Anda di halaman 1dari 64

Terapi elektro b

By YENRI ERNIDA S.FT


Electrotherapy, atau terapi listrik merupakan terapi
dengan menggunakan listrik arus rendah.
Arus listrik terjadi karena adanya arus elektron yang
melewati konduktor.
Jumlah arus yang melewati suatu konduktor dihitung
dalam ampere.
Sedangkan hambatan yang dialami oleh arus diukur
dalam satuan ohms (Ω) dan tegangan yang terjadi
dalam satuan volt
. Arus listrik tersebut pada intensitas dan
durasi yang memadai dapat meningkatkan kerja syaraf dalam
merangsang jaringan yang dipersarafi.
Tiga jenis syaraf secara fisiologis dibedakan menjadi : sensoris,
motoris dan
persepsi nyeri.
Listrik arus rendah dapat mengurangi nyeri dengan memblokir
saraf sensorik.
Arus listrik rendah ini juga dapat menstimulasi saraf motorik
karena impuls elektrik ini menyerupai impuls saraf otak untuk
menstimulasi gerakan otot.
Oleh karenanya terapi ini dapat digunakan untuk memperbaiki
kelemahan otot.
Mekanisme terapi listrik dalam
mengurangi nyeri antara lain adalah
lewat menghambat transmisi nyeri ke
otak (gate control theory) dan teori
kedua adalah lewat pengeluaran
endorphins (suatu hormon dalam
otak yang menurunkan kepekaan
terhadap nyeri dan mempengaruhi
emosi).
Alat electrotherapy menggunakan tiga jenis arus ketika
diaplikasikan pada tubuh mampu mempengaruhi tubuh
secara spesifik yakni jenis AC, DC dan gelombang(pulsed).
Arus DC (Direct Current) atau galvanik bergerak searah dari
kutup positif ke kutup negatif.
Arus ini dapat digunakan untuk memodulasi nyeri dan gerakan
otot.
Sebagian besar alat electrotherapy menggunakan jenis arus
Current) terjadi secara bolak balik.
Arus pulsed merupakan arus yang tidak kontinyu,
Arus pulsed disebut juga arus interferential.
Parameter arus yang dapat digunakan pada electrotherapy
antara lain:
a. Bentuk gelombang (Waveform) pada Electrotherapy
Waveform merupakan presentasi graphis bentuk, arah,
amplitudo, dan jenis arus.
Baik arus AC maupun DC dapat membentuk sinus, square
dan triangular.
b. Modulasi pada Electrotherapy
Modulasi merupakan kemampuan untuk mengubah durasi
dari gelombang listrik.
Modulasi dapat bersifat kontinyu, interupted atau surged baik
pada arus AC maupun DC.
Intensitas Arus pada Electrotherapy

Intensitas merujuk pada tegangan voltase pada alat


electrotherapy.
Generator yang menghasilkan 0-150 Volt disebut
sebagai generator tegangan rendah sedangkan
generator yang dapat
memproduksi sampai dengan 500 Volt disebut sebagai
generator tegangan tinggi.
Generator tegangan rendah umumnya memiliki jenis
arus DC
sedangkan generator tegangan tinggi berupa arus AC
dan DC.
Peralatan electrotherapy yang dipergunakan untuk
mengatasi gangguan cedera olahraga adalah jenis
arus DC tegangan tinggi.
d. Durasi, Frekuensi dan Polaritas pada Electrotherapy
Durasi merujuk pada dua hal yakni durasi terapi dan
waktu yang dibutuhkan pada satu kali siklus.
Frekuensi merupakan jumlah gelombang yang terjadi
pada tiap detik
(PPS :pulses per second).
Frekuensi dapat berkisar dari 1 PPS sampai beberapa
ribu PPS.
Polaritas merupakan arah aliran.
Arus dapat mengalir dari kutup positif ke negatif atau
sebaliknya.
e. Pengaturan Elektroda
Pada electrotehrapy, elektroda dilekatkan pada kulit.
Elektroda aktif yang mengalirkan arus dapat berukuran kecil
sampai dengan yang berdiameter sekitar 10 cm.
Mengingat arus mengalir diantara kedua electroda tersebut,
jarak antara elektroda bergantung pada kontraksi otot yang
diinginkan.
Semakin dekat jarak antara elektroda, semakin dangkal dan
terisolasi kontraksi otot dan sebaliknya.
Efek fisiologis terapi dapat terjadi pada kedua elektroda tapi
efek lebih bermakna pada electroda aktif.
Efek Fisiologis Electrotherapy
Arus listrik AC, DC maupun pulsed dapat digunakan untuk
memodulasi nyeri dan untuk memacu kontraksi otot.
Khusus arus DC dapat digunakan untuk ionthoporesis yang
merupakan usaha memasukkan bahan topikal dengan
menggunakan arus listrik.
Modulasi nyeri yang dilakukan arus listrik adalah dengan
mekanisme gate control (membiaskan nyeri dengan persepsi
sensoris yang lain) dan perangsangan morfin endogen.
Kontraksi otot tersebut bermanfaat untuk :
pemompaan otot, penguatan otot, pengurangan efek atrofi
otot dan reedukasi otot.
Pemompaan Otot
Jenis kontraksi otot dipergunakan untuk meningkatkan
sirkulasi dengan jalan meningkatkan aliran darah balik.
Pada keadaan ini diperlukan arus DC dengan tegangan
tinggi.
Untuk mendapatkan efek ini diperlukan frekuensi arus
20 sampai 40 PPS/pulse per second dengan jenis surged dan
waktu tunggu 5 detik.
Bagian yang cedera perlu ditinggikan dan kontraksi aktif
perlu dilakukan. Pada keadaan ini waktu terapi yang
dibutuhkan adalah 20 sampai 30 menit.
Penguatan Otot
Kontraksi otot yang terjadi dapat pula ditujukan untuk
meningkatkan kekuatan otot.
Pada tujuan ini diperlukan arus AC dengan frekuensi tinggi.
Frekuensi yang dibutuhkan adalah 50 sampai 60 PPS dengan
jenis arus surged dan waktu terapi 15 detik dan waktu alat
dimatikan selama 10 detik yang dilakukan 10 kali.
Terapi ini dilakukan sebanyak 3 x dalam satu minggu.
Pencegahan Atrophy
Kontraksi otot yang terjadi pada electrotherapy dapat
berfungsi untuk meminimalkan atrophy pada otot yang
mengalami kelumpuhan atau cedera sehinga harus
mengalami imobilisasi.
Untuk tujuan ini disarankan untuk menggunakan arus AC
frekuensi tinggi 30 sampai 60 PPS dengan mode arus
interuppted.
Pada saat yang bersamaan penderita dapat melakukan
kontraksi isometrik.
Waktu yang diperlukan untuk terapi adalah 15 sampai 20
menit.
Reedukasi Otot
Inhibisi otot setelah strain atau operasi dapat dikurangi
dengan jalan melakukan electrotherapy pada otot.
Intensitas yang diperlukan adalah 30 sampai 50 PPS
menggunakan mode interupted atau surged.
Waktu terapi yang diperlukan adalah 15 sampai 20
menit, treatment dilakukan beberapa kali dalam
sehari.
Indikasi Electrotherapy
Terapi elektro untuk mengatasi nyeri akut maupun kronis,
meliputi :
• Nyeri punggung.
Nyeri punggung dapat disebabkan oleh sprain atau
strain, degenerasi discus, sciatica dan scoliosis. Keadaan
keadaan ini dapat diperbaiki dengan terapi elektro
. Teknik yang sering dipergunakan adalah transcutaneous
electro nerve stimulation (TENS) yang dapat mengurangi
spasme dan nyeri disebabkan oleh fraktur vertebrae
karena osteoporosis.
• Nyeri leher
Jenis nyeri leher yang sering terjadi adalah cedera yang
dapat menimbulkan nyeri dan kekakuan pada bagian
dasar dan samping leher. Gangguan struktur pada leher
juga dapat menimbulkan nyeri kepala dan nyeri yang
menjalar ke bahu. Pada keadaan ini terapi elektro dapat
digunakan untuk mengurangi nyeri.
• Nyerisendi.
o Arthritis (radang sendi). Beberapa jenis radang sendi
yang sering dijumpai adalah osteoarthritis dan
rheumatoid arthritis.
o Gangguan persendian temporo mandibular yang
menghubungkan
mandibula dengan tengkorak kepala. Gangguan
sendi ini dapat mempengaruhi rahang, wajah, bahu,
kepala dan leher.
o Tendinitis (peradangan tendon). Gangguan tendinitis
paling sering dikarenakan penggunaan yang
berlebihan.
• Bursitis
(peradangan pada bursa).
Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang berfungsi
untuk mengurangi gesekan antara jaringan.
Tubuh kita memiliki 160 bursa yang terletak pada bahu, siku,
pinggang dan lutut
• Nyeri saraf.
Terapi elektero dapat bermanfaat pada neuropathy perifer,
neuralgia cranial dan postherpetic neuralgia.
• Nyeri kepala.
Bentuk yang paling sering adalah tension headaches
(dideskripsikan sebagai ikatan yang kuat pada kepala),
migrain (dideskripsikan sebagai nyeri berdenyut yang
kadang diikuti rasa mual), nyeri kepala kluster
(dideskripsikan sebagai nyeri tajam di satu sisi kepala).
• Fibromyalgia.
Fibromyalgia merupakan nyeri kronis otot yang sering
diikuti oleh kekakuan jaringan, kelelahan dan gangguan
tidur.
• Nyeri pelvis.
Terapi listrik direkomendasikan untuk cystitis interstitial, prostatitis dan
nyeri menstruasi.
• Nyeri dada.
Kondisi seperti costochondritis dan heartburn dapat diterapi
dengan electrotherapy.
• Nyeri post-operasi.
Nyeri ini dapat dikurangi dengan iontophoresis yakni terapi listrik
untuk meningkatkan absorbi obat topikal yang dalam hal ini
berupa krim analgaetik.
.
Jenis Aplikasi Electrotherapy
Terdapat beberapa jenis terapi listrik untuk mengurangi nyeri
yang antara lain
meliputi :
• Transcutaneous electro nerve stimulation (TENS) yang
merupakan alat portable bertenaga baterai yang dapat
menghasilkan arus listrik bertegangan rendah yang dialirkan
ke kulit lewat elektroda yang diletakkan diatas area yang
mengalami gangguan.
Arus listrik memblok saraf sensorik area tersebut dengan
jalan menghambat transmisi nyeri menuju otak.
• Galvanic stimulation (GS) yang digunakan untuk mengobati
cedera akut.
Tidak seperti jenis terapi elektro lain yang menggunakan arus
bolak balik, Terapi GS menggunakan arus searah.
• Russian stimulation. Yang merupakan jenis terapi elektro yang
dapat menembus otot dan menimbulkan kontraksi yang
intensif.
Metode ini sering dipergunakan untuk mengatasi cedera
sumsum tulang, skoliosis dan nyeri otot kronis.
• Shortwave diathermy merupakan arus listrik frekuensi
tinggi yang dapat meningkatkan suhu jaringan.
Modalitas ini dapat meningkatkan elastisitas jaringan ikat
(khususnya kulit), otot, ligamen dan kapsul sendi.
SWD dilakukan untuk mengatasi arthritis, bursitis, sinusitis,
tendinitis, contusions, ruptures dan fraktur
• LASER (Light amplification by
stimulation emission of radiation) yang
bertujuan untuk meningkatkan sintesis
kolagen, mengurangi resiko
kontaminasi oleh microorganisme,
meningkatkan vaskularisasi,
mengurangi nyeri dan peradangan.
Penggunaan Electrotherapy
Sebelum dilakukan electrotherapy, fisioterapi harus mengetahui
riwayat penyakit serta mengadakan pemeriksaan fisik dengan
fokus utama pada area yang mengalami nyeri.
Penilaian terhadap nyeri dilakukan untuk menilai frekuensi,
intensitas dan durasi nyeri.
Penderita juga harus ditanya apakah nyeri sampai
menimbulkan keterbatasan gerakan atau apakah gerakan
tertentu dapat meningkatkan atau mengurangi nyeri.
Penderita diminta untuk menggambarkan intensitas nyeri
dengan skala 0 (tidak nyeri) sampai dengan 10 (nyeri yang tidak
tertahankan).
Skala ini penting untuk mengevaluasi apakah suatu tindakan
dapat mengurangi nyeri.
Fisioterapi bertugas untuk menentukan jenis terapi elektro yang
paling tepat, frekuensi serta durasi terapi sesuai dengan jenis
dan keparahan gangguan.
Terapi elektro biasanya dikombinasikan dengan jenis terapi lain
misalkan manual therapy.
Kontra Indikasi Electrotherapy :
a. Wanita hamil karena dapat mengakibatkan gangguan
perkembangan janin.
b. Penderita dengan alat pacu jantung dan pin.
c. Penderita dengan hemophilia (gangguan penjendalan
darah)atau thrombosis(jendalan darah pada lengan atau
tungkai).
Elektro terapi mengakibatkan vasodilatasi (pelebaran
pembuluh darah), yang dapat memperburuk keadaan-
keadaan tersebut.
d. Beberapa kondisi lain juga perlu diwaspadai meliputi
epilepsi, gangguan kejang dan jantung.
Manfaat Electrotherapy meliputi :
• Dapat meningkatkan lingkup gerak sendi/ROM, mobilitas
dan fungsi sendi.
• Dapat mengurangi nyeri dan mengurangi kebutuhan
terhadap obat pengurang nyeri.
• Sebagian besar terapi elektro efektif dibanding jenis terapi
yang lain.
Resiko elektro therapy :
• Beberapa jenis terapi elektro dapat menimbulkan iritasi dan
kemerahan pada tempat yang terpasang elektroda atau
kumparan lsitrik.
• Arus listrik dapat menimbulkan luka bakar atau fibrilasi otot
jantung.
• Beberapa jenis electrotherapy dapat menurunkan atau
meningkatkan tekanan darah, menimbulkan vertigo atau mual.
• Beberapa jenis electrotherapy dapat menimbulkan
vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) yang dapat
memperburuk kondisi seperti penjendalan darah dan hemofili.
• Stimulasi yang berlebihan menimbulkan nyeri otot atau
kekakuan otot.
• Penderita dapat mengalami toleransi sehingga memerlukan
terapi dengan arus yang lebih kuat atau periode yang lebih
lama untuk menimbulkan efek yang sama.
Electrotherapy merupakan terapi dengan menggunakan arus
listrik.
Tujuan utama pemakaian terapi ini adalah modulasi nyeri dan
meningkatkan kerja syaraf motoris beserta otot skelet.
Terdapat tiga jenis arus listrik yakni arus AC, DC dan pulsed.
Terapi ini diindikasikan pada berbagai gangguan otot pasca
cedera.
Dalam penggunaannya perlu diperhatikan agar tidak
terdapat konduktor logam di dalam tubuh.
Elektrikal Stimulasi
Electrical Stimulation dengan Arus Faradik
a) Definisi
Arus faradik adalah arus listrik bolak-balik yang tidak simetris
mempunyai durasi 0.01-1 ms dengan frekuensi 50-100 cy/detik
b) Modifikasi
Arus faradik dimodifikasi dalam bentuk surged atau interupted
(terputus-putus). Bentuk surged faradic dapat diperoleh dari mesin-
mesin modern. Pengontrol durasi surged sebaiknya terpisah dengan
pengontrol interval sehingga diperoleh kontraksi yang efektif dari
masing-masing penderita.
Bentuk – bentuk surged juga bermacam-macam antara
laintrapezoid, trianguler, saw tooth dan sebagainya.
d) Efek fisiologis
Efek fisiologis terhadap sensoris menimbulkan rasa tertusuk halus
dan efek vasodilatasi dangkal.
Sedangkan efek terhadap motorik adalah kontraksi tetanik yang
akan lebih mudah menimbulkan kontraksi.
Arus faradik lebih enak bagi pasien karena durasinya pendek.
e) Efek terapeutik
(1) Fasilitasi kontraksi otot.
Apabila otot mengalami kesulitan untuk mengadakan kontraksi, stimulasi
elektris dapat membantunya terutama kontraksi otot yang terhambat oleh nyeri
atau injury yang baru, dimana stimulasi dapat memberikan fasilitas lewat
mekanisme muscle spindel.
(2) Mendidik kembali kerja otot
Stimulasi faradik diberikan untuk mendapatkan kontraksi dan membantu
memperbaiki perasaan gerak.
Otot hanya mengenal gerak, sehingga stimulasi diberikan untuk menimbulkan
gerakan yang normal.
Stimulasi ini merupakan permulaan latihan-latihan aktif.
(3) Melatih otot-otot yang paralysis
Pada kasus saraf perifer, impuls dari otak tidak sampai pada otot
yang disarafi. Akibatnya kontraksi voluntari hilang.
Apabila saraf belum mengalami degenerasi, stimulasi arus faradik
disebelah distal kerusakan akan menimbulkan kontraksi.
Stimulasi dengan arus faradik digunakan untuk melatih otot-otot
yang paralisis.
(4) Penguatan dan hypertrofi otot-otot
Untuk mendapatkan penguatan dan hypertrofi, otot perlu
berkontraksi dalam jumlah yang cukup serta beban (tahanan).
Apabila suatu otot sangat lemah berat dari bagian tubuh yang
bergerak memberikan cukup beban, ini stimulasi dapat
meningkatkan kekuatan otot.
(5) Memperbaiki aliran darah dan lymfe
Aliran darah dapat dipelancar oleh adanya pemompaan
dari otot yang berkontraksi dan relaksasi.
Efek yang ditimbulkan akan diperoleh secara maksimal dengan
menggunakan arus faradik.
(6) Mencegah dan melepaskan perlengketan jaringan
Apabila terjadi offusi kedalam jaringan maka perlengketan
jaringan akan mudah terjadi. Perlengketan dicegah dengan
selalu mengerakan struktur-struktur didaerah tersebut.
Jika latihan latihan-latihan aktif tidak dimungkinkan, stimulation
electrical dapat diberikan.
Perlengketan yang telah terjadi dapat dibebankan dan diulur
dengan kontraksi otot
f) Metode pelaksanaan arus faradik
(1) Stimulasi secara group
metode ini semua otot dari suatu group otot
berkontraksi bersama.
Satu elektrode dipasang pada nerve trunk atau daerah
origo, sedangkan satu lagi dipasang pada daerah
motor point atau ujung dari muscle belly.
Semua otot dari grup otot berkontraksi bersama
sehingga sangat efektif untuk mendidik otot yang
bekerja secara group.
(2) Stimulasi
motor point
Keuntungan menggunakan metode motor point adalah
masing-masing otot berkontraksi sendiri-sendiri dan kontraksinya
optimal.
Sedangkan kerugian metode ini apabila otot yang dirangsang
banyak, maka sulit untuk mendapatkan jumlah kontraksi yang
cukup untuk masing-masing otot.
(b) Electrical Stimulation (ES) arus Faradik
Electrical Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat
menimbulkan kontraksi otot dan membantu memperbaiki
perasaan gerak sehingga diperoleh gerak yang normal serta
bertujuan untuk mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot.
Pada kasus Bell’s Palsy ini rangsangan gerak dari otak tidak dapat
disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi.
Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga
diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk
menimbulkan kontraksi otot.
Rangsangan arus faradik yang dilakukan berulang- ulang dapat
melatih kembali otot- otot yang lemah untuk melakukan gerakan
sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai
fungsinya.
\
Indikasi faradisasi:
1. Otot yang layuh (Lower Motor Neuron Lesion) dengan nilai
otot dibawah normal
2. Bila karena trauma pada urat saraf yang perlu
pemeriksaan electro Myography (E.M.G)
3. Untuk mengetahui tingkat kerusakan komplit atau partial
4. Kelemahan otot karena adanya penyakit atau karena
otot lama tidak berfungsi (disuse atrophy) dengan nilai otot
dibawah 3
5. Otot yang tidak mampu berkontraksi karena nyeri yang
sangat, misal sehabis trauma
6. Otot yang dipindahkan tendonnya/fungsinya (tendon
transver), 3 minggu sesudah operasi
7. Adanya pembengkakan local / setempat pada anggota
8. Otot yang memendek atau berlengketan (contracture)
d. Kontra indikasi
ES tidak direkomendasikan/kontra indikasi pada kondisi sebagai
berikut: adanya kecenderungan adanya perdarahan pada
daerah yang diterapi, keganasan pada daerah yang diterapi,
luka bakar yang sangat lebar, kondisi infeksi, pasien yang
mengalami hambatan komunikasi, kondisi dermatologi pada
area yang diterapi, dan hilangnya sensasi sentuh dan tusuk
pada area yang diterapi.
Menentukan dosis :
1. Intensitas: 2 – 60 mA (kontraksi optimal), durasi: 0.01 – 1
msc
2. Waktu : tiap satu motor point pada otot perlu 30 – 90
kali rangsangan, dengan waktu 1 – 3 menit
3. Pengulangan : umumnya 1 kali 1 hari, khusus no. 1,2
dan 4 bila otot telah mencapai nilai 2 cukup satu kali 2
hari
4. Seri : 5-10 kali.
Melaksanakan prosedur penerapan faradisasi :
1. Mesin Faradik dan elektrode disiapkan dengan
dibasahi air
2. Pasien/klien diposisikan stabil dan rileks tiduran atau
duduk
3. Diintruksikan kepada pasien/klien untuk tidak bergerak
selama terapi
4. Anggota badan yang diobati tersangga dengan baik
dalan posisi relax atau semifleksi
5. Bagian badan atau anggota yang akan diterapi,
kulitnya dicuci dengan sabun sampai bersih dan
keringkan
6. Tes sensansi tajam-tumpul pada kulit lokasi yang akan
di terapi.
7. Pemasangan electrode : satu berupa pad electrode
pada nerve trunk, satu lagi berupa button electode pada
tiap motor point otot, dipindah-pindahkan dengan selalu
dipegang.
8. Kontraksi yang timbul optimal untuk mendidik atau untuk
penguatan.
9. Penderita perlu mengikuti setiap rangsangan dengan
suatu usaha kontraksi otot.
10. Khusus indikasi no. 5, anggota/otot yang hendak
diterapi dibalut tekan dengan perban elastis dan
dielevasikan.
11. Khusus indikasi no. 6, otot yang dirangsang diposisikan
dalam keadaan terulur.
12. Monitoring evaluasi selama terapi :
13. Pasien/klien dipastikan tidak bergerak selama sesi terapi, intensitas
dipertahankan
sesuai dengan dosis awal.
14. Pasien/klien mengeluh kurang/tidak merasa atau terlalu sakit, cek
intensitas dan amati
respon.
15. Pasien/klien mengeluh tidak tahan posisi elektroda, maka perlu
modifikasi
pemasangan.
16. Pasien/klien mengeluh pusing-pusing atau timbul gejala lain terapi
dihentikan, bila
banyak keringat dipersilahkan segera minum
Electrical Stimulation/ Faradik dapat menimbulkan kontraksi
otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga
diperoleh gerak yang normal serta bertujuan untuk
mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot.
Pada kasus Bell’s Palsy rangsangan gerak dari otak tidak
dapat disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi.
Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga
diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk
menimbulkan kontraksi otot.
Rangsangan arus faradik yang dilakukan berulang- ulang
dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk
melakukan gerakan sehingga dapat meningkatkan
kemampuan kontraksi otot sesuai fungsinya.
\
Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS)

Pengertian TENS
> Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara
penggunaan energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui
permukaan kulit dan terbukti efektif untuk merangsang berbagai tipe
nyeri
> Pada TENS mempunyai bentuk pulsa : Monophasic mempunyai bentuk
gelombang rectanguler, trianguler dan gelombang separuh sinus searah;
biphasic bentuk pulsa rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal
biphasic simetris; pola polyphasic ada rangkaian gelombang sinus dan
bentuk interferensi atau campuran.
> Pulsa monophasic selalu mengakibatkan pengumpulan muatan listrik
pulsa dalam jaringan sehingga akan terjadi reaksi elektrokimia dalam
jaringan yang ditandai dengan rasa panas dan nyeri apabila
penggunaan intensitas dan durasi terlalu tinggi.
Memelihara fisiologis otot dan mencegah atrofi otot, re-
edukasi fungsi otot, modulasi nyeri tingkat sensorik,
spinal dan supraspinal, menambah Range Of Motion
(ROM)/mengulur tendon, memperlancar peredaran
darah dan memperlancar resorbsi oedema
Frekuensi Pulsa
• Frekuensi pulsa dapat berkisar 1 – 200 pulsa detik.
• Frekuensi pulsa tinggi > 100 pulsa/detik menimbulkan
respon kontraksi tetanik dan sensibilitas getaran sehingga
otot cepat lelah
• Arus listrik frekuensi rendah cenderung bersifat iritatif
terhadap jaringan kulit sehingga dirasakan nyeri apabila
intensitas tinggi.
Arus listrik frekuensi menengah bersifat lebih konduktif
untuk stimulasi elektris karena tidak menimbulkan tahanan
kulit atau tidak bersifat iritatif dan mempunyai penetrasi
yang lebih dalam.
Penempatan Elektroda
• Di sekitar lokasi nyeri :
Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab
metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri
tanpa memperhatikan karakter dan letak yang paling optimal
dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri
• Dermatome :
Penempatan pada area dermatome yang terlibat, pada lokasi
spesifik dalam area dermatome, Penempatan pada dua
tempat yaitu di anterior dan di posterior dari suatu area
dermatome tertentu
• Area trigger point dan motor point
Indikasi TENS
*Kondisi LMNL(Lower Motor Neuron Lesion) baru yang masih
disertai keluhan nyeri,
*kondisi sehabis trauma/operasi urat saraf yang
konduktifitasnya belum membaik,
*kondisi LMNL kronik yg sdh terjadi partial/total dan enervated
muscle,
*kondisi pasca operasi tendon transverse,
*kondisi keluhan nyeri pada otot,
* irritation/awal dari suatu latihan,
*kondisi peradangan sendi (Osteoarthrosis, Rheumathoid
Arthritis dan Tennis elbow),
*kondisi pembengkakan setempat yang belum 10 hari
Kontra Indikasi TENS
*Sehabis operasi tendon transverse sebelum 3 minggu,
*adanya ruptur tendon/otot sebelum terjadi
penyambungan,
*kondisi peradangan akut/penderita dlm keadaan panas
Prosedur TENS
• Tingkat analgesia-sensoris : frekuensi 50-150 Hz, durasi
pulsa <200 (60-100) mikrodetik •
Tingkat analgesia untuk rasa nyeri : frekuensi 150 Hz, durasi
pulsa >150 mikrodetik
• Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari
lemak, lotion, krim dll), periksa sensasi kulit, lepaskan
semua metal di area terapi, jangan menstimulasi pada
area dekat/langsung di atas fraktur yg baru/non-union,
diatas jaringan parut baru, kulit baru.
Melaksanakan prosedur penerapan TENS :
1. Mesin TENS dan elektrode disiapkan dengan electrode
dibasahi air.
2. Pasien/klien diposisikan stabil dan rileks tiduran atau duduk.
3. Diintruksikan kepada pasien/klien untuk tidak bergerak
selama terapi.
4. Tubuh atau anggota badan yang diobati tersangga dengan
baik dalan posisi relax atau semifleksi.
5. Bagian badan atau anggota yang akan diterapi, kulitnya
dicuci dengan sabun sampai bersih dan keringkan.
6. Tes sensansi tajam-tumpul pada kulit lokasi yang akan di
terapi.
7. Pemasangan electrode: satu berupa pad electrode pada
nerve trunk, elektrode aktif ditempatkan pada pusat nyeri,
atau elektrode dipasang kontra planar, atau coplanar.
8. Dosis diberikan sub pain atau pain level.
9. Monitoring evaluasi selama terapi:
10. Pasien/klien dipastikan tidak bergerak selama sesi terapi,
intensitas dipertahankan sesuai dengan dosis awal.
Pengaruh fisiologis TENS terhadap jaringan tubuh adalah
sebagai berikut:
1) Tingkat seluler;
(a)eksitasi saraf tepi / perifer,
(b) perubahan permiabilitas membran sel jaringan non
eksitatori,
(c)modifikasi mikrosirkulasi - arterial, venous dan limfatik
(aliran kapiler ),
(d) perubahan konsentrasi protein dan sel darah,
(f) perubahan aktivitas enzim seperti SDH ( succinate
dehydrogenase ) dan atau ATP,
(g) perubahan sintesa protein,
(h) modifikasi ukuran dan konsentrasi mitokondria,
2) Tingkat jaringan;
(a) kontraksi otot dan efeknya terhadap kekuatan otot,
kecepatan kontraksi serta daya tahan terhadap kelelahan,
(b) kontraksi otot-otot polos dan rileksasi yang berdampak
pada aliran darah di arteri maupun vena,
(c) regenerasi jaringan, termasuk tulang, ligamen, jaringan
ikat dan kulit,
(d) remodeling jaringan termasuk pelunakan, penguluran,
penurunan
viskositas serta penyerapan cairan dari rongga sendi dan
rongga interstisial,
(e) perubahan suhu jaringan dan keseimbangan kimiawi,
3) Tingkat segmental;
(a) kontraksi sekelompok otot dan pengaruhnya terhadap gerakan
sendi serta aktivitas otot sinergis,
(b)gaya pompa otot yang akan berpengaruh terhadap aliran limfatik,
vena dan aliran darah
arteri ( makrosirkulasi ),
(c) perubahan aliran limfatik dan aliran darah arteri yang bukan
disebabkan oleh pengaruh gaya pompa otot rangka,
4) Tingkat sistemik;
(a) efek sirkulasi yang berhubungan dengan polipeptida
seperti VIP ( vasoactive intestinal polypeptides )
(b) modulasi aktivitas organ internal seperti fungsi ginjal
dan jantung
Pengertian nyeri
Menurut International Association for Study of Pain ( IASP )
Nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang
didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan ( Purwandari, 2006 ).

Nyeri merupakan suatu mekanisme perlindungan yang menyadarkan seseorang


untuk membuat tangggap rangsang yang memadai guna mencegah kerusakan
lebih lanjut dari jaringan yang bersangkutan (Parjoto, 2006 ).
Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat.yang hanya
dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,
mencakup pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan perubahan hidup
seseorang.
Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah
terjadinya gangguan fisiologikal ( Somantri, 2007 ).
(1) Teori spesifik
Teori yang mengemukakan bahwa reseptor dikhususkan
untuk menerima suatu stimulus yang spesifik, yang
selanjutnya dihantarkan melalui serabut A delta dan
serabut C di perifer dan traktus spinothalamikus di medulla
spinalis menuju ke pusat nyeri di thalamus.
Teori ini tidak mengemukakan komponen psikologis.
(2) Teori pola ( pattern )
Teori ini menyatakan bahwa elemen utama pada nyeri adalah
pola informasi sensoris.
Pola aksi potensial yang timbul oleh adanya suatu stimulus
timbul pada tingkat saraf perifer dan stimulus tertentu
menimbulkan pola aksi potensial tertentu.
Pola aksi potensial untuk nyeri berbeda dengan pola untuk
rasa sentuhan.
(3) Teori kontrol gerbang ( gate control )
Teori ini mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau
dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf
pusat.
Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat
sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah
pertahanan tertutup.
Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori
menghilangkan nyeri.

Anda mungkin juga menyukai