdf agama atau iman.
Dialog itu lebih digerakkan oleh sikap-sikap solider
dan kebersamaan yang melekat. Biarpun demikian
sebagai orang beriman, solidaritas dan kebersamaan
yang lahir dalam kehidupan sehari-hari tak mungkin
dipisahkan apalagi silucuti dari kehidupan iman
mereka.
 Setiap pengiktu Kristus, karena panggilannya sebagai
orang Kristen, duninta untuk menghayati dialog
kehidupannya dalam semangat injili; tak peduli dalam
situasi apa pun, baik sebagai minoritas maupun
mayoritas. Artinya, setiap pengikut Kristus harus
mengungkapkan nilai-nilai Injil dalam tugas dan
karyanya sehari-hari, dalam segala bidang -
kehidupannya : sosial, politik, ekonomi, kesenian,
pendidikan, filsafat dan seterusnya.
 Dialog Karya (untuk Bekerjasama).
 dialog karya adalah kerjasama yang lebih intens dan
mendalam dengan para pengikut agama-agania lain.
Sasaran yang hendak diraih jelas dan tegas, yakni
pembangunan manusia dan peningkatan martabat.
 .Dialog Pandangan Teologis (untuk Para Ahli).
 Sebenarnya dialog teologis tidak hanya dikhususkan untuk
para ahli melainkan juga untuk siapa saja yang memiliki
kemampuan untuk itu. Tetapi karena menyangkut soal-
soal teologis yang sering rumit, dialog semacam iiu lebih
tepat untuk para ahli.
 Dalam dialog teologis, orang diajak untuk menggumuli,
memperdalam, dan memperkaya warisan-warisan
keagamaan masing-masing, serta sekaligus diajak untuk
mengetrapkan pandangan-pandangan teologis dalam
menyikapi persoalan-persoalan yang dihadapi umat
manusia pada umumnya
 Karena dialog semacam ini membutuhkan visi yang
mantap. Dialog pandangan teologis tidak (dan tidak
boleh) berpretensi apa-apa, kecuali untuk saling
memahami pandangan teologis agama masing-masing
dan penghargaan terhadap nilai-nilai rohani masing-
masing.
 Dialog teologis tidak boleh dimaksudkan untuk
menyerang pandangan sesama rekan dialog. Dialog
teologis nieminta keterbukaan dari masing-masing
untuk menerima dan mengadakan pembaruan-
pembaruan yang makin sesuai dengan nilai-nilai
rohaninya.
 Dialog Pengalaman Keagamaan (Dialog
Pengalaman I man).
 Dialog pengalaman keagamaan atau lebih baik disebut
pengalaman iman, merupakan dialog tingkat tinggi
 Dialog pengalaman iman dimaksudkan untuk saling
memperkaya dan memajukan penghayatan nilai-nilai
tertinggi dan cita-cita rohani masing-masing pribadi.
 dialog-pengalaman keagamaan sangat mengandaikan
iman yang mantap dan mendalam. Dalam banyak hal,
dialog iman merupakan ujian kesabaran yang
meminta ketabahan panjang. Kristus mengundang
kita untuk masuk dalam dialog iman ini dan kepada
kita Dia berkata, "Aku datang, supaya mereka
mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala
kelimpahan" (Yoh 10:10).


SYARAT DIALOG.

 Dialog Meminta Keseimbangan Sikap


 Dialog menuntut sikap yang seimbang dan orang-
orang yang terlibat di dalamnya. Mereka tidak boleh
(dan jangan sampai) bersikap tidak jujur. Juga
hendaknya dihindarkan kecenderungan untuk
mengkritik, sekalipun itu didukung dengan kutipan-
kutipan dan Kitab Sucinya atau berdasar wahyu
tertulis
 Sikap terbuka, mau mendengarkan, tidak egois, tidak
berprasangka perihal perbedaan-perbedaan yang
muncul, haruslah dipupuk dan diusahakan dalam
persahabatan yang mantap. Kehendak dan crta-crta
bersama untuk terlibat dalam pencapaian kebenaran
dan kesediaan untuk membiarkan diri dibentuk dan
dikembangkan dalam peijumpaan, merupakan syarat
dalam dialog.
 Aneka kecenderungan yang menganggap diri paling
benar karena alasan-alasan dangkal (misalnya, sebagai
mayorrtas atau sebagai agama yang paling banyak
dianut di seluruh dunia) maupun alasan yang lebih
mendalam (misalnya, karena kelogisan pandangan
teologis atau keakuratan dalam mencema pengalaman
imannya), haruslah dicegah dan ditanggalkan dengan
penuh kerendahan hati
 . Dialog Meminta Kemantapan dan Menolak
Indiferentisme.
 mengusahakan pandangan yang terbuka dan positif
terhadap agama-agama lain, setiap orang Kristen hams
menghindarkan dan membitang sikap-sikap indiferentisme.
Indiferentisme harus dicegah, sebab pandangan ini selain
mengantar kepada sikap acuh tak acuh mengenai
tuntutan-tuntutan imannya, juga menampilkan sikap
menggampangkan sekaligus menyederhanakan
(simplifikasi) pandangan tentang agama-agama sebagai
sama saja semuanya. Memandang semua agama sebagai
sama saja, merupakan sikap yang naif dan justru sangat
merugikan imannya.
 Dialog Tidak Menghendaki Teologi Universal.
 Gereja tidak menghendaki (sejauh dari pemeriksaan
di atas) teologi universal tentang agama-agama (yang
pada prinsipnya memandang semua agama sama saja
biarpun dikatakan dalam pemahaman teologis yang
kompleks), sebab dapat membawa kecenderungan
sikap indiferen. Di lain pihak, Gereja juga tidak
menghendaki keanekaragaman pandangan teologis
dari agama-agama menjadi sumber pemecah belah
kesatuan umat manusia. Kesatuan umat manusia tidak
bisa dikorbankan demi alasan kepentingan agama.

BEBERAPA KESULITAN DIALOG
 Hambatan dialog agama umumnya menyentuh faktor-
faktor manusiawi, antara lain :
 Tidak cukup memiliki pengetahuan dan pemahaman
tentang agama-agama lain secara benar dan seimbang
akan menyebabkan kurangnya penghargaan dan
sekaligus akan mudah memunculkan sikap- sikap
curiga yang berlebihan.
 Perbedaan kebudayaan karena tingkat pendidikan
yang tidak sama; juga masalah bahasa yang sangat
peka dalam kelompok-kelompok tertentu.
 Faktor-faktor sosial politik dan beban ingatan
traumatis akan konflik-konflik dalam sejarah.
 Pemahaman yang salah mengenai beberapa istilah
yang biasa muncul dalam dialog, misalnya pertobatan,
pembaptisan, dialog, dan seterusnya.
 Merasa diri cukup atau paling sempurna, sehingga
memunculkan sikap-sikap defensif dan agresif.
 Kurang yakin terhadap nilai-nilai dialog ataragama;
sejumlah orang menaganggapnya sebagai suatu tugas
khusus para ahli, atau melihat dialog sebagai salah
satu tanda kelemahan atau malahan pengkhianatan
iman.
 Kecenderungan untuk berpolemik bila
mengungkapkan keyakinan gagasannya.
 Permasalahan zaman sekarang ini, misalnya,
berumbuhnya materialisme, sekularisme, sikap acuh
tak acuh dalam hidup agama, dan banyaknya sek-te-
sekte keagamaan fundamentalis yang menimbulkan
kebingungan dan memunculkan persoalan-perscalan
tertentu.
 Sikap tidak toleran yang kerap kaii diperparah oleh
faktor-faktor politik, ekonomi, ras, etnis dan aneka
kesenjangan lainnya.
Hubungan Ilmu Pengetahuan dan Iman.
Seorang Filsuf terkenal Alfred North W (1861-1974)
meyatakan bahwa AGAMA dan IPTEK merupakan 2
kekuatan raksasa terbesar di dunia yang secara hebat
mempengaruhi manusia.
. IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Iptek dan A.Kristen memiliki relasi ganda, dalam
sejarah saling mendukung dan sampai bermusuhan
dengan tajam.
Hubungan Ilmu
Pengetahuan dan Iman
 Pertanyaan tentang apakah IPTEK itu selalu
sejalan dengan iman, murupakan pertanyaan yang
menarik untuk dibahas. Pertanyaan ini menjadi
menarik sebab perjalanan sejarah menunjukkan
IPTEK dan iman di satu sisi dalam sejarah masa
lalu sering diwarnai sikap curiga bahkan
permusuhan dari pihak gereja terhadap berbagai
terobosan ilmu pengetahuan.
 Di lain pihak dalam perkembangan selanjutnya hubungan
IPTEK dan iman ditandai sikap terbuka dari pihak gereja.
Gereja perlahan membuka diri terhadap segala
kemungkinan penemuan ilmu pengetahuan. Untuk
mengetahui sejauh mana IPTEK selalu sejalan dengan
iman, pertama-tama kita harus melihat apa itu ilmu
pengetahuan dan teknologi itu sendiri, bagaimana
hubungan ilmu pengetahuan dan teknologi, selanjutnya
barulah kita melihat apa itu iman, bagaimana hubungan
iman dan IPTEK. Setelah membuat semua uraian di atas
barulah kita dapat melihat apakah IPTEK itu selalu sejalan
dengan iman kita.
Apa itu Ilmu Pengetahuan
 Menurut Paulus Wahana dalam tulisannya tentang
peranan ilmu pengetahuan dan tanggung jawab
manusia, ia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan
merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses yang
dilakukan manusia terutama dengan menggunakan
akal budinya secara rasional (kritis, logis dan
sistematis), diusahakan berdasarkan prosedur, pola
kegiatan, tata langkah, tata cara dan teknik tertentu,
serta memiliki tujuan[1]
 secara konotatif, ilmu pengetahuan memiliki tiga
dimensi yakni proses, prosedur dan produk. Bila
diperbincangkan sebagai suatu proses, maka secara
konotatif ilmu pengetahuan menunjuk pada
penelitian ilmiah; bila diperbincangkan secara
prosedur, maka secara konotatif ilmu pengetahuan
meunujuk pada metode ilmiah; dan bila
diperbincangkan sebagai suatu produk, maka secara
konotatif ilmu pengetahuan mununjuk pada
pengetahuan ilmiah.
Apa itu Teknologi
 Kecenderungan yang ada setiap manusia,
yang tidak puas hanya sekadar memiliki
pengetahuan yang ada dalam benak
pikirannya, tetapi juga untuk mencari
kemungkinan-kemungkinan untuk
menerapkan ilmu pengetahuan tersebut
dalam realitas kehidupan, maka nampaklah
arti praktis dari ilmu pengetahuan.
 Teknologi sebenarnya dapat muncul dari dua arah,
yaitu:
 pertama keinginan untuk menerapkan ilmu
pengetahuan ke dalam realitas kehidupan dengan
mewujudkan cara yang dapa dipertanggungjawabkan
secara ilmiah (teknologi)
 kedua keinginan untuk memperoleh dasar atau
pertanggungjawaban ilmiah terhadap praktik
kehidupan yang semakin membutuhkan atau
menuntut cara yang semakun kopleks dan rumit.
 Teknologi sebagai aktivitas kerja manusia, membantu
secara secara fisik atau intelektual dalam
menghasilkan bangunan, produk-produk, atau
layanan-layanan yang dapat meningkatkan
produktivitas manusia untuk memahami, beradaptasi
terhadap, dan mengendalikan lingkungannya secara
lebih baik. Teknologi juga dapat dipahami sebagai
aktivitas dan hasil aktivitas yang merujuk pada pabrik-
pabrik, barang, dan layanan.
Hubungan Ilmu pengetahuan dan
Teknologi
 Hubungan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dapat
dilihat dalam uraian berikut ini:
 pertama, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi
merupakan komponen dari kebudayaan.
 Kedua, baik ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki
aspek ideasional maupun factual, dimensi abstrak maupun
dimensi konkret, dan aspek teoritis maupun praktis.
Ketiga, terdapat hubungan dialetis antara ilmu dan
teknologi. Perbedaan antara ilmu pengetahuan dan
teknologi dapat ditelusuri sebagai berikut, yaitu
berdasarkan pada: tujuannya, pengaruh atau dampaknya
pada manusia, lingkupnya, inputnya, dan outputnya.
Apa itu Iman
 iman merupakan tanggapan bebas manusia terhadap
rencana keselamatan Allah, maka iman sebenarnya disatu
sisi merupakan suatu tanggapan secara pribadi dan
kolektif. Berangkat dari tanggapan bebas iman akhirnya
menjadi tolak ukur hubungan vertical manusia dan Allah.
Hubungan vertical manusia dan yang Transenden
diwujudkan dalam berbagai bentuk ritus dan mendapat
bentuk konkrit dalam hubungan manusia dan sesama serta
alam ciptaan. Keyakinan akan kuasa yang melebihi
kemampuan manusia memberikan kesadaran akan
keterbatasn manusia dalam mengahadapi realitas
kehidupan yang dialami.
Hubungan Iman dan IPTEK
 Hubungan dalam dampaknya dan perannya pada
manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi membantu
manusia dalam pembentukan diri.
 Manusia membentuk diri dalam kerjanya. Dapat kita
katakana bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan salah satu bentuk kerja manusia yang luar
biasa dalam sejarah kehidupan umat manusia. Ilmu
pengetahuan dan teknolog bertujuan untuk melayani
manusia. Iman sendiri membantu manusia di satu sisi
memberikan suatu kesadaran akan keterbatasan manusia
dalam menghadapi realitas dunia yang kompleks, di sisi
lain memberikan bobot moral atas kerja manusia.
 Masalah yang sering muncul antara iman dan ilmu
pengetahuan dan teknologi ialah bahwa ilmu
pengetahuan dan teknologi terkadang kehilangan arah
dalam penerapannya.
 Tak jarang kita menemukan bahwa dalam penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi berbenturan dengan
nilai-nilai moral yang diajarkan oleh iman
 Walaupun demikian tidak bisa kita pungkiri bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga
telah membantu telaah-telaah para sarjana teolog.
 ilmu pengetahuan dan teknologi dimaksudkan untuk
melayani manusia, penelitian yang dilakukan demi
perkembangan ilmu pengetahuan harus selalu
dilakukan dengan kepedulian terhadap implikasi etika
dan moral.
 "Sangat penting bahwa kita harus yakin prioritas dari
yang etis atas teknis, dari keunggulan orang atas hal-
hal, tentang keunggulan semangat atas masalah.
Penyebab pribadi manusia hanya akan dilayani jika
pengetahuan bergabung hati nurani.
 Ilmu pengetahuan dan teknologi akan benar-benar
membantu umat manusia hanya jika mereka
melestarikan 'rasa transendensi Tuhan atas manusia
dan seluruh dunia.
 Aksioma utama yang melandasi sains moderent
“Segala sesuatu harus dapat dimengerti berdasarkan
rangkaian sebab-akibat dalam sistem tertutup”.

Sistemnya dibatasi dengan apa yng dapat di indrai


secara jasmani dan menutup kemungkinan adanya
penyebab dari luar sistem atau metodologi.

 Kel. 16 sejarah Israel, Allah menyediakan makanan


istimewa manna. Semak dan serangga
 Yosua 3. Sungai Yordan (longsor).
IPTEK SEBAGAI KUASA YG
BERPERAN GANDA
a. Tidak bisa disangkali bahwa IPTEK hadir dan memberikan
sumbangan yang luar biasa bagi kehidupan manusia:
• membebaskan manusia dari kebodohan.
• ancaman penyakit.
• melipat gandakan produksi pertanian.
• memperkecil jarak dg komunikasi.
• mempermudah imformasi.
b. IPTEK juga membawa dampak kehancuran yang luar biasa:
• Pencemaran Lingkungan Hidup
• Meningkatnya Komsumsi energi secara besar2
• Mempertajam kesenjangan masyakat maju dan tadisional.
• Pada dasarnya IPTEK adalah sesuatu yang netral
secara moral, Iptek baru menjadi tidak netral apabila
diterpkan oleh pelaku Iptek menjadi berpihak.
• Pada umumnya iptek selalu memenuhi kepentingan
pihak yang lebih berkuasa. Contoh eksploitsi hutan
besar-besar, perlombaan senjata canggih dst.

2.3. Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai Sarjana


Kristen?
• Sebagai orang Kristen kita mewakili Allah di dunia
fana ini.
• Kita harus berpegang pada kebenaran Alkitab.
• Kita harus mengunakan Iptek dengan bertanggung
jawab & u/ kemajuan masyarakat.
IMAN TANGGAPAN (+) MNS ALLAH WAHYU

WAHYU ALLAH MNS ADA DLM


MEMPERKENALKAN DIRI KITAB SUCI
DAN KEHENDAKNYA
-SABDA ALLAH
IMAN KATOLIK WAHYU YESUS KRISTUS -KARYA
YESUS KRISTUS PUSAT IMAN

BERSIKAP SEPERTI YESUS

BERIMAN KATOLIK MENELADANI YESUS

BERORIENTASI PD YESUS

KESELAMATAN
BERSIKAP SPT YESUS
KEBANGKITAN YG SAMA SPT YESUS

AJARAN IMAN WAFAT & KESELAMATAN


KATOLIK KEBANGKITAN YESUS
PENGUNGKAPAN IMAN KPD
YESUS
YG DI IMANI

DOA

IBADAH

1. SAKRAMEN BAPTIS
2. SAKRAMEN KRISMA
SAKRAMEN 3. SAKRAMEN EKARISTI
SBG BENTUK 4. SAKRAMEN TOBAT
IBADAH 5. SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT
6. SAKRAMEN PERKAWINAN
7. SAKRAMEN IMAMAT
IBADAH
BERSAMA /
HARI BESAR

- HARI MINGGU
- HARI NATAL
- HARI RAYA PASKAH
- HARI JUMAT AGUNG
- HARI KAMIS PUTIH
- HARI MINGGU PALEM
- HARI RABU ABU
- KENAIKAN YESUS KE SURGA
- PANTEKOSTA
MENGASIHI ALLAH TUHANMU
DENGAN SEGENAP HATIMU
DENGAN SELURUH AKAL BUDIMU

HUKUM
CINTA KASIH

Mat 22: 37-39

KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA


SEPERTI DIRIMU SENDIRI
AJARAN YESUS
TTG KASIH

1. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi


mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44)

2. Siapapun yg menampar pipi kananmu, berilah jg kpdnya pipi kirimu


(Matius 5:39)

3. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di


sorga akan mengampuni kamu juga (Matius 6:14)

4. Dan sebagaimana kamu menghendaki supaya orang berbuat kepadamu,


perbuatlah demikian juga kepada mereka (Lukas 6:31)

5. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang amu


lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu
telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40)
1. Pribadi yg berhati mulia & arif Bijaksana

2. Pribadi yg bersahaja

3. Pribadi yg berani
SIFAT YESUS
KRISTUS 4. Pribadi yg berwibawa
(Tumpuan & pusat 5. Pribadi yg setia & taat patuh
iman pengikutnya)
6. Pribadi yg beriman

GEREJA SBG SAKRAMEN


KESELAMATAN.

a. Yesus sbg Dsr/Utama.


b. Gereja sbg Sakramen induk.
SAKRAMEN BAPTIS

1. SAKRAMEN BAPTIS

- PERTAMA & UTAMA


- EKSPLISIT BERIMAN KEPADA YESUS
- JADI MURID YESUS
- DILAHIRKAN KEMBALI SBG ANAK ALLAH
- ANGGOTA GEREJA
- DIHAPUSNYA DOSA ASAL & SEMUA DOSA YANG DIMILIKI
SAKRAMEN EKARISTI
SAKRAMEN KRISMA
SAKRAMEN TOBAT
SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT
SAKRAMEN PERKAWINAN
SAKRAMEN IMAMAT
2. SAKRAMEN EKARISTI

- INTI POKOK DOA SYUKUR AGUNG & KOMUNI


- BERSATU DG DOA GEREJA – BERSATU DG KRISTUS YG HADIR
KRN DOA YG DIMOHONKAN GRJ DLM DOA SYUKUR AGUNG
- PERJAMUAN SYUKUR & KENANGAN
- MEMBANGUN GEREJA
- UMAT DIBERI PUAN UTK KERJASAMA DGN SIAPA SAJA, GUNA
PERSAUDARAAN & YAN KPD SIAPA SJ.
3. SAKRAMEN KRISMA

- PEMENUHAN ROH KUDUS


- MENJADI ORANG KATHOLIK DEWASA
- DIUTUS UNTUK MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA
- TG JWB PENGUTUSAN

4. SAKRAMEN TOBAT

- TANDA & SARANA UNGKAPKAN IMAN ORG BERDOSA AKAN


PENGAMPUNAN ALLAH
- KRISTUS KUASA AMPUNI DOSA ( MARKUS 2:10)
- DAMAIKAN HUB DGN ALLLAH, GEREJA & MASYARAKAT
- BANGUN SIKAP RENDAH HATI
- DILAKUKAN = JELAS , LANGSUNG & PRIBADI
- ABSOLUSI
- PENITENSI
5. SAKRAMEN P’URAPAN ORG SAKIT / MINYAK SUCI

TANDA & SRN UNGKAPKAN IMAN GRJ AKAN KERAHIMAN ALLAH


YG SEMBUHKAN & SLMTKAN

BUAH :

YG SAKIT : - KEKUATAN & PENGHIBURAN


- PENGAMPUNAN DOSA
- KEKUATAN BERSERAH DIRI MSK HDP
ABADI - BILA TUHAN KEHENDAKI >
KESEMBUHAN & KESELAMATAN

UMAT YG HDR: - TUMBUH RASA SOLIDER


- SADARKAN AKAN KETERBATASAN HIDUP >
AGAR SLL BERJAGA-JAGA
- INGAT AKAN PANGGILAN DLM SENGSARA XTUS
6. SAKRAMEN IMAMAT
TANDA & SRN UNGKAPKAN IMAN GRJ YG TEMPATKAN
SESEORG PD KEPEMIMPINAN RESMI HDP BERIMAN UMAT

- MENGIKAT SEUMUR HDP


- JDKAN AGGT HIRARKI / PIMP GRJ
- AMBIL BAG DLM MARTABAT YESUS SBG GEMBALA, NABI, IMAM & YAN
- SELIBAT (MAT 19:12)
- TAAT (YOH 4: 34)
- MISKIN (MAT 8:20 & LUK 9:58)
7. SAKRAMEN PERKAWINAN

- BANGUN KELG KRISTIANI


- KEBERSAMAAN SLRH HDP SUAMI-ISTERI YG DIBANGUN ATS DSR CINTA
PERKAWINAN & DITEGUHKAN DGN JANJI P’KAWINAN
- BERSIFAT :
- TETAP & TERTUTUP
- TAK TERCERAIKAN
- MONOGAM: - TDK PUNYAI SUAMI/ISTRI LAIN
- TDK PUNYAI GUNDIK/SIMPANAN
- TDK PUNYAI HUB SEX DG ORANG LAIN

HALANGAN

- DR PERKAWINAN ITU:
- UMUR : 16 THN/PA
14 THN/PI
- IMPOTENSI (SBLM NIKAH & BSIFAT TETAP)
- IKATAN PERKAWINAN
- DR HAL AGAMA:
- AGAMA BERBEDA
- TAHBISAN SUCI
- KAUL KEPERAWANAN

- DR DOSA BERAT:
- PENCULIKAN WANITA
- PEMBUNUHAN TEMAN PERKAWINAN
- KELAYAKAN PUBLIK (PULBO)

- DR PERSAUDARAAN:
- HUB DARAH
- PERSAUDARAAN SEMENDA
- ADOPSI
KAKEK

ORTU

CUCU
ANAK

HUBUNGAN SEMENDA PERSAUDARAAN ANTARA SUAMI DENGAN


SAUDARI ISTRINYA DAN SEBALIKNYA.

SUAMI
HALANGAN KELAYAKAN PUBLIK
ISTRI

KUMPUL
KEBO

CEWEK
PENGUNGKAPAN IMAN YG DI IMANI DOA/ IBADAH

4 SEGI POKOK DLM KEHIDPN GRJ : 1. Persekutuan


(Koinonia/Comunio)

2. Ibadat (Liturgia)

3. Pewartaan & Kesaksian iman


(martyria)

4. Pengabdian & Pelayanan


(Diakonia)
LITURGI : (LEITOURGIA) = Kegiatan/ Tindakan publik

Luas: Semua btk doa/ peribadatan bersama

Arti liturgi Khusus: Ibadat Grj yg bersft resmi & publik semesta.
Artinya ibdt yg scr resmi & baku ungkapkan inti iman grj
& dilaks dimanapun, kapanpun –oleh siapapun sll dlm
ikatan kesatuan dgn atas nama umat Kath sedunia.

1. Mempersatukan( Allah dgn umat & Umat dgn


Peranan liturgi
umat dlm kasih persaudaraan)
2. Memuliakan Allah & menguduskan manusia
3. Memperteguh (iman, harapan & kasih)
a. Ibadat Liturgi & non liturgi
- Liturgi : Ibadat 7 Sakramen, Harian/Doa Ofisi
Suci, Sakramentali, Pemakaman
- NonLiturgi : Ibadat bersama, Doa’s pribadi

BENTUK/RAGAM
DOA-
b. Ibadat Penyembahan & penghormatan
PERIBADATAN

c. Doa’s menurut isi /Itensi/Ujudnya : Puji Syukur,


permohonan, persembahan& penyerahan, tobat

d. Doa’s b’dsr cr p’ungkapan : Lahiri, Batin


TAHUN LITURGI
HADIRKAN KARYA PENEBUSAN X’TUS DLM
PEREDARAN WAKTU SPANJANGTAHUN

SIKLUS PERAYAAN IMAN :

SIKLUS TEMPORAL :
a) HARI MINGGU
b) MASA NATAL
c) MASA PASKAH
d) MASA BIASA

SIKLUS SANCTORAL:
DIRAYAKAN MISTERI KESUCIAN ILAHI YG DITAMPILKAN OLEH YESUS,
SELANJUTNYA TERPANCAR DLM KEUTAMAAN HIDUP PARA SANTO/A.
MISAL : PERAYAAN HARI RAYA TRI TUNGGAL MAHA KUDUS, HARI
RAYA TUBUH DAN DARAH YESUS, HR RAYA HATI KUDUS YESUS, HR RAYA
YESUS RAJA SEMESTA ALAM, PERINGATAN SANTO/A.
PENANGGALAN LITURGI

BACAAN KITAB SUCI


- GEREJA SAJIKAN KITAB SUCI BG UMAT SEPANJANG THN LITURGI,
MELALUI P’RAYAAN EKARISTI HR MINGGU, EKARISTI HARIAN MAUPUN
IBADAT HARIAN (OFISI SUCI).
- BACAAN EKARISTI HR MG DISAJIKAN SCR B’URUTAN DLM TH A-B-C.
- BACAAN EKARISTI HARIAN DISAJIKAN DLM TH I DAN II.

WARNA LITURGI
a) PUTIH (P) : KEGEMBIRAAN, KESUCIAN.
b) MERAH (M) : PERJUANGAN,PENGORBANAN SUCI,
SEMANGAT IMAN, P’HARAPAN & KASIH.
c) UNGU (U) : PERTOBATAN DAN KEPRIHATINAN.
d) HITAM (T) : DUKA CITA DAN KETIDAK BERDAYAAN.
e) HIJAU (H) : HARAPAN, SYUKUR DAN KESUBURAN.
f) KUNING EMAS: KEMULIAAN. DIPAKAI SAMA DG PUTIH.
225

- Moral menyangkut p’buatan


Baik-buruknya manusia.
- Moral menyangkut nilai
Moral

* Subyektif
Ukuran * Obyektif

Rcn & kehendak Allah dlm tata cipta


Moral sbg
p’wujudan iman
Rcn & kehendak Allah dlm tata penyelamatan

Hkm cinta kasih

Ajaran Moral 10 perintah Allah


Katolik
5 perintah Gereja
-Nilai kehidupan
Prinsip’s Dasar -Prinsip moral

Nilai’s
Pengguguran
kehidupan
= Alasan Praktek
= Melarang
Pengguguran & KB
KB
= Menjaga kehormatan
= Prinsip Totalitas akan organ
tubuh manusia

SUARA HATI BERSIFAT MENGIKAT, PERSONAL


BERDASARKAN RASIONAL SERTA OTONOM
Mengatasi Frustasi

FUNGSI AG. Menegakkan kesusilaan & tata tertib sosial


MNRT PARA
AHLI Memberikan pencerahan
PSIKOLOGI
Mengatasi rasa takut thdp kefanaan

* Kenabian
FUNGSI AG.
* Imamat
KATOLIK
* Pengabdian

Dlm Kehidupan Pribadi


= Menanamkan & menumbuh suburkan keimanan &
ketaqwaan
= Bentuk sikap & Perilaku yg baik
PERANAN AG. = Doa & peribadatan
= Memberi motivasi & Kekuatan
KATOLIK
Dlm Kehidupan Sosial / Kemasyarakatan
= Menumbuhkan sikap persaudaraan sejati
= Menumbuhkan motivasi dlm kat kesejahteraan
1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kpd-Ku sj
& cintailah Aku dari sglnya

2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dgn tdk hormat

3. Kuduskanlah hari Tuhan


10 Perintah
Allah 4. Hormatilah ibu - bapamu

5. Jangan membunuh

6. Jangan berzinah

7. Jangan mencuri

8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu

9. Jangan mengingini isteri sesamamu

10. Jangan mengingini milik sesamamu mns scr tdk adil


1. Rayakan hr raya yg disamakan dgn hr Minggu

2. Ikutlah Perayaan Ekaristi pd hr Minggu & hr raya yg


Diwjbkan & jgn lakukan pekerjaan yg dilarang pd hr itu
5 Perintah
3. Berpuasalah & berpantanglah pd hr Raya yg ditentukan
Gereja
4. Mengaku dosalah sekurang-kurangnya 1 X setahun

5. Sambutlah Tubuh Tuhan (Hosti suci Sakramen Maha


Kds) pada masa Paskah.
Katolik berarti umum atau universal. Artinya siapa
pun, dari golongan, suku, bangsa, bahasa, dan
sebagainya bahkan dari agama apa pun bisa
menjadi anggota Gereja Katolik. Artinya Katolik
bukan hanya untuk masyarakat kelompok tertentu
saja.
Gereja Katolik

 Protestan
 Berada dalam satu pimpinan  Mempunyai denominasi yang
yaitu Paus yang berkedudukan
di Vatikan. Paus ini merupakan berbeda-beda/aliran yang
penerus dari paus pertama banyak sekali dan setiap
yakni Rasul Petrus denominasi memliki kebijakan
 Kitab Suci: 73 Kitab masing-masing.
 Sumber Ajaran: Kitab Suci,
Tradisi, Ajaran Gereja (SOLA  Kitab Suci: 66 Kitab
SCRIPTURA)  Sumber Ajaran: hanya Al Kitab
 Mengakui adanya orang  Tidak mengakui adanya orang
kudus/santo-santa dan kudus.
malaikat.
 Doa menggunakan tanda salib  Doa tidak menggunakan tanda
di dahi, perut, bahu. salib.
 Keselamatan merupakan
 Percaya dengan Rahmat Allah
predestinasi atau takdir. Usaha
dan usaha manusia.(sola gratia) manusia tidak berarti apa pun.
Hanya dengan iman orang bisa
selamat. Perbuatan baik tidak
bisa membuat orang selamat.
 Percaya dengan doa untuk  Tidak berguna mendoakan
orang yang sudah meninggal. orang yang sudah mati.
 Pimpinan Gereja (Pastor) tidak
menikah.  Pimpinan Gereja (Pendeta)
 Liturgi/tata peribadatan di bisa menikah.
seluruh dunia sama.
 Tata peribadatan

 berbeda-beda untuk setiap


gereja/denominasi.
 SIFAT GEREJA  Tidak mempunyai ke khasan
>kudus.katolik, apostolik sifat Gereja
 Mempunyai 7
sakramen  2 sakramen
Ada devosi kpd bunda
Maria  Tidak ada devosi kpd bunda
Hukum Gereja yg berlaku Maria
seluruh dunia  Mempunyai hukum sendiri
 Menerima patung sbg sarana  Patung dianggap sbg bentuk
menghadirkan dan penyembahan berhala
mendekatkan kpd Allah  masing-masing gereja punya
Mempunyai kehidupan liturgi liturgi sendiri
yang sama
bacaan, warna liturgi
Mempunyai ajaran resmi  Masing gereja punya ajaran
-sangat berhati-hati thd resmi
perubahan utk mnjaga  Mudah berubah
keaslian ajaran