Anda di halaman 1dari 32

Tutorial

Gizi Buruk

JOKO TRI SUTRISNO FERNANDO MAROMON


1710029081

PEMBIMBING
D R . A H M A D W I S N U WA R D H A N A , S P. A

SMF & LABORATORIUM ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN
Bab I
Latar Belakang

 Gizi berperan dalam berbagai kurun usia dalam daur kehidupan. Peranan ini meliputi dalam
pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak dan kecerdasan, produktivitas kerja serta daya tahan
terhadap infeksi.

 Gizi Buruk merupakan salah satu masalah gizi utama di negara berkembang seperti di
Indonesia. Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG), bayi usia di bawah lima tahun (Balita)
yang mengalami masalah gizi pada 2017 mencapai 17,8%, sama dengan tahun sebelumnya.
Jumlah tersebut terdiri dari Balita yang mengalami gizi buruk 3,8% dan 14% gizi kurang
Latar Belakang
Bab III
Tinjauan Pustaka

 Gizi buruk (severe malnutrition) adalah keadaan


kurang gizi pada anak yang disebabkan oleh kurangnya
asupan energi dan protein. Balita usia 6-59 bulan
merupaka golongan yang rentan terhadap masalah
kesehatan dan gizi, diantaranya adalah masalah
malnutrisi energi protein (MEP) (Kemenkes,2013).
Klasifikasi
Berdasarkan Baku Klasifikasi Menurut
Median WHO-NCHS Departemen Kesehatan RI
Klasifikasi KEP BB/U BB/TB BB/TB TB/U

(berat (tinggi
Ringan 70-80% 80-90% menurut menurut
tinggi) umur)
Sedang 60-70% 70-80%
Mild 80 – 90 % 90 – 94%

Berat <60% <70% Moderate 70 – 79 % 85 – 89 %

Severe < 70 % <85 %


Gejala klinis / laboratoris Angka

Edema 3 Klasifikasi Menurut


Dermatosis 2 McLaren (1967)
Edema disertai dermatosis 6

Perubahan pada rambut 1

Hepatomegali 1

Albumin serum atau protein total serum/g %

<1,00 <3,25 7

1,00-1,49 3,25-3,99 6

1,50-1,99 4,00-4,74 5

2,00-2,49 4,75-5,49 4

2,50-2,99 5,50-6,24 3

3,00-3,49 6,25-6,99 2

3,50-3,99 7,00-7,74 1

>4,00 >7,75 0
Klasifikasi Menurut Waterlow (1973)

Gangguan Stunting Wasting(B Kategori BB/U (% baku)


Derajat (BB/U) B/TB)
KEP I 90 – 80
0 >95% >90%
KEP II 80 – 70
1 95-90% 90-80%
KEP III 70 – 60
2 89-85% 80-70%
3 <85% <70% KEP IV <60
Etiologi
 Pola makan
 Faktor sosial
 Faktor ekonomi
 Faktor infeksi dan penyakit lain
Patogenesis
 Respon Metabolik Terhadap Pemasukan Energi Inadekuat
 Adaptasi Terhadap Penurunan Pemasukan Protein
 Perubahan Elektrolit
 Interaksi dengan Infeksi
 Sitokin
 Protein Fase Akut
Manifestasi Klinis
Diagnosis
 Anamnesis:
Keluhan yang sering ditemukan adalah
pertumbuhan yang kurang, anak kurus, atau berat
badannya kurang. Selain itu ada keluhan anak
kurang/ tidak mau makan, sering menderita sakit
yang berulang atau timbulnya bengkak pada kedua
kaki, kadang sampai seluruh tubuh (IDAI, 2010).
Pemeriksaan Fisik
Kwashiorkor
Marasmus
Penentuan status gizi dapat ditentukan secara klinis dan antropometri:

Antropometri
Status gizi Klinis
(BB/TB-PB)

Tampak sangat kurus


dan atau edema pada
Gizi buruk < -3 SD
kedua punggung kaki
sampai seluruh tubuh.

Gizi kurang Tampak kurus -3 SD - < -2 SD

Gizi baik Tampak sehat -2 SD – 2SD

Gizi lebih Tampak gemuk >2 SD


Pemeriksaan penunjang
Penemuan hasil laboratorium sebagai berikut :
 Konsentrasi Albumin rendah
 Hemoglobin dan hematokrit biasanya rendah
 Rasio asam amino nonesensial dan esensial plasma meningkat
pada kwashiorkor dan biasanya normal pada marasmus.
 Level Free Fatty Acid (FFA) serum meningkat, terutama pada
kwashiorkor.
 Level glukosa darah normal atau rendah setelah puasa 6 atau
lebih.
 Eksresi urin kreatinin, hidroksiprolin, 3-metil histidin, dan urea
nitrogen rendah.
Penatalaksanaan
Sepuluh Langkah Utama Pada Tata Laksana Kep
Berat/Gizi Buruk

1. Pengobatan atau pencegahan


hipoglikemia
 Anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah.
 Jika anak sadar, makan(+) usahakan
memberikan makanan saring/cair 2-3 jam
sekali.
 Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih
dapat minum) berikan air gula dengan sendok
 Jika anak mengalami gangguan
kesadssssssssssssaran, berikan infus cairan
glukosa dan segera rujuk ke rumah sakit
2. Pengobatan dan pencegahan hipotermia
 Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang
rendah dibawah 360 C. Pada keadaan ini anak
harus dihangatkan.
 Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang
dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu
ditutupi selimut (Metode Kanguru).
 Cara lain adalah dengan membungkus anak
dengan selimut tebal, dan meletakkan lampu
didekatnya.
3. Pengobatan dan Pencegahan kekurangan
cairan
 Teruskan ASI
 Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan
rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml
(3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok.
Cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut
ReSoMal.
 Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP
berat/Gizi buruk dapat menggunakan oralit yang
diencerkan 2 kali. Jika anak tidak dapat minum,
lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan
Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan
perbandingan 1:1.
Pembuatan resomal
4. Lakukan pemulihan gangguan
keseimbangan elektrolit
 Makanan tanpa diberi garam/rendah garam
 Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang
diencerkan 2 X (dengan penambahan 1 liter air)
ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita
KEP bisa makan berikan bahan makanan yang
banyak mengandung mineral (Zn, Cuprum,
Mangan, Magnesium, Kalium) dalam bentuk
makanan lumat/lunak.
 Contoh bahan makanan sumber mineral
 Sumber Zink : daging sapi, hati, makanan
laut, kacang tanah, telur
ayam
 Sumber Cuprum : daging, hati.
 Sumber Mangan : beras, kacang tanah,
kedelai.
 Sumber Magnesium : kacang-kacangan, bayam.
 Sumber Kalium : jus tomat, pisang, kacang,
apel, alpukat, bayam, daging tanpa lemak.
5. Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi
AMOKSISILI
KOTRIMOKSASOL N
(Trimetoprim + Sulfametoksazol) Beri 3 kali
Beri 2 kali sehari selama 5 hari sehari untuk 5
UMUR
hari
ATAU
Tablet dewasa Tablet Anak
BERAT Sirup/5ml
80 mg 20 mg
BADAN 40 mg Sirup
trimetoprim + trimetoprim +
trimetoprim + 125 mg
400mg 100mg
200 mg per 5 ml
sulfametoksaz sulfametoksaz
sulfametoksazol
ol ol
2 sampai 4 bulan
(4 - < 6 kg) ¼ 1 2,5 ml 2,5 ml
4 sampai 12
bulan
½ 2 5 ml 5 ml
(6 - < 10 Kg)
12 bln s/d 5 thn
6. Pemberian makanan balita Gizi buruk
 Pemberian diet Gizi buruk dibagi dalam 3 fase,
yaitu :
 Fase Stabilisasi, Fase Transisi, Fase Rehabilitasi
7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita
(catch- up growth)
 Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan
fase rehabilitasi :
8. Lakukan penanggulangan kekurangan
zat gizi mikro
- Walaupun anemia biasa terjadi, jangan tergesa-
gesa memberikan preparat besi (Fe).
- Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat
memperburuk keadaan infeksinya.

Berikan setiap hari :


 Tambahan multivitamin lain, vitamin A (dosis
sesuai usia, yaitu <6 bulan: 50.000 SI, 6-12 bulan:
100.000 SI, >1 tahun: 200.000 SI) pada awal
perawatan dan hari ke-15 atau sebelum pulang.
 Khusus asam folat hari pertama 5 mg, selanjutnya
1 mg per hari.
9. Berikan stimulasi sensorik dan
dukungan emosional
 berikan :
- Kasih sayang
- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan
- Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 – 30
menit/hari
- Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh
- Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan,
memandikan, bermain dsb)
10. Persiapan untuk tindak lanjut di rumah
 - Bila berat badan anak sudah berada di garis
warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan
dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau
bidan di desa.
 - Rawat jalan terdiri dari pemberian konseling,
pemberian paket obat dan makanan, dan
kunjungan rumah
 Kriteria Pasien dipulangkan :
- Edema sudah berkurang atau hilang, anak
sadar dan aktif.
- BB/PB atau BB/TB > -3 SD.
- Komplikasi sudah teratasi .
- Ibu telah mendapat konseling gizi.
- Ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu
selama 2 minggu berturut-turut.
- Selera makan sudah baik, makanan yang
diberikan dapat dihabiskan.