Anda di halaman 1dari 17

CYSTOTOMY ANJING

Pembimbing : drh. Dian Vidiastuti, M.Si

Oleh :
Rizal Pandu Syah
Farel Isbister Stewart Gurning
Novita Sari
Dessy Dwi Rachmawati
Sinyalemen
Nama : Pedro
Jenis hewan : Anjing
Kelamin : Jantan
Ras/breed : Mix
Warna bulu/kulit : Cokelat
Umur :± 1 tahun
BB : 9,2 kg

Pemeriksaan Hewan Sebelum operasi :

- Temperatur
- Membran Mukosa
- CRT
- Heart Rate
- Respirasi
HASIL PEMERIKSAAN
HEMATOLOGI
ALAT YANG DIGUNAKAN :
 Scalpel  Drape
 Blade  Towel clamp
 Gunting tajam-tajam  Iv cath 22g
 Gunting tajam-tumpul  Nurse cap
 Gunting tumpul-tumpul  Clipper
 Gunting bengkok  Sarung tangan
 Gunting lurus  Masker
 Alis forcep  Tray
 Pinset anatomis
 Pinset sirurgis
 Needle holder
 Arteri clamp

BAHAN YANG DIGUNAKAN :
 Benang Cat-Gut Chromic 3.0  Amoxicilin
 Alkohol 70%  Atropin Sulfat
 Povidone Iodine  Ketamin
 Tampon  Xylazine
 Atropin sulfat  Ketoprofen
 Kateter Anjing 2/0 dan 1/3
 Infus RL 500 ml
 Underpad

DOSIS OBAT YANG DIGUNAKAN

 Amoxicilin (IM)  Xylazine (IV)


10 mg/kg x 9,2 kg = 0,61 ml 10 mg/kg x 9,2 kg = 0,92 ml
150 mg/ml 100 mg/ml

 Atropine Sulfate (SC)  Ketoprofen (SC)


0,04 mg/kg x 9,2 kg = 1,47 ml 2 mg/kg x 9,2 kg = 0,184 ml
0,25 mg/ml 100 mg/ml

 Ketamine (IV)
2 mg/kg x 9,2 kg = 0,92 ml
20 mg/ml
PELAKSANAAN OPERASI
Pre-operasi
 Persiapan Sterilisasi dapat dilakukan
Ruang dengan menggunakan desinfektan
(alkohol 70%).

 Sterilisasi  membungkus alat bedah


 Preparasi dengan koran  autoclave (121o C 15 menit).
Alat Bedah
 Alat bedah  direndam dalam iodine dan
alkohol.
 Persiapan Operator dan Co-Operator
 Cuci tangan dengan sabun antiseptik
 Operator + asisten operator  surgical gown /scrub, hand
glove, masker dan nurse cap steril.
 Anasthesiolog  injeksi anasthesi, monitoring pulsus,
suhu, respirasi tiap 15 menit.

 Persiapan Hewan
 Puasa (tidak diberi makan 6-12 jam dan tidak diberi minum 2-6
jam sebelum op)
 Injeksi Premedikasi (atropine sulfat). Lalu Anestesi (ketamin &
xylazine)
 Under pads dibentangkan dan letakkan kucing diatasnya.
 Restrain kucing
Cukurlah rambut sekitar umbilicus kucing
Proses operasi dilakukan berbasis Halsted Principal of Surgery
yang meliputi hal-hal sebagai berikut (Koch, 2001).

 Perlakuan jaringan dengan baik dan hati-hati. Hal tersebut


meliputi:

•Diseksi jaringan dengan tajam menggunakan scalpel-blade.

•Penarikan jaringan secara lembut dan hati-hati terutama jika


berkaitan dengan pembuluh darah dan nervus.

•Hindari dehidrasi dan peningkatan temperatur pada jaringan


dengan melakukan flushing.

 Manajemen hemostasis yang akurat. Hal ini dapat dilakukan


dengan darah dengan diameter kurang dari 1-2 mm lebih baik
dilakukan electrocoagulation, sedangkan pembuluh darah dengan
ukuran diameter yang lebih besar lebih baik dilakukan ligasi.
 Menjaga suplai darah. Aliran darah yang baik dapat membantu
proses kesembuhan luka, karena darah membawa oksigen dan
komponen yang berperan dalam kesembuhan luka seperti
fibroblast.

 Proses operasi yang aseptis. Proses ini dapat dilakukan dengan


hal-hal sebagai berikut:

• Persiapan pasien, asisten operator, peralatan bedah, dan


ruang bedah secara aseptis.
• Memberikan cairan steril pada situs operasi.
• Melakukan operasi secara cepat namun tepat.
• Penutupan luka dan pemasangan perban secara steril.

 Menjaga ketegangan otot.

 Memperkirakan penutupan jaringan dengan hati-hati.

 Menghindari adanya dead space.


PROSEDUR PEMBEDAHAN

 Pasien yang telah dianastesi diposisikan dorsal


recumbency
 Bersihkan area operasi meggunakan alkohol 70%
dan povidone iodine.
1. Insisi bagian paramedian dexter caudal umbilikus pada kulit dan subkutan,
preparasi jaringan lemak untuk menemukan linea alba.
2. Jepit kulit dan subkutan menggunakan alis tissue forcep agar linea alba terekspose.
3. Insisi linea alba untuk membuka rongga abdomen
4. Lakukan eksplorasi rongga abdomen, untuk menemukan vasica urinaria pada
daerah caudal midline.
5. Setelah menemukan vesica urinaria, dilakukan pemasangan stay suture untuk
memfiksasi agar vesica urinaria tetap terjangkau oleh operator.
6. Lakukan eksplorasi rongga abdomen, untuk menemukan vasica
urinaria pada daerah caudal midline.
7. Dilakukan insisi pada vesica urinaria bagian ventral, yang jauh dari
ureter, uretra, dan pembuluh darah.
8. Dimasukkan kateter pada vesica urinaria dan urin pada vesica urinaria
disedot menggunakan spuit 3 cc.
9. Dilakukan eksplorasi pada vesica urinaria.
10. Dilakukan flushing dengan cara memasukkan cairan Nacl fisiologis dari penis,
kemudian disedot dengan spuit yang terhubung dengan kateter padaVU, hal ini dilakukan
untuk memastikan pada saluran ureter sudah tidak terjadi lagi sumbatan.
11. Vesica urinaria dijahit menggunakan pola jahitan menerus sederhana dengan benang
cat gut chromic 3.0 .
12. Dilakukan flushing dengan memasukkan cairan Nacl melalui penis, untuk
memastikan jahitan padaVU tertutup sempurna dan tidak bocor. Kemudian dilakukan
penjahitan pada lapisan fascia abdomen dengan pola jahitan menerus sederhana.
13. Dilakukan penjahitan pada subkutan dengan pola menerus sederhana menggunakan
benang Ct gut chromic 3.0. Kemudian dilanjutkan menutup kulit dengan pola jahitan
intradermal.
MANAJEMENT POST OPERASI
Rincian pengobatan

 Observasi situs operasi


Observasi situs operasi meliputi pembersihan area
operasi, pemberian salep antibiotic yaitu bonti, penggantian
perban, dan pemasangan gurita.

 Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan temperatur,
pulsus, respirasi, observasi urinasi, defekasi, vomit, dan
perilaku hewan serta nafsu makan hewan.

 Pengobatan
Pemberian obat meliputi obat antibiotic yaitu
amoxicilin dan antiinflamasi yaitu ketoprofen.
Terima kasih 