Anda di halaman 1dari 12

RESISTENSI ANTIBIOTIKA

RISKIYATUL HASANAH 17330010


MUTIARA CIPTA DEWI 17330014
FAUZIAH CINTA NATASYA
17330030
IKAH YUSTIKA 17330111
RESISTENSI

Resistensi antibiotik adalah salah satu jenis


dari resistansi obat-obatan yang terjadi
pada mikroorganisme, ketika mikroorganisme
tersebut berkemampuan untuk menahan
efek antibiotik.
ANTIBIOTIKA

Antibiotika adalah segolongan molekul, baik


alami maupun sintetik, yang mempunyai efek
menekan atau menghentikan suatu
proses biokimia pada organisme, khususnya
dalam proses infeksi oleh bakteri.
Antibiotika adalah senyawa
kimia yang dihasilkan oleh
mikroorganisme
(khususnya dihasilkan oleh
Antimikroba adalah obat
yang digunakan untuk fungi) atau dihasilkan
memberantas infeksi secara sintetik yang dapat
mikroba pada manusia. membunuh atau
menghambat
perkembangan bakteri dan
organisme lain (Munaf,
1994).
Banyaknya jenis pembagian, klasifikasi, pola
kepekaan kuman, dan penemuan antibiotika
baru seringkali menyulitkan klinisi dalam
menentukan pilihan antibiotika yang tepat
ketika menangani suatu kasus penyakit. Hal ini
juga merupakan salah satu faktor pemicu
terjadinya resistensi.
Timbulnya resistensi terhadap suatu antibiotika terjadi
berdasarkan salah satu atau lebih mekanisme berikut :
Bakteri
Bakteri mengembangka
Bakteri
mensintesis suatu n suatu
mengubah
enzim inaktivator perubahan
atau penghancur permeabilitasny
struktur
antibiotika a terhadap obat.
sasaran bagi
obat.

Bakteri mengembangkan
Bakteri
perubahan enzim yang
mengembangkan
tetap dapat melakukan
perubahan jalur
fungsi metabolismenya
metabolik yang
tetapi lebih sedikit
langsung
dipengaruhi oleh obat dari
dihambat oleh
pada enzim pada kuman
obat.
yang rentan.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya
Resistensi Antibiotik
1. Penggunaannya yang kurang
tepat (irrasional) :
Terlalu singkat, dalam dosis Pasien dengan kemampuan
yang terlalu rendah, diagnose finansial yang baik akan meminta
awal yang salah, dalam potensi diberikan terapi antibiotik yang
yang tidak adekuat. paling baru dan mahal meskipun
tidak diperlukan. Bahkan pasien
2. Faktor yang berhubungan membeli antibiotika sendiri tanpa
dengan pasien : peresepan dari dokter (self
Pasien dengan pengetahuan medication). Sedangkan pasien
yang salah akan cenderung dengan kemampuan financial
menganggap wajib diberikan yang rendah seringkali tidak
antibiotik dalam penanganan mampu untuk menuntaskan
penyakit meskipun disebabkan regimen terapi.
oleh virus, misalnya flu, batuk-
pilek, demam yang banyak
dijumpai di masyarakat.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya
Resistensi Antibiotik
3. Peresepan : 5. Perilaku hidup sehat :
Dalam jumlah besar, Terutama bagi tenaga
meningkatkan unnecessary kesehatan, misalnya mencuci
health care expenditure dan tangan setelah memeriksa
seleksi resistensi terhadap obat- pasien atau desinfeksi alat-alat
obatan baru. Peresepan yang akan dipakai untuk
meningkat ketika diagnose awal memeriksa pasien.
belum pasti. Klinisi sering
kesulitan dalam menentukan 6. Penggunaan di rumah sakit :
antibiotik yang tepat karena Adanya infeksi endemic atau
kurangnya pelatihan dalam hal epidemic memicu penggunaan
penyakit infeksi dan tatalaksana antibiotika yang lebih massif pada
antibiotiknya. bangsalbangsal rawat inap
terutama di intensive care unit.
4. Penggunaan monoterapi : Kombinasi antara pemakaian
Dibandingkan dengan antibiotic yang lebih intensif dan
penggunaan terapi kombinasi, lebih lama dengan adanya pasien
penggunaan monoterapi lebih yang sangat peka terhadap infeksi
mudah menimbulkan resistensi.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya
Resistensi Antibiotik
7. Promosi komersial 9. Pengawasan :
penjualan besar-besaran Lemahnya pengawasan
oleh perusahaan farmasi yang dilakukan pemerintah
serta didukung pengaruh dalam distribusi dan
globalisasi, memudahkan pemakaian antibiotika.
terjadinya pertukaran barang Misalnya, pasien dapat
sehingga jumlah antibiotika dengan mudah mendapatkan
yang beredar semakin luas. antibiotika meskipun tanpa
Hal ini memudahkan akses peresepan dari dokter. Selain
masyarakat luas terhadap itu juga kurangnya komitmen
antibiotika. dari instansi terkait baik
untuk meningkatkan mutu
8. Penelitian : Kurangnya obat maupun mengendalikan
penelitian yang dilakukan para penyebaran infeksi
ahli untuk menemukan (Kemenkes RI, 2011).
antibiotika baru (Bisht et al,
2009)
Secara umum, klinisi tidak boleh memberikan terapi secara
sembarangan tanpa mempertimbangkan indikasi atau
Strategi
malah menunda pemberian antibiotika pada kasus infeksi
Penanganan
yang sudah tegak diagnosanya secara klinis meskipun tanpa
hasil pemeriksaan mikrobiologi.

Berdasarkan ditemukannya kuman atau tidak, maka terapi


antibiotika dapat dibagi dua, yakni terapi empiris dan terapi
definitive.

Terapi empiris adalah terapi yang


diberikan berdasar diagnose klinis
dengan pendekatan ilmiah dari
Terapi Empiris klinisi

Terapi definitive dilakukan


berdasarkan hasil pemeriksaan
Terapi Definitive mikrobiologis yang sudah pasti
jenis kuman dan spectrum
kepekaan antibiotikanya
Untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan pada penggunaan antibiotika
yang merupakan antimikroba, diperlukan
edukasi/informasi yang berkaitan dengan
penggunaan antibiotika, yang tepat agar
tingkat pengetahuan dan pemahaman
masyarakat tentang penggunaan
antibiotika yang tepat dapat mencapai
tahap yang diinginkan, sehingga tidak
terjadi kesalahgunaan penggunaan
antibiotika di kalangan masyarakat.
Pesan dapat disampaikan melalui berbagai media
misalnya melalui iklan di televisi, radio, koran.
Tekhnologi komunikasi yang baru juga
memudahkan penyebaran informasi ini, misalnya
internet, jejaring sosial, bahkan lewat mobile
messenger.
Perlu disebarluaskan bahwa tidak semua jenis
penyakit dapat disembuhkan dengan pemberian
antibiotik. Kalaupun perlu, pemakaian antibiotic
harus sesuai dengan instruksi dokter baik dosis
maupun rentang terapinya. Pada penyakit-penyakit
kronis seringkali pasien menghentikan sendiri atau
mengurangi terapinya ketika sudah merasakan
perbaikan yang signifikan atas penyakitnya.