Anda di halaman 1dari 16

KONSTRUKSI PELAPISAN TAMBAHAN (OVERLAY)

 Prinsip dasar dari desain pelapisan tambahan (overlay) pada struktur perkerasan
lentur menurut Metoda Analisa Komponen adalah bahwa diakhir masa layannya
struktur perkerasan perlu diperkuat dengan memperbesar ITP, sehingga mampu
memikul perkiraan beban lalu lintas tambahan yang diinginkan.
 Nilai ITP yang dimaksud diperoleh dari sisa nilai ITP struktur perkerasan lama
ditambah dengan nilai ITP tambahan dari lapis tambahan yang diberikan.
 Dengan demikian ada 2 langkah yang perlu dilakukan dalam proses perencanaan
lapis tambahan, yaitu :
1. Menentukan nilai kondisi struktur perkerasan lama untuk mendapatkan nilai ITP
sisa, yaitu dapat dihitung dengan rumus :
ITPsisa = Σ (ai Di Ki)
dimana : Ki = nilai kondisi lapisan yang dinilai secara subjektif (Daftar IX)
2. Menghitung tebal lapis tambahan berdasarkan nilai ITP tambahan yang diperlukan,
yang dihitung sesuai dengan perkiraan beban lalu lintas yang akan datang setelah
dikurangi dengan nilai ITPsisa, dengan rumus :

ITPperlu  ITPsisa
Do  ………….. (1)
a0
KONSTRUKSI PELAPISAN TAMBAHAN (OVERLAY)
 ITPperlu dihitung berdasarkan beban lalu lintas untuk masa layan berikutnya.
 Perhitungan ITPperlu ini sama dengan layaknya menghitung ITP untuk
pembangunan perkerasan baru.
 Pada perhitungan ini perlu juga diperhitungkan kondisi tanah dasar, faktor regional
indeks permukaan perkerasan awal dan akhir, dan sebagainya untuk kondisi masa
layan berikutnya.
 Nilai ITPsisa dapat bernilai nol yang artinya tidak memiliki sisa sama sekali.
Penambahan lapis tambahan dengan kondisi ini tidak disarankan karena tebal lapis
permukaan tambahan yang diberikan akan sangat tebal sehingga kurang ekonomis.
 Jika tidak ada ITPsisa maka disarankan untuk melakukan perencanaan ulang dan
jika perlu dengan pembangunan konstruksi baru.
 Alternatif lain adalah dengan membagi jenis lapisan sehingga persamaan (1) dapat
diubah menjadi :
ITPperlu  ITPsisa  a1 D1  a2 D2 ……….. (2)

Dimana untuk D1 dapat menggunakan lapis permukaan yang umum digunakan


seperti pada Do dan untuk D2 menggunakan ATBL (Asphalt Treatment Base Layer)
KONSTRUKSI PELAPISAN TAMBAHAN (OVERLAY)
 Contoh Soal Pelapisan Tambahan (Overlay)

 Rencanaklan lapis tambahan jalan lama 2 jalur, dengan data lalu lintas seperti
dibawah ini :
~ Kendaraan ringan 2000 kend/hari
~ Bus 8 ton 600 kend/hari
~ Truk 2 as 13 ton 100 kend/hari
~ Truk 3 as 20 ton 60 kend/hari
~ Truk 5 as 30 ton 20 kend/hari
 Umur rencana 5 tahun, susunan perkerasan jalan lama Laston (MS 744) = 10,5 cm;
LPA dari batu pecah (CBR 100) = 20 cm; LPB Sirtu (CBR 50) = 10 cm.
 Hasil penilaian kondisi jalan menunjukkan bahwa pada lapis permukaan Laston
terlihat retak sedang, beberapa deformasi pada jalur roda (kondisi 60%), Lapis
Pondasi Atas sebagian mulai rusak (kondisi 50 %) akibat jumlah lalu lintas melebihi
perkiraan semula, FR = 1,0, pertumbuhan kendaraan pertahun adalah 8%. CBR
tanah dasar 3,4%.
KONSTRUKSI PELAPISAN TAMBAHAN (OVERLAY)
Penyelesaian :
• LHR pada akhir tahun ke 5 dengan rumus : LHR5(1+ 8%)5 :
Kendaraan ringan 2 ton (1+1) = 2000(1+0,08)5 = 2.938,6 kend/hari
Bus 8 ton (3 + 5) 881,6 kend/hari
Truk 2 as 13 ton (5 + 8) 146,9 kend/hari
Truk 3 as 20 ton (6 + 14) 88,2 kend/hari
Truk 5 as 30 ton (2.5 + 6 + 14) 29,4 kend/hari

• Menghitung angka Ekivalen (E) masing-masing kendaraan sbb : (Daftar III)


Kendaraan ringan 2 ton (1+1) 0,0002 + 0,0002 = 0,0004
Bus 8 ton (3 + 5) 0,0183 + 0,1410 = 0,1593
Truk 2 as 13 ton (5 + 8) 0,1410 + 0,9238 = 1.0648
Truk 3 as 20 ton (6 +14G) 0,2923 + 0,7452 = 1,0375
Truk 5 as 30 ton ( 2x5 + 6+14G) 2(0,1410) + 1.0375 = 1,3195

• Menghitung Lintas Ekivalen Permulaan : LEP = Σ LHR x C x E


Kendaraan ringan 2 ton (1+1) = 2000 x 0,5 x 0,0004 = 0,400
Bus 8 ton (3 + 5) = 600 x 0,5 x 0,1593 = 47,790
Truk 2 as 13 ton (5 + 8) = 100 x 0,5 x 1,0648 = 53,240
Truk 3 as 20 ton (6 + 14) = 60 x 0,5 x 1,0375 = 31,125
Truk 5 as 30 ton (2.5 + 6 + 14) = 20 x 0,5 x 1,3195 = 13,195
LEP = 145,749
KONSTRUKSI PELAPISAN TAMBAHAN (OVERLAY)
• Menghitung Lintas Ekivalen Akhir : LEA = Σ LHR(1+i)n x C x E
Kendaraan ringan 2 ton (1+1) = 2938,6 x 0,5 x 0,0004 = 0,588
Bus 8 ton (3 + 5) = 881,6 x 0,5 x 0,1593 = 70,219
Truk 2 as 13 ton (5 + 8) = 146,9 x 0,5 x 1,0648 = 78,210
Truk 3 as 20 ton (6 + 14) = 88,2 x 0,5 x 1,0375 = 45,754
Truk 5 as 30 ton (2.5 + 6 + 14) = 29,4 x 0,5 x 1,3195 = 19,395
LEA 5 = 214,166
• Menghitung Lintas EkivalenTengah : LET = ½ (LEP + LEA)
LET = ½ (145,749 + 214,166) = 179,9575 ~ 180
• Menghitung Lintas Ekivalen Rencana : LER = LET x UR/10
LER = 180 x 5/10 = 90
• Menghitung ITP :
CBR 3,4% didapat DDT 4 Diasumsikan IPt = 2,0 (Daftar V) dan untuk Laston
IPo = 3,9 – 3,5 (Daftar VI) dan FR = 1,0
Dengan menggunakan Nomogram Lampiran I (4) diperoleh ITP5 = 7,5
• Menetapkan Tebal Lapis Tambahan ::
Kekuatan jalan lama :
Laston (MS 744) a1 = 0,40; tebal 10,5 cm ------- = 60% x 0,40 x 10,5 = 2,5
LPA (CBR 100) a2 = 0,14; tebal 20 cm -------- = 50% x 0,14 x 20,0 = 1,4
LPB (CBR 50) a3 = 0,12; tebal 10 cm --------- = 100% x 0,12 x 10,0 = 1,2
ITP ada = 5,1
KONSTRUKSI PELAPISAN TAMBAHAN (OVERLAY)

• Δ ITP = ITP5 – ITPada


Δ ITP = 7,5 – 5,1 = 2,4

Δ ITP = a0 D0
2,4 = 0,40 D0 --- D0 = 6,0 cm

Lapis Tambahan

Laston (Ms 744) = 6,0 cm

Laston (Ms 744) = 10,5 cm

Batu Pecah CBR 100 = 20 cm

Sirtu CBR 50 = 10 cm

Tanah Dasar CBR 3,4 %


KONSTRUKSI BERTAHAP
• Konstruksi bertahap adalah konstruksi perkerasan lentur yang terdiri dari 1(lapis)
pondasi bawah, 1 (satu) lapis pondasi dan 2 (dua) lapis permukaan.
• Dimana kedua lapis permukaan tersebut dibuat dari bahan aspal beton atau
sejenisnya yang dikerjakan secara berurutan dengan selang waktu tertentu
menurut ketetapan yang ditentukan dalam proses desain.

Lapis Permukaan Laston Tahap II D12


Lapis Permukaan Laston Tahap I D11

Lapis Pondasi D2

Lapis Pondasi Bawah D3

Lapis Tanah Dasar

• Perlu dijelaskan disini, bahwa pada saat pekerjaan lapis permukaan tahap II
(sebagai lapisan tambahan), kondisi struktur perkerasan tahap I masih stabil.
• Berbeda dengan peningkatan jalan, karena pada pekerjaan peningkatan jalan,
diakhir masa layan struktur perkerasan lama telah mencapai kondisi kritis/runtuh.
KONSTRUKSI BERTAHAP
 Konstruksi bertahap digunakan pada keadaan tertentu, antara lain :
1. Keterbatasan biaya untuk pembuatan tebal perkerasan sesuai rencana
(misalnya : 20 tahun). Perkerasan dapat direncanakan dalam 2 tahap, misalnya
tahap ke 1 untuk 5 tahun, dan tahap berikutnya untuk 15 tahun.
2. Kesulitan dalam memperkirakan perkembangan lalu lintas untuk jangka panjang,
sehingga dengan adanya pentahapan, perkiraan lalu lintas diharapkan tidak jauh
meleset.
 Manfaat desain konstruksi bertahap antara lain :
1. Memungkinkan peningkatan kondisi perkerasan dengan memperbaiki kelemahan
setempat yang dijumpai pada konstrukai tahap ke 1.
2. Jika terdapat kesalahan perencanaan atau konstruksi, maka koreksi masih dapat
dilakukan dengan biaya yang lebih murah.
 Kerugian konstruksi bertahap antara lain :
1. Dapat memberikan kesan bahwa jalan yang masih baik sudah dilapisi kembali,
karena konstruksi perkerasan tahap II diberikan pada saat struktur perkerasan
tahap I masih dalam kondisi yang baik.
2. Pembangunan konstruksi tahap II memberi dua kali gangguan lalu lintas,
disamping itu beberapa utilitas jalan yang sudah dibangun di tahap ke 1 harus
dibangun kembali setelah tahap ke 2, seperti marka, rambu dan fasilitas drainase.
METODA KONSTRUKSI BERTAHAP
• Desain konstruksi bertahap sebenarnya didasarkan pada pendekatan teori unit
kerusakan, yaitu bahwa setiap kendaraan yang lewat akan menyebabkan
derajat kerusakan tertentu.
• Jika total nilai derajat kerusakan = 100%, maka struktur perkerasan dapat
dikatakan telah mencapai masa layannya (Umur Rencana telah tercapai).
• Ketentuan dasar desain konstruksi bertahap menurut Metoda Analisa Komponen
adalah bahwa periode desain tahap I harus ditetapkan tidak boleh lebih besar
dari pada 50 % total masa layan.
• Sehingga beban lalu lintas yang dipikul oleh struktur perkerasan pada tahap I
adalah LER1 (LER selama periode 25% - 50 % dari masa layan) dan Tahap II
adalah LER2 (LER selama periode 75% - 100% dari masa layan). Misalnya UR =
20 tahun, maka tahap I antara (5 -10) tahun dan tahap II antara (10 -15) tahun.
• Perumusan konsep konstruksi bertahap diuraikan sebagai berikut :
1. Jika pada akhir tahap I tidak ada sisa umur (umur rencana telah tercapai, misalnya
timbul retak), maka tebal perkerasan Tahap I didapat dengan memasukkan data
lalu lintas sebesar LER1.

2. Jika pada akhir tahap I diinginkan adanya sisa umur 40%, maka perkerasan
tahap I perlu dipertebal dengan memasukkan data lalu lintas sebesar x LER1.
METODA KONSTRUKSI BERTAHAP
• Dengan anggapan sisa umur linier dengan sisa lalu lintas, maka :
(tahap I plus) = (tahap I) + (sisa tahap I)
X LER1 = LER1 + 40% X LER1
60% X LER1 = LER1
X = 1,67
• Jadi nilai ITP untuk konstruksi tahap I (ITP1) dapat dihitung berdasarkan beban
lalu lintas sebesar 1,67 LER1
• Jika pada akhir tahap I tidak ada sisa umur maka tebal perkerasan tahap II
didapat dengan memasukkan data lalu lintas sebesar LER2.
• Konstruksi Tahap I, tanpa pemberian konstruksi tahap II akan mampu melayani
60% dari total masa layan, yaitu sebesar 60% Y LER2.
• Tebal perkerasan tahap I + II didapat dengan memasukkan data lalu lintas
sebesar Y LER2.
• karena 60% Y LER2 sudah dipakai pada tahap I, sehingga :
(tahap I + II) = (tahap I) + (tahap II)
Y LER2 = LER1 + LER2
Y LER2 = 60% Y LER2 + LER2
40% Y LER2 = LER2
Y = 2,5
METODA KONSTRUKSI BERTAHAP
• Nilai ITPtotal yang diperlukan untuk memikul beban lalu lintas selama masa layan
dapat dihitung berdasarkan beban lalu lintas sebesar 2,5 LER2
• Tebal perkeraan tahap II diperoleh dengan mengurangkan tebal perkerasa total
dengan tebal perkerasdan tahap I.
• Dengan demikian nilai ITP untuk konstruksi tahap II adalah :
ITP2 = ITPtotal – ITP1
ITPtotal didapat dari nomogram atau Rumus dengan LER = 2,5 LER2
ITP1 didapat dari nomogram atau Rumus dengan LER = 1,67 LER1
• Struktur perkerasan tahap I dapat di desain dengan memaksimalkan tebal lapis
permukaan, atau memaksimalkan lapis pondasi, atau memaksimalkan lapis
pondasi bawah sebagaimana telah dibahas pada materi sebelumnya.
• Tebal lapis tambahan sebagai pekerjaan tahap II dapat dihitung dengan rumus :

ITP2 Dimana :
D0  D0 = Tebal lapisan tambahan
a0 a0 = koefisen kekuatan relatif
Contoh : Perencanaan KONSTRUKSI BERTAHAP
• Rencanakan tebal perkerasan untuk 2 lajur dengan konstruksi bertahap, yaitu
pada tahap I sampai berumur 5 tahun dan tahap berikutnya untuk 15 tahun,
dengan data-data sebagai berikut :

• Jalan dibuka pada tahun 2007, tingkat pertumbuhan lalu lintas sebesar 5 %
pertahun
• CBR tanah dasar = 3,4%, FR = 1,0
• Jenis konstruksi terdiri dari :
– Lapis permukaan Asbuton (MS 590) a1 = 0,35
– Lapis Pondasi Batu pecah (CBR 100) a2 = 0,14
– Lapis Pondasi Bawah Sirtu (CBR 50) a3 = 0,12

• Data lalu lintas pada tahun 2003 terdiri dari :


Kendaraan ringan 2 ton 1.000 kendaraan
Bus 8 ton 300 Kendaraan
Truk 2 as 13 ton 50 kendaraan
Truk 3 as 20 ton 30 kendaraan
Truk 5 as 30 ton 10 kendaraan
Solusi : Perencanaan KONSTRUKSI BERTAHAP
• Perkiraan lalu lintas pada saat jalan dibuka tahun 2007 terdiri dari : LHR (1+i)n
Kendaraan ringan 2 ton = 1000 (1+5%)4 = 1.216 kendaraan
Bus 8 ton = 300 (1+5%)4 = 365 Kendaraan
Truk 2 as 13 ton = 50 (1+5%)4 = 61 kendaraan
Truk 3 as 20 ton = 30 (1+5%)4 = 37 kendaraan
Truk 5 as 30 ton = 10 (1+5%)4 = 13 kendaraan
• Perkiraan lalu lintas pada akhir tahap I (5 tahun) terdiri dari : LHR (1+i)n
Kendaraan ringan 2 ton = 1000 (1+5%)9 = 1.551 kendaraan
Bus 8 ton = 300 (1+5%)9 = 466 Kendaraan
Truk 2 as 13 ton = 50 (1+5%)9 = 78 kendaraan
Truk 3 as 20 ton = 30 (1+5%)9 = 47 kendaraan
Truk 5 as 30 ton = 10 (1+5%)9 = 16 kendaraan

• Perkiraan lalu lintas pada akhir tahap II (20 tahun) terdiri dari : LHR (1+i)n
Kendaraan ringan 2 ton = 1000 (1+5%)24 = 3.225 kendaraan
Bus 8 ton = 300 (1+5%)24 = 968 Kendaraan
Truk 2 as 13 ton = 50 (1+5%)24 = 162 kendaraan
Truk 3 as 20 ton = 30 (1+5%)24 = 97 kendaraan
Truk 5 as 30 ton = 10 (1+5%)24 = 33 kendaraan
• Menghitung angka Ekivalen (E) masing-masing kendaraan sbb : (Daftar III)
Kendaraan ringan 2 ton (1+1) 0,0002 + 0,0002 = 0,0004
Bus 8 ton (3 + 5) 0.0183 + 0,1410 = 0,1593
Truk 2 as 13 ton (5 + 8) 0,1410 + 0,9238 = 1.0648
Truk 3 as 20 ton (6 +14G) 0,2923 + 0,7452 = 1,0375
Truk 5 as 30 ton ( 2.5 + 6+14G) 2(0,1410) + 1.0375 = 1,3195

• Menghitung Lintas Ekivalen Permulaan : LEP = Σ LHR4 x C x E (th 2007)


• Kendaraan ringan 2 ton (1+1) = 1216 x 0,5 x 0,0004 = 0,24
• Bus 8 ton (3 + 5) = 365 x 0,5 x 0,1593 = 29,07
• Truk 2 as 13 ton (5 + 8) = 61 x 0,5 x 1,0648 = 32,48
• Truk 3 as 20 ton (6 + 14) = 37 x 0,5 x 1,0375 = 19,19
• Truk 5 as 30 ton (2.5 + 6 + 14) = 13 x 0,5 x 1,3195 = 8,58
• LEP = 89,56
• Menghitung Lintas Ekivalen Akhir tahap I : LEA = Σ LHR9 x C x E (akhir th ke 5)
• Kendaraan ringan 2 ton (1+1) = 1551 x 0,5 x 0,0004 = 0,31
• Bus 8 ton (3 + 5) = 466 x 0,5 x 0,1593 = 37,11
• Truk 2 as 13 ton (5 + 8) = 78 x 0,5 x 1,0648 = 41,53
• Truk 3 as 20 ton (6 + 14) = 47 x 0,5 x 1,0375 = 24,38
• Truk 5 as 30 ton (2.5 + 6 + 14) = 16 x 0,5 x 1,3195 = 10,56
• LEA 5 =113,89
• Menghitung Lintas Ekivalen Akhir tahap II : LEA = Σ LHR24 x C x E
• Kendaraan ringan 2 ton (1+1) = 3225 x 0,5 x 0,0004 = 0,65
• Bus 8 ton (3 + 5) = 968 x 0,5 x 0,1593 = 77,10
• Truk 2 as 13 ton (5 + 8) = 162 x 0,5 x 1,0648 = 86,25
• Truk 3 as 20 ton (6 + 14) = 97 x 0,5 x 1,0375 = 50,32
• Truk 5 as 30 ton (2.5 + 6 + 14) = 33 x 0,5 x 1,3195 = 21,65
LEA20 =235,97
• Menghitung Lintas EkivalenTengah : LET = ½ (LEP + LEA)
• LET5 = ½(LEP + LEA5) = ½ (89,56+ 113,89) = 101,725 ~ 102
• LET20 = ½(LEA5 + LEA20) = ½ (113,89 + 235,97) = 174,9 ~ 175
• Menghitung Lintas Ekivalen Rencana : LER = LET x UR/10
• LER5 = LET5 x UR I /10 = 102 x 5/10 = 51  1,67 LER5 = 85
• LER20 = LET20 x UR II /10 = 175 x 15/10 = 263  2,5 LER20 = 658
• Menghitung ITP :
• CBR 3,4% didapat DDT 4 Diasumsikan IPt = 2,0 (Daftar V) dan untuk Laston
• IPo = 3,9 – 3,5 (Daftar VI) dan FR = 1,0
Dengan menggunakan Nomogram Lampiran I (4) diperoleh :
– untuk 1,67 LER5 = 85 didapat ITP5 = 7,0
– Untuk 2,5 LER20 = 658 didapat ITP5+15 = 9,7

• Menetapkan Tebal Lapis Perkerasan :


Konstruksi Tahap I : Konstruksi Tahap II :
ITP5 = a1 D1 + a2 D2 + a3 D3 ITP5+15 - ITP5 = a0 D0
7,0 = 0,35 D1 + 0,14 x 20 + 0,12 x 10 9,7 -7,0 = 0,35 D0
3,0 = 0,35 D1  D1 = 8,57 ~ 9 cm D0 = 2,7/0,35 = 7,7 cm ~ 8 cm
Laston Tahap II (Ms 590) = 8 cm

Laston Tahap I (Ms 590) = 9 cm

Batu Pecah CBR 100 = 20 cm

Sirtu CBR 50 = 10 cm

Tanah Dasar CBR 3,4 %